Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Meluluhkan Hati Vira


__ADS_3

...BAB 30...


...Meluluhkan Hati Vira...


Vira tetap menggeleng kepala. Lalu melangkah pergi ke kamar tak memperdulikan lagi perkataan Diana.


"Viraa, Viraa!" teriak Diana memanggil.


Diana berjalan cepat hendak mengejar menantunya namun segera di cegah Dika.


"Ma, sudahlah jangan di kejar lagi,"


"Tapi Dika..." Dika menggeleng kepalanya.


"Biarkan dia Ma, soal Vira nanti Dika saja yang urus. Dika akan bujuk dia lagi setelah pikirannya kembali tenang." ucapnya.


Diana menghela nafasnya berat, lalu mengangguk-angguk kecil, yang akhirnya menuruti saran Dika.


"Ya sudah, terserah padamu saja. Tapi Mama titip padamu Dika, setelah kamu benar-benar menikahi pacarmu itu. Kamu harus lebih sayang dan pengertian lagi pada Vira. Mama mengerti bagaimana perasaannya. Wanita mana sih, yang sanggup melihat cinta suaminya di bagi dengan wanita lain?" papar Diana memperingatkan putranya untuk lebih adil dan membahagiakan Vira.

__ADS_1


"Tidak usah khawatirkan itu Mah, Dika tuh paling jago kalau soal meluluhkan hati wanita." sunggingnya mengangkat satu sudut bibirnya ke atas.


"Dasar kau yaa!!" Diana menarik daun telinga Dika dengan gemas. "Belajar darimana kok sifatmu bisa seperti ini? Perasaan Mama ya, Papamu tidak kayak kamu dulu!" geramnya, seraya menyipitkan matanya menyelidik.


Dika hanya mengulum senyumnya sambil bersedekap tangan, merasa bangga pada dirinya sendiri yang ternyata bukan ketampanan dan kharismanya saja yang ia punya, tapi rayuan mautnya mampu menarik hati setiap wanita termasuk Sindy kekasihnya. Gadis tercantik di kota Semarang dan katanya dulu dia salah satu mahasiswi populer di kampusnya. Banyak mahasiswa-mahasiswa yang tertarik dengannya, bahkan para dosen pun banyak yang naksir berat dengan Sindy. Ingin menjadikan Sindy sebagai istri mereka.


Tapi kenapa bisa Sindy hanya jatuh cinta kepada Dika. Itu mungkin karena Dika memiliki daya pikat kuat untuk menaklukan para hati wanita.


"Tapi, Mama seriuskan sudah tidak marah lagi apa yang Dika lakukan? Mama seriuskan ingin merestui Dika menikah lagi?" Dika memang masih belum percaya, karena tak sangka semudah itu dirinya bisa meyakinkan Diana. Diana hanya menghela nafas, tak lama dia mengangguk-angguk lagi pertanda setuju.


"Yes!" Dika mengepal tangan ke atas senang. "Thank's you, Mom! Only my mother understands me..." ucapnya yang lalu Dika mengecup sekilas pipi Diana.


Namun Diana dengan refleks mendorong kasar putranya, sembari menggelengkan kepala dan Dika hanya menyengir kuda.


"Vira... Sayang, Mama tahu kamu masih belum terima semua keputusan Dika. Tapi Mama juga tak akan memaksamu kalau harus mau." seru Diana dari luar kamar.


"Hanya saja pikirkan lagi, jika ingin berpisah dengan Dika, sayang. Mama akan lebih bersalah pada mendiang Ibumu, jika harus menelantarkanmu tanpa seorang suami. Percayalah kamu tetap akan menjadi menantu Mama yang paling Mama sayangi. Jika kamu sayang sama Mama dan Papa juga, Mama yakin kamu akan sepaham dengan Dika." lanjutnya lagi. Namun Vira di dalam kamarnya tetap diam walau telinganya mendengar jelas rayuan Mama Mertuanya.


"Ya sudah jika kamu tidak ingin bicara lagi dengan Mama. Mama pamit pulang dulu ya." ujar Diana lagi. Diana pun pergi setelah lama tak ada jawaban dari Vira.

__ADS_1


Dari dalam Vira memang sengaja, tak menjawab seruan Diana. Hati dan pikirannya masih kalut. Vira mengusap kasar wajahnya yang sudah dipenuhi dengan air mata. Vira duduk memunggungi kepala kasur dengan lutut dia peluk di depan dada. Kedua matanya memerah, menganak sungai.


"Sebenarnya pernikahan apa ini? Baru saja lima bulan aku menjalaninya. Tapi Mas Dika dengan entengnya bicara, dia ingin menikah lagi!" lirihnya terisak-isak sangat dalam. "Kenapa mereka tak bisa lebih bersabar dan bersyukur dengan keadaan, kenapa harus aku yang di korbankan seperti ini?! Walaupun poligami di perbolehkan. Tapi tetap hatiku tidak bisa melihatmu bersama wanita lain Mas Dika... Aku tidak sanggup harus berbagi cinta dan kasih sayang suami dengan wanita lain, karena aku sudah terlanjur mencintaimu terlalu dalam. Tapi dengan teganya kau hancurkan perasaan ini padamu!"


Setelah kepergian Diana. Dika melangkah menuju kamar untuk menemui Vira. Perlahan dia memutar handle pintu, Dika tersenyum tipis yang ternyata pintu kamarnya tak di kunci Vira dari dalam.


Dika membuka lebar pintu kamarnya, tengah Vira tertunduk membenamkan kepalanya di atas lutut. Dika hanya menghela nafas berat, melangkah cepat mendekatinya. Selirik dia melihat sarapan pagi Vira yang tak di makan.


"Sampai kapan akan bersikap seperti anak kecil seperti ini, Vira? Kenapa sarapanmu tidak kau makan dari tadi. Coba kau lihat ini sudah jam berapa?" jengkelnya.


Dika benar ini sudah pukul 11 siang tapi Vira sama sekali belum menyentuh sarapan pagi yang sudah Dika siapkan. Walaupun Dika membelinya dari rumah makan seberang apartemen mereka, bukan memasaknya sendiri. Tapi setidaknya dia selalu tak pernah kurang memberikan perhatian pada Vira.


Bukan Vira tak ingin memakannya juga, tapi nafsu makannya mendadak hilang semenjak tahu Dika berselingkuh di belakangnya. Tak hanya itu saja pengaruh kehamilan di trisemester pertamanya juga membuat Vira merasakan mual dan pusing kerap kali ia mencium makanan.


"Aku tidak lapar..." ucapnya datar. Vira beranjak dari tempat tidurnya, lalu berjalan melewati Dika hendak ke kamar mandi. Namun Dika dengan cepat menarik tangan istrinya. Hingga kedua mata mereka saling bertemu.


"Berhentilah kau bersikap egois! Walaupun kau ingin mogok makan sekali pun demi untuk meluluhkan aku. Aku akan tetap dengan niatku menikahi Sindy. Sekarang Mama sudah setuju dengan pernikahan keduaku. Apa lagi yang ingin kau katakan? Kau itu sudah beruntung sudah aku nikahi dan nafkahi. Dulu kau hidup hanya berdua dengan adikmu. Kalian tak punya rumah. Harusnya kamu bersyukur karna aku menikahimu meski aku tak pernah mencintaimu!" tegas Dika, yang tak sadar tiba-tiba dia keceplosan bicara.


Sontak Vira terhenyak, hatinya seperti di cabik-cabik tak berbentuk. Ucapan Dika berhasil menyayat hatinya yang paling dalam.

__ADS_1


Bersambung...


...****...


__ADS_2