Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Perpisahan


__ADS_3

...BAB 53...


...Perpisahan...


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Setelah berdiam diri di apartemen lama, puas meluapkan rasa penyesalan dan kesedihan yang menggerogoti hatinya. Dika pun pulang, khawatir jika Sindy akan semakin marah karena terlalu lama berada di luar.


Pintu pun dia buka perlahan, dan Sindy sudah berada duduk manis di sofa tamu sambil menonton film kesukaannya di laptop. Kedatangan suaminya mendadak wajahnya berubah muram. Matanya mendelik sinis masih menyimpan amarah. Sindy lekas mematikan laptopnya, lantas ia berdiri dan mendekati Dika.


"Ku pikir kamu tidak akan pulang?!" sindirnya ketus, seraya mendekapkan kedua tangannya di dada. Jelas Sindy sangat marah karena perlakuan Dika padanya dari siang tadi.


"Tidak mungkin aku tidak pulang..." jawabnya pelan. Lekas Dika membuka sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu, masih tetap bersikap cuek. Seolah tak mengingat perlakuannya tadi siang pada Sindy.


"Aku lapar sekali, apa ada makanan di meja makan?" tanyanya yang langsung berjalan ke arah dapur. Sambil menggaruk-garuk pelan lengannya yang sudah memerah.


"Pulang malam-malam langsung tanya makanan?! Apa kau tidak ingin bertanya dulu padaku? Bagaimana keadaanku? Minta maaf kek, apa kek?! Kau sudah mengacuhkan aku dari tadi Mas! Bahkan ponselmu tidak kau aktifkan sama sekali. Kamu cuekin aku demi mantanmu itu?! Tadi aku pulang sendiri naik taksi lho!" cecar Sindy, yang kedua maniknya sudah berkaca-kaca, merah.


Langkah Dika terhenti lalu menoleh ke belakang. Menatap istrinya datar. "Maaf, maafkan aku..." ucapnya dingin. Dika lantas berjalan lagi ke dapur mengambil gelas kaca di rak piring, lalu menekan tombol dispenser. Menuangkan air hangat ke dalam gelas.


Sindy yang masih berdiri mematung di belakangnya, mulutnya hanya menganga lebar melihat tingkah suaminya yang masih saja cuek kepadanya.


"Ma-af katamu Mas, hanya itu saja?" pekiknya pelan. Sindy mendekati dan menarik lengan suaminya dengan kasar. Setelah Dika meneguk minumannya hingga habis.


Lalu ia menatap tajam mata suaminya yang hanya memasang wajah datar kepadanya. "Kau memang tak berhati ya Mas, sudah ninggalin aku di mall sendirian, terus cuekin aku lagi. Sekarang hanya ucapan maaf saja tanpa ada rasa bersalah sama sekali?! Kau ini benar-benar tega padaku ya, Mas!" lirihnya terisak-isak menangis.


"Sudahlah Sindy jangan terlalu berlebihan seperti itu. Kamu tahu sendiri kan, kalau Vira itu sedang melahirkan anakku?! Tentu saja aku akan panik. Aku tak akan mungkin diam saja melihatnya yang sedang kesulitan. Vira pernah hidup bersamaku. Jadi ku mohon sekali lagi padamu. Tolong mengertilah posisiku saat ini!" timpal Dika, kepalanya mendadak semakin pusing, bila menghadapi sikap egois Sindy yang masih saja kekanak-kanakkan.


"Tapi, kau ini sudah keterlaluan Mas!" sentak Sindy lagi, yang masih belum terima jika Dika bersikap seperti itu padanya. Dika mengangkat dua tangannya ke atas, agar Sindy berhenti bicara.


"Sudah cukup, cukup kataku. Aku lelah sekali malam ini, aku ingin istirahat." tegasnya. Dika pun melangkah ingin pergi ke kamar. Namun Sindy menahan tangannya lagi.


"Mas mau kemana? Kita ini belum selesai bicara!" teriaknya masih memaksa. Namun dia terkejut memegangi tangan Dika yang sudah memerah penuh ruam.


"Lho-lho, itu tangan-tanganmu kenapa memerah Mas?" tanyanya terheran. Dika menarik kasar tangannya lagi.


"Aakh ini alergi. Nanti juga sembuh sendiri" sahut Dika mengusap-ngusap lagi lengan-lengannya.


"Alergi apa?"

__ADS_1


"Sudahlah kau tidak perlu tahu. Aku cukup meminum air hangat dan tidur. Besok juga sudah kembali pulih. Makanya kamu jangan ganggu aku dulu ya..." tukasnya, lalu Dika melengos pergi masuk ke kamar.


Sindy mengerungkan dahinya. "Selama ini aku nggak pernah tahu kalau Mas Dika punya penyakit alergi? Kasihan juga dia..." gumamnya berpikir. Lantas Sindy menggeleng kepalanya dengan cepat. "Akh kenapa aku jadi kasihan. Biar saja tuh dirasain sendiri! Itulah hukumannya karena sudah mengacuhkan aku dari tadi!" cebiknya yang masih memendam kesal pada suaminya.


****


Pagi pun menyambut, matahari mulai terbit dari arah timur. Kehangatannya seolah memberikan kebahagiaan yang terkira bagi Vira sendiri. Karena kehadiran putri kecilnya, kini hari-harinya akan selalu di temaninya, Nawra Aqilla Jafanessa. Bayi perempuan yang baru saja berusia dua hari itu menatap tak berkedip mengamati sosok wajah Bundanya. Seakan dia ingin mengenali Vira lebih dalam, seraya asyik mengisap ASInya dengan lahap dan tenang.


"Kamu kehausan ya sayang..." oceh Vira yang bibirnya tak berhenti menarik senyum. Aqilla hanya memainkan jarinya ke atas mendengar ucapan Vira.


Hari itu Vira berniat pulang ke kontrakan lagi, setelah di ijinkan oleh bidan. Sementara Irfan sudah pulang duluan dari subuh tadi untuk membereskan rumah kontrakan mereka. Vicky pun bersiap membawakan semua barang bawaan Vira dan Aqilla ke dalam mobil yang sudah di rapikan Diana tadi pagi.


Dari semalam, Diana memang menginap di Rumah Sakit demi menunggui cucunya. Saat tengah malam Aqilla menangis, Diana membantu memomong Aqilla lalu membawanya pada Vira untuk di susui dan di pagi harinya Diana memandikan Aqilla dengan penuh cinta dan perhatian.


"Terima kasih ya Mah, dari kemarin sudah bantuin ngurusin Aqilla terus." ucap Vira, merasa nggak enak karena sudah merepotkan mantan mertuanya.


"Jangan berkata begitu, kayak sama siapa saja kamu ini. Aku ini kan Mamamu juga. Tentu Mama senang mengurusi Aqilla, sayang." ujarnya santai dengan senyuman tulus di bibirnya.


Vira semakin terharu dengan perlakuan Diana kepadanya. Seandainya saja Diana benar-benar Mama kandungnya sendiri pasti mereka bisa tinggal bersama-sama.


"Iya Mah, itupun kalau Vira nggak ngerepotin dan ganggu Mama." ujar Vira merapikan pakaiannya bersiap akan pulang.


"Tidak sayang Mama tak merasa di repotkan sama sekali kok! Kalau bisa sekali-kali kamu nginep di rumah Mama juga. Mama dan Papa pasti dengan senang hati menyambutmu dan Aqilla."


"Iya Mah, insyaallah..." Vira tersenyum lagi.


Vicky pun mengetuk pintu kamar dan menoleh di balik pintu. "Sudah siap?" tanyanya pada Vira.


"Iya," Vira turun dari brangkar dengan hati-hati, karena bekas jahitannya belum kering. Vicky bergegas membantunya, memapah Vira jalan keluar kamar.


"Sini pegangan tanganku, pelan-pelan saja jalannya" titahnya.


Melihat perhatian Vicky pada Vira. Diana hanya terenyuh dalam hati. Ah seandainya, Dika yang melakukan itu pada Vira, pasti bibir ini tak akan pernah berhenti tersenyum bahagia... pikirnya.


Mereka berjalan menuju parkiran. Setelah sampai mobil Vicky. Diana pun menyerahkan lagi Aqilla dengan berat hati ke pangkuan Vira lagi, yang kini Vira sudah terduduk di kursi depan mobilnya Vicky.


"Kamu yakin Vira, tidak ingin menunggu Dika dahulu?" tanya lagi Diana. "Dia katanya sedang ada dalam perjalanan kemari. Dia ingin titip sesuatu untuk Aqilla."

__ADS_1


Vira tampak ragu lalu melirik Vicky di sampingnya untuk meminta saran. Vicky hanya memberi kode lewat mata dan mengangguk. Itu artinya, terserah pada jawaban Vira sendiri.


"Em, baiklah... Vira tunggu dulu Mas Dika, sebentar lagi..."


Tak lama mobil Dika pun datang, lekas dia memarkirkannya di depan Gedung Rumah Sakit. Dika gegas turun dari mobil dan menghampiri mobil Vicky dengan sedikit berlari seraya membawa bingkisan besar di tangan kanannya.


"Maaf sudah menunggu lama," sahutnya dengan nafas yang tersengal-sengal. Dia menatap Vira dan juga Aqilla bergantian. Seketika itu juga pandangannya berubah sendu. "Vira... Mungkin ini tak seberapa, untuk putri kita. Tolong kamu terima ya..." ujarnya lekas ia menyodorkan bingkisan hadiah itu pada Vira.


Vira melihat bingkisan di tangan mantan suaminya tersebut dengan tangan Dika yang sudah merah-merah sisa bekas alergi mawar kemarin.


"Terimakasih banyak Mas Dika..." ucap Vira dengan suara lirih. Dia pun menerima bingkisan itu hati-hati. Maniknya berkaca-kaca. Tak tega.


Dika mengangguk pelan. Lalu melirik Vicky sekilas yang juga sedang meliriknya. "Em, apa aku boleh memangku Aqilla sebentar?" pintanya tiba-tiba pada Vira.


Sempat berpikir, tapi Vira mengijinkannya. "Ya boleh silakan..."


Dika tersenyum senang lalu meraih Aqilla dan memangkunya untuk beberapa saat yang lama, mengecup dan berbisik pelan di telinga sang putri. Diana ikut meneteskan air matanya di sana. Sedang Vira mengalihkan pandangannya ke samping, tak ingin melihat peristiwa yang membuatnya hanya menjadi iba. Jika tidak seperti itu. Hal itu justru membuatnya jadi tak tega untuk memisahkan Dika dengan putrinya.


Setelah lumayan cukup puas memangku Aqilla. Dika mengembalikannya lagi pada Vira dan berpesan.


"Jaga putri kita baik-baik. Katakan padaku apa saja kebutuhannya, biar aku kirimkan untuknya nanti." pesannya singkat. Vira tak ingin membuat hati Dika kecewa, dia pun mengangguk mengiyakannya untuk menghargainya sebagai Ayah Aqilla.


"Iya, tak perlu khawatirkan itu Mas... "


Dika mengangguk dan tersenyum tipis pada Vira. Sebelum pintu mobil di tutup, Vira berujar padanya.


"Oh ya Mas, salepnya ada di laci lemari paling bawah, jangan lupa oleskan dua kali sehari." pesan Vira memberitahukan tempat dimana menyimpan salep obat alerginya Dika.


Sontak manik Dika berkaca-kaca lagi, yang akhirnya dia tersenyum lirih. "Iya, terimakasih sudah memberitahukanku..."


Setelah itu Vira dan Vicky pun pamit pada mereka. Hati Dika semakin merana, lututnya seakan lemas tak bertulang memandang nanar kepergian Vira dan juga putrinya yang perlahan menghilang dari pandangannya, serta menjauh pergi dari hidupnya. Perpisahan yang tak pernah dia harapkan selama ini, akan terjadi begitu saja.


Diana menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Wanita paruh baya itu mendekat lalu mengusap-ngusap pundaknya Dika. Hatinya ikut mengiris pilu. Melihat kesedihan di wajah putranya.


Bersambung...


...****...

__ADS_1


__ADS_2