
...BAB 20...
...Mencari Tahu...
Malam semakin larut...
Seketika Dika ter-ambruk lemah di atas tubuh Vira, setelah ia selesai menuntaskan keinginannya yang sedari tadi tertahankan. Nafasnya tersengal berat, tubuhnya teramat lelah. Tanpa dia sadari, Pria itu berucap puas dengan kedua mata yang setengah memejam.
"Terimakasih... Kamu sudah me_ muaskanku malam ini Sin__dy,.." lenguhnya berbisik. Dika mengigau dengan suara pelan dan terbata di iringi tawanya yang halus, sontak Vira tercengang, dadanya berdegup sangat kencang.
Deg deg deg
Kedua matanya bergerak-gerak menatap getir kepala Dika yang telah tertidur pulas di atas dadanya, sesaat manik itu memanas dan perih, hingga menimbulkan genangan di dalamnya. Vira yang tak tahan menahan berat badan Dika, lekas mendorong pelan tubuh kekarnya sehingga Dika berubah posisi tidur terlentang di sampingnya. Vira pun beringsut mundur dan terduduk.
"Sin-Sindy?!" gagapnya, Vira mere-mas kuat-kuat kain selimut yang dia genggam di dadanya. "Lagi-lagi, kau sebut nama itu Mas Dika..." lirihnya terisak-isak kecil.
Vira pun lekas turun dari kasur. Memunguti piyama tidurnya di lantai dan meraih handuk di gantungan, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Di dalam kamar mandi. Air bening terus saja menetes membasahi kedua pipinya. Vira berulangkali membasuh wajahnya yang kusut, setelah dia membersihkan tubuhnya terlebih dulu.
"Aku harus cari tahu siapa sebenarnya Sindy itu? Kalau kau seperti ini terus. Aku benar-benar sudah tidak percaya lagi padamu, Mas Dika!" lirihnya menatapi nanar wajah dirinya di depan cermin.
****
Paginya, seperti biasa Vira selalu menyiapkan perlengkapan kerja suaminya. Dari kemeja, celana hingga sepatunya Dika, tak lupa sarapannya pun sudah siap di hidangkan di atas meja makan. Walaupun semalam tadi hatinya di landa kekesalan dan juga kecewa setengah mati. Tapi semua yang dilakukan Vira pada Dika adalah kewajiban.
Vira menghela nafasnya dalam-dalam, satu jam lebih dia sudah berdiam diri di ruang makan menunggunya, setelah Irfan mengambil sarapannya tadi pagi sekali. Tetapi Dika belum juga turun menghampirinya dan ikut sarapan bersamanya.
"Lama sekali Mas Dika memakai pakaiannya..." dahinya berkerut, heran. Vira yang tak bisa diam menunggu lama, dia berjalan ke kamar melihatnya.
Pintu kamarnya dia buka. Tak ada Dika di tempat tidur. Samar Vira mendengar suara Dika berbicara seorang diri di luar balkon kamar apartemennya.
Vira berjalan pelan mendekati pintu luar kamar, hingga nampak jelas punggung lebar Dika sedang membelakanginya, tengah menelepon seseorang.
"Iya, sabar dulu ya sayang... Besok minggu kita akan pergi membelinya....Aku janji padamu!" ucapnya terkekeh pelan.
Deg
Sontak Vira bersembunyi dari balik pintu saat Dika akan membalikkan tubuhnya mengarah kamar. Mendengar perbincangan Dika dengan seseorang di teleponnya, Vira sangat yakin sekali dia adalah perempuan. Hatinya seakan di robek-robek sangat perih, tatkala Dika mengucap lagi kata sayang untuk wanita lain.
"Terserah padamu nanti kamu yang memilih____Oke cantik, aku harus bersiap berangkat kerja dulu sekarang. Nanti kita ketemu waktu makan siang seperti biasa, aku jemput kamu lagi di kantor Kakak sepupumu yang kaku itu ya! Byee..." Setelahnya Dika tertawa renyah setengah meledek seseorang, dia pun menutup sambungan teleponnya.
Vira pun gegas keluar kamar lagi duluan dan kembali ke ruang makan. Dia memegang kuat-kuat kepala kursi makan dengan perasaan hatinya yang sudah hancur berkeping-keping. Vira segera menghapus air matanya karena terdengar derap langkah Dika yang melangkah menghampirinya, seraya memanggil-manggil namanya. Lalu Vira pura-pura menyibukkan dirinya, mencuci peralatan masak yang kotor di wastafel.
"Sayang," panggil Dika, ia mendekat dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Vira, seraya menyenderkan dagu di pundaknya. "Aku sarapan sedikit saja ya." katanya.
__ADS_1
"Terserah padamu saja." ucapnya dingin tanpa menoleh. Dika memanyunkan bibirnya lalu dia mencium singkat di pipi Vira. Namun sebelumnya Vira refleks menjauhkan wajahnya. Mereka saling menatap. Tapi tatapan Vira sangat lain pada Dika pagi itu. Matanya memerah seperti ingin marah menahan kesal.
"Hm, ada apa?" tanyanya heran.
"Ngapain sih kamu peluk-peluk dan cium segala?! Sana-sana makan sendiri, jangan ganggu aku!" ketusnya sambil melepas kedua tangan Dika yang memeluknya dari belakang. Vira tiba-tiba merasa risih di perlakukan seperti itu oleh Dika. Padahal dulu, hal itu membuatnya sangat senang dan membahagiakannya. Tapi sekarang rasanya jadi hambar dan sangat menyebalkan.
"Kenapa kamu kok jadi marah-marah gitu!" dahi Dika mengerung, terheran.
"Aku hanya tidak suka saja kamu ciumin aku saat kerja, Mas! Sudahlah, cepat kamu makan dan berangkat ke kantor!" titahnya.
"Kamu ngusir aku? Biasanya kan aku begitu sama kamu Ra?! Kok sekarang kamu lain sekali?" tanyanya tersohok. Karena Vira kali ini berani berkata kasar dan ketus padanya.
Vira menelan ludahnya kasar. "Aku bukan ngusir kamu. Hanya mengingatkanmu saja, waktumu itu tidak banyak tahu!" ngelesnya lagi sambil kembali fokus ke cuciannya dengan menggosok kencang belakang wajan yang sedikit gosong. Dika menghela kasar, dalam pikirannya Vira sangat lain dari biasanya pagi ini.
"Oke-oke, baiklah kalau begitu maumu, aku mending berangkat sekarang saja. Jadi nggak usah sarapan di sini! Kau aja bersikap begitu tanpa ada sebab! Mana ada selera aku makan sama kamu!" tukasnya sangat kesal.
Vira berdecak pelan. "Terserah saja nggak makan juga nggak pa-pa..." gumamnya.
Dika pun lekas mengambil tas kerjanya di atas meja makan barusan. Lalu melangkah cepat keluar dan pergi.
Braak
Suara pintu pun tertutup sangat kencang. Vira sampai tersentak mendengarnya dan nafasnya kian seakan sesak. Nyeri di hatinya begitu terasa mendalam.
"Aaarghh!" Vira melempar kesal spon cuci piring ke dalam wastafel, terisak-isak kembali menangis. Tubuhnya merosot ke bawah dan memeluk dua lututnya, seraya membenamkan kepalanya.
Setelah selesai mencuci dan kembali tenang. Vira menghapus lagi bekas air matanya.
"Aku harus kuat, siang ini aku harus temui dia. Aku akan memergokimu langsung kali ini Mas?!" gumamnya sendiri. "Aku tidak bisa lama-lama di bohongi. Aku ingin ada kepastian di antara hubungan kita! Aku tidak suka kau khianati!" lirihnya.
****
Hari menjelang siang, waktu menunjukkan pukul setengah sebelas lewat. Vira tahu jam makan siang Dika yaitu sebelum waktu dhuhur.
Setelah memesan taksi online, Vira menyiapkan bekal makan siang untuk Dika. Itu sebagai bentuk alibinya untuk berpura-pura meminta maaf padanya dan mengantarkan makan siang untuknya. Padahal alasan lainnya memang ingin memergoki Dika bersama kekasih gelapnya di luar.
Taksi pun berhenti di seberang depan kantor Dika. Tetapi Vira tak turun, dan ia memang sengaja. Hingga sampailah Vira melihat Dika keluar dari kantornya dan memasuki mobilnya.
Baguslah, inilah saatnya aku mengikutimu Mas Dika... gumamnya di hati.
Tak lama mobil Dika keluar dari gerbang kantor dan melaju cukup cepat melintasi jalan raya.
"Pak, tolong ikuti mobil yang baru saja keluar dari kantor itu ya," titahnya pada supir taksi.
Supir itu mengangguk menuruti perintah Vira. "Baik Bu.."
__ADS_1
Sementara taksi yang di tumpangi Vira mengikuti mobil Dika. Vira lekas mengambil ponselnya di dalam tas. Menelepon Dika untuk memberitahukannya bahwa dia sedang ada di kantornya.
Telepon pun terhubung.
["Hallo?"]
"Hallo Mas Dika?! Maaf apa siang ini aku ganggu kamu, Mas?"
["Kenapa memangnya?"]
"Hari ini aku sedang di kantormu. Bawa bekal makan siangmu. Tapi katanya kamu sedang keluar barusan..."
["Loh buat apa repot-repot ke kantor, aku kan nggak suruh kamu ke sana?"] terdengar suara gugup Dika di seberang.
"Aku yang ingin ke kantormu. Aku hanya menyesali kelakuanku pagi tadi, Mas... Maaf sudah buat kamu kesal dengan sikapku. Aku teringat kamu belum sempat sarapan. Makanya sekarang aku bawakan bekal makan siang untuk kamu." sahut Vira yang pura-pura menyesali kesalahannya.
["E, ekhm.. Ba-baiklah sayang aku sudah maafin kamu kok. Tapi siang ini Mas sudah terlanjur keluar karena ada pertemuan dengan klien. Tapi kamu bisa titip aja bekalnya di kantorku nanti bisa di antar sama petugasnya di sana ke ruangan Mas. Oke sayang, lebih baik kamu pulang lagi ya. Jaga kesehatan kamu. Jangan panas-panasan di luar.] pesannya.
"Ooh gitu ya Mas... Baiklah kalau begitu aku pulang." Vira pun memutuskan teleponnya setelah mereka berpamitan.
Selang waktu dua puluh menit, akhirnya mobil Dika berhenti di sebuah perusahaan cabang garmen besar dan ternama. Vira mengernyitkan dahi saat melihat plang nama yang tertera di perusahaan itu. Bahru S-sanusi? Vira berpikir cukup keras. Sepertinya nama itu tak asing baginya.
Vira lalu turun dari taksi, setelah Dika keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam kantor itu.
Sesaat Vira menarik nafasnya dalam-dalam, menatap Dika yang sudah berlalu.
"Pak, jangan dulu pergi kemana-mana ya. Saya hanya sebentar saja. Nanti balik lagi, tidak perlu khawatir nanti saya pasti bayar dua kali lipat buat Bapak." titah Vira.
"Iya Bu.. siap" Pak supir itu mengangguk senang.
Setelah berpesan pada supir, Vira melangkah cepat menyusul Dika. Memasuki lobby kantor dan benar saja. Dika tengah berdiri menunggu di tempat resepsionis, tak lama seorang wanita pun datang dan memanggil suaminya, yang usianya jauh lebih muda dari Vira. Vira memperkirakan usia wanita itu tak jauh beda dari Irfan, adiknya. Wanita itu memiliki wajah yang cantik bak seorang model. Tinggi semampai dan tubuh yang ramping. Kulitnya putih bening, rambutnya coklat panjang sepinggang. Pakaian kerjanya juga sangat modis dan trend kemasa kinian.
Wanita itu berlari kecil dan memeluk pinggang Dika lalu menggelayut manja di lengan Dika.
"Ayo sayang... Hari ini kita makan di Restoran mana?" tanyanya dengan suara lembutnya.
"Terserah kamu mau pergi kemana sayang?" jawab Dika dengan santainya Pria yang masih berstatus suaminya itu mengusap kepala lembut belakang wanita tersebut. Lalu mengecup sekilas di keningnya.
Vira yang melihatnya di luar samping pintu lobby. Hatinya kembali berdesir bertambah nyeri, yang kali ini dia melihatnya langsung dengan mata kepalanya sendiri. Kecurigaannya selama ini memang benar. Dika memang telah berselingkuh di belakangnya.
Netranya kian memanas dan perih. Sebenarnya hati Vira tak sanggup melihatnya. Tetapi ini dia lakukan demi kejelasan nasib pernikahannya di masa depan, apakah harus mempertahankannya ataukah harus mengakhirinya? Vira bukanlah sosok wanita tegar yang mampu berbagi cinta. Karena baginya Dika sudah berhasil membuatnya jatuh cinta lagi, hingga mampu melupakan dia pada cinta pertamanya.
Tapi dalam sekejap mata, Dika pun malah menghancurkan kepercayaan cintanya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1
...****...