Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Sindy Kehilangan Semangat Hidupnya


__ADS_3

...BAB 80...


...Sindy Kehilangan Semangat Hidupnya...


Sindy tak berhenti menangis dan berteriak di dalam pelukan Dika, dan Dika tak bisa mengendalikan istrinya yang sesekali tampak mengamuk sambil menjambaki rambutnya sendiri, menutup rapat-rapat matanya dengan deraian air mata, seakan orang yang tengah dalam depresi. Tak lama Dokter dan perawat pun datang, mereka buru-buru memasuki kamar rawat Sindy.


"Ada apa ini Pak?" tanyanya ikut panik.


"Istri saya sudah sadar Dok, tapi dia tiba-tiba saja ketakutan dan menangis, dan katanya dia tidak bisa melihat apapun Dokter!" sahut Dika, tak kalah panik dan takut jika Sindy akan melukai dirinya sendiri.


Mendengar itu Dokter segera memberikan obat bius sedang dua perawat mencoba untuk menenangkan Sindy menahan kedua tangannya yang masih terus memberontak. Tak butuh waktu lama, perlahan-lahan Sindy mulai tertidur setelah di berikan suntikan bius oleh Dokter tersebut, Dika pun lekas membaringkan Sindy di atas tempat tidur dengan hati-hati, di bantu oleh dua perawat di sana.


"Bagaimana dengan keadaan istri saya Dokter, apa yang terjadi dengannya, kenapa tiba-tiba saja istri saya tidak bisa melihat?" tanya Dika lagi, dengan raut wajah semakin cemas.


Dika akui saat ini hatinya ikut terluka dengan apa yang telah menimpa istrinya. Seakan menyesali, semuanya karena kesalahannya sendiri. Karena semalam sebelum kejadian itu terjadi, Dika telah meninggalkannya begitu saja tanpa perasaan.


Sebelum bicara serius dengan Dika, Dokter itu mengajak Dika untuk pergi ke ruangannya terlebih dahulu hendak memperlihatkan hasil CT Scan kepala Sindy kemarin pada Dika. Dika pun lekas duduk di depan meja Dokter dan melihat antusias kertas hasil scan tersebut.


"Maaf Pak, seperti yang pernah saya katakan kemarin setelah saya melihat hasil CT Scannya. Terdapat cedera yang serius pada otak tengah istri anda dan cedera itu bisa menimbulkan berbagai komplikasi dan salah satunya adalah kehilangan penglihatan seperti yang di alami oleh istri anda sekarang ini. Hal itu, karena saraf yang berperan dalam proses penglihatan Bu Sindy ikut mengalami cedera, dan otomatis cedera itu juga mengenai komponen matanya." imbuh Dokter itu, yang tampak jelas lipatan di keningnya menandakan Dokter itu pun turut prihatin dengan kondisi pasiennya. Sontak Dika pun tercengang, pupil matanya bergetar shock.


"Ja-jadi menurut Dokter istri saya sekarang buta?" Dika menggelengkan kepalanya tergagap. "Ya Allah, Sindy" lirihnya getir, Dika pun mengatupkan kedua tangannya di wajah.


"L-lalu apakah penglihatan istri saya bisa di sembuhkan lagi Dokter?" tanyanya lagi, dengan nafas naik turun, berharap Sindy akan kembali sembuh.


"Soal itu, saya belum bisa memastikannya Pak, kemungkinan Bu Sindy bisa melihat lagi atau tidaknya. Tapi kami akan berusaha membantu untuk menyembuhkan lagi penglihatan istri Bapak, hanya saja kami membutuhkan waktu, dan Bapak juga harus rutin memeriksakannya kemari. Bapak hanya cukup berdoa dan memberikan semangat juga kesabaran untuk istrinya saja. Agar Bu Sindy tidak terlalu terpuruk atas kecelakaan yang menyebabkan kebutaan pada kedua matanya." terangnya lagi.


Dika mengangguk-anggukan kepalanya, memasrahkan semuanya pada Dokter itu dan juga pada yang Maha kuasa tentunya. Semoga akan ada keajaiban untuk Sindy, untuk bisa melihat lagi dengan normal seperti sedia kala.


Dika pun pamit kembali ke ruang rawat Sindy, setelah Dokter selesai menyampaikan beberapa pesan padanya. Dika telah sampai kamar Sindy, lalu berjalan gontai mendekatinya yang tengah pulas dalam tidurnya karena pengaruh obat bius tadi. Dika pun mengangkat tangannya dan mengusap lembut kening istrinya, pelan ia mendaratkan kecupan lembut di sana. Air bening pun menetes jatuh dan menimpa di wajah sang istri.

__ADS_1


"Maaf, maafkan aku..." lirihnya dengan suara yang bergetar. Dika begitu sangat menyesalinya. Walaupun Sindy sempat membuatnya kecewa dan marah, tapi wanita di sampingnya itu, pernah ada menemani hari-harinya baiknya. "Maaf... Tak seharusnya aku emosi dan meninggalkanmu semalam..." Dika tergugu dan mulai terisak dalam tangisnya. Mencium punggung tangan istrinya.


****


"Aku akan kembali ke Rumah Sakit saat jam makan siang nanti." ucap Vicky setelah menghabiskan sarapan paginya di meja makan, dan mereka masih menginap di rumah kontrakan Irfan.


"Aku ikut ke Rumah Sakit ya Mas?"


"Tidak sayang, lebih baik kamu di rumah saja jagain Aqilla." larangnya.


Vicky melarang Vira, karena dia tak mau jika Vira sering-sering bertemu dengan mantan suaminya itu. Selain itu Vicky juga ingin bicara empat mata dengan Dika. Ada hal yang ingin dia tanyakan padanya, perasaannya mengatakan jika telah terjadi sesuatu di antara adik sepupunya dengan mantan suami, istrinya tersebut.


"Tapi kan Mas, aku juga pengen jenguk Sindy. Melihat bagaimana keadaannya sekarang..." kekeh Vira. Vicky tersenyum lalu berdiri memeluk pinggang Vira dan mengecup hidungnya singkat.


"Nanti saja sayang, ada waktunya kamu menemuinya lagi. Sekarang kamu lebih baik istirahat saja di rumah, sambil menemani Aqilla. Lagipula semalam tadi kan kamu juga sudah ikut ke Rumah Sakit, aku nggak mau ya kalau istriku yang paling cantik sedunia ini sampe kecapean karena kurang tidur, apalagi di dalam perutmu ini sudah ada calon bayiku, jadi jangan sampai terjadi apa-apa dengan anakku nanti, kamu mengerti!" tegas Vicky dengan panjang lebarnya ia pun mengangkat wajah istrinya sambil menatap dalam-dalam manik cantiknya.


"Iya, maksudnya anak kita berdua..." oceh Vicky terkekeh-kekeh geli, sambil mencubit dan menggoyang-goyang gemas hidung mancung istrinya.


"Uuuh Mas,.." rintih Vira.


"Em.. Baiklah, aku nurut sama kamu, tetap diam di rumah dan menemani Aqilla. Tapi kamu juga harus janji sama aku," pintanya mendekap dua tangan di dadanya.


Vira pun akhirnya terpaksa menuruti apa perkataan suaminya, yang tadinya dia juga ingin menemani Vicky ke Rumah Sakit, mencegah akan terjadinya perkelahian di antara suami dan mantan suaminya nanti. Vira khawatir jika Vicky kembali emosi saat bertemu lagi dengan Dika.


"Janji?! Janji apa?" tanyanya mengerutkan dahinya.


"Janji, jika kamu tidak akan bertengkar dengan Mas Dika di Rumah Sakit. Aku hanya khawatir kamu tidak bisa mengontrol emosimu saat bertemu lagi dengannya." cemasnya sambil mengusap dada bidang suaminya yang di balut oleh jas kerja hitamnya.


"Baiklah aku janji padamu sayang... Aku akan kontrol emosiku.." ucapnya tersenyum lebar.

__ADS_1


"Beneran ya, awas loo?!" Vira memincingkan matanya belum percaya. "Aku nggak akan maafin kamu, kalau kamu sampe mukul-mukul lagi wajah orang..." gemasnya


"Iya janji, suer!!" sahut Vicky lagi sambil mengancungkan dua jarinya ke atas.


Vira pun tersenyum dan lekas memeluk erat suaminya. "Nah gitu dong... Itu baru suami idamanku..." Vicky tertawa di buatnya lalu mencium puncak kepala istrinya dan membalas pelukan hangat dari sang istri.


Setelah pamitan Vicky pun segera berangkat karena ada kick of meeting yang tidak bisa dia tinggalkan pagi itu.


****


Pagi pun berganti siang, setelah kedatangan Irman dan juga Ria kedua mertuanya tadi pagi-pagi sekali. Dika akhirnya bisa menyempatkan diri untuk makan siang di rumah makan dekat Rumah Sakit itu, karena pagi pun dia tak sempat sarapan. Walaupun sedang tidak berselera tapi dia memaksakannya untuk makan, khawatir jika dirinya juga ikut jatuh sakit. Usai perselisihannya tadi dengan kedua mertuanya membuat kepalanya pusing dan sakit memikirkannya.


Kekecewaan dan kesedihan jelas tergambar di raut wajah mereka, setelah mendengar putri satu-satunya kecelakaan dan jadi kehilangan penglihatannya dan Dika mengakui semua atas kesalahannya sendiri.


Ria pun marah dan tak terima, ia terus menangis dan memukul-mukul kencang pundak Dika. Namun segera di hentikan oleh Irman, sebab semua kecelakaan yang terjadi pada Sindy sudah takdir Tuhan yang tidak bisa kita cegah.


"Aku ingin mati saja. Dari pada aku harus hidup tanpa melihat lagi dunia ini, aku lebih baik mati..." lirih Sindy dingin dan datar, di tengah-tengah kedua orangtuanya dan juga suaminya saat itu. Kedua bola mata hitamnya seakan kehilangan cahayanya. Menatap kosong ke depan. Dunianya seakan sirna begitu saja. Sindy seolah kehilangan semangat dalam hidupnya lagi.


Dika tercengang mendengarnya lantas ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Mendekati dan menggenggam tangan dingin Sindy.


"Apa yang kau katakan Sindy? Kamu tak boleh putus asa. Kamu harus yakin pada dirimu, kalau matamu akan kembali melihat seperti dulu..." ucap Dika menenangkannya.


Namun dengan kasar Sindy menarik tangannya yang di sentuh Dika.


"Pergi kau dari sini! Pergi! Buat apa kau peduli lagi padaku setelah apa yang kau lakukan? meninggalkanku tanpa perasaan! Bukankah kau ingin menceraikan aku! Ini kan yang kau mau, kau puas Mas... Puas kau sudah membuatku buta! Pergi!!! Aku membencimu!!" teriaknya mengusir Dika dengan melempar semua barang yang ada di dekatnya ke sembarang arah.


Bersambung...


...****...

__ADS_1


__ADS_2