
...BAB 51...
...Seperti Janjinya...
Sementara di sebuah gedung kantor. Sindy berdecak kesal menatap gawainya, panggilan teleponnya tiba-tiba di matikan Dika.
"Oh jadi begitu ya Mas?! Kamu sudah berani mengabaikanku hari ini, oke i'm fine. Jika mantanmu itu lebih penting dariku. Kau akan benar-benar menyesalinya nanti, Mas!" geramnya mengepal erat-erat ponsel di tangannya. Matanya semakin memerah marah.
Sindy pun bergegas meraih tas di meja kerjanya, lalu melangkah cepat menuju lift sambil memesan taksi online di gawainya, untuk pulang ke apartemen. Karena dia memang tak membawa mobilnya hari itu. Tadi pun dia terpaksa harus naik taksi kembali ke kantornya setelah makan siang di mall sendirian.
Ketika dia tengah memesan taksi di gawainya, dia tak sengaja menubruk bahu Adam yang juga seperti terburu-buru ingin pergi. Setelah lelaki itu keluar dari ruangan Vicky. Kotak merah di tangan lelaki itu tiba-tiba terpelanting jatuh ke lantai keramik kantor.
"Em maaf Nona Sindy!" ucapnya gugup. Lekas dia mengambil benda itu lagi. Sindy mengernyitkan dahinya melirik benda itu yang sekilas seperti kotak cincin.
"Apa itu?" tanyanya penasaran.
"Akh ini bukan apa-apa, Nona. Maaf saya terburu-buru sekali karena sudah di tunggu oleh Pak Vicky di Rumah Sakit." sahutnya setelah memasukan benda itu ke dalam saku jasnya. "Permisi Nona, saya duluan.." Adam pun pergi setelah pamitan kepada Sindy.
Berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya saat ini. Sebenarnya apa yang tengah di rahasiakan Vicky kepadanya? Kenapa dia diam-diam sudah dekat dengan Vira? Semenjak Sindy menikah dengan Dika. Hubungannya dengan saudara sepupunya itu menjadi renggang. Karena Sindy tahu, Vicky masih belum bisa menerima Dika sebagai suaminya.
****
Di Rumah Sakit. Adam lekas menemui Vicky dan memberikan barang seperti yang di perintahkannya tadi.
"Sudah ketemu?" tanya Vicky, yang langsung di angguki Adam di sana.
"Sudah Pak, ini kan..." sahut Adam sambil mengeluarkan benda merah tadi. Vicky pun tersenyum merekah setelah menerimanya.
__ADS_1
"Ya benar, thanks Dam." ucapnya, menatap binar pada kotak merah yang kini ada di tangannya. Adam sontak mengulum senyumnya melihat tingkah Bosnya yang sedang kasmaran. Dia terbatuk kecil di depannya.
"Oh ya, sekarang tolong kamu buat rencana seperti yang sudah aku susun sebelumnya padamu ya." titahnya lagi setelah Vicky tersadar jika ia terus di perhatikan oleh Adam dari tadi. Adam kembali mengangguk mengerti.
"Baik, siap Pak!" Adam dengan senang hati mengikuti perintah Vicky lagi. Dia pun kembali pamit pergi untuk melakukan tugasnya.
Vicky pun melangkah cepat dan panjang menuju kamar rawat Vira, setelah Adam pergi melajukan mobilnya. Kini wanitanya tengah berbaring mengistirahatkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Vicky lekas menghampirinya setelah menutup pintu yang sengaja tak dia rapatkan.
"Bagaimana, masih sakit?" tanya Vicky tersenyum haru, lalu perlahan ia meraih tangan kanan Vira, dan duduk di sampingnya. Mengusap keningnya Vira dengan lembut. "Bayimu ternyata perempuan dia cantik sekali, sama seperti dirimu." godanya membuat Vira mengulum senyumnya tersipu.
"Terimakasih Vicky..." ucapnya pelan. "Syukurlah, akhirnya aku bisa melahirkan anakku dengan lancar." tutur Vira, akhirnya dia pun bisa bernafas lega setelah melihat dan mendengar tangisan kencang bayinya yang telah lahir ke dunia.
Mereka kembali menatap sambil tersenyum dalam keheningan. Sampai akhirnya Vira teringat akan kejadian di lorong tadi sebelum ia melahirkan bayinya. Pertengkaran antara Vicky dan Dika membuat pikirannya sedikit terganggu.
"Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kamu berkelahi dengannya? Memangnya apa yang sudah kalian bicarakan tadi, sampai kamu memukulnya seperti itu? Ku pikir kamu sudah tak lagi menghajar orang, Vicky." tanya Vira mengerutkan dahi, mengintrogasinya jelas ia sangat kecewa karena Vicky mulai bersikap kasar lagi pada oranglain. Sontak Vicky pun berdeham pelan. Sedikit gugup.
"Ehm, itu hanya masalah kami para lelaki. Jadi tak perlu kamu ingat-ingat lagi kejadian yang memalukan itu ya..." alihnya, yang sebenarnya malas sekali untuk menceritakan Dika, si lelaki pengecut itu pada Vira. "Maaf, sudah membuatmu khawatir padaku..." sesalnya.
"Baiklah akan ku katakan padamu..." sahutnya. Vira pun menatap Vicky lagi, yang kini tatapannya berubah serius. "Dia hanya tak rela saat aku katakan, jika aku akan menikahimu nanti. Sekaligus, aku juga akan merawat anakmu kelak. Mungkin saja kali ini dia sangat menyesali karena telah menyakiti dan juga menceraikanmu..." lanjutnya lagi, membuat Vira cukup tercengang mendengarnya.
Vira lantas tersenyum miris, menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Tidak itu tidak mungkin. Aku tahu sifat Mas Dika, dia tak mungkin menyesalinya. Dia sudah pernah jujur padaku. Bahwa dia tak pernah mencintaiku selama ini..." imbuhnya lirih. Kedua netranya kini merah dan berkaca-kaca.
Sepintas Vicky pun melirik wajahnya yang terlihat sedih, lalu menghela nafasnya panjang. Rasa cemburu kembali menyergap hatinya. Inilah yang tidak Vicky sukai, tampaknya Vira belum bisa melupakan mantan suaminya sepenuhnya. Dika memang sudah berhasil membuat Vira jatuh hati kepadanya.
"Apa kamu masih mencintainya?" celetuknya, yang tiba-tiba mulutnya bertanya seperti itu. Lekas Vicky mengatupkan lagi bibirnya rapat. Merenggangkan genggaman tangannya dari Vira.
__ADS_1
Vira sontak menoleh pada Vicky yang tak ingin lagi memandangnya, lalu ia tersenyum lebar setelahnya. Menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memenjam mata.
"Cinta?!" Vira terkekeh kecil. "Sepertinya rasa itu sudah hilang Vicky. Entahlah, aku pun baru menyadarinya. Mungkin karena aku terlalu fokus pada anakku... Mas Dika adalah masalaluku yang harus aku lupakan secepatnya... Aku hanya ingin bahagia menjalani masa depanku bersama putriku dan juga..." Vira menjeda kalimatnya, kini dia yang menggenggam erat tangan Vicky di sisi perutnya. "Bersamamu..." lanjutnya pelan, namun masih terdengar jelas oleh Vicky. Senyum Vicky kembali terbit yang tadi sempat pudar karenanya. Mereka pun kini saling menatap tersenyum.
"Benarkah itu?" tanya Vicky mengangkat satu alisnya masih ragu, namun Vira kembali mengangguk yakin. "Lalu kenapa kamu terlihat sedih saat ku ceritakan tentangnya barusan?" tanyanya lagi.
"Ah itu karena_ Aku hanya kepikiran saja sama Mama Diana. Dia pasti sangat sedih karena tidak akan sering melihat cucunya. Padahal Mama Diana, begitu mengharapkan cucunya sejak lama." jelas Vira yang begitu memperhatikan mertuanya.
"Kamu tidak perlu khawatir soal itu, dia bisa menemuinya kapan saja. Aku tak akan pernah melarang mereka untuk bertemu cucunya. Jika mau, kamu juga boleh pergi ke rumah mantan mertuamu itu nanti jika sudah sehat kembali..." sahut Vicky.
"Benarkah?" Vira membulatkan matanya tak percaya.
"Iya..." angguk Vicky.
"Terimakasih Vicky, kamu baik sekali..." ucapnya senang. Vicky terkekeh melihat kegembiraan di wajah calon istrinya.
"Oh ya nyaris saja aku lupa." celetuk Vicky tiba-tiba, ia pun lekas mengambil sesuatu di dalam jas kerjanya yang dia pakai. Vira mengernyit bertanya.
"Apa?"
"Seperti janjiku kepadamu..." ucapnya setelah mengeluarkan benda berbentuk kotak merah kecil. Seketika netra Vira semakin mengembun, pandangannya yang kini tertuju pada benda itu. Perlahan Vicky membuka kotak kecil itu, terlihatlah perhiasan jari yang sangat memukau. Mata berliannya, berkelip cantik menarik hati setiap orang yang melihatnya. Terutama bagi seorang wanita.
"Vic~ky..." lirihnya menelan pelan salivanya yang tercekat. Lantas Vira pun menutup mulutnya, semakin terharu.
Sedangkan di luar kamar rawat Vira. Tak sengaja Dika melihat dan mendengar perbincangan itu, yang kini dia tengah berdiri mematung di balik celah pintu, dengan buket bunga mawar di tangan kanannya. Bermaksud ingin menyampaikan selamat dan terimakasih pada mantan istrinya karena telah melahirkan bayi mereka. Tapi dia di dahului Vicky di sana.
Dika pun menatap getir melihat mereka berdua di dalam kamar, dadanya bergemuruh hebat menahan rasa cemburu. Kala melihat jari manis Vira yang di sematkan cincin berlian oleh Vicky di sana, setelahnya Vicky pun mencium lembut punggung tangan mantan istrinya tersebut.
__ADS_1
Bersambung....
...*****...