Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Kodrat Wanita


__ADS_3

...BAB 48...


...Kodrat Wanita...


Selang waktu kemudian Vira sudah berada di ruang persalinan sebuah Rumah Sakit. Saat itu dia telah di tangani oleh Bidan handal dan juga dua assistennya, yang sudah Vicky minta duluan sebelumnya pada pihak Rumah Sakit tersebut.


"Bagaimana Bu?!" tanya Vicky masih dengan perasaan cemas dan panik.


"Tidak perlu khawatir Pak. Kondisi bayi dalam kandungannya sehat, hanya saja ini masih dalam pembukaan empat. Jadi masih ada waktu untuk Bu Vira istirahat di dalam kamar untuk mengumpulkan tenaganya dulu, sebelum nanti siap melahirkan." ucap Bidan wanita itu pada Vicky.


"Oh syukurlah kalau begitu." Vicky pun tersenyum bernafas lega. Bidan itu mengangguk lagi membalas senyumnya, lalu dia pergi untuk menyiapkan semua keperluan untuk persalinan Vira nanti.


Setelah kepergian Bidan itu, Vicky segera menghubungi Irfan. Mengabarkan kalau saat ini Vira berada di Rumah Sakit. Lalu setelah menelepon Irfan, Vicky hendak masuk ke dalam ruang persalinan, bermaksud ingin menunggu dan menemani Vira di dalam. Tapi tiba-tiba saja ada yang menahan pundaknya dari belakang.


"Bagaimana dengan Vira? Kenapa kau ingin masuk ke dalam?" Dika menghentikan langkah Vicky yang ingin masuk. Vicky terkejut, lantas ia refleks mendorong Dika.


"Kenapa kau kemari, hah?!" tanyanya sinis. "Mau apa lagi kau temui Vira? Dia itu bukan siapa-siapamu lagi, ingat itu?"


"Sudah ku bilang dia sedang mengandung anakku. Jadi aku berhak mengurusinya." pekiknya, merasa keberadaannya tak di anggap oleh Vicky. Vicky hanya tersenyum miris mendengarnya.


"Oh ya, benarkah itu?" cebiknya. Tapi sayang, itu sudah terlambat kau lakukan lagi. Semua sudah berlalu kau bukan lagi suaminya, dan sebentar lagi dia yang akan menjadi tanggung jawabku sepenuhnya." tekannya dengan tegas.


Vicky kembali menimpalinya dengan senyuman penuh arti. Sedang Dika mengerutkan dahinya, tak mengerti.


"Apa maksud perkataanmu?" tanya Dika, mendadak dadanya bergemuruh hebat. "Ja-jangan bilang kau akan_!" gagapnya, spontan Dika menerkanya.


"Ya, setelah Vira melahirkan nanti. Kami berdua akan menikah. Jadi aku tekankan sekali lagi padamu. Berhentilah kau bersikap perhatian dan seolah masih peduli padanya. Karena aku benci melihatnya!" sela Vicky, seraya menunjuk-nunjuk kasar dada Dika di sana. Memperingatkannya lagi dengan tegas.


Dika masih tersohok yang dia dengar dari mulut Vicky. Matanya membulat sempurna, darahnya seketika mengalir cepat, hingga ke ubun-ubun.


"Jadi benar-kau akan menikahinya?!" gagapnya lagi tak percaya. Matanya berubah memerah panas.


Vicky menghela nafasnya lalu tersenyum sinis pada Dika. "Ya, dan dengan begitu anak dalam kandungannya juga akan jadi tanggung jawabku. Akan ku rawat dia nanti seperti darah dagingku sendiri." jelasnya lagi. Dika mendongak, kembali menatap tajam pada Vicky. Dia menggeleng-geleng cepat kepalanya.


"Tidak, tidak-- Kau tidak berhak untuk merawatnya!" cercanya tak terima. Lantas Dika meraup kasar kerah baju Vicky. Mendekatkan wajahnya dengan emosi. Nafasnya yang memburu kasar, hingga menerpa kulit wajah Vicky. "Siapa kau, heh berani memutuskannya sendiri, tanpa ijin dariku? Akulah Ayah kandungnya, yang berhak atas anakku sendiri!" bentaknya mendorong kasar Vicky hingga punggungnya membentur keras ke daun pintu.


Suara gaduhnya terdengar hingga masuk ke dalam kamar Vira yang sedang berbaring miring memenjam matanya. Sontak ia terperanjat kaget, lekas Vira pun beranjak dari brangkar dengan hati-hati.


"Ada apa ini? Siapa yang ribut-ribut di luar?" gumamnya, mengernyit heran. Vira berjalan tertatih menuju pintu dan membukanya. Matanya terbelalak semakin kaget, melihat dua Pria tengah berkelahi di lorong depan kamarnya.


"Ya Tuhaan... Sedang apa kalian berdua?! hentikan!!" cegahnya. Namun mereka tak ada yang mendengar dan terus berkelahi.

__ADS_1


Vicky berusaha melepas cengkraman Dika dari bajunya, gesit ia meninju perut Dika. Hingga Dika tersungkur jatuh ke belakang. "Berani kau bicara membentakku ku seperti itu lagi, ku hajar kau!" Vicky naik pitam tak bisa menahan lagi emosinya.


Tapi Dika pun tak menyerah, dan masih kuat berdiri untuk melawan Vicky lagi, hendak membalas pukulan itu. Namun hal itu segera di cegah lagi oleh Vira di sana.


"Cukuuup... Cukup kataku!!!" teriak Vira lagi, nafasnya tersengal-sengal lelah. Mereka yang sedang asyik berkelahi pun, sontak terhenti dan menoleh bersamaan melihat Vira yang sudah berdiri di samping mereka.


"Apa yang sedang kalian berdua lakukan? Perilaku macam apa yang kalian perbuat di tempat ini?!" sentak Vira lagi, namun ia sedikit memelankan suaranya. Matanya berkaca-kaca merah menatap keduanya yang kini tertegun, dan saling memalingkan pandangan. Terdengar hembusan nafas mereka berdua yang masih memburu.


Vira menggelengkan kepalanya dan berdecak. "Apa kalian tidak punya malu sama sekali?!"


"Maafkan aku Vira, tadi aku sangat emosi sekali padanya." ucap Dika pelan.


"Harusnya aku yang bicara begitu, kau membuatku semakin emosi!" sela Vicky tak mau kalah.


"Cukup, hentikan perdebatan kalian. Lebih baik kalian berdua tinggalkan aku sendiri, dan jangan buat keributan lagi!" kecam Vira mencoba untuk menahan emosinya pada mereka.


Vira pun kembali masuk ke kamar. Melanjutkan istirahatnya.


*****


Setelah pertengkaran dua Pria itu, Vira sama sekali tak ingin bertemu dan di ganggu mereka. Dia hanya ingin di temani oleh Irfan, setelah Irfan datang ke Rumah Sakit.


"Bagaimana Mbak? Sudah terasa lagi?" tanya Irfan sambil memijat-mijat pelan punggung kakaknya. Vira mengangguk lemah. Dahinya bercucur keringat dingin, menahan rasa sakit yang terus menerus, sambil menggigit bibir bawahnya.


Vira pun mendongakkan wajahnya ke depan untuk kembali mengatur nafasnya yang tersengal berat. Namun seketika itu pula, ia melihat seorang wanita yang berbaring di brangkar di balik sehelai gorden, hanya sebagian wajah mereka terlihat. Ibu muda yang sama-sama ingin melahirkan seperti dirinya. Tentunya ada rasa iri yang bergejolak di dalam hatinya Vira, karena wanita itu sangat beruntung masih ada suami yang mau mendampinginya di saat-saat wanita dalam kesulitan melahirkan Tidak seperti dirinya justru dia harus berjuang sendiri.


Lelaki itu dengan lembut mengecup kening istrinya, serta menggenggam kuat tangannya, memberi semangat berjuang untuk kelahiran buah hati mereka.


"Kamu pasti bisa sayang, jangan khawatir Mas tetap di sini menemanimu..." ucapnya pada istrinya dengan seulas senyuman menenangkan.


Vira pun membayangkan seolah mereka itu adalah dirinya dan Dika yang masih suaminya sendiri. Tak terasa bulir-bulir bening pun menetes membasahi pipi-pipinya


"Apakah seperti ini rasanya sakit akan melahirkan?" lirihnya sendu, dadanya kembali sesak. "Mbak jadi kangen sama Ibu, Fan... Coba saja, Ibu masih ada sama kita. Ibu pasti akan sangat membantu dan menghibur mbak di sini..." isaknya yang tiba-tiba saja Vira teringat akan mendiang ibunya sendiri.


"Yang kuat dan sabar ya Mbak. Semua wanita kodratnya memang begini, hamil dan melahirkan. Tapi di balik itu, Allah sudah menyiapkan pahala yang besar untuk para kaum hawa. Karena perjuangan mereka selama hidupnya." ucap Irfan.


"Tumben kamu bicara bijak begitu Fan?" Vira pun tersenyum haru. Namun dalam hati kecilnya dia masih bersyukur, masih memiliki adik sebaik dan seperhatian Irfan. Walau dia tak lagi ada suami yang mendampinginya. Andai saja Dika tak menikah lagi dengan Sindy, pastinya mereka tak akan pernah bercerai, dan mereka berdua akan sangat bahagia menanti kelahiran buah hatinya. Mesti dirinya harus melewati rasa sakit saat melahirkan. Tetapi rasa sakit itu seiring waktu akan hilang berganti dengan kebahagiaan.


*****


Selang dua jam menunggu, akhirnya Vira melewati pembukaan terakhir. Vira sudah mulai merasakan kontraksinya semakin cepat dan lama. Itulah saatnya si jabang bayi juga sudah siap lahir ke dunia.

__ADS_1


"Ambil nafas yang dalam-dalam ya Bu... Jangan tegang dan cemas... rileks saja seperti biasanya." arahan Bu Bidan itu pada Vira. Vira pun mengangguk siap menunggu aba-abanya Bidan yang ramah itu.


Sementara Vira sedang berjuang di dalam ruang persalinan hanya di temani oleh bidan dan assistennya. Vicky, Dika dan juga Irfan masih menunggunya di ruang tunggu dengan perasaan yang cemas.


Diana yang baru saja sampai Rumah Sakit karena sebelumnya beliau juga baru selesai menangani wanita yang melahirkan. Diana lekas berlari kecil menghampiri Dika.


"Gimana Vira, Nak?! Cucu mamah, apa dia sudah lahir?" tanyanya ikut khawatir bercampur senang, karena sebentar lagi dirinya akan punya cucu.


"Belum Mah, Vira masih ada di dalam." jawab Dika melas.


Sedang Vicky tak jauh berdiri dari Dika, jantungnya terus berdetak kencang dia menyugar rambutnya sangat cemas sekali, seakan sama seperti sedang menunggu kelahiran anaknya juga.


Hening tercipta hingga suara bayi pun akhirnya terdengar nyaring dan bergema hingga ke sudut-sudut lorong Rumah Sakit itu.


"Owaaaa owaa..."


Mereka pun memancarkan kebahagiaan dan bernafas lega. Vicky dan Irfan saling pandang dan tersenyum senang. Mereka berpelukan.


"Akhirnya, cucuku sudah lahir..." lirih Diana juga terharu. Dika pun memeluk Ibunya erat.


"Aku akan jadi Ayah kan Ma," tanya Dika menangis sesegukan.


"Iya sayang, iya..." angguk Diana sambil mengusap punggung Putranya. "Sekarang, cepat kau temui lagi Vira, lalu meminta maaf padanya dan membujuknya untuk rujuk kembali denganmu Nak..." titah Diana. Dika hanya terisak lirih.


Mendengar hal itu di gendang telinganya, Vicky pun menoleh terkejut pada mereka.


"Maaf Nyonya, tapi itu tidak bisa anda lakukan." potongnya menyela.


Ucapan Vicky, membuat Diana terperangah, dan melepas pelukannya dari Dika. Melempar tatapan heran Vicky. Menatap lamat, dan mengingat lagi wajah Vicky yang pernah memukul putranya dulu.


"Kamu kan, lelaki yang sudah memukul anakku?! Hei memangnya siapa kau ini? Beraninya kau melarang-larangku?!" pekiknya, emosi. Seraya menunjuki Vicky. Vicky hanya tersenyum miring.


"Aku adalah calon suaminya Vira. Setelah ini aku akan menikahinya. Jadi anda tidak bisa seenaknya meminta Vira untuk rujuk kembali dengan Putramu Nyonya." tegas Vicky.


"A-apa---!" gagapnya, yang sontak mata Diana membulat sempurna. Dadanya terasa sesak seperti di tindih benda berat, hingga dia terhuyung kebelakang nyaris pingsan.


"Ma, Mama..."


Bersambung....


...****...

__ADS_1


__ADS_2