
Rein tersenyum cerah sambil menatap rumah minimalis berlantai dua di depannya yang tampak tertata begitu rapi. Di tangannya pria itu membawa selembar kartu undangan bergambar tokoh kartun mickey mouse kesukaan putranya yang akan menjadi tema dalam ulangtahun putranya minggu depan.
Dengan penuh percaya diri ia masuk kedalam pekarangan luas rumah Luciana sambil memikirkan berbagai macam hal yang ingin ia sampaikan pada Luciana. Akhirnya setelah bertahun-tahun ia kehilangan keberanian untuk bertemu Luciana, kini ia mendapatkan kembali keberanian itu. Sejak ia bertemu dengan Luciana di toko roti, tekadnya untuk menemui Luciana semakin kuat. Dulu ia merasa sangat bersalah pada Luciana karena telah menyakiti wanita itu dengan pengkhianatan yang sangat tak termaafkan. Padahal ia masih sangat mencintai Luciana. Luciana adalah cinta pertamanya. Dan saat itu perselingkuhannya hanya sebatas karena ia jenuh dengan kehidupannya yang membosankan. Ia jenuh dengan kehidupan artisnya yang begitu mengekangkanya hingga ia tidak pernah bisa bergerak bebas sesuka hatinya. Sedikit saja ia terlihat bersama Luciana, maka fans-fansnya yang tidak menyukai Luciana langsung menyerang wanita itu tanpa sepengetahuannya. Ia kemudian mencoba mengurangi kedekatannya dengan Luciana di depan publik agar Luciana tidak menjadi korban dari kefanatikan fansnya. Namun pemikiran itu justru menghantarkannya pada sebuah malapetaka karena ia justru melampiaskan kefrustrasian hidupnya pada wanita lain yang sama sekali tidak dicintainya. Kang Yeon Ju, ia sejak awalnya hanyalah lawan mainnya dalam sebuah drama yang tidak pernah benar-benar menarik perhatiannya. Namun karena banyaknya tuntutan yang terus menghimpitnya, ia menjadi gerah dan ingin sedikit bersenang-senang
untuk melupakan sejenak semua tuntutan itu. Tapi ternyata semua itu justru menghantarkannya pada kehancuran. Ia kehilangan Luciana untuk selama-lamanya karena Yeon Ju ternyata mengandung darah dagingnya setelah kesenagan sesaat yang mereka lakukan malam itu.
Menyesal. Tentu saja ia menyesal. Bahkan hingga saat inipun penyesalan itu masih ada. Ia begitu menyesal karena saat itu ia tidak bisa mengendalikan emosi sesaatnya dan justru memilih untuk menuruti kemauan napsunya. Andai waktu dapat diputar, ingin sekali ia memperbaiki semua kesalahannya di masa lalu agar ia tidak kehilangan Luciana, karena ia masih sangat mencintai wanita itu hingga detik ini.
Ting tong
Pria bermarga Lee itu memencet bel seali dan menunggu dengan perasaan cemas di depan pintu utama rumah Luciana. Ia sangat bersyukur memiliki teman seorang terapis yang dulunya adalah rekan satu tim Luciana di kantor, sehingga ia dapat menemukan rumah Luciana diantara ribuan rumah penduduk Korea yang memadati distrik Gangnam. Yeah, ia memang cukup beruntung, atau mungkin ini adalah sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk sedikit menebus kesalahannya di masa lalu.
“Rein ssi?”
Rein tersenyum manis kearah Luciana dan langsung menegakan tubuhnya yang semula bersandar pada kusen kayu yang membingkai sisi-sisi jendela besar rumah Luciana. Dengan sikap gentlenya pria itu mulai bersandiwara layaknya seorang pria baik hati yang sedang mengantarkan sebuah surat undangan untuk sang tuan putri.
“Hai, aku datang untuk mengantarkan ini.”
Rein mengangsurkan sebuah kartu undangan mini bergambar tokoh kartun tikus yang sangat populer di kalangan anak-anak. Dengan dahi berkerut Luciana menerima undangan itu dengan ragu dan langsung membacanya sekilas.
“Ulang tahun putramu? Lee Jinri?” eja Luciana setelah membaca sekilas nama sang tokoh utama di dalam kartu undangan itu. Rein mengangguk kecil, menatap Luciana penuh harap sambil menunjuk kartu kecil yang masih berada di dalam genggaman Luciana.
“Datanglah bersama putrimu, aku dan istriku akan senang bila kau datang.”
“Oh, akan kuusahakan.” jawab Luciana seadanya. Wanita itu tidak terlalu berminat untuk datang ke acara itu. Apalagi jika itu diadakan oleh Rein. Ia benar-benar tidak ingin datang. Tapi jika Aleyna melihat undangan ini, gadis kecil itu pasti akan merengek-rengek padanya untuk datang karena putri kecilnya itu sangat menyukai pesta, kue, balon, dan segala macam pernak-pernik lucu yang hanya akan ditemukan dalam acara anak-anak itu. Jadi... mungkin ia akan datang. Tapi mungkin juga tidak. Tergantung pada suasana hatinya nanti. Semoga saja suasana hatinya sedang buruk, sehingga ia tidak perlu menyaksikan keluarga harmonis milik Rein yang sedang berbahagia. Sebenarnya ia sama sekali tidak iri. Sungguh ia telah melupakan semua kenangan masa lalunya yang pahit. Hanya saja ia malas bertemu dengan paparazzi karena ia pernah mendapatkan pengalaman buruk dengan paparazzi. Dulu selama berbulan-bulan pasca perceraiannya dengan Rein hampir setiap hari ia menjadi bahan incaran paparazzi hingga membuatnya trauma untuk melangkahkan kaki keluar dari rumahnya atau kantornya. Syukurlah
setelah itu ia dapat terbebas dari paparazzi-paparazzi sialan itu setelah pemerintah memberikan perlindungan padanya karena ia masihlah aset milik negara yang harus dijaga.
“Ngomong-ngomong dimana putrimu? Aku tidak melihatnya.”
Rein melongokan kepalanya kedalam rumah minimalis Luciana sambil terus menerus mencari sosok putri kecil Luciana yang menurut rumor sangat menggemaskan. Meskipun ia memang telah berpisah dengan Luciana, tapi selama ini ia selalu menyempatkan diri untuk menanyakan kabar Luciana pada beberapa rekannya yang mengenal Luciana.
“Ia tadi pergi ke taman. Ahh, aku jadi khawatir. Aku akan mencarinya.”
Luciana lantas berjalan meninggalkan Rein untuk mencari keberadaan Aleyna di taman yang
letaknya tak jauh dari rumahnya. Hanya berjarak dua ratus meter, dan ia bisa menempuhnya dengan berjalan kaki. Namun langkahnya segera terhenti ketika ia melihat sosok Aleyna dari kejauhan sedang berbincang-bincang dengan seorang pria. Seketika jiwa protectivenya muncul dan ia segera memanggil putri kecilnya
itu agar segera pulang, karena ia takut Aleyna akan dipengaruhi oleh orang asing yang baru saja dikenalnya.
“Itu putrimu? Ia sedang mengobrol dengan siapa?”
“Aku tidak tahu. Tapi aku sudah mengatakan pada Aleyna untuk tidak berbicara pada orang asing yang tidak dikenalnya.”
“Jadi pria itu bukan orang asing untuk Aleyna? Ia membawa pria itu ke sini.”
Luciana terlihat was-was dan mulai menajamkan penglihatannya. Dari tempatnya berdiri ia merasa mengenali pria itu. Tapi ia tidak tahu pasti jati diri pria itu sebenarnya. Dan ia sangat berharap jika dugaanya salah karena perlahan-lahan ia mulai mengenai siapa sosok pria itu sebenarnya.
“Nona Im?”
Bingo! Luciana mematung di tempat sambil mengumpat jengkel. Lagi-lagi ia harus dipertemukan dengan klien menyebalkannya. Tak bisakah sehari saja ia terbebas dari pria sakit jiwa itu? Bahkan ketika sedang di rumahpun, ia juga harus bertemu dengan pria itu. Sungguh sial nasibnya.
“Luciana...”
“Aku pasti akan datang ke pesta putramu Rein ssi.”
Dengan terpaksa Luciana memberikan janji pada Rein agar pria itu cepat-cepat pergi dari rumahnya. Ia tidak mau Joey berpikir macam-macam tentangnya ketika melihat Rein berada di rumahnya. Apalagi sejak tadi pria itu menatapnya tajam sambil terus menuntut penjelasan darinya.
“Kalau begitu sampai jumpa....”
Luciana tidak benar-benar mendengarkan kalimat yang dilontarkan Rein dan hanya fokus
__ADS_1
pada kalimat perpisahan yang diucapkan pria itu. Rasanya ia cukup lega mengetahui pria itu akan pergi dari rumahnya. Sejak tadi ia merasa terus dilingkupi kecanggungan ketika bersama Rein. Sayangnya meskipun Rein telah pergi, ia masih memiliki satu pengganggu yang justru sedang berdiri dengan
angkuh di sebelahnya.
“Aleyna ayo masuk.”
“Kau akan meninggalkanku begitu saja di sini?”
“Lalu apa yang kau inginkan tuan Lee? Lagipula ini bukan jam konseling, jadi kau tidak bisa memaksaku sesukamu.
“Kalau begitu anggap aku sebagai temanmu mulai sekarang.”
Luciana rasanya ingin tertawa terbahak-bahak di depan pria itu sambil mengumpat. Ya! Ia benar-benar ingin mengumpat karena ide konyol pria itu. Menjadi teman? Yang benar saja? Bahkan ia tidak pernah sedikitpun bermimpi untuk berteman dengan Joey Lee. Jika ia berteman dengan pria itu, hidupnya pasti akan bertambah menjadi suram dan rumit.
“Kita hanya akan menjadi sebatas klien dan konselor tuan Lee. Lagipula aku tidak yakin bisa mengikuti arus hidupmu yang sangat glamour dan berkelas itu. Kau tahu sendiri kan, aku ini hanya seorang konselor yang jauh dari hiruk pikuk kemewahan. Menjadi temanmu, pasti juga akan menyeretku ke pusara kehidupan don juan kaya yang mewah.” Ucap Luciana halus, namun terkesan menyindir. Joey terlihat sebal. Niat baiknya langsung mendapatkan penolakan secara langsung dari wanita yang akhir-akhir ini menjadi sandarannya. Well, Luciana benar-benar telah menjadi pelariannya dari Jihyun yang selama ini selalu mengabaikannya dengan kesibukan
wanita itu yang tidak jelas.
“Kau menolakku? Sayang sekali, padahal seorang CEO sepertiku tidak akan memberikan tawaran untuk kedua kalinya. Tapi, aku lebih suka melakukan pemaksaan jika kehendakku tidak disambut dengan baik. Jadi kita sekarang berteman. Terserah kau akan menerimanya atau tidak, aku tetap akan menjadikanmu temanku.”
“Keputusan macam apa itu? Kau tidak bisa mengambil keputusan sepihak seperti itu. Hey!”
Luciana berteriak keras pada Joey yang telah melenggang masuk dengan santai ke dalam rumahnya. Padahal ia tidak pernah mengijinkan, bahkan mempersilahkan pria itu masuk ke dalam rumahnya. Tapi ia dengan santainya telah melangkah kedalam rumahnya bersama Aleyna yang langsung terlihat akrab dengan pria aneh itu.
“Paman, aku memiliki ikan.” pamer Aleyna dari taman belakang. Gadis kecil itu berlari menghampiri Joey yang sedang mengamati satu persatu foto keluarga Luciana di ruang tamu dan langsung menarik tangan pria itu untuk melihat salah satu koleksi hewan peliharaanya selain kelinci putih yang baru saja dibelikan Aaron empat hari
yang lalu.
Sementara itu, Luciana terlihat bersungut-sungut kesal sambil mengintip keseruan Aleyna bersama Joey. Rasanya aneh melihat putri kecilnya langsung terlihat akrab dengan orang lain yang notabenenya baru dikenalnya. Apa Joey setampan itu hingga mampu membius Aleyna? Putri kecilnya itu memang sejak kecil memiliki kegemaran yang menurutnya sangat high end. Ia menyukai pria-pria tampan! Hell no! Bahkan dirinya saja terkesan selalu menghindari pria-pria tampan karena baginya mereka hanya penipu, penebar pesona belaka dengan segala omong kosong yang tidak bisa dipercaya.
“Hey, apa yang kau lakukan di sana?”
Joey menginterupsi lamunannya mengenai Aleyna dan membuatnya langsung menunjukan tatapan kesal pada pria itu.
Aleyna langsung berlari masuk kedalam rumahnya sambil menarik tangan Joey untuk mengikutinya ke meja makan. Hari ini ibunya memasakan makanan kesukaanya, iga panggang dengan saus berbaque dan juga salad yang sangat enak. Gadis kecil itu hampir tidak pernah menolak menu daging yang sangat menggoda itu setiap Luciana membuatkannya sejak dua tahun yang lalu.
“Kau bisa memasak juga rupanya.” cibir Joey ketika tiba di meja makan dan melihat beberapa hidangan yang tersaji di atas meja. Tanpa mengindahkan Joey, Luciana lalu membantu Aleyna duduk dan menyiapkan piring beserta kawan-kawannya untuk kegiatan santap malam putri kecilnya itu.
“Kebetulan aku belum makan malam.”
“Lalu?” tanya Luciana mendelik. Ia sudah menyiapkan berbagai macam penolakan di dalam kepalanya jika tiba-tiba saja Joey setelah ini meminta jatah makan malam padanya.
“Aku akan mencicipi masakanmu.” jawab Joey santai. Luciana langsung menggeser jauh-jauh seluruh makananya dari Joey dan memberikan pria itu tatapan tajam yang jelas-jelas penuh penolakan.
“Ayolah, aku ingin membuktikan ucapan Aleyna mengenai hasil masakanmu yang katanya sangat enak.
Lagipula kau tidak boleh bersikap pelit pada klienmu. Aku akan membayar biaya tambahan saat sesi konseling untuk membayar makanan ini.” ucap Joey ponggah. Luciana semakin kesal dengan sikap Joey, dan benar-benar tidak akan memberikan pria itu makan. Persetan jika ia akan terlihat kejam. Pria itu juga sangat menyebalkan!
“Masakan eomma sangat enak. Eomma, eomma juga harus memberikan pada paman, bukankah eomma selalu memasak lebih banyak?”
“Makanan seperti ini tidak cocok dengan paman Joey yang kaya.”
"Tapi aku suka makanan rumahan.” Ucap Joey cepat dengan senyum penuh kemenangan yang terlihat begitu menyebalkan di mata Luciana. Dengan terpaksa Luciana memberikan seporsi iga panggang di piring Joey dan mengangsurkan semangkuk nasi yang masih mengepulkan uap tipis di sebelahnya.
“Makanlah. Kuharap kau tidak kecewa dengan rasanya. Aku bukanlah wanita yang pandai memasak, aku
hanyalah ibu yang menjalankan tugasku sebagaimana mestinya.”
“Kau tenang saja, kali ini aku tidak akan bersikap menyebalkan dan hanya akan memakan masakanmu. Oh, dan jika suamimu datang nanti, aku akan menjelaskan alasan keberadaanku di sini padanya. Jadi kau tidak perlu khawatir.” ucap Joey penuh percaya diri. Namun Luciana memilih untuk tidak menanggapinya dan menyibukan diri pada makanannya sendiri. Lagipula suami mana yang akan datang ke rumahnya. Bahkan jika pria itu memutuskan untuk menginappun, ia tidak akan pernah menemukan sosok suami itu di dalam rumahnya. Mungkin beberapa foto dirinya bersama Aaron dulu yang masih ia pajang di ruang tamu berhasil mengecoh Joey dan membuat pria itu percaya jika Aaron adalah suaminya. Tapi setidaknya Aaron memang pernah menjadi suaminya. Dulu.
“Paman, bagaimana masakan eomma? Apakah enak?”
__ADS_1
“Hmm, lumayan. Ini sama seperti masakan rumahan di rumah paman.”
Luciana lagi-lagi mendengus. Meruntuki kata-kata pria itu yang terkesan setengah-setengah. Jika memang ingin mencelanya, ia tidak masalah. Toh masakannya juga hanya masakan biasa.
“Siapa yang sering membuatkanmu makanan di rumah?” tanya Luciana tiba-tiba. Entah kenapa kali ini ia ingin sedikit bermain-main dengan kehidupan pribadi Joey. Tapi tidak, sebenarnya ini bagian dari membangun rapport antara seorang konselor dan klien. Lagipula mereka berdua sudah terlanjur berada di satu meja yang sama. Jadi sedikit melakukan konseling di luar jam konseling sepertinya tidak masalah.
“Bibi Jang. Kenapa? Kau pikir istriku yang akan membuatkan makanan untukku?” balas Joey sengit.
“Mungkin. Memangnya kenapa? Apa istrimu tidak pernah membuatkan makanan untukmu?”
"Dulu ia pernah memasak. Tapi ia hanya bisa membuat makanan sederhana, seperti pancake dan telur dadar. Sejak kecil ia tidak terbiasa berada di dapur dan hanya sibuk mengembangkan karir keartisannya, jadi ia tidak terlalu pintar memasak.” cerita Joey datar. Luciana mengangguk-anggukan kepalanya kecil dan mulai menyimpan informasi itu di dalam kepalanya. Ternyata Joey memiliki cukup banyak katarsis di dalam kepalanya mengenai istrinya. Pantas jika pria itu akhirnya menyerah dan memutuskan untuk mencari jalan keluar untuk semua masalah rumah tangganya yang menyedihkan.
“Apa kau tipe pria yang menyukai makanan rumahan? Maksudku, biasanya pria kelas atas sepertimu akan lebih menyukai makanan restoran dengan harga selangit.”
“Setelah ini kau mungkin harus mengubah pandanganmu mengenai pria-pria kelas atas, karena aku sama sekali tidak seperti itu. Memang sesekali aku harus menjamu tamuku di restoran-restoran mewah. Tapi sejujurnya aku lebih menyukai makanan rumahan dan suasana makan yang hangat di rumah. Jika tidak benar-benar terpaksa, aku tidak akan mungkin melewatkan jam makanku di rumah karena bibi Jang pasti telah menyiapkan menu makanan yang tak kalah dengan menu makanan di restoran mahal. Lain kali kau harus datang ke rumahku, dan mencicipi sendiri masakan bibi Jang yang lezat.”
“Kalau aku boleh tahu, seperti apa hubunganmu dengan bibi Jang? Ia sepertinya juga sangat berarti untukmu selain istrimu.” korek Luciana lebih dalam. Jiwa konselornya memang tidak bisa lepas begitu saja setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia membosankan penuh manusia-manusia bermasalah itu.
“Entahlah, tapi ia sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Kenapa tiba-tiba kau tertarik untuk mengetahui hubunganku dengan bibi Jang?”
“Bukan, hanya untuk memastikan hubunganmu dengan keluargamu.”
“Lalu bagaimana dengan keluargamu? Kapan suamimu akan pulang? Aku tidak mau mengambil resiko menyebabkan kesalahanpahaman dengan keberadaanku di sini.”
“Huh, rupanya kau sadar diri juga.” seloroh Luciana sebal. Bahkan pria itu sudah mengganggu hidupnya sejak beberapa hari yang lalu, tapi ia baru benar-benar merasa sedikit bersalah setelah berhari-hari lamanya. Dasar! Pria arrogan memang tidak pernah peka.
“Maaf jika selama ini aku menyusahkanmu, aku tahu aku ini memang menyebalkan. Mungkin saat ini kau sedang mengumpatiku di dalam kepalamu.”
“Percaya diri sekali kau, aku....”
“Luciana? Oh, maaf apa aku mengganggu kalian?”
Ketiga manusia itu langsung menoleh kearah pintu dengan berbagai tatapan yang berbeda. Aleyna yang merupakan pemilik tatapan paling normal segera berlari menghampiri pria itu dan memeluknya dengan antusias sambil mengeluarkan suara teriakannya yang cempreng.
“Aaron appa!”
“Hai, bagaimana kabarmu sayang, sekarang sepertinya tubuhmu semakin berat. Atau appa yang semakin tua?” Keluh Aaron bercanda sambil mencolek hidung Aleyna pelan. Aleyna terkikik geli di dalam pelukan Aaron dan langsung memeluk Aaron erat seperti sebuah perangko yang menempel pada permukaan amplop. Namun berbeda dengan Aleyna yang tampak antusias, Luciana justru terlihat kikuk dan bingung di depan Joey sambil
menyuapkan makanannya setengah hati.
“Kenapa kau hanya diam?” tanya Joey bingung. Wanita di depannya itu bukannya memberikan sambutan hangat kepada suaminya, tapi justru membiarkan Aaron bersikap heboh bersama Aleyna di dekapannya.
“Aaron, ayo makan. Dan kenalkan ini klienku, tuan Joey Anderson.”
Joey sedikit menaikan alis sebentar sebelum berbalik dan menyalami Aaron. Ia terlihat masih kebingungan dengan suasana aneh yang tiba-tiba tercipta diantara mereka, namun ia mencoba menahan diri untuk tidak langsung menyerang Luciana dengan serentetan pertanyaan yang saat ini bagai ingin menyembur keluar dari
mulutnya.
“Aaron Zack, senang berkenalan denganmu. Jadi kau salah satu klien Luciana?”
“Begitulah. Maaf, mungkin keberadaanku di sini sedikit membuat kalian tidak nyaman. Tadi aku
hanya sekedar lewat, dan Luciana menawariku untuk makan malam.” seringai Joey menyebalkan. Luciana mendelik sebal kearah pria itu sambil mengangsurkan sepiring iga panggang pada Aaron. Bahkan pria itu sendiri yang berinisiatif untuk mampir dan meminta makan di rumahnya.
“Kau adalah klien pertama yang datang ke rumah sejauh ini. Luciana biasanya tidak pernah membawa klien ke rumah.” ucap Aaron dengan maksud menggoda Luciana. Namun Joey justru merasa Aaron sedang menyindirnya karena jelas-jelas ia telah melanggar aturan privasi orang lain.
“Benarkah? Ini karena sesi konseling kami belum maksimal. Aku masih membutuhkan banyak bantuannya
untuk menyelesaikan beberapa masalah yang kumiliki.”
“Aaron, igamu akan semakin dingin jika kau tidak cepat memakannya.”
__ADS_1
Luciana sengaja menginterupsi pembicaraan mereka dan membuat Joey tidak terlalu banyak berinteraksi dengan Aaron. Ia belum siap mendapatkan serangkaian pertanyaan dari Joey jika pria itu tahu jika Aaron sebenarnya adalah mantan suaminya. Hingga sejauh ini Joey masih mengira Aaron sebagai suaminya, dan itu bagus untuk kelangsungan hidupnya. Setidaknya dengan adanya Aaron di sini dan terlihat sebagai suaminya, Joey tidak akan menyerangnya dengan berbagai pertanyaan retoris atau membanjirinya dengan semua tingkah menyebalkan pria itu yang memuakan. Untuk beberapa saat kedepan, ia akan benar-benar aman di sini. Bersama Aaron dan Aleyna yang manis.