Kontratransferensi

Kontratransferensi
Rely On You (Twenty Two)


__ADS_3

        “Baringkan saja di sana.”


            Joey meletakan Aleyna yang sedang tertidur pulas di dekapannya ke atas ranjang bergambar barbie di depannya. Sementara itu Luciana mulai mengambil selimut pink milik Aleyna dan menyelimuti gadis kecilnya agar tetap hangat.


            “Ia terlihat sangat menggemaskan saat sedang tidur. Mirip sepertimu.”


            “Hah, memangnya kau pernah melihatku saat sedang tidur?”


            “Sepertinya pernah. Aku pernah berjalan linglung di rumahmu ketika mabuk lalu melihatmu yang sedang tidur di kamar.” jawab Joey jujur sambil terkekeh geli. Luciana melebarkan matanya tak percaya, lalu menepuk pundak Joey gemas karena sikap kurangajar pria itu.


            “Kau mengintipku? Dasar! Sebegitu kesepiannya kah kau hingga bersikap seperti pria cabul.” geram Luciana kesal. Wanita itu lantas berjalan pergi, keluar dari kamar Aleyna agar suaranya yang ribut itu tidak mengganggu tidur lelap putrinya yang menggemaskan.


            “Hey, itu di luar kesadaranku. Aku benar-benar linglung saat itu. Kupikir aku benar-benar telah dibawa pergi oleh jalang pengganggu yang telah mengusikku di bar.”


            “Huh, alasan! Katakan saja jika kau memang ingin mengintipku saat tidur, kau ingin melihat tubuh seksiku bukan?” ucap Luciana penuh percaya diri sambil mengibaskan rambutnya. Joey yang berjalan di belakang Luciana, tiba-tiba menarik pundak wanita itu kearahnya lalu memerangkan tubuh kecil itu rapat dengan tubuhnya.


            “Kau benar, aku memang ingin melihat tubuh seksimu dan merasakan bibir merah mudamu yang seksi.”


            “Hahaha... itu tidak lucu Joey, kau pasti mabuk!” kekeh Luciana pelan sambil menyentuh pipi Joey yang dingin di depannya. Wanita itu lantas meronta-ronta kecil dan memaksa Joey agar melepaskannya. Namun Joey justru semakin erat merapatkan tubuhnya hingga Luciana sekarang benar-benar terhimpit diantara tubuhnya dan tembok kokoh di belakangnya.


            “Luciana, aku menginginkanmu.”


            “Aaa apa?” tanya Luciana tergagap sambil memandang was-was kearah Joey. Ia sekarang merasa takut melihat kilatan licik yang tersembunyi dibalik mata teduh Joey. Pria itu baru saja mengatakan menginginkannya. Dan ia sangat berharap semoga kata-kata itu tidak mengandung arti seperti yang sedang ia pikirkan saat ini.


            “Kau ingin apa? Ingin melanjutkan sesi bermain kartu kemarin atau mendiskusikan masalah Jihyun? Mungkin aku bisa memberimu waktu satu jam untuk melakukannya.” ucap Luciana berpura-pura santai seperti orang bodoh. Joey terkekeh kecil di depannya sambil menatap kedua manik coklat itu dalam.


            “Aku tahu kau tidak sebodoh itu untuk menafsirkan ucapanku Luciana. Aku menginginkan tubuhmu.”


            “Apa? Tidak! Apa kau gila! Kau memiliki istri, dan aku hanya konselormu. Sekarang lepaskan aku! Pulanglah ke rumah dan istirahatkan kepalamu yang tidak waras itu di rumah. Aku tahu kau tidak akan serius untuk melakukannya.”


            “Aku serius. Bahkan aku sangat serius dengan ceritaku kemarin jika aku merasa lebih bergairah ketika bersamamu daripada bersama dengan Jihyun. Kau pikir semua ceritaku hanya karangan dan bualan? Aku menceritakannya dengan sungguh-sungguh. Karena itu, aku ingin membuktikannya sekarang, apakah aku benar-benar menginginkanmu.” ucap Joey tegas dengan sorot mata berkilat-kilat marah. Luciana mulai bergerak-gerak tak nyaman di dalam dekapan Joey dan ia mulai mencari akal untuk segera lepas dari kungkungan Joey yang membahayakan ini. Sepertinya Joey telah memasuki tahap ketergantungan, dimana hal itu biasanya berhasil ia cegah dengan baik. Namun kali ini ia terlambat untuk melakukan hal itu karena Joey yang selalu mendatanginya dan menghubunginya. Ia sadar, hubungannya dengan Joey ini sudah terlalu jauh. Dan ia harus segera mengakhirinya sekarang.


            “Itu tidak boleh terjadi, aku hanya konselormu. Kita hanya rekan kerja.”


            “Aku tidak peduli! Aku hanya ingin memilikimu sekarang, karena aku sadar, aku tidak bisa tanpamu Luciana.”


            Joey langsung mencium bibir Luciana begitu saja. Melumatnya dengan kasar dan menghisapnya dengan tempo yang cepat hingga Luciana tidak bisa menghentikan pria itu. Joey kemudian menggigit sudut bibir Luciana dan membuat Luciana tanpa sadar memekik keras karena perih yang ia rasakan. Hal itu langsung digunakan Joey


untuk menyusupkan lidahnya kedalam rongga mulut Luciana, dan pria itu perlahan-lahan mulai mengangkat tubuh Luciana menuju sofa terdekat yang tak jauh darinya.


            “Aku tahu kau juga menginginkannya Luciana.” bisik Joey parau sambil mengelus punggung mulus Luciana yang terbuka. Luciana yang baru saja mendapatkan ciuman brutal dari Joey masih terlihat terengah-engah dengan bibir basah mengkilap yang membuat Joey semakin ingin menciumnya lagi. Namun Joey menahan semua


gairah itu sesaat hingga Luciana benar-benar mendapatkan pasokan oksigennya yang menipis lagi.


            “Pikirkanlah akibat dari semua perbuatan ini. Aku tidak akan munafik, kau tahu sendiri jika aku sudah lama tidak berhubungan dengan pria manapun semenjak bercerai dengan Aaron. Tapi semua tindakan yang kita lakukan akan menghasilkan konsekuensi yang mengerikan di masa depan. Bagaimana jika akhirnya aku benar-benar mencitaimu dan kita akan saling ketergantungan satu sama lain?” Tanya Luciana sayu di bawah Joey. Wanita itu menatap manik Joey lembut dan membuat Joey semakin tidak bisa melepaskan Luciana begitu saja, karena ia sudah terlanjur jatuh pada pesona Luciana yang memabukan. Wanita itu bahkan masih bisa bersikap tenang disaat ia dalam posisi terancam. Dan hebatnya Luciana, ia masih memiliki tatapan lembut untuknya meskipun ia telah menyakiti wanita itu dengan perbuatannya.


            “Aku akan bertanggungjawab dengan semua konsekuensinya. Kupikir ini belum sampai pada tahap cinta, hanya saja aku sadar jika aku sangat membutuhkanmu Luciana. Sepertinya aku tidak akan pernah bisa tanpamu.” Ucap Joey lembut sambil mencium sudut bibir Luciana yang terluka pelan. Kedua manusia itu lantas hanya saling menatap satu sama lain sambil memikirkan seluruh hal yang berasang di otak mereka. Luciana mengakui jika ia sekarang cukup tergoda untuk melakukannya. Namun ia tidak akan melakukannya jika Joey hanya sekedar tersulut oleh napsunya karena ditinggalkan oleh Jihyun. Pria itu juga harus memikirkan dampak dari semua perbuatan yang mereka lakukan malam ini.


            “Bercintalah denganku Luciana, aku akan mempertanggungjawabkan semuanya. Aku janji.”


            Luciana memejamkan matanya. Ia merasa terharu dan sesak disaat bersamaan karena ucapan Joey. Pria itu mengatakannya dengan penuh kesungguhan hingga membuat hatinya bergetar. Belum pernah ada pria yang terlihat begitu tulus dan jujur seperti Joey sebelumnya. Bahkan Aaronpun tidak pernah melakukan hal itu. Perlu waktu yang  begitu lama untuk bisa benar-benar dekat dengan Aaron seperti dulu. Sedangkan bersama Joey, ia merasa kedekatan mereka terjalin dengan begitu cepat. Mungkin hal ini memang karena Joey sudah terlalu bergantung padanya, sehingga pria itu sering berinteraksi dengannya sejak mereka bertemu satu bulan yang lalu.


            “Lakukanlah, jika itu memang bisa mengobati kekosongan hatimu. Bukankah aku adalah konselormu, aku harus memastikan klienku benar-benar sembuh setelah berkonsultasi denganku.” Ucap Luciana lirih. Joey mengecup dahi Luciana lama, kemudian turun menuju bibir merah muda Luciana yang sejak tadi terus memanggil manggilnya untuk mendekat. Keduanya pun kini telah larut bersama pusara gairah yang begitu memabukan hingga mereka sudah tak memikirkan lagi kode etik maupun orang lain yang mungkin akan tersakiti dengan perbuatan mereka malam ini.


            “Kau benar-benar berbeda dari Jihyun. Sejak aku melihatmu malam itu, dan mencium bibirmu, tubuhku selalu terbakar hingga terasa sakit. Arghh... kau merasakannya, aku tidak bisa menahan ini lebih lama lagi Luciana.” erang Joey sambil menciumi leher jenjang Luciana. Luciana yang sudah pasrah dan dibutakan oleh kabut gairah hanya dapat menerima setiap sentuhan yang diberikan Joey dengan pasrah. Meskpun ia kesal karena pria itu membandingkannya dengan Jihyun, namun untuk saat ini ia memilih untuk melupakannya karena malam ini ia hanyalah seorang mistress untuk pria itu. Hubungannya dan Joey tidak akan pernah berjalan serius seperti pasangan lain di luar sana yang berakhir bahagia.


            “Joey.... aahh.. ini sungguh pengalaman yang menakjubkan. Kau berbeda dengan Rein dan Aaron, kau lebih membuatku menjadi liar dengan permainanmu yang liar.” bisik Luciana parau sambil melepaskan satu persatu kancing kemeja Joey dan mengelus pelan perut rata Joey yang terasa begitu keras di atas jari-jarinya yang lentik.


            “Arghh.. kau semakin menyiksaku Luciana. Apa kita bisa melakukannya di tempat yang lebih luas? Di kamarmu mungkin?” bisik Joey parau sambil menggigit kecil telinga Luciana. Luciana menggelinjang geli dengan perlakuan Joey, namun kemudian ia mengangguk dan semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Joey yang telah basah oleh keringat.


            “Bawa aku ke kamarku.”


            Sambil tetap memangut bibir tipis Luciana, Joey mulai berdiri untuk membawa Luciana ke kamar wanita itu di lantai dua. Rasanya saat ini adrenalinnya benar-benar terpacu. Ia sudah lama tak melakukan hal itu dengan Jihyun. Kira-kira sudah satu bulan ia tidak melakukannya dan hanya mencoba mencumbu Jihyun. Tapi ia


tidak pernah mendapatkan pelepasan karena ia selalu kehilangan selera setiap kali Jihyun memintanya menggunakan pengaman atau setiap kali ia mengingat Luciana. Tanpa sadar otaknya selama ini telah mendambakan Luciana. Hanya saja ia selalu mengelaknya dengan banyak-banyak memikirkan Jihyun di benaknya. Namun malam ini ia tidak bisa menyingkirkan bayangan Luciana dari kepalanya. Ia terlalu menginginkan Luciana sejak berhari-hari yang lalu. Dan sayangnya ia tidak memiliki Jihyun di sampingnya untuk meredam semua perasaan laknat ini. Jadi jangan salahkan dirinya jika ia benar-benar bermain api bersama konselornya sendiri karena ini semua salah Jihyun. Jika wanita itu tidak memilih karirnya dan mengabaikan keberadaanya yang kesepian di rumah, maka ia tidak akan mungkin melampiaskan semua ini pada Luciana.


            “Mungkin kau adalah kebahagiaanku yang sesungguhnya Luciana.” gumam Joey di sela-sela ciuman mereka. Luciana mengerang frustrasi di dalam dekapan Joey, dan memilih untuk membungkam bibir pria itu dengan bibirnya. Persetan dengan kebahagiaan atau pelampiasan atau apapun yang dapat mengungkapkan ketidakpantasan hubungan mereka. Ia tidak peduli! Saat ini ia sudah ditenggelemkan oleh gairahnya yang memuncak, dan ia hanya ingin segera mengakhiri semua ini dengan sebuah pelepasan manis yang menyenangkan.


            “Malam ini adalah milik kita, dan besok kita akan kembali pada kehidupan kita masing-masing. Jadi lakukan apapun yang benar-benar kau inginkan malam ini, karena mungkin kita tidak akan memiliki kesempatan ini lagi.” ucap Luciana pelan sambil mengelus pipi Joey lembut. Joey menjatuhkan Luciana perlahan di atas ranjangnya yang empuk, lalu pria itu memerangkap tubuh setengah telanjang Luciana di bawahnya sambil menyeringai kecil penuh misteri.


            “Kurasa kita akan tetap seperti ini, karena aku.... akan mewujudkan keinginan terbesarmu.” bisik Joey sensual di telinga Luciana dan mulai menyerang tubuh tak berdaya Luciana yang terlihat mendamba di bawahnya.


            Mereka akhirnya tenggelam bersama-sama kedalam pusara gairah untuk saling memuaskan satu sama lain. Untuk memuaskan pria kesepian yang telah lama diabaikan oleh istrinya dan untuk memuaskan wanita kesepian yang telah lama ditinggalkan oleh suaminya.


-00-


            Keesokan harinya Luciana terbangun dengan keadaan penuh kecanggungan dan keanehan. Wanita itu terlihat begitu malu ketika menatap Joey yang tampak topless di sebelahnya sambil memiringkan tubuh tegapnya kearahnya.

__ADS_1


            “Hai, ternyata kau lebih menggairahkan saat bangun tidur.” goda Joey sensual. Luciana langsung memukul lengan Joey pelan dengan bantal di sebelahnya, lalu meminta Joey untuk berbalik karena ia akan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


            “Kenapa buru-buru, ini masih pukul empat pagi. Tinggalah lebih lama di sini.”


            Joey menarik tangan Luciana kuat dan membuat tubuh Luciana jatuh begitu saja di atas dada polosnya yang hangat.


            “Joey... kenapa kau melakukan hal ini?” Tanya Luciana pelan di atas dada Joey sambil mendengarkan


alunan detak jantung Joey yang merdu. Joey yang saat ini sedang mendekap erat tubuh Luciana, terlihat menggerakan salah satu tangannya untuk mengelus punggung polos Luciana. Ia ingin membuat Luciana nyaman berada di atasnya dan tidak membuat Luciana menjauh karena ia ingin menikmati semua keindahan ini sedikit lebih lama sebelum realita kembali menamparnya dan menyadarkannya jika


semua yang ia lakukan ini adalah salah.


            “Karena aku menginginkanmu.”


            “Tapi kau telah mengkhianati Jihyun. Aku telah menjadi perusak dalam kehidupan rumah tanggamu.” ucap Luciana kecil. Meskipun rasanya sakit membayangkan jika Joey masihlah milik wanita lain, namun Luciana berusaha untuk tetap tegar dan tenang di hadapan Joey.


        “Aku yang menginginkan ini semua, jadi kau tidak salah. Sedikit banyak semua ini terjadi karena Jihyun


memilih pergi untuk mengejar karirnya. Tapi aku sekarang bersyukur dengan itu semua, dengan begitu aku dapat mengenalmu dan berada di sini bersamamu.” Kekeh Joey. Luciana mendongak sedikit kearah Joey, menatap manik sendu pria itu dalam, lalu ia kembali menempelkan kepalanya pada dada bidang Joey yang hangat.


           “Kau tahu, aku telah membuat kesalahan besar malam ini.”


            “Ini bukan kesalahan jika kita sama-sama menginginkannya.” ucap Joey tenang. Luciana menghembuskan napasnya kecil di atas dada bidang Joey, lalu berguling ke samping untuk merebahkan dirinya di sisi kanan Joey yang kosong.


            “Seharusnya aku tidak boleh melakukannya. Selama lima tahun aku bekerja sebagai konselor, aku belum pernah melakukan hal sefatal ini. Dan semua ini karena kau berbeda Joey. Kau berbeda dari semua pria yang pernah dekat denganku dulu, terutama Aaron dan Rein.”


            “Benarkah?” tanya Joey tak yakin sambil menarik Luciana kedalam dekapannya. Pria itu mencium kuat-kuat aroma rambut Luciana yang telah bercampur dengan keringat hasil percintaan mereka beberapa saat yang lalu. Dan rasanya bercinta dengan Luciana juga sangat berbeda dengan bercinta bersama Jihyun. Wanita yang saat ini sedang berada di dalam dekapannya mampu bebuat jantungnya berdebar ribut selama sesi percintaan berlangsung. Bahkan saat inipun ia masih berdebar karena Luciana.


            “Kau adalah tipe pria arogan menyebalkan yang suka memaksakan kehendakmu padaku sesuka hatimu. Tapi karena sikap pemaksamu itu, kau justru memiliki nilai plus di mataku.”


            “Kenapa?” tanya Joey tak mengerti. Memiliki rekan seorang konselor memang cukup sulit, karena terkadang mereka menggunakan bahasa yang cukup ambigu untuk mendeskripsikan apa yang sedang mereka rasakan saat ini.


            “Karena itu berarti kau memiliki kesungguhan yang besar untuk mendapatkan apa yang sedang kau inginkan sekarang. Sayangnya aku tidak tahu, apakah hubungan ini akan berakhir begitu saja atau aku akan menjadi seseorang yang kau inginkan. Aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu karena jika aku mengetahuinya, aku takut aku akan kecewa.”


            “Kupastikan padamu jika hubungan kita tidak akan berakhir dalam waktu dekat ini karena aku masih sangat membutuhkanmu Luciana. Aku merasa semakin ketergantungan padamu, terlebih setelah percintaan kita malam ini. Oya, aku tidak mau kau terlalu dekat dengan Aaron sekarang. Kau harus menjauhinya.”


            “Kenapa? Aaron adalah ayah Aleyna, ia pasti akan sering datang ke sini.”


            “Tapi ia bukan ayah biologis Aleyna. Kau sekarang milikku Luciana, aku tidak mau melihatmu dekat


dengan semua mantan suamimu.” Ucap Joey posesif. Luciana meringsek masuk kedalam pelukan Joey, lalu ia mengangguk kecil sebagai jawaban atas permintaan pria itu padanya.


            Tiba-tiba hening terjadi diantara mereka, namun Luciana langsung mencairkannya dengan suara


tawanya yang sumbang.


            “Hahaha... jangan terlalu dipikirkan. Itu hanya salah satu pemikiran konyolku saja. Kau tetap berhak bersama Jihyun karena ia adalah istrimu.” Ucap Luciana dengan tawa hambar. Joey menerawang jauh pada sudut-sudut kamar Luciana yang gelap sambil memikirkan bagaimana kehidupannya setelah ini. Ia selamanya tidak mungkin akan berada di posisi ini. Pada saatnya nanti, ia pasti harus memilih satu diantara dua wanita yang telah memasuki kehidupannya terlalu jauh. Luciana dan Jihyun. Keduanya menawarkan sensasi yang berbeda ketika berdekatan dengannya. Tapi apa yang ia lakukan bersama Luciana semata-mata karena mereka sama-sama saling membutuhkan. Tidak ada cinta yang mendasari hubungannya dengan Luciana malam ini. Ia dan Luciana hanyalah dua orang kesepian yang sama-sama membutuhkan pelampiasan untuk melupakan rasa sesak mereka ataupun kekosongan yang selama ini mendera mereka. Tapi, bukankah cinta bisa tumbuh kapan saja? Hubungan yang


diawali bukan karena cinta, justru akan melahirkan sebuah cinta baru yang lebih kuat dan tak tergoyahkan daripada hubungan yang didasari oleh perasaan cinta. Jadi hubungan mereka malam ini bisa saja berkembang kearah yang lebih serius dimana ikatan cintalah yang pada akhirnya akan mempersatukan mereka. Atau hubungan mereka akan berakhir begitu saja. Tak berbekas, dan akan membuat mereka menjadi dua orang individu yang kembali berdiri di jalur mereka masing-masing.


-00-


            Seorang wanita yang sedang duduk di sebuah restoran bergaya outdoor itu terlihat sedang membaca majalah sambil menunggu manajernya datang untuk membawakan menu sarapannya. Ditemani dengan hiruk pikuk suasana New York yang ramai, Jihyun mulai menyesap kopinya pelan sambil melirik jam tangannya karena ia merasa sang manajer terlalu lama untuk mengambilkannya senampan menu sarapan yang telah disediakan oleh pihak hotel untuknya.


            “Ck, kemana perginya Yeun, kenapa ia lama sekali.” gerutu Jihyun kesal. Ia kemudian meletakan


majalahnya ke atas meja dan meraih ponsel merah mudanya untuk membaca pesan-pesan yang mungkin dikirimkan oleh teman-temannya di Seoul. Karena lusa ia akan pulang, kemungkinan mereka semua akan berebut meminta oleh-oleh darinya atau dengan terang-terangan mengirimkan foto barang-barang branded agar ia membawakannya sebagai buah tangan dari trip kerjanya di New York.


            “Ini makananmu, petugas hotel itu lupa membuatkan menu sarapan khusus untukmu. Jadi aku harus menunggu mereka membuatkan sandwich tanpa daging ini untukmu.”


            Jihyun lalu menurunkan ponselnya, melirik sandwich menggiurkan itu sekilas, lalu mulai memakannya dengan gaya anggun yang berkelas.


            “Apa jadwalku hari ini?”


            “Hmm, bertemu dengan pemilik Victoria Secret untuk membicarakan desain pakaian dalam khusus yang akan sangat digemari masyarakat Asia. Kau akan menjadi ikon untuk pakaian dalam itu.” beritahu Yeun sambil mencsroll layar ponselnya beberapa kali.


            “Ngomong-ngomong, apakah kemarin suamimu menggelar pesta mewah untuk memperingati ulangtahun perusahaanya?”


            “Iya, kemarin Joey memberitahukannya padaku. Dan sayangnya aku tidak bisa datang sebagai pasangannya.” ucap Jihyun acuh tak acuh sambil memasukan sesuap roti isi kedalam mulutnya. Akhir-akhir ini ia merasa hubungannya dengan suaminya sedikit merenggang. Mungkin itu semua karena kesalahannya yang terlalu fokus pada karir modelingnya. Ia yang terlalu sibuk dengan ambisinya sedikit mengabaikan Joey akhir-akhir ini. Apalagi dengan kegiatannya yang padat serta jam pulangnya yang selalu larut malam, membuatnya jarang memiliki waktu bersama untuk Joey. Bahkan hanya untuk sarapan bersamapun mereka jarang melakukannya akhir-akhir ini. Itu semua karena Joey akan pergi ke kantornya pagi-pagi buta sebelum ia bangun, dan saat ia pulang, suaminya itu telah terlelap dengan manis di atas ranjang mereka. Jadi mereka berdua nyaris tidak pernah saling menyapa satu sama lain. Kecuali melalui telepon jika ia sedang tidak sibuk.


            “Bukankah ini suamimu?" Yeun menunjukan layar ponselnya pada Jihyun yang memuat foto suaminya bersama seorang wanita yang ia ketahui sebagai mantan istri Rein.


            “Siapa wanita ini? Mengapa ia terlihat dekat dengan suamimu?”


            “Ia adalah Luciana, mantan istri Rein. Coba bacakan apa yang ia lakukan bersama suamiku di sana?


Aku curiga jika Joey sengaja melakukan hal itu untuk memancing kecemburuanku.” ucap Jihyun masih tenang. Wanita itu tahu jika suaminya bukanlah tipe pria brengsek yang gemar mendekati banyak wanita atau mengencani banyak wanita, karena sejauh ini hanya dirinyalah satu-satunya wanita yang dicintai oleh suaminya.

__ADS_1


            “Di sini tertulis jika Luciana adalah salah satu relasi penting dari Lee Corp, jadi Joey memberikan sebuah kehormatan pada Luciana untuk bersanding bersamanya di podium.” baca Yeun sambil melihat gambar-gambar lain yang berhasil diabadikan oleh kamera-kamera paparazzi yang semalam menghadiri acara super mewah milik perusahaan Joey.


            “Hmm, sudah kuduga. Joey pasti hanya ingin memanas-manasiku karena aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Joey memang tidak akan mungkin berselingkuh di belakangku karena aku adalah satu-satunya wanita yang ia cintai. Apa kau tahu Yeun-ah, salah satu alasanku menerima Joey menjadi suamiku karena aku sangat tahu bagaimana kepribadian Joey oppa selama ini. Joey oppa adalah pria kaya yang benar-benar berbeda dari


pria-pria kaya yang lain. Ia tidak suka berkencan dengan banyak wanita. Jika ia sedang menjalin hubungan dengan satu orang wanita, maka ia akan tetap bertahan dengan wanita itu hingga hubungan mereka benar-benar berakhir.” cerita Jihyun sombong. Wanita itu benar-benar terlalu percaya diri dengan keyakinannya yang tinggi jika suaminya tidak akan mungkin bermain api di belakangnya. Namun ekspresi wajah Yeun justru menunjukan hal yang sebaliknya karena ia merasa kedekatan Joey dan Luciana yang terlihat dari setiap foto yang berhasil dibidik


oleh semua paparazzi itu terlalu berlebihan. Ia merasa kedua orang dalam foto itu bukan hanya sebatas rekan kerja seperti apa yang tertulis di sana.


            “Kau yakin? Tapi mereka terlihat sangat dekat.”


            “Aku sangat yakin. Bahkan Joey sama sekali tidak mengetahui siapa itu Luciana, jadi aku yakin jika


mereka tidak memiliki hubungan apapun selain hubungan kerja seperti apa yang tertera di sana. Lagipula hubungan pernikahan kami tidak mungkin akan bertahan selama ini jika Joey bukanlah pria yang setia. Ia benar benar pria yang sangat langka.”


            “Hey, kenapa kau seperti itu. Apa kau tidak ingin memiliki keturunan dan hidup tenang di rumah bersama dengan anak-anakmu yang lucu?” tegur Yeun tak habis pikir. Modelnya itu memang jenis wanita yang aneh. Disaat semua wanita lebih suka bermalas-malasan di rumah dengan harta kekayaan suaminya, Jihyun justru memilih untuk tetap berkarir dengan segala kesibukan yang mencekiknya.


            “Nanti jika saatnya sudah tepat, aku pasti akan mengandung bayi kami yang lucu. Tapi itu bukan sekarang Yeun-ah, karena aku masih memiliki banyak ambisi yang perlu kurealisasikan sebelum aku benar-benar meninggalkan dunia yang indah ini.” UCap Jihyun menerawang sambil memandang segerombolan pejalan kaki yang sedang berdesak-desakan di depan matanya. Sejujurnya ia tidak tahu kapan ambisinya itu akan benar-benar terpenuhi. Selama ini ia hanya sekedar memberikan janji palsu pada Joey agar pria itu mau menunggunya sedikit lebih lama. Tapi jika pada akhirnya pekerjaan ini menuntutnya lebih jauh, maka ia akan kembali meminta kelonggaran waktu pada Joey untuk menunggunya. Lagipula ia sangat yakin jika Joey akan mengijinkannya untuk berkarir sedikit lebih lama, karena sejauh yang ia tahu, Joey sangatlah mencintainya dan pria itu tidak akan pernah bisa hidup tanpanya.


-00-


            “Paman Joey!!”


            Di pagi yang tenang itu, tiba-tiba Aleyna berteriak keras dari lantai dua sambil berlari kearah Joey yang sedang meliriknya dari kursi ruang makan. Pria itu melambaikan tangannya pelan kearah Aleyna, lalu merentangkan tangannya lebar ketika Aleyna mulai mendekat sambil membawa boneka kelinci berwarna pinknya, hadiah dari Aaron tahun lalu.


            “Paman, apa yang paman lakukan di sini? Apa paman akan berangkat kerja bersama eomma?” Tanya Aleyna dengan mata bulatnya yang menggemaskan. Pria itu melirik sekilas kearah Luciana yang sedang memasak di dapur, lalu beralih pada Aleyna dengan gaya berpikir seolah-olah sedang meminta pendapat dari Aleyna.


            “Apa menurutmu paman harus mengantar eommamu ke kantor? Tapi sepertinya eommamu tidak mau.”


“Aleyna, ayo mandi. Kau akan terlambat ke sekolah sayang.”


            Luciana berteriak keras dari dapur, namun tak ada tanda-tanda wanita itu akan muncul untuk memandikan


Aleyna. Justru wanita itu masih terlihat sibuk menyiapkan bekal untuk Aleyna bawa ke sekolahnya.


            “Apa eommamu selalu terlihat cerewet seperti itu?”


            “Hmm, eomma memang seperti itu. Kadang eomma juga galak.” bisik Aleyna lucu seperti sedang


mengadu. Joey tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol Aleyna di depannya, ia lalu mengangguk setuju membenarkan ucapan Aleyna karena Luciana memang sangat galak dan cerewet.


            “Apa yang sedang kalian lakukan? Sayang, ayo kita mandi. Kau akan terlambat ke sekolah.”


            “Apa paman Jihoo yang akan mengantarku ke sekolah? Aku tidak mau.” tolak Aleyna tegas. Luciana lantas


mengernyit heran melihat putrinya yang tiba-tiba menolak pergi ke sekolah bersama Jihoo karena biasanya Aleyna selalu lebih bersemangat jika pergi bersama Jihoo daripada bersamanya yang kadang suka mengomel di dalam mobil.


            “Aleyna mau diantar oleh paman Joey.” Tunjuk Aleyna dengan salah satu tangan memeluk boneka kelinci. Luciana melirik sebal kearah Joey, ia memberikan lirikan tajam pada pria itu sambil mendengus kesal pada keduanya yang terlihat kompak di depannya.


            “Kau pasti telah mempengaruhi Aleyna.” Tuduh Luciana sakarstik.


            “Mempengaruhi? Aku tidak melakukan apapun. Aku bahkan baru saja melihat Aleyna turun dari kamarnya.” ucap Joey membela diri.


            “Tapi Kau pria yang manipulatif. Bahkan kau bisa mempengaruhiku dengan mudah.” tuduh Luciana lagi


bersungut-sungut. Joey lantas tekekeh pelan sambil berdiri dari duduknya. Dengan secepat kilat ia memeluk tubuh Luciana dari belakang, yang saat ini sedang menyeduh kopi untuknya.


            “Jadi sekarang kau mengakui pesonaku yang mematikan ini, hmm?”


            “Ck, lepaskan Joey! Aleyna akan melihat ini dan ia akan mengadu pada Aaron.”


            “Memangnya kenapa jika ia mengadu? Kau takut jika hubungan kita diketahui oleh orang lain?”


            “Bukankah semua orang sudah mengetahuinya? Fotoku semalam terpampang jelas di headline seluruh surat kabar. Lalu apa yang perlu kututup-tutupi lagi.” balas Luciana sengit. Joey lalu melepaskan belitan kedua tangannya dari Luciana dan meraih pinggang wanita itu untuk semakin mendekat kearahnya.


            “Fokuslah pada kebahagiaanmu sendiri, jangan terlalu memikirkan orang lain. Mereka hanyalah penonton dari kehidupanmu yang indah ini. Pada akhirnya kau sendiri yang akan menjalaninya. Jadi untuk apa kau memikirkan perkataan mereka. Toh mereka akan bosan dengan sendirinya jika kau memilih untuk bersikap acuh. Oya, malam ini datanglah ke rumahku untuk makan malam bersama Spencer dan keluarganya. Aku ingin kau mengenal kehidupanku yang lain dan juga mengenal bibi Jang.”


            “Aw, rasanya ini seperti akan bertemu dengan calon mertua.” Kekeh Luciana ringan. Entah kenapa ia bisa berpikir seperti itu, padahal jelas-jelas itu hanya akan menjadi makan malam biasa. Tapi pikiran liar Luciana terlalu jauh memikirkannya sebagai sebuah jamuan makan malam resmi untuk saling mengenal keluarga masing-masing.


            “Anggap saja seperti itu jika kau menginginkannya. Aku akan menjemputmu pukul lima.”


            “Tidak usah, aku akan pergi sendiri bersama Aleyna. Lagipula tidak enak jika kau terlihat begitu peduli padaku. Bersikaplah biasa seperti saat kau pertama kali bertemu denganku, hmm.”


            Joey mengecup sudut bibir Luciana sekilas, lalu beralih menuju meja makan sambil membawa kopi hitamnya yang masih mengepulkan uap tipis.


            “Jika kau ingin mandi, aku sudah menyiapkan pakaianmu. Aku akan memandikan Aleyna dulu. Ayo sayang, kita mandi dan segera berangkat ke sekolah.”


            “Tapi Aleyna ingin diantar paman Joey.”

__ADS_1


               “Paman akan mengantarmu, cepatlah mandi karena paman juga akan bersiap-siap.” teriak Joey dari meja


makan. Aleyna langsung bersorak girang pada ibunya dan melompat-lompat heboh kesana kemari. Luciana sendiri bahkan sampai tak habis pikir, mengapa putrinya bisa sedekat itu pada Joey. Mungkin Joey memang memiliki karisma yang sangat berbahaya, hingga dirinya pun bahkan bisa terjerat dengan mudah oleh pesona pria itu.


__ADS_2