Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Four: Obsessed (Seventy Six)


__ADS_3

            Irene mengelus perut datarnya lembut sambil bersandar pada sandaran ranjangnya dengan wajah pucat. Sore ini setelah ia mencium aroma udang rebus di jalan, tiba-tiba ia merasa mual dan ingin menumpahkan seluruh isi perutnya. Tapi sayangnya rasa mual itu tak berhenti begitu saja setelah ia mengeluarkan seluruh isi perutnya,


rasa mualnya itu justru semakin bertambah parah hingga ia merasa lemas. Bahkan saat ini perutnya terasa begitu perih karena ia tidak bisa memasukan makanan apapun. Sejak tadi ia sudah mencoba untuk memasukan sepotong biskuit, tapi yang terjadi ia justru kembali muntah di kamar mandi dengan perasaan yang benar-benar tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


            “Oh Tuhan... ini sangat menyiksa.” gumam Irene lemas pada dirinya sendiri. Namun ia sama sekali tidak membenci kehamilannya, justru ia merasa bahagia karena ia sekarang memiliki sebagian dari diri Suho di dalam rahimnya.


            “Nak tumbuhlah dengan baik di dalam sana, eomma janji, eomma akan selalu memperjuangkanmu dan menjauhkanmu dari orang-orang jahat di luar sana.” gumam Irene sungguh-sungguh sambil mengelus perutnya lagi.


Brak brak brak


            Seseorang tiba-tiba menggedor pintu apartemen Irene dengan keras dan membuat Irene cukup terkejut. Dengan lemas, Irene mencoba untuk bangkit dan membukakan pintu bagi sang tamu yang tidak punya sopan santun itu.


            “Ya... tunggu sebentar.” ucap Irene dengan suara parau. Ia pun bergegas membuka kenop pintu apartemennya untuk memarahi siapapun yang telah berani mengganggu waktu istirahatnya.


            “Apa maksudmu dengan meletakan benda ini di dalam saku jasku?”


            Irene langsung mendapatkan amukan Suho ketika pintu apartemennya benar-benar telah terbuka sempurna. Wanita itu meskipun cukup terkejut, namun ia berusaha untuk menyembunyikan ekspresi keterkejutannya dengan bersikap datar dan tenang di hadapan Suho. Tapi sayangnya hal itu sangat sulit untuk dilakukan di tengah rasa mual yang mendera perutnya dengan dahsyat.


            “Tentu saja untuk memberitahumu hal yang sebenarnya.” ucap Irene angkuh di hadapan Suho. Suho melempar testpack itu keras di depan Irene hingga terasa seperti sebuah tamparan yang cukup keras di mata Irene. Rasa sesak yang menyeruak di hatinya akibat perbuatan kasar Suho membuatnya ingin menangis sekeras-kerasnya sekarang. Apalagi rasa mual yang bergejolak di dalam perutnya semakin membuatnya tidak tahan dan ia segera berlari ke dalam toilet untuk memuntahkan apapun yang masih tersisa di dalam perutnya.


            “Irene berhenti! Aku belum selesai berbicara denganmu!”


            Suho mengikuti arah langkah Irene dan langsung mematung di ambang pintu ketika ia melihat Irene sedang memuntahkan cairan lambung yang berwarna bening di atas westafel. Setelah memuntahkan semuanya, Irene langsung merosot di atas lantai dengan kepala yang terkulai di samping tembok.


            “Tolong jangan ganggu aku sekarang, aku tidak dalam keadaan yang baik untuk melayani perdebatanmu.” ucap Irene lemah. Melihat itu semua hati kecil Suho langsung berontak dan ingin berbuat sesuatu untuk Irene. Kilasan kejadian saat ia melemparkan tubuh Irene di kantor membuatnya merasa bersalah. Padahal saat ini Irene sedang mengandung anaknya, tapi ia dengan brengseknya berlaku kasar pada seorang ibu hamil. Ia sekarang merasa seperti seorang pria brengsek yang seharusnya diberikan hukuman yang seberat-beratnya oleh Tuhan.

__ADS_1


            “Ayo, aku akan membantumu.”


            Irene tampak pasrah ketika Suho mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju kamarnya. Saat ini tenaganya telah terkuras habis karena rasa mual yang menderanya sejak tadi. Sebenarnya ia ingin pergi ke dokter, tapi ia tidak bisa melakukannya sekarang karena ia benar-benar sangat lemah hanya untuk berjalan sekalipun. Tapi jika Suho bersedia, Irene sangat ingin meminta tolong pada pria itu untuk membawanya ke rumah sakit.


            “Bisakah kau mengantarku ke rumah sakit? Aku harus meminta obat anti mual pada dokter.” pinta Irene lirih. Suho yang merasa iba dengan keadaan Irene akhirnya memilih untuk sedikit berdamai dengan egonya dan mengantar Irene ke rumah sakit. Lagipula jika ia membiarkan Irene tak berdaya seperti ini, hati kecilnya tidak akan pernah tega.


            “Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Tapi...”


            Irene mendongakan wajahnya untuk menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Suho.


            “Tapi jangan terlalu berharap lebih karena aku tidak akan bertindak lebih jauh daripada ini.”


            “Ya aku tahu.”


            Irene mengangguk kecil sambil berjalan pelan menuju lemarinya untuk mengambil jaketnya yang berada di dalam sana. Tapi meskipun Suho tidak akan mengakui bayi itu sebagai anaknya, Irene tidak akan berhenti berusaha untuk membawa Suho kembali padanya.


-00-


            “Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan pada Suho oppa?”


            Yuri bergumam frustrasi sambil memeluk lututnya kalut. Lalu tiba-tiba ia teringat pada Irene yang merupakan junior Suho saat senior high school. Beberapa kali ia sering bertemu Irene disekitar kantor Suho pada jam makan siang, dan ia pikir Irene dapat menjadi kunci untuk menguak masa lalu Suho yang tak pernah ia ketahui selama ini.


            “Besok aku harus menemui Irene, dia adalah satu-satunya kunci untuk mencari tahu masa lalu Suho oppa. Ya aku harus melakukannya.” gumam Yuri semangat sambil mengepalkan tangannya ke udara.


-00-

__ADS_1


            Irene terkulai lemah di atas ranjang rumah sakit ketika dokter mulai memeriksa keadaannya. Dokter wanita itu tersenyum manis ke arah Irene dan menyuruh Irene untuk bangkit setelah ia selesai memeriksa kondisi Irene.


            “Bagaimana keadaannya dok?”


            “Keadaan istri anda baik, mual-mual dan muntah yang dirasakan nyonya Irene adalah hal wajar yang terjadi pada ibu hamil di trimester pertama, jadi anda tidak perlu khawatir. Saya akan memberikan vitamin dan obat anti mual pada nyonya Irene agar ia tidak mengalami morning sickness ataupun perasaan mual lainnya.” ucap dokter itu sambil menuliskan resep di atas kertas. Suho memandang Irene sekilas dengan berbagai macam hal yang berkecamuk di dalam kepalanya. Ia pikir Irene memang sudah merencanakan kehamilannya sejak awal untuk menarik simpatinya, tapi ia pikir hal itu tidak boleh terjadi karena ia tidak akan memberikan harapan lebih pada Irene. Anggap saja apa yang ia lakukan hari ini hanyalah karena dorongan hati nuraninya semata, bukan karena hal lain.


            “Nah ini resep untuk nyonya Irene yang harus ditebus di apotek. Setiap bulan nyonya Irene harus datang ke rumah sakit untuk melakukan cek kandungan agar bayi yang berada di dalam kandungan nyonya Irene akan terus sehat hingga hari persalinan nanti.”


            Irene mengangguk pelan pada dokter Kim dan segera turun dari atas ranjang rumah sakit yang cukup tinggi. Ketika Suho menawarkan bantuan untuk membantunya turun, Irene langsung mengabaikannya dan terlihat acuh pada Suho.


            “Terimakasih dok, saya akan datang kembali bulan depan.” ucap Irene lirih dengan senyum kecil yang ia paksakan. Suho pun melakukan hal yang sama dengan Irene dan segera berjalan di belakang Irene untuk keluar dari ruangan dokter Kim.


            Selama berjalan di lorong rumah sakit, baik Irene maupun Suho saling terdiam satu sama lain tanpa ada satupun diantara mereka yang berniat untuk membuka percakapan. Irene lebih memilih untuk membungkam bibirnya rapat-rapat karena ia sedang malas untuk berdebat dengan Suho. Sedangkan Suho memilih untuk diam karena ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada seorang ibu hamil seperti Irene. Andai saja Irene adalah istrinya, mungkin ceritanya akan berbeda. Tapi sayangnya saat ini hubungannya dengan Irene sedang tidak jelas, dan justru ia sedang berusaha untuk lepas dari belenggu Irene yang mengganggu. Namun sekarang Irene justru semakin membelenggunya dengan hadirnya sang buah hati di dalam rahim Irene. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah ia harus menyakiti wanita polos seperti Yuri untuk memperjuangkan hubungannya dengan wanita licik seperti Irene?


            “Pulanglah, aku akan pulang menggunakan taksi.” Tiba-tiba Irene berseru pelan sambil menengokan kepalanya sekilas kearah Suho.


            “Apa kau yakin? Jika kau masih merasa lemas dan mual tidak perlu memaksakan diri untuk pulang sendiri, aku akan mengantarmu.”


            “Kurasa sekarang sudah lebih baik, aku bisa pulang sendiri. Lagipula Yuri pasti akan menunggumu di rumah.” ucap Irene acuh dan segera berjalan pergi meninggalkan Suho. Tapi tiba-tiba Suho mencekal pergelangan tangannya dan membuatnya harus menghentikan langkahnya tiba-tiba.


            “Tunggu, aku ingin membicarakan mengenai status janin yang berada di dalam kandunganmu.”


            “Ya bicaralah, aku akan mendengarkannya tanpa membantah.” balas Irene malas. Lagipula apa yang akan ia harapkan dari Suho, jelas sekali jika Suho tidak akan mau menerima bayi itu. Tapi untuk saat ini bukan itu permasalahan yang merisaukannya, tapi rencananya untuk memisahkan Yuri dari Suho. Dengan keadaanya yang sedang mengandung ia akan menjadi sangat rentan dan tidak bisa bertindak sesuka hatinya seperti dulu. Ia harus selalu berhati-hati dalam melakukan segala hal karena ia tidak ingin mencelakakan buah hatinya.


            “Bayi itu, aku akan mengakuinya sebagai anakku selama kau tidak mencoba untuk mengatakannya pada Yuri. Jika kau bersiap baik dan manis, maka aku akan mempertimbangkan untuk menjalankan peranku sebagai ayah dari anak itu.”

__ADS_1


            “Huh, bahkan aku sama sekali tidak keberatan jika kau tidak mengakuinya sebagai anakmu karena hal itu akan jauh lebih baik daripada aku harus mengorbankan perasaanku untuk melihatmu bahagia bersama Yuri.”


            Setelah mengucapkan hal itu Irene segera pergi meninggalkan Suho yang sedang menahan kesal dengan sikap keras kepala Irene. Ia harus tetap mewaspadai pergerakan Irene, karena meskipun ia sedang mengandung, Irene tetap akan mejalankan rencana liciknya untuk menghancurkan kehidupan rumah tangganya bersama Yuri. Dan sebisa mungkin ia harus memasang banyak penjaga disekitar Yuri agar Irene tidak bisa mendekati Yuri dan menghasut Yuri dengan kata-kata manisnya.


__ADS_2