Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Three: Stockholm Syndrome (Sixty Two)


__ADS_3

            “Eomma!”


            Sore itu Luciana pulang disambut oleh Aleyna yang sedang melambai-lambaikan tangan dari teras. Tak berapa lama gadis kecil itu berlari kearah Luciana dan bergelayut manja di lengan ibunya yang lelah.


           “Dimana adikmu?”


            “Bersama bibi Hana. Baru selesai mandi.”


            Luciana melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ini pukul lima, dan Luciana merasa aneh saat mengetahui Lucas baru mandi di jam sesore ini. Padahal biasanya Lucas sedang memakan snack sorenya di jam-jam seperti ini.


            “Ada appa di dalam.”


            “Appa?” tanya Luciana mengernyitkan dahinya. Satu lagi kejutan yang ia terima selain cerita-cerita masa lalu Yuna yang mengejutkan, Joey pulang saat langit masih terang benderang? Wow! batin Luciana takjub.


            “Hai sayang, kau kelihatan lelah.”


            Dan pria yang sejak tadi menjadi bahan perbincangan mereka tiba-tiba datang, lengkap dengan Lucas yang telah bergelung manja di dalam gendongannya.


Cup


            Joey memberikan kecupan lembut di bibir Luciana sekilas, lalu menuntun istrinya dan juga gadis kecilnya untuk masuk ke dalam rumah.


            “Tidak biasanya kau pulang cepat?” tanya Luciana ingin tahu. Ia langsung saja menjatuhkan tubuh lelahnya pada sofa cream di ruang keluarga tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu. Ia pikir ia akan berada di sana beberapa menit untuk melihat anak-anaknya yang sedang bermain.


            “Hanya ingin pulang cepat. Tidak ada yang perlu dikerjakan lagi di kantor.” tambah Joey santai. Ia ikut mendudukan dirinya di samping istrinya, terhanyut dalam keceriaan kedua anak mereka yang sedang heboh memainkan puzzle dengan suara cerewet Aleyna yang terus meneriaki adiknya yang belum bisa menyusun puzzle dengan benar.


            “Lucas masih kecil, sayang. Ia belum bisa menyusun puzzle dengan ahli seperti dirimu.” tegur Luciana lembut saat dilihatnya Lucas hampir menangis karena suara teriakan Aleyna.


            “Tapi aku sudah mengajarinya sejak kemarin.” balas Aleyna jengkel.


             “Nah, sikap galakmu menurun kepadanya.” goda Joey geli saat melihat wajah cemberut Aleyna yang sudah kehilangan kesabarannya untuk mengajari adiknya bermain puzzle.


            “Kenapa aku?” tanya Luciana tak mau kalah. “Kau juga sering bersikap kekanakan seperti Aleyna. Siapa yang kemarin ngambek karena dasi kesayangannya hilang? Padahal dasimu hanya dilempar Lucas ke bawah tempat tidur.” cibir Luciana mengolok-olok. Senang sekali rasanya jika ia dapat membalas godaan Joey dan membuat pria itu mati kutu.


            “Kurasa aku tidak sekekanakan itu.” balas Joey tak terima. Keduanya terus saja melemparkan tuduhan-tuduhan konyol yang tak masuk akal dan sibuk tertawa bersama saat dirasa mereka benar benar sudah sangat konyol di usia yang tidak lagi muda.


            “Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanya Joey sambil membawa kepala Luciana mendekat untuk bersandar di bahunya. Pria itudengan lembut membelai kepala Luciana dan membuat istrinya senyaman mungkin untuk menceritakan apapun kesehariannya hari ini selama di rumah sakit. Bisa dikatakan ini adalah salah satu rahasia Joey untuk membuat keluarganya tetap utuh dan kompak. Setiap malam, meskipun ia sendiri telah lelah dengan seluruh pekerjaannya, ia akan menyempatkan diri untuk menjadi tempat sampah untuk Luciana.


            “Kau pasti tidak akan percaya, oppa.” bisik Luciana antusias. Rasanya ia ingin menceritakan semua cerita menakjubkan Yuna pada Joey. Menurutnya ada banyak hal yang bisa ia dapatkan dari kisah hidup Yuna. Seperti ketulusan, pengorbanan, dan cinta.


            “Apa?”


            “Tidak semua dokter di Hallym Hospital adalah dokter yang bersih dari masalah.”


            “Ya ampun.” desah Joey geli. “Semua orang tidak pernah luput dari masalah, Lucine. Bahkan kita, aku, kau dan yang lainnya.”

__ADS_1


            “Bukan seperti itu maksudku, Oppa.” rengek Luciana manja. “Kupikir kisah kita sudah cukup gila karena aku sampai melanggar kode etik yang seharusnya tidak boleh kulanggar karena mencintaimu. Tapi selain aku, dokter Kim Yuna dan dokter Oh Sehun juga!” beritahu Luciana heboh. Ia tidak akan melewatkan sesi curhat ini untuk menceritakan kisah cinta teman-temannya. Tapi tentu saja Oh Sehun yang kisah cintanya paling tragis diantara mereka.


         “Baiklah, sepertinya itu menarik. Tapi sebelum itu, aku ingin memberitahumu.”


            “Apa? Apa itu masalah serius?” tanya Luciana penuh tanya.


            “Tidak terlalu serius. Hari ini Jihyun datang ke kantor. Emm...” Joey tampak kikuk saat melihat ekspresi Luciana yang justru terlihat tajam dan seperti mendelik kearahnya. “Sebenarnya dia hanya mampir. Katanya ia merindukanku.” lanjut Joey lagi. Namun kali ini pria itu merasa khawatir dengan kata-katanya karena sepertinya Lucine sedang tidak dalam suasana hati yang baik.


            “Oh.” gumam Luciana pendek. Ia tiba-tiba kehilangan seluruh semangatnya untuk bercerita pada Joey. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba menelusup masuk ke dalam hatinya saat mendengar nama Jihyun. Sudah lama wanita itu pergi dari hidup mereka, dan selama itu pula Joey tidak pernah lagi membahasnya di antara mereka. Tapi kenapa tiba-tiba hari ini Joey membicarakan Jihyun lagi? Apakah....


            “Hhwaaaa....”


            Suara tangis Lucas memecahkan lamunan Luciana seketika. Wanita itu dengan terkejut melihat kearah Aleyna dan juga Lucas yang masih terus berteriak dengan potongan puzzle yang berserakan dimana-mana.


            “Lucas menangis karena tidak bisa menyusun puzzle.” beritahu Aleyna mencoba membela diri saat Luciana memberikan tatapan tajam kearahnya.


            “Seharusnya kau bisa lebih bersabar mengajarinya. Dia masih kecil.” ucap Luciana tajam dan segera menggendong Lucas ke dalam pelukannya. Joey yang melihat perselisihan kecil itu segera mengambil inisiatif untuk menenangkan Aleyna yang kini matanya telah berkaca-kaca karena mendapatkan kemarahan Luciana.


            “Hey hey, ini bukan masalah besar. Jangan memarahi Aleyna.”


            “Tapi sejak tadi ia memang sudah memarahi Lucas.” balas Luciana emosi.


            “Lucine.” tegur Joey masih mencoba bersabar. Ia kasihan melihat Aleyna yang sudah meneteskan air mata di samping tubuhnya. Tapi Luciana seperti tidak peduli dengan peringatan Joey. Setelah merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Luciana segera pergi membawa Lucas ke kamarnya. Kepalanya pusing tiba-tiba, dan ia merasa akan meledak jika berlama-lama berada di sana bersama Joey yang sore ini terlihat lebih menyebalkan dari biasanya.


-00-


juga jadi menjauhinya karena kemarin ia memarahinya karena sesuatu yang bukan salahnya. Ia tahu ia sedang kacau kemarin. Sejak Joey membawa nama Jihyun di tengah-tengah pembicaraan mereka, suasana hatinya tiba-tiba memburuk begitu saja. Ditambah lagi dengan rewelnya Lucas karena kekonyolannya sendiri yang tidak bisa bermain puzzle, membuat bocah kecil itu terus saja uring-uringan semalam saat bersamanya. Untung saja ia memiliki Hana. Di saat ia sudah menyerah untuk mengurus anak-anaknya, pengasuh baik hati itu dengan cekatan segera mengambil Lucas untuk disuapi dan dinina bobokan.


            “Ya Tuhan...” gumam Luciana frustrasi. Ia jadi teringat pada ancaman Joey semalam. Pria itu mengancam akan melarangnya bekerja jika ia tidak bisa menyeimbangkan tugasnya sebagai ibu dan wanita karir. Menyebalkan! Luciana mengerang keras dalam hatinya karena Joey begitu kekanakan dengan mengancamnya seperti itu. Padahal perubahan sikapnya kemarin bukan karena ia marah pada anak-anak, tapi lebih kepada marah pada dirinya sendiri yang merasa aneh saat suaminya membawa-bawa nama mantan istrinya ke dalam kehidupan rumah tangga mereka.


Tok tok tok


            Luciana memandang sekilas pintu kayu di depannya dengan perasaan gamang. Ingin rasanya ia menolak kunjungan konsultasi pagi ini untuk dua jam ke depan agar ia bisa menenangkan hatinya yang sedang kacau. Tapi ketukan pintu yang terus dilakukan berkali-kali di depan sana membuat Luciana tidak bisa berbuat apa-apa selain membuka dan memberikan senyuman palsu.


            “Selamat pagi.”


            Bagi Luciana ini bukan sesuatu yang sulit. Bersandiwara di depan pasiennya bukanlah pekerjaan yang sulit untuknya yang telah melakukan hal itu selama bertahun-tahun.


            “Apa aku mengganggumu dokter Luciana?” tanya seorang wanita dengan seragam pasien di depannya. Sekilas Luciana tampak aneh melihat wanita itu karena tidak biasanya seorang pasien berkeliaran sendirian untuk berkonsultasi padanya. Harus ada rujukan dari dokter lain untuk pasien rawat inap agar dapat melakukan konsultasi dengannya.


            “Tidak, kebetulan pasienku belum datang. Silahkan masuk.”


            Wanita itu segera masuk ke dalam ruang praktik Luciana sambil menyeret tiang infus yang meneteskan cairan berwarna kuning cerah. Luciana kemudian melihat kearah baju pasien yang dikenakan oleh wanita itu. Baju pasien untuk bangsal ibu dan anak, batin Luciana sambil menatap wanita itu dalam diam.


            “Aku sedikit terkejut saat kedatangan pasien rawat inap pagi-pagi seperti ini karena biasanya mereka hanya datang ke sini saat mendapatkan rujukan dari dokter lain.”

__ADS_1


            “Oh begitu ya, maaf aku tidak tahu. Aku datang ke sini karena inisiatifku sendiri.” jelas wanita itu tenang. Menurut Luciana ketenangan yang ditunjukan oleh wanita itu sedikit ganjil.


            “Baiklah, karena anda telah datang ke sini, jadi apa yang bisa saya bantu?” tanya Luciana ramah. Melalui matanya Luciana dapat melihat kegugupan yang sekarang tampak tercetak jelas di wajah pucat wanita itu. Jika ditilik lagi seharusnya wanita itu saat ini sedang berbahagia di kamarnya karena baru saja melahirkan. Tapi bisa juga tidak jika wanita itu ternyata mengalami keguguran dan kehilangan bayinya.


            “Bayiku hilang.”


            “Apa?! Ya ampun, astaga! Apa kau sudah melaporkannya pada pihak keamanan?” Luciana tiba-tiba berubah panik. Sangat kontras dengan sikap wanita di depannya yang masih terlihat tenang, walaupun wanita itu juga terlihat gugup.


            “Tidak apa-apa. Bayiku telah dibawa oleh orang yang tepat.”


            “Nona, aku tidak mengerti maksudmu. Bisa kau sebutkan namamu?” tanya Luciana sambil mengambil buku besar berisi data pasien dari laci mejanya.


            “Im Yoona.”


            “Berapa usiamu, nona Im?”


            “Sembilan belas.”


            Dalam hati Luciana mengerang prihatin dengan kondisi wanita itu. Dugaannya, wanita bernama Im Yoona itu hamil di luar nikah, lalu ia menjual bayinya pada seseorang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Yah, sekarang hal-hal seperti ini sering terjadi di kalangan masyarakat. Selama kedua belah pihak tidak dirugikan, praktik seperti itu menjadi tidak masalah lagi untuk mereka. Walaupun sebenarnya pemerintah melarang keras hal-hal seperti penjualan bayi terjadi.


            “Nona Im, apa yang terjadi padamu? Kau bilang bayimu hilang, dan sekarang kau datang ke ruanganku? Ada apa?”


            Yoona menarik napasnya dalam-dalam, mencoba membesarkan hatinya yang terlanjur kerdil karena banyaknya peristiwa yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini. “Yang ingin kutanyakan, kenapa aku tidak pernah merasa membenci pria yang telah menculikku? Bahkan aku membiarkan diriku mengandung anaknya begitu saja.”


            “Nona, kau korban penculikan?” Mata Luciana terbelalak dengan mimik tak percaya. Lagi-lagi ia heran dengan pasiennya yang satu ini. Semua yang ia tunjukan terlalu ganjil.


            “Tidak sepenuhnya itu kasus penculikan.” jawab wanita itu tenang. “Ia memperlakukanku dengan baik. Tapi ia mengambil bayiku.” cerita wanita itu sedih.


            “Siapa dokter yang bertanggungjawab atas persalinan anda?”


            “Dokter Henry Lau.”


            Luciana sekarang meruntuki dirinya sendiri. Ia belum terlalu mengenal dokter-dokter di sini. Ia belum pernah bertemu dengan dokter bernama Henry Lau itu. Tapi nanti ia akan menanyakannya langsung pada Sehun.


            “Baik, apa dokter Henry tahu jika bayimu hilang?”


            “Tahu. Bisa dikatakan ia yang bertanggungjawab atas hal itu.”


            “Ada konspirasi seperti itu di sini?”


            Luciana tiba-tiba merasa pening sekarang. Bisa saja ia sedang menghadapi sebuah kasus kriminal yang melibatkan dokter di sini. Padahal selama ini Hallym Hospital tidak pernah memiliki catatan kriminal apapun, pekerja di sini sangat bersih.


            “Ceritanya panjang.”


            “Kalau begitu bisa kau ceritakan bagaimana awalnya? Menurutku kau mengalami stockholm syndrome. Itu adalah keadaan dimana orang-orang yang diculik justru merasa bersimpati pada penculiknya. Mereka sama sekali tidak menyalahkan penculiknya atas tindakan yang dilakukan. Bahkan pada beberapa kasus, para korban justru

__ADS_1


membantu memuluskan jalan sang penculik untuk melakukan kejahatan.”


            “Itu mungkin saja.” ucap Yoona dengan pandangan kosong. “Aku diculik dan dimanfaatkan untuk mengandung bayinya.” lanjut Yoona lagi sebelum memulai ceritanya pada Luciana.


__ADS_2