Kontratransferensi

Kontratransferensi
His Misstres (Twenty Five)


__ADS_3

            “Maafkan aku Karen, mendadak aku harus pergi ke Busan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di sana. Jadi bisakah aku titip Aleyna untuk dua hari kedepan?”


            Luciana terlihat tidak


enak pada Karen ketika ia pagi itu datang ke rumah Karen untuk mengantarkan Aleyna. Satu jam yang lalu ia dibuat kelimpungan oleh pria bermarga Lee yang dengan sesuka hatinya mengajaknya untuk pergi ke Busan. Pria pemaksa itu benar-benar harus membuatnya berlarian kesana kemari untuk menyiapkan keperluannya dan juga keperluan Aleyna selama dua hari kedepan ketika berada di rumah Karen. Selain itu ia juga harus menyerahkan semua urusan kantornya pada Jihoo dan mengarang pernyataan palsu terkait kepergiannya ke Busan. Ia mengatakan pada pria itu jika ia akan mengunjungi pamannya yang sedang sakit karena orangtuanya kebetulan sedang sibuk dan tidak bisa mengunjungi pamannya yang hanya tinggal sendiri itu. Rasanya Luciana benar-benar berdosa saat ini karena telah menciptakan banyak kebohongan pada orang-orang terdekatnya dan telah menjadi perusak hubungan pernikahan kliennya. Namun lagi-lagi akal sehatnya kalah dengan ego dan emosi yang ia rasakan saat ini. Ia rela menerjang seluruh batas-batasnya demi memuaskan kesenangannya pada pria bermarga Lee yang akhir-akhir ini telah menjadi bagian dari hidupnya.


            “Tentu saja, kau bisa menitipkan Aleyna kapanpun kau mau. Tapi kenapa mendadak sekali? Sebelumnya kau tidak pernah seperti ini. Maksudku kau selalu mengatakannya jauh-jauh hari sebelum kau berniat untuk menitipkan Aleyna. Apa ini sebuah pekerjaan penting?” tanya Karen ingin tahu sambil melirik seorang pria berjas hitam yang sedang berdiri di depan rumahnya. Wanita itu terlihat curiga pada Joey yang saat ini sedang berdiri membelakangi pagar rumahnya sambil berbicara pada seseorang melalui ponselnya. Selama ini, setahunya Luciana tidak pernah dekat dengan pria manapun. Satu-satunya pria yang sangat dekat dengan Luciana adalah Jihoo,asisten pribadi Luciana. Namun kali ini Karen yakin jika pria yang saat ini sedang berdiri di depan pagar rumahnya bukanlah Jihoo.


            “Ini memang sangat mendadak. Pagi tadi aku mendapatkan telepon dari seorang klien yang mengalami


masalah serius di Busan. Klien itu kemudian memintaku untuk datang dan melakukan asessment sebelum berlanjut ke tahap pemeriksaan selanjutnya.” bohong Luciana lancar. Sejak berada di dalam mobil Joey ia telah merangkai berbagai kata-kata indah untuk mengantisipasi keingintahuan Karen jika wanita itu tiba-tiba menanyakan alasan kepergiannya pagi ini.


        “Oh, kalau begitu hati-hati. Semoga pekerjaanmu lancar di sana.”


Luciana menghembuskan napasnya lega, lalu memeluk tubuh Karen sebentar sebelum beralih pada Aleyna yang sedang memainkan boneka barunya, pemberian Joey.


            “Sayang, jangan merepotkan aunty Karen dan jadilah gadis yang baik selama eomma pergi. Sampai jumpa.”


            Aleyna memeluk ibunya erat, lalu melambaikan tangannya beberapa kali ketika ibunya mulai berjalan menjauh keluar dari pekarangan luas rumah Karen. Gadis kecil itu kemudian segera masuk kedalam rumah ketika ibunya benar-benar telah pergi bersama mobil sport silver yang membawanya.


            “Aleyna, apa kau tahu siapa pria berjas yang bersama eommamu tadi?” Karen yang masih penasaran dengan teman pria Luciana yang misterius itu mencoba mengorek informasi dari Aleyna. Ia yakin gadis kecil itu pasti mengetahui siapa pria berjas dengan mobil mahal yang hari ini mengantarkan Luciana ke rumahnya.


            “Siapa aunty?”


            “Pria berjas yang mengantarmu dan eommamu, apa kau tahu siapa dia?” ulang Karen tidak sabar.


Wanita itu terlalu penasaran dengan Luciana karena akhir-akhir ini sahabatnya itu jarang menghubunginya untuk sekedar menceritakan hari-harinya seperti dulu. Kira-kira sudah lebih dari satu minggu Luciana tidak menghubungi Karen atau sekedar mengunjungi Karen seperti dulu.


            “Itu paman Joey, teman eomma. Semalam kami menginap di rumah paman Joey yang sangat besar.” Cerita Aleyna antusias. Karen yang mendengar hal itu terlihat kaget dan mulai tertarik untuk mengorek lebih dalam mengenai paman Joey yang diceritakan oleh Aleyna.


            “Semalam Aleyna menginap di rumah paman Joey? Kenapa? Apa eomma juga menginap di rumah paman Joey?”


            Aleyna mengangguk kecil pada Karen, lalu menunjukan boneka barbienya dan juga jam tangan baru berwarna putih di pergelangan tangannya.


            “Paman Joey kemudian memberikan ini sebagai hadiah. Lihat, bagus kan aunty?”

__ADS_1


            “Iya, itu bagus.” jawab Karen datar tanpa terlihat antusias seperti Aleyna. Wanita itu saat ini justru sedang sibuk berpikir mengenai hubungan Luciana dan pria bernama Joey itu. Ia yakin jika Luciana saat ini pasti sedang menyembunyikan sesuatu darinya, karena wanita itu tidak pernah terlihat sedekat itu pada pria hingga menginap di rumah pria itu semenjak bercerai dengan Aaron. Luciana seperti lebih menutup diri pasca perceraiannya dengan Aaron dan lebih memilih untuk fokus pada Aleyna daripada mencari calon ayah baru untuk Aleyna. Tapi tanpa diduga pagi ini Luciana tiba-tiba datang dengan seorang pria asing yang belum pernah dikenalnya dan mendadak wanita itu akan pergi ke Busan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan.Itu aneh, pikir Karen. Sahabatnya itu belum pernah seaneh ini sebelumnya, dan ia harus lebih banyak mengumpulkan banyak informasi dari Aleyna.


            “Sejak kapan eommamu berteman dengan paman Joey?”


            Aleyna terlihat berpikir sebentar, lalu ia menggelengkan kepalanya lemah sebagai jawaban bahwa ia tidak tahu mengenai hal itu.


            “Ah, kalau begitu apa Aleyna sering datang ke rumah paman Joey?”


            “Tidak, tapi paman Joey beberapa kali datang ke rumah Aleyna dan menginap di rumah. Dulu Aleyna pernah melihat paman Joey berjalan seperti bayi sambil memegangi kepalanya, seperti ini.” ucap Aleyna sambil menirukan gaya mabuk Joey. Karen yang melihat itu langsung tertawa terbahak-bahak, namun ia mengerti jika yang dimaksud oleh Aleyna adalah gaya berjalan seorang yang sedang mabuk.


            “Tapi aunty...” Aleyna terlihat ragu untuk mengatakannya. Gadis kecil itu terlihat sedang berpikir keras untuk


mengatakan sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.


            “Tapi apa sayang? Katakan saja.” ucap Karen lembut.


               Aleyna pernah melihat paman Joey tidur di kamar eomma saat pagi-pagi Aleyna mencari eomma untuk membuatkan susu.”


            Karen langsung membungkam mulutnya tak percaya sambil menatap Aleyna syok. Gadis kecil di depannya ini telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat oleh gadis seusianya. Besok ia harus benar-benar meminta penjelasan dari Luciana setelah wanita itu kembali dari Busan bersama kekasihnya, atau siapapun pria yang bernama Joey Lee itu.


            “Apa eommamu tahu jika kau masuk kedalam kamarnya saat itu?”


dalam kamar mandi dan paman Joey sedang tidur menggunakan selimut.” jawab Aleyna polos. Sekarang Karen benar-benar yakin jika Luciana telah menyembunyikan sesuatu darinya. Sesuatu yang sangat penting terkait kehidupan pribadinya yang misterius. Ia harus segera menghubungi Aaron untuk menanyakan masalah Luciana dan kekasih baruya yang tidak pernah ia ketahui selama ini.


-00-


            Luciana berjalan beriringan dengan Joey kedalam pesawat sambil meremas tangannya gugup. Ini adalah pengalaman pertamanya pergi dengan seorang pria asing yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Meskipun sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar. Ia dan Joey jelas memiliki hubungan yang jelas, klien dan konselor. Tapi tetap saja bagi Luciana semua ini adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang terasa manis untuk dirinya dan Joey.


            “Ada apa denganmu? Santai saja, hmm.” Joey menggenggam tangan Luciana yang gugup, lalu berjalan beriringan kedalam kabin pesawat dengan wajah santai yang terlihat tenang.


        “Jadi, kenapa kau cukup lama ketika berada di rumah Karen?”


            “Aku harus membuat alasan pada Karen terkait kepergianku ke Busan yang mendadak ini. Lagipula apa yang akan kulakukan nanti saat di Busan? Aku tidak mengerti apapun seputar kegiatan CEO penting sepertimu.” ucap Luciana frustrasi. Joey tersenyum lebar di samping Luciana, lalu merangkul pundak wanita itu mesra ketika mereka telah duduk dengan nyaman di dalam kabin pesawat first class yang hanya berisi segelintir manusia.


            “Kau akan menjadi asisten pribadiku Luciana.”

__ADS_1


            “Bukankah kau sudah memiliki Park Yogeun sebagai asistenmu dan Kim Nana? Mereka bahkan saat ini sedang duduk tepat di belakang kursi kita, jadi kau seharusnya tidak membutuhkanku sama sekali untuk menjadi asistenmu.” dengus Luciana malas. Ia rasanya benar-benar gugup untuk melakukan perjalanan berdua dengan Joey. Apalagi ia harus terus menerus mengerang kebohongan di depan dua asisten Joey, Kim Nana dan Park Yogeun, rasanya itu sungguh tidak nyaman.


            “Mereka berdua adalah asistenku untuk masalah pekerjaan. Dan kau, kau adalah asistenku untuk masalah psikisku Luci sayang.”


            “Hmm, sejak kapan kau memiliki persediaan kata-kata manis itu tuan Joey Anderson? Kau mulai berubah menjadi pria penggoda, hmm?” tanya  Luciana gemas sambil mendorong wajah Joey yang terlampau dekat di sebelahnya. Pria itu lantas terkekeh pelan dengan reaksi Luciana yang selalu terlihat merona setiap kali ia melemparkan godaan pada wanita itu. Rasanya ini benar-benar menyenangkan dan membuat hatinya terasa berdebar entah karena apa.


            “Apa kau percaya jika aku selalu berdebar saat melihat senyummu?”


            “Tidak.” Jawab Luciana lugas. Wanita itu benar-benar tidak percaya jika pria seperti Joey akan berdebar hanya karena melihat wajahnya. Rasanya hal itu terlalu mustahil untuk seorang Joey Lee yang sudah terbiasa dikelilingi oleh wanita-wanita berkelas yang lebih cantik darinya.


            “Kalau begitu kau harus merasakannya sendiri.”


            Tiba-tiba Joey menarik tangan kanannya dan menempatkan telapak tangan dengan jari-jari lentik itu di atas dada bidangnya yang memang sedang berdetak ribut dengan ritme yang cukup intens.


            “Aku tidak bohong bukan? Aku benar-benar berdebar saat berada di sampingmu, saat melihat wajahmu, dan saat melihatmu tersenyum kearahku.”


            “Huh, jangan coba-coba untuk membohongiku dengan bualanmu itu tuan Lee, karena aku tidak akan mempercayainya. Sekarang lepaskan tanganmu dan biarkan aku berpikir jernih mengenai semua kesalahan yang telah kulakukan hingga sejauh ini.”


            “Ck, jadi kau masih menganggap semua ini sebagai kesalahan? Ayolah Luciana, singkirkan pikiran bodohmu itu dari kepalamu sekarang karena semua ini bukanlah kesalahan. Ini hanya bagian dari kesenangan hidup.” Ucap Joey tanpa beban. Luciana rasanya benar-benar ingin membenturkan kepala pria itu pada jendela pesawat agar pria itu segera tersadar dari alam bawah sadarnya yang menyesatkan. Bagaimana mungkin ia bisa menikmati semua ini, sedangkan saat ini orang-orang di luar sana terus menatapnya aneh sambil bertanya-tanya mengenai statusnya karena tiba-tiba saja ia menjadi begitu dekat dengan CEO pemilik perusahaan penerbangan terbesar di Korea.


            “Kenapa kau bisa sesantai itu Joey? Apa ini adalah salah satu kelainan jiwa yang selama ini kau derita? Kau mengalami gangguan kepribadian, gangguan kecemasan, dan gangguan kognitif!” Ucap Luciana berapi-api dengan wajah frustrasi. Joey yang melihat itu justru hanya terkekeh dan memberikan satu kecupan ringan di pipi Luciana.


            “Sudah kubilang jika aku ini memang sakit, jadi aku akan selalu membutuhkanmu setiap saat. Sekarang rawat aku dengan baik agar aku tidak berubah menjadi pria sakit jiwa aneh seperti ini nona Im.”


            “Aku sepertinya akan membenturkan kepalamu pada dinding pesawat agar pikiran warasmu bisa segera kembali. Lusa jika Jihyun kembali, apa yang akan terjadi pada kita? Kau akan meninggalkanku begitu saja bukan?” Tanya Luciana dengan suara kecil. Ia begitu takut membayangkan hal itu. Ketika Joey telah mendapatkan istrinya


kembali, pria itu pasti akan segera melupakannya. Meninggalkannya dengan berbagai kehangatan yang pernah membekas di dalam dirinya.


            “Jadi ini inti dari seluruh pembicaraan kita sejak tadi? Kau takut aku akan meninggalkanmu begitu saja?”


            “Bbu bukan begitu. Aku hanya tidak mau kau terlalu menikmati hubungan ini dan melupakan kehidupan nyatamu bersama Jihyun.”


            “Luciana, kenapa kau terus memikirkan hal itu di dalam kepalamu? Daripada kau pusing dengan semua itu, kenapa kau tidak berusaha memikirkan hal-hal romantis yang bisa kita lakukan nanti saat di Busan, hmm? Untuk dua hari ini kumohon jangan pernah sebut nama Jihyun atau siapapun itu yang berhubungan dengan kehidupan membosankanku. Aku hanya ingin bersamamu Luciana, hanya kita berdua.”


            “Tapi...”

__ADS_1


            “Ssshhh.... aku tidak mau mendengar alasan apapun yang keluar dari bibir seksimu ini. Lebih baik kau diam, nikmati perjalanan ini dan buat kenangan indah sebanyak-banyaknya denganku, hmm? Kau bisa melakukannya bukan?”


            Seperti sedang terhipnotis. Luciana langsung menganggukan kepalanya begitu saja ketika Joey tersenyum kearahnya sambil mengecupi punggung tangannya dengan intens. Pria itu, Joey Lee, sepertinya justru berubah menjadi pria yang semakin sakit semenjak bertemu dengan Luciana, dan melakukan beberapa sesi terapi dengan Luciana. Walau tak dapat dipungkiri jika sesi terapi itu juga memberikan dampak yang positif untuk menghilangkan tiap-tiap episode ketakutan dan kecemasan yang dialami oleh Joey selama ini. Namun setiap sesi konseling yang dilakukannya dengan Luciana justru membawa efek samping yang begitu buruk untuk kehidupan mereka berdua di masa depan. Sebuah efek samping yang tidak akan mudah untuk dihilangkan dari kehidupan mereka.


__ADS_2