Kontratransferensi

Kontratransferensi
There Are Too Many Problems Between Us (Fourty)


__ADS_3

Flashback


            Luciana melirik jam tangannya sekilas, memastikan jika ia belum terlambat untuk datang ke sebuah acara amal yang diselenggarakan oleh salah satu mitra kerjanya. Perusahaan swasta yang bergerak di bidang asuransi itu pernah meminta bantuannya untuk melakukan penilaian psikologis terhadap calon karyawan di perusahaanya, sehingga sekarang ia mendapatkan kehormatan untuk berpartisipasi secara langsung dalam acara amal yang diselenggerakan oleh perusahaan itu.


            Sambil merapikan letak gaun malamnya yang panjang, Luciana perlahan-lahan mulai berjalan masuk bersama para tamu undangan lain yang tampak berdesak-desakan di depan pintu utama karena sedang mengantre untuk pemeriksaan barang bawaan. Ia pun dengan sabar berdiri di belakang sepasang pria dan wanita tua yang terlihat begitu serasi menggunakan stelan bernuansa biru gelap. Setelah pasangan serasi di depannya bergerak maju, petugas pemeriksaan itu pun segera memeriksa tas tangannya dan juga tubuhnya menggunakan detector metal yang digenggamnya.


            Ketika berada di dalam aula, suasana di sana telah ramai dan begitu berisik. Banyak lalu lalang tamu undangan sedang mengobrol sambil menikmati jamuan istimewa yang telah disiapkan oleh pemilik acara. Di atas panggung, ia dapat melihat seorang MC sedang berkoar-koar heboh membicarakan sang pemilik acara yang saat ini sedang menyibukan diri dengan para tamu undangannya. Dan diantara tamu-tamu undangan itu, terselip sepasang pria dan wanita yang sangat dikenalnya, Joey dan Jihyun.


            “Astaga, kenapa aku harus bertemu mereka di sini?” gumam Luciana kesal sambil berjalan menjauh dari pasangan yang tampak serasi itu. Ia begitu minder jika melihat interaksi antara Joey dan Jihyun secara langsung karena itu membuatnya merasa tidak sebanding dengan Joey. Pria itu terlalu sempurna untuk bersanding bersamanya, dan memang hanya Jihyun yang pantas berada di sisi seorang Joey Lee. Dengan wajah yang sedikit tertunduk, Luciana segera membaur diantara tamu-tamu undangan agar Joey tidak menyadari kehadirannya. Ia kemudian berjalan kearah meja panjang untuk mengambil segelas cocktail yang tampak begitu menggoda dengan warna-warna mencolok yang terlihat begitu cantik. Sambil menyesap cocktailnya, Luciana sesekali melirik kearah Joey dan Jihyun yang masih terlihat mengobrol dengan beberapa rekan bisnis mereka. Kemudian perhatiannya teralihkan kearah lain ketika seorang pelayan tiba-tiba datang sambil menawarkan sepiring kue yang lezat.


            “Anda ingin kue nona?”


            “Ah, aku mau satu. Kue strawberry itu kelihatannya enak.” ucap Luciana sambil menerima sepiring kue dari tangan pelayan. Setelah memberikan kue untuk Luciana, pelayan pria itu masih setia berdiri di depan Luciana sambil mengamati bagaimana bahagianya Luciana saat memakan kue itu.


            “Kau terlihat cantik nona.”


            “Oh, terimakasih.” jawab Luciana tersipu malu. Ia kemudian mengalihkan wajahnya kearah lain dan menggeser tubuhnya sedikit ke kanan agar pelayan itu segera pergi, karena ia merasa tidak nyaman saat kegiatan makannya di perhatikan oleh orang lain.


            “Ahh.. kemana perginya tuan Lee menyebalkan itu?” desah Luciana kesal sambil melongokan kepalanya kesana kemari. Padahal ia baru mengalihkan tatapan matanya tak lebih dari tiga menit, tapi pria itu sudah menghilang begitu saja dan meninggalkan istrinya sendiri yang sedang mengobrol beberapa langkah dari tempatnya berdiri.


            “Mencariku nona?”


            “Ahh!!”


            Luciana terpekik kaget sambil menatap horor pada Joey yang tiba-tiba sudah menarik lengannya ke belakang. Pria bermarga Lee itu tampak begitu puas melihat ekspresi terkejut yang diperlihatkan Luciana sambil tersenyum lebar menampakan gurat-gurat ketampanan di wajahnya.


            “Apa yang kau lakukan di sini?”


            “Apa yang kulakukan di sini? Entahlah. Lalu apa yang kau lakukan di sini?”


            “Aku sedang bertanya padamu, kenapa kau justru balik bertanya. Pergilah, Jihyun mencarimu.” usir Luciana pelan. Ia mendengus gusar dan membuang wajahnya kearah lain sambil berpura-pura mengacuhkan Joey. Akan sangat gawat jika kedekatan mereka malam ini berhasil disadari oleh orang lain, terutama Jihyun.


            “Hey, jangan memalingkan wajahmu saat aku berada di depanmu. Kau, kenapa menggunakan


pakaian terbuka seperti ini?” tanya Joey penuh selidik. Ia mengamati seluruh tubuh Luciana, dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil mengernyit kesal.


            “Ini hadiah dari Aaron.”


            “Aaron? Harus berapa kali kukatakan padamu, untuk jangan terlalu dekat pada Aaron lagi. Sekarang aku adalah kekasihmu.” marah Joey kekanakan. Luciana memutar bola matanya malas kearah Joey sambil menyilangkan kedua tangannya kesal. Satu hal yang membuatnya kesal selama menjalin hubungan dengan Joey adalah sikap posesif pria itu yang sangat kelewat batas. Bahkan pada Aaronpun ia cemburu. Padahal ia jelas tidak mungkin akan melakukan hal-hal aneh bersama Aaron.


            “Sudahlah Joey, jangan membuat masalah kecil menjadi besar. Sekarang kembalilah pada Jihyun, ia terus menerus mencarimu sejak tadi.” tunjuk Luciana dengan dagunya kearah Jihyun yang tampak kebingungan mencari dimana keberadaan suaminya. Namun dengan seenaknya Joey justru menarik tangannya dan menyeret langkahnya yang terasa berat untuk dibawa ke suatu tempat, hingga pada akhirnya mereka berdua kini telah berada di dalam sebuah toilet wanita yang sepi.


            “Toilet? Lagi...” tanya Luciana sangsi. Entah ini kali keberapa Joey menyeretnya ke dalam toilet. Dulu saat di rumahnyapun pria itu juga menyudutkannya di toilet.


            “Aku bosan menjadi wanita penghuni toilet, kenapa kau tidak bisa bersikap romantis sedikit saja dengan membawaku.....”


            “Ke kamar. Kau ingin aku membawamu ke kamar dan menghabiskan malam berdua denganku? Baiklah, ayo.” ucap Joey penuh semangat. Namun Luciana segera menyentak tangan kekar itu dan berdiri kaku di tempat sambil menyilangkan kedua tangannya kesal.


            “Aku juga tidak menginginkan hal itu. Kita bahkan bisa melakukannya di rumah.” sungut Luciana kesal.


            “Lalu apa yang kau inginkan sekarang, hmm? Kau membuatku gila di dalam aula itu dengan pakaian seksi yang terbuka seperti ini. Sekarang semua pria bisa melihat punggung telanjangmu yang lembut ini.” ucap Joey sambil menyapukan punggung tangannya ke permukaan punggung halus Luciana. Wanita itu memejamkan matanya dalam, menikmati kelembutan sentuhan Joey di punggungnya. Inilah alasannya mengapa ia tidak bisa lepas begitu saja dari Joey, ia tidak bisa melupakan setiap sentuhan Joey di tubuhnya. Dan keberadaan pria itu di sisinya juga merupakan candu yang selalu membuatnya selalu ketergantungan. Pada akhirnya mereka berdua menjadi dua orang individu yang saling membutuhkan satu sama lain, dan ikatan diantara keduanya menjadi semakin kuat dari hari ke hari.


            “Luciana, aku menginginkanmu...”


            Seketika Luciana langsung membuka matanya nyalang sambil memundurkan kakinya ke belakang. Namun Joey lebih dulu bertindak dengan menahan pinggang Luciana sambil memberikan smirk andalannya untuk menggoda  wanita manis di depannya.


            "Foreplay sekali di sini dan nanti aku akan mengunjungimu di rumah, bagaimana?” tawar Joey. Luciana menaikan salah satu alisnya sangsi dan sedikit mendorong dada bidang Joey agar wajah pria itu tidak terlalu dekat padanya. Ia merasa geli dengan udara-udara panas yang pria itu hembuskan di depan wajahnya dengan sengaja.


            “Aku tidak mau, lagipula saat ini Aaron sedang berada di rumah untuk menjaga Aleyna. Kemungkinan besar ia akan menginap.”


            “Menginap? Kalau begitu kita lakukan di sini.”


            “Apa kau gila!” teriak Luciana kesal. Ia mendorong tubuh Joey sekali lagi ke belakang dan berharap pria itu akan melepaskan kungkungan tangannya dari tubuh kecilnya. Sayangnya harapannya tidak terkabul. Joey justru semakin menyudutkannya ke dinding dan pria itu perlahan-lahan mulai menggerayangi tubuhnya dengan gerakan intens.


            “Jangan berpura-pura menolakku jika pada kenyataanya kau menginginkannya Luci. Nikmati saja malam panas kita di sini karena malam ini toilet ini milik kita.” bisik Joey serak. Luciana bergidik jijik di depan Joey sambil tetap mempertahankan kewarasannya. Namun sekeras apapun ia mencoba, pada akhirnya ia tetap akan terhisap masuk ke dalam permainan gila Joey hingga pada mereka sama-sama kehilangan akal sehat mereka untuk melakukan tindakan yang lebih jauh.


Flashback end


            Luciana bergidik ngeri membayangkan bagaimana kelakuannya dulu yang sangat menjijikan. Bahkan sekarang ia merasa heran pada dirinya sendiri, mengapa dulu ia mau mengikuti permintaan Joey untuk bercinta di toilet hotel. Sungguh ia adalah pengalaman paling liar dan paling menjijikan yang pernah ia alami sepanjang ia menjalin hubungan dengan seorang pria. Tapi... sudahlah, itu semua hanyalah bagian dari masa lalunya yang terkadang masih ia rindukan. Ia merindukan saat-saat ia dan Joey harus berjuang mati-matian demi menutupi hubungan terlarang mereka dari semua orang.


            “Sepertinya kalian menyimpan lebih banyak rahasia dari apa yang selama ini kuperkirakan.”

__ADS_1


            “Maksudmu?”


            “Sejak awal kalian berdua memang sudah memperdayaiku bukan? Kau tidak perlu berbohong lagi Luciana, sekarang kau bisa mengungkapkan seluruh rahasia kalian. Aku tidak akan marah.”


            “Tidak, kau salah. Kami tidak memiliki banyak rahasia seperti yang kau perkirakan karena selama ini kau telah menyisipkan banyak mata-mata disekitar kehidupanku. Apa yang kau ketahui dari mata-matamu adalah apa yang kami lakukan selama ini. Aku minta maaf.”


            Jihyun menghembuskan napasnya panjang sambil menatap nanar pada gelas porselin putih yang masih dipenuhi oleh teh di depannya. Kehidupan sempurnanya memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk berhenti sampai di sini. Dan setelah ini ia hanya perlu belajar untuk lebih menghargai orang-orang disekitarnya yang selalu


memberikan banyak limpahan kasih sayang untuknya. Mungkin setelah ini ia bisa memulainya dari kedua orangtuanya, lalu Yeun, asisten pribadinya yang tidak pernah berhenti untuk mendukungnya hingga detik ini.


-00-


            Joey termenung sendiri di dalam mobilnya sambil menatap jendela kamarnya yang masih menampakan cahaya temaram. Sejak sepuluh menit yang lalu ia merasa ragu untuk turun karena ia merasa bersalah pada Luciana. Pertengkaran mereka pagi ini adalah pertengkaran pertama mereka selama mereka menjadi sepasang suami istei. Dan seharian ia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanya karena bayang-bayang Luciana terus berputar-putar di otaknya seperti kaset rusak yang mengganggu.


Tok tok tok


            Joey


memberi isyarat tunggu pada sang pengetuk dan langsung bergegas keluar dari


mobilnya sambil membawa tas kerjanya yang berisi dokumen-dokumen penting dari


kantornya.


            “Tuan, apa yang anda lakukan malam-malam di sini?”


            “Tidak, hanya sedang memikirkan sesuatu. Aku akan masuk sekarang, tolong parkirkan mobilku ke garasi.”


            Joey mengangsurkan kunci mobilnya pada sang penjaga rumah, Kim Bongsan, dan setelah itu ia segera masuk ke dalam rumahnya dengan langkah berat. Malam ini ia begitu takut untuk bertemu Luciana karena ia telah menyakiti wanita itu tadi pagi.


            “Tuan...”


            “Bibi Jang, selamat malam.” sapa Joey lembut. Pria itu sedikit menaikan alisnya bingung ketika dilihatnya bibi Jang tampak resah di depannya sambil memilin ujung bajunya berkali-kali.


            “Ada apa? Apa sesuatu terjadi selama aku pergi?”


            “Tuan, maafkan saya. Selama ini saya telah mengacuhkan nyonya Luciana. Dan hari ini nyonya Jihyun datang untuk menemui nyonya Luciana.”


            Joey langsung merasa was-was ketika nama itu kembali disebut di rumahnya. Sejak ia bercerai, tidak ada satupun pelayan di rumahnya yang berani mengucapkan nama itu di depannya karena ia memang ingin melupakan rasa kecewanya yang disebabkan oleh Jihyun. Siang ini tanpa disangka-sangka Jihyun datang ke kantornya, dan kemudian ia pikir Jihyun akan langsung pergi setelah ia mengusirnya. Namun tanpa disangka-sangka wanita itu justru datang ke rumahnya dan mungkin.... membuat keributan dengan Luciana.


            “Apa ia membuat masalah? Apa ia menyakiti Luciana?”


            “Nyonya Jihyun menampar nyonya Luciana tuan.”


            “Menampar? Lalu bagaimana kondisi Luciana sekarang? Kenapa ia tidak mengatakan apapun lagi padaku.” dengus Joey geram. Ia kesal dengan sikap Luciana yang selalu diam terhadap masalah yang sedang menimpanya. Entah itu karena latar belakang Luciana yang merupakan seorang konselor atau bagaimana, ia tidak tahu.


            “Nyonya Luciana mengatakan baik-baik saja, dan saat ini nyonya Luciana sedang menemani nona Aleyna di kamarnya.”


            Joey berdecak kasar di depan bibi Jang dan segera berlari kecil menuju ke lantai dua untuk melihat kondisi Luciana. Lagi-lagi ia merasa terlambat untuk membela Luciana. Setelah wanita itu diacuhkan oleh seluruh pelayannya sendiri, sekarang Luciana juga harus mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari Jihyun. Sebenarnya terbuat dari apa hati Luciana selama ini? Wanita itu begitu sabar dalam menghadapi berbagai masalah dan cenderung seperti mengabaikannya. Padahal dibalik sikap tenang yang ditunjukan oleh Luciana, ia yakin wanita itu lebih banyak menyembunyikan perasaan sedih di hatinya.


Hoeekk hoeekkk


            Joey mengernyitkan dahinya ketika ia berjalan melewati pintu kamarnya. Dari dalam kamarnya ia mendengar suara seperti orang muntah begitu keras. Tanpa pikir panjang, ia segera membuka pintu kamarnya cepat dan langsung menemukan Luciana sedang bersandar di depan pintu kamar mandi sambil menahan rasa mual yang bergejolak di perutnya.


            “Luci...”


            “Oh hai, kau sudah pulang.” sapa Luciana terlihat lemas. Dengan sigap Joey segera menghampiri Luciana sambil menatap wajah istri cantiknya intens untuk memastikan jika kondisi Luciana baik-baik saja. Namun di sudut kanan pipinya, Joey dapat melihat sedikit luka lebam keunguan yang ukurannya cukup besar tercetak di sana. Dengan lembut ia pun mengelus luka itu sambil menatap Luciana dengan mata teduhnya yang menenangkan.


            “Kenapa kau tidak memberitahuku jika Jihyun datang dan menyakitimu hmm?”


            “Aku takut kau marah. Maaf, tapi aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil.” ringis Luciana kecil. Namun Joey yakin jika Luciana saat ini sedang berbohong. Mungkin wanita itu bisa mengelabuhi orang lain dengan mengatakan bahwa ia baik-baik saja, namun tidak dengannya. Ia tahu jika saat ini Luciana tidak sedang baik-baik saja.


            “Berbaringlah, aku akan mengompres luka memarmu. Apa kau masih mual?”


            “Sedikit, aku butuh air lemon untuk menghilangkan sensasi mual ini. Kau tahu, ini adalah bagian dari proses mengandung yang paling berat. Tapi ini akan hilang saat usia kehamilanku menginjak empat atau lima bulan.” ucap Luciana menenangkan. Meskipun begitu Joey tetap tidak bisa tenang dan terus saja menunjukan wajah khawatir di hadapan Luciana.


            “Besok aku akan mengantarnu ke dokter.”


            “Aww.. kau manis sekali oppa. Terkadang aku merindukan saat-saat kita menjadi konselor dan klien.” kekeh Luciana. Joey menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir pada istrinya sambil menyelimuti tubuh kecil itu hingga sebatas dagu.


            “Kau sedang mengalihkan topik pembicaraan kita agar aku tidak mengintrogasimu terkait Jihyun? Selain menamparmu, apa ia melakukan hal lain?”

__ADS_1


            “Tidak. Ia menamparku karena ia terlalu depresi dengan keadaannya. Ditambah lagi dengan sikap dinginmu padanya, ia sangat frustrasi oppa. Aku jadi merasa kasihan padanya. Ia mengatakan padaku jika ternyata ia tidak bisa hamil, rahimnya telah diangkat saat dulu ia mengalami kecelakaan tapi orangtuanya tidak pernah mengatakan hal itu padanya.”


            “Pantas saja kami tidak pernah memiliki anak.”  timpal Joey datar. Luciana langsung memukul lengan Joey gemas sambil melotot galak.


            “Jangan seperti itu, kau seharusnya bersimpati padanya.”


            “Untuk apa, ia telah melukai istriku.”


            “Aww.. pelan-pelan!” Luciana memekik keras ketika Joey sedikit kasar menekan luka lebam di pipinya dengan handuk basah yang ia dapatkan dari bibi Jang untuk mengompres pipi Luciana.


            “Maaf, aku terlalu emosi.”


            “Oppa, setelah semua masalah pelik ini terselesaikan, aku ingin pergi berlibur. Bersama Aaron oppa dan Jihoo, aku merindukan mereka berdua.” Tiba-tiba Luciana berseru pelan menyuarakan keinginannya. Sejak mereka menikah, mereka belum pergi berlibur kemanapun karena mereka langsung dihadapkan pada berbagai


skandal yang tiba-tiba muncul tanpa diduga. Belum lagi saat ini hubungan Joey dan Aaron belum terlalu membaik. Mereka seperti masih menempatkan tameng yang begitu kuat di depan mereka, sehingga jika Aaron datang ke rumah untuk mengunjungi Aleyna, dua orang pria itu hanya sekedar saling menyapa dan setelah itu mereka akan menyibukan diri dengan kegiatan mereka masing-masing, entah itu mengajak Aleyna bermain atau pergi ke ruang kerja dengan alasan ingin menyelesaikan tugas kantor yang belum selesai.


            “Kau tidak ingin pergi berbulan madu?”


            “Untuk apa? Lagipula tujuan berbulan madu adalah untuk mendapatkan keturunan dan saling mendekat diri, sedangkan kita sudah mendapatkan semuanya. Jadi untuk apa berbulan madu. Lebih menyenangkan jika kita pergi berlibur bersama-sama. Kau bisa mengajak Spencer juga, Aleyna pasti senang jika Mark juga ikut.” ucap Luciana berbinar-binar. Sedangkan Joey justru mendengus tidak suka karena ia tidak mau waktu berharganya bersama Luciana harus diusik oleh pria-pria pengganggu seperti Spencer, Aaron, dan juga Jihoo.


            “Mereka akan mengganggu kita, Luci.”


            “Kau memang pelit oppa. Lagipula apa salahnya jika mengajak mereka, dulu kita sudah pernah pergi berlibur berdua di Busan. Aku ingin merasakan sensasi lain saat bersama mereka.” rengek Luciana berisik. Bersamaan dengan rengekan Luciana yang berisik, Joey juga telah selesai dengan kegiatannya mengompres wajah Luciana dengan air hangat. Pria itu lantas melemparkan kain basah itu asal ke atas nakas dan ikut menyusul Luciana untuk meringsek ke dalam selimut yang hangat.


            “Sayang, bagaimana perasaanmu setelah menikah denganku?”


            “Wow... ini pertanyaan pertama setelah lebih dari satu bulan kita menikah.”


            “Jawab saja nona konselor, jangan membuat klienmu yang tampan ini menunggu.”


            “Ck, dasar!” dengus Luciana gemas. Namun pada akhirnya ia justru menangkup wajah Joey dan tertawa terbahak-bahak di depan wajah suaminya.


            “Perasaanku? Aku sangat senang. Sekarang aku bebas menyentuhmu di depan umum tanpa harus


sembunyi-sembunyi lagi, apalagi bersembunyi di dalam toilet untuk bercinta.”


            Mereka berdua tiba-tiba tertawa terbahak-bahak bersama sambil mengenang masa-masa perselingkuhan mereka. Saat itu meskipun mereka sadar jika itu salah, namun mereka tetap melakukannya karena mereka merasa telah nyaman satu sama lain.


            “Itu adalah pertama kalinya aku melihatmu seliar itu. Ternyata kau memiliki sisi liar yang tak terduga. Selama ini sisi liar itu selalu tersembunyi dibalik wajah innocentmu yang menipu.” komentar Joey terbahak-bahak. Luciana langsung mencubit keras lengan Joey dan menatap pria itu dengan galak.


            “Kau yang memulainya, jadi jangan salahkan aku jika aku berubah menjadi liar.”


            “Aku tidak menyalahkanmu sayang, aku hanya... terkejut. Di awal kau mengatakan padaku tidak ingin bercinta, tapi pada akhirnya kau sendiri yang membuat kita berada di ruangan sempit itu selama satu jam.”


            “Tapi aku penasaran, bagaimana bisa kau menyewa toilet untuk bercinta? Benar-benar tidak masuk akal.”


            “Aku menyuruh salah satu bodyguardku untuk berjaga di depan pintu.”


            “Apa! Kau membuat bodyguard itu mendengarkan desahan-desahan kita selama satu jam? Kau benar-benar gila tuan Lee, sangat gila!” umpat Luciana berapi-api sambil menggungcang-guncang bahu Joey gemas. Ia tidak menyangka jika Joey akan melakukan hal-hal memalukan seperti itu. Pantas saja ia selalu merasa jika salah satu bodyguard Joey kerap menatapnya dari kejauhan sambil tersenyum-senyum aneh. Ia pasti sedang membayangkan bagaimana dirinya dan Joey bercinta di dalam toilet yang sempit itu.


            “Aku memang telah kehilangan kewarasanku semenjak bertemu denganmu. Jadi bisakah kau tetap di sisiku agar kegilaanku ini tidak semakin parah.”


            “Yah... sepertinya itu adalah sebuah kutukan untukku. Tuhan mengutukku untuk menjadi konselormu, lalu istrimu, dan ibu dari anak-anakmu. Oh... nasibku benar-benar malang.”


            “Justru itu adalah bagian terbaik dalam drama hidupmu.”


Srett


            Dalam sekali sentakan, Joey saat ini telah berada di atas tubuh Luciana sambil memandang lembut kearah manik mata Luciana yang mengagumkan.


            “Lihatlah, semua kutukanmu justru mengantarkamu pada banyak kebahagiaan yang tak terduga. Sekarang kau juga bisa merealisasikan keinginan terbesarmu untuk memiliki anak dari rahimmu sendiri. Bukankah ini benar-benar luar biasa?”


            “Owhh... aku tidak menyangka kau bisa bersikap sebijak ini oppa..”


Cup


            Luciana mendaratkan satu kecupan ringan di bibir Joey dan mulai mengalungkan lengannya untuk kegiatan yang lebih intim dari sekedar sebuah ciuman.


            “Menginginkanku nona?”


            “Uhhum.. aku sangat menginginkanmu tuan Lee, malam ini kau milikku.” bisik Luciana penuh penekanan dengan gaya angkuh khas seorang Luciana Im yang kental.

__ADS_1


__ADS_2