
Irene terlihat sedang mendekorasi kamar putrinya yang tiga minggu lagi akan terlahir ke dunia. Sejak sebulan yang lalu ayahnya sudah melarangnya untuk datang ke kantor dan hanya menyuruhnya untuk beristirahat di rumah. Terkadang ia merasa bosan dan membutuhkan banyak kegiatan untuk mengalihkan rasa bosannya itu. Dan untuk mengusir kebosanannya hari ini, Irene memutuskan untuk mendekor kamar calon anaknya nanti agar terlihat cantik sesuai dengan calon penghuni kamar itu yang akan segera lahir.
Mengenai rencana pernikahannya dengan Kim Soohyun, sampai sekarang ia belum terlalu memikirkannya karena ia hanya ingin fokus pada kelahiran anak pertamanya. Lagipula pria itu juga tidak mau memaksanya dan ingin mengenal Irene lebih jauh, sehingga ia tak terlalu ambil pusing dengan sikap Irene yang sangat pasif terhadap rencana pernikahan mereka.
“Apa masih ada barang-barang lain yang ingin kau pindahkan ke sini?”
Kim Soohyun masuk ke dalam kamar besar bernuansa baby pink yang sedang ditata Irene untuk calon anaknya. Pria itu tampak menyeka bulir-bulir keringat yang mentes dari dahinya setelah pagi ini ia membantu Irene untuk mengangkat barang-barang berat, seperti box bayi dan lemari pakaian untuk calon anak Irene yang akan lahir.
“Tidak, ini sudah selesai. Bersihkan saja dirimu.” ucap Irene sedikit keras sambil menata baju-baju bayinya ke dalam lemari. Jessica yang berada di sebelahnya menyenggol Irene pelan tatkala Kim Soohyun tak segera pergi untuk membersihkan dirinya.
“Ya Tuhan, kau sangat kotor, aku tidak mau dekat-dekat denganmu jika kau belum membersihkan dirimu dan kau belum terlihat segar.” dengus Irene sebal dengan tatapan galak. Kim Soohyun meringis kecil dengan omelan Irene dan segera berlalu pergi untuk membersihkan diri. Sedangkan Jessica yang berada di sebelahnya langsung terkikik geli dengan kelakukan sepupunya yang ajaib itu.
“Lihat, dia hanya mau menurut dengan omelanmu, Rene.” ucap Jessica sambil kembali membantu Irene untuk memasukan pakaian-pakian bayinya ke dalam lemari. Sejak Kim Soohyun akan menikah dengan Irene, Jessica menjadi lebih dekat dengan Irene, dan kini mereka menjadi teman akrab. Kebencian yang dulu sempat melingkupi mereka karena seorang pria, kini telah memudar dan digantikan dengan persahabatan yang penuh keceriaan. Lagipula Jessica baru saja bertungangan dengan seorang pengusaha asal Amerika yang merupakan rekan bisnis Kim Soohyun, sehingga ia memutuskan untuk pindah ke Amerika dan akan menemani Irene hingga waktu kelahirannya nanti.
"Tapi sepupumu itu benar-benar menjengkelkan. Terkadang ia akan sangat keras kepala dan tidak mau diantur seperti seorang anak kecil. Lalu bagaimana sikapnya kelak jika anaku sudah lahir, apa ia bisa menjadi sosok ayah yang baik untuk anakku?” oceh Irene panjang lebar sambil bersandar pada tembok. Akhirnya kegiatan menata kamar calon anaknya selesai, dan sekarang ia tinggal beristirahat untuk mengistirahatkan otot-otot tubuhnya yang terasa semakin kaku seiring dengan kondisi kehamilannya yang semakin membesar.
Jessica menatap Irene dalam diam sambil memikirkan berbagai macam pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Sejak menjalin persahabatan dengan Irene beberapa bulan yang lalu, ia sekarang menjadi lebih paham dengan perasaan Irene. Meskipun Irene selama ini selalu bersikap biasa dan sering menggerutu denga sikap sepupunya, tapi ia tahu jika Irene sedang menyembunyikan banyak kesedihan di dalam hatinya. Sebagai seorang wanita yang menjadi saksi kisah cinta Irene dan Suho, ia tahu hingga detik ini Irene belum bisa melupakan Suho. Bahkan cinta wanita itu untuk Suho mungkin semakin besar seiring dengan hari kelahiran anaknya yang semakin dekat karena nantinya bayi itu pasti akan mewarisi sesuatu dari Suho, entah wajahnya, sifatnya, atau mungkin senyumnya yang meneduhkan.
“Apa kau sudah menghubungi Suho setelah kau kembali ke sini?”
Irene membuka matanya cepat setelah mendengar Jessica mengungkit nama seorang pria yang akhir-akhir menjadi pantangan di rumahnya untuk disebut. Sejak Jessica dekat dengannya, wanita itu memang tidak pernah menanyakan hubungannya dengan Suho. Tapi ia jelas tahu jika bayi yang berada di dalam rahimnya adalah bayinya dan Suho. Hanya saja selama ini Jessica seperti menjaga perasaanya dari pria itu. Tapi entah kenapa tiba-tiba Jessica menyebutkan nama pria itu di rumah ini setelah sekian lama ia tidak pernah mendengar nama itu lagi disebut.
“Tidak, belum. Aku belum menghubunginya sejak aku tiba di sini. Kupikir saat ini ia telah bahagia dengan istrinya.” jawab Irene berpura-pura acuh. Padahal kini dadanya sedang bergemuruh sesak membayangkan Suho yang sedang berbahagia dengan Yuri. Sedangkan ia di sini menahan pilu bersama dengan pria yang sama sekali tidak dicintainya.
“Kenapa kau bisa mengatakan hal itu jika kenyataanya kau belum pernah menghubunginya? Mungkin saja saat ini keadaanya juga sama menyedihkannya denganmu karena ia berpikir kau sudah bahagia dengan seorang pria yang dijodohkan oleh ayahmu.”
“Entahlah Sica, aku hanya tidak ingin menambah perih hatiku yang sudah hancur. Aku hanya ingin sedikit ketenangan sebelum hari persalinanku tiba. Oya, apa kau sudah mencoba croissant yang dijual di toko roti di 22 Avenue, orang-orang bilang croissant disana sangat enak dan gurih, cocok dimakan untuk sarapan. Jika kau belum mencobanya bagaimana jika kita pergi ke sana saat makan siang, kurasa kita bisa membeli roti lain selain croissant yang menurut kebanyakan orang juga enak.” ucap Irene mencoba mengalihkan perhatian Jessica dari Suho. Meskipun ia cukup tidak enak dengan Jessica, tapi rasanya itu lebih baik daripada ia mengeluarkan kata-kata kasar untuk memperingatkan Jessica agar tidak mengungkit-ungkit nama Suho lagi.
“Lebih baik kau mencoba untuk menghubunginya, Rene. Mungkin kau akan memiliki semangatmu lagi setelah mendengarnya. Dan mengenai tawaranmu untuk pergi ke toko roti, mungkin lain kali. Setelah ini aku akan makan siang bersama tunanganku dan melakukan fitting gaun pengantin. Sampai jumpa pregnant mom.”
Jessica mengecup pipi Irene sekilas dan segera pergi meninggalkan Irene yang sedang menghela napas pelan sambil memikirkan saran yang diberikan oleh Jessica. Sebenarnya ia bisa saja menghubungi Suho sekarang, tapi ia ragu, apakah hatinya sudah siap untuk menerima semua hal-hal yang akan ia dengar nanti. Tapi jika ia tidak mencobanya, ia akan terus dibayang-bayangi wajah Suho setiap harinya.
__ADS_1
Irene menimang-nimang ponsel putihnya dengan perasaan ragu. Di layar ponselnya saat ini terpampang jelas nomor kontak Suho yang menunggunya untuk menekan tombol call. Akhirnya dengan seluruh keyakinan yang ia miliki, ia mulai menenak tombol call yang ada di layar ponselnya.
Tuuuutt
Tuuuutt
Tuuuutt
Detik demi detik ia menunggu Suho menjawab panggilannya, rasanya terlalu lama untuk Irene. Dan tiba-tiba perasaan ragu itu muncul di dalam hatinya dan membuat Irene hendak mematikan sambungan teleponnya. Tapi suara bass di seberang sana membuat Irene mematung dan tak bisa berkata apa-apa ketika Suho akhirnya menjawab panggilannya.
“Halo, Irene....”
Hening..
Irene sama sekali tidak bisa menggerakan bibirnya untuk sekedar menjawab panggilan dari pria yang sangat dicintainya itu. Sebersit perasaan senang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya ketika Suho ternyata masih menyimpan nomor ponselnya. Pria itu jelas tidak akan menyapanya jika pria itu tidak menyimpan nomor ponselnya yang dulu sering ia gunakan untuk meneror pria itu. Tapi perasaan senang itu tiba-tiba memudar seiring dengan pikirannya yang mengatakan jika sebenarnya Suho hanya sekedar menyimpan nomor ponselnya saja tanpa pernah mengingatnya. Jika pria itu memang menyimpan nomor ponselnya, kenapa selama ini ia tidak pernah menghubunginya? Padahal ia sengaja tidak mengganti nomor ponselnya agar Suho bisa menghubunginya, kapanpun pria itu membutuhkannya atau sekedar ingin mengetahui keadaan anaknya. Tapi pada kenyataanya pria itu sama sekali tidak pernah menghubunginya meskipun ia masih menyimpan nomor ponselnya. Pria itu sudah tak menganggapnya ada. Pria itu sudah melupakan semua tentang dirinya dan cinta yang pernah mereka rajut bersama.
“Irene, apa kau masih disana?”
Irene membasahi kerongkongannya yang tercekat untuk menjawab pertanyaan Suho di seberang sana. Nyatanya sampai kapanpun pria itu akan selalu menggetarkan hatinya dan membuatnya gugup.
“Ya, aku masih disini. Bagaimana kabarmu sekarang, Lee Suho ssi?” tanya Irene pelan dan nyaris seperti bisikan. Tapi untung saja Suho masih mendengar kata-kata itu dengan jelas meskipun Irene mengucapkannya dengan sangat pelan.
“Aku baik, Yuri merawatku dengan baik di sini. Bagaimana denganmu?”
Bagaikan tersambar petir ribuan volt, mendengar nama wanita itu disebut lagi oleh Suho membuat jantungnya seakan-akan berhenti berdetak. Padahal di sini ia selalu memikirkan pria itu dan masih berharap jika suatu saat pria itu akan kembali kepadanya dan membawanya ke dalam pelukanya. Tapi nyatanya pria itu memang
sudah kehilangan rasa cinta untuk dirinya. Ia sudah tidak diinginkan lagi oleh Suho. Dan seharusnya ia juga segera menikah dengan Kim Soohyun agar perasaan sesak itu lama-lama akan pergi dan digantikan dengan kebahagiaan yang tak bertepi. Ia bosan hidup dengan penuh kesedihan. Ia hanya ingin bahagia. Ia ingin merasakan kebahagiaan, meskipun hanya sekali.
“Oo oh, aku baik. Soohyun oppa merawatku dengan baik.” jawab Irene dengan suara bergetar. Saat ini ia sedang menahan suara tangisnya agar tidak pecah dihadapan Suho. Ia tidak mau dicap sebagai wanita lemah, dan ia sangat membenci hal itu.
“Syukurlah jika kau sehat. Kapan kau akan melahirkan, atau mungkinkah kau sudah melahirkan sekarang?”
__ADS_1
“Belum, aku belum melahirkan. Dokter memperkirakan aku akan melahirkan tiga minggu lagi, tapi aku sudah mulai menyiapkannya sejak minggu lalu. Menurut dokter bayiku bisa lahir kapan saja, tidak harus menunggu tiga minggu lagi. Jadi ayah sudah melarangku untuk pergi ke kantor sejak satu bulan yang lalu.”
Irene mendengar Suho menghela napas pelan di seberang sana. Dan pembicaraan mereka sempat terhenti untuk beberapa saat ketika Suho tak kunjung membalas ucapannya.
“Disana kau dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu dengan tulus, kau pantas mendapatkannya. Kau memang seharusnya berada di sana, bersama ayahmu dan juga suamimu.”
Setetes air mata turun membasahi wajah Irene ketika ia tak bisa lagi membendung emosinya yang membuncah di dalam dada. Seenaknya saja pria itu mengatakan jika tempat yang terbaik untuknya adalah di New York, padahal hatinya sama sekali tidak bahagia. Hatinya merasa tertekan dan terus menerus memanggil nama Suho di malam-malam gelapnya yang sunyi. Andai saja pria itu tahu apa yang ia rasakan disini, akankah ia juga mengatakan hal itu dengan perasaan lega?
“Andai aku juga berpikir seperti itu, aku pasti akan lebih menikmati hidupku di sini. Kalau begitu sampai jumpa Lee Suho ssi, semoga kau selalu bahagia.”
Irene memutus sambungan itu secara sepihak dan ia langsung menangis sejadi-jadinya dengan perasaan sakit yang luar biasa sakit hingga tak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundaknya pelan dan membawa Irene ke dalam pelukannya.
Kim Soohyun sejak awal telah berdiri di ambang pintu sambil menyaksikan Irene yang sedang menghubungi mantan kekasihnya. Namun ketika Irene mulai menumpahkan air matanya, Kim Soohyun tiba-tiba merasa tertegun dan ingin mendengar semua pembicaraan Irene lebih lanjut. Ia tahu jika selama ini Irene masih sangat mencintai mantan kekasihnya dan sangat berharap untuk kembali. Tapi meskipun begitu ia tidak mau menyerah begitu saja untuk mendapatkan Irene. Ia tetap akan berusaha untuk mendapatkan Irene meskipun hati itu masih tertutup untuknya.
“Kim Soohyun ssi, menikahlah denganku setelah bayi ini lahir.”
Kim Soohyun mematung ditempat dengan permintaan Irene padanya. Meskipun Irene memang memintanya untuk menikahinya, tapi ia tahu jika hati wanita itu hanya untuk Lee Suho seorang. Tapi hal itu tidak masalah untuknya, selama ia masih mendapatkan raga Irene, ia akan mengubah hati itu perlahan-lahan agar berbalik mencintainya dan memujanya.
“Pasti Irene, aku pasti akan menikahimu setelah anakmu lahir.”
-00-
Suho memandangi ponselnya dalam diam setelah Irene memutuskan sambungan telepon mereka secara sepihak. Padahal ia masih ingin mendengarkan suara merdu itu lagi dan menanyakan kabar Irene selama di Amerika, namun wanita itu justru mengakhirinya dengan terlalu cepat dan suara bergetar.
Sejenak Suho memikirkan tentang penyebab suara Irene yang tiba-tiba berubah serak dan bergetar ketika sedang menghubunginya. Padahal ia pikir suara Irene sebelumnya terdengar baik-baik saja.
Apa wanita itu menangis karena ucapanku?
Sekelebat bayangan tentang Irene yang menangis karena ucapannya membuat pikiran Suho terganggu. Jika memang benar Irene menangis karena mendengar semua ucapannya, maka ia benar-benar harus diberi hukuman yang seberat-beratnya oleh Tuhan karena lagi-lagi ia menghancurkan hati wanita rapuh seperti Irene.
Dengan gerakan cepat Suho segera menghubungi sekretarisnya untuk memesankan satu tiket penerbangan ke New York. Hari ini juga ia akan terbang ke sana dan menjelaskan pada Irene mengenai keadaanya saat ini. Persetan dengan status Irene yang mungkin sudah menjadi istri pria lain. Yang jelas saat ini ia hanya ingin
__ADS_1
mengatakan yang sejujurnya pada Irene, dan ia tidak ingin membohongi wanita itu lagi jika ia sangat mencintainya melebihi apapun.