Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Three: Stockholm Syndrome (Seventy)


__ADS_3

            Donghae manatap tubuh Yoona dalam diam dari balik kaca tebal yang memisahkan ruang perawatan Yoona dengan ruang tunggu di luar ruangan Yoona. Disebelahnya Henry tampak menunggu reaksi Donghae sambil  berharap sahabatnya itu tidak banyak protes setelah melihat kondisi Yoona yang sebenarnya, karena ia sendiri sudah putus asa untuk mencari wanita yang tepat untuk mengandung calon anak sahabatnya itu. Lagipula sebelum ia memutuskan untuk menggunakan Yoona, ia sudah berusaha untuk mencari calon kandidat wanita yang benar-benar cocok untuk Donghae. Tapi sayangnya ia tidak bisa menemukan wanita yang benar-benar tepat untuk Donghae, dan hanya memiliki Yoona sebagai satu-satunya wanita yang bisa ia jadikan ibu bagi anak Donghae nantinya.


            “Bagaimana? Bukankah ia cantik dan cocok untuk menjadi ibu dari anakmu?”


            “Kenapa ia sangat kurus? Kau yakin ia bisa mengandung anakku hingga waktu melahirkan nanti?” tanya Donghae sangsi. Henry mendengus kesal dan langsung menjawab pertanyaan Donghae dengan nada ketus.


            “Setelah mempermasalahkan usianya, sekarang kau ingin mempermasalahkan ukuran tubuhnya? Oh yang benar saja! Demi Tuhan, hal itu tidak penting, Hae! Yang penting ia sehat dan bisa mengandung anakmu tanpa ada suatu masalah apapun karena aku sudah memeriksanya. Ia juga sedang dalam masa suburnya sekarang, sehingga jika kau mau, kau bisa melakukan inseminasi itu hari ini. 


            Kedua mata Donghae masih tak lepas dari tubuh kurus Yoona yang sedang terbaring lemah di atas ranjang. Padahal seharusnya gadis itu sudah membuka matanya sejak dua hari yang lalu, kenapa sekarang ia justru tidur?


            “Ia tidak membuka matanya?”


            “Aku sengaja memberi dosis obat tidur lebih tinggi agar ia bisa beristirahat lebih lama. Apa kau tahu berapa tekanan darahnya saat aku menemukannya seminggu yang lalu, lima puluh, Hae! Bahkan aku sedikit kesulitan ketika ingin mengambil sampel darahnya karena jumlah keping darahnya yang sangat sedikit. Tapi hari ini tekanan darahnya sudah normal karena pola penyembuhan yang kulakukan. Jadi bagaimana?”


            Henry menatap wajah Donghae penuh harap untuk menunggu sahabatnya menganggukan kepala dan mengatakan jika ia setuju untuk menggunakan gadis itu, pasalnya ia sudah putus asa dan menyerah untuk mencarikan Donghae seorang wanita yang bersedia untuk mengandung anaknya tanpa menuntut apapun dari Donghae.


            “Apa kau yakin jika ia benar-benar siap untuk digunakan? Aku tidak mau jika harus melakukan prosedur inseminasi berkali-kali. Aku sangat sibuk, dan mungkin lain kali aku tidak akan memiliki waktu luang seperti ini.”


            Henry memutar bola matanya jengah dengan sikap sok sibuk dan sok berkuasa Donghae, meskipun sebenarnya pria itu memang sibuk.


            “Ia lebih dari siap untuk melakukan inseminasi hari ini. Apa kau ingin melakukannya sekarang?”


            “Bukankah lebih cepat lebih baik?” tanya Dongae dengan seringaian penuh arti di wajahnya dan segera mengikuti Henry untuk melakukan serangkaian tes di dalam lab.


-00-


            “Bagaimana? Apakah kau sudah percaya jika semua ini bukan sepenuhnya salahku?” tanya Henry frustrasi. Ia sejujurnya juga sama kacaunya dengan Yoona setelah peristiwa itu terjadi.


            “Apa kau yang bertanggungjawab atas pembedahan paksa yang terjadi pada Yoona?”


            “Apa?! Tentu saja bukan! Aku tidak segila itu.” sangkal Henry cepat dengan mimik serius. Dalam sekejap Henry telah mengubah mimik wajahnya menjadi mengeras karena ia tidak terima dengan tuduhan yang dilemparkan Luciana padanya.


            “Yoona mengaku padaku jika kau adalah dokter yang bertanggungjawab atas persalinannya.”


            “Awalnya memang seperti itu. Tapi aku terlibat adu mulut dengan Donghae sebelum hal itu terjadi.” Henry memberitahu dengan wajah sendu. “Yoona menjadi korban dari perselisihan yang terjadi anatara aku dan Donghae malam itu.”


            “Kau sudah lama?”


            Donghae berseru pelan pada Henry yang sedang menyesap kopi americanonya nikmat. Dokter muda itu langsung meletakan cangkir kopinya di atas meja ketika sahabatnya itu datang dan memberikan senyum lembut pada Donghae.


            “Bagaimana, ia sudah tidur?” tanya Henry penuh makna. Donghae mengendikan bahunya malas dan segera menghempaskan tubuhnya di atas sofa di sebelah Henry. Hari ini ia benar-benar dibuat kewalahan dengan tingkah menyebalkan Yoona. Wanita itu benar-benar membuatnya repot dengan berbagai macam permintaan anehnya. Bahkan sebelum ia bisa pergi menemui Henry, ia harus meninabobokan ibu hamil itu hingga benar-bena terlelap ke alam mimpi karena sejak tadi Yoona terus melarangnya untuk pergi menemui Henry. Benar-benar sangat menyusahkan!


            “Kau tahu, gadis ingusan itu hari ini benar-benar menguji kesabaranku. Sikapnya membuatku jengah dan juga gemas padanya. Semakin hari ia menunjukan sikap manjanya yang kelewat batas dan aku tidak tahu apa tujuannya melakukan hal itu. Kurasa ia ingin mengerjaiku.” cerita Donghae bearapi-api. Ketika pelayan datang membawakan segelas bir, Donghae langsung meminum birnya dengan penuh emosi hingga tersisa setengah.


            “Sabar Hae, kau harus ingat jika Yoona sedang mengandung calon penerusmu. Jika kau memang menginginkan anakmu lahir dengan selamat, kau harus menyenangkan hati ibunya.”


            “Tapi sampai kapan ia akan bertingkah menjengkelkan seperti itu? Bahkan ia memintaku untuk bernyanyi sebelum tidur, bukankah itu sangat menyebalkan!” teriak Donghae penuh emosi. Henry tergelak geli ketika membayangkan Donghae bernyanyi untuk Yoona. Pasalnya sahabatnya itu tidak terlalu suka menyanyi dan selalu mencemooh para penyanyi muda yang sedang digilai para remaja. Ia mengatakan jika penyanyi adalah pekerjaan yang paling menggelikan karena mereka hanya menjual pita suara.


            “Sialan kau! Jangan menertawakanku. Kau harus membantuku untuk keluar dari neraka dunia yang mengerikan itu, aku tidak tahan melihatnya di rumahku sepanjang hari dengan suaranya yang... arghhh! Sangat mengerikan karena meminta ini itu tanpa henti. Apa kau punya obat untuk mempercepat kelahiran?”


            “Obat? Tentu saja ada, tapi kau tidak boleh menggunakannya karena itu akan membahayakan ibunya. Kau tidak boleh membahayakan Yoona, dan kau harus melepaskan Yoona setelah ia melahirkan, jangan menggunakan cara-cara seperti biasa untuk membuang orang-orang yang sudah tidak kau butuhkan.” peringat Henry sungguh-sungguh.”


             Donghae memandang Henry santai dan hanya mengendikan bahunya sebagai jawaban.  “Semua


itu tergantung suasana hatiku, Henry, tapi aku tidak yakin akan melepaskannya begitu saja, karena dia akan berbahaya untuk kehidupanku dan anakku. Aku tidak ingin anakku mengenal sosok yang bernama ibu, jadi Yoona harus benar-benar lenyap dari bumi.”


            “Kau gila! Jangan pernah kau sakiti Yoona karena wanita itu sudah berkorban banyak untuk membantumu. Kau seharusnya berterimakasih padanya dan memberikannya kehidupan yang layak. Bukankah kau sudah tahu bagaimana kehidupan Yoona selama ini yang selalu mendapat tekanan dari ibunya, kau jangan menambah kesengsaraanya lagi dengan membunuhnya. Jika kau ingin menjauhkan anakmu dari Yoona, kau cukup menempatkan banyak pengawal disekitar anakmu agar Yoona tidak dapat mendekatinya. Tolong jangan sakiti Yoona, dia wanita yang baik dan berhati tulus.”


            Donghae menatap Henry penuh selidik sambil menyipitkan matanya tidak suka. “Apa kau menyukainya?”


            “Menyukainya? Tentu saja tidak.” ucap Henry gelagapan. Namun Donghae tahu jika sahabatnya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya karena Henry terlihat begitu gelisah dan tidak berani menatap wajahnya.

__ADS_1


            “Katakan padaku apa yang kau sembunyikan! Kau tidak bisa berbohong padaku Henry.”


            Donghae semakin menyudutkan Henry dengan tatapan matanya yang mengintimidasi dan juga kalimat yang penuh tekanan. Sekarang Henry pasti merasakan ketegangan yang menguar dari dalam dirinya karena ditatap terlalu intens oleh Donghae.


            “Baiklah, aku menyerah. Aku memang tidak bisa menutupi semuanya darimu jika aku memang sedikit tertarik pada Yoona. Tapi bukan berarti aku menyukainya, aku hanya kagum pada kepribadiannya yang kuat dan juga tidak mudah menyerah. Kau harus mempertahankan gadis tangguh seperti Yoona, Hae.”


            “Aku rasa aku tidak bisa, gadis itu terlalu berbahaya untukku. Selama tujuh bulan ini hidupku terasa kacau karena kehadirannya. Aku tiba-tiba merasa selalu ingin berada di dekatnya dan memeluknya, padahal selama ini aku tidak pernah merasakan hal itu pada wanita-wanita one nigh standku. Bahkan aku bisa merasa bergairah pada gadis ingusan seperti Yoona, ia adalah ancaman untukku.”


            Henry menatap Donghae tajam dengan wajah yang tidak biasa, antara marah dan juga tidak terima.


            “Itu bukan alasan untuk menyingkirkan Yoona. Kau yang salah dalam hal ini, kau yang menginginkan semua ini terjadi, dan kau tidak boleh melenyapkannya hanya karena kau jatuh cinta padanya!”


            “Aku tidak jatuh cinta padanya. Hati-hati dengan ucapanmu.”


            Tiba-tiba Donghae menarik kerah kemeja Henry dan sedikit mendorong Henry ke belakang hingga Henry merasa kesulitan untuk bernapas.


            “Aku tidak mungkin jatuh cinta pada gadis ingusan seperti Yoona yang lebih pantas menjadi keponakanku. Dan perlu kau ingat baik-baik, semua ini terjadi karena rencana gilamu. Kau memaksaku untuk menerima Yoona karena kau bilang Yoona adalah satu-satunya wanita yang tepat untuk mengandung anakku. Jika kau sejak awal tertarik padanya, seharusnya kau tidak mengumpankan Yoona padaku karena kau pasti tahu apa yang akan kulakukan pada Yoona. Aku akan membunuhnya setelah ia melahirkan anakku. Jadi jangan pernah menyalahkanku dan bersikap seolah-olah kau tidak bertanggungjawab atas nasib sial yang akan menimpanya nanti.”


            “Tapi aku tahu jika kau sudah jatuh cinta pada Yoona, gadis itu sedikit banyak telah merubah hidupmu yang semula kaku menjadi lebih berwarna. Kau seharusnya menyadari hal itu, Hae.”


Bughh!


            Donghae memukul wajah Henry keras dan membuat pria itu terhempas ke sofa. “Jangan pernah mengatakan kata-kata laknat itu atau aku akan menghajarmu hingga kau mati. Aku tidak pernah mencintai Yoona, tidak akan pernah!”


            Setelah mengucapkan hal itu Donghae langsung berjalan pergi meninggalkan Henry yang masih merintih kesakitan sambil memegangi sudut bibirnya yang memar. Namun tiba-tiba ia melompat berdiri dan segera pergi menuju mobilnya untuk menjemput Yoona, karena ia harus segera menjauhkan Yoona dari iblis kejam tak punya hati seperti Donghae.


-00-


            Donghae mengusap wajahnya gusar sambil berjalan tergesa-gesa memasuki rumahnya. Perkataan Henry barusan berhasil mengusiknya dan membuatnya takut. Secepatnya ia harus melakukan tindakan sebelum apa yang dikatakan oleh Henry menjadi kenyataan, ia tidak boleh mencintai Yoona.


            “Apa Yoona masih tidur?” tanya Donghae pada Hara yang kebetulan lewat di depannya. Wanita muda itu menunduk dalam dan menganggukan kepalanya pada Donghae. 


           “Baru saja saya mengecek ke dalama kamar nona Yoona, nona Yoona masih tertidur dan terlihat sangat pulas.”


            Dengan wajah bingung Hara hanya dapat menganggukan kepalanya tanpa banyak bertanya. Lagipula ia juga tidak memiliki hak untuk bertanya macam-macam pada Donghae karena itu bukan haknya, dan ia hanya sebatas pelayan di dalam rumah itu.


            “Kau akan membawa Yoona pergi?”


            Tiba-tiba Hara mendengar suara seorang pria yang menggelegar di dalam ruang tamu. Harapun menyempatkan diri untuk mengintip dari balik pembatas pagar di lantai dua. Dari kejauhan Hara dapat melihat seorang pria muda sedang terlihat marah dan pria itu menghampiri Donghae dengan tangan terkepal. Namun sebentar saja Donghae langsung memerintahkan bodyguardnya untuk menangkap pria itu dan suara ribut-ribut itu dalam sekejap saja sudah membuat seisi rumah yang senyap menjadi ricuh.


            “Jangan sakiti Yoona, kau tidak berhak melakukan itu pada Yoona!”


            “Singkirkan dia dari sini, aku tidak mau dia mengganggu rencanaku.”


            Hara menyipitkan matanya heran, namun ia memilih untuk segera masuk ke dalam kamar Yoona karena ia takut dengan suara Donghae yang terdengar begitu murka.


            “Hara, ada apa?”


            Ternyata Yoona terbangun karena suara ribut-ribut yang berasal dari lantai bawah. Wanita itu menatap Hara khawatir dengan wajah penuh ingin tahu.


            “Saya tidak tahu nona, tapi tuan Donghae ingin bertemu dengan anda sekarang.”


            “Ada apa dengan paman? Kenapa malam-malam seperti ini paman menyuruhku untuk menemuinya? Kenapa ia tidak menemuiku sendiri di sini?” tanya Yoona bingung. Namun Hara hanya dapat menggelengkan kepalanya karena ia sama sekali tidak memiliki jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Yoona.


            “Lebih baik nona turun sekarang untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.”


            Yoona mengangguk mengerti dan segera keluar dari kamarnya. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak dan ia merasa gugup. Namun ia berusaha menenangkan hatinya agar ia tidak panik. Berkali-kali ia mengelus perutnya karena tiba-tiba ia merasakan kram, karena kepanikan yang sedang melanda hatinya.


            “Hara, cepat bawa Yoona turun sekarang.”


            Hara dan Yoona saling berpandang-pandangan ketika mereka mendengar suara menggelegar Donghae yang berasal dari ruang keluarga.

__ADS_1


            “Nona ayo kita turun, tuan Donghae sepertinya benar-benar marah.”


            Satu demi satu Yoona menuruni tangga sambil dibantu Hara karena langkahnya yang gemetar namun dipaksa untuk cepat. Di ujung tangga Donghae sudah menunggunya dengan wajah datar yang terlihat mengerikan. Dan ketika Yoona telah berada di ujung terbawah tangga, Donghae langsung menyambar tangan Yoona dan menyeret Yoona untuk keluar. Di ruang tamu Yoona dapat melihat Henry yang sudah babak belur dan sedang dicekal oleh beberapa bodyguard Donghae.


            “Yoona, lari! Jangan ikuti Donghae.”


 Bugh bugh bugh


            Henry memperingati Yoona untuk lari dan Henry langsung mendapatkan pukulan dari bodyguard Donghae saat itu juga.


            “Dokter Henry! Paman, apa yang paman lakukan pada dokter Henry?” teriak Yoona panik dan langsung menghentikan langkahnya. Namun Donghae kembali menyeret tangan Yoona kasar dan membawa Yoona keluar dari rumahnya.


            “Itu adalah hukuman untuk orang pembangkang seperti Henry, cepat masuk!” perintah Donghae kasar  sambil mendorong-dorong Yoona untuk masuk ke dalam mobilnya. Dengan pasrah Yoona langsung masuk ke dalam mobil Donghae dengan berbagai macam pikiran buruk yang bersarang di otaknya.


            “Kita mau kemana?”


            “Kau akan tahu nanti.” seringai Donghae mengerikan sambil menginjak pedal gasnya kuat-kuat meninggalkan halaman rumahnya yang luas.


            “Aku terlambat untuk mencegah Donghae melakukan pembedahan itu pada Yoona. Saat aku datang


untuk menyelamatkan Yoona, aku justru dihajar hingga babak belur oleh anak buahnya. Lalu aku jatuh tak sadarkan diri hingga esoknya saat aku sadar, salah satu pelayan Donghae menangis di depanku dan mengatakan jika semalam Yoona dibawa paksa oleh Donghae untuk mengeluarkan bayinya.”


            “Jadi pria gila itu tidak membedah Yoona di rumah sakit ini?”


            Henry menggeleng lemah. “Donghae adalah pria kaya yang penuh kuasa. Dugaanku, ia telah merencanakan hal itu sejak lama dan telah menyiapkan rencana cadangan jika aku bersikap kontra padanya. Dan benar saja, saat aku bersikap kontra, ia langsung membawa Yoona ke sebuah klinik di pinggir Korea yang biasanya digunakan pasangan muda untuk menggugurkan janin yang tidak mereka inginkan. Pagi itu aku menemukan Yoona di sana, di sebuah klinik kosong yang telah ditinggalkan oleh dokternya setelah seseorang mengirimkan alamat klinik itu padaku. Donghae mungkin berubah pikiran untuk tidak membunuh Yoona. Jadi ia segera mengirimku untuk membawa Yoona pergi dari klinik itu saat kondisinya kritis.”


            “Lalu anaknya?” Hati Luciana mendadak sakit. Tidak tahu lagi bagaimana nasibnya jika ia berada di posisi Yoona. Ia pasti lebih memilih mati daripada hidup dengan seluruh luka batin yang tidak akan pernah sembuh.


            “Aku tidak tahu. Donghae menghilang tanpa jejak sejak saat itu. Aku sudah berusaha mencarinya dimanapun, tapi ia telah hilang seperti hantu.” Dengan gusar Henry menyugar rambutnya yang berwarn hitam, lalu ia menjatuhkan kepalan tangannya dengan keras ke atas meja. “Aku merasa berdosa pada Yoona. Wanita itu seharusnya marah padamu, tapi ia sama sekali tidak menunjukan kemarahannya padaku. Ia tetap saja diam, seolah-olah tidak ada hal apapun yang menimpanya setelah ia sadar dua hari yang lalu.”


            “Sejujurnya aku merasa prihatin pada kondisinya. Ia mengalami stockholm syndrome, hal itulah yang menyebabkan dirinya tidak bisa menyalahkan dirimu atau Lee Donghae. Tapi ia mengalami tekanan batin karena kehilangan bayinya dan merasa dikhianati oleh temanmu.”


            “Lalu apa yang bisa kulakukan kalau begitu?”


            “Tebus semua dosamu. Kau harus bertanggungjawab atas hidupnya. Yoona memerlukan dukungan dan cinta agar ia dapat melupakan semua kenangan pahit itu. Dan karena ia tidak diterima oleh keluarganya, jadi kau yang harus menjadi sosok keluarga untuknya. Bukankah kau tertarik padanya sebelum sebelum ini?” tanya Luciana


dengan seringaian. Jika pria itu ingin menolak untuk bertanggungjawab atas hidup Yoona, ia tidak akan segan-segan melaporkan masalah ini ke pihak berwajib.


            “Ya, akan kulakukan. Aku akan menjadi keluarga untuk Yoona, dan memulihkan jiwanya yang rapuh. Terimakasih dokter, Lucine.”


            Tiba-tiba Henry telah menggenggam tangan Luciana dan membuatnya terbengong-bengong di tempat. Padahal sejak tadi ia tidak pernah menunjukan wajah bersahabat sedikitpun pada pria itu. Tapi sekarang pria itu justru menatapnya dengan tatapan penuh rasa syukur yang begitu besar.


            “Kurasa aku tidak melakukan apapun, dokter Lau. Ingat, aku justru hendak menerkammu sejak tadi.” canda Luciana untuk mengakhiri kontak fisik diantara mereka. Ia sekarang merasa canggung berhadapan dengan Henry setelah menunjukan sikap bar-barnya yang sama sekali tidak mencerminkan seorang dokter.


            “Tidak apa-apa. Kau berhak marah padaku, dokter Lucine. Sekali lagi terimakasih karena kau telah menyadarkanku tentang kebrengsekanku. Setelah Yoona diizinkan pulang, aku akan memintanya untuk menemuimu lagi. Ia pasti akan membutuhkan sosok teman sepertimu setelah ini.”


-00-


            Luciana bernapas lega di depan ruang praktik milik Henry sambil menyandarkan tubuh lelahnya pada kursi tunggu pasien yang kebetulan kosong. Suasana koridor di lantai lima terlihat begitu sepi di jam setengah lima seperti ini. Tapi Luciana sangat bersyukur karena hari ini ia dapat menyelesaikan satu kasus dengan baik.


            “Oppa...”


            Luciana menghubungi Joey secepatnya setelah ia sadar jika masalah rumah tangganya sendiri belum terselesaikan. Rasanya sangat kekanakan jika ia tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, sedangkan ia telah bersikap terlalu berlebihan untuk memperjuangkan kehidupan orang lain.


            “Ada apa, Lucine? Kau masih marah padaku?”


            “Aahh... maafkan aku soal kemarin, aku hanya... hanya cemburu.” ucap Luciana malu-malu.Tak bisa ia bayangkan  bagaimana gelinya wajah Joey di seberang sana saat ia mengakui kecemburuannya pada pria itu.


            “Aku senang kau cemburu.” jawab Joey di seberang sana dengan gelak tawa yang berhasil ditangkap oleh telinga sensitif Luciana.


            “Menyebalkan! Tapi aku sungguh merasa bersalah padamu dan anak-anak. Sore ini bisakah kita makan di luar? Restoran kesukaan Aleyna. Aku ingin menebus kesalahanku padanya.”

__ADS_1


            “Tentu. Aku akan membawa anak-anak ke sana. Kau tunggu saja, tiga puluh menit lagi aku sampai.”


            “Terimakasih oppa. Aku mencintaimu.” bisik Luciana manis sebelum ia menutup sambungan teleponnya dengan Joey. Ternyata meminta maaf dan mengakui kesalahn tidaklah sesulit yang ia pikirkan. Hanya perlu sedikit sentilan kecil di hatinya, maka ia sudah bisa menurunkan harga dirinya yang setinggi langit untuk mengakui semua kesalahannya.


__ADS_2