Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Three: Stockholm Syndrome (Sixty Six)


__ADS_3

            Donghae berjalan memasuki rumahnya dengan keadaan berantakan dan juga perasaan lelah. Hari ini pekerjaannya benar-benar banyak dan hal itu berhasil membuat Donghae merasa lelah. Bahkan karena terlalu sibuk, ia tidak sempat menghubungi Yoona untuk mengecek kondisinya siang ini. Sudah menjadi kebiasaan Donghae sejak dua bulan yang lalu untuk mengecek kondisi kehamilan Yoona di siang hari. Bahkan entah


kenapa sekarang tidur di kamar Yoona menjadi bagian dari rutinitasnya setiap malam, padahal jelas Donghae memiliki kamar sendiri di lantai bawah. Dan tak bisa dipungkiri jika kebiasaanku itu membuatnya takut. Ia takut akan


mencintainya dan sulit untuk lepas darinya, padahal sejak awal yang diinginkan Donghae hanyalah bayi yang dikandung Yoona, bukan Yoona!


            Satu demi satu langkah Donghae membawanya ke dalam kamar luas bernuansa putih yang sudah lima bulan terakhir ini ditempati oleh Yoona. Dengan perlahan Donghae mendakati wanita buncit itu dan mulai melepas sepatunya untuk berbaring di sebelah Yoona. Dalam diam, Donghae menghela napas pelan dan mulai membalikan tubuhnya ke arah Yoona. Setiap malam tanpa sepengetahuan Yoona, Donghae selalu mencuri-curi kesempatan untuk mencium bibirnya atau sekedar mengelus wajahnya. Tapi pernah suatu hari ia hampir kelewat batas hendak menggerayangi tubuh Yoona karena ia benar-benar tidak bisa mengontrol lonjakan gairahnya setiap kali berdekatan dengan wanita itu. Untung saja saat itu tiba-tiba Yoona membuka matanya dan menyadarkanku dari perilaku bejatnya yang hendak memperkosanya. Tapi sejak saat itu Donghae selalu berhati-hati dalam menyentuh Yoona agar kejadian dulu tidak terulang lagi.


            “Arghh...”


            Yoona mengerang pelan ketika Donghae ******* bibirnya dan mengelus rambutnya dengan lembut. Donghae tidak mau ditengah-tengah kegiatannya mencium Yoona, wanita itu terbangun dengan segala tatapan menuduh yang dilayangkan kepadanya karena selama ini ia selalu menjaga egonya dengan berpura-pura tidak tertarik padanya. Padahal seluruh tubuhnya selalu meremang setiap kali melihat Yoona berada di sampingnya seperti ini.


            “Paman...”


            Donghae membeku di tempat ketika Yoona tiba-tiba membuka mata disaat wajah Donghae berada tepat di depan wajahnya. Cepat-cepat pria itu menarik wajahnya menjauh dari Yoona dan berpura-pura tenang seperti tidak ada yang terjadi.


            “Paman menciumku.”


            Mati kau Lee! Dia mengetahuinya, batin Donghae gusar. “Kau hanya bermimpi.” ucap Donghae datar dan acuh tak acuh. Pria itu berusaha menghindari kontak dengan membalikan tubuhnya membelakangi Yoona dan berpura-pura tidur. Ia tidak mau Yoona tahu jika ia sering menciumnya dan sesekali menggerayangi tubuhnya saat wanita itu tidur.


            “Tapi aku yakin jika aku tidak bermimpi, aku merasakannya. Dan sebenarnya aku belum tidur karena menunggu paman.”


            Mendengar sederet kalimat darinya membuat Donghae yakin jika kali ini ia memang tidak bisa mengelak. Perbuatan bejatnya telah diketahui Yoona secara langsung. Dan kini saatnya ia mengakui semua perbuatannya di depan wanita itu, atau berbohong!


            “Kenapa kau belum tidur?”


            “Aku menunggu paman pulang. Hari ini paman tidak menghubungiku dan menanyakan keadaanku selama di rumah, aku takut terjadi sesuatu pada paman, sehingga aku berusaha untuk tetap terjaga hingga paman pulang, meskipun aku sempat tertidur dan aku terbangun setelah mendengar suara pintu yang ditutup.”


             ‘Jadi dia sebenarnya sudah bangun sejak aku masuk ke kamarnya? Bagus! Harga diriku akan benar-benar jatuh sekarang.’


            “Paman, kenapa paman menciumku? Bukankah paman bilang jika aku hanya anak....”


            Donghae langsung membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya agar gadis ingusan itu tidak terus mengoceh dan membuat kepala Donghae semakin pening karena kebohongan-kebohongan yang selama ini ia lakukan. Persetan dengan dia adalah gadis di bawah umur yang sepantasnya menjadi keponakannya atau adiknya, yang jelas bibir merah itu telah berhasil menggoda Donghae dan menjadikannya seperti candu untuknya.


            Setelah Donghae melepaskan tautan bibirnya dari milik Yoona, wanita itu tampak terengah-engah sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi pasokan udara di paru-parunya yang menipis. Dengan mata bulatnya yang... diakui Donghae memang cantik, Yoona menatapnya dalam sambil terperangah tak percaya.


            “Paman menciumku lagi?”


            “Iya, dan aku mungkin akan melakukannya lagi lain kali.”

__ADS_1


            Kali ini Donghae mengatakannya sungguh-sungguh jika ia akan mencium wanita itu lagi lain waktu. Toh dia sudah tahu jika Donghae memang sering menciumnya, lalu untuk apa Donghae berbohong lagi.


            “Menakjubkan! Dan itu merupakan ciuman pertamaku.” racau Yoona polos dengan wajah yang terlihat bodoh. Donghae tertawa sinis di dedepannya dengan raut mencemooh. Tentu saja itu pengalaman pertama untuknya karena ia memang sangat tidak berpengalaman sekali dalam hal mencium bibir.


            “Kau pasti belum pernah melakukannya selama ini. Kau tidak memiliki kekasih.” ejek Donghae kejam. Yoona dengan polosnya hanya mengangguk sambil tersenyum malu-malu.


Sialan! Wanita ini benar-benar membuatku gemas, batin Donghae mengerang.


            “Aku memang tidak pernah memiliki kekasih, eomma melarangku untuk berdekatan dengan pria.”


            “Kenapa eommamu melarangmu, bukankah wajar jika gadis-gadis seusiamu memiliki kekasih? Lagipula apa kau tidak ingin memiliki seorang kekasih di usiamu yang masih muda seperti ini?” 


           Yoona tiba-tiba tertawa pelan di depan Donghae, membuat pria itu tiba-tiba sedikit sangsi dengannya. Memangnya apa yang lucu dari kata-katanya? pikir Donghae aneh.


            “Bagaimana mungkin aku memiliki kekasih jika aku sedang hamil besar seperti ini. Paman, kau benar-benar lucu.”


            Sekarang Donghae merasa bodoh karena baru saja ditertawakan oleh gadis muda yang sedang hamil. Memang ia tidak mungkin bisa memiliki kekasih saat perutnya membuncit seperti itu. Tapi maksud Donghae bukan sekarang, tapi dulu saat wanita itu masih duduk di bangku high school.


            “Lupakan saja!” ucap Donghae ketus. Yoona seketika menghentikan tawanya ketika ia melihat ayah dari bayinya yang mulai kesal. Ia pun mencoba meluluhkanku dengan membelai wajah Donghae dengan jari-jarinya yang lentik.


            “Maaf, aku tidak bermaksud menertawakan paman. Tapi sejujurnya aku sudah tidak memikirkan untuk memiliki kekasih, karena yang kuinginkan sekarang adalah menjadi seorang ibu. Apa paman akan mengijinkanku untuk tinggal dan merawat bayi ini?”


            “Lebih baik kau tidur, ini sudah malam. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku di ruanganku.”


            Donghae beranjak pergi dari ranjangnya tanpa berniat untuk menengok ke belakang dan melihat bagaimana keadaanya saat ini. Meskipun sebenarnya Donghae sangat yakin jika Yoona pasti sedang menatap punggungnya dengan sorot mata terluka penuh kesedihan karena ia baru saja menolak permintaanya dengan secara terang-terangan menjauhinya. Tapi menurut Donghae inilah yang terbaik. Mulai sekarang ia harus menjaga jarak dengannya dan tidak memberikan terlalu banyak harapan palsu pada perasaanya yang rapuh.


-00-


            Yoona mematut dirinya di depan cermin sambil mengelus perutnya pelan. Tak terasa sudah lima bulan berlalu, dan empat bulan lagi ia akan melahirkan. Tapi rasanya mengingat hari itu membuat dirinya merasa berat. Ia takut kehilangan bayi itu karena Donghae pasti tidak akan mengijinkannya untuk tinggal bersama bayinya. Apalagi semalam dengan terang-terangan Donghae menolak prmintaanya dengan bersikap dingin padanya. Padahal sebelum itu mereka masih bersenda gurau dan tertawa satu sama lain.


            Tiba-tiba setetes air mata turun membasahi kedua pipinya. Selama lima bulan ini ia merasa hidupnya berarti dan ia merasa tidak sendirian karena ia memiliki bayinya, Donghae, nyonya Jang, Hara, dan juga kepala pelayan Kang. Tapi jika ia tidak mengandung bayi itu lagi, ia pasti akan ditinggalkan dan kembali merasakan sepi seperti


dulu. Ia takut hidupnya akan kembali tidak diinginkan. Ia takut kehilangan semua kehangatan ini. Tapi sejak awal Donghae memang hanya menginginkan bayi ini. Bahkan dulu ia tidak masalah dengan hal itu, tapi setelah ia menjalani kehidupan ini ia merasa tidak ingin pergi. Ia ingin bersama-sama mereka, orang-orang yang selama lima bulan ini selalu menemaninya hingga ia tidak merasa kesepian.


            “Nona Yoona, mobil sudah siap, apa anda akan pergi ke taman sekarang?”


            Dengan cepat Yoona menghapus air matanya dan mengangguk pada Hara.


            “Ya, kita pergi sekarang.” ucap Yoona pelan sambil berjalan cepat menghampiri Hara yang kini tengah menatapnya dengan tatapan khawatir.

__ADS_1


-00-


            Yoona menghirup dalam-dalam udara taman yang sangat menyegarkan. Suara riuh anak-anak yang sedang berkejar-kejaran kesana kemari membuat hati Yoona sedikit terhibur. Sembari menatap mereka, Yoona membayangkan jika anaknya nanti saat lahir akan bersuara ribut seperti mereka. Sayangnya ia tidak bisa melihat tumbuh kembang anaknya hingga dewasa, sehingga ia harus puas hanya dengan mengandung anaknya dan melihatnya nanti saat melahirkan.     


            Yoona memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman yang kosong ditemani Hara disampingnya. Sejak berada di mobil wanita muda itu terus mengamati raut wajah Yoona yang memancarkan kesedihan, namun ia tidak berani bertanya langsung karena ia takut hal itu akan menyakiti Yoona. Tapi sekarang ia merasa ingin bertanya karena ia berharap ia dapat sedikit memberi jalan keluar untuk masalah yang sedang dihadapi Yoona.


            “Nona, apa nona sedang memikirkan sesuatu?”


            Yoona menoleh pada Hara dan tersenyum kecil. “Tidak, aku hanya sedih karena akan kehilangan bayi ini emapat bulan lagi. Selama lima bulan ini aku sudah merasa nyaman dengan kehadirannya, meskipun aku sempat benar-benar kesal karena mengalami morning sickness. Tapi sekarang aku bahagia karena sebentar lagi aku akan menjadi ibu. Dengan kehadirannya sekarang aku merasa hidupku tidak sendiri lagi.” ucap Yoona panjang lebar mengutarakan isi hatinya.


            Hara menatap Yoona prihatin dan hanya mampu memberikan usapan pelan di punggung. Ia tahu jika Yoona memang tidak diijinkan oleh Donghae untuk merawat anaknya karena Donghae memiliki trauma di masa kecil terhadap ibunya. Tapi apa yang terjadi pada Yoona sekarang tidak seharusnya disamakan dengan masa kecilnya yang kelam karena Yoona tidak seperti nyonya Lee. Yoona adalah gadis polos yang memiliki kebaikan murni, jika Donghae memberikan Yoona kesempatan untuk menjaga anaknya, pasti Yoona akan melakukan itu dengan sepenuh hati.


            “Hara, ayo kita pulang. Jika paman pulang untuk makan siang dan tak menemukanku di rumah, nyonya Jang bisa terkena amukannya.” ucap Yoona dengan sedikit terkekeh. Harapun menganggukan kepalanya mengerti dan segera beranjak mengekori Yoona yang sudah terlebihdahulu berjalan menuju mobil. Namun tiba-tiba ia melihat Yoona berhenti sambil menatap terkejut pada seorang wanita paruh baya yang berdiri di depannya.


            “Eomma...”


Plak


            “Jadi seperti ini kelakuanmu? Lima bulan kau menghilang dan ternyata kau menjadi simpanan pria-pria kaya! Ckckck, eomma tak menyangka kau akan melakukan hal serendah itu Yoong, eomma kecewa padamu. Mulai detik ini kau bukan lagi bagian dari keluarga Im. Aku akan mengatakan pada ayahmu untuk berhenti memikirkanmu dan melupakanmu, karena ternyata anaknya sudah berubah menjadi seorang wanita yang menjijikan.”


            Yoona menunduk dalam sambil menahan sakit yang menjalar di hati dan juga pipinya. Tak menyangka jika eommanya akan tega mengatakan hal itu di depan umum, padahal nyatanya ia tidak seperti itu. Ia hanya meminjamkan rahimnya untuk Lee Donghae, ia bukan wanita murahan!


            “Nona.. nona, katakan sesuatu. Apa nona baik-baik saja?”


            Hara langsung memegang bahu Yoona sambil menatap Yoona khawatir karena Yoona terus menunduk dan tak mengatakan sepatah katapun. Sedangkan nyonya Im terus menatap Yoona dengan pandangan jijik yang terlihat begitu mencemooh.


            “Aku baik-baik saja, ayo kita pulang sebelum paman mencari kita.” ucap Yoona pelan dengan bulir-bulir air mata yang masih menganak sungai di pipinya. Tapi wanita itu berusaha bersikap tegar dengan tersenyum pada Hara dan juga ibunya.


            “Aku pulang dulu eomma, besok aku akan datang ke rumah untuk memperkenalkan ayah dari bayi ini.”


            “Tidak perlu! Rumahku bukan untuk seorang ******* sepertimu.”


            Yoona memejamkan matanya penuh luka dan segera pergi meninggalkan eommanya. Ia sudah tidak kuat lagi mendengar segala cacian dan makian yang keluar dari mulut ibu kandungnya sendiri. Padahal selama ini ia selalu memikirkan ibunya dan ingin sekali bertemu ibunya, tapi ketika akhirnya ia dapat bertemu dengan ibunya, justru kata-kata kasar penuh penghinaan yang terlontar dari mulut ibunya.


            “Nona, kuatkan diri nona, saya tahu nona bukan gadis seperti itu. Nona adalah gadis baik-baik yang hanya ingin menolong tuan Donghae untuk mendapatkan keturunan. Nona harus tabah karena Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk nona.”


            “Terimakasih Hara, aku baik-baik saja.” ucap Yoona parau dengan senyum manis di wajahnya.


            Setelah itu tak ada pembicaraan lagi diantara mereka. Yoona memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah jendela sambil menenangkan hatinya yang terasa perih. Terkadang ia merasa heran dengan ibunya, kenapa tiba-tiba wanita itu membencinya? Padahal selama ini ia tidak pernah melakukan apapun pada ibunya. Ia selalu menjadi gadis penurut dan tidak pernah membantah perkataan ibunya. Tapi dalam sekejap sikap lembut ibunya menghilang dan digantikan dengan sikap kasar yang begitu menyakitkan hati. Andai saja ayahnya tidak sakit dan terkena PHK, mungkin kehidupannya akan tetap normal, dan ia juga bisa menyelesaikan pendidikannya seperti teman-temannya yang lain, bukan menjadi pendonor rahim yang juga tidak memiliki arti di mata Donghae.

__ADS_1


__ADS_2