
Sementara itu di belahan bumi lain, tepatnya di barat daya kota London, sepasang pria dan wanita tampak baru saja menyelesaikan ritual panas mereka dengan deru napas yang terdengar saling bersahut-sahutan satu sama lain. Sang pria yang terlihat begitu mendominasi sedang mengurung sang wanita yang terlihat masih
terengah-engah setelah melalui badai dahsyat yang baru saja mereka ciptakan. Dan ketika dirasa sang wanita sudah tidak sanggup lagi untuk melayaninya, pria itu memilih untuk berguling ke kanan dan berbaring di samping wanita itu dengan salah satu tangan yang masih setia berada di sekitar pinggang sang wanita.
“Kau lelah sayang?”
“Hmm... cukup lelah, tapi ini menakjubkan.” ucap wanita itu genit dengan kerlingan nakal yang tampak menggoda. Sang pria yang melihat itu hanya terkekeh kecil sambil membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
Kota Bristol di akhir bulan September memang mulai dingin, jadi wajar jika mereka pada akhirnya memutuskan untuk mencari kehangatan dengan cara mereka sendiri. Dan ini merupakan cara yang paling ia suka daripada mereka hanya saling bersandar di depan perapian dengan secangkir coklat panas yang nikmat buatan wanitanya. Ahh... betapa beruntungnya ia karena berhasil mendapatkan wanita cantik ini ke dalam pelukannya. Untuk itu ia telah berjanji pada dirinya sendiri jika ia tidak akan pernah melepaskan wanita itu lagi dari genggaman tangannya, meskipun wanita itu saat ini masih berstatus sebagai istri pria lain.
“Yuna, lusa aku akan pergi ke London untuk menyelesaikan beberapa urusan di sana. Kau ingin ikut?”
“Ah, sepertinya tidak. Aku akan tetap di sini karena aku telah berjanji pada nyonya Smith untuk menjaga putrinya selama ia pergi ke desa untuk menjenguk paman dan bibinya.”
“Baiklah, aku janji akan segera pulang setelah semua urusanku selesai.”
Setelah melakukan sedikit percakapan ringan, mereka berdua memilih untuk saling bergelung satu sama lain agar tubuh mereka tetap hangat meskipun mereka saat ini tidak menggunakan apapun dibalik selimut tebal yang membungkus tubuh mereka. Sementara itu Yunho beberapa kali sibuk mengecupi puncak kepala Yuna yang selalu menguarkan aroma wangi kesukaannya. Aroma mint yang berpadu dengan aroma anggur memang sangat pas untuk Yuna karena pribadi wanita itu yang kadang terkesan dingin, namun kadang juga terkesan manis seperti buah anggur.
“Yunho... sampai kapan kita akan tetap seperti ini?”
“Maksudmu?”
“Sampai kapan kita akan menjalani kehidupan tanpa ikatan ini. Apa kau mencintaiku?”
“Tentu saya sayang, aku sangat mencintaimu. Bahkan aku rela melakukan apapun hanya untuk mendapatkanmu.” ucap Yunho meyakinkan sambil mengecup kening Yuna lembut. Ini sudah tiga minggu berlalu
sejak ia menculik wanita itu dan mencuci otak Yuna dengan obat khusus miliknya. Sayangnya ia belum bisa tenang karena ia masih belum tahu apakah obat itu efektif untuk menghilangkan seluruh memori Yuna selamanya, atau suatu saat Yuna akan mengingat lagi semua memorinya. Yang pasti saat ini ia sedang berupaya mencari seorang dokter syaraf yang ahli agar dapat menghilangkan seluruh memori Yuna sepenuhnya.
“Yunho, apa aku memiliki keluarga? Kenapa aku merasa pikiranku benar-benar kosong. Seperti aku baru saja terbangun
dari tidur panjang yang sangat lama.”
“Ssshh... bukankah sudah kukatakan berulang kali padamu, bahwa kau hanya memilikiku. Seluruh keluargamu meninggal dalam sebuah kecelakaan yang mengerikan, dan kau memang baru saja sadar dari koma yang cukup lama.”
Yunho merasa Yuna saat ini sedang mengangguk kecil di dalam dekapannya sambil mengeratkan pelukannya rapat-rapat. Kebohongan yang telah lama dilakukan oleh Yunho untuk menipu Yuna memang cukup keji. Namun pria itu terpaksa melakukannya karena ia tidak mungkin akan mendapatkan Yuna dalam keadaan seratus persen sadar. Wanita itu berkali-kali menolaknya dan justru pernah menghilang hingga ia mengalami depresi berkepanjangan karena banyaknya tekanan hidup yang menyerangnya. Tapi sekarang ia cukup bersyukur karena meskipun Yuna dalam keadaan hilang ingatan, wanita itu masih bertahan di sisinya dengan banyaknya cinta yang wanita itu miliki untuknya.
-00-
__ADS_1
Keesokan harinya Yuna bangun dengan senyum manis yang tercetak jelas di wajahnya. Sebelum turun untuk menyiapkan sarapan dan keperluannya yang lain, Yuna menyempatkan diri untuk mengelus pipi kanan Yunho yang saat ini sedang tidur dengan nyenyak di sebelahnya. Pria itu adalah segalanya untuknya. Tak bisa ia bayangkan bagaimana kehidupannya tanpa Yunho karena ia benar-benar tidak ingat apapun tentang masa lalunya. Yang ia tahu saat ia membuka matanya, ia sedang berada di sebuah kamar gelap yang berantakan. Dan setelah itu Yunho datang dengan senyum manis yang mampu menghangatkan hatinya yang terasa beku.
“Yunho, aku sangat mencintaimu.” bisik Yuna manja sambil terkekeh geli saat melihat Yunho yang sedang bergerak-gerak kecil sambil menggumam sesuatu. Setelah puas memandangi wajah Yunho yang tampan, Yuna langsung melompat turun untuk mandi dan bersiap. Pagi ini ia harus segera menyiapkan sarapan untuk Yunho dan pergi ke rumah nyonya Smith yang berada di kompleks lain yang jaraknya akan memakan waktu hingga lima belas menit jika ditempuh dengan berjalan kaki.
Dulu awalnya ia tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang babysitter. Bahkan Yunho juga sempat marah
padanya saat ia menerima tawaran nyonya Smith untuk menjadi babysitter putrinya. Namun karena ia terus merengek dan merajuk, akhirnya pria itu mengijinkannya untuk menjadi babysitter. Ia mengatakan pada Yunho jika ia tidak bisa hanya terus menerus berada di rumah tanpa melakukan apapun. Ia jenuh, dan juga bosan jika harus berdiam diri di dalam rumah seharian saat Yunho sedang bekerja di kantornya yang bergerak di bidang fotografi. Lagipula bekerja di rumah nyonya Smith juga menyenangkan karena di sana ia bisa bermain sepanjanghari bersama si lucu Helena.
“Yunho, aku pergi!”
Yuna berteriak nyaring di ujung tangga sambil menenteng tas tangannya yang berisi bekal makan siang dan sedikit makanan untuk tetangga nyonya Smith. Hari ini ia memasak makanan cukup banyak dan ia ingin membagikan makanan itu pada seorang wanita tua yang tinggal sendirian di sebelah rumah nyonya Smith. Namun saat ia sedang berjalan, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan sesuatu yang kabur seperti sedang berputar-putar di dalam kepalanya hingga ia hanya mampu berjongkok sambil menahan rasa sakit yang semakin lama semakin berdentam di dalam kepalanya.
Yuna...
Eomma!!! Tolong aku...
Changmin oppa....
Kau pria brengsek! Lepaskan aku!
“Arghhh....”
“Nona, kau baik-baik saja?”
“Iiya.. aku tidak apa-apa.”
Yuna berusaha berdiri dan menormalkan pandangannya yang sempat mengabur untuk beberapa saat. Seorang pemuda yang kebetulan melihatnya sedang mengerang kesakitan refleks menahan tubuhnya yang hampir terjerembam ke depan karena sensasi pusing yang masih dirasakannya.
“Kau ingin aku membawamu ke rumah sakit?”
“Tidak, aku baik-baik saja, sungguh. Terimakasih atas bantuanmu.”
Yuna tersenyum tulus pada pria itu sambil memungut tas tangannya yang tergletak di bawah kakinya. Sekarang ia merasa keadaanya sudah jauh lebih baik. Suara-suara itu kini telah hilang sepenuhnya dari kepalanya hingga ia tidak lagi merasakan rasa sakit itu. Dan setelah memastikan keadaan Yuna baik-baik saja, pria itu langsung meminta ijin untuk pergi karena ia masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
‘Apa yang terjadi padaku?’
Sepanjang perjalanan menuju rumah nyonya Smith, Yuna tak henti-hentinya memikirkan kondisi kepalanya yang tiba-tiba merasa sakit. Padahal selama ini ia tidak pernah mengalami kejadian apapun. Kehidupannya bersama Yunho selalu berjalan lancar dan membahagiakan. Meskipun Yunho belum memberitahunya secara pasti jenis hubungan seperti apa yang mereka jalani, tapi Yunho pernah berjanji padanya jika suatu saat pria itu akan menikahinya. Sempat terlintas di benaknya jika apa yang terjadi padanya beberapa saat yang lalu adalah akibat dari kecelakaan yang pernah ia alami. Yunho dulu mengatakan padanya jika ia baru saja kehilangan ingatannya karena sebuah kecelakaan mengerikan yang terjadi padanya dan juga pada keluarganya.
__ADS_1
“Yuna.... Hey!”
Yuna menoleh cepat kearah sumber suara sambil melambai riang pada nyonya Smith. Ternyata ia sudah terlalu lama melamun hingga ia tidak sadar jika ia telah sampai di depan rumah nyonya Smith.
“Hai, apa yang kau bawa?”
“Oh, ini bekal makan siangku dan makanan untuk nenek Carlos. Apa aku terlambat?” Tanya Yuna tidak enak ketika melihat penampilan nyonya Smith yang telah rapi. Wanita single parent itu tampak sudah siap dengan dress merah selututnya dan juga clucth bag yang menggantung sempurna di pundaknya.
“Tidak juga. Helena ada di dalam, ia sedang menonton tv sambil memakan serealnya. Karena kau sudah datang, jadi aku akan pergi sekarang.”
“Baiklah, hati-hati nyonya Smith.”
Yuna melambai pada nyonya Smith yang mulai menyalakan mesin mobilnya. Dan setelah wanita itu pergi dengan mobilnya, Yuna segera masuk ke dalam rumah untuk menemani Helena, gadis kecil berusia tujuh tahun yang seharian ini akan berada di bawah pengawasannya.
“Helena, aku datang.”
“Wahh... aunty Yuna, aku sudah lama menunggumu, kemarin kau tidak datang ke rumahku.” sambut gadis kecil itu heboh. Helena langsung meninggalkan serealnya begitu saja dan langsung berlari menghampiri Yuna yang sedang menggantung mantelnya di tiang gantungan di samping pintu.
“Maaf, uncle Yunho mengajak aunty pergi kemarin.”
“Kemana aunty?”
“Hmm... rahasia.” goda Yuna jahil. Ia sengaja tidak memberitahu Helena karena gadis kecil itu sangat cerewet. Apapun yang ia ceritakan pada Helena tentang hubungannya dengan Yunho pasti akan langsung diceritakan Helena pada ibunya. Seperti yang terjadi dua minggu yang lalu saat ia bercerita tentang pengalaman kencannya dengan Yunho yang sangat romantis di depan London Eyes. Tanpa diduga Helena ternyata menceritakan hal itu pada ibunya hingga keesokan harinya saat ia bertemu nyonya Smith di supermarket, wanita itu langsung menggodanya habis-habisan hingga pipinya berubah merah seperti kepiting rebus. Lalu setelah kejadian itu ia tidak mau lagi bercerita pada Helena, tapi gadis itu terus merengek-rengek ingin mendengar ceritanya tentang hubungannya dan Yunho, sehingga mau tidak mau ia terpaksa menceritakan pada gadis itu bagaimana sikap Yunho selama ini. Seperti dugaannya, Helena kembali menceritakan hal itu pada ibunya, padahal sebelumnya ia telah berjanji akan merahasiakan semua itu dari ibunya. Dan sekarang ia tidak mau lagi berbagi cerita pada Helena, karena gadis itu hanya akan membuatnya malu setengah mati oleh godaan ibunya yang menyebalkan.
“Yaahh.. aunty, kau tidak asik!” protes Helena cemberut. Yuna tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Helena. Ia lalu menggelitik perut Helena gemas dan membuat gadis kecil itu semakin berteriak-teriak heboh karena merasa geli.
“Aunty hentikan, hahahahahaaa.... hentikan aunty....”
Yuna terus menggelitik Helena hingga ia tiba-tiba melihat bayangan anak kecil di dalam kepalanya sedang memohon ampun padanya, dan bayangan itu terus berlanjut disertai dengan suara tawa yang terdengar seperti tawanya.
‘Yuna.... hahahahahaha... hentikan Yuna! Akan kuadukan kau pada eommaku....’
Seketika Yuna langsung membeku di tempat sambil memegangi kepalanya yang kembali berdenyut. Ia lantas berjalan menjauh dari Helena sambil berusaha menormalkan degup jantungnya yang menggila.
“Aunty ada apa?”
Helena menatap Yuna khwatir dan langsung berlari memeluk pinggang Yuna. Ia takut melihat wajah Yuna yang seketika berubah pucat setelah menggelitikinya dengan ganas. Helena lalu menawarkan diri untuk menghubungi Yunho, namun hal itu langsung ditolak Yuna karena ia tidak ingin membuat Yunho semakin khawatir.
__ADS_1
“Aku tidak apa-apa Helen, jangan beritahu uncle Yunho. Nanti setelah ia pulang dari London, aku akan mengatakan sendiri padanya.”
Yuna berucap lembut pada Helena sambil mengelus surai kecoklatan itu lembut. Sekarang ia merasa semakin khawatir dengan keadaanya. Entah mengapa semua itu seperti sangat nyata untuknya, dan ia merasa jika semua itu adalah bagian dari masa lalunya yang selama ini terlupakan. Sayangnya ia tidak bisa menanyakan hal itu pada Yunho karena ia tidak ingin membuat pria itu khawatir. Tapi yang jelas, dua hari lagi ia pasti akan langsung menanyakannya pada Yunho agar ia tidak dihantui perasaan khawatir lagi dengan keadaanya yang tiba-tiba berubah aneh.