Kontratransferensi

Kontratransferensi
Scared To Be Lonely (Twenty)


__ADS_3

           “Jadi Aleyna benar-benar bukan putriku?” Tanya Rein kecewa. Luciana dengan berat hati menggeleng pada Rein sambil merapikan berkas-berkas bukti hak asuh Aleyna untuk menunjukan pada Rein jika Aleyna bukanlah putrinya.


            “Maafkan aku Rein ssi, Aleyna bukanlah putrimu.” ucap Luciana penuh penyesalan sambil menatap Rein prihatin. Ia sebenarnya tidak tega melihat wajah Rein yang tampak sendu itu. Namun memang seperti itulah kenyataanya. Aleyna bukanlah putri kandungnya. Jadi pria itu tidak memiliki alasan untuk terus berspekulasi jika Aleyna adalah putrinya. Lagipula semua bukti itu telah secara kuat menunjukan pada Rein jika Aleyna memanglah bukan putrinya dan Luciana. Jadi sepertinya ia memang harus segera mundur dan tidak terlalu berharap pada Luciana karena sesungguhnya hubungan rumah tangga mereka memang tidak akan pernah kembali seperti dulu.


            Sementara itu, Aaron tampak puas di sebelah Luciana sambil terus tersenyum sinis menertawakan wajah menyedihkan Rein. Ia tahu pria itu pasti sangat kecewa karena niatnya untuk mengambil simpati Luciana dan kembali bersama Luciana gagal. Lagipula seratus persen ia yakin jika Luciana tidak akan mungkin mau kembali bersama pria jahat itu. Seseorang yang telah menorehkan luka di hati Luciana selamanya tidak akan pernah mendapatkan tempat di hati Luciana lagi.


            “Kupikir selama ini Aleyna adalah putriku karena beberapa rumor yang sering kudengar.”


            “Yahh, itu hanya rumor. Banyak orang yang memang menyebarkan rumor palsu ketika mereka melihatku menggendong Aleyna pasca perceraian kita. Tapi percayalah jika semua rumor itu tidak benar. Aleyna adalah putri dari klienku yang telah meninggal karena bunuh diri.”


            “Ya, aku percaya. Maafkan aku Luciana.”


            Rein terlihat begitu menyesal dan juga merasa bersalah dengan kebodohannya hari ini. Seharusnya ia memang mencari tahu terlebihdahulu mengenai rumor itu sebelum memutuskan untuk mendatangi rumah Luciana. Sekarang percuma saja ia menyesali semuanya karena ia sudah terlanjur mempermalukan dirinya sendiri di depan Luciana, terlebih lagi Aaron. Pria itu saat ini tengah menyeringai puas dengan wajah seolah-olah sedang mengejeknya. Pria itu jelas sangat bahagia di atas penderitaanya.


            “Kudengar kalian telah bercerai, apa itu benar?”


            Entah mendapatkan keberanian darimana, tiba-tiba Rein memutuskan untuk mengangkat topik sensitif itu di depan Luciana dan Aaron. Ia sepertinya ingin melakukan balas dendam pada Aaron yang sejak tadi terlihat bahagia di atas penderitaanya.


            “Benar, kami telah bercerai sejak beberapa bulan yang lalu. Kira-kira sekitar tujuh bulan yang lalu.” jawab Aaron mantap tanpa keraguan. Rein terlihat berpura-pura terkejut di depan Luciana sambil menunjukan wajah simpatinya. Namun dibalik itu ia terlihat senang karena ia berhasil membuat kedudukannya dengan Aaron menjadi


seimbang.


            “Oh maafkan aku, aku tidak tahu. Semoga Tuhan selalu memberi kebahagiaan untukmu Luciana, meskipun kau sedang memiliki banyak masalah seperti saat ini.”


            Luciana tersenyum kaku mengiyakan ucapan Rein sambil menggerutu dalam  hati karena pria itu bukannya sedang bersimpati padanya, tapi lebih seperti sedang mengejek kehidupannya yang terlihat menyedihkan pasca bercerai dengan kedua mantan suaminya. Namun ia juga tidak bisa menyalahkan Rein terlalu jauh karena kehidupannya memang seperti ini. Dan bahkan Rein bukanlah orang pertama yang menatapnya dengan tatapan bersimpati palsu yang sangat menyebalkan. Sebelumnya ia telah menerima tatapan jenis itu dari orang-orang munafik di luar sana yang berpura-pura memberikan simpati padanya atas semua hal yang menimpanya selama ini.


            “Tentu saja Luciana akan selalu bahagia, karena aku sendiri yang akan memastikan Luciana bahagia. Meskipun kami telah bercerai, aku tidak akan pernah membuat Luciana sedih dan mengecewakannya. Aku akan terus berada di sisinya untuk mendukungnya apapun yang terjadi.” ucap Aaron berapi-api. Aura permusuhan yang begitu kental kembali menguar di udara hingga membuat Luciana sesak. Ia sebenarnya benci


melihat kedua mantan suaminya bertingkah kekanakan di depannya. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apapun untuk meredakan ketegangan yang terjadi diantara keduanya. Saat ini ia justru memikirkan Aleyna dan juga Joey yang mungkin sedang berada di kamarnya untuk mengambil kemejanya yang ia simpan di dalam lemarinya. Namun sejak tadi kedua orang itu tidak nampak batang hidungnya. Bahkan Aleyna yang sering mengacau dengan suara teriakannya yang nyaring juga tak terdengar suaranya. Kemana perginya mereka berdua? Batin Luciana sambil melirik pintu kamarnya di lantai dua.


            Rein melihat Luciana sejak tadi hanya diam sanbil mencuri-curi pandang kearah lantai dua. Ia tahu jika Luciana mulai tidak nyaman dengan pembicaraan mereka dan ingin segera mengakhiri semua ini. Sehingga ia memutuskan untuk berpamitan pada Luciana karena ia tidak ingin mengusik kehidupan Luciana lebih jauh lagi. Meskipun ia sebenarnya sangat ingin memberikan pembalasan pada Aaron atas sikap tak bersahabatnya selama Luciana mengklarifikasi masalah status Aleyna, tapi ia tidak akan memperpanjang masalah itu lagi. Kali ini ia akan mengalah dan benar-benar merelakan Luciana untuk bahagia dengan kehidupannya sendiri. Sekarang ia sadar jika ia memang sudah kehilangan Luciana untuk selama-lamanya.


            “Sepertinya aku harus pulang sekarang, Yeon Ju menungguku di rumah untuk acara makan malam keluarga bersama.” Ucap Rein berbohong. Tentu saja tidak pernah ada acara makan malam keluarga seperti yang sering ia lakukan di dalam drama-drama yang ia bintangi. Kehidupan rumah tangganya adalah kehidupan rumah tangga palsu yang jauh dari kata kekeluargaan. Setiap hari ia menghabiskan hidupnya secara individualis tanpa pernah peduli pada Yeon Ju. Hanya sesekali ia terlihat peduli pada Yeon Ju sebagai formalitas, selebihnya ia lebih suka menenggelamkan diri dengan urusannya sendiri.


            “Oh, kalau begitu hati-hati. Maaf untuk semua kejadian yang tidak mengenakan hari ini.”


            “Itu bukan masalah, aku yang seharusnya meminta maaf padamu karena telah mendesakkmu untuk mengatakan jika Aleyna adalah putriku. Sekali lagi maafkan aku.”


            Rein bangkit berdiri, menatap Luciana dengan wajah penyesalan, lalu ia segera berlalu pergi dari rumah Luciana dengan langkah berat. Kini pria itu merasa kesempatannya untuk menjalin hubungan lagi bersama Luciana telah hilang. Setelah adanya kejadian ini, ia tidak akan memiliki keberanian lagi untuk bertemu Luciana. Ia terlalu malu untuk menghadapi Luciana yang selama ini telah ia sakiti dengan sangat dalam.


            “Huh, dasar pria tak tahu malu.”


            Aaron berdecak kesal di ambang pintu ketika mobil yang membawa Rein melintas di depan rumah Luciana dengan kaca jendela yang tertutup rapat. Luciana yang mengetahui kekesalan Aaron sejak tadi hanya dapat menhela napas pendek sambil membereskan sisa cangkir minuman yang telah kosong di atas meja. Wanita itu lantas berjalan menuju dapur untuk mencari keberadaan Joey dan Aleyna yang tidak terdengar suaranya sejak tadi.


            “Aku senang akhirnya kau berani memberikan ketegasan pada Rein keparat itu.”


            “Aaron, jangan berkata seperti itu. Aleyna bisa mendengarnya.” peringat Luciana tajam sambil mencuci cangkir serta peralatan dapur bekas ia membuat kue bersama Aleyna.


            “Maaf, tapi aku  merasa jengah dengannya. Pria


tak tahu malu itu masih bisa-bisanya menganggap Aleyna sebagai putrinya setelah apa yang ia lakukan padamu dulu. Apa ia tidak memiliki urat malu di wajahnya, seenaknya saja mengklaim Aleyna sebagai putrinya. Untung kau memiliki bukti-bukti itu untuk membungkam mulut lebarnya.” ucap Aaron berapi-api. Dari tempatnya berdiri, Luciana hanya mampu memutar bola matanya malas sambil tetap berkutat pada peralatan dapurnya yang sedang ia cuci. Ia malas menanggapi Aaron yang sedang dalam mode kesal seperti itu, karena pasti apa yang mereka bahas


tidak akan menemukan titik terang atau justru semakin panjang dan berakhir rumit.


            “Sepertinya aku harus kembali sekarang, ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan. Ngomong-ngomong dimana Aleyna dan Joey? Sejak tadi aku tidak melihat keberadaan mereka.” Tanya Aaron yang mulai menyadari ketidak munculan Joey dan Aleyna. Luciana mengedikan bahunya tidak tahu pada Aaron sambil melirik kearah lantai dua yang terlihat sepi.


            “Mungkin mereka sedang bermain di atas.”


            “Apa ia pernah menginap di sini? Kenapa menyuruhnya untuk mengambil pakaiannya di lemarimu.”


            Aaron yang sebelumnya telah melupakan pertanyaan itu, tiba-tiba mengingatnya lagi dan mulai menyeringai kearah Luciana untuk mengorek informasi itu lebih lanjut pada Luciana yang wajahnya seketika berubah menjadi kaku.


            “Apa kau gila? Aku tidak mungkin mengijinkan pria asing menginap di rumahku. Lagipula saat itu aku hanya meminjamkan pakaianmu karena kemejanya basah kuyup ketika ia datang untuk melakukan sesi konseling.” bohong Luciana gugup. Aaron yang menemukan adanya banyak kejanggalan dari kalimat Luciana justru semakin


bersemangat untuk memojokan Luciana dan membuat Luciana semakin mati kutu dengan pertanyaan jebakannya.


            “Kau melakukan konseling di rumah?”


            “Hah aa apa? Itu bukan seperti yang kau pikirkan. Aku melakukannya karena aku menyesuaikan jadwalnya yang sangat sibuk. Lagipula ia adalah klienku, jadi aku harus mengusahakan berbagai macam cara agar aku tetap bisa membantunya mencari jalan keluar dari masalah yang sedang ia hadapi. Sudahlah Aaron, jangan memojokanku seperti itu. Pertanyaanmu seolah-olah kau sedang mencurigaiku telah melakukan sesuatu dengan Joey.”


            “Kenapa kau marah? Bukankah aku hanya sekedar bertanya?” tanya Aaron santai. Luciana mulai terlihat kesal dengan arah pembicaraan mereka dan berharap dalam hati agar Aaron segera pergi dari rumahnya agar ia tidak perlu menahan-nahan kekesalannya lagi pada pria itu.


            “Pulanglah Aaron, ini sudah malam. Bukankah kau masih memiliki banyak pekerjaan?”


            Aaron menaikan alisanya sekilas dan memutuskan untuk segera pulang karena pengusiran


terang-terangan yang Luciana  berikan padanya. Wanita itu sepertinya benar-benar tersinggung karena ia menuduhnya memiliki hubungan khusus dengan Joey. Tapi bagaimana mungkin ia tidak curiga jika hubungan yang terjalin diantara Luciana dan Joey tidak seperti hubungan antara klien dan konselor seperti pada umumnya.


            “Baiklah aku akan pulang, jaga dirimu baik-baik.”


            Setelah berpamitan, Aaron segera pergi dari dapur Luciana dan meninggalkan Luciana sendiri di sana yang masih sibuk memikirkan berbagai kejadian tak terduga yang menimpanya hari ini. Dimulai dari kedatangan Joey, Aaron, dan Rein yang tak terduga. Lalu dilanjutkan dengan pengklarifikasian masalah status Aleyna. Kemudian ucapan Aaron yang sangat menyebalkan hingga membuatnya terpaksa mengusir pria itu pergi dari rumahnya. Dan... dan entahlah. Luciana tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini padanya dan Joey karena ia masih memiliki satu pekerjaan lagi untuk melakukan pengetesan pada Joey menggunakan kartu-kartu. Sudah saatnya ia mengorek semua masalah Joey lebih dalam dan lebih serius agar masalah yang dialami Joey segera terselesaikan.


            “Aleyna... Kau dimana nak?”


            Luciana perlahan-lahan menaiki tangga di rumahnya sambil memanggil-manggil nama Aleyna untuk memastikan dimana keberadaan gadis kecil itu. Namun setelah cukup lama ia memanggil-manggil nama putrinya, gadis kecil itu tak kunjung menjawab panggilannya. Sejak tadi ia hanya disuguhi dengan suasana sepi yang begitu


kental di rumahnya tanpa mendengar sedikitpun suara celotehan Aleyna yang biasanya berisik.

__ADS_1


            “Aley....”


            “Sshhuuhh... Jangan berisik, ia sedang tidur.”


            Luciana menatap tak percaya pemandangan yang tersaji di atas tempat tidurnya yang berisi Aleyna dan Joey. Kedua manusia itu rupanya sejak tadi sedang bergelung hangat di bawah selimut dengan nyamannya tanpa peduli pada dirinya yang mengalami kerepotan di bawah karena harus menenangkan dua pria yang saling mengobarkan api kebencian.


            “Sejak kapan kau berada di sana? Kenapa kau tidur di kamarku?” tanya Luciana kesal. Ia dengan kasar menggeser turun kaki Joey dan membuat kedua kaki pria itu sekarang terjulur begitu saja di atas lantai.


            “Aku lelah, aku tidak jadi mengambil kemejaku, aku meminjam kaos ini.”


            Joey menunjuk kaos hitam yang dikenakannya lalu mulai bangkit berdiri dari ranjang Luciana yang nyaman.


            “Apa dua pengganggu itu sudah pergi? Kapan kita akan melakukan sesi konseling?”


            “Sudah, mereka baru saja pulang. Ayo turun, aku akan melakukan beberapa tes kecil padamu.” Ucap Luciana sambil berjalan pergi keluar dari kamarnya. Joey lantas mengekori Luciana di belakangnya sambil merapikan rambutnya yang berantakan setelah tertidur cukup lama di ranjang Luciana. Awalnya ia tidak berniat untuk tidur. Ia hanya iseng menemani Aleyna yang sedang mewarnai buku gambarnya di atas ranjang Luciana. Lalu entah kenapa tiba-tiba saja ia sudah tertidur bersama Aleyna di sana. Mungkin karena efek lelah yang menderanya sejak tadi. Ia baru saja kembali dari Itali, tapi bukannya pulang ke mansionnya, ia justru memilih untuk datang ke rumah Luciana. Sekarang ia merasa malas untuk tinggal di mansionnya karena ia selalu merasa sendiri dan kesepian. Berbeda jika ia berada di rumah Luciana yang selalu merasa nyaman karena di sini ia bisa berdebat dengan Luciana atau bermain main bersama Aleyna yang menggemaskan. Selain itu, ia juga ingin melupakan bayang-bayang Jihyun dari kepalanya karena wanita itu entah sejak kapan telah membuatnya merasa muak dan kehilangan rasa sayangnya pada wanita itu perlahan-lahan.


            “Duduklah, kau bisa minum tehmu dulu sebelum melakukan tes kecil ini.” ucap Luciana sambil


membawa setumpuk kartu yang tidak jelas gambarnya. Wanita itu seperti sedang menyembunyikan gambar-gambar itu sambil sesekali melirik Joey yang juga sedang meliriknya dengan raut wajah kebingungan.


            “Itu kartu apa? Kau ingin berperan sebagai cenayang yang ingin meramalku dengan kartu-kartu mistismu itu?” Tanya Joey mulai menyebalkan. Luciana mendelik sebal kearah Joey lalu meminta Joey untuk segera menyelesaikan kegiatan minum tehnya yang terasa lambat.


            “Jangan banyak bertanya dan lakukan apa yang kuperintahkan. Ini semua juga untuk masalah-masalah rumitmu agar aku segera terbebas dari klien menyusahkan sepertimu.” Ucap Luciana kesal. Mendengar itu Joey langsung meletakan cangkir tehnya pelan sambil menatap Luciana tajam.


            “Jadi kau tidak suka dengan kehadiranku di sini? Apa aku sangat menyusahkanmu?”


            “Eh, kenapa kau menjadi serius seperti itu? Aku tidak bermaksud menganggapmu sebagai


pria yang menyusahkan. Hanya saja kedatanganmu ke sini membuat beberapa orang berspekulasi negatif tentang hubungan kita. Aaron, Jihoo, dan beberapa orang di sekitar rumahku mulai mencurigai hubungan kita. Padahal kita tidak pernah melakukan apapun selain melakukan sesi konseling.” ucap Luciana tergelak. Membicarakan jalan pikiran Jihoo dan Aaron yang mencurigai hubungannya dan Joey membuatnya merasa geli dan ingin menertawakan pikiran konyol mereka. Tapi hal itu rupanya tidak dianggap lucu oleh Joey karena pria itu saat ini justru sedang menatapnya dengan serius.


            “Lalu apa yang kau rasakan selama bersamaku?”


            Joey mencondongkan tubuhnya mendekati Luciana dan mengunci kedua mata rusa itu sungguh-sungguh dengan kedua mata sendunya yang memancarkan ketegasan. Hal itu membuat Luciana seketika merasa gugup. Ia tidak terbiasa mendapatkan tatapan tajam dari seorang pria seintens itu. Apalagi posisi Joey saat ini benar-benar


berbahaya. Pria itu tengah memenjaranya dengan kedua tangannya yang kokoh.


            “Mmi


minggir, jangan melakukan hal-hal aneh sesuka hatimu, aku adalah konselormu.” Ucap Luciana gugup. Ia mencoba menghindari tatapan tajam Joey yang begitu menusuk kedalam matanya. Sayangnya hal itu tidak bisa ia lakukan karena Joey seperti sudah bisa membaca pikirannya dan ia telah melakukan antisipasi untuk hal itu.


            “Kau tahu, aku sebenarnya merasa nyaman di sini. Bersamamu dan Aleyna, aku bisa melupakan rasa kesepianku. Tapi jika kau menganggap aku adalah pengganggu dan hanya bisa menyusahkanmu, maka aku tidak akan datang lagi lain waktu. Mungkin ini adalah yang terakhir.” ucap Joey sendu. Pria itu kemudian kembali ke


tempatnya dan meninggalkan Luciana dengan rasa bersalah yang menyesakan hatinya. Wanita itu sebenarnya tidak bermaksud untuk membuat Joey seperti itu. Sejujurnya ia tidak keberatan dengan adanya Joey di rumahnya daripada pria itu mengacau tidak jelas di bar seperti beberapa hari yang lalu. Kalimat candaannya mungkin terlalu dianggap serius oleh Joey atau mungkin karena pria itu sedang sensitif malam ini. Entahlah, ia tidak tahu.


            “Bukan begitu. Aku juga senang kau berada di sini, itu lebih baik daripada kau membuat kekacauan di luar sana dan semakin menyusahkan banyak orang. Hanya saja...”


            “Mudah bagimu untuk mengatakannya, tapi sangat sulit untuk dilakukan. Kau tahu, hati wanita lebih sensitif dari pria. Wanita tidak bisa hanya menganggap semua itu sebagai angin lalu dan tetap pada kesenangan mereka. Pada akhirnya mereka akan terus memikirkannya dan mencoba untuk tampil lebih sempurna di hadapan orang-orang yang membicarakannya. Meskipun sebenarnya itu semua hanya keterpaksaan.”


            “Cih, itu munafik.” Cibir Joey kejam. Luciana menghela napas pendek dan memilih untuk tidak melanjutkan topik pembahasan mereka. Percuma saja ia menjelaskan semua hal itu pada Joey jika kenyataanya mereka berdiri di titik yang berbeda. Ia tidak bisa mengabaikan begitu saja ucapan orang-orang. Ia bukan tipe wanita acuh tak acuh yang tidak peka pada lingkungan. Ia sangat peka pada lingkungan. Oleh karena itu ia merasa harus selalu tampil sempurna di hadapan semua orang yang menyukainya maupun yang tidak menyukainya.


            “Besok malam perusahaanku mengadakan pesta untuk merayakan ulangtahun perusahaan. Datanglah bersamaku, aku akan menjemputmu.”


            Tiba-tiba Joey bersuara disaat Luciana sedang menyiapkan kartu-kartunya untuk melakukan tes kecil pada Joey. Wanita itu untuk sesaat sedikit melongo tidak percaya sambil menatap Joey menuntut penjelasan.


            “Aku tidak memiliki pasangan.”


            “Lalu kau ingin mengajakku untuk menjadi pasanganmu? Yang benar saja, kau ingin aku dihujat lagi karena telah merebut suami dari seorang super model? Aku tidak mau membuat skandal denganmu. Aku tidak mau kehidupan tenangku terusik karena ulahmu.”


            “Kau tega melihat klienmu menderita? Apa yang akan mereka katakan jika CEO pemilik maskapai penerbangan terlihat sendiri di acara ulangtahun perusahaannya? Aku bisa saja memperkenalkanmu sebagai rekan kerjaku atau sepupu jauhku di depan seluruh tamu-tamu undangan yang hadir. Jadi aku tidak menerima penolakan. Suka atau tidak suka, kau harus hadir untuk menemaniku. Aku akan menjemputmu besok pukul enam.”


           “Ya Tuhan, aku belum menyiapkan apapun. Kau tahu, aku tidak memiliki gaun yang pantas untuk digunakan di acara berkelas seperti itu. Apalagi di sana aku harus mendampingimu sebagai rekan kerja dari seorang CEO ternama, Joey Lee, apa yang akan orang-orang katakan tentang penampilanku yang tidak sebanding denganmu.” dengus Luciana frustrasi. Pada akhirnya wanita itu tetap tidak bisa menolak permintaan Joey yang begitu menuntut dan memaksa.


            “Kenapa kau selalu saja memikirkan perkataan orang lain? Seharusnya seorang konselor tidak memiliki sikap rendah diri sepertimu. Apa yang dikatakan Aaron benar, kau itu terlalu menilai rendah dirimu sendiri padahal kau memiliki banyak kelebihan yang tidak pernah kau sadari selama ini. Lihatlah, kau memiliki wajah yang cantik, kau menarik, dan kau juga memiliki bibir seksi yang menggairahkan.”


            Joey menangkup pipi Luciana dan lagi-lagi membuat Luciana gugup. Pria itu sejak tadi benar-benar telah membuat Luciana merasa seperti seorang remaja ingusan yang sedang dimabuk asmara karena sikapnya yang terus membuatnya melambung dengan berbagai pujian ataupun kata-kata menyebalkan namun sebenarnya berisi nasihat agar ia tidak perlu mempedulikan tanggapan orang-orang mengenai dirinya. Jika pria itu terus memperlakukannya seperti ini ia bisa-bisa kehilangan orientasinya sebagai konselor. Ia akan dengan mudah berbelok dari kode etik yang mengikatnya selama ini.


            “Menggairahkan? Apa kau sedang mabuk? Lepaskan tanganmu dari wajahku!” ucap Luciana pura-pura galak untuk menutupi kegugupannya. Ia pun segera mendorong tubuh Joey keras ke belakang dan membuat punggung pria itu otomatis membentur sandaran sofa dengan bunyi “bug” yang terdengar cukup nyaring di tengah tengah ruangan yang sepi itu.


            “Nah, sekarang kau lihat kartu ini. Jadi aku memiliki beberapa kartu yang perlu kau lihat lalu kau ceritakan bagaimana awal dari gambar yang sedang kau lihat saat ini, lalu bagaimana cerita dari gambar itu, dan bagaimana akhirnya. Kuharap kau bisa menceritakannya dengan serius, karena ini tidak sekedar bermain-main, tapi ini untuk mengetes beberapa hal dari dalam dirimu. Apa kau paham dengan instruksinya?”


            “Hmm ya, aku paham. Hanya saja aku merasa ini terlalu kekanakan. Apa kau pikir aku adalah Aleyna yang harus mengarang sebuah cerita dari selembar kartu? Yang benar saja Im! Kau membuat harga diriku turun.” Keluh Joey menyebalkan. Luciana rasanya ingin memukul kepala pria itu dengan bantal sofa yang tergolek cantik di sebelahnya. Kenapa rasanya sulit sekali membuat pria itu mau mematuhi perintahnya dan tidak terlalu banyak bicara seperti ini?


            “Terserah apa katamu, tapi sekarang mulailah untuk mengarang sebuah cerita dari gambar ini karena aku tidak menerima banyak protes.” Ucap Luciana meniru gaya Joey yang arogan. Akhirnya Joey mau tidak mau harus mengerahkan seluruh imajinasinya untuk membuat sebuah jalan cerita dari sebuah gambar yang bentuknya saja sebenarnya sangat abstrak dan sulit dikenali sebagai sebuah gambar.


            “Itu gambar seorang anak laki-laki yang merasa kesepian.”


            “Hmm, apa yang terjadi padanya sebelum ia berada di sana?” tanya Luciana serius sambil mengamati ekspresi wajah Joey yang mulai berubah setelah melihat gambar pertama yang diberikannya.


            “Dia... baru saja ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Ia ditinggalkan oleh orangtuanya, dan seluruh teman-temannya. Lalu ia memutuskan untuk duduk di sana, bertopang dagu sambil memikirkan semua kesalahan yang membuatnya ditingglkan begitu saja. Padahal selama ini ia merasa telah menjadi anak yang baik, namun orang lain justru meninggalkannya sendiri seperti itu. Jadi ia kemudian mengambil kesimpulan jika selama ini sebenarnya ia belum benar-benar menjadi anak yang baik. Ia masih memiliki banyak kekurangan dalam hidupnya hingga ia berakhir seperti itu. Ditinggalkan dan diacuhkan, meskipun ia telah mengorbankan banyak hal untuk kebahagiaan orang lain.”


            “Kira-kira berapa usia anak laki-laki ini?”


            “Mungkin sembilan atau sepuluh tahun.” Jawab Joey sambil mengernyitkan dahinya. Pria itu seperti sedang melihat seseorang yang sangat ia kenal dari dalam diri laki-laki kecil di kartu milik Luciana. Seseorang seperti Joey kecil yang juga pernah ditinggalkan.


            “Baiklah, kita lanjutkan ke kartu berikutnya.”


            Luciana kemudian mengeluarkan sebuah kartu yang gambarnya tidak terlalu jelas, kartu itu memiliki banyak goresan hitam dan hanya sedikit sekali goresan putih yang tercetak di kartu itu, yang membentuk sebuah pola tertentu sebagai kunci dari gambar kartu itu yang sesungguhnya.

__ADS_1


            “Kau tahu ini gambar apa?”


            “Sebenarnya tidak terlalu jelas. Terlalu banyak bayangan hitam di kartu ini. Tapi menurutku ini adalah gambar jendela dan seseorang yang ingin melompat dari jendela.”


            “Hmm, kira-kira siapa orang yang kau sebutkan itu? Nama, jenis kelamin, dan usianya?”


            “Aku harus memberinya nama juga? Kenapa kau tidak sekalian saja memberiku sebuah boneka seperti milik Aleyna agar aku juga punya teman khayalan seperti Aleyna.” dengus Joey malas. Pria itu sebenarnya mulai jengah dengan bentuk tes yang diberikan Luciana karena wanita itu seperti sedang mengorek masa lalunya dengan berbagai gambar aneh yang merangsang pikirannya untuk mengingat masa lalunya yang menyedihkan.


            “Ceritakan saja bagaimana gambar ini dari sudut pandanganmu. Bagaimana awalnya hal ini bisa terjadi dan bagaimana akhirnya.” Ucap Luciana jengkel.


            “Ck, menyebalkan! Jadi ini adalah gambar seorang pria dewasa, berusia sekitar dua puluh puluh empat tahun yang ingin melompat dari jendela kamarnya untuk mengakhiri hidupnya. Pria ini merasa frustrasi dengan kehidupannya yang terlalu rumit dan membosankan, yang selalu menuntutnya untuk melakukan banyak pekerjaan hingga ia merasa lelah. Tapi disaat ia akan melompat ke bawah, ia teringat pada sahabat baiknya, pada segelintir orang yang masih menyayanginya. Pria itu mengingat semuanya dan merasa begitu bersalah dengan mereka semua karena selama ini sebenarnya ia masih memiliki banyak dukungan. Ia masih memiliki beberapa orang yang tetap mempedulikannya. Dengan ia melakukan bunuh diri, ia akan mengecewakan mereka semua yang telah memberinya dukungan hingga sejauh ini. Jadi akhirnya ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya untuk melakukan bunuh diri dan kembali kepada rutinitasnya. Kembali pada kesibukannya yang padat demi membalas kebaikan orang-orang yang telah mendukungnya selama ini. Lagipula pada akhirnya pria itu juga bersyukur dengan keputusannya saat itu yang membatalkan niatnya untuk melakukan bunuh diri karena disaat usianya menginjak tiga puluh tahun, ia bertemu dengan seseorang yang bisa menariknya dari keterpurukan.”


            “Hmm menarik, ternyata kau bisa mengimajinasikan gambar ini dengan sangat baik. Aku bangga padamu. Secara tidak langsung kau telah membuktikan padaku jika kau memang benar-benar CEO yang cerdas.” ucap Luciana sambil terkekeh pelan. Joey mendengus pelan dengan ejekan yang dilontarkan Luciana padanya. Jadi selama ini wanita itu tidak menganggapnya sebagai pria cerdas, melainkan hanya pria kaya manja yang terlalu sensitif dan juga rumit dengan berbagai macam rintangan yang menghadang jalannya.


            “Baiklah, kita akan melanjutkan ke gambar berikutnya.”


            “Sebenarnya ada berapa kartu lagi?”


            “Tidak banyak, hanya tersisa beberapa kartu lagi. Nah, ini gambar apa?”


            “Itu... gambar pemakaman.” Ucap Joey pelan dengan mimik wajah yang berubah mendung. Pria itu mengamati gambar di kartu itu dengan seksama dan ia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memulai ceritanya daripada dua kartu sebelumnya.


            “Seorang pria dengan wajah penuh penyesalan berdiri sendiri di tengah makam yang kosong dan sepi. Pria itu menatap batu nisan di depanya yang di permukaannya tertulis nama kedua orangtuanya. Itu... itu adalah makam milik kedua orangtuanya. Jadi pria itu baru saja kehilangan kedua orangtuanya dan ia sangat sedih dengan kematian kedua orangtuanya. Ia merasa belum bisa menghandle semua kehidupannya sendiri, dan tiba-tiba kedua orangtuanya pergi. Ia kemudian berdiri di sana untuk merenungi semuanya. Semua kehidupannya selama ini yang terlalu mudah hingga ia tumbuh menjadi seorang pria manja yang terlalu bergantung pada orang lain. Tapi kemudian ia bertekad pada dirinya sendiri bahwa ia akan berubah. Ia akan merubah kehidupannya dan membuat kedua orangtuanya bangga padanya dan dapat beristirahat dengan tenang di surga. Luciana, sebenarnya untuk apa semua gambar ini? Bisa kau jelaskan padaku?” tanya Joey serius. Luciana menarik mundur kartu ke tiga yang diberikan pada Joey, kemudian ia justru memberikan kartu selanjutnya tanpa menjawab pertanyaan Joey sebelumnya.


            “Ceritakan gambar berikutnya.”


            “Ck!”


            Joey berdecak kesal. Ia menatap Luciana sekilas dengan tatapan gusarnya, lalu ia segera menceritakan hasil imajinasinya terkait gambar ke empat yang diberikan Luciana padanya. Dalam hati ia bersumpah, ia tidak akan melepaskan Luciana setelah gambar keempat ini diberikan padanya. Ia juga akan menarik wanita itu kedalam ceritanya.


            “Ini gambar seorang pria, dengan seorang wanita yang sedang tertidur pulas di belakangnya. Pria itu merasa menyesal karena ia tidak bisa menyentuh wanita yang sedang tertidur di belakangnya. Ia tidak memiliki gairah untuk wanita itu karena berbagai hal yang telah mereka lewatkan selama ini. Sebaliknya, pria itu justru memiliki gairah pada wanita lain dan ingin menjadikan wanita itu menjadi miliknya. Jadi di sini ia merasa aneh dengan dirinya, ia yang seharusnya merasa menyesal karena telah kehilangan perasaanya untuk wanita itu, tapi justru merasakan sebaliknya. Ia tidak lagi menyesal seperti sebelumnya, ia merasa baik-baik saja dengan hal itu, dan ia kemudian memiliki ambisi yang besar untuk menarik wanita lain agar berada lebih dekat dengannya. Karena tanpa ia sadari wanita lain itu telah memberikan kenyamanan tersendiri untuknya.” akhir Joey dengan aura misterius. Pria itu menatap Luciana dengan tatapan tajam dan lagi-lagi membuat gerakan tiba-tiba untuk menyudutkan Luciana di kursinya.


            “Kau sengaja memberikan kartu itu untuk mengorek kehidupan ranjangku bersama Jihyun?”


            “Hah, apa? Darimana kau mendapatkan pikiran seperti itu? Aku hanya menyuruhmu untuk berimajinasi dengan semua kartu itu. Aku tidak pernah mengatakan ingin mengorek kehidupan pribadimu.” kilah Luciana tidak terima. Wanita itu balas menatap tajam Joey, namun pada akhirnya ia merasa gagal karena ia justru merasa terintimidasi dibawah tatapan setajam elang yang dimiliki oleh Joey.


            “Sebenarnya Luciana... daripada bergairah pada Jihyun, aku justru merasa bergairah padamu.”


            Luciana mematung di tempat, syok dengan apa yang baru saja didengarnya dari bibir penuh dusta milik Joey. Pria itu baru saja mengatakan bergairah padanya, itu berarti ia sedang dalam bahaya. Posisi mereka saat ini sangat beresiko untuk menghantarkannya ke arah hal-hal negatif yang seharusnya segera ia hindari sebelum semuanya terlambat.


            “Jangan bermain-main denganku Joey, sekarang kembali ke tempatmu dan kita lanjutkan sesi terapi kita malam ini.” peringat Luciana dengan suara bergetar. Sebenarnya ia takut dengan sisi kelam Joey yang sangat mengerikan saat ini, namun ia berusaha berani agar pria itu tidak bisa mempermainkannya sesuka hatinya.


            “Aku tidak bermain-main Luciana, aku serius. Sejak aku melihat bibirmu ketika aku mabuk, aku mulai memikirkanmu di dalam kepalaku. Setiap detik hidupku, tidak pernah aku melewatkannya dengan berbagai fantasi liar tentangmu.”


            Kali ini Joey mulai bertindak lebih jauh dengan menyentuh ujung bibir Luciana dengan ibu jarinya lalu mendekatkan bibirnya tepat di depan bibir Luciana sambil menyeringai licik kearah Luciana yang sedang mematung di tempat.


            “Rileks, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku masih memiliki kontrol diri yang bagus. Lagipula bibir ini tidak akan terasa nikmat dan hanya akan terasa seperti bongkahan es jika kau hanya terdiam kaku seperti ini. Bicaralah Luciana, katakan sesuatu tentang perasaanmu selama ini.”


            Seketika otak Luciana merasa buntu. Ia tidak bisa mempertahankan kewarasannya lebih lama jika Joey terus bersikap menggoda seperti itu. Terlebih lagi ia juga tidak bisa menyimpulkan perasaanya saat ini dengan pasti. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan sebenarnya ketika Joey hadir di hidupnya, yang jelas ia merasa kehidupannya lebih berwarna semenjak Joey masuk kedalam kehidupannya. Pria itu memberika warna baru dengan berbagai hal konyol atau perdebatan sengit yang sering pria itu ciptakan untuk menambah perasaan dekat diantara mereka. Namun ia tidak bisa menyimpulkan jenis perasaan apa yang ia miliki untuk Joey.


            “Aku tidak tahu. Tapi aku sadar jika kau berbeda dari yang lainnya. Aku...”


Cup


Luciana terdiam kaku di tempat ketika Joey benar-benar mengecup bibirnya dengan lumatan kecil yang terasa menggetarkan hatinya. Pria itu membuat seluruh kulitnya meremang geli dengan setiap sentuhan yang pria itu berikan padanya. Apalagi gerakan ciuman Joey yang halus, tanpa sadar membuat Luciana ikut bergerak mengikuti alunan bibir Joey yang semakin lama semakin menggiringnya untuk bermain dengan tempo cepat.


            “Bagaimana? Aku tidak berbohong bukan. Aku merasakan gairah ini padamu Luciana.”


            “Joey, aku adalah konselormu, aku terapismu, kau tidak seharusnya seperti ini padaku. Aku akan mengajukan orang lain untuk menangani masalahmu setelah ini, aku tidak bisa melanjutkannya karena ini akan merusak kode etik profesiku.”


            “Jadi kau memilih lari? Huh, pengecut.” cibir Joey tajam. Pria itu menatap manik mata Luciana dalam lalu memberikan satu kecupan lagi di sudut bibir Luciana dengan lebih singkat.


            “Kau memilih untuk lari begitu saja daripada menghadapinya? Lalu untuk apa kau menjadi konselor jika kau tidak berani untuk menghadapi setiap rintangan yang ada? Itu sungguh memalukan.”


            “Tapi ini berbeda.” ucap Luciana lirih sambil meremas kartu-kartunya dengan perasaan gamang. Sekarang ia justru ikut terseret kedalam kehidupan Joey yang rumit, yang penuh dengan berbagai intrik. Ia harus segera mencari jalan keluar atau semuanya akan berakhir buruk untuk karirnya dan juga masa depannya.


            “Berbeda dari yang lainnya? Tentu saja berbeda, karena kami membawa karakter kami masing-masing. Dan kau juga harus ingat jika setiap manusia itu diciptakan unik, jadi kau tidak akan pernah menemukan kesamaan diantara kami.”


            “Lebih baik kita lanjutkan saja ke kartu berikutnya karena ini adalah kartu terakhir. Bukankah kau lelah, kau bisa segera pulang setelah ini.”


            Joey bersandar dengan gaya kesal di kursinya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


            “Cepat berikan kartu berikutnya karena aku mulai muak dengan permainan kartu ini. Jika kau memang tidak mau membangunkan sisi lain dari diriku, seharusnya kau juga tidak memancingnya Im Luciana.”


            “Nah, menurutmu gambar apa ini? Ceritakan padaku.”


            Tanpa menghiraukan kalimat Joey, Luciana segera memberikan kartu berikutnya yang harus diceritakan oleh Joey padanya.


            “Itu adalah gambar seorang pria bertopi yang sedang menunggu seseorang di bawah lampu jalan dengan gelisah. Pria itu baru saja menyatakan perasaanya dan ia sedang menunggu seorang wanita untuk menyambut ajakannya, namun wanita itu tidak memberikan jawaban yang jelas pada pria itu. Ia tidak menolaknya, namun juga tidak menerimanya. Jadi pria itu memutuskan untuk terus menunggu di sana dengan ketidakpastian hingga wanita itu datang untuk menyambut ajakannya.” Cerita Joey cepat dengan tatapan tajam yang terus menghunus kearah Luciana. Namun Luciana pura-pura mengabaikannya dengan bermain-main dengan sisa kartu yang digenggamnya. Ia sadar jika cerita yang baru saja dikisahkan Joey adalah cerita mereka. Dan ia secara tidak langsung telah mengarahkan pria itu untuk menceritakan kisah mereka dengan adanya insiden yang mengejutkan beberapa saat yang lalu. Kartu terakhir yang ia berikan jelas tidak valid untuk mengukur sejauh mana kepribadian Joey selama ini. Namun satu hal yang ia tangkap dari cerita pria itu, bahwa ia sangat mengharapkannya menyambut ajakannya. Ajakan untuk melakukan sesuatu yang menyimpang!


            “Baiklah, ini sudah selesai. Kau boleh pulang. Hasilnya akan kuberikan lusa di kantorku. Ahh... ini hari yang melelahkan.”


            Luciana bangkit berdiri dari duduknya dan perlahan-lahan mulai berjalan menjauh menghindari Joey sambil berpura-pura baik-baik saja. Ia merentangkan tangannya ke udara tinggi-tinggi dan mulai melakukan gerakan perenggangan untuk melenturkan tubuhnya yang kaku. Dan disaat ia sedang asik melakukan perenggangan, tiba tiba Joey muncul di belakangnya dan merangkul pinggangnya dengan posesif.


            “Aku akan menjemputmu besok pukul enam, aku tidak menerima penolakan.”


            Pria itu kemudian memberikan satu kecupan basah di pipi Luciana sebelum berjalan pergi, keluar dari rumah Luciana, meninggalkan Luciana sendiri dengan kebimbangan hatinya yang membingungkan.

__ADS_1


__ADS_2