
Satu bulan berlalu dengan cepat. Yuna kini telah kembali menjadi dokter jiwa di rumah sakit tempatnya bekerja, dan ia juga sudah memulai kehidupannya seperti biasa. Ia sekarang memutuskan untuk tinggal di apartemen bersama Changmin untuk menghilangkan seluruh traumanya pada Yunho. Namun meskipun begitu, ia tetap tidak bisa menghapus Yunho dari otaknya karena pria itu sudah terlalu dalam masuk ke dalam pikirannya.
“Yuna, aku membawakan makan siang untukmu.”
Changmin tersenyum sumringah kearah Yuna dan langsung meletakan bungkusan plastik yang berisi makanan kesukaan Yuna di atas meja.
“Terimakasih oppa, ayo kita makan bersama.”
Yuna dan Changmin lantas duduk saling berhadapan untuk menyantap menu makan siang yang sangat menggugah selera. Namun semenjak kejadian itu, keceriaan Yuna sedikit berkurang. Entah kenapa Changmin merasa Yunanya telah berubah. Ia bukan lagi Yuna yang ia kenal dulu, wanita itu sudah banyak kehilangan cahaya di hidupnya yang suram.
“Ada yang sedang kau pikirkan?”
“Aaa ah.. tidak, aku tidak memikirkan apa-apa.” kilah Yuna gelagapan. Ia tersenyum masam kearah Changmin, lalu kembali melanjutkan makan siangnya yang tertunda. Namun meskipun saat ini ia sedang menyantap makanan kesukaanya, ia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
“Ooya, hari ini sidang hukuman untuk Kim Yunho akan diadakan pukul satu siang, kau ingin ke sana?”
“Oh tidak, aku tidak mau bertemu dengannya lagi.” jawab Yuna lirih sambil tersenyum getir. Pengalamannya hidup selama dua bulan bersama Yunho ternyata tidak hilang begitu saja. Ia ingat setiap detail kehidupannya bersama pria itu, bahkan ia juga masih ingat bagaimana sentuhan Yunho selama mereka tinggal bersama. Itu sungguh pengalaman yang cukup mengganggu, tapi entah kenapa ia tidak bisa melupakannya. Bersama Yunho selama dua bulan membuatnya tahu bagaimana sifat pria itu yang sesungguhnya. Yunho sebenarnya adalah pria yang baik, tapi takdir yang terlalu kejam padanya.
“Emm.. oppa, apa kau akan kembali bertugas ke luar kota?” tanya Yuna tiba-tiba. Changmin yang sedang memakan makanannya dengan lahap lantas mendongak kearah Yuna sambil tersenyum lembut pada istrinya.
“Mungkin nanti. Aku mengambil cuti selama satu bulan ke depan, aku akan terus menemanimu sayang.”
“Wahh... kau yakin? Kau tidak akan bosan? Kurasa kau akan mati kebosanan karena tidak memiliki pekerjaan.” canda Yuna. Ia tahu bagaimana sikap Changmin selama ini yang selalu gila kerja. Pria itu pasti tidak akan betah berada di rumah terus menerus tanpa ada kesibukan.
“Kenapa aku harus bosan? Bukankah aku memilikimu? Mulai sekarang aku akan selalu berada di sampingmu. Aku janji.” ucap Changmin bersungguh-sungguh sambil menggenggam tangan Yuna erat. Wanita
itu tersenyum lembut kearah Changmin sambil menggumamkan terimakasih yang cukup lirih pada pria itu. Namun ia merasa hatinya tidak berdesir saat bersama Changmin, justru saat ini ia sedang memikirkan Yunho yang sedang meringkuk sendirian di dalam penjara.
“Sayang, bagaimana jika waktu satu bulan ke depan kita gunakan untuk melakukan program bayi, aku ingin memiliki anak darimu.” ucap Changmin hati-hati. Yuna tiba-tiba saja merasa seluruh oksigennya terkuras habis dan membuatnya tidak bisa bernapas. Memiliki anak dari Changmin rasanya... ia belum memikirkan hal itu. Masih banyak urusan yang harus ia selesaikan sebelum ia benar-benar mantap bersama Changmin. Bahkan saat inipun hatinya masih risau dengan dugaanya yang belum tentu benar mengenai keadaan dirinya yang sepertinya tidak baik-baik saja.
“Eee... oppa...”
Yuna tak kuasa melanjutkan kalimatnya ketika melihat wajah Changmin yang memelas di depannya. Ia tahu Changmin sangat mencintainya, tapi perasaanya untuk pria itu masih kosong.
“Kumohon Yuna, aku sudah bersabar terlalu lama.”
“Bb baiklah, akan kucoba.” ucap Yuna berat sambil menelan ludahnya pahit. Ini sungguh janji yang akan sulit untuk ia penuhi. Ia takut nantinya Changmin akan terluka dengan kenyataan pahit yang sebentar lagi akan menamparnya.
“Aku tidak melihat kau bahagia bersama Changmin.” komentar Luciana ketika ia sedang meneguk minumannya karena haus. Mendengarkan cerita Yuna yang begitu seru membuat tenggorokannya terasa kering dan ingin segera dipuaskan. Oh Ya Tuhan, bahkan tak terasa ia telah duduk di sana selama dua jam bersama Sehun dan Yuna.
“Aku bimbang saat itu.” jawab Yuna santai. “Kupikir hidupku akan kembali tenang setelah aku kembali ke pelukan Changmin oppa, tapi ternyata aku salah.”
“Lalu?” tanya Luciana lagi ingin tahu. Sungguh ia tidak bisa berhenti mendengarkan cerita Yuna hingga ia mendapatkan akhir yang ia inginkan. “Jika sekarang kau bersama Yunho, maka kau pasti masih memiliki cerita yang lainnya kan?”
“Biarkan ia membasahi tenggorokannya yang kering dulu, Lucine. Kau jadi yang paling bersemangat sekarang.” Sehun terkekeh melihat ekspresi Luciana yang sudah seperti seekor anjing yang begitu menginginkan tulang dari majikannya.
“Dia memotong-motong ceritanya di bagian yang sangat seru.” tunjuk Luciana kearah Yuna dengan wajah sebal. “Ia seperti menggantungku dengan cerita-ceritanya.” keluh Luciana frustrasi. Ia bersumpah tidak akan bisa tidur dengan nyenyak malam ini jika Yuna tidak menyelesaikan ceritanya segera.
“Jadi Lucine.” Yuna menatap Luciana dalam. “Aku pada akhirnya merasa tidak bahagia dengan Changmin oppa. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya jika aku mengidap sindorm stokholm? Jadi seperti itulah keadaanku. Aku justru merisaukan Yunho yang sedang diadili di penjara daripada memikirkan Changmin oppa yang terus mengiba cinta dariku.”
“Oh...” gumam Luciana kecil. “Itu sungguh buruk.” Tanpa sadar Luciana telah meremas jari-jarinya sendiri karena terlalu gemas dengan cerita Yuna.
“Pada akhirnya aku harus menjatuhkan pilihan yang sulit saat itu.”
-00-
Pukul satu persidangan untuk Yunho telah dimulai. Dengan ditemani dua orang opsir polisi di sisi kanan kirinya, Yunho didudukan di atas kursi terdakwa yang berhadapan langsung dengan sang hakim. Dengan wajah datarnya, Yunho menatap hakim itu sekilas dan tampak tak peduli dengan hukuman apapun yang akan ia terima. Baginya hukuman apapun tidak jadi masalah karena hidupnya sudah tak berarti lagi. Ia sekarang hanyalah cangkang kosong tanpa nyawa setelah kepergian Yuna yang direnggut paksa darinya. Tak lama setelah ia duduk, hakim mulai membacakan pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan Yunho selama ini, sesuai dengan apa yang dilakukan oleh penuntut, Shim Changmin.
“Apa kau benar telah memperkosa gadis berusia sepuluh tahun yang bernama Kim Yuna?”
“Ya benar.” jawab Yunho singkat. Tak ada lagi yang perlu ia tutup-tutupi. Bahkan puluhan kamera wartawan yang membidik wajahnya sama sekali tak ia pedulikan. Toh ia memang pernah melakukannya dan ia tidak malu dengan itu semua. Justru ia merasa bangga karena hingga saat ini ia adalah pria satu-satunya untuk Yuna.
“Apa benar kau telah menculik Kim Yuna selama dua bulan?”
“Ya benar.”
__ADS_1
“Kenapa kau melakukannya tuan Kim Yunho?”
“Karena aku mencintainya.”
Satu jawaban itu membuat orang-orang yang hadir dan juga wartawan berbisik-bisik heboh. Pasalnya alasan Yunho itu terdengar mengharukan, namun perilaku yang dilakukan Yunho adalah perilaku yang salah.
“Apa yang selama ini kau lakukan
selama di Bristol?”
“Hidup seperti manusia pada umumnya.” jawab Yunho apa adanya. Kedua mata pria itu sama sekali tak bergairah dan ia tampak malas dengan semua pertanyaan bertele-tele yang diucapkan oleh sang hakim.
“Hakim, bisakah kau langsung menjatuhi hukuman untukku? Aku bosan.” ucap Yunho datar.
“Baiklah, atas semua kejahatanmu kau mendapatkan hukuman penjara selama sepuluh tahun.”
Tok tok tok
Suara palu yang diketuk tiga kali menandakan jika hukuman untuk Yunho telah ditetapkan. Pria itu lantas dibawa opsir polisi untuk keluar dari ruang sidang yang sangat menyesakan itu. Dan saat ia melewati pintu keluar, tak sengaja kedua matanya bertatapan dengan iris karamel milik Yuna yang sedang menatapnya penuh kesedihan. Wanita itu berdiri di tengah-tengah kerumunan wartawan sambil menahan buliran air mata yang sebentar lagi akan jatuh membasahi kedua pipinya.
“Yuna...” Yunho bergumam pelan ketika melewati Yuna sambil menyunggingkan senyum tulus yang baru kali ini dilihat Yuna. Pria itu terlihat pasrah saat dua opsir iru menyeretnya menuju mobil tahanan. Namun kedua matanya sama sekali tak bisa lepas dari Yuna hingga ia benar-benar masuk ke dalam mobil dan opsir itu menutup pintunya rapat-rapat.
-00-
Yuna terpaku di tempat sambil menatap kepergian Yunho bersama polisi-polisi itu. Sejujurnya siang ini ia
tidak berencana untuk mendatangi pengadilan dan melihat prosesi persidangan Yunho. Tapi entah kenapa langkah kakinya justru membawanya ke sini dan membuatnya harus berdesak-desakan dengan banyaknya manusia yang ingin melihat proses persidangan pewaris Pentagon Corp.
Tes
Tak terasa bulir-bulir bening itu mulai menetes membasahi kedua pipinya yang putih. Ia tidak tega melihat Yunho diperlakukan seperti itu. Meskipun pria itu memang harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, tapi ia benar-benar tak kuasa menahan kesedihannya kala pria itu lewat dan menggumamkan namanya sambil tersenyum tulus kepadanya. Andai waktu dapat diulang, ia tidak ingin semua ini terjadi. Seharusnya saat itu ia
tidak nekad mengambil kasus Yunho untuk ditangani agar sisi gila pria itu tidak membuat kacau hidupnya maupun kehidupan pria itu. Tapi... semuanya telah terjadi. Percuma saja ia menyesalinya. Dan sekarang ia justru terperangkap di dalam permainan yang Yunho ciptakan untuknya. Tanpa sadar ia telah mencintai pria itu hingga sekarang hatinya terasa sakit saat pria itu pergi.
Yuna lantas memejamkan matanya, mencoba memanggil semua ingatannya saat ia berperan sebagai Yuna di Bristol. Ia merindukan saat-saat itu. Ia merindukan Yunho yang lembut, dan Yunho yang selalu menjadi tempatnya bersandar kapanpun ia membutuhkan sandaran.
Yunho... apa kau mencintaiku?
Kau menyebalkan!
Yunho... jangan pergi...
Yunho, apa suatu saat kita akan menikah dan memiliki anak?
Yunho.....
Yunho.... Aku mencintaimu....
Yunho... maafkan aku......
“Kau membutuhkan ini.” Luciana menyodorkan selembar tisu untuk Yuna yang tiba-tiba meneteskan air mata.
“Bukankah aku cengeng?” tanya Yuna dengan kekehan. Ia segera mengusap air matanya yang turun di pipinya sambil sesekali tertawa aneh kearah Sehun dan Luciana. “Tiap kali mengingatnya, aku pasti akan seperti ini. Seperti seluruh emosiku tersedot keluar dan rasanya hatiku selalu sakit karena ingatan itu.”
“Tidak apa-apa. Itu wajar.” hibur Luciana mencoba menenangkan Yuna. “Perjalanan cintamu tidak mudah, Yuna. Sudah pasti kau akan merasakan emosi yang meluap-luap seperti ini. Aku bahkan bangga padamu.” tambah Luciana penuh kekaguman.
“Yunho beruntung karena memilikimu, Kim.” ucap Sehun sambil menepuk pundak Yuna beberapa kali.
“Kurasa aku yang beruntung karena memilikinya.”
“Memangnya ada apa dengannya?”
“Karena ia dapat menyembuhkan traumaku dengan sangat baik. Kehadirannya di hidupku membuat semua mimpi buruk itu hilang dan membuatku dapat merasakan kehidupan yang sesungguhnya tanpa bayangan monster dari kepalaku.”
“Jadi, butuh berapa lama untuk kalian agar dapat bersatu seperti saat ini?”
__ADS_1
“Lima tahun.” jawab Yuna singkat. “Lima tahun yang panjang itu akhirnya terbayar dengan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.”
“Appa!!”
Gadis kecil itu berlari lucu kearah seorang pria yang baru saja melangkah keluar dari pintu penjara. Dengan menggunakan seragam orange yang mencolok, pria itu merentangkan tangannya lebar sambil tersenyum sumringah pada putri kecilnya yang cantik.
“Mirae-ah... appa merindukanmu, bagaimana kabarmu nak?”
“Hmm... kabar Mirae baik, Mirae juga merindukan appa.”
“Dimana eommamu?” tanya Yunho sambil mencari-cari keberadaan Yuna. Tak biasanya wanita itu mengijinkan Mirae masuk sendiri ke dalam ruang tahanannya. Meskipun di sini banyak polisi yang berjaga, tapi itu sama sekali bukan gaya Yuna.
“Menunggu di taman.” jawab Mirae polos. Yunho lantas berjalan keluar menuju taman sambil menggendong Mirae yang cerewet. Gadis itu memang sangat mirip dengan Yuna kecil yang menggemaskan. Ia merasa beruntung telah mendapatkan kesempatan dari Yuna untuk menjadi ayah Mirae sembari merenungkan kesalahannya di penjara.
“Eomma....”
Yuna melambai kecil pada putri kecilnya sambil menata makanan yang ia bawa di atas karpet. Ini adalah hari minggu, dan ia ingin menghabiskan waktunya pagi ini untuk berpiknik bersama keluarga kecilnya di taman. Meskipun itu adalah taman penjara.
“Ayo duduk...”
“Wow... tumben kau menyiapkan semua ini.” komentar Yunho takjub. Yuna tersenyum sumringah dengan hasil masakannya hari ini lalu menurunkan Mirae dari gendongan Yunho.
“Ini semua untukmu dan untuk merayakan ulang tahun Mirae yang ke empat.”
“Ahh... maaf aku tidak bisa hadir kemarin.”
“Tidak apa-apa. Seharusnya Changmin oppa memang tidak perlu berlebihan dengan membuatkan pesta perayaan yang meriah untuk Mirae. Oh... dan juga Hyukjae, ia benar-benar gila. Apa kau tahu jika Mirae baru saja mendapatkan apartemen mewah dari Hyukjae. Ck, dia memang paman yang berlebihan.”
Yunho terkekeh mendengar cerita dari Yuna sambil meminum jus jeruk yang diberikan Yuna padanya. Lee Hyukjae memang seperti itu. Meskipun terkadang ia tampak aneh, namun sebenarnya ia memiliki hati yang baik.
“Bagaimana kabar Changmin sekarang, apa ia telah bertunangan dengan kekasihnya?”
“Belum...” Yuna mendesah berat sambil menata makanan yang ia bawa ke dalam piring-piring kecil.
“Ia benar-benar keras kepala dan menyebalkan. Aku bahkan sudah berulang kali mengingatkannya untuk segera mengikat Victoria, tapi selalu saja ada alasan untuk menolaknya. Entah apa yang ia tunggu, mungkin ia masih takut dengan kegagalan rumah tangga kami.” jawab Yuna apa adanya.
Sekarang tak ada lagi beban yang menggelayuti pundak mereka. Sejak Mirae lahir ke dunia, semua permasalahan itu perlahan-lahan mulai menghilang satu persatu. Dan meskipun saat ini mereka tampak seperti keluarga bahagia yang manis, percayalah jika pada awalnya mereka melaluinya dengan banyak rintangan. Dimulai dari kekecewaan Changmin dan kemarahan kedua orangtua Yuna karena ia justru memilih untuk bercerai dari Changmin setelah ia dinyatakan hamil oleh dokter. Setelah itu dengan bodohnya ia justru berlari menuju tahanan negara dan menangis tersedu-sedu di depan Yunho sambil memohon-mohon pada pria itu untuk kembali
bersamanya. Konyol memang, dan mungkin terkesan ***** karena wanita baik-baik seperti Yuna justru memilih untuk bersanding bersama pria gila seperti Kim Yunho. Tapi begitulah cinta. Cinta itu mengaburkan kesalahan yang seolah-olah tampak seperti kebanaran.
“Yuna, hukumanku akan berakhir satu
bulan lagi.”
“Benarkah? Ohhh selamat oppa, aku senang mendengarnya.” Yuna langsung memeluk Yunho erat dan memberikan satu kecupan ringan di pipi pria itu. Ini sungguh berita yang luar biasa membahagiakan untuknya.
“Aku mendapatkan penguranganan masa tahanan dan Hyukjae juga membayar beberapa dollar untuk menebusku keluar.” beritahu Yunho dengan gaya ponggah. Hingga saat ini ia masih mendapatkan pemasukan dari sahamnya yang dikelola Hyukjae. Jadi wajar saja jika Hyukjae melakukan hal itu.
“Ck, kalian orang-orang kaya yang sombong.” decak Yuna kesal. Tapi dibalik wajah mencibir Yuna tersembunyi kebahagiaan yang begitu besar. Akhirnya setelah sekian lama ia berjuang sendiri, kini Yunho benar-benar akan berdiri di sampingnya dan melindungi keluarga kecil mereka.
“Kita akan segera menikah, Yuna. Aku pasti akan segera melakukannya setelah aku keluar dari penjara.”
“Aku tahu, kau pasti akan segera menikahiku. Ngomong-ngomong terimakasih atas kejutan ini, aku sangat terharu.”
Yuna menyeka sedikit air matanya yang menggenang di pelupuk mata sambil menatap Yunho dengan senyum bahagia yang manis. Melihat itu Yunho lantas menarik tangannya dan langsung menyandarkan kepalanya pada pundaknya.
“Kau tahu Yuna, aku terkadang masih tidak mempercayai ini semua.” ucap Yunho sambil menatap ke langit, menerawang masa lalunya yang rumit dan penuh kegilaan. Tapi ia tidak pernah menyesal dengan semua kegilaan yang pernah dilakukannya karena dengan begitu sekarang ia bisa mendapatkan Yuna.
“Kenapa?”
“Rasanya seperti mimpi kau tahu. Aku ini pria brengsek, gila, dan pembunuh. Kenapa kau ingin bertahan bersamaku hmm?”
“Hahahaha...” Yuna tertawa hambar menanggapi pertanyaan Yunho. Jika pria itu mengungkit-ungkit masa lalu mereka, ia merasa jika dirinya memang benar-benar bodoh. Dan sialnya pria itu yang telah membuatnya menjadi seperti ini. Terlalu banyak kenangan yang tak bisa ia lupakan dari Yunho, membuatnya memilih untuk hidup bersama Yunho. Lagipula ia juga merasa iba pada Changmin jika ia tetap mempertahankan pernikahan mereka karena kenyataannya ia hanyalah seorang wanita kotor yang pernah dijamah oleh pria lain. Jadi ia memang lebih baik kembali bersama Yunho dan menerima semua kekurangan pria itu.
“Aku masih menunggu jawabanmu Yuna.” geram Yunho kesal.
__ADS_1
“Kenapa? Kau bertanya kenapa aku ingin bertahan bersamamu? Hmm... tentu saja karena kita memiliki Mirae. Sudahlah jangan bahas lagi masa lalu kita yang rumit itu, aku hanya ingin kebahagiaan sekarang. Cheers!”
Yuna mengangkat tinggi-tinggi gelas jusnya dan mengajak Yunho bersulang untuk kebahagiaan mereka yang akan segera datang. Tak peduli serumit apapun hubungan mereka di masa lalu, yang penting saat ini mereka telah bahagia dengan kehidupan mereka yang manis.