
Tokk tokk tokk tokk tokk tokk
Keesokan paginya Luciana terbangun dengan perasaan kesal dengan serentetan bunyi ketukan pintu yang sangat kasar dan tidak sabaran. Dengan malas, wanita muda itu berjalan kearah pintu utama di rumahnya, lalu mulai membuka pintu kayu itu cepat-cepat dalam satu kali tarikan tanpa melihat dulu siapa si pengetuk yang telah mengganggu paginya yang indah ini.
“Miss Jessica?”
Luciana terkejut melihat Jessica yang saat ini sedang berdiri di depannya dengan wajah panik yang sangat kentara di setiap inci wajahnya. Wanita berambut blonde tanpa permisi segera menerobos masuk kedalam rumah Luciana lalu terduduk dengan frustrasi di atas sofa putih Luciana sebelum sang empunya rumah mempersilahkan untuk duduk. Luciana yang melihat ketidaksopanan Jessica hanya mampu menatapnya kesal sambil tetap menunjukan wajah malaikatnya di depan wanita berambut pirang itu.
“Ada apa miss Jessica?” tanya Luciana lembut. Hal itu sangat berbanding terbalik dengan suasana hatinya saat ini yang sangat ingin memaki-maki Jessica karena ketidaksopanannya yang mengganggu itu.
“Nyonya Im, maafkan aku. Aku mungkin tidak sopan. Oh tidak, aku memang sangat tidak sopan. Tapi ini benar-benar gawat nyonya. Bahkan aku sendiri sampai bingung, harus memulainya darimana untuk menjelaskannya pada anda.”
“Tenang. Tarik napas, lalu hembuskan pelan-pelan. Aku akan mengambilkan air minum untukmu sebentar.”
Jessica mulai mengatur deru napasnya pelan-pelan sesuai yang telah diinstruksikan oleh Luciana. Mengebut pagi-pagi untuk pergi ke rumah Luciana, memang telah membawa pengaruh buruk pada emosinya. Bahkan sekarang ia merasa kakinya masih gemetar karena efek dari kepanikannya tadi pagi yang benar-benar tidak bisa ia kontrol. Pagi ini ia mendapatkan telepon dari asisten rumah tangganya di New York jika ibunya dirawat di rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh. Mendengar kabar itu, Jessica tiba-tiba menjadi panik dan juga takut di saat bersamaan. Sudah lama penyakit jantung ibunya tidak lagi kambuh. Namun secara tiba-tiba hari ini
penyakit ibunya itu kambuh. Ia takut semua ini ada hubungannya dengan sang cucu yang belum bisa ia bawa ke Amerika. Jessica memerlukan proses untuk menjalin kedekatan dengan Aleyna sebelum membawa gadis kecil itu menemui ibunya. Lagipula ia juga harus meminta ijin pada Luciana secara baik-baik, karena bagaimanapun Aleyna saat ini masih berstatus sebagai putri angkat Luciana yang telah memiliki surat-surat resmi dari negara sebagai buktinya. Jadi ia tidak bisa seenaknya mengambil Aleyna dari Luciana, lalu meminta Aleyna untuk mengikuti alur hidupnya di Amerika. Anak kecil jelas tidak bisa diperlakukan seperti itu!
“Minumlah miss Jessica.”
Luciana memberikan segelas jus jeruk yang terlihat begitu menggiurkan dan langsung diteguk Jessica hingga tandas. Setelah menyelesaikan minumnya, Jessica langsung menatap Luciana dalam dan tanpa diduga wanita itu langsung berlutut di depan Luciana sambil menggenggam tangan Luciana penuh permohonan.
“Ijinkan aku membawa Aleyna ke Amerika. Kumohon nyonya Im, ibuku sakit dan sepertinya ini lebih parah dari sebelumnya. Ibuku menderita penyakit jantung sejak tiga tahun yang lalu. Tolong aku nyonya Im.”
Luciana menatap Jessica kosong dan tampak tak merespon apapun. Wanita itu masih syok dengan permintaan Jessica yang sangat tiba-tiba ini. Semalam padahal ia baru membicarakan ini pada Aaron, dan mereka belum menemukan titik terang apapun terkait masalah ini. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Dalam hatinya ia jelas tidak rela membiarkan Aleyna pergi bersama bibinya dan meninggalkan dirinya sendiri di sendiri dengan keterpurukan. Namun ia juga tidak boleh egois, nenek Aleyna mungkin saat ini lebih membutuhkan kehadiran cucunya yang belum pernah ditemuinya selama ini. Jadi apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia tidak tahu!
“Nyonya... nyonya Luciana, aku mohon. Ijinkan aku untuk membawa Aleyna, aku janji akan mengembalikan Aleyna lagi pada anda karena aku sadar jika Aleyna tidak bisa kurenggut begitu saja anda. Kau tetaplah ibu Aleyna setelah kakak iparku meninggal.”
Luciana merasakan tangannya terus digenggam erat oleh Jessica, namun hingga sejauh ini responnya masih sama, datar, dan tak terbaca. Ia belum bisa memutuskan apakah ia akan mengijinkan Aleyna pergi bersama bibinya atau tidak. Ia sangat takut kehilangan Aleyna.
“Miss Jessica?”
Tiba-tiba dari arah dapur, Aleyna muncul sambil membawa gelas susunya yang masih berisi penuh dengan susu. Gadis kecil itu terlihat baru saja bangun, dan saat ini ia sedang melakukan rutinitas paginya untuk meminum susu sebelum berangkat ke sekolah.
“Aleyna, selamat pagi sayang.” Ucap Jessica sambil melambai kaku kearah Aleyna. Wanita itu kemudian sedikit melirik Luciana yang masih setia mematung di tempat dengan ekspresi wajah yang sama sekali tak bisa dibaca. Ia kemudian melepaskan genggaman tangannya dari Luciana dan mulai menjauh untuk kembali duduk di tempatnya semula.
“Aleyna, kemarilah nak.”
Luciana dengan lembut memanggil Aleyna untuk mendekat, namun raut wajahnya masih menunjukan kekakuan yang membuat Jessica merasa takut untuk menatapnya.
“Ada apa eomma? Kenapa miss Jessica di sini? Apa miss Jessica akan berangkat ke sekolah bersamaku?” tanya Aleyna dengan mata bulatnya yang selalu terlihat menggemaskan saat gadis kecil itu sedang bertanya.
“Miss Jessica ke sini memang untuk menjemput Aleyna. Sayang, apa kau ingin bertemu dengan nenekmu?” tanya Luciana lembut sambil mengelus surai panjang Aleyna. Meskipun sangat berat untuk mengatakannya, namun Luciana telah bertekad untuk mengalah. Hitung-hitung ini sebagai penebusan kesalahannya karena telah merenggut seorang suami dari istrinya.
“Tentu saja Aleyna mau. Aleyna ingin seperti teman-teman yang memiliki nenek.” jawab Aleyna dengan antusias. Luciana meneguk ludahnya sedikit berat dan merasa sakit ketika tenggorokannya terasa tercekat hingga ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya selanjutnya.
“Kalau begitu ikutlah bersama miss Jessica untuk bertemu nenek.”
“Nyonya...”
Jessica merasa terharu dan tidak percaya dengan kalimat yang baru saja dilontarkan Luciana pada Aleyna. Ia pikir Luciana tidak akan pernah mengijinkan Aleyna pergi ke Amerika bersamanya, tapi ternyata, wanita itu dengan seluruh kemurahan hatinya bersedia untuk memberikan kesempatan padanya, pada ibunya untuk bertemu dengan anggota keluarga mereka yang selama ini telah mereka abaikan keberadaanya.
“Jadi miss Jessica mengenal nenek Aleyna? Tapi apa eomma tidak ikut?”
“Eomma memiliki banyak pekerjaan di sini, jadi miss Jessica yang akan mengantarmu untuk bertemu dengan nenek. Apa Aleyna mau?”
“Aleyna mau!!! Aleyna sangat ingin bertemu nenek. Tapi bagaimana jika Aleyna merindukan eomma?” tanya Aleyna sedih. Luciana lalu mengelus puncak kepala Aleyna lembut dan mengecupnya lama penuh perasaan. Bulir-bulir air mata yang sejak tadi ia sembunyikan tak kuasa ia tahan ketika ia mendekat Aleyna hangat dan merasa ini seperti pertemuan terakhirnya dengan Aleyna. Kali ini ia benar-benar harus kuat untuk merelakan Aleyna untuk bertemu dengan keluarganya. Ia tidak boleh egois.
“Di sana ada miss Jessica, jadi Aleyna bisa menghungi eomma jika Aleyna merindukan eomma.”
“Kalau begitu Aleyna mau bertemu dengan nenek. Kapan Aleyna akan pergi bertemu nenek?”
“Besok sayang. Besok pagi Aleyna akan pergi bertemu nenek dengan miss Jessica.” jawab Luciana lembut sambil menyeka bulir-bulir air matanya yang telah menetes di pipinya. Jessica yang melihat itu langsung menggenggema tangan Luciana erat dan membisikan beribu-ribu terimakasih pada Luciana karena wanita itu begitu baik dan bersedia mengijinkan Aleyna untuk bertemu dengan ibunya di Amerika.
“Terimakasih banyak nyonya. Aku janji, aku akan segera membawa Aleyna pulang setelah urusan kami di sana selesai.”
“Hmm... aku percaya padamu miss Jessica. Tolong rawat Aleyna dengan baik selama berada di sana. Dan semoga ibumu lekas sembuh.” ucap Luciana tulus. Wanita berambut blonde itu langsung memeluk Luciana erat dan lagi-lagi mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan Luciana dan ketulusan hati Luciana padanya. Ia merasa begitu berhutang banyak hal pada wanita itu. Selain karena Luciana telah mengijinkan Aleyna untuk ikut dengannya, ia juga berhutang budi pada Luciana karena wanita itu selama ini telah merawat keponakannya dengan baik.
-00-
Prangg!
“Sial!”
Joey melempar asal ponsel hitamnya hingga hancur berkeping-keping di lantai ruang kerjanya. Sejak tiga hari yang lalu ia terus mencoba menghubungi Luciana, namun hasilnya selalu nihil. Luciana tidak pernah mengangkat satupun panggilannya kecuali panggilannya dua hari yang lalu saat wanita itu menyuruhnya untuk
kembali pada Jihyun. Rasanya ia sangat marah dan ingin melampiaskan semua amarahnya pada wanita itu. Seenaknya saja Luciana menyuruhnya untuk kembali pada Jihyun setelah apa yang telah mereka lakukan selama ini. Bahkan saat ia mendatangi kantornyapun, ia selalu tidak pernah bertemu dengan Luciana. Asistennya yang
brengsek itu selalu menghalanginya untuk masuk kedalam ruangan Luciana dengan alasan jika Luciana sedang melakukan sesi konseling bersama seorang klien. Dan semalan saat ia mendatangi rumah Luciana, ia justru disuguhkan dengan pemandangan paling menjijikan yang pernah ia lihat selama hidupnya. Ia melihat Luciana
__ADS_1
sedang berpelukan dengan Aaron. Wanita itu dengan mesranya memeluk Aaron sambil bergelung di dalam dada bidang pria itu dengan nyaman. Ia sungguh tidak bisa menerima hal itu. Sayangnya semalam ia memutuskan untuk langsung pergi karena ia tidak mau membuat keributan di rumah Luciana. Cukup sekali ia membuat Luciana
dalam masalah karena sikapnya saat di bar beberapa minggu yang lalu. Namun akibat dari semua itu, semalam ia tidak bisa tidur dan ia terus merasa uring-uringan hingga ia menolak untuk bertemu dengan Jihyun karena membuatnya justru semakin muak pada wanita itu.
“Sayang, apa kau tidak lelah seharian berada di sini? Hari ini kau juga tidak berangkat ke kantor. Apa kau sedang memiliki masalah?”
Jihyun tiba-tiba masuk kedalam ruang kerjanya sambil membawa secangkir kopi hitam kesukaan Joey. Saat melihat serpihan ponsel milik Joey di lantai ruang kerja suaminya, wanita itu mengernyit heran lalu memungut benda tak berbentuk itu sambil memberikan tatapan penuh tanya pada suaminya.
“Kenapa kau membuang ponselmu oppa? Ada apa? Akhir-akhir ini kulihat kau terus uring-uringan dan seperti sedang menyimpan banyak masalah. Ceritakan padaku, hmm?”
Jihyun meletakan cangkir kopinya di atas meja Joey, lalu ia berjalan kearah Joey sambil membelai punggung pria itu menggoda hingga turun ke dada bidang Joey yang tiba-tiba menegang karena sentuhan Jihyun.
“Pergilah Jihyun, aku sedang tidak ingin bermain-main. Hari ini pekerjaanku sangat banyak. Kau lihat tumpukan berkas-berkas itu, mereka harus selesai kuperiksa malam ini.” ucap Joey gusar sambil menyingkirkan tangan wanita itu dari dadanya. Namun Jihyun seperti tak kehilangan akal. Wanita itu dengan gerakan berani justru mendudukan dirinya di atas paha Joey dan mengalungkan kedua tangannya dengan mesra di leher Joey hingga Joey tanpa sadar menggeram gusar karena sikap menjijikan Jihyun. Apalagi melihat bagaimana Jihyun berpakaian
saat ini, rasanya istrinya itu benar-benar terlihat seperti jalang yang sering ia temui di bar.
“Menyingkir dari pahaku dan gantilah pakaianmu dengan pakaian yang lebih pantas Lee Jihyun. Apa kau tidak malu berkeliaran di dalam rumah dengan gaun tipis transparan seperti itu? Kau terlihat seperti jalang.” ucap Joey tajam. Jihyun yang melihat kemarahan Joey tidak main-main, segera turun dari pangkuan Joey sambil
membrengut kesal. Sejak mereka menikah, ini adalah kali pertamanya Joey memarahinya dengan kata-kata kasar seperti itu. Selama ini Joey tidak pernah sekalipun membentaknya, dan selalu memberikan banyak cinta untuknya. Namun sejak ia kembali dari New York, ia merasa Joey sedikit berubah. Pria itu tidak lagi menatapnya dengan tatapan memuja seperti dulu. Joey juga terkesan lebih dingin padanya, terutama jika ia mengajak Joey untuk melakukan hubungan suami istri, pria itu selalu menolak. Dan malam ini adalah penolakan Joey yang ke lima kalinya. Sejak ia pulang dari New York, ia telah melakukan berbagai macam hal untuk menggoda Joey. Tapi pada akhirnya ia justru akan merasakan sakit hati karena Joey selalu menolaknya dengan sikap kasarnya.
“Oppa... Kau berubah. Sekarang kau lebih dingin dan tidak pernah menyentuhku lagi. Apa aku tidak menarik lagi?” tanya Jihyun kekanakan sambil merangkul pundak Joey. Pria itu hanya mengabaikan sikap istrinya dan tetap fokus pada pekerjaanya yang menumpuk. Ia benar-benar harus menyelesaikan semua berkas-berkas itu malam ini karena hari-hari sebelumnya ia tidak bisa berkonsentrasi dan hanya memikirkan Luciana di kepalanya.
“Tidurlah di kamar, jangan menggangguku.” Usir Joey tegas tanpa menatap wajah Jihyun yang masih bergelayut di lengannya. Wanita keras kepala itu lalu berdecak sebal di sebelah Joey sambil menghempaskan tangan Joey begitu saja dengan kasar.
“Kau pasti telah bermain-main di belakangku oppa. Kau pasti telah berselingkuh di belakangku selama aku pergi ke New York! Ayo katakan saja oppa, jujur padaku. Kau seperti ini karena memiliki wanita simpanan bukan?” tanya Jihyun penuh emosi. Seketika sikap kekanakan Jihyun yang dibumbui dengan sikap egoisnya mendadak muncul hingga Joey merasa muak. Selama ini ia selalu bersabar dengan sikap Jihyun yang semena-mena itu tanpa pernah melakukan apapun untuk membela harga dirinya. Namun sekarang ia tidak bisa lagi seperti itu. Ia adalah seorang pria. Dan seperti yang dikatakan oleh Luciana, ia harus bersikap berani di hadapan istrinya agar wanita itu tidak semakin menginjak-injak harga dirinya.
Brakk!
Joey menggebrak meja di depannya dengan gusar, lalu ia menyeret lengan Jihyun kasar menuju sofa dan menghempaskan tubuh wanita itu di sana. Suara debuman yang keras dan suara rintihan Jihyun yang memilukan terdengar begitu nyaring di dalam ruangan yang senyap itu, namun Joey sama sekali tidak peduli dan ia
justru mencengkeram kedua sisi pipi Jihyun kasar sambil mendekatkan wajah marahnya pada wajah Jihyun yang ketakutan.
“Apa ini yang kau inginkan? Kau ingin aku menyentuhmu bukan? Hah, jawab aku!” teriak Joey murka. Jihyun terlihat mendelik ketakutan di depan Joey sambil menyeka bulir-bulir air matanya yang tampak bergumul di pelupuk matanya. Ia tidak menyangka Joey akan semarah itu hanya karena ia berteriak-teriak berisik menyuarakan pendapatnya pada pria itu. Mungkin ia memang keterlaluan, tapi seharusnya Joey tidak perlu semarah itu. Bukankah ia tidak bersungguh-sungguh mengatakannya? Ia hanya bercanda dan ingin pria itu memperhatikannya seperti
dulu.
“Oppa lepaskan! Ini sakit.” teriak Jihyun parau. Namun Joey sama sekali tak berniat untuk melepaskan cengkeraman tangannya di rahang Jihyun yang terlihat memerah. Sesekali wanita itu perlu diberi pelajaran agar tidak bersikap semena-mena padanya. Sudah cukup selama ini harga dirinya diinjak-injak oleh wanita itu secara tidak terhormat, seolah-olah ia adalah seorang pelayan yang tidak berharga.
“Aku tidak suka kau berteriak di depanku Jihyun ssi. Aku adalah suamimu, sudah sepantasnya kau menghormatku dan melayaniku, bukan aku yang selalu mengikuti seluruh kemauanmu yang tidak ada habisnya itu. Sejujurnya saat ini kau sudah sangat muak dengan sikapmu yang manja dan pemaksa itu. Sekarang pergi, dan
jangan ganggu aku.”
Joey menghempaskan rahang Jihyun dengan kasar, diikuti dengan suara rintihan tertahan Jihyun yang memilukan karena rahangnya yang terasa remuk akibat cengkeram tangan Joey yang kasar. Setelah Joey pergi dari atas tubuhnya, Jihyun perlahan-lahan langsung beringsut mundur, pergi dari sofa yang sebelumnya digunakan Joey untuk menghempaskannya. Wanita itu kemudian berdiri cukup jauh dari tempat Joey saat ini yang sedang memeriksa sisa-sisa berkasnya yang harus ia selesaikan sambil menatap wajah pria itu tajam.
“Jadi kau masih tidak menyadari kesalahanmu? Memalukan! Kau justru menyalahkan orang lain atas semua kesalahan yang selama ini kau buat. Kau lebih baik keluar dan renungkan kesalahanmu selama ini.” geram Donghe marah. Wanita itu mungkin memang sudah buta. Disaat ia memiliki begitu banyak catatan merah, ia masih
saja menyalahkan orang lain sebagai bentuk dari pelampiasan amarahnya. Inilah yang akhirnya disadari oleh Joey, ia sepertinya telah salah menikahi Jihyun. Dulu mungkin ia menikahi wanita itu karena penampilan fisiknya yang sempurna, namun ia tidak terlalu mempertimbangkan aspek non fisik yang justru sangat penting daripada hanya sekedar rupa fisik yang penuh tipu muslihat seperti apa yang dilihat dari Jihyun saat ini.
“Aku tidak salah, kau yang salah oppa. Kau tiba-tiba berubah menjadi pria kasar setelah kepulanganku dari New York! Aku tidak tahu apa yang kau lakukan selama ini selama aku berada di New York, tapi aku akan segera mengetahuinya. Secepatnya aku akan mengetahui alasan oppa mengapa kau berubah menjadi pria kasar seperti ini!” teriak Jihyun penuh emosi dan langsung keluar dari ruang kerja Joey sambil membanting pintu coklat itu keras-keras untuk menyalurkan kemarahannya.
Sementara itu, setelah Jihyun pergi, Joey langsung mengambil ponsel putihnya untuk menghubungi seseorang. Ia harus memastikan keadaan Luciana selalu aman dan Jihyun tidak boleh menyakiti Luciana seujung kukupun. Karena jika itu terjadi, maka ia tidak akan memiliki alasan lagi untuk tetap mempertahankan Jihyun di sisinya.
-00-
Di dalam kamar yang didominasi warna pink dan kuning itu, sepasang ibu dan anak tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi saling memeluk satu sama lain. Sang ibu yang terlihat begitu pucat dan sayu sejak tadi terus mengelus puncak kepala anaknya yang sedang tertidur pulas di dalam pelukannya.
“Sayang, eomma sangat mencintaimu. Meskipun kau bukan putri kandung eomma, tapi eomma sangat mencintaimu lebih dari apapun. Sayang, eomma takut kau tidak akan kembali lagi bersama eomma. Eomma takut kau akan melupakan eomma. Apa eomma salah jika eomma sebenarnya ingin memilikimu untuk eomma sendiri?” Bisik Luciana parau pada Aleyna yang tidak akan mungkin mendengarkan ucapannya karena gadis itu sedang tertidur nyaman di dalam pelukan ibunya. Gadis kecil itu malam ini terlihat begitu lelah setelah membantu ibunya mempersiapkan diri untuk kepergiannya ke Amerika besok. Dan meskipun Jessica berjanji hanya akan pergi selama satu minggu, Luciana tetap tidak percaya. Ia merasa Aleyna akan meninggalkannya lama, dan lebih dari satu minggu. Oleh karena itu hari ini ia sengaja tidak berada di kantor seharian, dan lebih memilih untuk pergi berjalan-jalan bersama Aleyna selepas gadis itu selesai sekolah. Mereka hari ini menghabiskan waktu berdua di taman bermain, pergi ke restoran favorit Aleyna, dan pergi membeli baju baru di pusat perbelanjaan untuk dibawa ke New York besok. Hari ini Luciana ingin mengisi pikirannya dengan berbagai kenangan bersama Aleyna agar besok saat Aleyna pergi, ia bisa tetap membayangkan wajah Aleyna di dalam otaknya.
“Paman... paman...”
Luciana mengernyit heran ketika Aleyna tiba-tiba mengigau di dalam mimpinya. Gadis kecil itu terlihat bergerak-gerak sedikit ribut dan kemudian mengigau lagi memanggil nama seseorang yang membuat Luciana merindukan sosok itu.
“Paman... paman Joey...”
“Ssshhh... paman Joey sedang bekerja sayang.” bisik Luciana lembut sambil mengelus puncak
kepala Aleyna lembut. Setelah itu Aleyna kembali diam dan kembali tidur dengan napas teratur seperti sebelumnya. Merasa Aleyna sudah tenang, Luciana tiba-tiba berbalik terlentang dan menatap langit-langit kamar Aleyna dengan mata nyalang. Masih teringat di dalam memorinya ketika Aleyna bercerita mengenai Karen dan Aaron yang terus menanyainya seputar Joey. Gadis itu mengaku padanya jika ia sempat diintrogasi oleh kedua orang itu ketika ia sedang pergi ke Busan bersama Joey. Dan salah satu cerita Aleyna yang membuatnya terkejut adalah saat ia mengaku padanya bahwa ia pernah melihat paman tampannya itu sedang tidur di dalam kamarnya. Seketika ia benar-benar merasa bodoh dan tolol karena tidak mengunci kamarnya rapat-rapat saat itu. Untung saja Aleyna hanya melihat Joey sedang tidur, tidak melihat hal-hal lain yang mungkin akan mengotori mata sucinya. Tapi tetap saja Aleyna telah melihat sesuatu yang salah. Dan parahnya gadis itu justru menceritakan hal itu pada Karen dan Aaron. Jelas saja beberapa hari yang lalu ia terus diintrogasi oleh mereka, mereka pasti telah mendapatkan
banyak informasi dari Aleyna seputar hubungannya dengan Joey.
“Huh, kenapa dari sekian banyak pria, harus Joey yang berhasil menarik perhatianku? Kenapa? Apa yang salah dengan seleraku Tuhan?” Gumam Luciana sendiri seperti orang gila. Terhitung sudah seminggu ini Luciana tidak bertemu dengan Joey. Itu merupakan pencapaian yang sangat luar biasa bagi seorang Luciana Im karena pria itu tidak pernah absen untuk menemuinya selama ini, kecuali jika pria itu memiliki perjalanan bisnis ke luar negeri. Bahkan mereka juga tidak pernah saling menghubungi sejak satu minggu yang lalu. Tapi dampak dari itu semua, sekarang ia sangat merindukan pria itu. Ia merindukan sikap manja Joey, sikap arogan Joey, sikap romantis Joey, dan ia merindukan pelukan pria itu yang hangat.
“Apa aku harus menghubunginya? Aku ingin mendengar suaranya.” gumam Luciana sendiri seperti remaja ingusan. Ia kemudian segera mengambil ponselnya dan menekan speed dial dua di ponselnya untuk menghubungi Joey. Sayangnya ia justru disambut oleh suara operator yang menyebalkan dan berisik itu hingga ia sekarang justru menjadi uring-uringan karena gagal mendengarkan suara merdu Joey.
“Huh, menyebalkan!”
Luciana langsung melemparkan ponselnya kasar kearah nakas dan segera berbalik kearah Aleyna untuk memeluk gadis kecil itu lagi. Ia tidak akan menghubungi Joey lagi dan memutuskan untuk tidur karena menurutnya percuma saja menghubungi Joey di tengah malam seperti ini, pria itu pasti sedang menghabiskan waktu berkualitasnya bersama sang istri yang sempurna, Lee Jihyun.
“Huh, menyingkirlah dari kepalaku Joey!” Teriak Luciana gusar. Malam ini ia pasti tidak akan bisa tidur dengan nyenyak karena bayangan Joey selalu muncul setiap kali ia mencoba memejamkan matanya untuk menyusul Aleyna yang sudah sangat lelap di sebelahnya. Semakin larut, bayangan Joey di kepalanya justru terlihat
__ADS_1
semakin liar. Beberapa kali Luciana merasakan kulitnya meremang saat ia mengingat momen-momen percintaan panas mereka terasa sangat memuaskan untuknya. Lee Joey adalah pria pertama yang berhasil membuatnya kembali merasakan gairah itu setelah beberapa bulan gairahnya untuk bercinta padam karena berbagai tekanan yang menghimpit kehidupannya.
“Joey! Aku benar-benar akan gila karenamu.”
-00-
“Jaga diri kalian baik-baik. Aku titip Aleyna padamu miss Jessica.”
Luciana
tak kuasa menahan isak tangisnya saat ia mengantarkan Aleyna dan Jessica ke bandara siang itu di tengah teriknya matahari sinar matahari yang terasa begitu menyengat membakar kulit tubuh mereka. Namun hal itu tak mengurungkan niat Luciana sedikitpun untuk mengantarkan Aleyna ke bandaran, karena ia ingin memastikan
jika gadis kecilnya akan pergi dengan selamat menuju ke tanah kelahiran ayahnya.
“Kau tenang saja Luciana, aku pasti akan menjaga Aleyna dengan baik di sana.” janji Jessica sungguh-sungguh. Wanita itu kini tidak lagi menggunakan bahasa formal saat berbicara dengan Luciana karena Luciana memaksanya untuk menganggapnya sebagai teman mulai sekarang.
“Sampai jumpa eomma, Aleyna pasti akan sering-sering menelpon eomma, benar kan miss Jessica?”
Jessica mengangguk pelan pada Aleyna, mengiyakan ucapan gadis kecil itu yang terlihat bersemangat di sampingnya.
“Kalau begitu kami pergi dulu. Sampai jumpa Luciana, dan terimakasih atas kesempatan yang kau berikan padaku.”
Jessica dan Aleyna kemudian bersama-sama melambaikan tangan kearah Luciana hingga mereka berdua menghilang di balik gerbang keberangkatan.
Selepas kepergian mereka, Luciana merasa lututnya lemas dan kepalanya berputar. Ia merasa seluruh orientasi hidupnya telah pergi meninggalkannya sendiri hingga ia sekarang merasa tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Dengan gontai Luciana meninggalkan bandara yang ramai itu untuk kembali menuju kantornya karena sejak
tadi Jihoo terus menghubunginya jika ia memiliki seorang klien yang harus segera ditangani karena masalahnya yang serius.
“Luciana, kau dimana? Apa kau akan datang ke kantor?”
Luciana memasang hands freenya di sisi telinganya dan segera bercakap-cakap degan Jihoo selagi ia mengemudikan mobilnya menuju kearah kantornya.
“Ya, aku akan segera tiba Jihoo. Siapa klien yang saat ini sedang mencariku? Apa kau tidak bisa menghandlenya?” tanya Luciana malas. Ia hari ini merasa tidak memiliki semangat untuk bekerja dan hanya ingin berada di atas tempat tidurnya, entah untuk menangis atau mengistirahatkan kepalanya yang terasa berdenyut. Ia merasa sangat pusing hari ini karena ia tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak semenjak Jessica datang menemuinya kala itu.
“Aku sedang memiliki banyak tugas di sini sebenarnya. Kau tahu sendiri bukan bagaimana bayaknya pekerjaan kita di musim pencarian tenaga kerja seperti ini. Aku belum menyelesaikan laporan tes minat bakat milik perusahaan Wong Corp.” ucap Jihoo memelas.
“Baiklah, sepuluh menit lagi aku akan segera tiba. Tolong katakan pada klienku untuk menunggu sebentar.”
“Hati-hati di jalan. Dan cepatlah datang.”
Luciana tersenyum kecil mendengar teriakan Jihoo dan segera melepaskan hands freenya setelah percakapan mereka benar-benar selesai. Ia kemudian hanya berkonsentrasi pada kemudinya sambil beberapa kali memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Ditambah lagi pagi ini ia hanya makan sangat sedikit sekali nasi dari porsi yang biasa ia makan, sehingga keadaan sakit kepalanya semakin diperparah dengan keadaan tubuhnya yang kini terasa lemah dan terasa seperti sedang melayang-layang.
“Hahhhh!”
Tiiiinnn
Ckiit
Brakk
Luciana mengerem mobilnya mendadak dan langsung terhempas ke belakang ketika tiba-tiba
sebuah mobil sport memblokir jalannya dan membuat bagian depan mobilnya
menabrak bagian belakang mobil sport kurangajar yang telah membuatnya hampir
celaka siang ini.
“Apa
sih yang diinginkan pengemudi mobil itu? Apa ia ingin mati?” gerutu Luciana kesal dan langsung keluar dari mobilnya untuk menuntut sang pengemudi mobil yang telah membuatnya celaka. Kini mobil silver kesayangannya terlihat peyok di bagian bemper dan kapnya juga sedikit rusak akibat ulah bar-bar pengemudi gila itu.
“Keluar kau! Kau telah membuat mobilku rusak. Kau harus menggantinya dengan yang baru. Apa kau sudah bosan hidup, atau kau ingin membunuhku? Ap apa kau... apa kau sebegitu membenciku.. hikss... hing.. hingga... hikss..”
Luciana langsung berlari memeluk Joey dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan pria itu ketika ia sudah tidak sanggup lagi berkata-kata. Hari ini ia telah melewati begitu banyak tekanan batin hingga menyebabkan emosinya tidak stabil. Dan ketika ia melihat mobil Joey dengan terang-terangan menghadang jalannya hingga
hampir membuatnya celaka, Luciana semakin tidak bisa menyembunyikan seluruh kesedihannya dari pria itu. Ia membutuhkan pria itu di sisinya sekarang.
“Apa kau terluka? Luciana, jangan menangis. Maafkan aku.”
Joey terlihat panik ketika melihat Luciana justu semakin menangis histeris setelah ia dengan nekat menabrakkan bagian belakang mobilnya untuk memblokir jalan Luciana. Siang ini ia begitu kesal karena lagi-lagi ia tidak bisa bertemu dengan Luciana setelah lebih dari satu jam ia menunggu di dalam kantor wanita itu hingga Jihoo mengusirnya. Namun beruntungnya, sebelum ia benar-benar pergi dari kantor itu, ia sempat melihat mobil Luciana hendak masuk kedalam area parkir kantornya yang sedikit padat hari ini. Iapun dengan nekat segera memblokir mobil Luciana dengan maksud untuk mencegah Luciana agar tidak menghindarinya lagi seperti beberapa hari yang lalu. Namun karena laju mobil Luciana sedikit lebih cepat, tabrakan yang terjadi antara mobilnya dan mobil Luciana terjadi cukup keras hingga ia kemudian justru merasa was-was karena Luciana kemudian menangis histeris di dalam pelukannya dengan wajah yang terus ditenggelamkan kedalam pundaknya.
“Luciana katakan padaku, apa kau terluka?”
“Joey... ak.. akku... aku baik-baik saja. Aku tidak terluka. Aku hanya membutuhkanmu. Aku hari ini terlalu bahagia saat melihatmu muncul.”
Joey langsung bernapas lega ketika Luciana ternyata dalam keadaan baik-baik saja. Hatinya seketika terasa menghangat ketika Luciana dengan penuh kejujuran mengatakan padanya jika ia merindukannya. Dalam hati ia juga merindukan wanita itu. Hari-hari kemarin terasa seperti rekor untuknya karena ia sama sekali tidak bertemu Luciana dalam kurun waktu satu minggu. Padahal sebelum ini, ia tidak pernah tidak benar-benar bertemu Luciana dalam sehari. Jika ia tidak bertemu Luciana, maka ia akan menghubungi wanita itu untuk melegakan perasaanya yang selalu terasa kacau jika ia tidak melihat atau mendengar suara Luciana.
“Aku merindukanmu Luciana, dan sekarang aku di sini bersamamu.”
__ADS_1
“Joey.. aku baru saja kehilangan Aleyna. Ia... pergi meninggalkanku. Aleyna meninggalkanku.” isak Luciana semakin keras dan terdengar semakin memilukan.
“Apa maksudmu Luciana? Dimana Aleyna?” kernyit Joey bingung dengan mata menyipit waspada kearah Luciana.