
“Jangan, lepaskan aku!! Paman apa yang kau lakukan padaku, ini belum saatnya.” teriak Yoona kencang sambil meronta-ronta di dalam cekalan dua orang perawat yang sedang memaksanya untuk berbaring di atas blangkar. Donghae pun juga ikut membantu perawat itu dengan menekan kedua lengan Yoona agar Yoona tidak terus berontak.
“Tidak ada cara lain Yoona, aku harus segera mengeluarkannya dari kandunganmu karena akan ada banyak pengganggu yang akan menghalangi jalanku.” ucap Donghae santai namun terkesan mengerikan. Yoona
terus meronta-ronta di dalam cekalan orang-orang dan gerakannya semakin menjadi-jadi ketika ia melihat seorang dokter hendak menyuntikan sesuatu pada lengannya.
“Jangan kumohon jangan, jangan lakukan apapun padanya. Jangan pisahkan aku dengannya.” mohon Yoona histeris dengan suara tangisannya yang memilukan, tapi Donghae terus memberikan kode pada dokter wanita itu untuk menyuntikan sebuah obat ke tubuh Yoona untuk mempercepat kontraksi Yoona agar dokter tersebut dapat melakukan operasi cesar pada Yoona.
“Paman apa yang kau lakukan padaku, bayi ini belum saatnya lahir. Jangan paksa ia untuk keluar sekarang!” teriak Yoona kencang, namun sama sekali tidak digubris Donghae.
Lima menit setelah dokter menyuntikan obat ke tubuhnya, Yoona mulai merasakan perutnya berkontraksi. Ia merasakan sakit yang teramat sangat hingga membuatnya hanya dapat bergelung kesakitan sambil memegangi perutnya.
“Paman ini sakittttt........”
“Tenang saja, semua ini tidak akan berlangsung lama. Sebentar lagi kau akan terbebas dari rasa sakit yang menyiksamu dan kau bisa segera beristirahat dengan tenang. Apa kau ingin mengatakan kata-kata terakhir?” tanya Donghae dengan suara jahat. Yoona tampak tak mempedulikan kata-kata Donghae karena saat ini perutnya terasa begitu menyakitkan hingga rasanya ia ingin mati.
“Lakukan sekarang, keluarkan anakku dan bunuh dia.”
“Akhhhh, sakiittt...”
Dokter itu mengangguk mengerti dan mulai melakukan prosedur operasi untuk mengeluarkan bayi Yoona. Namun sebelum Donghae keluar dari ruang operasi itu, Donghae sempat berbisik pelan di telinga Yoona.
“Aku bukan pria yang mudah untuk jatuh cinta, jadi jangan pernah berpikir jika aku mecintaimu karena yang
kubutuhkan hanyalah seorang penerus untuk melanjutkan perjuanganku. Terimakasih Im Yoona...”
Setelah itu Donghae berjalan keluar dengan suara rintihan Yoona yang menjadi pengiring setiap langkah kakinya. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah anaknya, ia sama sekali tidak memikirkan Yoona, dan ia tidak peduli pada Yoona!
“Ya Tuhan, itu sungguh tindakan kejahatan nona Im.” pekik Luciana setelah Yoona berhasil menyelesaikan ceritanya dengan lancar.
“Aku tahu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi satu-satunya hal yang kusesalkan dari sikapnya adalah, kenapa ia memaksa bayi itu keluar sebelum waktunya.”
“Kapan seharusnya bayi itu lahir menurut dokter?”
“Dua minggu lagi. Yah... dua minggu lagi seharusnya bayi itu baru keluar dari rahimku. Ayahnya telah memaksanya keluar tanpa persiapan disaat ia masih betah meringkuk di dalam perutku yang hangat.”
Luciana merasa getir menyaksikan wajah tegar Yoona saat sedang membayangkan bayinya. Bagaimanapun hal seperti itu lukanya tidak bisa mengalahkan luka tembakan atau luka tusukan dari benda tajam. Luka itu jauh menghasilkan luka yang sifatnya permanen karena seorang ibu baru saja dipisahkan secara paksa dari anaknya karena keegoisan seorang pria yang tidak ingin terikat komitmen. Padahal menurut Luciana, pria itu bisa saja membicarakannya baik-baik pada Yoona sebelum memutuskan untuk merobek perut Yoona secara paksa.
“Aku tahu bagaimana perasaanmu, nona Im. Aku juga memiliki anak di rumah. Jadi apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Luciana lembut. Saat ia melihat tangan bergetar Yoona di atas meja, Luciana segera mengambil inisiatif untuk menggenggamnya agar wanita itu lebih rileks.
“Aku juga tidak tahu. Aku telah diusir oleh orangtuaku karena mengandung bayi paman tanpa adanya ikatan pernikahan. Dan sekarang aku telah kehilangan mereka.”
__ADS_1
“Kau tidak ingin melaporkan hal ini pada pihak polisi?”
“Tidak. Sejak awal itu adalah kesepakatan kami. Tuntutanku padanya hanya akan berakhir sia-sia dan menghabiskan biaya. Setidaknya aku sudah cukup lega karen dapat menceritakan hal ini pada orang lain. Terimakasih dokter Luciana. Sebaiknya aku kembali ke ruang perawatanku sekarang sebelum dokter Henry mencariku.”
Yoona menarik tangannya perlahan dari atas meja dan segera meraih tiang infusnya untuk diseret kembali ke ruangannya. Dari tempat duduknya Luciana merasa begitu kasihan menatap sosok rapuh Yoona yang begitu terpuruk. Ia pasti bingung dan gundah untuk memulai kehidupannya setelah ini. Belum lagi tidak memiliki ijazah
senior high school karena ia tidak menyelesaikan pendidikannya, ia pasti akan kesulitan dalam mencari pekerjaan. Tapi tungguh, ia masih bisa membantu wanita itu. Ia bisa mencari seseorang bernama Henry Lau itu untuk memaksanya melakukan sesuatu untuk Yoona.
-00-
Saat jam menunjukan pukul tiga sore, Luciana mulai berjalan menyusuri koridor rumah sakit di lantai lima untuk mencari keberadaan ruangan Henry. Dua jam yang lalu ia telah mencari tahu banyak hal mengenai Henry melalui Sehun. Dokter Oh bilang, Henry adalah seorang dokter kandungan yang selama ini tidak pernah memiliki reputasi buruk. Bahkan dokter itu menjadi primadona para ibu-ibu muda karena dokter itu cukup tampan dengan wajah manisnya yang selalu terlihat lebih muda dari usianya.
“Apa dokter Henry Lau ada?”
Kebetulan Luciana bertemu dengan seorang suster yang baru saja keluar dari pintu kayu dengan papan nama Henry Lau di depannya.
“Dokter Henry Lau ada di dalam, dan kebetulan sedang tidak ada pasien. Anda ingin menemuinya?” tanya suster itu ramah. Meskipun baru kali ini Luciana bertemu dengan suster berambut pendek itu, tapi ia telah memberikan kesan yang baik di matanya.
“Begitulah. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan dengan dokter Lau.”
“Silahkan dokter. Sebaiknya anda segera masuk karena dokter Henry Lau biasanya akan pulang pukul setengah empat.”
Luciana mengangguk singkat pada suster itu dan langsung mengetuk pintu ruangan dokter Lau dengan keras. Selama tiga detik Luciana berdiri di depan pintu kayu itu, dan saat suara bariton di dalam ruangan memberikan izin untuk masuk, barulah Luciana melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi oleh warna putih dengan poster-poster bergambar ibu dan bayi di dalamnya.
“Selamat sore.” Dokter Lau memincingkan matanya heran kearah Luciana. Sambil melepas kacamata bacanya, dokter muda itu mempersilahkan Luciana duduk di salah satu kursi yang tersedia di depannya.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Tentu, dokter Lau. Kau dapat membantuku, bahkan membantu seorang wanita yang baru saja kehilangan bayinya.”
Sekilas Luciana melihat adanya raut terkejut dari wajah Henry, namun secepat kilat dokter itu dapat mengendalikannya dan ia kembali memasang wajah tenang tanpa cela yang menghanyutkan.
“Jadi apa yang bisa saya lakukan untuk anda, dokter....”
“Luciana. Namaku Luciana Lee, dan aku dokter jiwa baru di sini. Senang bertemu denganmu dokter Lau.” ucap Luciana ringan dan terkesan sok ramah.
“Aku juga senang bertemu denganmu, dokter Luciana. Maaf karena aku jarang pergi ke lantai bawah dan beramah tamah dengan dokter di divisi kejiwaan.”
“Itu bukan masalah, dokter Lau. Kurasa kita tidak perlu berbasa basi lagi.” ucap Luciana tegas sambil menatap lurus kearah manik mata Henry.
“Pagi ini aku kedatangan seorang pasien, namanya Im Yoona.” Luciana melihat jelas dokter muda itu terkejut setelah ia menyebutkan nama pasiennya pagi tadi. Tapi Luciana memilih untuk mengabaikan keterkejutan Henry, dan ia kembali melanjutkan ceritanya yang belum selesai. “Yoona datang padaku karena ia baru saja kehilangan bayinya. Ia menceritakan semuanya padaku, dokter Lau. Dan aku mencium adanya konspirasi kejahatan di sini karena ulahmu.”
__ADS_1
“Whoah tungguh dulu, dokter Lucine. Aku bisa jelaskan semuanya.” ucap Henry panik saat Luciana menunjuk-nunjuk dadanya dengan wajah gusar luar biasa yang terlihat berbahaya.
“Aku bisa menejelaskan semuanya. Apa yang terjadi pada Yoona, itu memang salahku. Tapi aku akan meluruskannya sekarang sebelum terjadi kesalahpahaman di sini.”
“Apapun alasan yang akan kau katakan untuk melakukan pembelaan, itu tidak akan berpengaruh apapun, dokter Lau. Kau tetap saja telah melakukan kesalahan karena mengumpankan seorang gadis di bawah umur untuk menjadi penampung benih milik temanmu yang tak memiliki hati itu. Apa kau pikir mudah menjalani hari-hari
dengan perut buncit dan perasaan mual yang begitu mengerikan? Belum lagi sakit fisik lain yang akan timbul saat janin sudah semakin membesar di dalam rahim. Apa kau tidak memikirkan perasaannya?” desis Luciana murka. Ia pasti sudah benar-benar mencapai batas kesabarannya jika sampai bereaksi seperti itu di depan dokter asing yang baru ia temui hari ini. Tapi persetan dengan itu. Harga dirinya sebagai wanita ikut tercabik setelah ia mendengarkan cerita Yoona yang memilukan itu. Dan sekarang ia ingin menyalurkan seluruh amarahnya pada pria sialan yang sedang terbengong-bengong kaget di depannya dengan mimik bodoh.
“Aa aku tahu, dokter Lucine. Aku adalah dokter kandungan. Jadi aku sangat tahu bagaimana perasaannya saat mengandung.”
“Lalu kenapa kau masih mengumpankannya pada si brengsek itu?” Luciana tanpa sadar telah menggebrak meja. Emosinya menjadi tak terkendali sejak kemarin karena masalah keluarga yang belum berhasil ia selesaikan dengan baik bersama Joey. “Ya Tuhan, haruskah aku marah-marah seperti ini untuk membuatmu mau berbicara, dokter Lau?”
“Dengarkan penjelasanku dulu, dokter Lucine. Kuharap setelah itu kau bisa berpikir dengan lebih jernih.” ucap Henry mencoba membujuk Luciana yang terlihat begitu mengerikan, seperti seekor banteng yang siap menyeruduk siapapun yang menghalangi jalannya.
Asap rokok dan suara bising musik retro yang menghentak terdengar begitu berisik di tengah-tengah suasana ramai bar. Para wanita dengan pakaian minim dan para pria hidung belang terlihat saling bercumbu di sudut-sudut bar yang sepi. Di lantai dua, tepatnya di ruang vvip, dua orang pria beserta bodyguard mereka
masing-masing terlihat sedang serius melakukan rapat. Mereka berdua adalah pria-pria eksekutif muda yang menjadi incaran setiap wanita yang berada di bar tersebut. Tapi sayangnya hari ini mereka sedang tidak ingin bermain-main dengan wanita ****** itu. Mereka hari ini datang khusus untuk membicarakan proyek yang akan mereka tangani minggu ini.
“Jonghyun ssi, lebih baik kau menyerah dan aku akan mencari partner lain yang benar-benar bisa menanganinya. Kulihat kau tidak memiliki kompetensi.”
“Maaf Lee Donghae ssi, tapi aku tidak akan memberikan proyek ini pada siapapun. Aku yakin aku bisa
menanganinya. Kau hanya perlu menunggu sebentar.” ucap Jonghyun gigih. Pria itu terlihat begitu serius dan ingin sekali bekerjasama dengan Donghae. Pasalnya Donghae adalah salah satu pebisnis yang paling disegani, sehingga akan sangat menguntungkan jika ia mampu bekerjasama dengan Donghae. Sayangnya Donghae
sendiri bukan orang yang mudah untuk melakukan kerjasama. Ia selalu menempatkan kriteria khusus pada patner-partner bisnisnya agar kualitas dari kerjasama mereka benar-benar bagus. Dan Jonghyun sepertinya tidak mencapai standar kriteria yang ditetapkan oleh Donghae.
“Huh, apa kau selalu sepercaya diri ini? Lihatlah, berapa banyak waktuku yang terbuang untuk menunggu hasil kerjamu? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi Jonghyun ssi. Kau harus mundur dari proyek ini.” ucap Donghae santai sambil mengepulkan asap rokok ke udara. Jonghyun menatap Donghae penuh kebencian dari balik bulu matanya. Selama menjadi seorang eksekutif muda, belum pernah ada yang menghinanya seperti itu. Dan Donghae sudah sangat menjatuhkan harga dirinya.
“Selama ini rekan bisnisku tidak pernah merasa kecewa dengan kinerjaku, jadi kau harus mempertimbangkan keputusanmu.”
“Aku sudah mempertimbangkannya sejak jauh-jauh hari Jonghyun ssi, jadi kau tetap harus mundur dari proyek ini.”
Jonghyun mengepalkan tangannya marah dan hendak mengeluarkan emosinya. Namun suara ricuh dari lantai dansa mengalihkan perhatiannya dan membuat Jonghyun refleks langsung menoleh ke lantai dasar.
“Terjadi keributan di bawah. Kalian periksalah apa yang terjadi.” perintah Donghae tegas pada bodyguard-bodyguardnya. Namun tiba-tiba mereka mendengar suara tembakan yang saling bersahut-sahutan dan suara bentakan yang terdengar dari lantai bawah. Melalui isyarat mata, Donghae menyuruh anak buahnya untuk membereskan kawanan perampok yang sedang membuat keributan di dalam bar miliknya.
“Bereskan mereka semua. Dan kau, kau lebih baik ikut denganku jika kau masih tetap ingin hidup.”
Donghae menyuruh Jonghyun untuk keluar mengikutinya melalui pintu khusus yang memang disiapkan untuknya. Namun tiba-tiba sebuah peluru berwarna keemasan melesat cepat ke udara dan berhenti tepat di dada kirinya. Seketika semua bodyguard yang mengelilingi Donghae langsung bergerak cepat untuk menolong tuan mereka yang sedang sekarat. Sementara itu, Jonghyun langsung mengambil kesempetan untuk segera keluar dari
bar milik Donghae tanpa mau bersusah payah untuk menolong Donghae ataupun sekedar mengkhawatirkan Donghae. Lagipula ia juga tidak menyukai Donghae. Jika Donghae mati, ia justru akan diuntungkan dengan banyaknya proyek yang akan jatuh ke tangannya. Karena selain rekan bisnis, Donghae juga merupakan musuh terberatnya.
__ADS_1
“Hhabisi mereka, jjangan sisakan sssatupun dari mereka.”
Samar-samar Jonghyun masih sempat mendengar suara Donghae yang terbata-bata sebelum Donghae benar-benar tak sadarkan diri di tengah kerumunan anak buahnya.