
Brakk
Joey menggebrak meja kayu di depannya dengan kesal sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi karena semua masalah yang menghujaninya pagi ini. Sejak ia membuka mata, semua hal yang terjadi di sekitarnya selalu salah. Pertama, Jihyun membuat masalah dengan menghilangkan dasi bergaris kesukaanya yang merupakan
hadiah pemberian mendiang ibunya. Kemudian saat di kantor ia kembali dibuat kesal karena sekretarisnya salah memasukan berkas penting ke dalam map yang seharusnya ia bawa untuk presentasi, sehingga waktu presentasinya menjadi lebih lama dan calon investor yang sebelumnya berniat untuk berinvestasi di perusahaanya
menjadi enggan dengan tidak memberikan jawaban pasti seputar rencananya yang hendak berinvestasi. Selanjutnya ketika ia sedang makan siang bersama Spencer dan beberapa manager keuangan, seorang remaja awal dua puluhan tiba-tiba menabraknya yang sedang membawa satu cup kopi. Hal itu membuat seluruh kemeja bagian depannya kotor karena noda kopi dan membuatnya semakin uring-uringan karena ia harus membeli kemeja baru terlebihdahulu sebelum kembali lagi ke kantor. Dan sekarang ia merasa kesal karena ia tidak tahu harus menumpahkan seluruh kekesalannya pada siapa karena ia sudah tidak memiliki siapapun untuk mendengarkan seluruh keluh kesahya seharian ini. Sudah dua hari ia tidak menghubungi Luciana atau meminta wanita itu untuk menjadi konselornya karena ia muak dengan kebohongan yang dilakukan oleh wanita itu. Seenaknya saja ia
memberikan nasihat pada orang lain, sementara dirinya gagal membangun kehidupan rumah tangganya sendiri. Untung saja Jihyun dan Yeon Ju segera memberitahunya, jika tidak, ia mungkin akan semakin tersesat dengan semua nasihat omong kosong yang diberikan wanita itu padanya.
“Berikan aku sebotol vodka.”
Joey duduk di atas kursi bar sambil mengamati suasana ramai yang tersaji disekitarnya. Malam ini bar tempatnya singgah lebih ramai dari biasanya. Tapi mungkin saja juga tidak, karena ia jarang mendatangi bar ini. Ia hanya sesekali minum bersama Spencer atau rekan-rekan bisnisnya yang lain jika mereka terpaksa pulang terlambat karena harus lembur.
“Kau hanya sendirian manis.”
Joey berdecak kesal dan segera mengusir wanita itu jauh-jauh dari tempat duduknya karena ia tidak suka dengan wanita murahan. Baginya mereka semua terlalu pasaran dan sangat tidak cocok untuk seorang pria ekslusif sepertinya.
“Kau yakin tidak ingin kutemani? Aku tidak akan meminta bayaran darimu. Ini murni karena keinginanku sendiri untuk menemanimu.”
“Apa kau tuli? Aku jelas-jelas telah menolakmu.” ucap Joey dingin sambil menegak vodkanya kasar. Setelah itu sensasi terbakar langsung memenuhi kerongkongannya hingga ia tanpa sadar mengerang kecil.
“Eranganmu sangat seksi. Bagaimana jika kita mengerang bersama di kamar apartemenku.”
Joey mengepalkan tangannya gusar dan mencoba untuk tidak mempedulikan wanita berambut pirang di sebelahnya. Namun ia bersumpah, jika ia sudah benar-benar kehilangan kesabarannya ia akan membentak wanita itu dan menyeretnya keluar dari bar ini tanpa belas kasihan.
“Manis, jangan acuhkan aku seperti ini. Jika kau tidak ingin menghabiskan malam di kamar apartemenku, kau bisa mengajakku kemanapun sesukamu. Aku akan...”
“Pergi! Aku tidak membutuhkan wanita murahan sepertimu. Bahkan istriku sendiri lebih cantik dan lebih menarik daripada tubuh kurusmu yang menjijikan itu. Sekarang pergi, atau aku akan menyeretmu keluar sekarang juga!” Marah Joey mengerikan hingga membuat wanita berambut pirang itu pucat pasi. Dengan langkah terbirit-birit, wanita itu segera menyambar tas tangannya dan pergi meninggalkan Joey yang sedang asik menikmati vodkanya tanpa mempedulikan tatapan mencemooh yang diberikan oleh orang-orang disekitarnya karena perilaku bar-barnya yang mengganggu. Tapi meskipun begitu, tidak ada satupun petugas keamanan atau pekerja di sana yang berani menegur Joey atas sikapnya yang mengganggu itu. Mereka semua memilih untuk diam dan justru segera menyingkirkan sang wanita pengganggu yang menjadi penyebab kemarahan Joey malam ini. Lagipula, mereka juga tidak akan berani bermain-main dengan sang pemilik bar karena mereka masih sangat membutuhkan pekerjaan mereka.
-00-
Drrt drrt drrt
“Eunghh...”
Luciana mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar dan terlihat begitu terganggu dengan panggilan telepon yang tiba-tiba datang di saat ia sedang tidur. Dengan malas ia segera meraih benda persegi itu sambil melirik jam yang tertera di layar ponselnya.
“Siapa orang gila yang menghubungiku di jam selarut ini? Setengah satu, yang benar saja!” Gumam Luciana kesal dan langsung menempelkan benda persegi itu pada telinganya.
“Halo? Sia....”
“Nyonya, tolong datanglah ke sini, tuan Joey mabuk dan memukul beberapa karyawan yang hendak menghentikannya untuk minum.” potong seorang pria yang terdengar begitu panik. Luciana mengernyitkan dahinya tidak mengerti dan segera melirik layar ponselnya untuk memastikan jika sang pemanggil tidak salah alamat dengan menghubunginya.
“Apa ini ponsel milik tuan Joey Lee?”
__ADS_1
“Benar nyonya. Saya menemukan nomor anda berada di urutan teratas daftar panggilan keluar, jadi saya memutuskan untuk menghubungi nyonya. Apa nyonya bisa menjemput tuan Joey sekarang? Beberapa penjaga sudah mulai kewalahan untuk menahannya yang sejak tadi terus bergumam tidak jelas.”
“Kau salah sambung, aku tidak mengenal Joey.” jawab Luciana ketus dan berniat untuk mematikan sambungan teleponnya. Namun pria di seberang sana mencegah tindakannya dan terus memohon-mohon dengan suara memelas yang membuatnya menjadi iba.
“Tolong nyonya, hanya anda yang bisa kami hubungi.”
“Cih, bohong!” decih Luciana kesal. Wanita itu rupanya tak percaya dengan pengakuan dusta yang dikatakan pria itu padanya karena Joey tidak mungkin hanya menyimpan nomor ponselnya di dalam kontak ponselnya. Pria itu pasti juga menyimpan nomor ponsel milik Jihyun dan beberapa nomor ponsel sahabatnya di sana. Jadi ia tidak akan tertipu dengan kalimat penuh kebohobgan yang baru saja dikatakan oleh sang penelpon padanya.
“Kau salah sambung! Hubungi saja nomor istrinya.”
Luciana segera menutup panggilan teleponnya dan melemparkan benda persegi itu kasar ke atas ranjangnya. Namun tanpa diduga-duga ia justru bangkit berdiri, berjalan menuju lemari pakainnya dan mengambil satu set mantel untuk menjemput Joey di bar. Ia tidak bisa mengabaikan Joey begitu saja!
“Sial! Kenapa aku harus memikirkannya.” gerutu Luciana kesal ketika ia hendak menutup pintu rumahnya dan berjalan menuju kearah mobilnya yang terparkir di depan teras. Dengan kecepatan tinggi ia segera
melajukan mobilnya kearah bar yang yang disebutkan oleh sang penelepon sebelumnya. Tapi dalam hati ia bertekad tidak akan melakukan banyak hal ketika tiba di bar. Jika pria itu ternyata telah dijemput oleh salah satu keluarganya, maka ia akan diam dan hanya memandang pria itu dari kejauhan. Karena seharusnya ia tidak perlu melakukan hal ini pada pria yang telah merendahkan harga dirinya. Seharusnya ia memang hanya mengabaikan Joey dan membiarkan pria itu hidup dengan urusannya sendiri. Sekarang ia bukanlah konselor dari pria itu. Sekarang mereka berdua hanyalah dua orang manusia biasa tanpa status apapun yang mengikatnya. Jadi ia tidak perlu repot-repot ikut campur kedalam masalah pelik mantan kliennya itu.
Prangg!
Luciana mengernyitkan dahinya ketika ia baru saja tiba di pelataran parkir bar dan ia langsung disuguhi dengan bunyi pecahan kaca yang begitu nyaring dari dalam bar. Dengan perasaan was-was Luciana segera masuk ke dalam bar yang kini keadaannya terlihat cukup kacau dengan banyak pengunjung yang sedang berkerumun untuk menonton tontonan gratis yang tersaji di depan mereka.
“LEPASKAN! LEPASKAN AKU SIALAN!”
Bughh
“Joey ssi.”
Luciana memberanikan diri membelah kerumunan manusia di sana dan maju untuk menghampiri Joey yang saat ini juga tengah menatapnya dengan mata sayunya.
“Apa yang kau lakukan? Lihatlah, kau menghancurkan tempat ini!” bentak Luciana kesal. Pria itu terkekeh pelan di depan Luciana dan menghentakan seluruh tangan petugas keamanan yang sejak tadi menahan tangannya. Lalu dengan sempoyongan ia berjalan mendekat kearah Luciana dengan wajah mengerikan yang membuat Luciana langsung beringsut mundur karena ketakutan.
“No.. nona Im?” gumam Joey dengan wajah sayu. Ia kemudian berjalan cepat kearah Luciana dan menubruk tubuh kecil Luciana hingga Luciana hampir saja terjerembam ke belakang jika tubuhnya tidak ditahan oleh salah satu pekerja di sana.
“Nonaaaa Im... Ahhh... kenapaa kaauuu lama sekali?” racau Joey seperti orang gila di dalam pelukan Luciana. Wanita itu menggeram kesal dan mendorong tubuh Joey begitu saja ke belakang hingga Joey jatuh terduduk di atas lantai dengan tawa aneh yang membuat Luciana jengah dan juga geram.
“Cepat bangun! Jangan mempermalukanku.” bentak Luciana kesal. Joey lantas bangkit berdiri lalu berjalan sempoyongan menghampiri Luciana dan merangkul pundak kecil Luciana hingga Luciana lagi-lagi hampir jatuh karena tidak siap untuk menahan berat tubuh Joey yang lebih besar dari tubuhnya.
“Ck, merepotkan!” Decak Luciana kesal. Ia kemudian membawa Joey keluar dari dalam bar itu dengan terlebihdulu meminta maaf pada semua orang yang dibuat kerepotan dengan tingkah bar-bar Joey malam ini. Wanita itu terlihat tak habis pikir dengan Joey yang ternyata memiliki sikap aneh saat mabuk. Padahal selama ini ia menganggap Joey adalah pria aristrokrat berkelas yang tidak mungkin akan bertingkah semengerikan itu di sebuah bar yang cukup terkenal di Seoul.
“Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bersikap seperti ini?” tanya Luciana mencoba lembut. Ia menjatuhkan tubuh Joey yang cukup berat kedalam kursi penumpang lalu bersiap untuk menutupnya. Namun sebelum ia beranjak pergi, tiba-tiba Joey menahan tangannya dan menarik tubuh kecilnya hingga jatuh menabrak dada bidang Joey yang keras.
“Nona Im.... Kenapa kau tidak menghubungiku? Bukankah kau masih menjadi konselorku? Aku membutuhkan bantuanmu.” racau Joey keras di atas kepala Luciana. Luciana berusaha menjauhkan tubuh Joey darinya dan melepaskan rengkuhan Joey yang sangat tidak nyaman. Apalagi ia sekarang merasa ingin muntah karena bau menyengat alkohol yang memenuhi seluruh tubuh Joey.
“Aku bukan konselormu lagi. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika aku adalah konselor gagal yang payah. Untuk apa kau berkonsultasi pada konselor payah sepertiku.” ucap Luciana kesal. Ia masih merasa sakit hati dengan ucapan Joey dua hari lalu ketika pria itu dengan kejamnya memojokannya dengan serentetan kalimat penuh tuduhan yang sangat keterlaluan.
“Tapi aku membutuhkanmu.... Hanya kau yang bisa memahamiku. Aku... kesepian.”
__ADS_1
Luciana tiba-tiba merasa iba pada Joey. Saat ini di tengah ketidaksadaran yang melingkupi Joey, pria itu benar-benar terlihat menyedihkan dengan raut wajah memelas yang tidak akan mungkin ditunjukan Joey dalam keadaan sadar. Pria itu jelas akan memasang benteng pertahanan tinggi agar orang lain tidak melihat sisi lemahnya. Tapi sekarang, pria itu meruntuhkan benteng pertahanan itu. Joey benar-benar sedang memiliki masalah hingga pada akhirnya ia melarikan seluruh kepenatan hatinya pada alkohol yang tidak akan pernah memberikan jalan keluar untuknya. Tapi yang membuat Luciana heran adalah dimana keberadaan Lee Jihyun? Kenapa wanita itu seperti tidak mempedulikan suaminya sama sekali hingga Joey menjadi seperti ini.
Luciana kemudian berjalan menuju kursi kemudi dan mulai menjalankan mobilnya menuju rumahnya. Malam ini ia tidak mungkin akan membawa Joey ke rumah pria itu karena ia tidak tahu dimana letak rumah Joey dan ia juga tidak mungkin bertanya pada pria mabuk yang sedang dalam keadaan tidak sadar di belakangnya. Bisa-bisa pria itu justru memberikan alamat orang lain dan akan membuatnya semakin pusing dengan tingkah merepotkan pria itu.
“Nona Im...”
“Hmm?”
Luciana berdeham pelan dan sedikit melirik kaca spionnya untuk melihat Joey yang saat ini sedang memejamkan matanya dengan damai di atas kursi penumpangnya.
“Hah, kau benar-benar merepotkan.” gumam Luciana kecil pada dirinya sendiri sambil tersenyum kecil melihat tingkah Joey yang sedang tertidur damai seperti seorang anak kecil tanpa dosa.
-00-
Krieett
Srekk srekkk
Luciana membuka pintu rumahnya pelan sambil menyeret tubuh berat Joey yang sedang bersandar di bahunya. Ia kemudian membawa Joey menuju ruang tengah dan menjatuhkan pria mabuk itu di atas sofa putihnya yang untung saja kosong karena biasanya Aleyna meletakan buku-bukunya atau mainannya di sana.
“Huh, kenapa kau merepotkan sekali? Dan kenapa juga aku harus menolongmu.” gerutu Luciana kesal pada dirinya sendiri. Ia kemudian melepas sepatu hitam Joey dan pergi ke dapur untuk mengambil air hangat karena ia melihat sudur bibir Joey sedikit sobek dan lebam. Mungkin ia sempat melakukan perkelahian dengan petugas keamana di bar itu hingga menyebabkan keadaanya sangat berantakan seperti ini.
“Nona Im...”
Luciana mengernyitkan dahinya dan mengedikan bahunya tidak peduli sambil membasuh wajah Joey dengan air hangat. Sungguh ia tidak tahu mengapa ia sampai melakukan hal ini. Tapi ia juga tidak mungkin membiarkannya begitu saja karena ia masih memiliki hati. Ia bukanlah wanita yang akan tega membiarkan orang lain menderita di depan matanya.
“Nona Im?”
“Ck, ada apa? Kau berisik sekali.” decak Luciana kesal. Rasanya Luciana sangat konyol sekarang. Di satu sisi ia ingin membiarkan Joey begitu saja, namun di satu sisi ia tidak bisa. Sehingga ia sekarang terlihat seperti tidak ikhlas untuk membasuh luka-luka Joey yang mulai membiru.
“Jangan pergi. Jadilah konselorku, aku membutuhkanmu.”
Luciana mematung di tempat. Ia menatap manik hitam Joey lekat-lekat, dan untuk sesaat ia terhanyut pada tatapan Joey yang meneduhkan. Pria itu dalam keadaan setengah sadar terlihat begitu hangat dan sangat berbeda dengan dirinya ketika sadar. Apalagi saat ini pria itu tengah tersenyum lemah kearahnya, membuatnya ikut
tersenyum dan mau tidak mau ia langsung menganggukan kepalanya untuk mengiyakan permintaan Joey.
“Aku akan menjadi konselormu.”
“Terimakasih.”
Grep
Joey tiba-tiba memeluknya dan membuat Luciana semakin kaku karena gerakan tiba-tiba Joey. Luciana melirik ragu kearah Joey yang terlihat begitu nyaman di pundaknya. Ia pun perlahan-lahan mulai mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan Joey dan menepuk punggung pria itu pelan. Sambil memeluk Joey, Luciana kemudian memikirkan seluruh jalan hidupnya yang terasa tidak tertebak akhir-akhir ini. Ia merasa apa yang ia lakukan sekarang sangat bertolak belakang dengan komitmennya selama ini. Dulu ia selalu menjunjung tinggi etika profesinya dan sangat menghindari membuat skandal dengan mantan suaminya. Namun sekarang ia
seperti menerjang itu semua, dan ternyata ia juga menikmati hal itu. Ia menikmati sesi konselingnya dengan Joey yang sering berjalan tidak biasa, dan ia menyukai sikapnya yang kini lebih berani untuk menghadapi Rein. Tapi harapannya, semoga yang ia lakukan akhir-akhir ini hanya salah satu bagian dari kepenatannya semata. Nanti setelah ia merasa lebih baik, ia akan kembali menjalani kehidupan lamanya yang membosankan dan penuh masalah. Ya, ia akan kembali lagi menjadi Luciana Im, seorang konselor kaku yang hanya akan mengahabiskan waktunya dengan berbagai masalah milik kliennya tanpa sedikitpun masuk kedalam kehidupan kliennya seperti yang ia lakukan saat ini.
__ADS_1