Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Two: Body Lips and Eyes (Fifty Three)


__ADS_3

            Di rumah yang sepi dan gelap itu, Yuna termenung sendiri sambil bertopang dagu. Wanita itu terlihat kacau pasca kemunculan Yunho di depan matanya. Ia sungguh kesal pada dirinya sendiri yang bisa dengan mudahnya termakan provokasi Yunho. Setelah pria itu mengatakan akan mendapatkannya kembali, ia menjadi tidak tenang dan seperti dihantui oleh masa lalunya kembali. Padahal selama tiga belas tahun ini perlahan-lahan ia mampu melupakan semuanya. Namun semua itu hancur ketika Yunho tiba-tiba datang dan menebarkan teror lagi di depan matanya.  


            “Changmin oppa.... maafkan aku.”


            Yuna mendesah kecil sambil menatap foto pernikahannya dengan sang suami tercinta, Shim Changmin. Pertemuan mereka yang sangat tak terduga, pada akhirnya menghantarkan mereka pada sebuah ikatan suci pernikahan.


            Dulu ia adalah seorang psikiater muda. Setelah lulus dari pendidikan psikiaternya, ia memilih untuk memulai karirnya dengan melakukan pengabdian masyarakat di desa-desa terpencil. Ia ingin ilmunya selama ini benar-benar berguna untuk orang yang tepat. Dan ketika ia sedang mengikuti sebuah projek kemanusiaan di sebuah desa terpencil di kaki gunung, ia bertemu Shim Changmin. Pria muda itu adalah seorang relawan yang saat itu tengah bertugas di desa yang sama tempat ia mengabdi. Awalnya mereka berdua hanyalah dua orang tak saling kenal yang sama-sama sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Namun karena mereka sering bertemu di dalam tenda-tenda pengungsian, akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi teman mengobrol sebelum pada akhirnya mereka menjadi sepasang teman dekat dan menjadi sepasang kekasih.


            Tiga bulan kemudian Changmin melamar Yuna. Pria itu cepat-cepat melamar Yuna dengan alasan, bahwa ia tidak ingin kehilangan Yuna. Selama ia masih memiliki kesempatan, maka ia ingin menggunakan kesempatan itu dengan baik agar Yuna tidak jatuh ke tangan orang lain. Pada awalnya Yuna menolak lamaran yang diajukan oleh Changmin karena ia merasa belum siap untuk menjadi seorang istri yang seharusnya mengabdikan kehidupannya pada sang suami. Tapi selama berhari-hari Changmin terus meyakinkannya agar ia tidak perlu merasa takut dengan kehidupan pernikahan mereka kelak. Dan akhirnya bujukan Changmin itu berhasil. Yuna bersedia untuk menikah dengan Changmin dan menjadi pasangan abadi pria itu. Sayangnya setelah pernikahan itu dilaksanakan, Yuna merasakan kembali ketakutan-ketakutannya di masa lalu. Setiap kali Changmin akan menyentuhnya, ia merasa semua traumanya muncul dan akan memakannya hidup-hidup. Sehingga pada akhirnya ia dan Changmin tidak pernah melakukan apa yang disebut sebagai hubungan suami istri. Padahal usia pernikahan mereka hampir menginjak satu tahun. Tapi untung saja Changmin tidak pernah memaksanya. Pria itu memberikan Yuna kesempatan untuk membiasakan diri terlebihdahulu terhadap kehidupan pernikahan mereka dan tidak ingin terlalu terburu-buru untuk menyentuh Yuna. Lagipula usia berpacaran mereka saat itu baru menginjak tiga bulan. Jadi Changmin selalu mengaggap bahwa kehidupan pernikahan mereka saat ini tak ubahnya seperti kehidupan mereka saat berpacaran dulu.


            “Changmin oppa, aku merindukanmu.”


            “Hai sayang, oppa juga merindukanmu. Kau baru saja pulang dari rumah sakit?”


            “Tidak, aku libur hari ini.” jawab Yuna pelan sambil mengeratkan ponsel putihnya pada telinga kanannya. Hari ini ia sengaja libur dan bertukar shift dengan dokter lain karena ia belum siap untuk bertemu Yunho. Hari ini seharusnya ia mulai melakukan treatment untuk membantu pria itu menghilangkan ilusinya. Namun ia belum bisa melakukannya dan memutuskan untuk menundanya lusa. Ia merasa harus mempersiapkan mentalnya terlebihdahulu sebelum berhadapan dengan Yunho secara langsung. Ia.... masih menyimpan ketakutan untuk monster itu.


            “Kenapa? Bukankah ini bukan hari liburmu?”


            “Aku hanya sedang lelah dan ingin beristirahat di rumah. Kapan kau akan kembali ke Seoul oppa?” tanya Yuna pelan dengan desahan berat. Ia merasa benar-benar sendiri sekarang karena Changmin sedang melakukan tugasnya sebagai relawan di perbatasan Korea. Padahal ia sangat berharap saat ini Changmin berada di sisinya untuk menguatkan jiwanya yang rapuh.


            “Aku akan memberitahumu nanti.”


            Yuna mengangguk pelan di ujung telepon sambil mengerang pasrah. Ia tahu, suaminya pasti belum mengetahui jadwal kepulangannya. Hal itu memang biasa terjadi pada mereka, karena memang seperti itulah pekerjaan Changmin. Terkadang Changmin akan bekerja selama satu bulan penuh tanpa pulang. Terkadang Changmin hanya bekerja selama satu minggu. Semua itu tergantung oleh pemerintah yang memberikan mandat untuk Changmin.


            “Maafkan aku sayang, tapi akan kuusahakan dalam waktu dekat ini.”


            “Hmm, jangan memberiku harapan palsu oppa. Kau sudah sering melakukannya.” delik Yuna tajam. Ia benar-benar sudah kenyang dengan segala harapan palsu yang sering diberikan Changmin padanya.


            “Maaf.”


            “Aku sudah bosan mendengar kata maaf darimu oppa. Jangan meminta maaf lagi karena itu bukan salahmu. Aku tahu bagaimana perasaanmu di sana, kau pasti juga ingin pulang, bukan?”


            “Sangat ingin. Aku merindukanmu.”

__ADS_1


            “Kalau begitu bersemangatlah, jangan terus menerus memikirkanku agar kau bisa segera kembali ke Seoul. Aku akan menunggumu di sini.”


            “Tapi aku merasa bersalah padamu karena sering meninggalkanmu sendiri. Aku janji akan segera pulang.” ucap Changmin bersungguh-sungguh. Andai Yuna dapat melihat wajah Changmin saat ini, maka ia pasti akan melihat adanya tekad yang begitu kuat yang terpancar dari kedua mata hitamnya.


            “Baiklah, aku akan menunggumu di sini. Sampai jumpa oppa, selamat bekerja.”


            Yuna menutup panggilan teleponnya dengan senyum lega yang sedikit ia paksakan. Ia lantas berjalan kearah jendela untuk melihat sinar bulan yang kebetulan sedang bersinar indah di atas rumahnya. Namun saat ia berada di pinggir balkon, raut wajahnya seketika berubah menjadi pucat. Kedua tangannya yang sedang memegang pembatas balkon tiba-tiba langsung mengepal sambil mencengkeram besi pembatas itu erat-erat. Di bawah sana, tepatnya di bawah lampu jalan yang sedang bersinar temaram, ia dapat melihat sosok mengerikan itu tengah menyeringai kearahnya. Pria itu, dengan jaket kulit hitam dan topi hitam yang membungkus rambut coklatnya, tengah mendongak kearahnya sambil memamerkan seulas senyum mengancam yang sangat tidak disukai Yuna.


            “Ini gawat, monster itu pasti kembali untuk memakanku hidup-hidup.”


-00-


            “Pejamkan matamu dan mulailah untuk membayangkan hal-hal yang menjadi ancamanmu akhir-akhir ini.”


            Yuna duduk di tempat yang cukup jauh sambil memberikan perintah pada Yunho yang sedang menjalani sesi terapi desentisisasi. Wanita itu dengan beberapa kertas putih di tangannya, mulai mencoretkan beberapa progress yang telah dicapai Yunho selama sesi terapi hari ini berlangsung. Sayangnya di tengah-tengah melakukan terapi, pikirannya sedang tidak fokus. Setiap melihat Yunho di depannya, ia selalu teringat akan kejadian buruk yang menimpanya tiga belas tahun yang lalu, dan hal itu selalu membuatnya merasa takut hingga kepalanya pening.


            “Kau baik-baik saja?”


            Yuna terkesiap kaget ketika Yunho tiba-tiba memegang lengannya sambil mencondongkan kepalanya kearah wajahnya. Dengan wajah linglung, Yuna sedikit melirik kursi relaksasi yang kosong sambil menghempaskan tangan Yunho di lengannya.


            “Kurasa kau sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Apa kau bisa melanjutkannya ketika keadaanmu sedang kacau seperti ini?”


            “Aku pasti bisa. Sekarang kembalilah!”


            Yuna mendorong Yunho menjauh darinya dan memberikan tatapan tegas pada pria itu untuk kembali duduk di atas kursi panjang hitam yang berjarak dua setengah meter di depannya.


            Sementara itu, Yunho tampak tersenyum sinis kearah Yuna sambil mendudukan dirinya kembali ke atas kursi hitam yang terlihat bagaikan kursi pesakitan untuknya.


            “Sepertinya kau juga harus mendapatkan terapi.”


            “Pejamkan matamu dan mulailah untuk memutar seluruh kenangan yang menjadi sumber katakutanmu. Tarik napas sedalam-dalamnya, lalu rasakan bagaimana sensasinya. Rasakan bagaimana saat kenangan itu mengalir di dalam otakmu, menjalar di seluruh pembuluh darahmu, dan menyebar ke seluruh tubuhmu. Resapi semua kenangan itu hingga kau benar-benar merasa tidak nyaman. Jangan buka matamu sebelum kau benar-benar merasa menyerah dengan seluruh kenangan itu.”


            Yuna mulai mensugesti Yunho untuk memanggil semua kenangan buruk yang selama ini ditekan oleh Yunho di dalam dirinya. Dan dalam sekejap Yuna dapat melihat wajah Yunho tampak berkerut-kerut sambil memejamkan matanya. Pria itu mulai memutar seluruh kenangan yang berusaha dilupakannya selama ini dan mencoba menghadapinya di dalam alam bawah sadarnya. Sesekali Yuna melihat Yunho mengerang tertahan sambil mencengkeram pinggiran kursi di samping kanan kirinya, namun Yuna membiarkan saja hal itu terjadi karena itu memang proses yang harus dilewati Yunho untuk menghilangkan seluruh traumanya yang menyebabkan pria itu memiliki ilusi.

__ADS_1


            Satu persatu kenangan yang selama ini ditekan Yunho di dalam pikirannya mulai bermunculan. Dimulai dari saat kedua orangtuanya sering bertengkar di rumah. Kemudian suara teriakan-teriakan ibunya saat ayahnya menampar ibunya juga mulai terdengar saling bersahut-sahutan di dalam telinganya hingga kepalanya terasa sangat sakit. Suara teriakan itu begitu memekakan telinga dan membuatnya ingin menyerah sampai di sana. Namun tak berapa lama suara teriakan itu menghilang, digantikan dengan suasana tenang saat ia berada di sekolahnya. Di sana ia melihat dirinya sedang duduk bersama teman-temannya di dalam kelas dan ia terlihat sedang mendengarkan penjelasan dari gurunya dengan serius. Lalu munculah seorang siswi pindahan baru yang masuk ke kelasnya dan duduk di sebelahnya. Siswi itu bernama Jung Jessica, dan ia adalah murid pindahan dari California.


            Selama beberapa saat ingatannya memutar kejadian-kejadian menyenangkan saat ia tengah bercengkerama dengan Jessica. Ia beberapa kali melihat dirinya pergi ke suatu tempat bersama Jessica. Namun kejadian buruk tiba-tiba menimpa mereka. Jessica, gadis itu mulai menyukainya. Wanita itu kemudian menjadi kekasihnya, tapi ia belum sepenuhnya merasa mencintai Jessica, sehingga mereka pada akhirnya bertengkar hebat dan memutuskan untuk tidak saling kenal satu sama lain. Yunho tanpa sadar menghembuskan napasnya kecil ketika kenangan mengenai Jessica ternyata masih tersimpan di dalam otaknya. Ia pikir semua kenangannya dengan gadis itu telah hilang karena beberapa tahun terakhir ini ia tidak pernah ingat jika ia memiliki seorang teman wanita bernama Jessica.


            Setelah Jessica, kenangannya yang lain mulai muncul. Kenangannya ketika ia kabur ke rumah pamannya dan untuk pertama kalinya ia melihat Yuna, gadis kecil manis yang sangat menggemaskan untuknya. Saat mengingat kenangan itu, tanpa sadar Yunho menyunggingkan senyumnya dan ia merasa sangat damai untuk beberapa saat. Namun saat kenangan mengenai Yuna itu ternyata hidup, ia tiba-tiba menjadi panik. Sosok Yuna kecil yang selalu hadir di dalam dunia nyatanya, juga turut hadir di dalam pikirannya mengenai masa lalunya. Gadis kecil itu menatapnya tajam, seakan-akan ia dapat melihat Yunho dewasa yang saat ini sedang melihat masa lalunya. Padahal sebelumnya, ia selalu menjadi makhluk tak kasat mata di dalam pikirannya karena semua tokoh di dalam kenangan itu tidak dapat melihatnya. Tapi Yuna berbeda, gadis itu dapat melihatnya dan dapat menatap sinis kearahnya. Ia perlahan-lahan mendekati Yunho, kemudian menebarkan teror mencekam yang sangat ditakuti Yunho, hingga pada akhirnya Yunho membuka matanyaa sambil terengah-engah ketakutan.


            “Aku melihatnya!”


            “Apa yang kau lihat? Aku kecil?” tanya Yuna datar. Ia mengetahui hal itu karena beberapa kali ia mendengar Yunho menggumamkan namanya. Pria itu sepertinya sangat menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya dulu, namun ia selalu berpura-pura baik-baik saja dan terlihat seolah-olah ia sangat menikmati saat saat ia memperkosa gadis kecil berusia sepuluh tahun yang polos itu.


            “Kau kecil yang sangat menyeramkan. Ia berteriak nyaring di dalam telingaku. Suaranya bahkan lebih nyaring dari suara ibuku saat sedang bertengkar dengan ayahku. Ia lalu berjalan mendekat kearahku dan seperti ingin mencekikku.” cerita Yunho masih dengan napas memburu. Yuna mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan mulai berjalan menghampiri Yunho. Sekarang ia tahu pasti apa yang menyebabkan Yunho mengalami gangguan ilusi seperti itu, jadi ia harus membuat pria itu membuka realita pikirannya agar ia tidak terus menerus terjebak oleh kenangan pahit di masa lalu.


            “Sekarang tarik napasmu lagi dalam-dalam, lalu hembuskan.”


            Yunho melakukan dengan patuh apa yang Yuna perintahkan untuk membuat dirinya rileks kembali. Menjadi seorang pria yang memiliki gangguan jiwa memang tidak menyenangkan. Baru saja ia menunjukan sisi lemahnya di hadapan Yuna, dan itu sangat meruntuhkan harga dirinya.


            “Sekarang lihat aku, apa kau merasa sangat bersalah setelah kejadian pemerkosaan itu?”


            “Menurutmu? Aku menginginkanmu menjadi milikku, dan kau justru pergi begitu saja. Selain karena rasa bersalahku padamu, ilusiku muncul karena aku sangat terobsesi padamu. Sebenarnya aku bisa saja menghilangkan bayanganmu dari pikiranku, tapi disaat aku tidak melihatnya aku merasa sangat kehilangan. Satu-satunya hal yang bisa membuatku memilikimu adalah bayangan itu. Kau seharusnya menjadi milikku, Yuna.”


            Yunho menyentak pergelangan tangan Yuna dan membisikan kalimat terakhirnya dengan tatapan tajam tepat di depan wajah Yuna. Pria itu menyeringai licik dan tiba-tiba saja telah ******* bibir Yuna kasar hingga membuat Yuna hanya mampu membeku di tempat karena traumanya juga mulai bermunculan.


            “Apa kau merasakannya, Yuna? Traumamu? Kau merasakannya?”


            “Brengsek!”


            Yuna mendorong dada Yunho keras dan langsung menghapus bekas ciuman Yunho di bibirnya kasar. Ia tidak tahu mengapa ia bisa diam begitu saja saat pria itu menyentuhnya. Tapi saat semua itu terjadi ia benar-benar seperti seorang patung yang tidak bisa melakukan apapun. Tubuhnya kaku dan yang bisa ia lakukan hanya menikmatinya sambil merasakan kenangan itu kembali muncul di kepalanya.


            “Kita adalah dua orang yang sakit Yuna, kau tidak bisa hanya menyembuhkan ilusi di dalam kepalaku, tapi kau juga harus menyembuhkan traumamu sendiri.” ucap Yunho santai dengan nada mengejek.


            “Aku bukan manusia sakit sepertimu Kim Yunho! Aku sehat, dan aku bisa mengatasi traumaku sendiri.”


            Yuna lantas berjalan menjauh dari Yunho sambil melempar kasar rekam mediknya ke atas meja. Sesi terapinya hari ini benar-benar sangat kacau. Bisa-bisanya ia masuk ke dalam arus yang diciptakan oleh Yunho mengenai masa lalu mereka. Ia sepertinya harus mengambil cuti tiga hari untuk pergi ke suatu tempat. Ia ingin

__ADS_1


menyusul Changmin dan melihat wajah menenangkan pria itu agar ia bisa melupakan seluruh katakutannya di masa lalu. Saat ini hanya pria itulah yang bisa menjadi obat untuk seluruh ketakutan yang hampir membekukan otaknya.


__ADS_2