Kontratransferensi

Kontratransferensi
I Got Love (Eighty Seven)


__ADS_3

        “Lee, kau mau kemana? Kau terlihat sangat terburu-buru.”


            Chan masuk ke dalam ruangan Suho sambil memandang heran sahabatnya yang tampak terburu-buru sambil menjepit ponselnya kesana kemari. Chan pun memutuskan untuk duduk di atas sofa sambil menunggu Suho selesai berbicara dengan seseorang yang dihubunginya.


            Dari kejauhan Chan tersenyum puas saat melihat sahabatnya mulai memiliki semangat hidup kembali. Sudah dua bulan ini ia melihat Suho yang berbeda dari Suho yang ia lihat tiga bulan yang lalu. Dua bulan ini Suho lebih ceria dan selalu hidup dengan baik. Tidak ada Suho yang selalu menghabiskan waktunya untuk menenggelamkan diri di dalam tumpukan berkas-berkas penting perusahaanya. Suho kini selalu pulang tepat waktu dan juga makan tepat waktu. Bahkan karena pola hidupnya yang sehat itu, Chan tidak pernah melihat Suho mengeluh sakit seperti dulu.


            “Kau mau pergi?”


            “Aku harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku karena penerbanganku akan berangkat dua jam lagi.” ucap Suho sambil memasukan barang-barang yang diperlukannya ke dalam tas kerjanya.


            “Kau mau pergi ke New York? Menemui Irene dan anakmu?”


            “Hmm, tentu saja, memangnya siapa lagi. Ngomong-ngomong ada perlu apa kau ke sini?”


            “Tidak, aku hanya ingin melihat keadaan sahabatku. Aku senang melihat perubahanmu.” ucap Chan tulus. Suho menepuk pundak Chan pelan sambil menggumamkan kata terimakasih pada sahabatnya. Tak bisa ia bayangkan bagaimana hidupnya dulu jika Chan tidak ada untuk mendukungnya, ia pasti sudah memilih untuk mati karena keterpurukannya.


            “Baru saja Irene menghubungiku, ia mengatakan padaku jika Hyura sudah jauh lebih aktif. Ia juga mengirimkan beberapa foto Hyura padaku, kau ingin melihatnya?”


            Suho mengangsurkan ponselnya pada Chan dengan senyum cerah yang terpatri di wajahnya. Saat ini bayangan putrinya yang menggemaskan tengah menari-nari di dalam kepalanya. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk bertemu anaknya besok setelah dua bulan ini ia tidak pernah bertemu dengan anaknya karena ia harus memimpin perusahaan, dan juga hubungannya dengan tuan Shin sangat buruk. Tapi ia bertekad akan memperbaiki hubungannya dengan tuan Shin. Ia tidak ingin terus menerus menjadi musuh untuk tuan Shin, disaat ia membutuhkan Irene dan anaknya untuk melengkapi hidupnya. Dan untuk Kim Soohyun, ia benar-benar pasrah dengan pria itu. Sekarang ia hanya ingin menikmati waktunya sebagai seorang pemimpin perusahaan dan seorang ayah bagi putrinya.


            “Anakmu sangat mirip denganmu, bahkan tawanya benar-benar mencerminkan tawamu. Irene pasti terus menerus memikirkanmu selama mengandung Hyura.”


            “Itu sudah pasti, Chan. Bagaimana mungkin ia tidak memikirkanku, sedangkan aku terus menyakitinya dengan berbagai hal yang menyakitkan. Tapi sekarang kami sudah sepakat untuk melupakannya, dan ia memberiku kesempatan untuk menjadi ayah yang baik bagi Hyura.”

__ADS_1


            “Itu berita yang bagus, lalu apa ia memberimu kesempatan untuk menjadi suaminya?”


            Tiba-tiba Suho melemparkan bantal sofa pada Chan setelah ia merasa sedang diolok-olok oleh sahabatnya yang menyebalkan itu.


            “Kau sengaja menanyakan hal yang sudah sangat jelas kau tahu jawabannya. Bodoh!” umpat Suho kesal. Chan terlihat mengernyitkan dahinya sambil memasang wajah innocent tanpa dosa.


            “Aku sama sekali tidak berniat untuk mengolok-olokmu, aku hanya bertanya. Siapa tahu dalam kurun waktu dua bulan ini ada banyak hal yang berubah, termasuk keputusan Irene untuk menuruti kenginan ayahnya.”


            “Tidak ada yang berubah, Chan, tidak akan pernah ada yang berubah karena semuanya sudah final. Kami berdua memutuskan untuk menjadi teman dekat dengan memenuhi kewajiban kami masing-masing sebagai orangtua Hyura. Jadi kau jangan pernah mengharapkan untuk mendapatkan undangan pernikahan dariku.”


            Chan memandang sahabatnya prihatin. Ia pikir sahabatnya akan melakukan hal gila dan tak terduga untuk mendapatkan Irene. Tapi mungkin hal itulah yang terbaik untuk mereka berdua. Tidak ada ikatan suci diantara mereka, dan hanya ikatan sebagai orangtua bagi Hyura.


-00-


            Irene tampak sibuk di dalam kamar putrinya sambil menimang-nimang bayinya yang kini sudah semakin besar. Tiba-tiba pintu kamar bayinya terbuka dan memunculkan sosok Kim Soohyun yang sedang membawa sebotol susu untuk Hyura.


            Irene tersenyum lembut pada Kim Soohyun sambil meraih sebotol susu yang disodorkan Kim Soohyun padanya. Ketika Irene mendekatkan botol susu itu di depan mulut Hyura, bayi itu dengan rakus langsung menghisapnya dan meminum susu itu dalam diam.


            “Dia sepertinya benar-benar kehausan.” Komentar Kim Soohyun geli ketika melihat respon Hyura yang begitu cepat.


            “Yahh, dia sangat mewarisi sifat ayahnya yang tidak sabaran. Ngomong-ngomong malam ini Suho oppa akan datang dan menginap di sini untuk beberapa hari, apa kau bisa menjemputnya?”


            Irene bertanya dengan wajah santai pada Kim Soohyun. Sedangkan Kim Soohyun terlihat jelas tidak suka dengan rencana Irene yang akan membawa Suho ke rumahnya. Menurutnya kehadiran Suho akan merusak segalanya, termasuk tahap pendekatan yang sudah sejak lama ia bangun dengan Irene.

__ADS_1


            “Kenapa ia harus datang dan menginap di sini? Apa abeoji akan setuju dengan hal itu?”


            “Justru ayah yang menyuruhnya karena dengan Suho oppa menginap di sini, ayah akan lebih leluasa untuk mengawasinya. Lagipula ayah juga tidak ingin memisahkan Suho oppa dan juga Hyura karena bagaimanapun mereka tetaplah ayah dan anak, jadi ayah mengambil keputusan itu. Meskipun kau tahu sendiri jika ayah sangat membenci Suho oppa.” tambah Irene mengingatkan jika kecemburuan Kim Soohyun itu sangat konyol karena jelas-jelas kedudukan Kim Soohyun di rumah ini begitu tinggi karena ia mendapatkan dukungan penuh dari ayahnya, sedangkan Lee Suho tidak.


            “Tapi tetap saja ia akan menjadi pengganggu. Aku takut kau akan kembali terjerat padanya.”


            Seketika Irene terkekeh geli dengan sikap Kim Soohyun yang begitu kekanakan hari ini. Ia pikir pria itu tidak akan cemburu dengan Suho karena selama ini ia pikir sikap Kim Soohyun pada Suho biasa-bisa saja, dalam artian tidak terlalu ambil pusing dengan kehadiran Suho. Tapi nyatanya, pria itu cukup terganggu dengan kehadiran ayah dari anaknya.


            “Jadi seperti itukah ketakutanmu? Kupikir kau adalah pria dewasa yang akan menyikapi segala sesuatu dengan dewasa, Soohyun oppa. Bukankah aku sudah memutuskan untuk menikah denganmu, kenapa kau masih ragu padaku? Aku bukan wanita yang akan goyah begitu saja hanya karena kehadiran ayah kandung Hyura, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Lagipula dengan kedatangan Suho oppa selama beberapa hari di New York, kita bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk berkencan. Kita bisa menitipkan Hyura sewaktu-waktu padanya.” ucap Irene  berbinar-binar. Kim Soohyun mau tak mau ikut tersenyum cerah ketika melihat Irene untuk pertama kalinya dapat tersenyum lepas di hadapannya. Dan apa yang dikatakan Irene memang benar. Selama ini mereka jarang sekali pergi berkencan karena Irene tidak memiliki babysitter untuk menjaga Hyura, dan Irene tentu tidak akan mau mengajak Hyura untuk pergi berkencan bersama mereka. Jadi pada akhirnya mereka hanya melakukan kencan di rumah dengan menonton film romansa bersama, atau jika mereka sedang beruntung, tuan


Shin dapat mereka hasut untuk menjaga cucunya selagi mereka pergi jalan-jalan ke suatu tempat.


            “Maaf jika aku memang kekanakan, aku hanya takut kehilanganmu.” ucap Kim Soohyun sungguh-sungguh sambil mengecup pipi Irene. Irene mengangguk maklum dan membiarkan Kim Soohyun kembali mencium wajahnya. Lagipula apa yang dirasakan oleh Kim Soohyun adalah sesuatu yang wajar mengingat selama ini Irene masih terus memimpikan Suho disetiap tidurnya dan juga masih menginginkan pria itu untuk menjadi suaminya, meskipun itu tidak mungkin. Hubungan mereka sekarang hanya sekedar teman dan juga orangtua bagi Hyura. Meskipun mereka tidak bersatu, tapi Irene tetap ingin Suho menjadi ayah Hyura karena bagaimanapun mereka memiliki hubungan darah. Dan ia tidak mau Hyura kekurangan kasih sayang dari orangtuanya seperti masa kecilnya karena perceraian orangtuanya.


            “Jadi kapan pria itu akan datang?” tanya Kim Soohyun tiba-tiba. Irene kemudian mengambil ponselnya dan mengecek pesan terakhir yang dikirimkan Suho.


            “Dia mengatakan jika pesawatnya akan mendarat pukul sepuluh malam. Jadi kau bisa menjemputnya?”


            “Anything for you, princess.”


            Irene tersenyum lega dengan jawaban Kim Soohyun dan langsung menghadiahi pria itudengan ciuman singkat di pipi. Padahal baru saja ia akan menyuruh Suho untuk datang ke rumahnya menggunakan taksi karena kemungkinan pria itu tidak akan dijemput. Tapi untung saja Kim Soohyun masih bisa bersikap dewasa dengan menahan kecemburuannya dan mau meluangkan waktu istirahatnya untuk menjemput Suho.


            “Kalau begitu sampai jumpa nanti malam. Kau pasti akan memasak makanan yang banyak untuk menyambut pria itu bukan?” sindir Kim Soohyun tepat sasaran. Irene memukul pelan lengan Kim Soohyun sambil tertawa geli menyikapi sikap manja pria itu.

__ADS_1


            “Tentu saja, dan aku juga akan memasakan makanan spesial untuk calon suamiku.”


            “Ya, dan kau harus ingat jika kau harus memasakan masakan yang berbeda untuk aku dan Lee Suho, karena kita memiliki selera yang berbeda.” Ucap Kim Soohyun sedikit keras sebelum ia melangkah keluar dan meninggalkan Irene sendiri bersama Lee Hyura yang masih asik dengan botol susunya.


__ADS_2