
Luciana memegang lengan Joey erat sambil mengangkat sedikit gaunnya yang menjuntai hingga ke lantai. Pasangan yang tampak sempurna itu berjalan dengan begitu mesra kedalam sebuah ruangan khusus yang telah dipesan Joey untuk acara makan malam mereka bersama beberapa kolega Joey.
“Bagaimana perasaanmu hari ini konselor?” Tanya Joey menggoda Luciana yang sejak tadi tak henti-hentinya menunjukan wajah sumringah pada semua orang. Setelah siang tadi mereka sempat adu mulut sengit karena mempermasalahkan kamar hotel yang hanya dipesan satu oleh Joey untuk mereka berdua. Kini keduanya sudah terlihat akur kembali dan justru terlihat lebih intim dari sebelumnya. Meskipun menurut Luciana, Joey memang gila. Tapi pada akhirnya ia pasrah dan hanya mengikuti permainan Joey. Selama di Busan ia telah berjanji pada dirinya jika ia hanya akan mengikuti apa yang diinginkan oleh Joey. Dan setelah mereka kembali nanti, ia mungkin akan lebih menjaga jarak dengan Joey. Terlebih lagi nanti pria itu juga akan kembali bersama Jihyun dan menjalani kehidupan mereka masing-masing.
“Menurutmu? Sejujurnya aku masih kesal karena kau memaksaku untuk tinggal di kamar yang sama denganmu.”
“Aku hanya sedang mencoba berhemat.” Kekeh Joey beralasan. Luciana langsung menghadiahi Joey cubitan di pinggang karena alasan tak masuk akal pria itu. Tidak mungkin Joey akan langsung jatuh miskin hanya karena menyewa dua buah kamar hotel? Pria itu benar-benar konyol! Bahkan Luciana sendiri sampai tak habis
pikir pada Joey karena pria itu seperti benar-benar tidak lepas darinya barang sedetikpun. Ia khawatir pria itu akan bersikap demikian setelah Jihyun kembali dari New York nanti.
“Setelah ini kau harus manjauhiku dan jangan terlalu sering datang untuk berkonsultasi. Kau harus bisa melatih dirimu sendiri untuk mandiri tuan Lee.”
“Tapi bagaimana jika aku tidak mau? Jika kau menolakku, aku akan mengadukanmu pada dewan elit di kantormu.” Ancam Joey bersungguh-sungguh. Luciana langsung mendengus kesal dengan ancaman itu dan mulai berencana untuk kembali merajuk pada Joey. Namun sebelum hal itu terjadi, Joey sudah lebih dulu menarik pingganggnya. Merapatkan tubuh mereka satu sama lain dan tiba-tiba menyelipkan sesuatu di jari manisnya.
“Hadiah dariku, jangan dilepas.” ancam Joey setelah Luciana menyadari jika saat ini di jari manisnya telah tersemat sebuah cincin berlian putih yang tampak berkilauan ditempa cahaya.
“Apa ini?”
“Apa kau tidak bisa melihatnya? Itu adalah cincin.” jawab Joey menyebalkan. Luciana berdecak kesal menanggapi pria itu dan terlihat cukup gemas dengan sikap Joey yang terkadang terlihat menyebalkan, namun terkadang juga terlihat romantis di depannya.
“Aku tahu jika ini cincin tuan Lee, tapi kenapa kau memberiku ini? Kau ingin mengikatku?” tanya Luciana asal. Joey tiba-tiba langsung menjentikan jarinya di depan wajah Luciana dan mengangguk antusias.
“Kau benar. Itu untuk mengikatmu agar kau tidak pergi dariku. Nah, sekarang kau resmi menjadi milikku.”
“Apa-apaan itu. Kau pikir semudah itu mengikat seseorang untuk terus berada di dekatmu?
Aku tidak mau.” Tolak Luciana sengit dan bersiap untuk melepaskan cincin berlian itu. Namun Joey langsung mencegahnya dengan menarik tangan Luciana ke samping sambil mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Luciana.
“Berani kau melepasnya, maka aku akan semakin mengikatmu dengan caraku yang lebih gila dari ini.”
“Maksudmu?” tanya Luciana menantang. Rasanya cukup kesal menghadapi sikap Joey yang sering berubah-ubah seperti ini. Terkadang pria itu terlihat kekanakan di depannya, terlihat romantis, dan terkadang juga terlihat mengerikan seperti ini.
“Aku akan menikahimu.”
“Huh, coba saja kalau kau bisa. Kuyakin kau tidak akan bisa karena kau tidak mungkin meninggalkan Jihyun. Kau takut pada Jihyun bukan?” ucap Luciana penuh nada cemooh. Mendengar itu Joey hampir saja mengeluarkan amarahnya di depan Luciana, karena wanita itu dengan terang-terangan sedang mengejeknya dan mengatainya pria lemah. Namun ia segera menahannya dan memilih untuk menjauhkan diri dari Luciana sambil menunjukan sikap dinginnya yang membekukan pada wanita itu.
“Duduklah, kita lanjutkan nanti perdebatan kita.” perintah Joey tegas sambil menarik kursinya sendiri yang berjarak sekitar empat kursi dari kursi yang diduduki Luciana.
-00-
Selama acara makan malam itu berlangsung, Luciana sesekali melirik Joey yang sejak tadi tetap mempertahankan kebekuannya pada semua orang. Mood baik yang sebelumnya telah ditunjukan oleh pria itu rusak begitu saja karena sindiran menyakitkan hati yang diucapkan oleh Luciana. Padahal wanita itu hanya bercanda. Setidaknya ia hanya ingin membalas sikap menyebalkan Joey dengan menyindir pria itu seputar istrinya yang selama ini lebih mendominasi daripada pria itu. Namun apa yang ia pikir hanya candaan itu justru berakhir tidak menyenangkan dan ia membuat suasana makan malam ini terlihat lebih mencekam daripada yang seharusnya. Di sisi kanan dan kirinya, kolega Joey sejak tadi hanya dapat menghembuskan napas kecil setiap kali Joey menolak usulan mereka atau membantah keras ide-ide mereka. Padahal seharusnya acara makan malam ini berjalan lancar karena mereka telah berhasil memenangkan tender berharga milyaran won itu.
“Kita tidak bisa menggunakan ide itu. Terlalu pasaran dan murahan!” hardik Joey penuh emosi. Semua orang yang mendengar nada bicara Joey hanya diam dan tak berani bersuara. Sudah lebih dari satu jam mereka membicarakan konsep yang akan diusung oleh perusahaan penerbangan Joey untuk memberikan service kepada
anggota pemerintahan yang akan menggunakann jasa penerbangan Joey sebagai sarana transportasi selama event pekan olahraga terbesar di Korea berlangsung. Namun karena suasana hati Joey yang buruk akibat adu mulutnya dengan Luciana beberapa saat yang lalu, semua ide-ide yang disarankan oleh seluruh koleganya menjadi sebuah omong kosong yang tidak berguna untuk Joey.
“Maaf, sepertinya konsep-konsep yang mereka ajukan telah memenuhi standar dan telah sesuai. Anda hanya perlu menyempurnakannya sedikit tuan Joey Lee.” Ucap Luciana tenang. Sejak tadi ia terlalu jengah dengan sikap Joey yang terus uring-uringan pada orang yang tidak tepat. Jika pria itu marah padanya, maka ia tidak perlu melampiaskannya pada orang lain. Ia yang salah karena telah menyinggung pria itu, jadi ia yang seharusnya menanggungnya.
“Aku belum mengijinkanmu untuk bicara nona Im, jadi jangan coba-coba untuk menyuarakan pendapatmu disaat aku belum mengijinkannya.”
“Di sini saya hanya menjankan tugas saya sebagai penasehat anda tuan Lee. Jika anda sedang dalam suasana hati yang tidak baik, sebaiknya rapat ini dilanjutkan hingga anda benar-benar siap.”
Luciana menatap manik sendu Joey tajam dan menyiratkan sebuah kesungguhan pada pria itu. Melalui tatapan matanya Luciana mengisyarat agar mereka segera menyelesaikan masalah mereka setelah ini karena ia sendiri menjadi tidak nyaman dengan adanya perubahan mood Joey yang menyebabkan rapat mereka menjadi terganggu.
“Kita tidak bisa menunda-nundanya lagi nona Im karena lusa perwakilan dari anggota dewan akan melakukan kunjungan untuk mengecek kesiapan fasilitas yang akan perusahaanku berikan. Jadi mau tidak mau hari ini juga kita harus menyelesaikan rapat ini dan menemukan konsep yang tepat untuk fasilitas-fasilitas yang akan kita berikan pada mereka. Daripada hanya menyela, apa kau memiliki ide untuk menyempurnakan ide mereka?” tanya Joey menyeringai licik. Luciana tersenyum tenang kearah Joey, ia lalu menatap satu persatu kolega-kolega Joey di sana, dan ia mulai menyuarakan ide-idenya yang sejak tadi telah terlintas di dalam kepalanya.
__ADS_1
“Menurut saya, kita harus membuat sistem penerbangan yang berbeda anatara pejabat dan para atlet yang akan datang ke Korea. Atau jika terpaksa mereka harus berada di dalam satu pesawat yang sama, kita harus memberikan kabin terpisah untuk mereka. Biasanya anak muda memiliki selera yang berbeda dengan orang-orang
penting yang biasa duduk di kursi pemerintahan negara, jadi kita tinggal menambahkan fasilitas-fasilitas yang disukai oleh anak-anak muda dan menambahkan fasilitas-fasilitas yang disukai oleh para pejabat.”
“Misalnya seperti apa? Bisa kau berikan contoh nona Im?”
“Misalnya adalah fasilitas silent room untuk para pejabat, karena mereka pastinya lebih suka melakukan penerbangan dengan suara hening dan tenang agar mereka dapat beristirahat di dalam pesawat dengan lebih nyaman.” jawab Luciana lugas. Joey menganggukan kepalanya setuju dan tampak puas dengan jawaban Luciana. Ia memang tak salah memilih Luciana sebagai konselornya karena wanita itu memang sangat cerdas dan dapat menguasai situasi dengan cepat. Ini sangat berbeda dengan Jihyun yang hanya bisa mengandalkan emosinya untuk memaksa siapapun tanpa bisa menunjukan sisi cerdasnya seperti Luciana.
“Jadi kita akan menggunakan konsep sesuai dengan usulan nona Im. Kalian silahkan lanjutkan makan malam kalian, aku akan pergi sekarang untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut dengan nona Im.”
Dengan penuh wibawa, Joey segera berdiri dari kursinya sambil melirik Luciana melalui tatapan matanya yang teduh. Pria itu tanpa kata meminta Luciana mengikutinya keluar dari ruangan khusus itu dan beranjak menuju tempat lain yang lebih privat untuk mereka.
“Kau hebat.” puji Joey ketika mereka telah berada di luar ruangan dan sedang berjalan menuju kamar mereka di president suite room di lantai teratas hotel bintang lima yang sedang mereka tempati. Mendengar itu Luciana hanya tersenyum bangga sambil mengibaskan rambutnya kekanakan seperti seorang remaja genit.
“Tentu saja. Jika aku tidak hebat, aku tidak akan mungkin menjadi konselor seorang pria galak sensitif yang sangat naif sepertimu.” Ucap Luciana sombong. Joey hanya terkekeh menanggapi kalimat itu dan lantas merangkul pundak Luciana untuk masuk kedalam lift.
“Jadi, kau tidak marah lagi?” Tanya Luciana sambil mengamati raut wajah Joey di sebelahnya. Ada kelegaan di hatinya setelah melihat Joey dapat tersenyum dengan sangat manis di sebelahnya setelah pria itu sempat berubah menjadi pria garang yang sangat mengerikan.
“Menurutmu? Sekarang apa yang terlihat di wajahku?”
“Entahlah. Sebuah rasa puas karena telah berhasil membuatku sangat merasa bersalah selama berjam-jam di dalam sana? Hmm, aku minta maaf Joey, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Aku hanya bercanda.” Ucap Luciana dengan tulus. Sorot mata rusanya menunjukan jika wanita itu benar-benar merasa bersalah dan ingin
pria itu memaafkannya.
“Lakukan sesuatu agar aku memaafkanmu.”
Cup
Luciana sedikit berjinjit didepan Joey, lalu ia memberikan sebuah kecupan singkat di sisi kanan rahang Joey yang kokoh. Entah kenapa sejak mereka menjadi dekat, spot yang sangat disukai Luciana adalah rahang Joey. Mungkin karena rahang itu yang membuat wajah Joey menjadi lebih tegas dan terlihat beribu-ribu kali lebih berkarisma dibandingkan pria-pria lain yang selama ini pernah ditemui Luciana.
“Hanya itu? Kau yakin tidak ingin memberikan lebih?” goda Joey.
“Sekarang? Sepertinya tidak mungkin. Kita memiliki beberapa urusan yang harus kita selesaikan terlebihdahulu.”
Luciana langsung berdecak kesal dan mencubit pinggang Joey gemas karena lagi-lagi pria itu berpikir mesum di depannya. Ia sekarang benar-benar seperti seorang mistress untuk si CEO tampan yang kesepian ini.
“Bisakah kau melakukan hal lain saat bersamaku?”
“Apa? Mengobrol? Curhat? Tidur?” tanya Joey geli.
“Astaga! Aku benar-benar kesal padamu. Aku ingin kita bisa memiliki kenangan yang lebih baik dari sekedar hal-hal yang kau sebutkan tadi. Setidaknya aku memiliki sesuatu yang bisa kuingat jika nanti kau sudah kembali ke kehidupanmu yang normal.”
“Apa ini belum cukup?”
Joey menarik tangan Luciana yang dilingkari oleh cincin putih pemberiannya, lalu pria itu mengecup punggung tangan Luciana lembut penuh perasaan. Setelah itu Joey juga menarik pinggang Luciana mendekat dan meletakan tangan kirinya di atas perut rata Luciana yang tertutup dengan gaun sifon warna tembaga pilihannya
sore tadi.
“Dan ini? Aku ingin memiliki ikatan denganmu Luciana, jika kau mengijinkan. Tapi aku juga takut akan menyakitimu. Jadi mari kita lakukan apapun selagi kita bisa, dan jangan pikirkan apapun tentang hal-hal yang belum tentu terjadi di masa depan.”
“Meskipun aku mengijinkan, belum tentu Tuhan juga akan mengijinkan. Jadi kita memang sebaiknya hanya menjalani ini seperti air, lalu berhenti jika memang sudah saatnya untuk berhenti. Aku juga mencintaimu Joey.”
Luciana mengakhiri jawaban cintanya pada Joey tempo hari dengan sebuah ciuman manis yang begitu lembut dan tidak menggebu-gebu. Tapi pada akhirnya ciuman itu tetap berakhir menggebu-gebu dan terkesan saling menuntut diantara keduanya setelah belitan lidah yang terjalin semakin kuat diantara keduanya, mempersempit jarak diantara mereka dan menghapusnya hingga jarak itu benar-benar hilang diantara tubuh mereka yang saling menempel, menuntut untuk dipuaskan satu sama lain.
-00-
__ADS_1
“Apa ini tempatnya?”
Jeesica mendongakan sedikit wajahnya ke atas dan mulai membaca tulisan hangul raksasa yang tercetak dengan jelas di dinding-dinding kantor biro konseling negara. Wanita itu kemudian mendesah lega dan mulai berjalan masuk kedalam gedung itu dengan berbagai harapan di dalam benaknya. Hari ini ia sangat berharap jika konselor bernama Luciana Im itu akan memberikan kabar baik dan memberikan kejelasan mengenai dimana keberadaan keponakannya sekarang. Tapi ia takut jika keponakannya kini telah memiliki keluarga baru dan nanti ia tidak bisa membawanya ke Amerika untuk bertemu neneknya. Sejak semalam ia berpikir, kemungkinan terbesar yang mungkin terjadi pada keponakannya adalah ia saat ini berada di panti asuhan atau telah memiliki keluarga baru yang sangat menyayanginya. Atau kemungkinan terburuknya bayi itu juga ikut mati setelah ibunya bunuh diri. Entahlah, Jessica tidak mau memikirkan kemungkinan terburuk itu. Ia benar-benar takut jika ia tidak bisa memenuhi wasiat kakaknya, karena ia telah melanggar satu janjinya untuk menemukan sang kakak ipar yang ternyata telah meninggal dunia.
“Permisi, aku ingin bertemu dengan konselor bernama Luciana Roselle.” ucap Jessica ramah. Petugas resepsionis itu kemudian terlihat menghubungi seseorang dan menunjukan wajah menyesal kemudian pada Jessica.
“Maaf, saat ini nona Luciana sedang tidak berada di tempat. Ia sedang pergi ke luar kota dan akan kembali bekerja mungkin lusa. Jika anda mau, anda bisa bertemu dengan asisten nona Luciana.”
Seketika Jessica merasa kecewa dan kehilangan seluruh semangatnya yang sebelumnya tampak menggebu-gebu. Ia merasa kesal dengan nasib yang mempermainkannya akhir-akhir ini. Ia benar-benar tidak bisa mendapatkan semua informasi itu hanya dari satu sumber terpercaya, tapi ia harus berlari kesana kemari seperti orang gila hanya untuk mengetahui dimana keberadaan keponakannya sekarang.
“Kalau begitu aku akan bertemu dengan asistennya saja. Mungkin aku bisa mendapatkan sedikit informasi darinya, daripada kedatanganku di sini sia-sia.” Ucap Jessica terlihat frustrasi. Petugas resepsionis itu kemudian mengarahkan Jessica untuk naik ke lantai empat, dimana ruangan praktik Luciana berada. Kemudian petugas resepsionis itu meminta Jessica untuk menemui Song Jihoo, asisten Luciana yang sebelumnya telah mereka bicarakan.
“Permisi, apa benar ini ruang praktik konselor Luciana Im?”
Seorang pria berkacamata yang sebelumnya sedang menekuni kertas-kertas penuh coretan di depannya langsung mendongak sambil tersenyum ramah.
“Benar. Tapi hari ini nona Luciana sedang berhalangan hadir.”
“Oh tidak apa-apa, aku ke sini untuk bertemu asistennya, Song Jihoo.”
“Saya Song Jihoo. Kalau begitu silahkan duduk.”
Jessica tersenyum kecil pada Jihoo dan segera mengambil tempat di depan meja Jihoo yang kosong. Dengan sedikit gugup Jessica mulai menceritakan maksud dan tujannya datang pagi itu.
“Jadi sebenarnya aku ingin bertemu dengan nona Im untuk membicarakan kasus lama. Kira-kira kasus yang terjadi empat tahun yang lalu.”
“Kasus? Kasus seperti apa yang anda maksud? Mungkin saya bisa membantu untuk menjawabnya karena kebetulan saya sudah menjadi asisten nona Im sejak lama.”
“Jadi aku ingin mengetahui kasus kematian Jung Nicole, apa kau mengetahuinya?”
Jihoo tampak berpikir sejenak dan merasa tak asing dengan nama itu karena beberapa tahun ini ia sering mendengarnya dari Luciana.
“Bisa anda ceritakan bagaimana spesifikasinya? Seperti hubungan anda dengan Jung Nicole dan mengapa anda ingin mengetahuinya?”
“Nicole adalah kakak iparku. Dulu ia menikah dengan kakakku, namun mereka bercerai empat tahun yang lalu karena kakakku harus kembali ke Amerika untuk berobat. Jadi saat perceraian itu Jung Nicole tidak tahu jika suaminya sakit, mungkin ia mengira kakakku telah memiliki wanita lain yang lebih dicintainya, sehingga Nicole sempat mengalami depresi dan memutuskan untuk berkonsultasi pada nona Luciana. Kira-kira apa kau tahu mengenai Nicole? Aku sangat membutuhkan informasi mengenai anaknya karena kakakku memintaku untuk mencari istri dan anaknya setelah ia meninggal. Sayangnya saat aku datang ke sini aku mendapatkan informasi jika Nicole telah meninggal empat tahun yang lalu karena bunuh diri, jadi aku membutuhkan informasi dari nona Luciana atau darimu untuk mengetahui dimana keberadaan keponakanku sekarang.”
Seketika Jihoo menjadi kaku dan bingung. Sekarang ia tahu jika klien yang dimaksud Jessica adalah ibu dari Aleyna. Ibu kandung Aleyna yang dulu meninggal karena bunuh diri. Jadi saat ini Jessica pasti sedang mencari dimana keberadaan Aleyna. Tapi ia tidak bisa memberitahunya sekarang karena ia perlu membicarakan hal ini pada Luciana terlebihdahulu. Bagaimanapun Luciana yang memiliki wewenang penuh atas hak itu. Lagipula hak asuh Aleyna telah menjadi milik Luciana karena Luciana langsung mengadopsi Aleyna begitu Jung Nicole menyerahkan anaknya untuk dirawat oleh Luciana. Jadi meskipun Jessica telah mengetahui dimana kebradaan Aleyna sekalipun, wanita itu tidak bisa membawanya begitu saja ke Amerika. Aleyna saat ini bukan lagi menjadi milik keluarga Jung, tapi milik Luciana.
“Maaf sebelumnya, bukankah Jung Nicole telah meninggal sejak empat tahun yang lalu. Tapi kenapa selama ini tidak pernah ada satupun keluarga yang menanyakan tentang keberadaanya? Setahu saya hingga ia dimakamkan, tidak ada satupun keluarganya yang datang untuk mencarinya.”
Jihoo sengaja menggali lebih jauh mengenai latar keluarga Jung Nicole karena sejak dulu ia dan Luciana selalu menganggap Jung Nicole sebagai wanita sebatang kara yang tak berkeluarga. Tidak pernah ada satupun yang datang untuk mencari Jung Nicole atau Aleyna selama empat tahun ini. Dan ia sangat penasaran mengapa sekarang wanita bernama Jessica itu tiba-tiba mencarinya.
“Itu... itu memang salahku. Sebenarnya kakakku telah berpesan sebelum meninggal agar aku segera mencari anak dan istrinya di Korea karena ia mungkin telah membuat istrinya salah paham dengan keputusannya. Namun aku tak segera mencarinya karena saat itu aku masih terpukul dengan kepergiann kakakku dan aku harus menyelesaikan beberapa hal yang cukup mendesak saat itu. Kupikir aku bisa sedikit menunda pencarian kakak iparku dan anaknya hingga aku benar-benar telah menyelesaikan semua urusanku di Amerika, ternyata aku salah. Aku sekarang benar-benar menyesal dengan semua keputusanku dulu, yang memilih untuk menundanya daripada segera pergi ke Korea untuk mencari dimana kakak iparku berada. Apa kau tahu dimana keberadaan keponakanku? Aku sungguh ingin bertemu dengannya dan membawanya ke Amerika untuk bertemu dengan ibuku, neneknya. Selama ini ibuku selalu menunggu kabar dariku mengenai cucunya karena ibuku juga ikut merasa bersalah dengan semua ini.”
Jihoo mengangguk-angguk kecil beberapa kali sambil memikirkan jawaban yang akan ia berikan pada Jessica. Ia jelas tidak bisa memberitahukan dimana keberadaan Aleyna pada Jessica. Wanita itu tetap harus menunggu hingga Luciana pulang agar Luciana sendiri yang memberikan keputusan atas hak asuh Aleyna. Selain itu ia juga tidak bisa tiba-tiba mengambil Aleyna setelah lebih dari empat tahun tidak pernah memberikan kabar apapun mengenai keluarga Aleyna.
“Maaf kalau memang seperti itu, anda sebaiknya bertemu secara langsung dengan nona Im dua hari lagi. Saya tidak memiliki wewenang untuk membuka data pribadi Jung Nicole yang sudah cukup lama itu. Sekali lagi saya minta maaf.”
“Tak Bisakah kau menghubungi nona Im untuk menanyakan informasi mengenai kakak iparku dan anaknya? Aku sudah lebih dari dua minggu melakukan pencarian ini, dan nona Im adalah harapan satu-satunya. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.” mohon Jessica dengan wajah memelas. Wanita itu sudah tak tahu lagi
bagaiman nasibnya setelah ini jika ia gagal lagi menemukan keponakannya. Ia pasti akan sangat berdosa pada kakaknya karena tidak bisa memenuhi wasiat terakhirnya.
“Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak bisa melakukannya. Apa anda memiliki pertanyaan lain yang ingin anda tanyakan, jika saya bisa, saya akan membantu menjawabnya.”
“Tidak, ini sudah cukup. Kalau begitu terimakasih.”
__ADS_1
Dengan bahu merosot dan langkah gontai, Jessica keluar dari ruangan Luciana sambil menundukan wajahnya dalam. Lagi-lagi ia gagal mendapatkan informasi mengenai keponakannya. Padahal kali ini ia pikir, ia akan mendapatkan informasi yang dibutuhkannya. Tapi lagi-lagi Tuhan mengujinya dengan tidak membiarkannya untuk bertemu dengan Luciana hingga dia hari yang akan datang. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia ingin menenggelamkan dirinya seharian di dalam selimut dan menangis sepuasnya di
dalam kamarnya yang sepi untuk mengurangi semua kepenatan hatinya yang terasa sesak di dadanya.