Kontratransferensi

Kontratransferensi
Imperfect Therapist (Twelve)


__ADS_3

Brukk!


            “Aleyna, cepatlah sedikit! Kita sudah terlambat sayang.”


            Luciana melemparkan setumpuk paper bag ke atas kursi, lalu ia segera berlari menuju kamar Aleyna untuk melihat apakah gadis kecil itu sudah selesai dengan pakaiannya atau belum. Beberapa saat yang lalu ia meninggalkan Aleyna sebentar untuk membli kado untuk Jinri, putra Rein karena hari ini mereka akan menghadiri undangan ulangtahun putra Rein itu. Tapi ketika mereka akan berangkat, Luciana lupa jika ia ternyata belum menyiapkan kado apapun. Akhir-akhir ini ia disibukan dengan penilaian kinerja untuk karyawan perhotelan di seluruh Seoul, sehingga ia tidak memiliki waktu hanya untuk sekedar memikirkan pesta ulangtahun putra Rein yang diadakan minggu ini.


            “Eomma, Aleyna tidak bisa mengancingkan baju.”


            Aleyna muncul dari dalam kamarnya dengan pakaian kusut yang terlihat acak-acakan. Wanita muda itu lantas memutar bola matanya gemas sambil berlari menuju putrinya untuk membantu mencari pakaian lain yang keadaanya jauh lebih baik. Tidak mungkin ia membiarkan putrinya datang ke acara ulangtahun dengan pakaian kusut dan terlihat kumal seperti itu.


           “Kita pakai dress ini saja, itu sudah kusut sayang.”


            Luciana segera mengganti pakaian Aleyna dengan kecepatan super dan merapikan rambut Aleyna yang sedikit berantakan. Ibu muda itu menggelung rambut Aleyna tinggi-tinggi dan memberikan satu jepit bunga di sisi kanan rambutnya untuk mempermanis penampilan Aleyna sore ini.


            “Nah, sekarang kau sudah terlihat lebih cantik. Ayo berangkat! Cepat pakai sepatumu.”


            Aleyna mengangguk patuh dan segera berlari menuju lemari sepatu di depan rumah. Sedangkan Luciana terlihat menutupi seluruh pintu rumahnya terlebihdahulu sebelum ia ikut menyusul Aleyna ke depan untuk pergi ke pesta ulangtahun putra Lee Rein.


            “Eomma! Apa ini kado untuk Jinri?” teriak Aleyna dari ruang depan. Luciana yang sedang menutup pintu dapur langsung berteriak kencang mengiyakan pertanyaan Aleyna dan segera berjalan tergesa-gesa menuju ruang depan.


            “Bawa kadonya, kita sudah terlambat.”


            Luciana segera menyeret tangan Aleyna keluar dan mengunci pintu utama rumahnya dengan tergesa-gesa. Ia takut datang terlambat karena pasti akan ada banyak paparazzi di sana yang menyorot pesta ulangtahun putra Rein. Tidak mungkin pria itu tidak membuat paparazzi heboh dengan pesta ulangtahun putranya karena ia bahkan telah melihat salah satu berita di televisi menayangkan rencana pesta ulangtahun itu kemarin.


            “Eomma, apa paman Rein adalah orang yang kaya?”


            “Paman Rein adalah artis sayang, ia memiliki banyak uang untuk membuat pesta ulangtahun yang mewah.” Jawab Luciana malas.


            “Aleyna juga ingin pesta ulangtahun Aleyna dirayakan seperti Jinri, apa boleh eomma?” tanya Aleyna penuh harap dengan mata bulatnya. Luciana rasanya tidak tega untuk menolak permintaan gadis kecilnya. Tapi ia bukan wanita dengan taraf kekayaan seperti Rein. Bisa dibilang ia berada di kelas menengah untuk strata sosial di lingkungannya.


            “Kita buat pesta ulangtahun di rumah seperti biasanya, bagaimana?”


            “Aleyna ingin merayakan ulangtahun seperti Jinri, atau di sekolah. Aleyna ingin merayakan ulangtahun di sekolah.” ucap Aleyna girang. Luciana tersenyum kecil pada putrinya, lalu menganggukan kepalanya setuju. Tidak masalah sepertinya jika membuat pesta ulangtahun sedikit mewah untuk Aleyna, lagipula ia sudah lama tidak memberikan sesuatu yang istimewa pada putri kecilnya itu.


            “Nah ayo turun, kita sudah sampai.”


            Luciana berhenti di depan sebuah hotel bintang lima yang tampak padat. Dari depan ia sudah bisa melihat banyaknya mobil yang berjejer di area parkir untuk menghadiri acara pesta ulangtahun putra sang artis. Sambil menghembuskan napasnya pelan, Luciana segera menggandeng tangan Aleyna masuk kedalam hotel. Namun ia tetap tidak bisa menyembunyikan kegugupa hatinya sekarang karena ia takut bertemu dengan paparazzi. Ia tidak mau kedatangannya ke sini menjadi bahan perbincangan mereka di televisi atau majalah karena mereka semua tahu jika ia adalah mantan istri sang aktor terkenal itu.


            “Luciana, akhirnya kau datang.”


            Luciana tersenyum ramah pada Rein dan segera menghampiri pria itu yang sedang sibuk menyambut para tamu. Di sampingnya, Yeon Ju terlihat berdiri kaku ketika ia melihat Luciana datang bersama putrinya dengan senyum manis yang terpatri di wajahnya.


            “Maaf kami terlambat, apa acaranya sudah lama dimulai?” tanya Luciana berbasa basi. Wanita itu terlihat berusaha tenang sambil mengabaikan kilatan lampu blitz yang mulai menyerangnya sejak ia melangkahkan kaki di dalam ballroom hotel. Sudah dapat dipastikan jika besok wajahnya akan terpampang besar-besaran di heading


majalah dengan sederet kalimat provokasi yang memuakan. Oh, Luciana sungguh membenci fakta itu! Fakta dimana ia akan berada di posisi sebagai pihak ke tiga yang akan mengganggu keseimbangan hubungan rumah tangga Rein dan istrinya. Bahkan sekarang ia bisa melihat tatapan berkilat wanita cantik di sebelah Rein yang sudah pasti adalah istrinya.


            “Tidak, kau belum terlambat. Terimakasih sudah datang bersama Aleyna.”


            Rein tersenyum manis kearah Aleyna sambil mengelus puncak kepala Aleyna lembut. Pria itu terlihat menelisik kedalam wajah Aleyna yang sekilas mirip seperti Luciana. Hatinya pun mulai resah memikirkan perkataanya dengan jurnalis Shin beberapa hari yang lalu. Mungkinkah Aleyna adalah putrinya?

__ADS_1


            “Kau tidak datang bersama suamimu?” tanya Rein memancing. Luciana terlihat cukup kaget, namun ia bisa menyembunyikan wajah terkejutnya dengan baik di depan pria menyebalkan yang baru saja membuat moodnya semakin memburuk.


            “Aaron sedang pergi ke luar kota, ada beberapa pekerjaan di sana yang harus ia selesaikan.”


            “Oh, kau belum pernah mengenalkan suamimu padaku sejak kita bercerai. Dan ini istriku, Lee Yeon Ju.”


            Rein mendorong sedikit bahu istrinya dan hal itu disambut Yeon Ju dengan uluran tangan kaku kearah Luciana.


            “Lee Yeon Ju, senang bertemu denganmu Luciana.” ucap wanita itu seperti robot. Ada sedikit ketidakikhlasan di dalam hatinya ketika tangan kanannya bersentuhan dengan jari-jari lentik Luciana. Ia iri pada wanita cantik yang sampai saat ini masih dicintai oleh suaminya.


            “Luciana, senang bertemu denganmu Yeon Ju.”


            “Mommy mommy, aku ingin memberikan hadiah pada Jinri.”


            Tiba-tiba Aleyna menarik ujung dressnya dan membuat wanita cantik itu seketika menundukan kepalanya sambil mengelus puncak kepala Aleyna lembut.


            “Dimana birthday boy kita? Kurasa kami harus bertemu dengannya dan mengucapkan selamat atas pertambahan usianya.” ucap Luciana pada Rein dan istrinya. Pasangan itu lantas menunjuk pada kerumunan anak-anak yang sedang mengelilingi seorang badut di atas panggung. Di atas pangkuan badut itu duduk seorang pria kecil dengan mahkota berwarna emas di kepalanya. Luciana dan Aleyna pun langsung mengerti dan meminta ijin pada Rein dan istrinya untuk bertemu dengan putra mereka.


            “Kami akan memberikan selamat ulangtahun pada putramu.”


            “Oh silahkan, dan jangan lupa untuk mencicipi kue-kue di sini.” ucap Rein ramah. Luciana mengangguk pelan dan segera menghela Aleyna untuk mengikuti langkahnya kearah panggung.


            Sepeninggal Luciana, Yeon Ju langsung menunjukan wajah kusut sambil menarik tangan Rein kasar kearahnya.


            “Kau sengaja mengundangnya?”


            “Kau ingin kembali padanya? Aku tahu kau masih mencintainya.” decih Yeon Ju gusar. Rein menyeringai penuh kemenagan kearah istrinya dan menarik sedikit kasa. tangan wanita itu agar beralih menatapnya.


            “Kau tahu rupanya, kalau begitu kau harus sadar pada posisimu yang selamanya tidak akan pernah mendapatkan tempat di hatiku.”


            Setelah itu Rein langsung pergi begitu saja meninggalkan istrinya yang tampak terluka dan ingin menangis. Dengan kasar wanita itu menghapus air matanya yang telah menggenang di pelupuk matanya.


            “Aku tidak akan pernah melepaskanmu Rein! Tidak akan pernah!” tekad Yeon Ju berapi-api dengan mata tajam yang menyorot tepat kearah punggung Rein yang telah berjalan menjauh menuju panggung untuk menghampiri Luciana.


-00-


            “Sayang cepatlah!”


            Joey berjalan malas-malasan menyusul Jihyun yang terlihat begitu bersemangat untuk menghadiri acara ulangtahun putra sahabatnya yang digelar disebuah hotel bintang lima di Seoul. Sejak siang tadi istrinya itu terus membanjirinya dengan ribuan panggilan yang kesemuanya hanya untuk mengingatkan rencana mereka yang


akan menghadiri pesta ulangtahun salah satu aktor terkena di Korea. Padahal ia seharusnya memiliki meeting dengan investor baru dari UAE, tapi semua itu ia batalkan demi permintaan kekanakan Jihyun yang sangat merepotkan.


            “Kenapa kau bersemangat sekali untuk menghadiri pesta kekanakan seperti ini?” tanya Joey gusar. Ketika ia menginjakan kakinya di karpet merah hotel, beberapa lampu blitz langsung membajirinya hingga ia mau tidak mau harus terlihat gentle dengan merangkul pinggang Jihyun.


            “Ini adalah putra dari sahabatku, aku juga harus berbahagia atas kebahagiaannya.”


            “Tapi kau tidak menyukai anak kecil, di sana kau akan bertemu banyak anak-anak.”


            “Ah, itu tidak masalah. Aku hanya akan mengobrol bersama Yeon Ju nanti.” ucap Jihyun berkilah. Mereka berdia lantas berjalan beriringan dengan gaya mesra yang berhasil mengundang decak kagum orang lain saat melihat mereka. Apalagi sejak tadi Jihyun terus menerus menebarkan senyum manisnya pada semua orang, membuat mereka semakin antusias untuk menyapa pasangan sempurna itu.

__ADS_1


            “Dimana sahabatmu? Di sini aku hanya melihat anak-anak berlarian dan para orang dewasa yang sibuk dengan diri mereka sendiri. Apa mereka tidak mengawasi anak-anak mereka yang bisa saja terjatuh?” Decih Joey miris ketika segerombolan anak laki-laki terlihat berlari-lari di depannya sambil memegang sebuah bando milik anak perempuan yang sedang berteriak-teriak tak jauh dari tempatnya berdiri.


            “Sebenarnya itulah yang membuatku tidak terlalu menyukai anak-anak, karena mereka merepotkan dan senang mengganggu kesenangan kami para orang dewasa. Ahh, dimana Yeon Ju berada, aku ingin menyapanya.” Gumam Jihyun sambil melongokan kepalanya kesana kemari. Dari kejauhan Jihyun dapat melihat Rein sedang berdiri di sebelah panggung bersama seorang wanita. Dan ketika ia akan menghampirinya, ia kemudian justru mendecih sambil menghentikan langkahnya, membuat Joey bingung dan menatap penuh tanya kearah istrinya.


            “Bukankah kau akan menghampiri sahabatmu?”


            “Ck, lihatlah Joey, itu adalah mantan istri Rein yang dulu sering menjadi incaran paparazzi. Aku tidak menyangka ia akan datang ke acara ini dan kembali membuat kehebohan dengan hanya berdiri berdua bersama Rein tanpa Yeon Ju diantara mereka.” tunjuk Jihyun sinis. Joey lantas mengikuti arah telunjuk Jihyun dan ia langsung menyadari jika wanita yang saat ini sedang berdiri bersama Rein adalah Luciana, konselornya.


           “Siapa nama mantan istri Rein?” tanya Joey tanpa sadar.


            “Entahlah, sepertinya Luciana Rossele. Kenapa? kau pasti sering melihatnya dulu karena ia sering muncul di sampul depan majalah gosip. Tapi setelah bercerai dengan Rein ia dikabarkan telah menikah lagi dengan seorang pria biasa. Namun beberapa rumor pernah menyebutkan jika ia sempat mengandung anak Rein karena sebelum menikah dengan suami barunya, ia sudah terlihat memiliki anak.”


            “Darimana kau tahu semua itu?” tanya Joey heran. Ia tidak pernah tahu jika istrinya sangat suka ikut campur urusan orang lain. Bahkan hingga sedetail itu.


            “Yeon Ju pernah menceritakannya padaku. Kasihan sekali Yeon Ju karena wanita itu seperti ular. Meskipun ia telah bercerai dengan Rein, tapi ia masih mencari perhatian pada Rein.” cibir Jihyun pedas. Joey mengernyitkan dahinya heran dan kembali menatap Luciana dari kejauhan yang sedang asik berbicara pada Rein. Dari gestur tubuh mereka tampak Luciana seperti sedang menunjuk kearah Aleyna dan seorang anak laki-laki yang sedang bermain di sebelah Aleyna.


            “Dimana sahabatmu itu? Aku pusing melihat anak-anak itu berlarian.” keluh Joey. Mereka berdua lantas berjalan lebih jauh kedalam ball room sambil mencari-cari dimana keberadaan Yeon Ju karena sesungguhnya mereka tidak terlalu mengenal orang-orang yang datang di acara pesta ulangtahun itu.


            “Jihyun? Hai!”


            Yeon Ju tiba-tiba muncul entah darimana dan langsung memeluk Jihyun heboh. Wanita dengan gaun kuning tersenyum sumringah pada Jihyun dan langsung menggiring Jihyun bersama Joey sedikit ke tepi untuk mengobrol.


           “Aku mencarimu sejak tadi. Kau membuat kami terlihat aneh diantara pada bocah-bocah itu.” tunjuk Jihyun pada segerombolan anak-anak yang masih saja sibuk menggoda seorang anak perempuan cantik dengan gaun violet.


            “Anak-anak memang seperti itu. Bahkan orangtua mereka tidak bisa mencegah mereka untuk berlarian kesana kemari. Ayo kita bertemu Jinri, ia pasti senang melihatmu datang karena sejak tadi ia menanyakan keberadaanmu. Oh, apa ini suamimu?”


            Tiba-tiba Yeon Ju tersadar pada Joey yang sejak tadi hanya mengawasi setiap obrolan istrinya bersama sahabatnya tanpa melakukan apapun.


            “Hai, terimakasih telah mengundangku dan Jihyun.”


            Joey sedikit menundukan kepalanya sopan dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan pada Jihyun.


            “Sama-sama. Terimakasih juga karena kau sudah bersedia hadir di tengah-tengah tugas kantormu yang padat.” ucap Yeon Ju bercanda.


            “Yeon Ju, apa itu mantan istri suamimu?” tanya Jihyun berbisik di sebelah Yeon Ju. Wanita itu lantas menoleh lalu mengangguk getir sambil menunjukan wajah sedih di depan Jihyun.


            “Rein mengundangnya, dan dengan tak tahu malunya ia datang bersama anak tidak jelas itu.” cibir Yeon Ju kesal. Jihyun mengangguk-angguk kearah Yeon Ju dan memberikan sebuah belaian menenangkan di pundak Yeon Ju agar sahabatnya itu lebih tenang.


            Di sisi lain, Joey justru merasa kesal dengan kedua wanita di depannya yang sejak tadi justru sibuk mencibir wanita lain yang menurutnya sedang tidak melakukan apapun. Menurutnya Luciana dan Rein masih terlihat normal dan hanya saling mengobrol. Tapi kedua wanita di depannya justru menganggap interaksi yang terjadi diantara Luciana dan Rein adalah sebuah adegan perselingkuhan yang sangat buruk.


            “Ayo kita hampiri mereka, jangan sampai wanita penggoda itu menggoda Rein lebih jauh.” ajak Jihyun sambil menarik tangan Yeon Ju. Joey yang melihatnya hanya mampu menggelengkan kepalanya tak habis pikir tanpa bisa mencegah sikap kekanakan istrinya. Tapi sekarang ia justru satu pertanyaan baru terkait Luciana di dalam pikirannya. Mengapa wanita itu selama ini bertingkah seolah-olah ia adalah seorang wanita paling bijaksana dengan lusinan solusi jika pada kenyataanya wanita itu justru memiliki banyak masalah pelik yang melingkupinya? Itu sungguh sangat bertolak belakang dengan profesi yang ditekuninya selama ini. Dan sekarang ia merasa ragu dengan keputusannya untuk berkonsultasi pada Luciana jika nyatanya masalahnya dan wanita itu hampir sama. Mereka sama-sama memiliki masalah dengan keluarga dan juga pasangan mereka.


            “Rein Lee ssi...”


            Dua orang yang sebelumnya sibuk bercakap-cakap itu lantas berbalik sambil menunjukan berbagai macam ekspresi yang tampak kontras. Rein yang terlihat santai dengan senyum lebarnya, sedangkan Luciana tampak terkejut sambil memandang Joey penuh kekakuan.


            Kenapa ia berada di sini?


            Luciana Im, apa kau merasa tertangkap basah?

__ADS_1


__ADS_2