
Irene memasuki kamarnya sambil menghembuskan napas dalam-dalam, merasakan bagaimana aroma khas kamarnya yang sejak tujuh bulan lalu sama sekali tidak berubah. Ia pun meletakan kopornya di atas karpet dan mulai membongkar barang-barangnya satu persatu untuk ditata di dalam lemari. Tiba-tiba ia menemukan sebuah sepatu bayi yang pernah diberikan Suho padanya.
Saat itu ia sedang mendatangi kantor Suho untuk menggoda pria itu dan membuat pria itu terprovokasi oleh kata-katanya. Tapi entah kenapa saat itu Lee Suho hanya mengendikan bahunya sekilas dan tiba-tiba meletakan sebuah bungkusan di atas meja. Dengan penasaran ia pun membuka bungkusan itu dan menemukan sepasang sepatu bayi berwarna merah dengan hiasan bola di pinggirnya. Padahal saat itu ia belum tahu jenis kelamin bayinya, dan dengan penuh percaya diri Lee Suho memberinya sepasang sepatu bayi untuk seorang bayi laki-laki. Lalu ia pun menanyakan pada Suho mengapa pria itu memberinya sepatu untuk bayi laki-laki, padahal mereka berdua sama-sama belum mengetahui jenis kelamin bayi mereka. Suho kemudian mengatakan jika ia hanya sekedar iseng membeli sepatu itu karena ia merasa tertarik dengan bentuknya ketika ia dan Yuri sedang berjalan-jalan di mall. Mendengar Lee Suho menyebut nama Yuri, hatinya menjadi marah dan ia tidak mau menerima sepatu pemberian Suho. Saat itu ia langsung membuangnya di depan Suho dan mengatakan jika sepatu itu sangat jelek dan ketinggalan jaman. Tapi keesokan harinya, Suho datang ke apartementnya untuk mengantar sepatu itu dan
mengatakan jika ia tetap harus menerimanya meskipun bentuknya jelek, karena ia membelinya dengan sepenuh hati untuk calon anaknya.
Sekarang Irene merasa begitu terenyuh ketika melihat sepatu itu, karena bagaimanapun juga Suho masihlah ayah dari bayi yang dikandungnya. Dan meskipun Suho mengatakan jika ia membencinya, tapi ia masih terikat dengan anaknya, dan ia tetap peduli pada anaknya meskipun mereka sedang berkonflik sekalipun.
__ADS_1
Irene mengambil sepatu bayi itu dan menyimpannya di dalam lemari pakaiannya. Suatu saat jika bayinya lahir ia akan memakaikan sepatu itu pada anaknya, meskipun anaknya nanti adalah perempuan, itu tidak masalahnya. Apalagi sepatu itu berasal dari ayahnya, ia ingin anaknya tetap merasakan kehadiran ayahnya, meskipun pada kenyataanya ayahnya sama sekali tidak ada di sampingnya.
“Kapan perasaan ini akan hilang untukmu oppa? Meskipun aku sudah menguburnya dan menggantinya dengan kebencian, tapi tetap saja aku tidak bisa. Justru perasaan itu semakin kuat bercokol di hatiku sejak aku mengandung bayi ini. Aku tidak bisa menggantikanmu dengan pria lain.”
Irene menangis pilu di dalam kamarnya sambil bersandar pada kaki ranjangnya yang kokoh. Bayangan masa lalu mereka yang penuh cinta dan bayangan percintaan mereka yang panas menari-nari di dalam kepalanya dan membuatnya semakin ingin menangis sekencang-kencangnya, meratapai nasib cintanya yang penuh luka. Andai ia dapat mengulang waktu, ia ingin menghapus semua kenangan indahnya dengan Suho dan berbalik untuk tidak mengenal pria itu sama sekali jika pada akhirnya akan jadi seperti ini. Lebih baik dulu mereka tidak saling mengenal satu sama lain, daripada ia harus merasakan sakit karena mengenal pria itu dan mencintainya.
Hari demi hari berlalu dan berganti bulan. Tak terasa tiga bulan telah terlewat setelah kepergian Irene dan Yuri, namun Suho masih tetap berdiri di tempat yang sama dengan kepasifannya. Tak ada usaha untuk memperbaiki rumah tangganya yang hancur bersama Yuri ataupun usaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Irene. Dengan terang-terangan ia telah menolak tawaran Luciana untuk mengantarnya ke New York menggunakan maskapi penerbangan milik Joey. Ia hanya menjalani hidupnya seperti air. Bangun di pagi hari lalu berangkat ke kantor dan menenggelamkan dirinya pada tumpukan berkas-berkas yang harus ia tandatangani dan ia periksa. Siklus itu terus berlanjut setiap hari hingga tak terasa hari-hari itu telah berkumpul menjadi bulan bulan yang penuh kesia-siaan bagi Lee Suho.
__ADS_1
Pagi ini pun Suho kembali memulai harinya seperti siklus yang biasa ia lalui. Pagi-pagi ia membersihkan dirinya di kamar mandi selama lima belas menit, lalu berganti pakaian, menyeduh teh, dan setelah itu ia akan berangkat ke kantor. Sarapan, dan makan siang akan ia gabungkan di jam sebelas, lalu sebelum ia pulang ke rumah ia akan pergi ke restoran terdekat untuk mengisi perutnya yang sebenarnya tidak terlalu lapar. Ia hanya sekedar makan untuk memberikan asupan bagi tubuhnya agar tubuhnya tetap sehat ditengah-tengah keadaanya yang tidak memiliki siapapun untuk mengurusnya.
“Huhhh...”
Suho menghela napas pelan sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Dirasanya saat ini hidupnya benar-benar hampa dan membosankan. Tak ada semangat hidup yang dimilikinya untuk memotivasinya agar semakin giat bekerja karena ia tak memiliki siapapun. Terkadang sahabat-sahabatnya saat high school mengunjunginya dan mengajaknya untuk bersenang-senang di klub. Tapi meskipun begitu hati dan pikirannya sama sekali tidak berada di klub, melainkan berada di tempat lain yang sangat jauh. Terkadang sahabat-sahabatnya itu sengaja memberikan seorang wanita dari klub agar Suho dapat menghabiskan malam-malam kesepiannya dengan salah satu wanita itu. Tapi seperti yang selama ini ia rasakan pada Yuri, ia juga merasa tak bergairah dengan mereka. Baginya mereka hanyalah wanita biasa yang sama sekali tidak bisa menarik perhatiannya untuk bersenang-senang bersama. Justru ia akan bergairah hanya dengan membayangkan malam percintaan panasnya dengan Irene. Bagaimanapun wanita itu selama ini telah membuatnya kembali mencintainya, dan bertekuk lutut padanya. Terlebih ketika ia mengetahui jika Irene sedang mengandung anaknya, perasaan cinta itu sebenarnya semakin membuncah di dalam hatinya. Tapi ia tidak bisa mengatakannya. Justru ia telah menyakiti hati dua wanita sekaligus dengan sifatnya yang serakah.
Suho membuka ponselnya dan menemukan sebuah pesan dari salah satu wanita yang dikenalkan oleh Chanyeol padanya. Ia pun membalas pesan tersebut dan segera bangkit berdiri untuk menemui sang wanita di sebuah kafe Eropa yang tak jauh dari kantornya. Mungkin nanti ia tidak akan tertarik dengan wanita itu, tapi setidaknya ia harus mengharagai usaha Chan untuk mencarikannya seorang wanita agar kehidupannya tidak lagi membosankan dan menyedihkan.
__ADS_1