Kontratransferensi

Kontratransferensi
Luciana Side Story (Fourty One)


__ADS_3

            Kenapa kau menerimaku?


            Dulu aku pernah mendapatkan pertanyaan itu dari Joey oppa. Setelah kami melewati serangkaian kejadian yang paling emosional di bandara, Joey oppa memberikan pertanyaan itu padaku sambil menatapku terheran heran. Saat itu, spontan aku mengatakan padanya jika aku sangat mencintainya sehingga tak ada hal lain yang


bisa kulakukan selain menerimanya dengan tangan terbuka. Namun baru belakangan ini aku mulai menyadari jika semua itu bukan hanya karena cinta semata. Cinta memang yang melandasiku mengatakan “ya” padanya ketika ia melamarku. Tapi lebih daripada itu, semua ini terjadi karena aku mendapatkan pelajaran dari kehidupanku.


            Pertama, dimulai dari pernikahanku yang gagal bersama Rein. Saat itu usiaku masih sangat


muda. Aku menikah dengan Rein ketika aku baru saja lulus dari perguruan tinggi dan sedang giat-giatnya membangun karir di bidang konseling. Saat mengetahui mantan suamiku mulai dekat dengan wanita-wanita lawan mainnya, aku hanya diam dan tidak terlalu memusingkannya. Semua itu hanya kuanggap sebagai bagian dari profesionalitas kerja dan saat itu aku masih menjadi seorang wanita muda yang sangat idealis, “suamiku hanya mencintaiku, ia tidak mungkin mengkhianatiku”. Kira-kira seperti itulah kalimat penyemangatku setiap hari saat melihat berbagai macam berita yang memberitakan Rein yang sedang dekat dengan lawan mainnya. Saat itu ibuku bahkan sampai merasa khwatir padaku. Suatu sore ibuku menghubungiku dari Daegu, ia dengan nada khawatir menanyakan bagaimana keadaanku saat ini. Dan tanpa beban aku langsung menjawab, jika kau baik-baik saja. Aku hampir tidak pernah merasakan apa itu yang dinamakan kekhawatiran atau ketakutan saat menikah dengan Rein. Justru orang-orang di sekelilingku yang sibuk mengkhawatirkanku yang terlihat tanpa beban selama bekerja di Seoul. Ibuku berkali-kali berpesan padaku untuk selalu memperhatikan mantan suamiku, ah maksudku... Rein karena ia berkali-kali melihat berita mengenai mantan menantunya itu terpampang di televisi. Tapi aku selalu berhasil meyakinkan ibuku jika semuanya baik-baik saja dan dalam keadaan aman. Namun setelah empat bulan berlalu, aku mulai merasa aneh dengan sikap mantan suamiku itu. Ia mulai terlihat acuh, jarang pulang, dan selalu terlihat kusut saat pulang. Kebetulan saat itu ia juga sedang disibukan dengan projek dramanya, sehingga aku tidak pernah bertanya lebih jauh ketika ia pulang ke rumah dalam keadaan lelah. Dan bodohnya aku, meskipun aku telah diperlihatkan bukti-bukti perselingkuhan Rein dengan kekasihnya, aku masih saja memberikan kepercayaannku pada pria itu dan mengatakan pada mereka, orang-orang yang memperingatkanku, bahwa Rein tidak mungkin menjalin hubungan dengan wanita lain karena ia hanya mencintaku seorang. Hahaha... rasanya sangat konyol mengingat pemikiran primitifku itu. Sudah jelas bukti-bukti itu berada di depan mataku, tapi aku masih saja memberikan kepercayaan pada Rein untuk melanjutkan projek dramanya dan menjalankan kehidupanku dengan normal, seperti tidak pernah ada apapun yang terjadi. Hingga pada akhirnya berita menyakitkan itu sampai di telingaku. Suatu siang, saat aku sedang makan siang bersama beberapa rekan kerjaku, aku iseng-iseng membuka ponsel dan mulai melihat berita terbaru mengenai artis-artis yang biasanya selalu kuabaikan. Entah kenapa saat itu aku ingin melihat berita mengenai mantan suamiku yang selama ini jarang kulihat karena aku terlalu sibuk dengan klienku. Saat pertama kali aku membuka platform khusus untuk berita para artis, aku melihat berita mengenai perselingkuhan mantan suamiku berada di puncak kolom pencarian. Merasa penasaran, akhirnya aku pun ikut membaca dan mulai mencari tahu lebih dalam apa yang dilakukan oleh mantan suamiku selama ini. Namun baru sekitar tiga artikel yang kubaca, aku sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan. Tiba tiba pelupuk mataku telah dipenuhi oleh air mata dan dalam sekejap aku langsung menangis meraung-raung di depan rekan-rekan kerjaku. Ternyata apa yang selama ini dikatakan oleh orang-orang tentang mantan suamiku benar, ia selama ini telah berselingkuh dengan lawan mainnya hingga berujung pada kehamilan wanita itu. Betapa bodohnya aku selama


ini karena tidak pernah mempedulikan peringatan orang-orang dan kekhawatiran ibuku yang selalu memantau bagaimana tingkah laku mantan suamiku selama menjalani pekerjaan artisnya. Dan tanpa menunggu-nunggu lebih lama lagi, aku langsung melayangkan gugatan cerai pada pria itu karena aku tidak mau lagi berhubungan dengannya. Sudah cukup ia membodohiku selama ini dengan kata-kata cintanya yang ternyata hanya omong kosong belaka. Tapi untung saja aku segera mengetahui kebusukannya itu dan segera mengambil tindakan untuk bercerai, karena jika tidak, mungkin aku akan berakhir seperti para klienku yang mengalami gangguan jiwa. Meskipun aku adalah seorang konselor, tapi aku tidak pernah luput dari rasa stress dan depresi. Semua itu terus menghantuiku tanpa henti pasca perceraianku dengan Rein. Ia yang seorang aktor membuat hidupnya selalu dikelilingi oleh paparazzi. Dan hal itu mau tidak mau juga berdampak padaku yang saat itu pernah menjadi istrinya. Setiap hari aku selalu dikejar-kejar oleh paparazzi hingga aku mengalami ketakutan yang sangat parah.


Pernah suatu hari aku memutuskan untuk menginap di kantor karena sejak pagi hari, aku telah dibuntuti oleh lima orang paparazzi yang rela menungguku di depan kantor. Lalu keesokan harinya aku memohon pada dewan elit di perusahaanku agar mereka memberikan fasilitas perlindungan padaku. Rasanya benar-benar jengah, setiap jam, menit, dan detik, harus dilalui dengan puluhan paparazzi yang sangat mengganggu bak lalat. Bahkan saat aku memiliki Aleyna, mereka juga turut berbondong-bondong menyerbuku untuk menanyakan status Aleyna yang

__ADS_1


misterius. Huhh... mereka memang sudah sangat kelewatan! Tapi untung saja pemerintah memberikan perlindungan yang sangat total untukku, sehingga gangguan dari para paparazzi itu hanya kurasakan tidak lebih dari satu bulan. Selebihnya aku bisa bernapas lega dan kembali melanjutkan hidupku bersama Aleyna karena paparazzi itu tidak bisa menyentuhku. Meskipun aku masih melihat mereka berlalu lalang disekitar rumahku atau kantorku lebih dari satu bulan, tapi mereka tidak bisa sedikitpun menyentuhku.


            Dua tahun aku hidup sendiri bersama Aleyna. Banyak hal yang kami alami bersama. Mulai dari hal-hal yang menyenangkan, hingga hal-hal menyedihkan yang nyaris membuatku ingin mati karena ketakutan. Jadi saat Aleyna berusia delapan belas bulan, ia pernah terserang demam yang sangat tinggi. Selama dua hari aku memberikannya obat penurun panas, demamnya tak kunjung turun juga. Karena merasa panik dan frustrasi, akhirnya aku membawa Aleyna ke dokter untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Di sana ternyata aku tidak bisa


langsung mendapatkan dokter untuk Aleyna. Aku harus berputar-putar kesana kemari untuk melakukan administrasi hingga pada akhirnya aku mendapatkan nomor antrean untuk seorang dokter spesialis anak yang sedang praktik saat itu. Namun setelah mendapatkan nomor antrean, aku masih harus menunggu sekitar lima pasien untuk bisa bertemu dengan dokter anak itu. Dengan perasaan gelisah dan juga cemas, akhirnya aku memaksakan diri untuk menunggu hingga nomor antreanku tiba. Sungguh saat itu aku sudah merasa takut karena Aleyna sejak tadi terus memejamkan matanya di gendonganku tanpa bergerak sedikitpun. Melihat kondisi Aleyna yang sudah lemas, membuat dokter itu segera mengambil tindakan dan menganjurkanku untuk melakukan rawat inap karena Aleyna ternyata terserang penyakit demam berdarah dan kondisinya cukup krtitis saat itu. Dan tanpa pikir panjang aku pun segera mengiyakan apapun yang dikatakan oleh dokter sambil mengusap bulir-bulir air mata yang tidak pernah berhenti sedikitpun sejak Aleyna dibawa ke kamar isolasi untuk diberikan perawatan intensif.


            Selama tiga hari Aleyna di rawat di ruangan khusus dan perlahan-lahan keadaanya mulai stabil. Wajahnya yang semula pucat, kini perlahan-lahan menampakan rona merah yang telah lama hilang dari wajahnya. Ibuku dan ayahku saat itu juga ikut menemaniku menjaga Aleyna hingga Aleyna dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang oleh dokter. Terhitung selama dua minggu aku berada di rumah sakit untuk memberikan dukungan dan merawat gadis kecilku. Saat itu aku mengambil seluruh jatah cutiku untuk satu tahun kerja demi menemani Aleyna secara total di rumah sakit, karena aku sadar jika semua yang terjadi pada Aleyna adalah kesalahanku. Ketika awal-awal Aleyna sakit, aku tidak menghiraukannya dan menganggapnya hanya sebuah demam biasa. Aku terus memberinya obat penurun panas dan tetap menitipkannya di rumah penitipan anak sementara aku bekerja di biro konsultasi negara. Saat itu pengetahuanku tentang anak-anak memang sangat minim, sehingga aku hampir saja kehilangan Aleyna untuk selama-lamanya. Tapi sejak saat itu aku mulai bertekad untuk menjadi ibu yang baik, dan aku selalu memperhatikan orang-orang disekitarku agar aku tidak menjadi ibu yang payah.


            Ketika Aleyna berusia dua tahun tiga bulan, seorang pria bernama Jung Aaron mulai mendekatiku. Pria yang merupakan kerabat dari rekan kerjaku itu secara terang-terangan menunjukan ketertarikannya padaku. Namun aku tidak pernah sedikitpun berharap padanya akan menikahiku karena aku tahu jika aku bukan wanita lajang dan dulunya sudah pernah menikah satu kali. Sebenarnya tidak banyak yang ingin kuceritakan dari kehidupan pernikahanku dengan Aaron oppa, hanya saja ada satu hal yang perlu kutekankan dalam pernikahanku dengannya, bahwa seharusnya aku tidak boleh menjadi wanita egois untuknya. Disaat ia sedang berjuang dengan keterpurukannya, aku dengan suka rela mengiyakan permintaanya untuk bercerai. Memang, sampai kapanku aku tidak akan pernah mendapatkan keturunan dari hubungan pernikahanku dengannya, namun setidaknya aku bisa memberikan dukungan disaat-saat ia sedang terpuruk. Hingga detik ini aku tidak pernah bisa melupakan keegoisanku itu pada Aaron oppa. Untung saja ia adalah pria yang baik, dan penuh pikiran positif, sehingga ia bisa menjalankan hari-harinya tanpa beban setelah dokter memvonisnya tidak bisa memiliki keturunan.


seorang wanita idealis dan juga egois. Saat Joey oppa melamarku, tanpa pikir panjang aku langsung menerimanya. Meskipun ia telah menorehkan luka di hatiku dengan kata-kata kasarnya dan juga sikapnya yang kasar, tapi aku langsung menerimanya tanpa harus melakukan adegan drama yang menurutku sangat tidak berguna untuk dilakukan. Untuk apa aku bersikap jual mahal di depan Joey oppa, sedangkan aku memang sangat mencintainya dan sangat ingin hidup bersamanya. Belum tentu kesempatan untuk menikah dengannya akan datang dua kali. Lagipula jika aku lebih mementingkan egoku dengan bersikap sok jual mahal di depannya, aku justru akan menyakiti calon anakku. Bagaimana nasibnya jika aku saat itu tidak langsung menerima lamaran Joey oppa? Mungkin hidupnya akan lebih mengenaskan dengan status ayah yang sama sekali tidak jelas. Jadi keputusanku


saat itu untuk menerima Joey oppa adalah karena seluruh pengalamanku selama ini. Dulu idealisku membuatku kehilangan Rein, kemudian keegoisanku juga membuat aku gagal membina hubungan rumah tangga dengan Aaron oppa, jadi sekarang aku tidak ingin mengulang semua kesalahanku itu lagi. Sudah cukup aku mendapatkan kehidupan yang sangat rumit selama ini, sekali-sekali aku ingin hidup dengan damai tanpa ada sedikitpun kerumitan yang menjadi bayang-bayangku. Lagipula untuk mendapatkan semua kebahagiaan ini, aku tidak hanya mengorbankan harga diriku yang telah diinjak-injak oleh Jihyun, tapi juga mengorbankan karirku sebagai konselor, dan juga mengorbankan citraku yang tidak bisa sepenuhnya kembali menjadi baik karena semua orang telah mengetahui berita perselingkuhanku dengan Joey oppa. Jadi daripada aku semakin memperkeruh hidupku, aku memilih untuk menyederhanakan semuanya dan langsung menerima Joey oppa tanpa syarat. Karena sebanyak apapun ia menyakitiku dan menorehkan luka di hatiku, aku tetap mencintainya sebagai pria terakhir yang akan terus singgah di hatiku.

__ADS_1


            “Luci! Lucas menangis, ia sepertinya lapar.”


            Oh, bayi tampanku pasti sudah terbangun. Hmm... apa kalian terkejut? Aku sudah melahirkan seorang bayi tampan dua bulan yang lalu. Joey oppa memberi nama anak kami Lucas Lee. Entah mendapatkan inspirasi darimana, ia tiba-tiba sajabersikeras untuk memberi nama anak pertama kami dengan nama Lucas. Tapi untung saja Joey oppa telah memiliki stok nama untuk nama anak kami, karena sejujurnya aku sama sekali tidak memiliki stok nama yang bagus untuk putra pertamaku. Di minggu-minggu menjelang kelahiran bayiku, aku justru disibukan dengan urusan mendaftarkan Aleyna ke sekolah dasar karena gadis kecilku itu kini perlahan-lahan telah beranjak dewasa dan tak terasa usianya telah menginjak enam tahun, hampir tujuh tahun. Jadi saat aku hampir melahirkanpun, aku masih sibuk pergi kesana kemari untuk mencarikan sekolah untuk Aleyna hingga pada akhirnya sore itu aku harus dilarikan ke rumah sakit karena aku sudah mengalami pembukaan empat. Hahaha... bukankah aku sangat santai? Memang! Bahkan Joey oppa sudah panik luar biasa ketika berada di ruang bersalin, sedangkan aku masih santai dan justru menanyakan padanya apakah Aleyna sudah makan siang atau belum berkali-kali. Tapi syukurlah, aku diberikan kemudahan oleh Tuhan saat melahirkan Lucas, dan aku bisa melahirkan secara normal. Woww... itu sungguh pencapaian yang luar biasa selama aku menjadi seorang wanita. Terdengar berlebihan memang, tapi begitulah adanya. Aku merasa sempurna sekarang, karena aku telah melahirkan seorang bayi tampan dari rahimku sendiri.


            “Luciana, harus berapa kali aku memanggilmu? Lucas menangis!” teriak Joey oppa gemas. Aku refleks menoleh cepat kearah pintu kaca sambil menangkupkan tanganku di depan dada.


            “Maafkan aku sayang, aku sedang melamun.”


            Well, bukankah aku istri yang jujur? Aku tidak pernah menutup-nutupi apapun dari Joey oppa semenjak kami menikah. Kecuali tentu saja perilaku para maidnya yang dulu tidak bersahabat denganku. Tapi sekarang mereka telah bersikap ramah padaku. Bibi Jang juga tidak lagi menunjukan tatapan penuh permusuhan seperti dulu, dan justru sekarang ia sangat memperhatikanku seperti ibuku sendiri.


            “Lucas lapar dan aku harus menemani Aleyna pergi membeli sepatu. Lihatlah, ia sudah merengek-rengek sejak tadi di ruang tamu.”


            “Maaf, aku sungguh tidak tahu. Ahh... jangan tunjukan wajah cemberut seperti itu oppa, kau terlihat jelek.”

__ADS_1


            “Kau yang memulainya Luci. Cepat beri makan Lucas, aku pergi dulu bersama Aleyna.”


            “Hati-hati di jalan tampan.” godaku sambil terkikik geli. Joey oppa tampak mendelik kesal dan segera pergi menggandeng tangan Aleyna yang sudah menghentak-hentakan kaki tidak sabar. Owhh... aku sangat suka melihat kedekatan mereka yang menggemaskan. Terimakasih Tuhan untuk segala kerumitan yang telah kau berikan padaku, karena dengan begitu aku dapat belajar, jika kehidupan ini memang tidak pernah dimulai dengan sesuatu mudah.


__ADS_2