
Malam harinya Irene merenung sendiri di balkon rumahnya sambil menatap langit mendung kota New York. Bayangan mengenai percakapannya dengan Kim Soohyun siang ini terus menghantuinya dan membuatnya sulit terpejam, padahal ia sangat ingin tidur dan melupakan semuanya agar ia tidak stress menjelang hari pernikahannya nanti. Tapi sayangnya ia tidak bisa memejamkan matanya dengan mudah karena di kepalanya terus berputar-putar wajah Suho yang sedang menatapnya dengan sorot mata kekecewaan. Padahal selama ini Lee Suho selalu mendukung rencana pernikahannya dengan Kim Soohyun dan tidak ada tanda-tanda darinya akan mengacaukan semua rencana itu. Tapi hati kecilnya justru menginginkan hal yang sebaliknya, ia ingin Lee Suho mengacaukan semuanya dan membawanya pergi dari kehidupan rumah tangga semu yang akan dijalaninya.
“Apa yang kau lakukan di sini, Irene?”
Saat mendengar suara Suho mengalun cukup keras di belakangnya, Irene langsung menghambur ke dalam pelukan pria itu sambil menangis terisak di dada Suho. Awalnya Suho cukup terkejut dengan sikap Irene dan juga takut jika ada orang lain yang melihatnya. Namun setelah dirasa semua aman, ia pun memberanikan diri untuk membalas pelukan Irene sambil mengelus punggung kecil itu pelan.
“Aku tidak mau menikah dengan Soohyun oppa, aku tidak bisa.” isak Irene pelan di dalam dekapan Suho. Suho mengelus punggung Irene intens dan semakin menenangkan Irene agar wanita itu tidak menangis lagi.
“Kau harus menikah dengannya, dia pria yang baik dan tepat untukmu. Dia adalah satu-satunya pria yang akan menyayangi Hyura seperti anaknya sendiri, jadi kau harus menikah dengannya.”
“Tapi aku tidak pernah mencintainya, aku tidak bisa mencintainya. Jika aku berusaha aku justru akan menyakiti diriku sendiri. Oppa, bawa aku dan Hyura pergi. Bawa kami pergi sejauh-jauhnya dari ayahku dan juga Kim Soohyun, lalu kita dapat memulai semuanya dari awal lagi, oppa.” ucap Irene memohon dengan mata sendu. Suho menggeleng tegas sambil mengusap bulir-bulir air mata yang mengalir turun dari pelupuk mata Irene. Meskipun Irene berlutut sekalipun di hadapannya, ia tidak akan pernah membawa Irene pergi karena ia lebih tak pantas daripada Kim Soohyun untuk bersanding dengan Irene.
“Aku tidak bisa, tempatmu di sini, bersama Kim Soohyun dan aku sangat yakin jika
pria itu dapat membahagiakanmu. Selama berada di sini aku terus mengamati sikapnya yang selalu perhatian padamu dan Hyura, ia adalah pria yang sempurna untuk kalian. Ia adalah pria yang tepat untuk mengobati luka hatimu karenaku, jadi jangan pernah menengok ke arahku, apalagi memintaku untuk membawamu pergi karena aku tidak akan melakukannya.”
“Kau jahat oppa! Kau jahat!”
Irene memukul-mukul dada Suho sekuat tenaga sambil menangis tersedu-sedu membayangkan nasib pernikahannya nanti. Lalu Suho menangkap tangan mungilnya dan menahannya di belakang tubuhnya sebelum akhirnya Lee Suho ******* bibir Irene lembut penuh perasaan.
“Ciuman terakhir sebelum kau resmi menjadi nyonya Kim.” bisik Suho lembut di depan bibir Irene. Dan Irene seperti kehilangan kendali karena ia dengan rakus langsung ******* bibir Suho dengan penuh emosi yang menggebu-gebu.
“Dan jika hari ini kau ingin menyentuhku untuk terakhir kalinya, aku mengijinkanmu oppa. Gunakanlah kesempatan ini untuk memenuhi mimpi erotismu selama ini.” bisik Irene serak di telinga Suho. Suho pun kembali ******* bibir Irene di bawah langit mendung kota New York yang akan menjadi saksi keputusasaan cinta mereka.
-00-
Setelah percintaan panas mereka yang kembali terulang, Irene dan Suho memutuskan untuk saling menjauh. Keesokan harinya saat sarapan bersama Suho meminta ijin untuk pindah ke hotel dengan alasan ia merasa tidak enak berada di rumah tuan Shin dan menjadi beban untuk mereka. Namun ia berjanji akan tetap berada di New York hingga pernikahan Irene dan Kim Soohyun terlaksana. Namun setelah itu ia benar-benar akan meninggalkan Irene dan Hyura untuk bersama Kim Soohyun.
Kepergian Suho pagi itu disikapi Irene dengan dingin dan datar. Dan hal itu sempat menjadi pertanyaan besar bagi Kim Soohyun karena selama ini ia melihat Irene selalu antusias dengan kehadiran Suho di rumahnya.
“Kenapa tiba-tiba kau memutuskan untuk pindah? Bukankah di sini kau bisa lebih dekat dengan Hyura?” tanya Kim Soohyun mencoba mencaritahu. Namun Irene dengan sengit justru memperingatkannya agar jangan mencampuri urusan Suho maupun keputusan Suho.
“Sudahlah oppa, makan saja sarapanmu, kenapa kau repot-repot mengurusinya. Bukankah bagus jika ia pindah ke hotel, kau tidak perlu lagi terbakar cemburu karena kehadirannya di sini.”
Kim Soohyun melirik Irene dan Suho bergantian dengan berbagai spekulasi negatif di dalam kepalanya. Ia yakin jika diantara mereka telah terjadi sesuatu yang tidak diketahuinya.
__ADS_1
“Apa yang dikatakan Irene benar, aku hanya tidak ingin menjadi penggangu diantara hubungan kalian. Dan aku juga ingin memberikan selamat atas pernikahan kalian.” ucap Suho dengan senyum getir yang disamarkan. Irene melirik Suho penuh kegusaran dan memilih untuk segera menyelesaikan sarapannya karena ia muak bermain drama di depan ayahnya dan juga Kim Soohyun. Semalam mereka sempat terlibat adu mulut setelah kegiatan panas mereka karena Suho benar-benar kukuh pada pendiriannya untuk tetap membiarkannya menikah dengan Kim Soohyun meskipun pria itu tahu jika ia sangat mencintainya dan begitupun sebaliknya. Dan hingga pagi inipun Irene tetap tidak bisa menggoyahkan tekad Suho untuk pergi selama-lamanya dari kehidupannya sehingga ia benar-benar merasa muak dengan kehadiran Suho saat di meja makan bersamanya. Pria itu sama sekali tidak bisa menyelamatkannya dari kehidupan rumah tangga penuh kepalsuan yang dua hari lagi akan dijalankannya bersama Kim Soohyun.
“Aku sudah selesai, aku akan menyusui Hyura.”
Irene berkata dingin pada semua orang yang sedang asik menyantap sarapan mereka sambil bersiap untuk berjalan meninggalkan meja makan. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara Suho yang tiba-tiba berseru lantang padanya.
“Sekali lagi kuucapkan selamat atas pernikahanmu, sampai jumpa di upcara pernikahanmu, Irene.”
Irene hanya melirik Suho sekilas dan langsung melesat pergi tanpa kata, meninggalkan berbagai pertanyaan di benak tuan Shin dan juga Kim Soohyun. Namun Suho tampak tak mau menambah kecurigaan mereka, sehingga ia langsung bersikap biasa dan seolah-olah sikap sinis Irene yang ditunjukannya sepanjang pagi ini bukanlah suatu masalah serius yang harus dipusingkan.
-00-
Irene menatap pantulan dirinya di depan cermin besar yang berdiri kokoh di depannya. Hari ini ia akan segera menikah dengan Kim Soohyun dan menyandang status baru sebagai nyonya Kim. Tapi entah mengapa ia masih begitu berat untuk menerimanya. Padahal selama dua hari ini ia telah memperbanyak intensitasnya bersama Kim Soohyun dan mencoba untuk melupakan Lee Suho, tapi bayangan pria itu dengan tak tahu dirinya terus menerus berputar-putar di dalam kepalanya dan menciptakan sebuah pusaran kerinduan yang teramat besar pada pria itu.
“Kau sudah siap nak?”
Irene tersenyum tipis pada ayahnya melalui cermin dan langsung berbalik untuk menggandeng tangan ayahnya. Ini adalah saatnya untuk berjalan menuju altar dan bertemu dengan calon suaminya untuk mengucapkan janji suci. Dan ia harus bisa melewati semuanya! Meskipun dengan ketidakrelaan dari hatinya.
“Ayo ayah, kita keluar sekarang.”
“Kau tampak tidak bersemangat, ada apa? Apa kau menyesal dengan keputusanmu dan ingin membatalkannya?”
“Kenapa ayah berkata seperti itu? Menikah dengan Soohyun oppa adalah impianku selama ini, jadi aku tidak mungkin menyesalinya, apalagi membatalkannya.” ucap Irene berbohong. Tuan Shin tersenyum lembut pada putrinya dan segera menggandeng tangan Irene menuju aula. Dan ketika mereka berada di ujung pintu utama aula, seluruh tamu undangan telah berkumpul di dalam sana sambil berdecak kagum dengan kecantikan Shin Irene. Lalu ketika Irene mendengar suara sang pembawa acara, ia dan ayahnya, selangkah demi selangkah berjalan masuk ke dalam aula untuk mencapai altar dan mengucapkan janji suci di depan sang pendeta yang agung.
Suara musik klasik yang begitu syahdu dan senyuma hangat yang dipancarkan Kim Soohyun dari altar membuat Irene semakin menunduk sedih. Sembari berjalan ekor matanya mencari-cari keberadaan Suho yang tenggelan diantara lautan manusia sambil menggendong Hyura. Dan ketika ia berhasil menemukan Suho, tatapan mata mereka saling bertemu. Suho tersenyum lembut padanya sambil berbisik pelan, membuatnya merasa ingin menangis dan kabur di acara pernikahannya. Namun tiba-tiba sang ayah telah menyerahkan tangannya pada Kim Soohyun dan pria itu dengan sigap menuntun Irene menuju ke hadapan pendeta untuk melakukan janji suci.
“Apa kau sudah siap?”
Irene mengangguk pelan sambil menatap wajah sang pendeta sungguh-sungguh. Saat ini hatinya sedang goyah, dan ia bisa saja berlari pergi sambil berteriak keras jika ia ingin membatalkan pernikahan ini. Namun genggaman erat Soohyun di pergelangan tangannya membuat Irene sadar jika ia tak mungkin mundur lagi. Ini adalah keputusannya sejak awal, dan ini adalah jalan terbaik untuk membahagiakan ayahnya.
“Karena mempelai wanita sudah siap, maka kita harus segera memanggil sang mempelai pria. Lee Suho ssi, berjalanlah menuju altar.” teriak Kim Soohyun nyaring. Seketika Irene langsung mendongakan kepalanya sambil menatap bingung pada Kim Soohyun. Ia merasa pendengarannya pasti telah salah karena baru saja ia mendengar Kim Soohyun memanggil Lee Suho, dan juga mempelai pria. Tapi ketika Suho sudah berada di sebelahnya sambil membawa Hyura, Irene merasa jika pendengarannya memang baik-baik saja.
“Oppa, apa maksud semua ini?” tanya Irene tak mengerti pada Kim Soohyun. Pria itu menarik Suho agar lebih mendekat pada Irene dan menepuk pundak Suho pelan.
“Aku ingin kau menikah dengan Suho, sayang. Lihatlah, betapa kalian begitu serasi satu sama lain, apalagi kehadiran Hyura semakin melengkapkan keluarga kecil kalian, aku tidak mau merusaknya, Irene. Aku ingin melihatmu bahagia bersama keluarga kecilmu. Jadi menikahlah dengan Suho.”
__ADS_1
“Ta tapi, tapi apa kau yakin?”
“Aku sangat yakin. Jessica telah menceritakan semuanya padaku, dan aku tidak tega untuk memisahkan kalian. Hyura membutuhkan orangtuanya untuk bersama. Dan untukmu, kuharap kau tidak akan membuat Irene menangis lagi.”
Suho mengangguk pelan pada Kim Soohyun sambil menggenggam tangan Irene erat. Kemudian Suho beralih pada tuan Shin yang sejak tadi tak mengeluarkan sepatah katapun dan hanya menatap putrinya dalam diam.
“TuanShin...
“Panggil aku abeoji, bukankah kau sekarang adalah bagian dari keluarga Shin? Jaga Irene, jangan pernah kecewakan dia lagi, ia adalah satu-satunya harta yang paling berharga di keluarga Shin, dan aku ingin melihat Irene bahagia bersama dengan pria pilihannya.”
Seketika Irene langsung menghambur ke dalam pelukan ayahnya sambil menangis sesenggukan. Ia tak menyangka jika ayahnya begitu peduli dengan kebahagiaanya, padahal selama ini ia selalu mengecewakan ayahnya dengan sikapnya yang buruk di masa lalu.
“Jangan menangis, kau akan membuat makeupmu luntur.”
Irene mengangkat kepalanya dari dekapan ayahnya sambil menyeka air matanya yang terus menganak sungai tanpa bisa dicegah. Namun wanita itu akhirnya dapat tersenyum manis di depan ayahnya sambil menggumamkan ucapan terimakasih berkali-kali.
“Terimakasih ayah, aku sangat menyayangimu.”
“Nah, tampaknya kedua mempelai kita telah siap. Sekarang mari kita lanjutkan upacara pemberkatan kita yang tertunda.”
Suara pembawa acara yang kembali mengalun nyaring membuat para tamu undangan yang menghadiri acara pernikahan Irene kembali bersukacita untuk kebahagiaan sang pengantin. Kini Irene terlihat lebih ceria dan ia dapat menatap sang pendeta dengan senyum merekah sambil menggenggam tangan Suho erat.
Akhirnya perjuangan mereka untuk merealisasikan mimpi mereka berhasil terwujud. Meskipun banyak kerikil yang melukai perjalanan mereka, tapi semua itu tidak akan berarti apapun selama akhir yang penuh kebahagiaan berhasil diraih oleh Irene dan Suho.
Luciana menyeka air matanya penuh haru. Duduk diantara para tamu undangan yang memenuhi ballroom sebuah hotel ternama, Luciana tidak bisa menyembunyikan rasa harunya pada pernikahan Suho dan mantan pasiennya.
“Sudahlah sayang, bukankah mereka telah hidup bahagia?”
“Aku hanya terharu. Mereka sangat manis.” balas Luciana masih dengan menyeka air mata yang baru saja menetes dari matanya.
“Andai Irene tidak datang padamu waktu itu, kita pasti tidak akan tahu jika kehidupan pernikahan Suho sedang terguncang.”
“Hmm... kurasa itu adalah cara Tuhan untuk membantu mereka agar bisa kembali bersama. Setelah ini kita harus muncul di hadapan mereka dan memberikan kejutan.” ucap Luciana antusias. Mereka berdua baru saja tiba kemarin, dan hari ini mereka datang sebagai tamu yang tak diundang. Luciana begitu gigih memaksa Joey untuk masuk ke ballroom ini. Mereka bahkan terpaksa membohongi petugas keamanan di depan. Walaupun itu tidak bisa dikatakan sebagai sebuah kebohongan karena kenyataannya mereka berdua memang kerabat sang mempelai pria yang baru tiba dari Korea.
“Semakin lama kurasa kau semakin gila, sayang.”
__ADS_1
“Memang. Kau dan aku, kita sebenarnya sudah sama-sama gila.” jawab Luciana tak peduli.