Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Three: Stockholm Syndrome (Sixty Seven)


__ADS_3

            “Aku sudah mendengar semuanya dari Hara.”


            Setelah pulang dari kantor Donghae langsung mencari Yoona untuk menenangkan wanita itu. Satu jam yang lalu Hara menghubunginya dan menceritakan semuanya pada Donghae karena wanita itu khawatir dengan keadaan Yoona. Pasalnya ketika turun dari mobil Yoona terlihat sama sekali tak berekspresi dan langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Untung saja kamarnya tidak dikunci, sehingga sepuluh menit sekali Hara dapat mengecek kondisi Yoona dan memastikan Yoona tetap dalam keadaan baik-baik saja.


            “Itu bukan masalah serius, jadi tidak usah dipikirkan.” jawab Yoona malas sambil bergelung di dalam selimut. Donghae berjalan menghampiri Yoona dan langsung menyibak selimut itu lebar-lebar agar ia dapat melihat kondisi Yoona yang sesungguhnya.


            “Jadi ini yang kau sebut bukan masalah serius? Mata merah, hidung berair, dan napas yang masih memburu karena menangis, kau pikir aku sebodoh itu? Aku tahu kau pasti sangat sedih dengan kelakuan kasar ibumu, dan menurutku itu sudah kelewatan. Kita pergi ke rumah orangtuamu sekarang dan menjelaskan semuanya pada mereka.” ucap Donghae berapi-api dan hendak menarik tangan Yoona. Namun wanita itu segera menghentikannya dan justru balik menatap Donghae dengan mata sendunya.


            “Apa yang perlu kita jelaskan? Bukankah apa yang dikatakan eommaku benar? Aku wanita murahan. Aku telah mengandung anak dari seorang pria tanpa memiliki ikatan apapun pada pria itu. Jika kita datang ke sana, eomma tetap akan mencemoohku dan mengolok-olokku sebagai ******* karena pada kenyataanya demikian. Kita tidak memiliki hubungan apapun, paman. Hubungan kita hanya sekedar karena bayi ini.” tegas Yoona dengan wajah serius.


            Donghae terdiam di tempat dengan kata-kata Yoona, dan seketika ia merasa takut dengan dirinya sendiri. Baru saja ia merasa marah karena Yoona telah diperlakukan semena-mena oleh ibunya dan dicap sebagai seorang *******. Padahal seharusnya ia tidak perlu mencampuri urusan Yoona karena itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal itu. Selama bayinya sehat di dalam kandungan Yoona, maka tak perlu ada yang dikhawatirkan. Tapi entah mengapa tiba-tiba ia merasa tidak terima dengan sikap ibu Yoona. Ada perasaan marah yang begitu kuat di dalam dirinya dan juga perasaan ingin melindungi agar Yoona tidak tersakiti. Tapi sekarang ia sadar jika hal itu tidak perlu dan tidak boleh terjadi, karena ia tidak boleh membiarkan perasaan yang menguasainya.


            “Kalau begitu biarkan saja, aku memang tidak seharusnya berurusan dengan orangtuamu. Lupakan mereka, dan fokuslah pada kehamilanmu karena kau saat ini sedang membawa calon penerus kekayaan keluarga Lee.”


            Yoona memeluk lututnya erat dan merasa ingin menangis lagi. Ia pikir dunia ini memang tidak adil. Tidak ada yang benar-benar peduli padanya dan menginginkannya dengan tulus. Mereka semua yang berada di dekatnya hanya ingin mengambil keuntungan darinya.


            “Paman, bisakah kau membahagiakan aku? Sebelum kau mengambil semuanya dariku.”


            Yoona menatap wajah Donghae dengan wajah datar yang terlihat bersungguh-sungguh. Kali ini Yoona terlihat seperti seorang wanita dewasa yang telah kehilangan sisi polosnya. Ia menatap Donghae dengan penuh keberanian, seakan-akan ia sedang menagih apa yang menjadi haknya.


            “Lakukan apapun yang kau mau.”


-00-


            Pagi ini Yoona benar-benar menagih janji Donghae untuk membahagiakannya. Wanita itu pagi-pagi sekali sudah bergelayut manja di lengan Donghae sambil meminta sesuatu untuk memenuhi keinginan ngidamnya yang selama ini ia tahan.

__ADS_1


            “Paman, aku ingin makan es krim coklat.”


            “Hmm... aku masih ngantuk, suruh saja nyonya Jang atau Hara.” ucap Donghae sambil bergelung malas di dalam selimut. Yoona menatap Donghae kesal dan langsung menyingkap selimut itu


lebar-lebar.


            “Kau sudah berjanji akan membahagiakanku! Sekarang untuk permulaan aku ingin meminta paman membelikanku es krim, jadi paman harus bangun sekarang dan pergi ke mini market untuk membeli es krim.”


            Dengan malas dan beberapa umpatan kasar Donghae segera bangun dari tidurnya untuk pergi membelikan es krim. Hampir saja ia ingin marah dan mengumpati Yoona, namun ia memilih untuk segera keluar dari kamar Yoona sebelum ia mendengar suara rengekan Yoona lagi yang menggelikan.


            “Sialan! Gadis itu benar-benar mengerikan.” dengus Donghae sambil mencari kunci mobilnya yang ia simpan di dalam kamarnya. Kemarin ia sama sekali tidak berpikir jika memberikan Yoona kebahagiaan akan menjadi sangat menyebalkan seperti ini.


            “Buka pintunya, aku akan pergi ke mini market.”


            Penjaga rumah itu segera berlari menuju pagar dan membukakan pintu untuk tuannya. Dan dari balkon, penjaga rumah itu dapat melihat Yoona yang sedang terkikik geli dan melambaikan tangannya ke arah Donghae.


            “Paman!!! Aku ingin dua es krim coklat dan satu es krim stroberi.” teriak Yoona keras dari balkon kamarnya. Mendengar Yoona berteriak kencang, Donghae justru menutup kaca jendelanya rapat-rapat dan terkesan tidak peduli. Dia tidak suka disuruh-suruh!


-00-


            Delapan minggu kemudian sikap Yoona pada Donghae semakin menjadi-jadi. Wanita itu dengan terang-terangan mengatakan apapun yang ia inginkan dan ia sengaja menggunakan bayinya untuk memaksa Donghae agar mau menuruti semua keinginannya. Seperti pagi ini, saat Donghae baru saja membuka matanya, Yoona sudah berteriak-teriak di dalam kamarnya untuk memintanya memasakan makanan.


            “Pamana, aku lapar... buatkan aku makanan!”


            “Pergi dari kamarku! Jangan ganggu aku!!” bentak Donghae kesal sambil menutup wajahnya dengan bantal. Yoona berdecak kesal dan langsung merebut bantal putih yang digunakan Donghae untuk menutup wajahnya.

__ADS_1


            “Ini keinginan anakmu, jangan egois paman.”


            “Persetan dengan anakku, aku tidak peduli!”


            Yoona mendengus kesal dan mulai mencari ide untuk memaksa Donghae agar mau memasakan makanan untuknya. Pagi ini ia bangun dalam keadaan lapar, dan entah mengapa ia ingin sekali Donghae membuatkan sesuatu untuknya. Lagipula Donghae dulu pernah memasakannya omelet dan rasanya tidak buruk. Dan sekarang ia ingin makan omelet itu lagi. Oleh karena itu ia harus sedikit berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


            “Paman... aku ingin makan omelet, anakmu menginginkannya.”


            “Ahhh berisik! Dasar wanita hamil pengganggu! Minggir, aku akan membuatkanmu omelet sekarang.”


            Yoona bersorak girang ketika usahanya berhasil untuk membujuk Donghae. Wanita itu segera berjalan mengekori Donghae yang sudah terlebihdahulu melangkah menuju pintu. Tapi tiba-tiba pria itu berhenti dan berbalik kearahnya.


            “Ada apa paman? Kenapa tiba-tiba berhenti?”


            Donghae menyeringai licik pada Yoona, dan tiba-tiba pria itu mencium Yoona dengan sedikit terburu-buru dan membuat Yoona hampir terjengkang ke belakang karena ia tidak siap. Tapi Donghae langsung menahan tubuh Yoona dan memeluknya erat hingga Yoona tak bisa bergerak sedikitpun meskipun Yoona terus meronta-ronta dan menggingit bibir Donghae.


            “Aku suka rasa darah.” seringai Donghae sambil menjilat ujung bibirnya yang mengeluarkan darah. Yoona menatap Donghae jijik sambil mengelap bibirnya yang terasa aneh.


            “Paman, kau menjijikan."


            “Itu adalah bayaran untuk seporsi omelet, jadi nikmati saja.”


            “Menyebalkan. Jika paman menciumku lagi, aku akan pergi secara diam-diam agar paman tidak bisa melihat anak ini.” ancam Yoona galak. Tapi Donghae justru terkekeh sambil mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Yoona.


            “Coba saja jika kau bisa, aku akan mengejarmu dan tidak akan membiarkanmu hidup.” bisik Donghae penuh ancaman yang berhasil membuat bulu kuduk Yoona merinding. Ia kemudian mendorong tubuh Donghae kasar dan segera berjalan pergi meninggalkan Donghae. Entah mengapa ancaman itu terasa begitu nyata untuknya, dan ia takut Donghae akan benar-benar membunuhnya karena ia tahu bagaimana reputasi jahat Donghae selama ini.

__ADS_1


__ADS_2