
Keesokan harinya Irene terbangun dengan keadaan sakit yang luar biasa di perutnya. Bahkan sebenarnya sejak semalam Irene sudah mulai merasakan kontraksi, tapi ia mengabaikannya begitu saja karena dokter pernah mengatakan jika hal itu wajar terjadi menjelang kelahiran bayinya. Tapi pagi ini rasanya perutnya benar-benar sakit dan ia merasa akan melahirkan sebentar lagi. Dengan susah payah Irene merah ponselnya dan menekan beberapa digit angka yang sangat dihafalnya di luar kepala.
“Halo, sepertinya aaku... Hhuuhhh... akan melahirkan.” beritahu Irene terbata-bata sambil menghembuskan napasnya pelan. Diaturnya deru napasnya pelan agar tidak memburu dan membuatnya semakin panik. Namu seseorang yang dihubungi Irene justru terdengar sedang panik luar biasa, apalagi ia baru saja bangun tidur dan langsung mendapatkan kabar mengejutkan dari Irene.
“Apa kau sudah pergi ke rumah sakit? Aku akan menyusulmu ke sana. Katakan di rumah sakit mana kau sekarang?”
“Aku akan melahirkan di rumah sakit Eddinburg. Datanglah, aku ingin kau melihat anak kita untuk pertama kalinya.”
Irene menangis dalam diam ketika ia membayangkan putrinya hari ini akan lahir ke dunia. Meskipun pada akhirnya ia tidak akan bersama Suho, ia sangat berharap Suho akan menemaninya di dalam ruang bersalin untuk menyaksikan kelahiran anak pertama mereka.
“Aku pasti akan datang, aku janji, Rene.”
Irene mengangguk pelan dan segera mematikan sambungan telepon itu untuk memanggil ayahnya yang berada di bawah.
“AYAHHH!!”
Irene berteriak kencang dan ia merasakan air ketubannya sedang merembes keluar ketika ia berteriak terlalu kuat untuk memanggil ayahnya. Ia pun berusaha untuk berdiri dan keluar dari kamarnya agar sang ayah mendengar suara teriakannya. Namun baru beberapa langkah Irene meninggalkan kamarnya, tiba-tiba Kim Soohyun berlari ke arahnya dengan wajah panik.
“Irene ada apa denganmu, astaga! Kau akan melahirkan.” ucap Kim Soohyun panik. Cepat-cepat pria itu menggendong Irene menuruni tangga dan memasukan Irene ke dalam mobil, sedangkan tuan Shin sedang berlari tergopoh-gopoh di belakangnya sambil membawakan tas yang telah Irene siapkan untuk melahirkan.
“Ayah cepat, aku merasa sudah mengalami beberapa pembukaan.” teriak Irene tak sabar di dalam mobil. Sang ayah segera melompat ke dalam kursi penumpang sambil menenangkan Irene dalam proses persalinan pertamanya.
“Tenang sayang, ayah di sini bersamamu, ayah akan menggenggam tanganmu dan menunggmu hingga cucu ayah lahir.”
Irene sudah tak merespon segala macam ucapan ayahnya karena konsentrasinya saat ini lebih pada perutnya yang terasa sakit dan juga pergerakan bayinya yang terasa semakin turun. Sambil memejamkan matanya, Irene terus memanjatkan doa pada Tuhan, semoga Tuha senantiasa memberikan keselamat untuknya dan juga bayinya agar mereka dapat berkumpul dan menjadi sebuah keluarga yang bahagia.
Tuhan tolong lindungi kami dan bawalah dia untukku....
-00-
Suho berlari-lari dengan ribut di dalam rumah sakit Eddinburg dengan perasaan panik yang luar biasa. Baru saja ia membuka matanya dari alam mimpi yang membuainya semalam, tiba-tiba Irene menghubunginya dan mengatakan jika anak mereka akan lahir. Dengan panik ia langsung memakai celana panjang dan kemejanya
asal-asalan tanpa mencuci wajahnya terlebihdahulu. Persetan dengan tatapan aneh semua orang yang akan mengarah padanya, mereka tidak tahu bagaimana rasanya seorang ayah yang akan menyaksikan kelahiran bayinya.
“Suster, dimana ruangan nyonya Shin Irene yang hari ini akan melahirkan?”
“Nyonya Shin Irene baru saja masuk ke dalam ruang bersalin. Anda bisa menunggu bersama kerabat nyonya Shin Irene yang lain di sana.”
Suster itu menunjuk sudut ruang tunggu yang telah diisi oleh ayah Irene dan Kim Soohyun. Sejenak Suho merasa takut untuk bertemu tuan Shin karena ia tidak ingin memancing keributan di rumah sakit. Tapi ia telah berjanji pada Irene untuk datang dan menyaksikan putri pertama mereka lahir ke dunia.
__ADS_1
Dengan langkah mantap Lee Suho mulai berjalan mendekati ruang bersalin. Hari ini ia datang ke rumah sakit hanya untuk Irene, jadi apapun yang terjadi ia akan berusaha untuk masuk ke dalam dan melihat kelahiran putri pertamanya.
“Apa yang kau lakukan disini?”
Tatapan sinis dari ayah Irene langsung menghujamnya ketika ia tiba di depan ruang bersalin rumah sakit Eddinburg. Pria paruh baya itu menatap Suho tajam dan langsung menghadang jalan Suho untuk masuk ke dalam ruang bersalin dan menemui Irene.
“Saya datang untuk menyaksikan kelahiran putri saya, saya telah berjanji pada Irene untuk....”
“Lebih baik kau pergi, Irene tidak membutuhkanmu. Kim Soohyun akan masuk ke dalam dan menemani Irene selama persalinannya berlangsung.”
“Tapi tuan, saat ini Irene sedang berjuang untuk melahirkan anak saya, jadi saya ingin memberikan dukungan untuk Irene dan menyaksikan kelahiran putri pertama kami.”
Cih, putrimu?”
Tuan Shin mendecih tidak suka sambil menatap Suho tajam. Baginya Suho bukanlah ayah yang baik untuk cucunya, dan ia tidak akan membiarkan Suho masuk dan mengganggu proses persalinan Irene.
“Pergi kau dari sini atau aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.” ancam tuan Shin sungguh-sungguh. Kim Soohyun yang melihat adanya gelagat yang tidak beres langsung mencoba untuk menjauhkan Suho dari tuan Shin. Tapi dengan kasar Suho langsung menepis tangan Kim Soohyun yang sedang berusaha untuk menariknya mundur.
“Lepaskan tanganku! Aku tidak takut mati. Bahkan jika kau ingin membunuhku di detik ini juga, aku sudah siap. Aku siap mati demi menepati janjiku pada Irene.”
“Kurangajar, kau berani menantangku rupanya.”
Tanpa pikir panjang tuan Shin segera melayangkan pukulannya pada Suho. Namun tidak seperti kemarin, kali Suho berusaha menghindari pukulan yang dilayangkan tuan Shin padanya, namun ia tidak mencoba untuk membalasnya. Ia hanya berusaha untuk menghindar karena ia harus bisa masuk ke dalam ruang bersalin tempat Irene melahirkan.
“Abeoji tenanglah, ini di rumah sakit. Abeoji harus mengontrol emosi abeoji.”
“Lepaskan aku! Kau seharusnya membelaku dan membantuku untuk menghabisi pria brengsek ini. Dia telah merusak anakku dan masa depan anakku.” ucap tuan Shin membabi buta dan terus memberontak di dalam cekalan Kim Soohyun. Sementara itu Suho mencoba untuk melewati tuan Shin yang masih setia berdiri di depan ruang bersalin yang digunakan putrinya tanpa membiarkannya untuk masuk ke dalam.
Tiba-tiba sekumpulan petugas keamanan datang untuk melerai pertengkaran yang terjadi pada tuan Shin dan Suho Petugas itu dengan sigap langsung menangkap Suho ketika Kim Soohyun memberikan perintah untuk menangkap Suho dan membawa pergi pria itu dari rumah sakit karena Suho merupakan sumber keributan yang menyebabkan tuan Shin bertindak brutal. Tapi Suho terus meronta-ronta dengan kuat di dalam cekalan petugas-petugas itu karena ia merasa memiliki janji dengan Irene dan ia harus masuk ke dalam ruang bersalin itu apapun yang terjadi.
“Irene! Irene aku di sini, Irene aku datang untukmu.”
Suho berteriak keras di tengah-tengah usaha petugas itu untuk menyeret Suho pergi dari ruang bersalin. Sedangkan tuan Shin yang melihat kepergian Suho dengan lima orang petugas keamanan disekitarnya untuk menyeret tubuhnya keluar dari rumah sakit langsung tersenyum sinis sambil menepuk bahu Kim Soohyun bangga.
“Kerja bagus nak, kau berhasil mengusir pengganggu itu dari sini.”
-00-
“Ughhhh.... Ugghhhh...”
__ADS_1
Irene terus berusaha mengejan dengan kuat untuk mengeluarkan putrinya yang sebentar lagi akan merasakan indahnya dunia. Beberapa suster yang membantu proses kelahirannya terus menyemangati Irene agar Irene terus mendorong bayinya dengan kuat karena kepala sang bayi sudah terlihat dan akan segera keluar.
“Terus nyonya, lakukan dengan kuat. Kami sudah bisa melihat kepala putrimu yang sedang menyembul keluar.”
Samar-sama di tengah usahanya untuk mengejan, Irene mendengar suara ribut-ribut yang berasal dari luar. Sesekali Irene juga mendengar suara hantaman yang begitu keras dan menyayat hatinya. Ia tahu jika saat ini ayahnya pasti sedang memukuli Suho lagi karena pria itu berusaha untuk masuk ke dalam ruang bersalin.
Sembari mengejan, Irene menangis memikirkan Suho yang juga sedang berusaha di luar sana untuk menepati janjinya. Tapi meskipun Suho tidak berada di sampingnya sekalipun, ia tetap akan mengnggap Suho telah menepati janjinya, karena Suho sebenarnya sudah datang. Hanya saja ayahnya terus menghalangi Suho di luar, sehingga Suho tidak bisa masuk ke dalam untuk menemaninya melahirkan bayi mereka.
“Nyonya ayo dorong dengan kuat, jangan berhenti. Jika kau berhenti bayimu akan kekurangan oksigen.” ucap suster itu mengingatkan. Irene pun segera mendorong bayinya dengan kuat dengan tenaga yang sudah menipis. Rasanya ia ingin menyerah sekarang juga. Tapi tiba-tiba teriakan nyaring Suho dari luar membangkitkan semangatnya lagi.
“Irene! Irene aku di sini, Irene aku datang untukmu.”
Oppa....
Oppa, aku akan berusaha untukmu...
Sekuat tenaga Irene terus mendorong bayinya agar keluar dari rahimnya. Para suster yang berada di samping kanan kirinya tak hentinya menyemangatinya untuk terus mengejan dan mendorong agar bayinya yang sudah terlihat separuh bisa segera keluar sepenuhnya dari rahimnya.
“Ayo nyonya, tinggal sedikit lagi. Anda tinggal mengejan sekali lagi dengan kuat untuk mengeluarkan bayi anda.”
Brakk!!
Tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka lebar dan menampakan sosok Lee Suho yang sedang terengah-engah dan berusaha untuk menghampiri Irene yang sedang kepayahan untuk melahirkan anak mereka.
“Irene, ayo kau pasti bisa. Aku sudah bisa melihat wajah anak kita yang cantik.”
“Oppa... Ughhhhh...........”
Irene menggenggam erat tangan Suho dan kembali melakukan dorongan panjang sekali lagi untuk mengeluarkan anaknya. Dan tak berapa lama setelah Irene mendorong anaknya dengan sekuat tenaga, tiba-tiba ia mendengar suara tangis bayi yang begitu kencang. Ia mendengar suara tangis anaknya yang nyaring.
“Irene, kau berhasil.” bisik Suho lembut di telinga Irene sambil mengecup kening Irene lembut. Irene menangis haru di atas blangkarnya ketika suster memberikan seorang bayi mungil yang masih berlumuran darah pada Suho. Suho mengecup pipi mungil anaknya penuh haru dan langsung memberikan bayi cantik mereka pada Irene.
“Dia sangat cantik sepertimu, sayang.”
“Bayiku... anakku..”
Irene mendekap anaknya erat ketika Suho meletakan bayi mungil itu di atas dada Irene. Suho kemudian membisikan di telinga Irene sebuah nama yang selama ini telah ia siapkan untuk anaknya.
“Namanya adalah Lee Hyura. Tolong jaga ia baik-baik, Rene.”
__ADS_1
Setelah itu Suho kembali diseret keluar oleh sepuluh petugas keamanan yang sengaja dipanggil tuan Shin dan Kim Soohyun untuk meringkus Suho. Namun kali ini Suho menuruti petugas itu dan segera pergi tanpa perlawanan meninggalkan ruang bersalin Irene. Baginya melihat putri dan Irene selamat setelah proses persalinan yang melelahkan sudah cukup baginya. Dan yang terpenting ia telah menepati janjinya untuk Irene.
Berbahagialah bersama Lee Hyura. Selamanya aku akan selalu mencintai kalian...