
“Istirahatlah, sampai jumpa.”
Joey mengecup kening Luciana sekilas dan membiarkan Luciana keluar dari mobil yang mereka tumpangi. Akhirnya perjalanan bisnis yang tidak benar-benar perjalanan bisnis itu telah berakhir. Kini saatnya Luciana kembali ke rumahnya untuk kembali bekerja, mengerjakan seluruh tugas kantornya yang menumpuk setelah kepergiannya ke Busan selama dua hari bersama Joey untuk berlibur. Selama di sana, Luciana benar-benar bahagia. Joey terus memperlakukannya dengan lembut pasca pertengkaran kecil mereka yang berakhir cukup manis di dalam lift. Setelah itu mereka menghabiskan satu hari penuh dengan berjalan-jalan di pusat kota Busan yang sangat ramai dan padat. Di sana mereka benar-benar membuat kenangan yang begitu indah untuk dibawa ke Seoul agar nantinya jika mereka harus berpisah, mereka masih memiliki memori yang sangat indah untuk diingat satu sama lain.
“Kau juga. Jangan terlalu lelah dan stress. Jika kau membutuhkan sesuatu, aku siap membantumu.”
“Kau tenang saja, nanti malam aku pasti akan menerormu.” ucap Joey sungguh-sungguh dan segera melajukan mobilnya pergi dari halaman rumah Luciana. Ibu muda itu kemudian masuk kedalam rumah sambil bersenandung kecil, menyanyikan lagu romantis khas anak muda saat sedang jatuh cinta. Sejak kemarin ia merasa
seperti kembali ke masa-masa remajanya yang begitu manis dan dipenuhi oleh gairah cinta. Sayangnya semua kebahagiaan itu tidak benar-benar nyata. Kebahagiaan itu hanya kebahagiaan semu yang sifatnya temporer. Cepat atau lambat ia akan segera kembali ke kehidupan lamanya yang sepi dan membosankan.
“Halo Karen, bagaimana kabar Aleyna? Aku baru saja kembali dari Busan. Mungkin nanti malam aku akan menjemput Aleyna di rumahmu.”
Luciana berjalan menaiki satu persatu anak tangga di rumahnya sambil berceloteh ria pada Karen yang saat ini sedang berbicara dengannya melalui telepon. Saat melewati kamar Aleyna, Luciana tiba-tiba ingin masuk kesana dan menghirup aroma Aleyna yang sudah dua hari ini tidak ia rasakan. Ia benar-benar merindukan gadis kecil menggemaskan itu dan ingin segera menemuinya nanti setelah ia beristirahat sejenak.
“Aleyna baru saja pulang dari sekolah. Ia sekarang sedang makan siang. Kau ingin bicara dengannya?” tawar Karen terdengar menggiurkan karena ia memang sangat merindukan Aleyna. Namun ia segera menghentikan niat Karen karena ia ingin memberikan kejutan tentang kepulangannya pada Aleyna nanti.
“Tidak, tidak sekarang. Aku akan memberinya kejutan nanti. Jangan katakan apapun pada Aleyna jika aku sudah kembali dari Busan.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan diam. Kapan kau kembali dari Busan?”
“Emm.. aku baru saja tiba di rumah dan saat ini sedang berbaring di atas ranjang milik Aleyna.” ucap Luciana sambil menatap langit-langit kamar Aleyna yang bergambar tokoh kartun peri kesukaan Aleyna, Tinker Bell.
“Luciana, bisakah kau jujur padaku?”
“Ada apa? Kenapa nada bicaramu menjadi berubah serius seperti itu? Apa ada masalah?”
“Kau... pergi ke Busan bersama pria asing itu, Joey Lee?” tanya Karen hati-hati. Selama dua hari ini ia telah memastikan pada Jihoo mengenai kepergian Luciana ke Busan. Dan melalui Jihoo ia tahu jika Luciana sedang berbohong. Wanita itu mengatakan padanya jika ia pergi ke Busan karena harus menangani seorang klien,
sedangkan dengan Jihoo wanita itu beralasan jika ia akan menjenguk pamannya yang sakit di sana. Jadi ia kemudian menyimpulkan jika selama ini Luciana telah menipunya. Wanita itu jelas-jelas pergi ke Busan bukan untuk masalah pekerjaan, namun untuk hal lain.
“Kenapa nada bicaramu berubah menjadi sangat kecil seperti itu? Sejujurnya aku memang pergi ke Busan bersama Joey karena kebetulan ia juga memiliki pekerjaan yang harus ia selesaikan di sana. Jadi kami memutuskan untuk pergi bersama. Ada apa sebenarnya? Apa kau sedang mencurigaiku telah melakukan sesuatu bersama Joey?” Tanya Luciana menyelidik. Ia merasa saat ini Karen sedang mengintrogasinya terkait masalah kepergiannya ke Busan bersama Joey. Mungkinkah sahabatnya itu mulai mengendus adanya kejanggalan diantara hubungannya dan Joey selama ini.
“Tidak, bukan begitu Luci. Aku hanya mendapatkan informasi dari Aaron jika kau sedang dekat dengan pria bernama Joey itu. Dan secara kebetulan aku melihatmu datang ke rumahku bersama Joey kemarin. Jadi aku hanya ingin memastikannya saja untuk berjaga-jaga. Kau tahu kan, kalau kau sangat mengkhawatirkanmu. Aku tidak mau kau terluka lagi seperti dulu. Aku ingin kau bahagia.”
Luciana mendengus dalam hati dan mulai berjalan menuju meja belajar Aleyna yang sangat berantakan. Semua orang yang dekat dengannya akhir-akhir ini suka sekali mengatakan jika mereka sangat ingin ia bahagia. Tapi mereka semua tidak pernah benar-benar tahu apa yang bisa membuatnya bahagia. Saat ini kebahagiaannya
adalah bersama Joey. Hanya pria itu yang bisa membuatnya benar-benar melupakan semua kesedihannya dan beban hidupnya yang terus menghimpitnya akhir-akhir ini. Jadi jika mereka memang ingin ia bahagia, mereka seharusnya membiarkannya bersama Joey tanpa mencurigainya sedikitpun.
“Kau tenang saja, karena aku baik-baik saja dengan kedekatanku bersama Joey.” ucap Luciana
akhirnya, mencoba menenangkan kepanikan Karen akan hubungannya dengan Joey yang sejujurnya telah melewati batas. Namun untuk saat ini ia belum mau menceritakannya pada Karen karena ia sedang tidak ingin menghebohkan sahabatnya tiba-tiba. Lain waktu, saat ia telah siap, ia akan mengatakannya pada Karen dan menceritakan seluruh kesalahan fatalnya hari ini.
“Yah... semoga memang tidak terjadi apapun antara kau dan Joey. Kau tahu bukan jika Joey itu adalah pria yang beristri? Jadi...”
“Aku sangat tahu Karen, bahkan aku mengenal istrinya.” potong Luciana cepat dengan suara geraman yang berusaha ia tahan. Berbicara dengan Karen pagi ini benar-benar membuatnya emosi. Ia sebaiknya segera mengakhiri sambungan teleponnya sebelum ia berubah menjadi wanita sensitif pemarah yang sangat mengerikan.
__ADS_1
“Oooh... kalau begitu baguslah. Sampai jumpa Luciana. Beristirahatlah.”
Luciana segera mematikan sambungan teleponnya dan melempar benda putih asal ke atas ranjang Aleyna. Hatinya pagi ini terlanjur dongkol karena pembicaraanya dengan Karen, dan ia harus melakukan sesuatu untuk melampiaskannya. Ia pun memutuskan untuk membersihkan meja belajar Aleyna yang sangat kotor dan berantakan di depannya. Sejak ia sibuk beberapa minggu yang lalu, ia jadi jarang membersihkan kamar Aleyna. Hanya sesekali ia menyapu dan mengepel kamar Aleyna tanpa sempat
membersihkan setumpuk buku Aleyna yang berserakan karena ia terlalu terburu-buru untuk berangkat ke kantor.
“Huh, ini benar-benar sangat kotor.” gumam Luciana pelan sambil menurunkan buku-buku itu ke lantai dan mulai menata meja Aleyna agar terlihat bersih. Satu persatu kertas yang tak lagi terpakai segera dimasukan Luciana kedalam keranjang sampah agar kertas-kertas itu tidak memenuhi sudut-sudut meja belajar Aleyna yang
telah dipenuhi oleh berbagai buku ceritanya yang sangat bayak.
Plukk
Tiba-tiba sebendel kertas jatuh dari selipan sebuah buku pelajaran milik Aleyna dan tergletak begitu saja di dekat kakinya. Dengan santai, Luciana segera memungut kertas itu dengan terlebihdulu melihat isinya. Namun ketika ia menemukan adanya begitu banyak tulisan di dalamnya dan selembar foto yang terlihat kusam, Luciana
memutuskan untuk membaca kertas itu terlebihdulu sebelum memutuskan untuk membuangnya ke keranjang sampah.
“Surat wasiat Jung Jiwon...” baca Luciana pada tulisan pertama yang tertera di dalam kertas itu. Dengan penuh ingin tahu, Luciana segera mengambil tempat di atas ranjang Aleyna untuk membaca seluruh tulisan yang tertera di dalam surat wasita itu. Ia tidak mengerti mengapa surat wasiat milik Jung Jiwon itu bisa berada diantara tumpukan buku putrinya. Ia kemudian sempat berpikir jika mungkin surat itu terbawa oleh Aleyna ketika sedang belajar di sekolahnya. Dan ia berencana untuk mengembalikan surat itu pada pemiliknya setelah ia membaca seluruh surat itu dan menemukan nama pemilik dari surat wasiat yang terbawa oleh Aleyna.
Jessica... aku mohon temukan kakak iparmu dan anakku. Selama ini aku telah melakukan kesalahan fatal dengan meninggalkan Nicole sendiri di Korea dalam keadaan hamil, dan aku selama ini juga belum sempat mengatakan pada kakak iparmu jika aku menceraikannya bukan karena aku mencintai wanita lain, tapi karena aku sakit. Aku.. benar-benar sangat menyesal telah melakukan hal itu pada kakak iparmu, Nicole, tapi aku juga tidak bisa melihatnya bersedih karena kematianku. Jadi kumohon, tolong sampaikan maafku pada kakak iparmu dan katakan padanya jika aku sangat mencintainya.
Luciana terlihat bergetar saat membaca baris demi baris surat itu. Ia kemudian membalik lembar kedua surat itu yang berisi foto Jung Nicole, mantan kliennya, dan juga mantan suaminya yang telah lama meninggal. Ketakutan demi ketakutan tiba-tiba menyergap tubuh Luciana dan membuatnya menjadi sulit untuk bernapas. Di dalam surat wasiat itu tertulis jelas jika Jiwon ingin adiknya menemukan putri dan istrinya. Itu berarti saat ini Aleyna akan segera dipisahkan darinya. Keluarga kandung Aleyna sebentar lagi akan datang untuk menjemput Aleyna!
Luciana langsung meremas-remas kertas itu brutal dan memasukannya kedalam keranjang sampah dengan penuh emosi. Ia tidak bisa membiarkan keluarga Aleyna merebut Aleyna darinya. Aleyna adalah putrinya. Dan ia tidak akan membiarkan siapapun membawa pergi Aleyna dari hidupnya. Lagipula mereka sudah tidak memiliki hak untuk membawa Aleyna pergi karena sejak empat tahun yang lalu Aleyna telah sah menjadi putrinya. Ia telah
mengadopsi Aleyna secara resmi dengan berbagai perjanjian yang telah ia tanda tangani di atas meterai. Keluarga kandung Aleyna jelas tidak akan bisa menembus kekuatan hukum dari surat-surat itu kecuali ia sendiri yang menyerahkan Aleyna pada keluarganya.
-00-
Joey turun dari mobilnya dengan wajah lelah yang tercetak jelas di wajahnya. Pria itu kemudian melangkah gontai kedalam mansionnya sambil melonggarkan lilitan dasinya yang terasa menyiksa. Dua hari bersama Luciana kemarin sungguh membuatnya bahagia dan nyaman. Ia tidak tahu kenapa hatinya benar-benar merasa nyaman saat bersama Luciana. Mungkin karena wanita itu dapat memahami kekosongan hatinya dan dapat membuat perasaanya menjadi lebih baik setiap kali melihat wajahnya atau setiap kali mendengarnya mengucapkan kata-kata bijak. Selain itu Luciana ternyata juga sangat pintar dalam memberikan ide-ide untuk kemajuan perusahaannya, sehingga keberadaan Luciana di sampingnya kini akan menjadi lebih penting daripada sebelum-sebelumnya. Ia mungkin akan semakin ketergantungan pada wanita itu setelah ini. Lebih dari sebelumnya!
“Oppa!”
Joey mengangkat alisnya sekilas, menatap Jihyun tanpa minat dan hanya memberikan senyuman kecil setelahnya untuk membalas senyuman Jihyun yang telah wanita itu berikan untuknya.
“Kau sudah pulang?” Tanya Joey berbasa-basi. Tak bertemu Jihyun lebih selama satu minggu membuat Joey sempat melupakan wanita itu untuk sementara. Bahkan sekarang ia lupa bagaimana ia harus bersikap pada Jihyun. Akhir-akhir ini ia terlalu terbiasa dengan Luciana, dan sayangnya Jihyun muncul disaat ia tidak menghendaki kemunculan wanita itu di hadapannya.
“Aku sudah pulang sejak dua hari yang lalu. Saat aku pulang, oppa justru pergi ke Busan. Kejutan yang telah kusiapkan untukmu susah payah terpaksa batal karena oppa pergi tanpa memberitahuku.”
“Maafkan aku, itu sungguh mendadak. Bahkan aku tidak merencanakan untuk pergi ke Busan sebelumnya.” Ucap Joey beralasan. Awalnya ia memang berniat untuk menolak pertemuan itu dan hanya mengirimkan asistennya untuk mewakili dirinya. Namun ia kemudian berubah pikiran karena ia tiba-tiba ingin berlibur bersama Luciana. Sungguh konyol memang pemikirannya. Ia dengan kekanakannya sengaja menyeret Luciana untuk pergi bersamanya, dengan alasan jika wanita itu adalah konselornya yang harus selalu memastikan keadaan moodnya dimanapun ia berada. Huh, ia benar-benar sudah seperti bayi besar sekarang. Tapi ia tidak peduli. Asalkan itu bersama Luciana, ia tidak masalah jika berubah menjadi sesosok bayi besar.
“Oppa, apa kau tidak merindukanku?”
Jihyun merentangkan tangannya lebar di ambang pintu dan menunggu hingga suaminya datang untuk menyambutnya. Namun di luar dugaanya, Joey justru melewatinya begitu saja dengan alasan jika kedua
tangannya telah dipenuhi dengan tas jinjingnya dan juga jas hitamnya yang sengaja ia sampirkan di sana untuk menghindari pelukan Jihyun. Saat ini ia sedang malas melakukan kontak fisik dengan wanita itu. Selama wanita itu pergi, kontak fisik yang ia lakukan bersama Luciana membuatnya tidak berselera lagi untuk melakukan kontak fisik bersama Jihyun. Wanita itu terlalu biasa dan sama sekali tidak menggairahkan dibandingkan dengan tubuh Luciana yang seksi.
__ADS_1
“Aku merindukanmu sayang. Bagaimana pekerjaanmu di New York?”
“Lancar. Karirku di sana cukup sukses oppa. Mulai minggu depan aku akan melakukan pemotretan untuk koleksi terbaru Victoria Secret yang bertema oriental season.”
“Wahh itu bagus.” Komentar Joey seadanya. Berbeda dengan Jihyun yang sangat antusias. Joey justru langsung meninggalkan Jihyun menuju kamarnya untuk beristirahat. Jujur saja saat ini ia sangat ingin tidur di ranjangnya yang nyaman karena selama di Busan ia tidak menggunakan waktu tidurnya untuk tidur. Ia lebih suka
menghabiskan waktunya bersama Luciana untuk membuat kenangan sebanyak-banyaknya
bersama wanita itu.
“Oppa, kemarin aku melihat fotomu bersama Luciana Im saat perayaan pesta ulangtahun perusahaan, oppa dan wanita itu terlihat sangat dekat.” Selidik Jihyun sambil mengekori Joey di belakangnya. Pria itu terlihat santai menaiki satu persatu anak tangga di depannya, lalu menjawab santai pertanyaan Jihyun yang terkesan menyelidik itu.
“Sekarang Luciana adalah penasehatku, ia yang akan membantuku untuk melakukan pertimbangan terkait kontrak kerja kedepannya.”
“Kenapa harus Luciana? Bukankah kau telah memiliki asisten yang lebih hebat dari Luciana Im? Lagipula ia adalah mantan istri Rein yang memiliki reputasi buruk. Menggunakan wanita itu di perusahaanmu hanya akan memperburuk citra perusahaanmu oppa.” ucap Jihyun memprovokasi sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Joey melirik istrinya sekilas, dan memilih untuk mengabaikan saja semua provokasi yang sedang dilakukan istrinya padanya. Lagipula seburuk apapun Luciana di mata Jihyun, ia tidak akan pernah mendorong Luciana menjauh darinya.
“Oppa, apa kau mendengarkanku? Kenapa kau menjadi dingin seperti ini?” rengek Jihyun manja. Wanita itu kini telah bergulung-gulung di atas ranjang seperti anak kecil sambil sesekali menggoda Joey dengan pose tubuhnya yang cukup seksi di atas ranjang. Terlebih lagi saat ini wanita itu sedang menggunakan hot pants super mini dan tank top merah pendek yang menggantung di atas pusarnya. Dengan penampilan yang sangat menantang seperti itu, Joey yakin jika istrinya itu sedang menggodanya.
“Aku hanya lelah dan ingin tidur.” jawab Joey apa adanya dan segera mengambil posisi di sebelah Jihyun. Pria itu merebahkan tubuhnya dalam diam, lalu segera memejamkan matanya damai untuk segera tenggelam ke alam mimpi. Namun baru saja ia memejamkan mata, tangan-tangan nakal Jihyun mulai bergerilya di atas perut ratanya dan juga dada bidangnya untuk menggodanya agar ia mau menyentuh istrinya yang sudah lebih dari dua minggu ini tidak disentuhnya.
“Apa yang kau lakukan sayang? Aku sangat lelah.” ucap Joey pelan sambil menyingkirkan tangan Jihyun dari dadanya. Pria itu kemudian berbalik ke kiri, dan memutuskan untuk memunggungi Jihyun agar wanita itu tidak menganggunya. Namun dengan nekatnya Jihyun justru menaiki punggungnya hingga mau tidak mau ia harus berbalik ke kanan untuk menghadapi Jihyun.
“Aku merindukanmu oppa.” bisik Jihyun manja. Joey menggeram tertahan dengan godaan-godaan yang dilancarkan oleh Jihyun padanya, namun bukan berarti ia tergoda dengan semua itu. Ia lebih merasa kesal karena waktu istirahatnya diganggu oleh wanita itu. Sejak bersama Luciana, ia tidak merasakan lagi gairah untuk Jihyun. Gairah itu telah mati sejak Jihyun menolaknya dan selalu memintanya untuk menggunakan pengaman. Sebagai seorang pria, ia tidak suka menerima penolakan. Dan ia tidak akan pernah mau lagi memohon-mohon pada wanita itu seperti pria idiot tolol seperti dulu. Sekarang ia bukan lagi Joey Lee lemah yang dapat ditindas oleh istrinya seperti dulu.
“Hmm... aku juga.” ucap Joey datar sambil menatap intens mata Jihyun. Wanita itu langsung tersipu malu ketika Joey mulai menatapnya intens sambil mendekatkan wajahnya. Jihyun lantas memejamkan matanya dan bersiap untuk menerima ciuman Joey yang selalu panas seperti biasanya. Namun hingga cukup lama ia menunggu, tak sedikitpun ia merasakan bibir Joey mendarat di atas bibirnya. Dengan kesal ia segera membuka matanya dan menemukan Joey sedang memejamkan matanya damai sambil membelakanginya. Sontak Jihyun langusng berdecak kesal sambil memukul lengan Joey dengan bantal yang dapat dijangkaunya. Namun Joey tetap bergeming di tempatnya tanpa sedikitpun mengindahkan sikap Jihyun yang menurutnya sangat mengganggu itu.
“Oppa! Kenapa kau mengbaikanku. Apa kau telah memiliki wanita lain selama aku pergi? Oppa!” teriak Jihyun kesal seperti anak kecil. Joey tetap bergeming di tempatnya tanpa menoleh sedikitpun kearah Jihyun. Meskipun Jihyun terus mengomel dengan berisik di belakangnya, Joey tetap tak mengindahkannya dan memilih untuk tidur. Sayangnya selama ia tidur, ia terus melihat bayangan Luciana yang menari-nari di dalam kepalanya hingga ia merasa nyeri. Ia membutuhkann Luciana sekarang. Dan tubuhnya seperti telah kecanduan akan pesona Luciana yang begitu mematikan. Jika seperti ini terus, ia bisa-bisa memilih untuk tinggal di rumah Luciana daripada tinggal di mansionnya yang besar, namun menyiksa.
“Oppa, mulai detik ini aku akan terus mengawasimu. Aku curiga, oppa dan wanita bernama Luciana itu telah memiliki hubungan khusus, karena bibi Jang memberitahuku jika Luciana pernah menginap di sini bersama putrinya. Cih, benar-benar wanita murahan. Wanita kesepian seperti itu memang tak tahu malu dan sudah seharusnya dijebloskan kedalam penjara karena ia bisa saja menggoda pria beristri sepertimu oppa.”
Tanpa sadar Joey sedang mengetatkan rahangnya sambil mengepalkan tangannya yang tersembunyi di balik selimut agar ia tidak kelepasan membungkam mulut lancang Jihyun yang telah berani menghina Luciana. Bahkan dibandingkan wanita itu, Luciana jauh lebih baik dan lebih perhatian padanya. Luciana tidak pernah membiarkannya berada di dalam kesendiriannya yang pekat. Luciana juga selalu menolongnya, meskipun ia telah menyakiti wanita itu berkali-kali. Jika Luciana jenis wanita yang jahat, ia tidak akan mungkin bersikap begitu baik pada seorang pria brengsek yang kesepian sepertinya. Bahkan Luciana rela menjadi mistressnya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya yang menggila. Jadi siapa di sini yang benar-benar jahat? Tentu saja Lee Jihyun, wanita egois yang selama ini hanya mementingkan kasuksesan karirnya sendiri.
“Sayang...”
Joey tiba-tiba membuka matanya, ia berbalik menghadapt kearah Jihyun dan menindih tubuh wanita itu dengan tubuhnya yang berotot. Jihyun yang merasa Joey menyambut godaanya tersenyum genit kearah Joey untuk semakin menggoda pria itu. Padahal saat ini Joey justru merasa muak dengan senyuman genit itu. Dan
sejujurnya ia juga merasa tidak nyaman berada di posisinya saat ini karena ia justru merasa seperti sedang mengkhianati Luciana.
“Kau tidak seharusnya mencurigaiku seperti itu, hmm? Saat itu aku memaksa Luciana untuk menginap karena putrinya terlihat kelelahan di sofa ruang tamu, aku tidak tega membiarkan seorang wanita pulang larut malam sendiri bersama putrinya. Jadi aku meminta bibi Jang untuk menyiapkan kamar untuknya agar ia bisa beristirahat di rumah kita yang luas ini. Lagipula, saat aku membutuhkan keberadaanmu di sisiku, kau justru menghilang. Sibuk dengan duniamu sendiri hingga mengabaikanku. Jadi aku terpaksa memintanya untuk menemaniku menjadi pasanganku di pesta ulangtahun perusahaan. Maafkan aku sayang, aku tidak akan pernah mengkhianatimu.”
“Oppa.. maafkan aku juga karena aku telah mencurigaimu.”
Joey tersenyum penuh kemenangan pada Jihyun dan memberikan satu kecupan ringan di kening Jihyun sebagai pemanis dari sandiwaranya yang begitu sempurna. Ia tidak boleh membiarkan Jihyun mengusik kehidupan Luciana ataupun mengganggu kehidupan wanitanya. Ia harus selalu memastikan Luciana aman berada di dalam genggamannya.
“Oppa, kau manis sekali.” ucap Jihyun manja sambil mengalungkan lengannya di leher Joey. Wanita itu kemudian menarik tengkuk Joey dan melumat bibir Joey penuh napsu hingga tercipta bunyi decapan-decapan berisik di dalam ruangan itu. Tapi pergulatan bibir itu hanya berlaku untuk Jihyun, karena Joey tak sedikitpun membalas lumatan bibir Jihyun dan hanya membiarkan wanita itu mengeksplorasi bibirnya untuk kepuasaanya. Biarlah Jihyun mengira jika ia masihlah tergila-gila pada wanita itu asalkan Luciana tidak disakiti oleh siapapun.
__ADS_1
Karena ia tahu bagaimana sikap nekat Jihyun jika miliknya telah diusik oleh orang lain. Jihyun tidak akan segan-segan menyingkirkan lawannya dengan cara-cara kasar. Dan hal itulah yang ditakutkan Joey akan terjadi pada Luciana jika ia tidak menyembunyikan hubungannya dengan Luciana dari Jihyun.