Kontratransferensi

Kontratransferensi
Kontratransferensi Case One: The Whispers (Fourty Five)


__ADS_3

           Malam hari, Yeri sedang tengkurap di atas ranjangnya sambil mengerjakan tugas-tugas kantornya yang begitu banyak. Sejak dua jam yang lalu, wanita itu terus berkutat dengan laporan-laporannya yang harus ia selesaikan malam ini agar sang atasannya tidak memarahinya esok pagi karena ia tidak menyelesaikan semua tugasnya. Sementara itu, Lee Jaebum sejak tadi hanya menatap Yeri dari kejauhan melalui sudut tergelap di kamarnya yang hanya diberikan pencahayaan minim oleh Yeri. Sungguh ia merasa sangat bosan. Ia ingin sekali mengobrol dengan wanita itu, tapi sepertinya Yeri sedang tidak ingin diganggungu. Namun setelah selama sepuluh menit ia berperang dengan hatinya, akhirnya Jaebum memutuskan untuk mendekati Yeri. Ia merasa sudah tidak tahan karena sejak tadi ia hanya diam dan memperhatikan wanita itu mengerjakan semua tugas-tugasnya.


            “Yeri, sebenarnya apa yang sedang kau kerjakan? Kenapa kau tampak serius sekali.” tegur Jaebum yang saat ini tengah berbaring di sebelah tubuh Yeri. Yeri yang awalnya sedang membuat grafik keuangan perusahaanya langsung menoleh sebentar pada Jaebum, sebelum ia kembali berkutat dengan semua grafik dan angka-angka yang saat ini sedang ia kerjakan. Jujur, ia sebenarnya merasa lelah dengan seluruh tugasnya. Tapi ia tidak bisa


menghentikannya sekarang, karena besok grafik-grafik itu harus ia presentasikan di depan seluruh investor perusahaanya.


            “Aku sedang membuat grafik untuk presentasi esok pagi. Ada apa? Kau sepertinya bosan.” ucap Yeri ringan tanpa menoleh pada pria itu. Merasa terabaikan dan bosan, akhirnya Jaebum mengambil tindakan dengan meraih dagu Yeri pelan untuk menghadap ke arahnya. Ia tidak suka berbicara dengan wajah yang tidak saling menatap seperti ini. Itu terasa seperti ia tidak dihargai oleh lawan bicaranya.


            “Kapan kau akan menyelesaikan semua ini? Aku ingin sedikit mengobrol denganmu atau bersenang-senang.” ucap Jaebum manja. Yeri menghembuskan napasnya pelan. Sebenarnya ia merasa bingung dengan Jaebum. Pria itu bisa dikatakan hanyalah teman khayalannya, tapi pria itu dapat bertingkah sesuka hatinya dan terkesan seperti seorang anak-anak jika ia mengabaikannya. Padahal seharusnya pria itu bersikap sesuai dengan kehendaknya, karena ia yang menciptakan pria itu. Atau jangan-jangan Jaebum sebenarnya bukanlah teman khayalannya, tapi seorang hantu yang tidak bisa masuk ke dalam surga karena ia masih memiliki sesuatu di dunia yang harus diselesaikan? Sekelebat pertanyaan itu tampak memenuhi hati Yeri yang terasa gamang. Tapi secepatnya ia langsung melupakan hal itu, karena ia merasa itu tidak penting. Darimanapun Jaebum berasal, ia tidak peduli. Yang terpenting pria itu selalu hadir untuknya dan juga menemaninya.


            “Sebenarnya kau ini apa?” tanya Yeri pelan. Jaebum yang merasa telah mendapatkan atensi dari Yeri sepenuhnya langsung bersorak girang. Akhirnya saat-saat membosankannya telah berlalu. Dan sekarang adalah saatnya untuk meraih seluruh atensi yang dimiliki oleh wanita cantik di sebelahnya.


            “Aku? Bukankah kau yang menciptakanku? Aku adalah teman khayalanmu.” jawab Jaebum apa adanya. Namun, jawaban itu sepertinya sama sekali tidak memuaskan Yeri karena wanita itu langsung mengernyit tidak puas di sebelah Jaebum.


            “Benarkah? Tapi kau sama sekali tidak terlihat seperti seorang teman khayalan. Kau terlihat seperti seorang manusia yang tak kasat mata. Apa kau seorang hantu?”


            Mendengar ucapan Yeri, Jaebum justru tertawa terbahak-bahak di sebelahnya karena pria itu sama sekali tidak menyangka jika Yeri akan mengiranya sebagai seorang hantu, padahal jelas-jelas jika wanita itu yang menciptakannya. Wanita itu yang membuatnya berada di dunia yang aneh dan fana ini.


            “Hantu? Apa aku terlihat seperti seorang hantu? Ya ampun, kau ini benar-benar lucu. Sebenarnya terserah kau ingin menganggapku seperti apa. Yang jelas aku akan tetap berada di sini di saat kau membutuhkanku.” jawab Jaebum santai. Tapi mendengar ucapan terakhir Jaebum padanya, Yeri menjadi sedikit takut. Pria itu mengatakan jika ia akan berada di sampingnya selama ia menginginkannya. Itu berarti Jaebum dapat pergi sewaktu-waktu jika ia sudah tidak membutuhkan pria itu lagi. Tapi ia merasa hal itu tidak akan pernah terjadi, karena selamanya ia selalu membutuhkan pria itu. Hanya Jaebum yang mampu memahaminya dan mampu membuatnya nyaman. Ia tidak ingin pria lain selain Jaebum, ia hanya ingin Jaebum yang menjadi temannya hingga akhir.


            “Aku tidak ingin kau pergi. Berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkanku.”


            “Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu menjadi sahabat sejatimu Yeri. Apapun yang


terjadi.” ucap Jaebum yakin dan terdengar begitu menjanjikan. Refleks Yeri langsung memeluk Jaebum erat. Ia merasa begitu nyaman ketika Jaebum akhirnya juga membalas pelukannya sambil mengelus surai kecoklatannya dengan lembut. Berada di dalam dekapan pria itu selalu membuatnya nyaman dan damai.


            “Jaebum... mengapa semua orang tidak bisa melihatmu? Kenapa hanya aku yang dapat melihatmu? Apa mereka bisa melihatmu juga? Aku tidak ingin terlihat seperti wanita aneh karena seolah-olah sedang berbicara dengan udara kosong.” Yeri berucap pelan di pelukan pria itu, merasa jika selama ini ia sering dipandang aneh karena kebiasaan berbicaranya dengan Jaebum. Dari balik punggungnya, Jaebum mengangguk pelan dan langsung menarik tubuhnya dari Yeri. Pria itu menatap Yeri dalam dan meyakinkan wanita itu melalui kedua mata teduhnya jika ia bisa membuat orang lain dapat melihatnya juga, sama seperti Yeri yang dapat melihatnya.

__ADS_1


            “Tentu saja. Apa kau ingat, mengapa kau bisa melihatku?” tanya Jaebum pelan dan lembut. Suaranya yang mendayu itu mampu membuat Yeri merasa terhanyut pada kelembutan yang diberikan oleh pria itu. Andai saja kekasihnya adalah Lee Jaebum, maka Yeri pasti akan merasa sebagai wanita yang paling beruntung di dunia.


            “Entahlah, aku tidak yakin. Tapi sepertinya kau selalu muncul disaat aku merasa sedih dan tersakiti. Apa aku benar?”


            “Ya, kau benar. Orang-orang yang dapat melihatku adalah orang-orang yang tersakiti. Jika kau ingin orang-orang disekitarmu dapat melihatku, maka kau harus membuat mereka sakit. Kau harus membuat mereka merasakan sakit yang teramat dalam agar mereka dapat melihatku sama sepertimu.”


            Yeri tampak termenung sejenak dengan jawaban yang diberikan oleh Jaebum. Dalam hati ia bertanya, bagaimana caranya ia membuat orang lain dapat tersakiti dengan rasa sakit yang teramat dalam sama seperti dirinya?


            “Tapi, bagaimana caranya?” tanya Yeri polos.


Tok tok tok


Tiba-tiba pintu kayu itu diketuk oleh seseorang, membuat perhatian Yeri sedikit teralihkan dan mau tidak mau wanita itu langsung berjalan menuju pintu kamarnya untuk membukakan pintu bagi sang pengetuk.


            “Eomma, ada apa?” tanya Yeri sedikit terkejut karena saat ini eommanya sedang berdiri di depan pintu kamarnya sambil membawa sepiring buah-buahan. Wanita setengah baya itu kemudian sedikit melongokan kepalanya ke dalam dengan mimik wajah yang terlihat khawatir. Akhir-akhir ini ia sering mendengar putrinya berbicara sendiri di dalam kamarnya. Tapi jika ia menanyakan hal itu pada putrinya, Yeri pasti akan menjawab jika ia sedang berbicara dengan temannya melalui telepon. Namun lebih dari itu, ia merasa benar-benar khawatir dengan keadaan Yeri. Ia khawatir jika kejadian dulu akan kembali menimpa putrinya dan membuat Yeri harus mengalami berbagai macam siksaan yang tidak mampu ia jelaskan dengan kata-kata.


ranjang. Ia ingin menanyakan beberapa hal pada putrinya, sebelum ia menyimpulkan sesuatu.


            “Ada apa eomma? Kenapa eomma menarikku?” tanya Yeri tidak mengerti. Nyonya Kang tampak tersenyum lembut pada Yeri, sedangkan Jaebum sedang mendecih tidak suka di belakang nyonya Kang sambil memain-mainkan garpu yang digunakan untuk menusuk buah-buahan.


            “Eomma ingin bertanya padamu, apa kau tadi sedang berbicara dengan temanmu?”


            Meskipun Yeri cukup bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh eommanya, tapi kemudian menganggukan kepalanya pelan sambil mengikuti arah pandang eommanya pada ponsel hitam miliknya yang mati.


            “Tapi, ponselmu dalam keadaan mati. Lalu, bagaimana kau berbicara dengan temanmu itu?” tanya nyonya Kang lagi. Kali ini ia terlihat seperti sedang mengintrogasi Yeri, membuat Yeri merasa tidak nyaman dan merasa dirinya terancam.


            “Aku berbicara langsung dengannya. Eomma, kumohon jangan terlalu berpikiran terlalu jauh, karena aku benar-benar sedang berbicara dengan temanku.” ucap Yeri menegaskan. Namun nyonya Kang langsung mencengkeram bahunya erat sambil mengguncang-guncangkan tubuh Yeri kuat agar anak gadisnya itu segera sadar jika di dalam kamarnya itu sama sekali tidak ada siapapun. Kamarnya kosong, dan Yeri tidak mungkin berbicara sendiri dengan udara kosong. Sedangkan di belakang nyonya Kang, Jaebum tampak menegang was-was dengan reaksi yang ditunjukan oleh nyonya Kang. Ia tahu jika nyonya Kang adalah ibu Yeri, tapi ia merasa wanita itu terlalu berlebihan dalam memperlakukan putrinya. Tak seharusnya nyonya Kang bersikap begitu kasar pada putrinya hanya karena putrinya dianggap gila karena sedang berbicara sendiri pada udara kosong. Haruskah ia membuat wanita itu mampu melihat dirinya.

__ADS_1


            “Yeri dengarkan eomma, semua ini tidak nyata. Kau tidak memiliki teman di dalam kamar ini, jadi berhentilah untuk berbicara sendiri pada udara kosong.” ucap nyonya Kang geram. Sedangkan Yeri hanya mampu menggelengkan kepalanya sambil menangis. Ia tidak menyangka jika eommanya akan bersikap seperti itu padanya dan menganggapnya gila. Padahal ia benar-benar memiliki seorang teman di sini. Seorang teman yang memiliki posisi lebih di hatinya.


            “Eomma, aku tidak berbohong. Aku memang memiliki seorang teman, tapi mungkin eomma tidak dapat melihatnya.” ucap Yeri sambil melirik frustrasi pada Jaebum yang saat ini sedang berdiri di belakang eommanya sambil memegang garpu. Melalui gerakan bibirnya, Jaebum meminta ijin pada Yeri untuk membuat eommanya dapat melihatnya juga. Dan sedetik kemudian, eommanya telah menjerit-jerit di sebelahnya sambil memohon ampun pada Yeri untuk menghentikan semua hal menyakitkan yang terjadi padanya.


            “Yeri, apa yang kau lakukan! Hentikan Yeri.”


            Sedangkan Jaebum di depannya tampak sedang menyakiti nyonya Kang dengan garpu yang ia bawa. Ia ingin nyonya Kang juga merasakan kesakitan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Yeri selama ini agar nyonya Kang dapat melihat sosoknya. Meskipun Yeri tidak mengalami kesakitan fisik, tapi menurut Jaebum itu sama saja. Jika seseorang tidak memungkinkan untuk mendapaptkan rasa sakit secara psikis, maka rasa sakit secara fisikpun tidak masalah.


               Sementara Jaebum sedang menusuk-nusuk tubuh nyonya Kang dengan garpu hingga wanita paruh baya itu jatuh tak berdaya di atas lantai, Yeri tampak diam mematung sambil menunggu reaksi nyonya Kang selanjutnya. Ia menunggu, apakah setelah ini ibunya itu dapat melihat sosok Jaebum atau tidak. Namun saat siksaan menyakitkan itu berakhir, nyonya Kang justru menutup matanya rapat dan tidak akan pernah melihat sosok Jaebum. Karena saat ini nyonya Kang sedang sekarat dengan darah segar yang telah menggenang di bawah kaki Yeri.


            “Jaebum, apa yang akan kita lakukan pada eomma? Kenapa ia hanya diam dan menutup matanya? Bukankah seharusnya eomma dapat melihatmu? Kenapa ia justru menutup mata?” tanya Yeri linglung dengan air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya. Beberapa menit kemudian, Yeri seakan-akan tersadar dari kelinglungannya. Wanita itu segera berjongkok sambil mendekap tubuh eommanya yang sudah lemah tak berdaya. Cepat-cepat Yeri berjalan menuju ruang tamu untuk menghubungi ambulan. Ia takut kehilangan eommanya. Ia


tidak ingin kehilangan wanita yang paling disayangnya. Dan disaat hatinya sedang kalut, sosok Jaebum justru menghilang dan entah pergi kemana. Mungkinkah jika saat ini Jaebum sedang menemui eommanya di tempat lain? Sekelebat pertanyaan itu muncul di kepala Yeri sebelum suara klakson yang berasal dari garasi rumahnya berbunyi. Ayahnya telah kembali. Dengan wajah bingung dan kalut, Yeri mencoba menormalkan degup jantungnya. Ia tidak ingin ayahnya menyalahkannya atas kejadian yang menimpa eommanya hari ini. Akhirnya dengan air mata palsu, Yeri segera berlari menemui ayahnya yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah. Wanita itu tampak berlutut ketakutan di kaki ayahnya dan segera menarik tangan ayahnya menuju lantai atas, dimana kamarnya berada.


            “Ayah, seorang perampok telah masuk ke dalam rumah kita. Lalu... eomma..”


            Yeri sengaja menghentikan kalimatnya untuk memberikan efek dramatis kepada ayahnya. Dan setelah ayahnya menjadi panik, Yeri lantas segera melanjutkan kata-katanya sambil menunjukan sebuah fakta yang memilukan.


            “Eomma terluka, perampok itu mencoba membunuh eomma.”


            “Ya Tuhan Kang Nara, apa yang terjadi pada eommamu!” pekik tuan Kang terkejut ketika ia melihat tubuh istrinya yang telah bersimbah darah dengan sebuah garpu yang tergletak di sebelah tubuh nyonya Kang.


            “Seorang perampok menerobos masuk ke dalam rumah dan eomma datang untuk melindungiku. Ta tapi, perampok itu justru menusuk eomma dengan garpu. Appa, kita harus segera membawa eomma ke rumah sakit. Aku sudah menghubungi ambulan. Sebentar lagi mereka akan datang.” ucap Yeri terbata-bata. Namun, hal itu terjadi bukan karena ia mengkhawatirkan keadaan sang eomma, hal itu terjadi karena Yeri merasa begitu gugup dan bingung. Ia tidak tahu sebenarnya apa yang diinginkan oleh Jaebum. Kenapa pria itu justru menusuk-nusuk eommanya dengan garpu? Dan anehnya saat Jaebum melakukan hal itu, ia tidak mencoba untuk mencegahnya. Ia hanya terdiam di tempat sambil menyaksikan semua kejadian itu dengan wajah datar.


            “Sebenarnya apa yang telah terjadi denganku?”


            Pertanyaan itu terus berputar-putar di otaknya hingga ia merasa pusing dan tanpa sadar ia telah kehilangan semua kesadarannya. Ia pingsan. Yeri pingsan di depan tubuh nyonya Kang yang bersimbah darah.

__ADS_1


__ADS_2