Kontratransferensi

Kontratransferensi
Rely On You (Twenty Three)


__ADS_3

        Dibawah langit Seoul yang cerah, seorang wanita muda dengan dress putih selutut terlihat begitu anggun menyusuri halaman luas mansion milik Joey yang megah. Sambil menggandeng Aleyna di sisi kanannya, wanita itu terlihat menghembuskan napasnya berkali-kali untuk mengusir rasa gugupnya yang telah ia rasakan sepanjang hari ini. Sejak Joey mengundangnya untuk makan malam bersama di mansionnya, wanita itu tak henti-hentinya memikirkan bagaimana sikapnya nanti ketika mendatangi mansion Joey untuk memenuhi undangan makan malam pria itu. Ia takut sikapnya nanti mungkin akan terlalu berlebihan setelah percintaan panasnya dengan Joey semalam, seperti terlalu akrab pada pria itu dan tidak menunjukan sikap konselor sebagaimana mestinya.


        “Luciana?”


        Luciana menoleh cepat kearah samping ketika sebuah mobil sedang berwarna silver memasuki pekarangan mansion Joey dan sebuah kepala menyembul dari balik kaca mobil itu sambil melambaikan tangan kearahnya.


        “Alice ssi.” ucap Luciana ramah. Ia lalu melambaikan tangannya kearah Alice dan menunggu wanita berambut pirang itu untuk keluar dari mobilnya.


            “Siapa itu eomma?” Tanya Aleyna ingin tahu.


            “Itu adalah aunty Alice, ia teman baru eomma.” ucap Luciana memberitahu. Dari kejauhan Alice tampak ribut sambil berteriak-teriak heboh memanggil nama seseorang. Dan beberapa menit kemudian barulah Luciana paham jika sejak tadi Alice sedang memarahi putranya yang terlihat begitu aktif berlarian di halaman mansion Joey yang luas.


            “Mark!!! Astaga, putramu benar-benar.” keluh Alice lelah dan membiarkan Mark berlarian kesana kemari tak tentu arah. Spencer yang melihatnya langsung mengejar Mark dan memaksa pria kecil itu untuk diam di dalam gendongannya.


            “Ayah turun! Turun!” teriak Mark meronta-ronta.


            “Jadi ini jagoan kecil kalian? Ia terlihat sangat aktif.”


        Luciana mengelus lembut puncak kepala Mark, lalu mereka bersama-sama berjalan masuk kedalam pintu utama mansion milik Joey yang telah terbuka lebar.


            “Jadi kau diundang juga oleh Joey untuk makan malam di rumahnya? Kukira ia hanya mengundang kami seperti biasa.” ucap Spencer membuka pembicaraan. Rupanya pria itu cukup peka dengan gerak tubuh Luciana yang sepertinya tidak terlalu nyaman dengan kecanggungngan yang tercipta diantara mereka. Meskipun sebelumnya Alice pernah mengobrol bersama Luciana, tapi wanita itu tidak bisa melakukan sesuatu untuk sekedar berbasa basi dengan Luciana. Alice justru lebih sibuk menggoda Aleyna yang terlihat malu-malu dan juga menggemaskan di sebelah Luciana.


        “Iya, dia mengundangku. Ia ingin mengenalkanku pada bibi Jang.” ucap Luciana terkekeh. Rasanya konyol mengatakan alasan itu pada Spencer, jika pada kenyataanya pria itu mengundangnya bukan semata-mata untuk bertemu dengan bibi Jang, tapi untuk mengenalkan sedikit kehidupan pria itu selama ini padanya.


            “Jadi sejauh apa hubunganmu dan Joey selama ini? Aku sejujurnya terkejut ketika mengetahui ia memutuskan untuk mendatangi kantor konselor dan melakukan konseling denganmu.”


            “Ah, hanya sebatas hubungan klien dan konselor biasa, tidak ada yang spesial.” ucap Luciana


berbohong. Padahal mungkin saat ini hubungan itu telah berkembang menjadi hubungan saling menguntungkan satu sama lain karena mereka sama-sama mengisi celah kosong di kehidupan mereka masing-masing.


            “Selama ini Joey adalah pria yang tertutup dan pasif. Ia adalah pria dengan pikiran rumit yang pernah kukenal. Dan selama hidupnya ia selalu setia pada sebuah komitmen. Ia tidak pernah mengencani wanita lain disaat ia sedang terikat dengan seorang wanita. Padahal ia adalah pria yang sangat berpotensi untuk memiliki banyak wanita.”


            “Joey tidak sama denganmu.” seloroh Alice tiba-tiba. Wanita itu memberikan tatapan mencemooh kearah Spencer, lalu kembali sibuk dengan Aleyna yang mulai nyaman dengan kehadiran Alice di sana.


            “Kau sepertinya sangat memahami Joey, ia memang pria yang sangat rumit. Terkadang aku dibuat gemas


dengan jalan pikirannya yang terlalu rumit dan juga sensitif itu hingga sesi konseling diantara kami justru berakhir dengan tidak efektif. Maksudnya karena ia terlalu mempermasalahkan jalan pikirannya yang rumit, ia menjadi sulit untuk diarahkan ke jalur yang tepat.”

__ADS_1


            “Nah, aku setuju denganmu. Joey memang sangat sensitif dan perasa hingga ia terkadang berubah menjadi pria yang sangat sulit untuk ditaklukan.”


            “Selamat malam tuan Spencer, nyonya Alice, dan...”


            Luciana berhenti sejenak di depan pintu utama, lalu tersenyum lembut pada wanita paruh baya yang sedang menyapa Alice dan Spencer di sebelahnya.


            “Selamat malam bibi Jang, wanita ini adalah Luciana, rekan kerja Joey.” Ucap Spencer memberitahu. Wanita paruh baya itu terlihat malu sambil membungkukan tubuhnya sedikit untuk meminta maaf pada Luciana.


            “Maafkan saya nyonya Luciana.”


            “Ah, tidak apa-apa bibi Jang, santai saja.”


            “Bibi, dimana Joey? Hari ini ia mengundang kami semua untuk makan malam di rumahnya, tapi sejak tadi aku tidak melihat batang hidungnya sama sekali.” tanya Spencer sambil melongokan kepalanya kedalam mansion Joey yang tampak lenggang. Beberapa kali Luciana melihat pelayan-pelayan Joey berlalu lalang di dalam mansion mewah itu, tapi tak sekalipun ia melihat keberadaan Joey di sana.


            “Tuan Joey sedang berada di dalam ruang kerjanya. Silahkan masuk, tuan Joey berpesan agar tuan


Spencer dan tamu-tamu yang lain untuk menunggu di meja makan. Tuan Joey akan menyusul nanti.”


            “Ah baiklah, ayo masuk. Anggap saja rumah kalian sendiri.” ucap Spencer sombong bak pemilik rumah. Luciana terkekeh geli melihat tingkah lucu Spencer. Sedangkan Alice justru terlihat malu di sampingnya sambil meminta maaf atas sikap suaminya yang tak tahu malu itu.


            “Wahh... bibi, kau benar-benar menyiapkan makan malam yang mewah untuk kami.”


            “Hah, aku tidak pernah merasa sespesial ini.” celetuk Spencer menimpali.


            Kesan pertama yang dilihat Luciana mengenai Spencer adalah, pria itu sangat berbanding terbalik dengan Joey. Jika Joey adalah pria kaku yang dingin, maka Spencer adalah pria supel yang hangat. Pria itu juga lebih terbuka daripada Joey dan lebih mudah mengungkapkan isi hatinya ketimbang Joey. Pantas jika persahabatan mereka cukup langgeng karena mereka berdua sama-sama saling melengkapi satu sama lain.


            “Em... permisi, bolehkan aku pergi ke toilet sebentar? Dan bisakah aku titip Aleyna.”


           “Tentu Luciana, Aleyna aman bersama kami. Ia sedang asik bersama Mark, dan aku sangat bersyukur karena Aleyna bisa meredam sikap aktif Mark malam ini.” ucap Alice sambil menunjuk putranya yang sedang asik bermain game di ponsel milik Spencer. Luciana kemudian segera berdiri, bertanya pada bibi Jang tentang dimana letak toilet yang bisa ia gunakan. Lalu ia segera berjalan menyusuri lorong-lorong panjang mansion Joey yang luas sesuai dengan arahan bibi Jang sebelumnya.


-00-


            “Huh, kenapa aku sangat gugup? Ini benar-benar buruk.” ucap Luciana pada dirinya sendiri di depan cermin. Wanita itu membasuh tangannya yang sama sekali tidak kotor, lalu sengaja berlama-lama di dalam toilet untuk memperhatikan ekspresi wajahnya yang tidak bisa menyembunyikan perasaan gugupnya sama sekali.


        “Jika aku seperti ini, mereka akan semakin curiga denganku. Bahkan Spencer telah mencurigaiku. Oh ya Tuhan!” gumam Luciana frustrasi. Ia kemudian memutuskan untuk keluar dari toilet itu dan membuang tisu bekas yang sebelumnya ia gunakan untuk mengeringkan tangannnya yang basah. Namun ketika ia baru saja membuka pintu, seseorang tiba-tiba mendorong tubuhnya dan mendorong pintu itu dengan keras agar kembali menutup.


        “Joey!” pekik Luciana kesal. Ia hampir saja terkena serangan jantung karena kemunculan Joey yang tiba-tiba. Pria itu selalu saja bersikap semaunya, sesuai dengan kehendak hatinya tanpa memikirkan orang lain yang mendapatkan imbas dari sikap semena-menanya.

__ADS_1


           “Kau mengagetkanku. Tak bisakah kau bersikap normal dan tidak memojokanku seperti ini lagi di toilet?” tanya Luciana kesal. Ia menatap manik Joey gusar dan mengarahkan tatapannya kearah lain untuk menghilangkan hawa panas yang tiba-tiba menjalar di kedua pipinya.


            “Maaf, aku hanya tidak sabar untuk bertemu denganmu. Hari ini kau terlihat cantik.” goda Joey sambil


memberikan satu kecupan lembut di pipi Luciana. Namun Luciana langsung memalingkan wajahnya ke kiri dan menghindari tatapan teduh Joey yang sangat menggoda itu.


            “Hey, apa kau marah? Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk mengagetkanmu. Ayolah Luciana, kau


seorang konselor, kau seharusnya tidak mudah marah seperti ini.” bujuk Joey sambil menarik dagu Luciana agar wanita itu menatap matanya. Tanpa diduga, Luciana tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya di leher Joey. Wanita itu kemudian tertawa terbahak-bahak menertawakan kebodohan Joey yang mudah sekali ditipu olehnya.


            “Kena kau Joey! Wajahmu benar-benar terlihat bodoh dengan ekspresi seperti ini.” ucap Luciana puas sambil mengarahkan wajah Joey ke kiri untuk menatap pantulan wajahnya melalui cermin kamar mandi yang sedang merekam kebersamaan mereka berdua di toilet.


        “Ck, kau mengerjaiku? Bagus! Kupastikan kau akan segera mendapatkan hukuman dariku.”


        “Hmm, hukuman seperti apa yang bisa kau lakukan padaku tuan Joey Lee yang terhormat?”


        “Kita lihat saja nanti nona Luciana Im, tapi kupastikan kau akan segera mendapatkan hukumanmu.” bisik Joey penuh kesungguhan di depan bibir Luciana. Namun Luciana hanya menanggapinya dengan santai dan justru memberikan satu kecupan ringan di sudut bibir Joey.


            “Baiklah, apa yang bisa kau lakukan pada konselormu yang cantik ini. Sekarang lepaskan aku, aku harus


kembali sebelum Spencer curiga karena aku terlalu lama berada di toilet. Sejak tadi ia terus memberiku pertanyaan menyelidik seputar hubungan kita. Ia sepertinya mulai mencium adanya ketidakberesan diantara kita Joey.”


            “Oh, Spencer.” Ucap Joey santai. Pria itu tahu jika Spencer sejak awal memang telah mencurigainya. Namun ia tidak mau terlalu memusingkannya karena pria itu bukanlah pria berbahaya yang bisa mengancam masa depannya. Meskipun nanti pada akhirnya Spencer akan mengetahui hubungannya dengan Luciana yang sesungguhnya, tapi ia yakin pria itu tidak akan melakukan apapun. Ia pasti hanya akan bersikap cerewet sambil


menceramahinya dengan berbagai teori pernikahan yang sekarang baginya itu semua hanya omong kosong belaka.


            “Tenang saja, Spencer tidak akan melakukan apapun, ia bukanlah pria pengumbar aib. Tapi kau harus siap dengan sikap cerewetnya yang akan sangat mengganggu nanti.”


            “Yah.. kupikir ia memang sangat cerewet. Sejak tadi ia yang terus mendominasi percakapan diantara kami. Bahkan Alicepun tak secerewet Spencer.” ucap Luciana. Joey mengecup leher Luciana beberapa kali sambil melingkarkan tangannya di sekitar collar bone Luciana yang sangat ia sukai. Menurutnya Luciana sangat seksi dengan collar bone yang terlihat lebih menonjol di sekitar lehernya.


            “Ahh... jangan membuat kissmark di sana atau Spencer akan semakin cerewet nantinya.” peringat Luciana sambil menyingkirkan kepala Joey yang semakin bergerilya di lehernya. Wanita itu lantas melepaskan kedua tangan Joey dan berbalik menghadap pria itu.


           “Kita harus keluar. Aku akan keluar lebih dulu.”


            Dengan sikap tegasnya, Luciana segera keluar dari dalam toilet itu sambil merapikan tatanan rambutnya yang berantakan. Sedangkan Joey hanya terkekeh pelan di dalam toilet sambil memandangi kepergian Luciana dengan wajah menyeringai di depan cermin.


            “Huh, benar-benar wanita yang unik dan menggairahkan.” gumam Joey sambil mengelus tengkuknya. Pria itu kemudian keluar dari tolet dengan wajah tenang dan santai.Saat di ujung lorong ia sempat berpapasan dengan bibi Jang. Wanita paruh baya terlihat begitu terkejut melihat tuan mudanya yang sedang tersenyum manis kearahnya sambil berjalan melewatinya tanpa beban. Bibi Jang kemudian menatap pintu toilet yang baru saja ditutup oleh Joey sambil menatap bergantian kearah punggung Joey yang semakin lama semakin menjauh.

__ADS_1


            “Mereka? Apa yang sebenarnya terjadi pada tuan Joey dan nona Luciana?” gumam bibi Jang pelan dengan wajah syok yang begitu kentara di wajah keriputnya.


__ADS_2