
Selepas keluar dari perusahaan raksasa milik Joey, Luciana tak henti-hentinya mengeluarkan air mata berharganya untuk Joey. Wanita itu sejak tadi terus mengusap matanya yang basah hingga tanpa sadar ia
telah menghabiskan sekotak tisu yang ia sediakan di dalam mobilnya. Dan sekarang tangisnya justru bertambah semakin kencang saat ia teringat jika mobil yang dikendarainya saat ini adalah mobil pemberian Joey setelah pria itu merusakan badan mobilnya beberapa minggu yang lalu akibat ulah nekat pria itu yang hendak menghentikannya.
Drrt drrt drrt
Luciana melirik sekilas ponsel putihnya dengan perasaan kacau dan tak menentu. Saat melihat ponsel putihnya bergetar, ia berharap jika panggilan itu akan berasal dari Joey. Sayangnya saat ia mengangkatnya, suara pertama yang ia dengar adalah suara bass milik Jihoo yang sangat menyebalkan karena pria itu menyuruhnya untuk segera datang ke kantor sekarang juga. Ada seorang klien yang sedang membutuhkan bantuannya, dan keadaan klien itu juga sangat mendesak sehingga Jihoo sama sekali tidak mau menerima alasan apapun dari Luciana jika tiba-tiba wanita itu memutuskan untuk membolos lagi hari ini.
“Cepatlah datang, ini sangat mendesak Luc.”
“Iya, aku tahu. Tapi aku membutuhkan waktu sedikit lama karena saat ini aku sedang tidak baik-baik saja. Kau dengar, suaraku terdengar serak bukan?”
“Ck, untuk saat ini aku tidak peduli. Kau sudah sering membolos akhir-akhir ini setelah mengenal Joey, jadi sekarang juga kau harus datang ke kantor sebelum klien itu semakin bergerak-gerak gelisah di depanku karena tidak sabar.”
Luciana mendengus gusar kearah Jihoo dan langsung membanting ponselnya keras di dashboard mobilnya. Menjadi konselor di saat keadaannya tidak baik-baik saja akan membuat sesi konseling yang dilakukannya juga tidak akan berjalan lancar. Setidaknya akurasi dari saran-saran yang ia berikan akan berkurang sabanyak tiga puluh lima persen. Dalam keadaan kacau seperti ini ia tidak seharusnya menerima sesi konseling karena hal itu akan mempengaruhi performanya nanti. Sayangnya Jihoo tidak mau lagi berbaik hati padanya untuk menghandle jadwalnya hari ini karena ia sudah berkali-kali mangkir dari tugasny. Beberapa minggu yang lalu ia pernah membolos karena Joey mengajaknya pergi ke Jeju. Lalu lima hari yang lalu ia juga tidak datang ke kantor karena Joey mengajaknya untuk menghadiri pesta pernikahan relasi bisnisnya, dan dua hari yang lalu ia juga membolos dari jam makan siang hingga jam pulang kerjanya untuk menemani Joey meeting. Sungguh akhir-akhir ini hidupnya telah dihabiskan bersama Joey, dan tiba-tiba pria itu memutuskannya secara sepihak karena sebuah alasan yang tidak jelas. Lalu bagaimana nasibnya setelah ini? Bahkan ia sempat berdebat sengit dengan Aaron setelah pria itu mengetahui hubungannya dengan Joey tidak berjalan sebagai mestinya seperti hubungan antara konselor dan seorang klien pada umumnya. Pria itu memarahinya habisan-habisan dan mengatainya gila karena telah melanggar aturan-aturannya sendiri sebagai seorang konselor. Namun karena cintanya untuk Joey memang gila,
ia memutuskan untuk menutup kedua telinganya dari komentar-komentar menyakitkan yang dilontarkan Aaron maupun Karen. Ya, sahabat baiknya itupun juga sempat ikut campur dalam masalahnya hingga mereka akhirnya memutuskan untuk tidak berhubungan untuk sementara waktu. Karen yang memiliki pemikiran yang sama dengan Aaron membuatnya tidak bisa lagi menjadikan Karen sebagai teman curhatnya. Terakhir kali ia menceritakan perkembangan hubungannya dengan Joey, wanita itu justru mencecarnya habis-habisan dan membuatnya sakit hati karena kata-kata menyakitkan Karen yang sialnya memang benar. Sekarang ia harus siap dengan semua konsekensi yang harus ia ambil. Ia sekarang tidak memiliki tempat untuk berkelih kesah dan harus menyelesaikan semua masalahnya sendiri tanpa orang-orang yang selama ini mendukungnya. Belum lagi ia sekarang dihadapkan pada sebuah fakta jika ia tengah hamil dua minggu. Great! Itu sungguh menakjubkan. Jadi sekarang ia merasa tengah berdiri sendiri di tengah samudera luas dengan sebuah sampan yang terombang-ambing tak tentu arah di tengah lautan lepas tanpa siapapun yang akan menolongnya jika ia tercebur kedalam laut.
“Ya halo, dengan Luciana Im di sini.”
Luciana mencoba untuk bersikap profesional ketika sebuah nomor yang tak dikenalnya menghubunginya di tengah-tengah perjalanannya menuju kantor.
“Halo Luciana...”
Luciana mengernyit heran sambil menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ia merasa begitu familiar dengan suara itu, namun ia tidak yakin jika seseorang yang saat ini sedang menghubunginya adalah seseorang yang sempat menabraknya tadi pagi.
“Siapa ini? Apa aku mengenalmu?”
“Ckckckck... sombong sekali kau Luciana. Setelah kau merebut suamiku, kau ingin berpura-pura lupa padaku? Dasar jalang!”
Seketika Luciana membeku di tempat sambil menghentikan mobilnya di area parkir kantornya. Untung saja wanita itu menghubunginya disaat ia telah tiba di kantornya, sehingga ia tidak akan membahayakan dirinya sendiri jika tiba-tiba wanita itu membuatnya emosi nantinya.
“Oh Lee Jihyun, ada apa? Kurasa kita tidak memiliki urusan apapun.”
Luciana ingin sekali mematikan sambungan telepon itu dan melupakan segalanya. Mulai hari ini telah bertekad untuk memulai kehidupan barunya dengan lebih tenang dari sebelumnya. Biarkan semua masa lalunya dengan Joey menjadi sebuah pelajaran baginya agar lain kali ia tidak lagi gegabah dalam memberikan sesi konseling pada kliennya.
“Tentu saja kita memiliki urusan Luciana karena kau telah membuat suamiku berpaling dariku.”
“Cih, aku tidak pernah melakukannya. Mungkin hal itu terjadi karena kau tidak pernah memberikan perhatian pada suamimu yang malang itu. Apa kau tahu jika Joey selama ini mengalami gangguan kecemasan yang akut? Ia terus mengalami kesepian sepanjang hari hingga membuatnya hampir gila karena tidak bisa mengatasinya. Dan kau dengan egoisnya justru tetap mementingkan karirmu, disaat suamimu dalam keadaan terpuruk. Jadi sudah jelas ini semua adalah akibat dari kesalahanmu Jihyun.” desis Luciana mengerikan sambil memasang wajah dinginnya yang angkuh. Wanita itu tidak mau terlihat lemah di hadapan Jihyun dan menjadi sosok yang paling disalahkan dari rusaknya hubungan rumah tangga kliennya karena secara tidak langsung semua itu juga karena Jihyun. Luciana selama ini hanya memerankan perannya sebagai seorang konselor yang terlalu baik hingga bahkan ia rela menggantikan posisi Jihyun di kehidupan seorang Joey Lee.
“Kurangajar! Jadi kau menyalahkanku atas pebuatan menjijikan yang kau lakukan bersama suamiku? Awas kau Luciana, aku pasti akan membalasmu dan membuatmu membayar atas semua perbuatanmu selama ini.”
Jihyun langsung mematikan sambungan teleponnya bgeitu saja setelah ia berhasil membalas kata-kata Luciana yang tajam dengan kalimat penuh ancaman yang ia miliki. Namun seperti tidak takut dengan semua ancaman itu, Luciana hanya menyeringai tipis pada ponselnya sambil berjalan angkuh kedalam gedung kantornya yang menjulang tinggi di depannya. Persetan dengan keberadaan Lee Jihyun yang mungkin akan membahayakannya. Mulai sekarang ia tidak akan peduli lagi pada siapapun bagian dari keluarga Lee, karena baginya mereka semua sama saja. Mereka hanya orang-orang kaya yang gemar memanfaatkan ketulusan orang
lain demi kebahagiaan mereka sendiri.
-00-
“Bagaimana keadaanya saat ini?”
__ADS_1
“Sejauh ini masih aman terkendali. Nyonya Jihyun belum melakukan apapun pada nona Luciana, dan sejauh yang saya amati saat ini nona Luciana sedang disibukan dengan pekerjaanya yang padat sebagai konselor.”
Sambil tetap berbicara pada lawan bicaranya, Joey terus memperhatikan setiap gerak gerik Luciana yang saat ini tengah membawa sebuah kardus besar dengan wajah lesu di depannya. Sudah lebih dari tiga minggu ia menjauhi Luciana dan tidak pernah memunculkan batang hidungnya di depan wanita itu seperti keinginan isteirnya. Namun sebagai gantinya, ia telah memerintahkan seseorang untuk mengikuti kemanapun Luciana pergi dan memberikan laporan padanya terkait kegiatan Luciana setiap hari. Dan setiap akhir minggu ia pasti akan menjadi seorang penguntit yang terus memperhatikan kecantikan Luciana dan jauh yang semakin lama terlihat semakin bersinar. Bahkan dari apa yang ia lihat, Luciana sekarang juga terlihat jauh lebih berisi daripada hari-hari sebelumnya saat bersamanya. Meskipun ia akui wajah Luciana terkadang terlihat pucat, namun hingga sejauh ini belum ada laporan yang mengkhawatirkan terkait kondisi Luciana.
“Apa kau sudah menyelidiki Jihyun dan mengetahui rencana jahat yang akan dilakukan wanita itu? Aku tidak ingin Jihyun mencuri start dariku seperti dulu dan membuatku tidak berkutik dengan rencananya. Kau harus melaporkan semua kegiatan Jihyun padaku dan hal-hal yang terlihat mencurigakan dari wanita itu.”
“Baik tuan, akan segera saya lakukan.”
Joey mematikan sambungan teleponnya dan kembali memfokuskan pandangannya pada wajah cantik Luciana yang terlihat murung. Ingin rasanya ia keluar dari mobilnya dan menerjang wanita itu untuk menyalurkan seluruh rasa rindunya. Sayangnya ia tidak bisa melakukannya demi menjaga wanita itu dari niat jahat Jihyun yang hendak mencelakainya.
“Luciana, maafkan aku. Seharusnya aku memang tidak menyeretmu kedalam masalah keluargaku.” gumam Joey pelan sambil menatap nanar punggung Luciana yang terlihat bergetar di depannya. Hampir saja ia ingin melompat keluar saat ia menyadari jika saat ini Luciana sedang menangis. Namun saat ia melihat Aaron
tiba-tiba datang dari arah belakang dan langsung memberikan pelukan mesra untuk Luciana, seketika niat itu hilang. Ia tidak lagi berniat untuk keluar dari mobilnya. Justru ia sekarang memutuskan untuk pergi dari sana karen hatinya tidak kuat melihat adegan yang begitu menyakitkan hatinya itu tersaji di depannya. Ia tidak bisa dan tidak akan pernah bisa melihat Luciana bersama dengan pria lain selain dirinya. Jadi lebih baik ia segera pergi dari sana
sebelum ia benar-benar keluar dari mobilnya untuk memisahkan Aaron dari Luciana saat ini juga.
-00-
Pagi itu merupakan pagi yang sangat tidak terduga untuk Luciana. Tiba-tiba saja ia mendapatkan sebuah surat panggilan dari dewan elit di kantornya yang memintanya untuk segera menghadap ke ruangan ketua dewan elit saat ini juga. Dengan berbagai prasangka yang berkecamuk di dalam pikirannya, Luciana mulai berjalan
dengan gugup kedalam ruangan atasannya yang sangat mencekam itu. Selama ini ia belum pernah mendapatkan panggilan apapun dari ketua dewan elit di kantornya karena selama ini pekerjaanya selalu bagus dan memuaskan. Tapi tiba-tiba saja pagi ini ia mendapatkan surat panggilan yang sepertinya bukan sebuah surat panggilan yang akan berakhir baik karena Shin Sekyung yang mengantarkannya pagi ini terlihat murung dan menunjukan tatapan iba padanya.
Tok tok tok
“Permisi...”
Luciana dengan sopan mengetuk pintu kayu itu pelan dan menunggu untuk beberapa saat hingga sebuah suara bass rendah yang terdengar begitu menakutkan menyuruhnya untuk masuk.
“Apa kau tahu alasanku memanggilmu saat ini?”
Luciana menggelengkan kepalanya pelan dan terlihat tidak yakin dengan apa yang baru saja ia lakukan. Tiba-tiba saja perutnya terasa mulas dan ingin sekali segera keluar dari ruangan mencekam itu. Perasaanya mengatakan jika sesuatu yang buruk akan segera terjadi padanya setelah ini.
“Jadi beberapa hari kemarin aku mendapatkan laporan tentang dirimu nona Im. Seseorang memberikanku ini.”
Pria tua itu tiba-tiba melemparkan sebuah amplop coklat dengan kasar ke atas meja sambil memberikan isyarat pada Luciana untuk membuka amplop coklat itu.
“Lihatlah sendiri isinya.”
Dengan jantung berdegup kencang, Luciana mulai membuka amplop itu perlahan-lahan dan mulai mengeluarkan isinya satu persatu. Sebuah tumpukan foto yang cukup banyak kini telah berada di tangannya, ditambah dengan satu test pack kecil yang ia temukan di dasar amplop itu. Seketika ia teringat akan test packnya yang hilang saat ia hendak menunjukan benda kecil itu pada Joey. Namun karena ia pikir benda itu telah jatuh di suatu tempat, ia memutuskan untuk melupakannya dan tidak mencarinya lebih lanjut. Tapi ternyata test pack itu telah ditemukan oleh seseorang yang berbahaya hingga kini karirnya terancam hancur karena semua bukti-bukti yang telah berada di depan matanya tanpa bisa ia elak lagi.
“Itu milikmu bukan?”
“Ii iya sir, ini milik saya.” Jawab Luciana bergtar. Susah payah ia menahan seluruh air matanya agar tidak turun membanjiri wajah pucatnya. Namun ia gagal untuk melakukannya dan justru menangis dalam diam di depan ketua dewan elit yang sedang menatapnya datar.
“Sekarang bereskan semua barang-barangmu, kau dipecat dengan tidak terhormat nona Im. Perusahaan ini tidak bisa menerima seorang konselor yang tidak berkompeten sepertimu. Sekarang kau boleh keluar.”
Dengan wajah tertunduk dalam, Luciana segera mengambil semua barang-barang miliknya dan berjalan gontai, keluar dari ruangan pria tua itu. Seluruh dunianya terasa hancur karena semua masalah yang menimpanya kali ini benar-benar terjadi secara bersamaan. Padahal satu-satunya hal yang bisa mengalihkannya dari masalahnya dengan Joey adalah dengan menyibukan diri di kantor. Namun sekarang ia tidak bisa melakukannya lagi karena ia telah dipecat secara tidak terhormat. Ditambah lagi saat ini Aleyna juga masih berada di Amerika karena neneknya baru saja meninggal. Wanita tua itu akhirnya meninggal karena penyakit jantung yang telah dideritanya sejak bertahun-tahun yang lalu, sehingga Jessica belum bisa membawa Aleyna kembali ke Korea. Lalu haruskah ia mengakhiri hidupnya sekarang? Tidak ada lagi yang akan menganggapnya berarti di dunia ini. Perlahan-lahan semua orang meninggalkannya hingga sekarang ia hanya berdiri seorang diri bersama janin yang dikandungnya.
“Luciana, apa yang terjadi?”
__ADS_1
Jihoo menatap Luciana khawatir ketika wanita itu dengan wajah lesunya berjalan kearahnya sambil menggenggam erat-erat amplop coklat di tangannya.
“Aku dipecat. Aku dipecat secara tidak terhormat Jihoo...”
Jihoo langsung membawa Luciana kedalam pelukannya dan membiarkan wanita itu menangis sepuasnya di bahunya.
“Luciana, apa yang tarjadi? Bagaimana bisa?”
“Jihyun. Wanita itu memberikan bukti-bukti perselingkuhanku dengan suaminya pada ketua dewan elit, sehingga mereka langsung memecatku tanpa mau mendengarkan penjelasan lebih lanjut dariku.” Isak Luciana sesenggukan di bahu Jihoo. Ia mencengkeram erat pundak Jihoo sambil terus menangisi nasibnya yang sangat sial
semenjak bertemu Joey. Hidupnya yang ia pikir akan lebih indah saat bertemu Joey nyatanya tak sesuai dugaanya. Mungkin hanya satu yang benar-benar membawa kebahagiaan setelah ia bertemu dengan Joey, yaitu kehamilannya. Selain itu, tidak ada satupun kebahagiaan yang benar-benar terwujud seperti janji pria brengsek itu padanya. Semua janji itu bullshit!
-00-
“Miss Jessica...”
“Luciana? Apa kau ingin bertemu Aleyna, akan kupanggilkan sebentar.”
“Tidak tidak, aku hanya ingin berbicara padamu.” ucap Luciana lirih sambil menghembuskan napasnya berat.
“Baiklah, ada apa? Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena aku belum bisa mengantarkan Aleyna ke Korea. Sebenarnya Aleyna sudah sangat merindukanmu dan ingin segera memeluk eommanya.”
“Hmm, aku juga sangat merindukannya. Miss Jessica... bisakah kau tetap menjaga Aleyna di sana?” tanya Luciana lirih. Jessica mengerutkan keningnya bingung di ujung telepon sambil menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada Luciana saat ini karena nada suara Luciana terdengar sangat lirih sejak tadi. Berbeda dengan biasanya yang selalu terdengar ceria.
“Tentu aku akan menjaga Aleyna di sini, tapi kenapa Luciana? Apa terjadi sesuatu di sana?”
“Ya, aku memiliki masalah di sini dan aku berencana untuk menyusul Aleyna ke New York. Apakah boleh? Mungkin aku akan mulai meniti karirku di sana.” jelas Luciana sambil menggenggam ujung gaunnya erat. Saat ini ia begitu gugup dan takut disaat yang bersamaan. Keputusan yang ia buat kali ini adalah sebuah keputusan sepihak yang tercetus begitu saja di kepalanya. Ia merasa tidak memiliki apapun lagi di Korea untuk dipertahankan, kecuali kedua orangtuanya yang saat ini hidup dengan damai di desa. Tapi mereka nanti pasti akan mengerti mengapa ia memutuskan untuk mengambil jalan ini. Ia akan memulai karir konselornya di New York dan memulai lembaran hidup baru bersama Aleyna dan juga bayinya. Selain itu ia juga ingin melupakan seluruh kenangannya di sini bersama Joey yang menyakitkan. Setelah semua hal yang terjadi hingga detik ini, ia merasa tidak sanggup lagi untuk bertahan lebih lama. Ditambah lagi dengan ancaman Jihyun yang tidak main-main, lebih baik ia memang meninggalkan semua rasa cintanya begitu saja di Korea dan mengikhlaskan pria itu hidup bahagia bersama istrinya yang sempurna.
“Luciana, apapun masalah yang sedang kau hadapi sekarang, semoga kau segera mendapatkan jalan keluarnya.”
“Terimakasih miss Jessica. Kalau begitu sampai jumpa.”
Luciana memejamkan matanya rapat setelah ia selesai berbicara dengan Jessica. Rasanya sangat berat menghadapi semua ini sendiri ketika semua masalah itu datang bertubi-tubi. Nyatanya seorang konselor sepertinya tetap tidak akan berdaya saat menghadapi masalah pelik seperti ini. Ia juga membutuhkan seseorang untuk
berbagi keluh kesah seperti klien-kliennya selama ini. Tapi pada siapa? Siapa yang akan benar-benar memahaminya selain pria itu?
“Kau yakin dengan keputusanmu?”
Luciana membuka matanya sedikit dan mengangguk lemah pada Aaron yang sejak tadi terus menatapnya dalam diam. Setelah mendapatkan kabar mengenai kondisi Luciana dari Jihoo, Aaron langsung melajukan mobilnya kearah kantor Luciana untuk memberikan kekuatan pada wanita itu. Ia sebenarnya saat ini merasa bersalah pada Luciana karena selama ini ia tidak pernah memberitahu mengenai penguntit yang ia lihat di rumahnya beberapa minggu yang lalu. Ia pikir dengan terbongkarnya hubungan terlarang Luciana dan Joey, mantan istrinya itu dapat kembali ke kehidupannya yang tenang. Namun dampak dari hubungan terlarang mereka ternyata tak sesederhana yang ia kira. Ternyata Luciana dan Joey telah melangkah terlalu jauh tanpa sepengetahuannya, sehingga dampak yang ditimbulkan dari hubungan terlarang itu kini justru meluas ke segala arah hingga membuat kehidupan Luciana hancur. Wanita itu hancur bersama seluruh cintanya, karirnya, dan kehidupan indahnya.
“Luciana, aku minta maaf...”
“Sudahlah oppa, ini semua bukan salahmu. Aku memang pantas mendapatkan semua ini, jadi jangan terus menerus menyalahkan dirimu karena kau tidak berkata jujur soal penguntit itu.”
“Tapi keputusanmu untuk pergi ke New York, apakah sudah bulat? Bagaimana dengan orangtuamu di sini?”
“Mereka pasti akan mengerti oppa. Dan secepatnya aku juga akan memberitahu mereka mengenai kabar bahagia ini. Mereka pasti akan senang jika sebentar lagi akan memiliki cucu dari rahimku sendiri.” ucap Luciana tenang dengan senyum getir. Sedangkan Aaron hanya mampu menatap pias wajah Luciana sambil mengepalkan
tangannya kuat di balik tubuhnya untuk menahan setiap gejolak sedih dan amarah
__ADS_1
yang sedang ia rasakan saat ini.
Maafkan aku Luci, maafkan keegoisanku yang brengsek ini!