
Keesokan paginya Luciana sudah berangkat seperti biasa ke kantornya. Setelah mengantarkan Aleyna ke sekolahnya, ia segera mengendarai mobilnya menuju kantor konseling negara untuk melanjutkan kembali pekerjaan-pekerjaanya yang tertunda. Namun sejak ia mengetahui surat wasiat yang ditemukannya di meja belajar Aleyna, ia menjadi tidak bisa tidur dan tidak bisa tenang. Perasaan takut akan kehilangan Aleyna begitu besar
melingkupi hatinya hingga semalam ia tidak pernah sedikitpun pergi menjauh dari Aleyna. Bahkan ia semalam tidur di kamar Aleyna untuk memastikan Jika Aleyna tetap berada di sampingnya dan tidak pergi kemanapun.
Drrt drrtt
Luciana melirik ponselnya sekilas dan memilih untuk mengabaikannya. Pagi ini Joey menghubunginya, dan ia sedang malas untuk berbicara dengan pria itu. Ia tahu jika Jihyun telah kembali dari New York kemarin, dan mulai saat ini harus bersikap tegas pada Joey dengan menjaga jarak dengan pria itu. Ia tidak akan lagi berhubungan terlalu intens dengan Joey. Jadwal konseling merekapun telah ia ubah menjadi seminggu satu kali dengan durasi satu jam di kantor agar mereka tidak bisa melakukan hal-hal yang melebihi batas. Ia pikir cepat atau lambat Joey harus kembali ke tatanan kehidupnya yang semula. Pria itu harus kembali menjalankan rumah tangganya bersama Jihyun dan segera memiliki keturunan dari wanita itu untuk menyempurnakan kehidupan rumah tangga mereka.
“Selamat pagi Luciana, akhirnya kau masuk juga setelah dua hari off tanpa kabar.” sapa Jihoo sumringah di depan meja kerjanya. Luciana mengernyit bingung kearah Jihoo, lalu mengedikan bahunya acuh tak acuh sambil mengecek berkas-berkas yang telah tersusun rapi di atas meja kerjanya.
“Apa maksudmu dengan tidak ada kabar? Bukankah aku sudah memberitahumu jika di sana aku harus merawat pamanku yang sakit?” tanya Luciana ringan dengan mata yang tak sedikitpun beralih dari salah satu berkas yang baru saja dibukanya.
“Apa dua hari ini kau memberiku kabar selama berada di Busan? Kau hanya menghubungiku di hari pertama kau pergi, dan setelah itu kau tidak lagi menghubungiku.”
“Maaf, rumah pamanku berada di desa. Di sana sinyal sulit untuk dijangkau.” bohong Luciana acuh tak acuh sambil memeriksa berkas-berkas itu satu persati. Jihoo kemudian mengambil tempat duduk di depan Luciana, ia lalu menarik salah satu berkas di tumpukan tengah dengan map berwarna hijau yang bertuliskan nama Jessica di atasnya.
“Abaikan ucapanku tadi, dan baca ini. Tapi kuharap kau tidak syok saat membacanya.” Pesan Jihoo misterius yang membuat bulu kuduk Luciana meremang seketika. Selama ini Jihoo tidak pernah terlihat seserius ini ketika membicarakan seorang klien. Jadi ia yakin jika sesuatu yang buruk pasti akan segera terjadi dan berkaitan dengan klien yang sebentar lagi akan ia periksa data-datanya.
“Kenapa nada bicaramu seperti itu? Kau justru menakutiku.” komentar Luciana datar sambil membuka map hijau itu perlahan.
“Ini adalah data milik Jessica Jung, dua hari yang lalu ia datang ke sini untuk mencarimu. Ia ingin mengetahui detail kematian Jung Nicole dan dimana keberadaan putrinya sekarang karena wanita itu diminta oleh kakaknya untuk mencari istri dan juga anaknya.”
Seketika wajah Luciana menjadi pucat dan kakinya juga gemetar. Semua yang ia alami akhir-akhir ini sepertinya memang telah direncanakan oleh Tuhan sejak awal. Perkenalannya dengan Joey, kedekatannya dengan pria itu, dan kemunculan keluarga kandung Aleyna, itu semua seperti sesuatu yang kebetulan terjadi. Apakah ini saatnya untuk hancur? Setelah berhari-hari bersama Joey dan merasakan kebahagiaan, ia harus menerima pil pahit karena pria itu sejak awal bukan ditakdirkan untuknya. Sekarang, ia lagi-lagi dihadapkan dengan masalah sulit terkait kemunculan keluarga kandung Aleyna yang ingin membawa pergi gadis kecil itu dari hidupnya. Itu berarti setelah ini ia akan mengamai kehampaann abadi karena ia akan ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat ia cintai. Ia akan ditinggalkan Joey dan juga Aleyna di saat yang bersamaan. Ia tidak mau! Lebih baik ia kehilangan Joey, namun tidak dengan Aleyna! Aleyna adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki setelah perceraiannya dengan Lee Rein dan Jung Aaron. Jika Aleyna pergi, apa yang harus ia lakukan setelahnya? Apakah ia
harus mati agar ia tidak merasakan kepedihan itu? Ia tidak mau hidup sendiri, ia hanya ingin sebuah kebahagiaan yang abadi.
“Luciana..”
Jihoo mengelus telapak tangan Luciana lembut yang tiba-tiba berubah menjadi sedingin es. Ucapan Jihoo beberapa menit yang lalu rupanya telah memberikan dampak yang begitu luar biasa bagi Luciana. Bahkan kini pipi merah muda Luciana yang selalu memancarkan rona merah yang cantik, telah berubah menjadi pucat dan tak berwarna. Luciana saat ini sedang dilanda kekalutan hebat yang memusingkan!
“Aku tidak mau kehilangan Aleyna, Jihoo... Aku tidak mau.”
Tok tok tok
Mendengar suara pintu yang diketuk, Jihoo langsung bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu bagi sang klien. Dilihatnya Luciana sekilas yang masih terlihat syok dengan berita yang disampaikannya. Namun hal itu memang harus dikatakannya hari ini, sebelum Luciana semakin syok jika ia bertemu dengan bibi kandung Luciana nantinya.
“Oh Jessica ssi, silahkan masuk.”
Jihoo sengaja membesarkan volume suaranya untuk menyadarkan Luciana dari kesedihannya yang pekat. Dengan sigap Luciana segera berdiri dan memberikan senyum palsunya pada sang klien yang saat ini tengah menatapnya dengan intens.
“Nyonya Im? Apa kabar?”
“Miss Jessica?”
Luciana terlihat kaget dengan kedatangan Jessica ke kantornya. Potongan demi potongan puzzle di kepalanya mulai bermunculan dan bersatu menjadi sebuah jawaban utuh mengenai jati diri Jessica yang kemungkinan adalah pemilik dari surat wasiat itu, karena Aleyna tidak mungkin memiliki surat wasiat itu dari orang lain selain Jessica yang merupakan gurunya di sekolah.
“Nyonya Im kebetulan sekali. Oh.. kupikir aku akan dipersulit lagi hari ini. Tapi melihat anda yang ternyata adalah konselor yang dulu menangani kakak iparku, aku jadi sedikit bersyukur.”
Luciana tersenyum hambar kearah Jessica dan mempersilahkan wanita itu untuk di kursi kosong di depan mejanya. Sementara itu, ia memberi tatapan pada Jihoo untuk keluar dari ruangannya dan memberikan isyarat jika ia akan baik-baik saja dengan semua ini.
“Kudengar anda telah datang kemari dua hari yang lalu miss Jessica?”
“Ah, itu benar. Sayangnya anda sedang pergi ke Busan, sehingga aku tidak bisa mendapatkan data-data mengenai kakak iparku yang melakukan bunuh diri. Nyonya Im, sebenarnya apa yang terjadi pada kakak iparku?”
__ADS_1
Luciana tak menyangka jika Jessica akan langsung memberinya pertanyaan pertama seputar keadaan Jung Nicole empat tahun yang lalu. Padahal ia pikir wanita itu akan mengajaknya untuk mengobrol santai terlebihdahulu, membicarakan masalah Aleyna mungkin, atau membicarakan hal lain yang tidak berkaitan dengan semua
kekhawatiran yang sejak tadi dipikirkan Luciana. Nyatanya guru itu terlalu kaku dan terburu-buru untuk mengetahui semua misteri kematian kakak iparnya yang tidak pernah diketahuinya selama ini.
“Sebelumnya aku ingin bertanya terlebihdahulu mengenai suami Jung Nicole. Dimana suami Jung Nicole sekarang?”
“Oppaku sudah meninggal sejak empat tahun yang lalu. Ia menderita sebuah penyakit mematikan yang begitu berbahaya, sehingga ia memutuskan untuk menceraikan istrinya disaat istrinya sedang mengandung.”
“Jadi semua ini sebenarnya hanya salah paham? Kasihan sekali Jung Nicole. Hingga akhir hidupnya ia tidak tahu jika ternyata suaminya sedang mengidap sebuah penyakit berbahaya. Jadi Jung Nicole sebelum bunuh diri, ia mengalami depresi berat akibat perceraiannya dengan kakakmu. Ia pikir suaminya menceraikannya karena memiliki wanita lain yang lebih dicintainya.”
“Tidak. Saat itu oppaku benar-benar sakit. Setelah bercerai, ia pulang ke Amerika dengan wajah kusut dan pucat. Ia kemudian menceritakan padaku jika ia terpaksa menceraikan istrinya karena ia tidak ingin melihatnya bersedih karena penyakit mematikan yang ia derita. Ia juga mengatakan padaku jika ia tidak ingin mengacaukan masa-masa kehamilan istrinya yang telah memasuki bulan ke sembilan.”
“Tapi karena hal itu Jung Nicole menjadi depresi dan memutuskan untuk bunuh diri.” ucap Luciana sedikit emosi. Setelah mendengar cerita dari Jessica, ia justru merasa kesal pada mantan suami Jung Nicole yang terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan hingga menyebabkan Jung Nicole mengalami kesalahpahaman.
“Ma maafkan aku, aku tidak bermaksud menyalahkan kakakmu. Aku hanya teringat pada Jung Nicole yang terus menerus menangis sambil memikirkan suaminya yang ia kira telah pergi bersama wanita lain. Jadi selain mencari data-data mengenai Jung Nicole, apa lagi yang kau inginkan miss Jessica?” tanya Luciana berbasa-basi. Sebenarnya ia sudah mengira jika Jessica pasti sedang mencari keponakannya. Tapi saat ini pikirannya terlalu kalut dan stress. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan pada Jessica nanti jika wanita itu mulai menyinggung masalah keponakannya yang tiba-tiba menghilang.
“Bisa kau ceritakan bagaimana Jung Nicole selama ini?”
“Ini adalah berkas-berkas mengenai Jung Nicole yang masih kusimpan hingga detik ini. Untuk lebih lengkapnya kau bisa membacanya di rumah. Tapi pada intinya Jung Nicole saat itu sedang mengalami depresi berat hingga ingin melakukan bunuh diri beberapa kali. Tapi ia sempat sembuh, maksudku ia saat itu pernah mengatakan padaku jika ia ingin membesarkan anaknya dan hidup bahagia bersama anaknya.”
“Nyonya Im, kalau begitu dimana anak Jung Nicole sekarang? Ia masih hidup bukan?”
Dengan kepala bergetar Luciana mengangguk ragu dan terlihat menatap kearah lain tanpa mau menatap wajah Jessica yang saat ini sedang menatapnya intens.
“Jjjadi.. jadi keponakanku masih hidup? Dimana dia sekarang nyonya Im? Apa keponakanku dibawa ke panti asuhan setelah ibunya bunuh diri? Tolong beritahu aku dimana keponakanku sekarang nyonya Im.” mohon Jessica dengan air mata yang tak henti-hetinya mengalir dari mata beningnya. Hari ini ia sungguh merasa bahagia karena pencariannya selama ini sedikit menemukan titik terang.
“Jika aku memberitahumu dimana keberadaan putri Jung Nicole sekarang, apa kau akan membawanya ke Amerika?”
“Tentu saja nyonya. Sudah lama ibuku ingin bertemu dengan cucunya. Jadi aku akan membawanya ke Amerika setelah aku menemukannya nanti.”
dengan segala duka yang menyelimutinya karena baru saja ditinggalkan oleh ibunya ke surga.”
“Maafkan kaku nyonya Im, aku benar-benar tidak tahu jika ternyata Jung Nicole nekat mengakhiri hidupnya dengan tragis seperti itu. Dan ini semua memang salahku karena aku tidak segera datang ke Korea untuk memberitahukan semuanya pada Jung Nicole.” isak Jessica penuh penyesalan. Luciana yang melihat itu terlihat iba dan memutuskan untuk memberikan Jeesica tisu. Meskipun saat ini ia sedang kacau karena hak asuh Aleyna pasti akan segera menjadi perebutan setelah wanita itu tahu jika Aleyna adalah keponakannya, tapi ia tidak bisa hanya diam saja ketika kliennya menangis. Ia sudah melanggar banyak aturan profesinya kemarin, dan sekarang ia tidak boleh memperkeruh suasana dengan mengembangkan rasa benci pada Jessica atau keluarganya yang baru muncul setelah empat tahun lamanya ia menunggu kedatangan keluarga Aleyna.
“Aku paham bagaimana kesibukanmu di Amerika. Sejujurnya saat itu aku juga tidak menyangka jika Jung Nicole pada akhirnya memilih untuk bunuh diri karena beberapa hari sebelum ia bunuh diri, ia sudah benar-benar sehat. Tingkat depresi yang ia alami telah berkurang dan ia berjanji padaku akan hidup bahagia bersama anaknya. Tapi saat aku kembali dari tugas luar kotaku, aku justru mendapatkan kabar buruk jika Jung Nicole telah meninggal karena bunuh diri. Sungguh rasanya aku sangat menyesal. Seharusnya saat itu aku tidak meninggalkannya disaat emosinya belum stabil. Secara tidak langsung ini semua juga salahku.” cerita Luciana penuh penyeselan. Selama ini sebenarnya ia sering menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Jung Nicole. Ia merasa turut andil
karena sejak awal ia yang menangani wanita itu. Dan keputusannya untuk mengambil hak asuh Aleyna juga terjadi karena ia teringat Jung Nicole. Ia merasa dengan merawat Aleyna dan memenuhi wasiat terakhir Jung Nicole, maka hal itu akan mengurangi sedikit rasa bersalahnya pada wanita itu.
“Nyonya Im..”
“Ya, ada apa miss Jessica?”
“Dimana keponakanku sekarang?” tanya Jessica parau. Luciana menelan ludahnya gugup tanpa sadar dan mengalihkan pandangannya kearah lain. Inilah pertanyaan yang sejak tadi sangat tidak ingin ia dengar. Ia terlalu takut untuk mengatakan pada Jessica jika Aleyna adalah keponakannya. Ia belum siap untuk kehilangan Aleyna
jika wanita itu nantinya meminta hak asuh Aleyna dikembalikan pada keluarganya. Selama ini ia pikir ia tidak akan pernah bertemu dengan keluarga kandung Aleyna dan sampai akhir, sampai ia tua nanti, ia hanya akan menghabiskan hidupnya bersama Aleyna. Tapi kemudian Joey datang, memporak-porandakan pertahanannya. Kemudian Jessica juga datang sebagai mimpi buruknya untuk membawa Aleyna ke Amerika. Jadi pada akhirnya semua angan-angan hidup berdua dengan Aleyna hingga tua, itu sepertinya tidak akan terjadi lagi. Mungkin ia justru akan hidup sendiri saat ia tua nanti karena Aleyna akan pergi ke Amerika dan berkumpul bersama keluarganya yang sesungguhnya.
“Nyonya Im?”
Luciana sedikit kaget ketika Jessica tiba-tiba menyentuh telapak tangannya untuk menyadarkannya dari lamunan. Dengan sedikit kikuk, Luciana menarik tangannya yang semula berada di atas meja untuk disembunyikan di bawah meja agar ia bisa meremasnya untuk menghilangkan kegugupan. Sekarang adalah saatnya untuk memberitahu Jessica jika Aleyna adalah keponakan yang selama ini ia cari. Ia harus kuat. Dan ia juga harus siap dengan segala hal yang mungkin akan terjadi nanti.
“Miss Jessica, keponakan yang selama ini anda cari adalah... Aleyna. Putriku Aleyna adalah keponakanmu, putri dari Jung Nicole.” ucap Luciana dengan suara bergetar. Jessica terlihat menganga tak percaya sambil menitikan air mata, entah kesedihan, atau air mata haru, Luciana tidak mengerti. Yang jelas saat ini wanita itu sedang menangis sesegukan di depannya sambil menunduk dalam kearah lantai. Tapi sejujurnya jika ia diijinkan, ia ingin sekali ikut menangis bersama Jessica untuk meluapkan seluruh emosinya yang telah ia tahan sejak
kemarin setelah ia membaca surat wasiat di kamar Aleyna. Sayangnya ia tidak bisa menangis begitu saja dan menunjukan ketidakprofesionalitasannya di depan Jessica. Ia harus kuat sekarang. Demi Aleyna dan karirnya.
__ADS_1
“Bukankah dunia ini sempit nyonya Im? Aku tidak menyangka jika keponakan yang selama ini kucari ada di depan mataku sendiri. Aku... aku memang bodoh.” ucap Jessica bermonolog sambil mengusap air matanya dengan tisu. Luciana tersenyum kaku di depan Jessica dan tampak tak berminat untuk mengatakan ya atau tidak. Hatinya saat ini terlalu kacau hanya untuk menanggapi ucapan Jessica. Mungkin setelah ini ia juga butuh konseling untuk meredakan gejolak di hatinya.
“Dan aku juga tidak tahu jika kau adalah bibi dari Aleyna.” Ucap Luciana kecil.
“Nyonya Im...”
“Ya?”
“Bolehkah aku mendekati Aleyna mulai sekarang. Maksudku... aku ingin Aleyna mengenalku dengan lebih dekat sebagai bibinya, bukan sebagai guru sekolahnya. Aku ingin menebus kesalahanku pada oppaku dengan membahagiakan Aleyna nyonya Im.”
Luciana terdiam kaku. Sungguh ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Jessica sekarang. Ia tidak mungkin akan mengatakan tidak boleh pada wanita itu karena sejatinya Jessica pasti akan terus berusaha untuk menemui Aleyna. Terlebih lagi Aleyna juga bersekolah di tempat yang sama dengan ia mengajar. Jadi ia
benar-benar tidak memiliki alasan untuk menolak keinginan Jessica agar menjadi lebih dekat dengan Aleyna. Jadi yang bisa ia lakukan saat ini adalah menyetujui permintaan Jessica untuk mendekati Aleyna dan mulai mempersiapkan mentalnya jika sewaktu-waktu Aleyna direnggut paksa dari kehidupannya.
“Bbo boleh. Kau boleh mendekati Aleyna kapanpun kau mau miss Jessica. Aku juga tidak berhak menghalang-halangi keluarga kandung Aleyna untuk bertemu dengan Aleyna.”
“Oh, terimakasih nyonya Im. Ibuku pasti akan senang dengan berita ini. Kalau begitu aku pamit akan pulang sekarang nyonya Im. Terimakasih atas informasi yang kau berikan hari ini. Sampai jumpa.”
Jessica membungkukan tubuhnya dalam kearah Luciana dan langsung berjalan keluar dengan wajah cerah dan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Hal itu sangat kontras dengan wajah Luciana yang justru berubah murung setelah kepergian Jessica. Ibu muda itu kini terlihat begitu kacau sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Drtt drrt
Tiba-tiba ponsel putihnya kembali bergetar entah untuk yang ke berapa kalinya. Sejak tadi sebenarnya ia tahu jika ponselnya terus bergetar berisik di dalam tas kerjanya, namun ia tidak menghiraukannya karena ia sedang berbicara serius dengan Jessica. Sambil tetap menelungkupkan kepalanya di atas meja, Luciana merogoh tas kerjanya dan mengambil ponsel putih itu dari sana. Ketika ia melihatnya, nama Joey tertera di layar ponselnya dengan dua puluh tujuh panggilan yang tak terjawab. Namun setelah itu ia tak juga menjawab panggilan Joey yang ke dua puluh delapan, dan justru hanya memandangi layar ponselnya dengan tatapan sendu yang menyedihkan.
“Kau tidak boleh bergantung lagi padaku tuan Lee, hiduplah bahagia bersama Jihyun!”
Luciana kemudian melempar kasar ponselnya kedalam tasnya dan memilih untuk menelungkupkan kepalanya kembali ke atas meja. Hari ini ia benar-benar butuh menenangkan diri untuk meredakan kekacauan hatinya. Dan mulai sekarang ia juga harus mensugesti dirinya sendiri jika Aleyna bukanlah miliknya, jadi ia harus selalu siap jika kapan saja keluarga Aleyna datang untuk membawa gadis menggemaskan itu pergi dari hidupnya.
-00-
Dengan wajah sendu, Luciana bersandar lunglai pada sandaran kursi di mobilnya. Sungguh hari ini adalah hari yang menguras emosi dan juga tenaganya. Sejak Jessica datang ke kantornya kemarin, ia terus dihantui mimpi buruk mengenai kepergian Aleyna dari hidupnya. Sekarang kantung matanya terlihat menghitam karena ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ditambah lagi panggilan-panggilan dari Joey yang terus memenuhi ponselnya, membuatnya semakin stress dan frustrasi. Jihoo yang melihatnya sangat kacau hari ini menyarankannya untuk pergi bersenang-senang bersama Aaron atau pergi ke rumah Karen untuk melupakan semua permasalahannya hari ini. Namun ia memilih untuk hanya berdiam diri di dalam mobilnya, di pinggir sungai Han sambil mengamati lalu lalang pengunjung Sungai Han yang terlihat berbinar-binar. Tidak ada satupun dari mereka yang berwajah murung sepertinya. Dan mungkin ia adalah satu-satunya pengunjung yang berwajah muram di sini karena sejak tadi ekor matanya hanya melihat berbagai macam pasangan yang penuh dengan sinar-sinar cinta di mata mereka.
Drttt drtt drtt
“Ck! Apa lagi ini!” decak Luciana kesal sambil menyambar kasar ponselnya dari dahsboard mobil. Sejak kemarin pria itu terus menerornya dan mengganggu hidupnya yang telah kacau dengan seluruh panggilannya yang berisik. Bahkan Joey juga sempat menerobos masuk kedalam kantornya kemarin ketika ia sedang pergi. Dan itu sangat disyukuri oleh Luciana karena ia tidak perlu bertemu dengan pria itu dan membuat pikirannya menjadi lebih kacau.
“Halo?”
“Kau dimana?” tanya Joey tajam begitu Luciana menempelkan benda persegi itu di telinganya. Ada nada marah yang begitu kental dalam nada suara Joey. Namun Luciana terlihat tak peduli dan tetap mempertahankan ekspresi datarnya sambil menatap lalu lalang pasangan kekasih yang terus memamerkan kemesraan mereka di depan seorang wanita malang sepertinya.
“Itu tidak penting. Katakan saja apa yang kau inginkan, lalu akan menutup teleponnya.”
“Berani kau melakukannya, aku akan membuatmu menyesal Luciana.” desis Joey sungguh-sungguh.
“Huh, lakukan saja jika kau bisa.” Balas Luciana sinis dengan wajah menantang. Jika Joey saat ini berada di hadapannya, pria itu pasti benar-benar akan marah besar padanya karena sikapnya yang terlampau sinis hari ini.
“Sebenarnya apa masalahmu Luciana? Kau tidak menjawab panggilanku sejak kemarin, dan kau juga tidak ada di kantormu ketika aku datang. Kau sedang menghindariku?”
“Kenapa kau masih bertanya jika kau sudah mengetahui jawabannya tuan Lee? Aku memang menghindarimu.” ucap Luciana jujur. Joey menggeram tertahan di ujung teleponnya, lalu kembali bersuara dengan suara mendesis bak ular yang sedang dilingkupi emosi.
“Kenapa harus menghindariku? Apa masalahmu? Sekarang katakan dimana kau berada, aku akan menjemputmu.”
“Tidak perlu! Mulai sekarang kau harus belajar untuk mandiri tanpa tergantung padaku. Kembalilah pada Jihyun, dan perbaikilah hubungan rumah tangga kalian. Aku yakin kau pasti bisa.”
__ADS_1
Klik
Luciana langsung mematikan sambungan teleponnya dan melepas baterai ponselnya agar Joey tidak bisa menerornya lagi dengan panggilannya yang berisik. Saat ini yang ia butuhkan adalah ketenangan untuk mendinginkan kepalanya yang panas. Ia harus bisa menjernihkan pikirannya agar ia bisa memikirkan bagaimana kelanjutan hidupnya setelah ini. Setelah Aleyna pergi dari hidupnya.