Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Two: If Our Love Is Wrong (Fifty Five)


__ADS_3

            “Mmpphhfff.... mmppffhhh....”


            “Tenanglah sayang, ini tidak akan lama.”


            Yunho melirik Yuna sebentar dan kembali menekuni pekerjaanya yang tertunda. Melihat Yuna yang saat ini sedang terbaring tak berdaya di atas ranjang, dengan kaki dan tangan yang terikat, membuat Yunho merasa senang. Wanitanya terlihat lebih menggoda saat sedang meronta-ronta seperti itu. Sayangnya tidak akan ada satupun yang bisa menyelematkan Yuna malam ini dari cengkeramannya. Ia akan membuat Yuna menjadi miliknya, hanya miliknya.


            “Mmmppffhhh.... mmmpppffhh...”


            Yuna berteriak-teriak panik dengan mulut tersumpal kain saat Yunho mulai mendekatinya dengan sebuah jarum suntik yang tampak berkilat-kilat di tangannya. Pria itu dengan wajah psikopatnya mulai mengelus satu persatu bagian tubuh Yuna. Dimulai dari ujung kepala dan terus turun hingga ujung kaki.


            “Ssshhh.... aku hanya akan membebaskanmu dari rasa sakit Yuna. Setelah ini kau tidak akan merasakan apapun lagi. Ketakutan, rasa sakit, dan perasaan terluka yang pernah kau rasakan dulu, semuanya akan hilang. Hilang sepenuhnya dari dalam kepala cantikmu.” bisik Yunho lirih tepat di samping telinga Yuna. Melihat Yunho yang sangat mengerikan, membuat Yuna hanya mampu memejamkan matanya ketakutan sambil terus berdoa dalam hati. Seumur hidupnya ia tidak pernah menyangka jika jalan hidupnya akan menjadi semengerikan ini. Dan ia juga tidak pernah menduga jika ia akan mendapatkan cinta yang begitu gila dari seorang pria gila yang sangat mengerikan seperti Yunho.


            “Ahh.. sepertinya lebih baik aku melepaskan kain ini dari mulutmu agar aku bisa mendengar suara seksimu yang sedang mengerang kesakitan.”


            Dengan kasar Yunho menarik gumpalan kain itu dari mulut Yuna dan membuangnya asal di atas lantai kamar Yuna yang berantakan. Dan tanpa menunggu-nunggu lagi, pria itu langsung menusukan jarum suntik itu tepat di pelipis Yuna dengan tusukan cepat yang menghantarkan rasa sakit untuk Yuna.


            “Aaaaaaarrrgggghhhhhhh!!!”


            “Ssshhh.... Kau tidak akan merasakan sakit lagi Yuna. Ini yang terakhir, aku janji.” bisik Yunho lembut sambil mengecup kening Yuna dalam hingga Yuna akhirnya kehilangan seluruh kesadarannya dan tertidur pulas di dalam dekapan Yunho yang hangat.


            “Selanjutnya...” Yuna berseru pelan saat ia tiba-tiba menghentikan ceritanya. “Aku tidak tahu pasti apakah ini memang seperti itu, tapi aku mendengarnya dari Changmin.”


            “Mantan suamimu itu?”


            Yuna mengangguk pada Sehun sambil melipat tangannya di atas meja. “Saat itu ia mencariku katanya. Tapi Yunho yang licik telah menyembunyikanku ke luar negeri hingga Changmin tidak bisa menemukanku.”


            “Kurasa Kim Yunho adalah pria psikopat yang cerdas. Lain waktu tolong bawa aku untuk bertemu dengannya.” Luciana tersenyum lebar kearah Yuna. “Pasti akan menyenangkan jika aku bisa mengobrol bersamanya.”


            “Tentu. Tapi sekarang ia sedang pergi ke Budapest untuk melakukan pemotretan. Ck, aku jadi merindukannya.” decak Luciana lesu.


            “Seberapa besar rasa cintamu padanya?”


            “Entahlah. Aku hanya merasa tidak ingin kehilangannya dan berubah bersimpati padanya sejak kejadian itu. Mungkin aku juga mengidap sindrom stokholm.”


            “Yeah, tidak salah jika kau mengambil pendidikan untuk menjadi psikiatri.” canda Sehun dengan gelak tawa. Seketika Yuna mendelik kearahnya dan mencibir.


            “Seperti


kau juga tidak gila saja, dokter Oh.” Yuna menoleh sungguh-sungguh kearah Sehun


lalu memberikan tatapan menyeringai yang menyebalkan. “Aku tahu kau menaruh


rasa pada pasienmu itu.”


            “Siapa?” tanya Luciana penuh ingin tahu.


            “Siapa lagi kalau bukan Kang Yeri. Huh, dasar dokter penebar pesona.”


            “Hey, kenapa kau justru membuka aibku di sini.” dengus Sehun gusar. “Lebih baik kau lanjutkan saja ceritamu. Dan jangan usik aku yang sedang patah hati.” ucap Sehun lagi dengan dahi berkerut-kerut. Ia kesal! Sangat kesal karena dokter berisik itu membuat Luciana tahu jika selama ini ia telah menyukai Yeri.


            “Ya Tuhan, jadi selama ini pasien-pasien kita berobat pada dokter yang sama gilanya dengan mereka? Hebat!” ucap Luciana sambil bertepuk tangan. Sekarang ia tahu jika bukan hanya dirinya yang pernah melakukan kesalahan. Bahkan dokter-dokter hebat sekelas Oh Sehun dan Kim Yunapun juga pernah.


            “Sudahlah,


jangan membahas hal itu lagi.” Sehun berucap lesu dan terlihat begitu frustrasi dengan topik pembicaraan mereka. “Lebih baik kita dengarkan saja cerita Yuna tentang penculikannya. Kau pasti akan semakin dibuat terkejut dengan semua masa lalu Yuna.”


            “Ck, dasar! Kali ini kubiarkan kau lolos, Oh Sehun.” balas Yuna kesal.


            “Yuna... sayang, kau dimana?”


            Changmin masuk ke dalam rumahnya dengan senyum mengembang yang terus terukir di wajahnya. Setelah lebih dari satu bulan ia terjebak di perbatasan Korea dengan segala kesibukan yang mencekiknya, akhirnya sekarang ia bisa kembali untuk bertemu dengan sang istri tercinta. Bayangan Yuna yang telah menunggu di rumah dengan senyum manis mengembang di wajah telah menjadi fantasi Changmin selama ia berada di pesawat

__ADS_1


hingga ia masuk ke dalam rumahnya beberapa saat yang lalu. Namun semua fantasi itu sirna seketika, tergantikan oleh kekecewaan karena ternyata sang istri tidak berada di rumah. Ia pikir Yuna sedang marah padanya karena beberapa minggu ini wanita itu sudah tidak pernah lagi menghubunginya. Terakhir ia berbicara dengan Yuna adalah di malam ketika wanita itu sedikit marah padanya karena ia tak kunjung pulang. Dan sekarang setelah ia akhirnya pulang, istrinya itu justru tidak ada dimanapun.


            “Yuna, apa kau masih marah padaku? Kau dimana sayang?”


            Changmin terus berjalan kesana kemari untuk mencari dimana keberadaan sang istri. Namun hanya kekosongan yang sejak tadi ia temui karena sosok sang istri benar-benar tidak berada dimanapun. Bahkan kondisi rumah yang selama ini telah mereka tinggali hanya tampak seperti tidak pernah dihuni. Debu-debu halus mulai terlihat menumpuk di setiap sudut-sudut ruangan. Dan di dalam kamarnya, Changmin menemukan beberapa buku


miliknya dan juga Yuna tampak jatuh berserakan di atas karpet dengan kondisi yang sangat berantakan. Changmin lalu berjalan mendekat kearah ranjang dan mulai mengamati setiap sudut kamarnya dengan dahi berkerut. Semua yang berada di kamarnya seperti telah lama tak disentuh. Bahkan ranjang yang berantakan itu tampak sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya hingga terlihat beberapa noda coklat yang tercetak jelas di atas permukaan spreinya yang putih.


            “Yuna, kau dimana?”


            Changmin bergumam khawatir sambil mengitari seluruh kamarnya. Ia lalu membuka pintu kamar mandinya lebar-lebar dan mulai mengecek setiap sudut kamar mandinya yang tampak kering. Jelas sekali kamar mandi itu seperti sudah lama tidak dipakai. Ia lantas berjalan menuju ranjangnya untuk menghubungi siapapun yang bisa dihubunginya. Dan tentu saja, nomor yang pertama kali dihubunginya adalah nomor ponsel milik Yuna. Sayangnya panggilan itu justru hanya menyambungkannya pada sang operator yang sama sekali tidak ingin ditemuinya. Lalu Changmin mencoba menghubungi pihak rumah sakit karena ia pikir mereka pasti tahu dimana keberadaan Yuna saat ini.


            “Halo, bisa kau sambungkan aku dengan dokter Kim Yuna?”


            Cukup lama Changmin menunggu hingga suara seorang wanita yang merupakan petugas resepsionis mengalun lembut di indera pendengarannya.


            “Sudah lama dokter Kim tidak datang. Di sini kami juga sibuk mencarinya karena seluruh pasiennya mulai menanyakan dimana keberadaanya. Emm... apakah anda salah satu pasiennya?” tanya wanita itu ragu. Changmin semakin frustrasi mendapatkan jawaban seperti itu, dan sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah mengusap wajahnya kasar karena ia tidak tahu lagi kemana ia harus mencari Yuna.


            “Aku suaminya. Apa kau tahu kapan terakhir kali Yuna pergi ke rumah sakit?”


            “Tunggu sebentar tuan, saya akan mencarinya di jadwal kehadiran dokter Kim.”


            Changmin mengangguk samar dibalik ponselnya sambil mencoba mengamati kamarnya yang sangat berantakan. Pikiran-pikiran buruk yang sejak tadi ditepisnya mulai bermunculan di dalam kepalanya dan membuatnya semakin panik. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa Yuna. Tak sengaja ekor matanya menatap sebuah benda berkilauan dibawah selimut yang terhampar di bawah kakinya. Sebuah ponsel putih milik Yuna yang telah retak di bagian layarnya menunjukan jika memang telah terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya. Sekarang ia tidak bisa lagi tidak berpikiran buruk mengenai Yuna karena pada kenyataanya semua bukti ini telah menunjukan jika Yuna tidak sedang baik-baik saja.


            “Halo tuan, apa kau masih di sana?”


            “Yya ya, aku masih di sini. Jadi kapan terakhir kali Yuna datang ke rumah sakit?”


            “Dokter Kim terakhir kali datang ke rumah sakit pada tanggal lima belas, itu sekitar tiga minggu yang lalu kurasa.”


            Changmin langsung mengernyitkan dahinya sambil menghitung waktu terakhir kali mereka bertelepon. Dan setelah diingat-ingat, ternyata tanggal lima belas adalah hari dimana mereka bertelepon sebelum Yuna akhirnya hilang tanpa kabar hingga ia pulang hari ini.


            “Baiklah, terimakasih atas informasinya. Jika ada informasi mengenai Yuna, tolong hubungi aku.”


            “Sial! Apa-apaan ini!”


            Changmin mengumpat keras ketika dilihatnya seluruh layar itu terlihat mati. Monitor yang seharusnya menunjukan seluruh sudut-sudut rumahnya tampak telah disabotasi dengan seluruh kabelnya yang sudah terputus dengan rapi. Sekarang ia yakin jika Yuna pasti sedang bersama dengan seseorang yang jahat. Tidak mungkin semua ini terjadi secara kebetulan karena semua yang terjadi di rumahnya tampak dilakukan oleh seseorang


yang ahli. Sambil mengacak rambutnya gusar, Changmin langsung berlari menuju mobilnya untuk mencari dimana keberadaan Yuna. Ia harus menanyakan hal ini pada petugas keamanan di kompleks rumahnya karena seharusnya mereka tahu dimana keberadaan Yuna. Atau setidaknya mereka tahu siapa orang terakhir yang datang ke rumahnya tiga minggu yang lalu.


            “Tuan Shim, selamat siang.”


            Setibanya di pos penjagaan, Changmin langsung mendapatkan sambutan baik dari tiga orang petugas keamanan bertubuh kekar yang selama ini selalu menjaga kompleks perumahan. Dari wajah dan juga perawakannya, Changmin yakin jika tiga orang itu bukanlah orang-orang sembarangan yang tentunya telah dilatih dengan keras untuk melindungi orang-orang penting yang tinggal di kompleks elit ini. Namun melihat bagaimana


bentuk rumahnya yang sangat kacau, Changmin tidak yakin jika pria-pria itu adalah pria yang hebat.


            “Apa kalian melihat Yuna tiga minggu yang lalu? Ia hilang, dan aku menemukan rumahku dalam keadaan berantakan dan seperti baru saja dirampok.”


            “Maaf tuan, kami tidak mengerti maksud anda. Setahu kami tidak ada apapun yang terjadi di kompleks ini, namun kami memang jarang sekali melihat nyonya Yuna seperti biasanya.”


            “Apa saja yang kalian lakukan selama ini? Lihatlah, rumahku benar-benar baru saja dimasuki oleh perampok, dan sekarang istriku telah diculik!” teriak Changmin emosi. Melihat Changmin yang telah dilingkupi emosi, mereka bertiga justru hanya saling bertatapan tanpa berinisiatif untuk melakukan apapun. Mereka sepertinya masih menganggap jika Changmin sedang membual karena mereka sama sekali tidak melakukan apapun hingga Changmin pada akhirnya harus membentak mereka untuk pergi memastikan keadaan rumahnya yang memang sangat berantakan.     


            “Kalian benar-benar tidak berguna. Sekarang pergi ke rumahku dan lihat apa yang telah terjadi di sana.”


            Secepat kilat mereka berlari kearah rumah putih di ujung kompleks sambil menatap takut-takut pada Changmin yang ikut berlari di samping mereka. Dan gelagat mereka yang aneh itu membuat salah satu penghuni kompleks yang bernama nenek Kang menatap mereka dengan tatapan bertanya-tanya.


            “Apa yang terjadi, kenapa kalian berlarian seperti itu?”


            “Nenek Kang, kami... akan mengecek rumah milik tuan Shim.”


            “Maksudmu rumah putih di ujung sana?”

__ADS_1


            “Ya, itu adalah rumahku. Kau kenal dengan istriku?”


            Changmin yang selama ini jarang berada di rumah membuat nenek Kang mengernyit heran. Namun sedetik kemudian ia mengangguk pelan sambil menunjuk-nunjuk rumah putih milik Changmin dengan tongkat kayunya yang panjang.


            “Aku sering melihat istrimu, beberapa kali ia lewat dan menyapaku yang sedang duduk di sini. Tapi akhir-akhir ini aku tidak pernah lagi melihatnya, semenjak...”


            “Semenjak apa?” Dengan tidak sopannya Changmin menyela kata-kata nenek Kang hingga membuat wanita tua itu mengernyit tidak suka.


            “Dasar tidak sopan! Aku tidak pernah lagi melihatnya sejak seorang pria dengan wajah yang tidak terlalu jelas mengendap-endap di depan rumahmu.” jawab nenek Kang ketus. Mendengar itu Changmin terlihat semakin panik dan memutuskan untuk segera menghubungi polisi. Tidak ada gunanya ia mengandalkan tiga petugas kompleks yang justru sedang terbengong-bengong seperti pria dungu yang tak berguna. Mereka semua benar-benar payah!


            “Seorang pria? Baiklah, terimakasih atas informasinya, aku akan segera mencari istriku sekarang.”


            Tanpa mempedulikan tiga petugas yang sedang terbengong bodoh, Changmin segera mempercepat langkahnya untuk mengambil mobilnya dan pergi secepat yang ia bisa menuju kantor polisi. Ia rasa Yuna saat


ini benar-benar sedang diculik dan ia harus melaporkan hal itu pada pihak kepolisian agar mereka dapat membantunya mencari dimana keberadaan istrinya.


            “Emmonim, ini aku Changmin.”


            Hembusan napas berat terdengar keras setelah Changmin berhasil menghubungi ibu mertuanya dengan berbagai perasaan takut yang bergelayut di benaknya. Sudah lama ia tidak menyapa ibu mertuanya yang tinggal jauh dari Seoul karena kesibukannya yang sangat padat. Dan siang ini sungguh disayangkan karena ia harus menghubungi ibu mertuanya untuk sebuah berita yang kurang baik.


            “Changmin, bagaimana kabarmu nak? Ibu merindukanmu. Kau dan Yuna, lama kalian tidak mengunjungi kami di sini. Apa kalian sangat sibuk?”


            “Ehem.. maaf eommonim.” Changmin berdeham sebentar untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Rasanya ia tidak sanggup untuk mengabarkan berita ini pada ibu mertuanya, tapi ia harus melakukannya.


            “Maaf eommonim, Yuna menghilang.”


            Untuk beberapa saat tidak ada


jawaban apapun dari ibu mertuanya dan hanya ada keheningan yang membuat Changmin semakin was-was. Dan beberapa detik kemudian barulah ia mendengar suara panik dari ibu mertuanya yang disertai dengan suara isak tangis yang samar.


            “Bagaimana bisa? Sejak kapan?” tanya ibu mertuanya dengan suara parau. Perasaan bersalah yang sudah lama dikuburnya rapat-rapat, perlahan-lahan mulai muncul seiring dengan kabar buruk yang baru saja disampaikan Changmin. Lagi-lagi ia menjadi ibu yang buruk dengan tidak tahu apapun mengenai kondisi Yuna. Dan semua itu mulai terjadi semenjak ia kembali dari Busan empat belas tahun yang lalu.


            “Sepertinya sejak tiga minggu yang lalu eommonim. Maafkan aku karena aku terlambat menyadarinya, aku baru saja kembali dari perbatasan Korea.” ucap Changmin penuh nada bersalah. Sedangkan nyonya Kim terdengar semakin tersengguk-sengguk di ujung telepon setelah mendengar berita itu. Ia merasa bersalah karena tidak pernah memperhatikan Yuna sedikitpun selama ini. Sejak Yuna menikah ia jarang menghubungi Yuna karena ia takut akan mengganggu Yuna yang sedang sibuk dengan pasien-pasiennya. Selain itu, ia pikir Yuna selama ini selalu membencinya karena sikap Yuna langsung berubah begitu saja semenjak ia kembali dari Busan.


Malam


itu ia sangat ingat bagaimana Yuna menangis tersedu-sedu dan memohon di


depannya untuk dimasukan ke sebuah sekolah asrama yang cukup jauh dari Seoul.


Dan setelah itu mereka jadi semakin jarang bertemu karena Yuna tidak pernah mau


pulang ketika libur natal atau musim panas. Yuna lebih suka menghabiskan


seluruh hari liburnya dengan tetap tinggal di asrama atau menginap di rumah


temannya yang berada di sekitar asrama.


            “Apa kau sudah menghubungi teman-temannya, siapa tahu mereka tahu dimana keberadaan Yuna. Mungkin ini ada kaitannya dengan pribadi Yuna yang sedikit aneh selama ini.” ucap nyonya Kim parau.


            “Maksud eommonim?” tanya Changmin tak mengerti. Selama ini Yuna tidak pernah menunjukan keanehan apapun di depannya, dan hubungan mereka juga selalu baik-baik saja. Tapi mereka memang jarang membahas masa lalu karena Yuna selalu menghindar setiap kali ia menanyakan mengenai masa kecilnya. Dan terkadang hal itu juga akan disertai dengan luapan emosi yang sedikit aneh dari Yuna.


            “Yuna, empat belas tahun yang lalu secara tiba-tiba menangis di depanku dan ayahnya, ia memohon-mohon pada kami agar dimasukan ke dalam sekolah asrama. Saat itu ia terlihat seperti sedang memiliki sesuatu yang disembunyikan pada kami, tapi ia tak pernah sedikitpun mengungkapkannya dan hanya menangis di depan kami. Akhirnya kami mengabulkan permintaannya untuk mendaftarkannya ke sekolah asrama yang letaknya di luar Seoul. Tapi setelah ia pergi, kami sempat menanyakan keanehan Yuna itu pada asisten rumah tangga kami yang saat itu berada di rumah bersama Yuna selama kami pergi ke Busan untuk menjenguk neneknya. Dan bibi Anna bercerita pada kami jika Yuna pernah pulang dalam keadaan kacau saat Seoul sedang dilanda hujan badai. Sayangnya kami tidak tahu apa yang terjadi pada Yuna di malam itu karena Yuna


tidak pernah bercerita apapun pada bibi Anna. Dan saat aku bertanya pada Yuri, salah satu teman dekatnya, gadis itu hanya mengatakan jika Yuna malam itu langsung pulang saat hujan badai karena takut bibi Anna mencarinya. Tapi gadis itu mengatakan padaku jika Yuna sangat takut pada seorang pemuda bernama Kim Yunho yang merupakan keponakan dari tetangga kami.”


            “Kim Yunho? Apa eommonim pernah bertemu dengan pria itu? Yuna sepertinya pernah memimpikan pria itu sekali hingga ia mengigau saat tidur. Tapi karena kupikir itu mantan kekasihnya, jadi aku tidak pernah menanyakannya pada Yuna.”


            “Aku hanya pernah melihatnya dua kali, sebelum aku pergi ke Busan dan saat Yuna telah pergi ke sekolah asrama. Saat itu aku melihatnya sedang berdiri di depan rumahku sambil menatap jendela kamar Yuna cukup lama. Tapi saat aku akan keluar untuk menyapanya, ia justru pergi begitu saja dan tidak pernah terlihat lagi hingga saat ini.”


            Changmin mengerutkan dahinya dalam dan mencoba menyatukan kepingan-kepingan puzzle itu satu persatu. Ternyata ia benar-benar sangat awam dengan Yuna. Bahkan ia tidak pernah tahu bagaimana Yuna di masa lalu karena ia memang tidak pernah mencoba untuk mencari tahunya. Selama ini ia hanya diam, pasif, dan terus menunggu hingga Yuna benar-benar mau terbuka padanya, dan menjadi istri yang sesungguhnya untuknya.

__ADS_1


            “Baiklah eommonim, aku akan menyelidiki hal itu dan melaporkannya pada pihak polisi. Jika eommonim mendapatkan kabar mengenai Yuna, tolong hubungi aku segera.”


            Dan panggilan itu pada akhirnya berakhir dengan banyak pertanyaan yang justru semakin banyak berjubel di dalam kepala Changmin. Sekarang tugasnya menjadi dua kali lipat lebih banyak. Dan sekarang ia justru merasa takut. Ia takut jika semua ini ternyata akan membawa sesuatu yang buruk untuk hubungannya dan Yuna kelak.


__ADS_2