
Saat makan siang, Yeri langsung melemparkan kaca matanya dengan asal ke atas meja sambil merentangkan kedua tangannya di udara. Hari ini banyak sekali laporan yang harus ia kerjakan. Belum lagi manajer Kim, manajer bagian marketing, menyuruhnya untuk memberikan data pengeluaran bulan lalu padanya besok pagi, sehingga malam ini ia benar-benar harus lembur untuk menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Sembari merenggangkan otot-otot lehernya yang kaku, Yeri mulai berjalan menuju pintu untuk turun ke bawah. Siang ini ia merasa begitu lapar karena pagi tadi ia hanya makan sangat sedikit sekali sandwich buatan ibunya. Topik mengenai Sehun membuat selera makanya hilang begitu saja tadi pagi, hingga pada akhirnya ia harus meninggalkan sarapannya disaat makanan itu belum benar-benar habis. Rasanya Yeri sudah benar-benar muak pada pria itu. Cepat-cepat ia menghapus nama Sehun dari kepalanya, dan segera berjalan keluar menuju lift yang baru saja terbuka.
“Kau mau ke mana?” tanya Jaebum tiba-tiba sambil mencekal lengannya. Yeri refleks berhenti melangkah dan berbalik untuk melihat Jaebum. Pria itu saat ini tengah menatapnya intens dengan mata teduhnya yang menenangkan, membuat jantung Yeri berpacu lebih cepat dari biasanya. Jujur saat bersama dengan Sehun ia tidak merasakan hal yang sangat mendebarkan seperti ini. Biasanya ia hanya berdebar saat pria itu menciumnya, tidak lebih.
“Aku akan makan siang di bawah. Kau mau ikut?”
“Tentu saja. Aku ingin melihat-lihat bagian lain dari kantormu, dan juga teman-temanmu yang lain.” jawab Jaebum santai dan langsung berjalan keluar mendahuluinya. Di depan pintu presdir Kim, tampak Sunny sedang mengamati Yeri dengan wajah aneh. Pasalnya saat sekretaris tuan Kim itu akan berjalan keluar menuju mejanya, ia melihat Yeri sedang berjalan keluar hendak melewati pintu ruangannya, namun ketika ia akan menyapa wanita muda itu, Yeri justru tampak sedang mengobrol dengan orang lain, padahal di lantai ini tidak ada siapapun selain dirinya dan juga Yeri. Sunny sempat berpikir jika mungkin saja di lantai tempatnya bekerja sedikit berhantu, karena konon katanya tanah yang dipakai untuk pembangunan kantornya adalah tanah bekas mansion kosong yang dulunya sempat terjadi kasus pembunuhan berantai. Dengan wajah pucat, Sunny segera berjalan menuju mejanya sambil menegak air sebanyak-banyaknya untuk mengurangi ketakutan yang berkecamuk di dalam hatinya. Dan saat Yeri berjalan melewatinya, wanita itu langsung menunduk takut pada Yeri, tanpa berani menatap atau menyapa wanita itu seperti biasanya.
“Eonni, kau tidak turun untuk makan siang?”
“Tidak, aaa aku hari ini membawa bekal sendiri.” jawab Sunny terbata-bata. Yeri mengernyit bingung dengan perubahan sikap Sunny yang tampak tidak seperti biasanya. Wanita itu hari ini terlihat lebih pendiam dan juga tampak sedang menyembunyikan sesuatu.
“Eonni, apa kau baik-baik saja? Wajahmu tampak pucat.” ucap Yeri khawatir. Jaebum yang berada di samping Yeri hanya tertawa kecil menertawakan ekspresi wajah Sunny yang tampak ketakutan. Ia tahu jika sebenarnya Sunny sedang ketakutan karena melihat sikap aneh Yeri saat sedang berbicara dengannya, namun ia enggan memberitahukannya pada Yeri karena ia sedang ingin menertawakan wanita berperawakan mungil itu dan tingkah bodohnya.
“Tidak, aku baik-baik saja. Lebih baik kau segera turun untuk makan siang sebelum jam makan siang usai.” usir Sunny halus sambil menyunggingkan senyum gugupnya. Setelah berpamitan pada Sunny, Yeri segera melangkah pergi menuju lift yang akan membawanya menuju lantai dua, tempat dimana cafetarianya berada. Selama di dalam lift, Yeri terus berbicara dengan Jaebum mengenai berbagai hal, termasuk mengenai keanehan Sunny yang langsung membuat Yeri tertawa terbahak-bahak setelah Jaebum memberitahukan yang sebenarnya.
“Jadi Sunny eonni ketakutan karena melihatku berbicara denganmu? Ya Tuhan, ia pasti mengira aku gila. Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?” tanya Yeri kesal, namun ia justru tertawa terbahak-bahak setelahnya. Jaebum yang melihat hal itu hanya mampu tersenyum kecil dan merangkul pundak Yeri sayang seperti Yeri adalah kekasihnya.
“Aku senang melihatmu bahagia. Untuk seterusnya kau harus selalu tersenyum dan jangan pernah mengingat-ingat pria brengsek itu. Apa kau mengerti?”
“Ya, aku mengerti. Lagipula aku sudah melupakannya sekarang. Ada seseorang yang jauh lebih menarik daripada Sehun saat ini. Dan untuk kedepannya aku hanya ingin memikirkan pria ini seorang.” ucap Yeri misterius. Jaebum langsung mengerutkan keningnya bingung karena ia tidak mengerti maksud ucapan Yeri. Ia pikir Yeri hanya memiliki satu pria yang menjadi kekasihnya, tapi tanpa diduga, Yeri ternyata memiliki pria lain selain Oh Sehun dalam hidupnya.
“Siapa? Apa manajer Kim?” tanya Jaebum tidak suka. Yeri yang melihat ekspresi tidak suka dari Jaebum hanya mampu tersenyum jahil sambil mencubit hidung Jaebum gemas.
“Ternyata teman kyayalanpun bisa merajuk.” pikir Yeri tak habis pikir.
“Tuan Kim Hansol maksdmu? Oh yang benar saja. Kau pikir aku menyukai pria tua yang seusia dengan ayahku? Hmm, kau benar-benar keterlaluan.”
__ADS_1
“Lalu siapa? Apakah pria bergusi pink yang kau temui tadi pagi? Ia sepertinya sangat dekat denganmu. Dan juga baik.” tambah Jaebum sambil mengingat-ingat wajah Hyukjae di dalam kepalanya.
Sembari Jaebum sibuk berpikir, lift tiba-tiba berdenting dan berhenti di lantai dua. Ketika pintu lift terbuka, tampak beberapa karyawan kantor sedang mengantre untuk memesan makanan. Yeri yang selama ini selalu makan di luar kantornya merasa terpana dengan pemandangan cafetaria kantornya yang terlihat mengagumkan. Selama ini ia tidak pernah berpikir jika cafetaria di kantornya akan seramai ini saat jam makan siang. Dengan perasaan ragu, Yeri mulai melangkah keluar dan mengikuti barisan antrean yang berada di depannya, sedangkan Jaebum hanya mengekor di belakangnya sambil mengamati pemandangan sesak di dalam cafetaria kantor Yeri.
“Kau yakin akan makan siang di sini?” tanya Jaebum pada Yeri yang masih sibuk membaca deretan menu yang tertempel di atas dinding. Wanita itu sekilas menoleh pada Jaebum sambil menganggukan kepalanya.
“Di sini sangat ramai. Kau tidak akan mendapatkan tempat untuk duduk.” bisik Jaebum lagi. Yeri kemudian
mengikuti arah pandang Jaebum sambil menatap sekitarnya. Benar apa yang dikatakan oleh Jaebum, ia tidak akan mendapatkan tempat di kafetaria ini karena semua meja dan kursi tampak sudah terisi penuh. Tapi tiba-tiba pandangan matanya jatuh pada Yuri dan Taeyeon yang sedang menyantap makanan di sudut kafetaria. Yeri lantas menunjuk kearah Yuri dan Taeyeon. “Aku bisa duduk di sana.” ucap Yeri sumringah.
“Siapa mereka?”
“Taeyeon dan Yuri, teman-temanku.” jawab Yeri sambil berjalan kearah dua temannya yang terlihat sibuk mengobrol. Sudah sejak lama Yeri berteman dengan mereka, meskipun mereka tidak berasal dari divisi yang sama, namun di luar jam kantor mereka sering pergi bersama untuk berbelanja atau mengobrol sambil menum kopi
di sore hari.
“Yuri dan Taeyeon pasti akan memberiku tempat duduk.” ucap Yeri yakin. Jaebum pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti sambil memperingatkan Yeri untuk berjalan maju, karena saat ini adalah gilirannya untuk memesan makanan.
“Kau juga ingin makan?” tanya Yeri tak yakin. Jaebum kemudian menggeleng sambil membisikan sesuatu di telinganya, membuat Yeri merasa terharu dan langsung tersenyum lembut mengingat masa lalu.
“Dulu makanan favoritmu adalah udang goreng dan es krim, apa sekarang kau tidak ingin memesannya?”
“Kau masih mengingatnya? Aku merasa terharu. Tapi hari ini aku sedang tidak ingin makan udang goreng dan es krim, mungkin lain kali aku akan memesannya.”
Setelah mengucapkan hal itu, seorang pelayan muda datang membawakan pesanannya dan memintanya untuk membayar tagihan makanannya di kasir. Sepeninggal Yeri, seorang wanita yang sejak tadi berdiri di belakang Yeri untuk mengantre hanya mampu mengernyit bingung ke arah Yeri. Sungguh ia merasa aneh dengan sikap Yeri yang sejak tadi terus berbicara sendiri. Awalnya ia pikir Yeri akan mengajaknya berbicara, namun saat ia memperhatikan dengan seksama, arah pandang wanita itu sama sekali tidak mengarah padanya. Arah pandangan Yeri justru mengarah pada udara kosong yang berada di sampingnya. Sambil tetap menatap aneh pada Yeri, wanita itu mencoba melupakan semuanya dengan berjalan mendekat pada sang pelayan untuk memesan makanan.
“Apa kau merasa manager Kang hari ini bersikap aneh?” bisik wanita itu pada si pelayan. Pelayan itu kemudian menatap sang lawan bicara sambil mengernyit heran karena ia tidak merasa ada sesuatu yang aneh pada Yeri, selain gerak-geriknya yang tampak kaku.
__ADS_1
“Entahlah, aku tidak terlalu memperhatikannya karena aku terlalu sibuk melayani pembeli. Apa kau akan
memesan sesuatu? Kau membuat antrean semakin panjang.” ucap pelayan itu mengingatkan dan langsung dijawab dengan anggukan cepat oleh wanita itu.
“Tentu, bawakan makanan seperti biasa untukku.” perintahnya pada pelayan di depannya, namun sejak tadi ekor matanya tak pernah lepas dari Yeri yang saat ini telah berjalan menuju sudut ruangan, kearah teman satu divisinya, Yuri dan Taeyeon.
-00-
“Hai, boleh aku bergabung bersama kalian?” Tanya Yeri pada Yuri dan Taeyeon. Sontak dua wanita itu langsung menoleh ke arah Yeri, dan dalam sekejap mereka berdua menjadi heboh karena selama ini Yeri tidak pernah makan siang di kafetaria kantor. Bisa dikatakan jika ini adalah momen-momen yang sangat langka terjadi.
“Yeri, akhirnya kau muncul di kafetaria ini. Ayo duduk. Kami sangat bahagia melihatmu di sini.” teriak Yuri heboh sambil menarik tangan Yeri untuk duduk di sebelahnya. Dalam sekejap mereka bertiga sudah menjadi bahan pembicaraan karyawan lain yang sedang menyantap makan siang mereka karena tergangganggu dengan suara Yuri yang cukup nyaring.
“Aku juga merasa bahagia bisa makan siang di sini. Ngomong-ngomong bagaimana kabar kalian? Sudah lama sekali kita tidak pergi bersama dan mengobrol bersama.” ucap Yeri memulai pembicaraan sambil memasukan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Sekilas, ekor matanya tampak menatap Jaebum yang masih terlihat diam di sebelahnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dalam hati Yeri berdoa, semoga saja Jaebum tidak merasa bosan karena ia pasti akan mengabaikan pria itu nantinya.
“Kami baik. Lagipula kami merasa maklum dengan kesibukanmu sekarang. Sejak kau dipromosikan menjadi manager, semua waktu yang kau miliki benar-benar tersita untuk mengerjakan semua pekerjaan rumit itu. Dan tentu saja jika kau memiliki waktu luang, kau pasti akan menghabiskannya dengan kekasihmu yang sangat tampan itu.” goda Yuri sambil tersenyum genit. Taeyeon yang berada di depannya hanya mampu tertawa geli, menertawakan ekspresi wajah Yuri yang sangat aneh dan lucu menurutnya. Namun berbeda dengan Yeri, wanita itu justru tampak murung ketika Yuri harus mengingatkannya pada Oh Sehun yang brengsek itu. Tapi seketika wajah murungnya
hilang ketika Jaebum langsung mengelus punggungnya dengan lembut dan bergumam pelan melalui bibirnya jika semuanya akan baik-baik saja.
“Aku sudah putus dengan Oh Sehun kemarin. Ternyata ia bukan pria yang baik, ia pria yang brengsek.”
Seketika tawa Taeyeon dan Yuri berhenti, digantikan dengan tatapan penyesalan dan rasa bersalah. Yuri yang sejak tadi terus menerus menggoda Yeri langsung menggenggam kedua telapak tangan Yeri erat sambil meminta maaf berkali-kali pada wanita itu. Sungguh ia merasa tidak enak pada Yeri karena telah membuka luka lama itu kembali.
“Maafkan kami, kami tidak tahu jika kau sudah putus dengan Oh Sehun. Sebenarnya ada apa? Apa kau merasa tidak keberatan untuk menceritakannya pada kami?” tanya Yuri dengan wajah simpatik. Yeri hanya tersenyum kecil pada Yuri dan Taeyeon sambil membalas remasan tangan Yuri di tangannya. Dua orang wanita itu terlihat sangat merasa bersalah padanya, padahal iamerasa baik-baik saja setelah putus dari Oh Sehun. Justru ia merasa lega karena ia tidak dihantui rasa cemas setiap kali melihat Oh Sehun pergi dengan sekretarisnya. Apalagi sejak Jaebum berada di sisinya kembali, ia merasa tidak perlu bersedih dengan berlebihan karena Jaebum akan selalu ada untuk menghiburnya.
“Ceritanya panjang. Tapi yang jelas ia adalah pria yang brengsek. Selama ini ia telah bermain-main di belakangku bersama dengan sekretarisnya yang genit itu. Jadi aku memutuskan untuk
mengakhiri semuanya. Aku tidak ingin terbebani oleh hubunganku dengan Oh Sehun. Aku ingin hidupku bebas dari air mata dan rasa sakit. Karena sejujurnya, aku cukup merasa trauma dengan rasa sakit.” ucap Yeri apa adanya. Taeyeon yang berada tepat di samping Yeri langsung memeluk wanita itu hangat dari samping. Sedangkan Yeri tampak tersenyum kecut di depan sahabat-sahabatnya karena ia merasa seperti menjadi wanita malang di sini.
__ADS_1
“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Masih banyak pria-pria tampan di luar sana yang menungguku untuk menjadi kekasihnya, jadi lebih baik kita lupakan semua kesedihan yang terjadi di masa lalu, dan kita buka lembaran baru yang lebih baik. Apa kalian setuju?”
“Setuju! Sekarang lebih baik kita segera habiskan makan siang kita sebelum jam bulat itu berdenting beberapa kali karena waktu makan siang akan segera berakhir.” ucap Taeyeon was-was sambil menatap kearah jam bulat yang menempel di dinding, tepat di depan mereka. Yeri kemudian tersenyum kecil pada Jaebum sambil membisikan kata terimakasih pada pria itu, karena semuanya memang akan baik-baik saja. Selama pria itu berada di sampingnya, maka ia tidak akan merasakan kesakitan apapun dan hanya merasa aman dan juga nyaman.