Kontratransferensi

Kontratransferensi
Forcing Comformity (Thirty)


__ADS_3

           “Dimana Aleyna?”


            Di suatu malam yang cukup dingin, Aaron tiba-tiba datang ke rumah Luciana sambil membawa sebuah bungkusan berisi seporsi burger hangat dan segelas milkshake kesukaan Aleyna. Luciana yang baru saja selesai membereskan meja makan usai makan malam hanya menatap Aaron sekilas sambil menunjuk ruang bermain Aleyna di lantai dua.


            “Ia sedang bermain puzzle di atas, gurunya memberikan satu set puzzle tadi pagi.” jawab Luciana tak bersemangat. Aaron mengangguk mengerti. Pria itu kemudian berjalan menuju lantai dua untuk memberikan oleh-olehnya pada gadis kecil itu. Sebenarnya malam ini ia ingin berbicara serius pada Luciana. Sudah lebih dari satu minggu mereka tidak bertemu dan saling mengobrol seperti dulu. Dan selama lebih dari satu minggu itu, Aaron merasa telah melewatkan banyak hal. Malam ini bahkan Luciana terlihat berbeda. Sepertinya wanita itu telah menyembunyikan banyak masalah darinya. Tapi bukankah Luciana memang selalu memiliki banyak masalah? Pekerjaanya sehari-harinya bahkan selalu berkecimpung dengan masalah. Jadi Aaron terkadang sedikit kesulitan untuk membedakan antara masalah yang benar-benar dirasakan Luciana atau masalah yang dibawa oleh klien-klien wanita itu.


            “Ia mengatakan sudah kenyang, jadi kau masukan saja kedalam kulkas.”


            Aaron meletakan bungkusan yang ia bawa pada Luciana yang sedang melamun sendiri di dalam ruang makan. Terlihat dari wajahnya wanita itu sedang memiliki banyak masalah. Tapi dari gelagat yang ia lihat, Luciana sepertinya belum mau membagi masalahnya dengannya.


            “Letakan saja di sana, nanti aku akan memasukannya kedalam kulkas.”


            “Ada apa denganmu? Ceritakan padaku jika kau memiliki masalah.”


            “Hah? Tidak, ini hanya masalah biasa.” kilah Luciana sambil beranjak berdiri untuk memasukan makanan milik Aleyna dan membuatkan Aaron secangkir teh hangat. Melihat Luciana yang terlihat berkelit, Aaron mencoba untuk bersabar dan mengalihkannya dengan pertanyaan lain yang sejak kemarin ingin ia tanyakan pada wanita itu.


            “Kudengar kau baru saja pulang dari Busan.”


            “Oh, aku memang baru saja pulang dari Busan dua hari yang lalu. Karen pasti yang memberitahumu.” tebak Luciana sambil meletakan secangkir teh hangat di depan Aaron. Pria itu mengangguk ringan pada Luciana, lalu meraih cangkir teh itu dan menyesapnya sedikit.


            “Kenapa kau tidak memintaku untuk menemani Aleyna di rumah? Jika aku tahu kau akan pergi ke Busan, aku pasti akan menginap di sini.”


            “Itu sebenarnya mendadak. Dan aku sama sekali tidak berpikir untuk menitipkan Aleyna padamu karena kau pasti sedang sibuk. Bukankah kau juga baru saja pulang dari luar kota?”


            “Tapi aku pasti akan datang jika kau memiliki urusan penting di luar kota. Lagipula Aleyna juga putriku, lain kali jangan sungkan untuk meminta bantuanku jika kau membutuhkannya.”

__ADS_1


            Luciana terlihat mengangguk kecil sebagai jawaban. Namun kemudian ia kembali terlihat diam dan tak berminat untuk melakukan sebuah percakapan dengan Aaron. Aaron yang melihat itu lantas menggenggam tangan Luciana yang terlipat di atas meja, lalu meremasnya pelan untuk memberikan kenyamanan pada wanita itu.


            “Kudengar dari Karen, kau pergi ke Busan bersama Joey.”


            Mendapatkan pertanyaan seperti itu, refleks Luciana menjauhkan tangannya dari Aaron dan ia merasa tidak nyaman kemudian. Permasalahan mengenai Aleyna beberapa hari ini membuatnya lupa jika ia belum menghubungi pria itu sejak ia menolak menerima panggilan darinya beberapa hari yang lalu. Namun hingga hari ini Joey juga tidak menghubunginya lagi. Pria itu seperti hilang ditelan bumi dan juga tidak menemuinya di kantor untuk melakukan konseling seperti biasanya. Mungkin saat ini Joey telah kembali bersama istrinya. Dan hal itu membuat Luciana merasa sedikit nyeri di hatinya. Ia sejujurnya saat ini ingin memiliki Joey untuk dirinya sendiri. Tapi kemudian akal sehatnya terus berteriak padanya untuk mendorong Joey menjauh dari hidupnya karena semua yang telah ia lakukan bersama pria itu beberapa hari yang lalu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang benar-benar fatal yang nantinya dapat membawa dampak besar bagi hidup mereka.


            “Itu hanya kebetulan. Kami pergi kesana karena ia juga memiliki beberapa urusan di sana, lalu ia menwarkan diri untuk berangkat bersama denganku dan mengambil penerbangan yang sama.


            “Oh, tapi apakah masalahnya dengan istrinya telah selesai?”


            “Itu.... kami sedang mendiskusikannya. Maksudku, saat ini aku sedang menunggu saat yang tepat untuk bertemu dengan istrinya. Karena aku tidak bisa memberikan konseling sepihak padanya jika permasalahannya berkaitan dengan istrinya. Setidaknya walaupun hanya sekali ia harus membawa istrinya ketika sesi konseling berlangsung. Tapi beberapa hari kemarin istrinya sedang melakukan pemotretan di New York, sehingga sesi konseling untuk masalahnya sedikit tidak berjalan mulus.” jawab Luciana lugas, penuh dengan bumbu-bumbu kebohongan. Luciana bahkan merasa sangat takjub dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba mampu mengarang sebuah cerita yang begitu indah dan runtut seperti itu. Mungkin karena ia telah terbiasa melakukan kebohongan sejak beberapa hari yang lalu, untuk membohongi Karen, Jihoo, dan sekarang Aaron, sehingga kemampuan berbohongnya dari hari ke hari semakin terasah dengan sempurna.


            “Tapi hubungan kalian sendiri di luar jam konseling sepertinya juga semakin dekat. Bukankah beberapa kali Lee Joey datang ke rumahmu. Malam itu saat Rein berada di sini, jam berapa ia pulang? Saat itu kau mengatakan akan melakukan konseling dengannya yang sempat tertunda karena kepergiannya ke Itali.”


            “Emm... entahlah, aku lupa. Mungkin pukul setengah dua belas. Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau tertarik pada hubunganku dan Joey? Apa kau pikir aku akan melanggar batas-batas yang telah kutetapkan selama ini?”


            “Aku hanya sekedar bertanya, apa itu tidak boleh? Aku merasa kau dan Joey sudah semakin dekat selama ini.”


            “Bukankah itu wajar, karena aku adalah konselornya.”


            “Baiklah, aku tidak akan membahasnya lagi. Tapi kau harus ingat jika ia telah memiliki istri, jadi sebaiknya kau sedikit mengurangi intensitasnya untuk datang ke rumahmu. Aku takut orang-orang akan salah paham dengan kedekatan kalian.” ucap Aaron mengalah. Pria itu tidak lagi membahas masalah hubungan Luciana dengan Joey setelah melihat Luciana yang ternyata sangat terganggu dengan topik pembicaraan mereka. Bahkan saat ini Luciana langsung memalingkan wajahnya kearah lain dan tidak mau lagi menatap kearahnya seperti sebelumnya.


            “Luci.. maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu. Ini semua kulakukan karena aku peduli padamu. Hanya karena itu, bukan karena aku ingin mencampuri urusanmu ataupun yang lainnya.”


            “Sudahlah Aaron, aku tidak apa-apa. Aku tahu kau memang tidak seperti itu. Sejujurnya saat ini aku sedang memiliki masalah.”

__ADS_1


            Luciana menghembuskan napasnya berat tiba-tiba, kemudian ia menatap sendu kearah permukaan meja marmer di depannya sambil memainkan jari-jari tangannya dengan gugup.


            “Ceritakan padaku, hmm..”


            “Aku... aku takut Aaron. Aku takut kehilangan Aleyna.” ucap Luciana lirih dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Luciana kemudian sedikit mendongakan kepalanya ke atas untuk mencegah air mata itu meluncur keluar dari matanya, tapi hal itu sia-sia saja karena air mata itu justru terjun bebas dari kantong matanya dan mengalir deras menuruni pipinya.


            “Ada apa Luciana? Ceritakan padaku apa yang terjadi selama aku pergi.


            “Aleyna... ia akan dibawa pergi oleh keluarganya. Kemarin ada seorang wanita yang mendatangiku, dan ia mengaku sebagai bibi Aleyna. Wanita itu kemudian mengatakan padaku bahwa ia ingin mengambil Aleyna untuk dibawa ke Amerika, seperti apa yang diminta oleh mendiang kakaknya. Menurut oppa apa yang harus kulakukan? Selama ini aku sudah terbiasa hidup bersama Aleyna. Bahkan aku tidak pernah bisa tenang jika pergi meninggalkan Aleyna terlalu lama. Dan sekarang tiba-tiba Aleyna akan direnggut paksa dariku. Wanita itu akan segera membawa Aleyna pergi dalam waktu dekat ini oppa. Apa yang harus kulakukan?”


            Dengan penuh kelembutan Aaron membawa Luciana kedalam pelukannya dan membiarkan wanita itu menangis di dalam pelukannya untuk sementara. Percuma jika ia menenangkan wanita itu dengan kata-kata jika emosinya sedang tidak stabil. Luciana justru akan berakhir marah atau tersinggung seperti sebelumnya. Jadi untuk saat ini ia hanya akan membiarkan Luciana menumpahkan seluruh kesedihannya di dalam pelukannya, sembari ia memikirkan solusi yang tepat untuk masalah yang sedang dihadapi Luciana.


            “Luciana, jika wanita itu ingin membawa Aleyna, apakah Aleyna akan setuju? Tidak mudah bagi seorang anak kecil untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, apalagi dengan orang-orang yang tidak ia kenal sebelumnya. Kau bisa memberikan alasan itu pada mereka jika mereka akan membawa Aleyna nanti.”


            “Masalahnya, wanita itu adalah guru Aleyna di sekolahnya. Selama ini Aleyna sangat dekat dengan guru itu. Bahkan sejak guru itu mengetahui status Aleyna yang sesungguhnya, ia menjadi sering mengajak Aleyna jalan-jalan. Sore inipun mereka baru saja pulang dari taman bermain, dan Aleyna mendapatkan puzzle baru dari gurunya itu.”


           “Tapi kau tetaplah ibu yang dikenal Aleyna. Ia tidak mungkin akan melupakanmu begitu saja setelah bertahun-tahun hidup bersamamu.”


            “Entahlah, aku tidak tahu. Namun Aleyna sering menanyakan mengenai neneknya, dan tadi aku sempat bertanya padanya, apakah ia ingin bertemu dengan neneknya. Dengan antusias ia mengatakan ya, dan ia tidak keberatan jika harus pergi jauh meninggalkanku untuk bertemu dengan neneknya. Jadi menurutmu aku harus bagaimana? Aleyna bahkan sangat antusias ketika aku memberitahunya mengenai neneknya. Terlebih lagi ia telah mengenal bibinya dengan sangat baik, tidak ada alasan bagiku untuk menahanya terus bersamaku.” ucap Luciana penuh emosi. Air mata lagi-lagi keluar dari kedua mata Luciana, dan kali ini alirannya lebih deras dari sebelumnya hingga ia terlihat tersengguk-sengguk di depan Aaron. Pria itu kemudian membimbing wanita yang pernah menjadi istrinya itu kedalam pelukannya dan mengelus surai coklat Luciana dengan penuh kelembutan. Ia tahu, perasaan Luciana pasti saat ini sedang kacau. Terbiasa hidup dengan Aleyna selama bertahun-tahun, terlebih wanita itu selama ini telah banyak berkorban untuk kebahagiaan gadis kecil itu, membuat Luciana tidak akan bisa melepaskan gadis kecil itu untuk kembali bersama keluarga kandungnya. Namun Aleyna memiliki hak untuk mengetahui siapa orangtuanya, siapa keluarga kandungnya, dan dari mana ia berasal. Jadi Aaron mungkin akan mencoba mencarikan jalan tengah yang terbaik bagi Aleyna dan Luciana agar keduanya sama-sama tidak dirugikan.


            “Luciana, bagaimana jika kita bicara pada bibi Aleyna terkait masalah ini? Kita membuat kesepakatan bersamanya mengenai hak asuh Aleyna. Menurutku wanita itu tidak bisa membawa Aleyna begitu saja dengan kau yang memegang seluruh hak asuh atas Aleyna. Bukankah kau memiliki surat-suratnya, jadi ia tidak bisa membawa Aleyna pergi begitu saja darimu.”


            “Sebenarnya Jessica, tidak sepenuhnya ingin mengambil Aleyna. Ia hanya meminta ijin padaku untuk membawa Aleyna ke Amerika dan bertemu dengan neneknya yang sudah lama sangat ingin bertemu dengan cucunya. Jessica mengatakan padaku, bahwa ia akan mengembalikan Aleyna setelah ibunya puas bertemu dengan cucunya. Tapi aku tetap saja merasa takut, Jessica bisa saja ingkar dan membawa pergi Aleyna selamanya dari hidupku.” ucap Luciana frustrasi. Aaron mengelus pundak Luciana pelan dan sedikit menganggukan kepalanya kearah Luciana.


            “Aku mengerti kau sangat takut kehilangan Aleyna, jadi kau terus mencemaskannya sepanjang waktu. Jadi kapan bibinya akan membawa Aleyna ke Amerika?”

__ADS_1


            “Lusa. Tapi entahlah, aku juga tidak tahu karena Jessica mengatakan itu belum pasti. Ia bisa saja membawa Aleyna ke Amerika minggu depan, atau besok mungkin.” ucap Luciana lirih di akhir kalimat. Wanita itu kemudian kembali meneteskan air matanya sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja. Saat ini pikirannya benar-benar sagat kacau. Ia sepertinya bingung dengan  masalahnya sendiri. Kepergian Aleyna ke Amerika bukanlah satu-satunya masalah yang sedang ia hadapi. Sejujurnya saat ini hatinya sedang resah. Ia merindukan Joey dan ingin sekali bertemu dengan pria itu. Sayangnya ia terlah berjanji pada dirinya sendiri jika perlahan-lahan ia akan mendorong Joey menjauh darinya untuk kembali bersama Jihyun. Lagipulaia tidak mau dituduh menjadi wanita perusak hubungan rumah tangga kliennya, meskipun hal itu telah terjadi. Jadi selagi ia masih memiliki waktu, ia akan berusaha untuk memperbaiki kesalahannya sekarang.


__ADS_2