
Tokk
tokk
Yuna mengetuk pelan pintu kayu bernomor tiga kosong tujuh yang berdiri menjulang di depannya. Sambil mendekap map berisi rekam medik pasiennya, ia membuka pintu itu perlahan dan segera masuk sambil tersenyum kecil kearah sang pasien yang sedang menatap lurus kearah jendela.
“Selamat pagi...”
Yuna memulai kunjungan pertamanya ke ruangan pasien baru itu dengan sapaan hangat dan juga ramah. Namun sedikitpun sapaannya tak dibalas oleh sang pasien yang sejak tadi terus menatap kosong kearah jendela. Seperti ada sesuatu yang lebih menarik di sana daripada menyambut sapaan dokter cantik yang pagi ini akan melakukan pemeriksaan psikis padanya.
“Halo, saya adalah dokter yang akan memeriksa kondisi anda pagi ini, bisa kita melakukannya sekarang?”
Yuna sengaja berjalan kearah kiri untuk berdiri langsung di depan pasiennya. Sejak tadi pasien itu tidak sedikitpun menoleh kearahnya, hingga ia harus lebih banyak mengalah dengan berdiri di sisi kanan ranjang dan menghadap langsung kearah pasien.
“Tuan Kim Yunho, apa anda mendengarkan saya?”
“Ya, aku mendengarnya.”
Akhirnya pria itu membuka suaranya dan mau mengalihkan tatapannya dari pemandangan di luar jendela yang tampak monoton. Sambil tersenyum hangat, Yuna mulai mengambil kursi dan memposisikan dirinya berada di depan Yunho yang saat ini sedang bersandar pada kepala ranjang.
“Tuan Kim, hari ini saya akan memeriksa kondisi anda. Apa anda ingat kenapa saat ini anda berada di rumah sakit?”
“Aku memotong nadiku.” ucap pria itu datar sambil mengangkat tangannya yang masih diperban dengan rapat. Yuna mengangguk mengerti, kemudian ia segera menuliskannya di dalam kertas rekam medik yang dibawanya.
“Kenapa anda memotong nadi anda?”
“Karena aku bosan mendengar suara berisiknya.”
“Siapa? Kekasih anda?”
“Bukan. Seorang anak kecil yang selalu menghantuiku selama bertahun-tahun.” jawab Yunho datar. Pria itu tiba-tiba menoleh kearah Yuna, lalu menatap wajah Yuna sambil mengamati gerak gerik Yuna yang sedang menuliskan informasi penting ke dalam lembaran kertas di pangkuannya. Dan saat Yuna mendongak, tatapan mata mereka bertemu. Yuna balas menatap manik coklat itu intens sambil menyunggingkan senyum manisnya yang menenangkan. Namun hal itu tak bertahan lama karena beberapa detik kemudian Yunho langsung menolehkan kepalanya kearah lain untuk menghindari kontak mata dengan dokter cantik di depannya.
“Kau seorang psikiater?”
“Ya, aku seorang psikiater. Hasil pemeriksaan anda tiga hari yang lalu menunjukan bahwa, anda terindikasi mengalami gangguan psikis. Apa sebelumnya anda pernah memiliki masalah yang menyebabkan anda merasa tertekan?”
Hening cukup lama. Yunho terlihat belum mau menceritakan apa yang terjadi padanya. Namun Yuna tetap menunggu dengan sabar sambil menatap pria itu intens dengan mata bulatnya. Dan akhirnya setelah keheningan panjang itu, Yunho memutuskan untuk berkata jujur pada Yuna, terkait masa lalunya yang membuatnya mengalami gangguan.
“Akhir-akhir ini aku merasa stress, kekasihku terus menekanku untuk menikahinya, tapi aku tidak mau.”
“Apakah anda belum siap untuk membangun hubungan rumah tangga bersama kekasih anda?”
“Aku tidak mencintainya. Aku menjadikannya kekasihku karena aku bosan mendengar suara rengekannya satu tahun yang lalu.” jawab Yunho sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
Yuna melihat Yunho yang sebenarnya sedikit tidak nyaman untuk menceritakan hal itu padanya. Namun ada hal lain yang sepertinya mengganggu Yunho. Diluar masalah mengenai kekasihnya, Yuna yakin jika pria itu memiliki masalah yang lebih pelik karena gangguan ilusi yang dialami pria itu berwujud seorang anak kecil. Mungkin pria itu pernah melakukan sesuatu di masa lalu yang berhubungan dengan anak kecil. Perlahan-lahan ia akan segera mengorek informasi itu dari Yunho.
“Apa kau ingat siapa nama kekasihmu?”
“Bae Irenne... Ia adalah adik kelasku saat senior high school. Dulu ia memang selalu berusaha menarik perhatianku, tapi aku tidak pernah berminat. Dan satu tahun yang lalu aku dipertemukan lagi dengannya ketika aku sedang bekerja, ia adalah model di majalah tempatku bekerja.”
“Jadi anda bekerja sebagai fotografer?”
“Ya, aku seorang fotografer. Dokter Kim, bisakah kau menggunakan bahasa informal? Aku tidak nyaman.” pinta Yunho. Yuna menganggukan kepalanya mengerti, dan ia pun mulai mengubah aksen bicaranya menjadi lebih santai, seperti sedang mengobrol dengan teman lama.
“Baiklah. Apa aku boleh tahu dimana keluargamu saat ini? Sejak kemarin beberapa suster menanyakan dimana keluargamu, dan kekasihmu sampai saat ini juga belum datang, padahal ia yang membawamu ke sini.”
Yunho terdiam cukup lama dan tak kunjung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Yuna. Pria itu justru kembali bersikap lebih acuh dengan memutar tubuhnya ke kanan, membelakangi Yuna.
“Aku ingin istirahat, bisakah kau keluar dokter Kim?”
Yuna menggigit bibirnya kecil, lantas menganggukan kepalanya mengerti. Mengorek informasi pribadi dari seorang pasien memang tidaklah mudah. Terlebih lagi jika pasien itu memiliki trauma di masa lalu yang sulit untuk diungkapkan. Mungkin ia harus melakukan pendekatan secara perlahan agar Kim Yunho mau terbuka padanya dan bersedia menceritakan sumber masalahnya sebelum pria itu memutuskan untuk bunuh diri.
“Baiklah aku akan keluar, selamat beristirahat, tuan Kim.”
Yuna berjalan perlahan keluar dari ruang rawat Yunho dan menutup pintu itu dengan pelan, nyaris tak bersuara agar tidak mengusik ketenangan Yunho. Pertemuan singkatnya hari ini dengan Yunho membuatnya yakin jika pria itu memang memiliki masalah serius yang membuatnya mengalami gangguan psikis. Sayangnya ia belum bisa menyimpulkan jenis masalah apa yang sedang disembunyikan oleh pria itu, karena Kim Yunho masih memasang tameng yang cukup besar di sekitarnya.
“Permisi, apa kau dokter Kim Yuna?”
“Aku Lee Hyukjae, sepupu dari Kim Yunho.”
“Oh... kau salah satu anggota keluarga tuan Kim, kebetulan sekali.” ucap Yuna senang. Ia menjabat tangan Hyukjae dengan semangat dan segera mengajak pria itu untuk membicarakan masalah Yunho di ruangannya.
“Sejak tiga hari ini aku selalu bertanya-tanya dimana keberadaan keluarga tuan Kim, dan syukurlah akhirnya kau muncul.”
Yuna mengajak Hyukjae mengobrol santai sembari berjalan menuju ruangannya. Merasa jika usia mereka tidak terpaut jauh, Yuna sengaja menggunakan bahasa informal untuk mengajak pria itu mengobrol santai membicarakan masalah Yunho. Ia benar-benar perlu banyak informasi dari Hyukjae agar ia bisa membantu Yunho keluar dari masalahnya yang pelik.
“Aku sebenarnya baru saja kembali dari Swiss untuk melakukan beberapa pekerjaan di sana, lalu pagi ini aku mendapatkan informasi dari asisten pribadiku jika Yunho dirawat di rumah sakit karena percobaan bunuh diri, apa itu benar?”
“Dari apa yang kudengar, sepertinya memang seperti itu. Terlebih lagi tuan Kim juga mengakuinya saat aku melakukan visit pagi ini, ia mengatakan jika ia baru saja mengiris pergelangan tangannya.”
Desahan napas berat langsung terdengar dari mulut Hyukjae begitu Yuna menyelesaikan kalimat panjangnya terkait Yunho. Sejak dulu sepupunya itu memang aneh. Itulah yang selama ini tertanam di otak Hyukjae hingga ia jarang menjenguk sepupunya yang memilih tinggal di apartemen daripada di rumah utama yang diwariskan padanya. Terkadang ia meminta asisten rumah tangga Yunho untuk melaporkan kondisi Yunho padanya. Namun tetap saja itu tidak membantunya untuk mengetahui bagaimana kondisi Yunho yang sebenarnya. Terlalu banyak misteri yang disimpan oleh Yunho hingga ia sulit untuk mengungkapnya satu per satu.
“Silahkan masuk tuan Hyukjae.”
Yuna mempersilahkan Hyukjae masuk ke dalam ruangannya yang rapi dan segera menutup pintu kayu di depannya rapat. Setelah itu ia mulai bersiap untuk duduk di atas singgasanannya yang nyaman sambil memberikan senyuman ramah pada Hyukjae.
“Tuan Hyukjae, sebelumnya aku ingin bertanya, apa kau mengenal Bae Irenne?”
__ADS_1
“Entahlah, aku hanya sekedar tahu jika wanita itu adalah kekasih Yunho. Memangnya ada apa dokter Kim?”
“Tidak, aku hanya ingin memastikan jika tuan Yunho benar-benar menjawab pertanyaanku dengan jujur. Tapi jika wanita itu kekasihnya, kenapa ia tidak datang menjenguk sejak tiga hari yang lalu, padahal wanita itu yang membawa tuan Yunho ke rumah sakit saat kondisinya kritis.”
Hyukjae mengernyitkan dahinya bingung, lalu ia menggelengkan kepalanya pelan, tanda ia tidak tahu. Sejujurnya ia merasa jika sebutan sepupu diantara mereka hanyalah status belaka karena nyatanya mereka tidak pernah saling menyapa satu sama lain. Lee Hyukjae lebih suka menyibukan diri dengan berbagai macam pekerjaan yang dilimpahkan Yunho padanya. Semua hal yang ia dapatkan saat ini adalah milik Yunho. Pekerjaan, harta, rumah, dan seluruh kemewahan yang ia miliki adalah milik Yunho. Sayangnya sepupunya itu menolak semua tanggungjawab itu dan memilih untuk hidup liar sebagai seorang fotografer, sehingga ia yang pada akhirnya mengambil alih semua tanggungjawab itu.
“Sejak dulu Yunho selalu menyimpan banyak rahasia dari kami semua.”
“Apa tuan Yunho adalah orang yang pendiam?”
“Emm... tidak juga. Menurutku Yunho adalah orang yang hangat dan penuh perhatian. Tapi perlahan-lahan ia berubah menjadi pribadi yang tertutup ketika berusia tujuh belas tahun.”
“Apa yang terjadi pada tuan Yunho ketika berusia tujuh belas tahun?” tanya Yuna ingin tahu. Saat ini ia berharap Hyukjae dapat sedikit memberinya clue agar ia bisa mengambil tindakan untuk menangani Yunho. Ia merasa penanganan Yunho di rumah sakit ini sangat terlambat karena tidak ada satu orangpun yang mengetahui latar belakang Yunho. Kebanyakan perawat hanya sebatas mengenal Yunho sebagai pewaris dari Sheen Group yang selama ini selalu dibicarakan oleh media. Namun lebih dari itu, tidak ada yang mengetahui bagaimana kehidupan Yunho selama ini.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya saat itu. Namun aku pernah melihatnya pulang larut malam dalam keadaan basah kuyup dan kacau. Seragam sekolahnya dipenuhi lumpur dan ada sedikit noda merah di sisi kemejanya. Sejak saat itu, sikap Yunho perlahan-lahan berubah. Ibu Yunho juga tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan setiap kali aku menanyakan kondisi Yunho padanya. Ibu Yunho atau bibiku, justru terlihat berputar-putar saat menceritakan tentang kondisi Yunho. Dan setelah itu aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi karena aku malas mendengar jawaban bibiku yang selalu melenceng dari konteks pembicaraan.”
“Lalu dimana ibunya sekarang? Kenapa ia tidak datang untuk menjenguk anaknya?”
“Ibunya pergi ke China dan memutuskan untuk tinggal di sana setelah ia bercerai dengan suaminya bertahun-tahun yang lalu. Mungkin saat ibunya pergi ke China, Yunho berusia sekitar sembilan belas tahun.”
“Lalu bagaimana dengan kehidupan tuan Kim selanjutnya setelah kedua orangtuanya berpisah?”
Hyukjae menatap sayu Yuna dan menggelengkan kepalanya pelan kearah wanita itu. Kehidupan Yunho di masa lalu pasca perceraian orangtuanya terdengar begitu menyedihkan untuk diceritakan karena Yunho benar-benar menjadi pribadi yang berbeda setelah kedua orangtuanya bercerai. Namun beruntungnya pria itu masih menjadi ahli waris ayahnya karena ayahnya hanya memiliki satu anak laki-laki, yaitu dirinya. Sedangkan bersama istri barunya, pria itu tidak memiliki keturunan.
“Ia hancur, ia menjadi Kim Yunho yang liar semenjak ibunya tinggal di China. Selama ini ia memang selalu dekat dengan ibunya, sedangkan dengan sang ayah ia tidak terlalu dekat. Dan setelah kedua orangtuanya bercerai, ayahnya langsung melimpahkan seluruh tanggungjawab perusahaan padanya. Namun ia langsung menolak semua pemberian ayahnya dan memilih untuk bekerja sebagai fotografer, sesuai dengan bidang yang disukainya..” Hyukjae berhenti sejenak untuk berpikir. Perlu sedikit waktu untuk mengingat kembali bagaimana sikap sepupunya di masa lalu.
“Tapi sebelum menjadi seorang fotografer, Yunho sempat menggantikan ayahnya sebagai CEO ketika berusia delapan belas tahun. Sebenarnya Yunho adalah pria yang cerdas karena di usianya yang sangat muda, ia mampu membawa perusahaannya ayahnya menjadi lebih maju. Namun satu tahun kemudian ia memilih untuk mengundurkan diri sebagai CEO dengan alasan yang tidak jelas. Menurut asistennya, sebelum Yunho memutuskan untuk mengundurkan diri, ia berkali-kali terlihat melamun di dalam ruang kerjanya sambil menatap ketakutan pada sesuatu yang.... tak kasat mata. Yunho seolah-olah sedang melihat hantu dan terkadang pria itu bergumam sendiri pada udara kosong. Beberapa kali asisten Yunho sempat menanyakan keadaanya dan menyarankan untuk pergi ke dokter jika memang ia merasa tidak enak badan, namun Yunho selalu diam dan hanya mengacuhkan nasihat
itu dengan wajah datar. Kira-kira apa yang sebenarnya terjadi pada Yunho, kenapa dari hari ke hari ia semakin aneh?” Hyukjae benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya lebih lama lagi. Bertahun-tahun mengenal Yunho dan melihat keanehan yang terjadi pada pria itu membuat Hyukjae merasa jika Yunho memang tidak baik-baik saja pasca perceraian kedua orangtuanya.
“Aku sebenarnya tidak yakin, dan ini hanya dugaan sementaraku.” Yuna terlihat begitu berat untuk memberitahu hasil analisisnya pada Hyukjae. Tapi melihat keingintahuan Hyukjae yang begitu besar, membuat Yuna pada akhirnya memberitahu pria itu jika Yunho kemungkinan sedang mengalami gangguan jiwa.
“Skizofrenia, itu semacam penyakit kejiwaan yang membuat seseorang melihat adanya sosok-sosok mengganggu yang tak kasat mata. Mungkin selama ini tuan Yunho mampu bertahan dengan semua ilusi itu, tapi jika tidak diobati, semakin lama ilusi itu akan menggiring tuan Yunho menjadi pribadi yang aneh di mata orang-orang. Bukankah selama ini ia sering terlihat berbicara sendiri pada udara kosong? Mungkin sebenarnya ia sedang
berbicara dengan ilusinya yang tak bisa kita lihat. Dan tadi ia sempat mengatakan padaku jika ia risih mendengar suara anak kecil yang selama ini terus mengganggunya. Kemungkinan besar bentuk dari ilusi yang dilihat oleh tuan Yunho berwujud seorang anak kecil.”
“Maksudmu sepupuku gila?” tanya Hyukjae tak terima dengan suara nyaring yang begitu mengganggu. Namun Yuna tetap mencoba tenang dengan memberikan senyuman memaklumi sambil mengambil sebuah brosur yang tertata rapi di atas mejanya.
“Saat ini kondisi seperti itu sudah bisa disembuhkan, salah satunya menggunakan obat-obatan seperti ini. Jadi kau tidak perlu khawatir. Tapi aku mohon kerjasamamu, tuan Lee, untuk mencaritahu penyebab tuan Yunho menjadi seperti ini. Kemungkinan besar tuan Yunho belum bersedia untuk berkata jujur mengenai masa lalunya, jadi saya minta anda untuk mencaritahunya melalui ibunya.” mohon Yuna penuh harap.
“Baiklah, aka kuusahakan. Tolong beritahu aku bagaimana perkembangan kondisinya.”
Hyukjae menyerahkan selembar kartu nama berwarna hitam kearah Yuna yang langsung diterima Yuna dengan anggukan pelan.
__ADS_1