Kontratransferensi

Kontratransferensi
Scared To Be Lonely (Seventeen)


__ADS_3

            Joey tersenyum puas sambil memasukan ponselnya kedalam saku celananya. Ia yakin saat ini Luciana pasti sedang mengumpatinya karena ia tiba-tiba memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Tapi ia memang ingin menggoda Luciana karena Luciana akan terlihat lebih menggemaskan jika sedang mengomel.


            “Ada apa? Kau sepertinya sangat senang.”


            Joey menoleh cepat kebelakang dan langsung bertatapan dengan Spencer yang sedang menatapnya aneh.


            “Bukan apa-apa. Urus saja urusanmu sendiri.” jawab Joey datar dan segera berjalan pergi meninggalkan Spencer. Pria itu sengaja menulikan telinganya dari suara Spencer yang terus menerus berteriak di belakangnya dengan berisik. Ia tidak ada waktu untuk menjawab setiap pertanyaan Spencer yang pada akhirnya pasti akan berakhir lama seperti tadi pagi.


Drtt drtt


            Tiba-tiba ponsel putih di saku kiri Joey bergetar. Dengan malas Joey segera mengambil benda persegi itu dan segera menempelkannya pada telinga kiri sembari berjalan menyusuri lobi kantornya yang cukup padat di jam makan siang.


            “Sayang!”


            Joey refleks menjauhkan ponselnya dari telinganya ketika suara nyaring Jihyun langsung terdengar heboh di ujung teleponnya. Pria bermarga Lee itu kemudian menempelkan ponselnya kembali pada telinganya setelah dirasa Jihyun tidak akan bersikap bar-bar dengan berteriak-teriak melalui teleponnya.


            “Sayang, kau membuat telingaku hampir tuli.”


            “Joey, kenapa semalam kau tidak pulang? Aku mengkhawatirkanmu.” ucap Jihyun manja dan


kekanakanakan. Mendengar itu Joey langsung mendengus dalam hati karena jika wanita itu benar-benar mengkhawatirkannya, seharusnya ia tidak pergi begitu saja dan hanya meninggalkan tiga buah pesan di ponselnya. Istri macam apa yang tega meninggalkan suaminya yang tidak jelas dimana keberadaanya tanpa benar-benar memastikan keberadaan suaminya terlebihdahulu. Untung saja Joey bukan tipe pria liar yang gemar menyinggahi wanita-wanita di bar. Jika ya, maka Jihyun akan benar-benar menyesal karena telah menjadi seorang istri yang tidak pernah peduli pada suaminya. Tapi untuk saat ini Jihyun memang aman, posisinya sebagai nyonya Lee belum tergeser. Namun ia tidak bisa memprediksi masa depan. Karena Joey masihlah pria normal yang bisa kapan saja berpindah haluan pada wanita lain yang mampu membuat hatinya nyaman.


            “Aku pulang ke apartemen setelah lembur.” bohong Joey lancar. Sejak tadi pagi ia telah mempersiapkan kebohongan itu di dalam kepalanya untuk mengantisipasi jika Jihyun menghubunginya dan menanyakan dimana keberadaanya semalam.


            “Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?”


            “Aku lembur, ponselku tertinggal di meja kerja.” bohong Joey lagi. Mulai saat ini Joey benar-benar akan menjadi Joey yang berbeda. Ia akan lebih sering menjadi sosok pembohong yang akan terus mengarang cerita untuk Jihyun.


            “Lain kali jangan membuatku khawatir. Apa oppa sudah makan siang?”


            “Aku baru saja akan pergi ke restoran jepang.” Jawab Joey sambil memasang hands free di telinganya sembari mengarahkan kemudi mobilnya keluar dari area parkir kantornya.


            “Oh syukurlah, jangan sampai kau sakit karena terlambat makan. Apa kau akan pergi sendiri?”


            “Tidak, aku akan makan bersama relasi bisnisku.” bohong Joey lagi. Tapi jika dipikir-pikir Luciana memang salah satu relasi bisnisnya. Namun dalam konteks lain.


            “Baiklah, kalau begitu aku akan menutup teleponnya sekarang. Hari ini aku memiliki jadwal pemotretan di sebuah pantai yang cukup indah di New York. Nanti aku akan mengirimkan hasil fotonya padamu. Sampai jumpa, aku mencintai Joey.”


Klik


            Joey melepas hands freenya dan melirik ponsel putihnya sekilas yang berada di atas dashboard mobilnya. Ternyata melakukan kebohongan pada Jihyun cukup menyenangkan. Ia merasa sangat puas karena ia berhasil menipu wanita itu dan sedikit membalaskan rasa sakitnya karena kerap kali ditinggalkan untuk melakukan pemotretan di negara lain.


            “Maafkan kau sayang, tapi.. kau yang memulainya terlebihdulu.” gumam Joey datar pada diri sendiri sambil mengarahkan kemudinya pada sebuah halaman parkir restoran jepan di depannya. Secara bersamaan mobilnya dan mobil Luciana masuk kedalam area parkir itu dan membuat Joey tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis.


            “Luciana.” panggil Joey sedikit keras. Aleyna yang melihat Joey sedang melambai-lambaikan tangan kearahnya lantas berlari menghampiri Joey dan meninggalkan ibunya begitu saja yang masih sibuk mengunci pintu mobilnya.


            “Aleyna, astaga!” keluh Luciana sebal ketika melihat Aleyna sudah berada di dalam gendongan Joey. Gadis kecil itu lalu terlihat bersenda gurau dengan Joey sambil menertawakan sesuatu yang tidak diketahui Luciana. Namun saat melihat keakraban Aleyna dengan Joey membuat Luciana sedikit cemburu. Ia sekarang diabaikan oleh Aleyna yang menjadi sibuk mengobrol bersama Joey.


            “Hai, kenapa wajahmu terlihat lebih kusut?” tanya Joey ringan sambil bermain-main bersama Aleyna. Luciana tanpa sadar menekan-nekan pipinya sendiri dan sibuk bercermin pada cermin besar yang terpasang di depan pintu masuk restoran.


            “Mungkin aku hanya lelah.” jawab Luciana apa adanya. Mereka bertiga lantas memesan sebuah tempat vvip yang lebih tertutup agar acara makan siang mereka terbebas dari pihak-pihak lain yang tidak diinginkan.


            “Bagaimana dengan istrimu? Aku khawatir ia akan salah paham karena semalam kau tidak pulang.”


            “Ia baik-baik saja, bahkan sekarang ia telah berada di New York untuk melakukan pemotretan.” jawab Joey santai. Luciana mengangguk-anggukan kepalanya kecil dan mulai mengeluarkan ponselnya untuk membalas pesan-pesan dari kliennya.


            “Paman, apa Aleyna cantik?” tanya Aleyna genit sambil mengedip-ngedipkan matanya. Joey tertawa terbahak-bahak melihat tingkah menggemaskan Aleyna dan ia tidak bisa menahan diri untuk mencubit pipi Aleyna kemudian.


            “Sangat cantik. Bahkan eommamu kalah cantik darimu.” ejek Joey sambil melirik Luciana. Namun sang objek lirikan tampak tak peduli dan hanya sibuk dengan ponsel pintarnya.


            “Ck, simpan ponselmu saat kita sedang makan.”


            “Tapi makanan kita belum datang. Aku perlu membalas pesan-pesan dari klienku. Beberapa dari mereka memintaku untuk mengatur ulang jadwal mereka untuk pertemuan selanjutnya.”


            “Lalu bagaimana denganku? Ingat, kau masihlah konselorku.”


            “Aku sudah menyiapkan waktu khusus untukmu. Kau tidak perlu khawatir.”


            Kemudian Luciana kembali menekuni ponselnya dan membiarkan Joey bersenda gurau bersama Aleyna. Saat ini ia memiliki lebih dari belasan pesan penting dan satu pesan dari Rein yang memintanya untuk bertemu. Entah darimana pria itu berhasil mendapatkan nomornya, tapi sangat mungkin jika pria itu memilikinya karena ia membagikan nomor ponselnya pada banyak orang yang jumlahnya tak terhitung.


            Ayo kita bertemu, aku ingin membicarakan masalah Aleyna.


             Luciana mengernyit dan tampak aneh dengan isi pesan itu. Untuk apa Rein meminta bertemu dan untuk membahas masalah Aleyna? Pikir Luciana sangsi. Jelas-jelas pria itu tak ada hubungannya dengan Aleyna. Rein baru beberapa kali bertemu dengan Aleyna, jadi tidak mungkin pria itu memiliki topik bahasan khusus yang berkaitan dengan Aleyna. Atau mungkin pria itu ingin mengorek masa lalu Aleyna? Ck, Luciana rasanya muak pada orang-orang yang selalu ingin tahu mengenai kehidupannya dan Aleyna. Mereka semua pasti hanya akan menghakiminya atau akan menuduhnya sebagai wanita tidak benar, yang tiba-tiba bisa memunculkan anak setelah bercerai dari Rein.


            “Ada apa denganmu?”


            “Tidak apa-apa.” ucap Luciana berkilah. Ia segera meletakan ponselnya di atas meja dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun padanya.


            “Aku tahu kau berbohong. Ceritakan padaku, bukankah kita teman?”


            “Ck, itu hanya permintaan sepihakmu. Aku tidak pernah setuju untuk menjadi temanmu. Tapi, mungkin sebaiknya aku menceritakan ini padamu karena aku tidak akan mungkin menceritakannya pada Aaron. Ia pasti tidak akan suka bila mendengarnya.”


            “Jadi? Ada apa?” tanya Joey tidak sabar.


            “Rein menghubungiku, ia memintaku bertemu untuk membicarakan masalah Aleyna.”


            “Lalu apa masalahnya?”


            “Tentu saja itu adalah masalah. Untuk apa tiba-tiba Rein meminta bertemu untuk membicarakan masalah Aleyna. Pria itu tdak memiliki hubungan apapun dengan Aleyna. Aku malas jika pada akhirnya ia hanya ingin menghakimiku, menganggapku sebagai jalang yang tiba-tiba memiliki Aleyna setelah perceraian kami. Setidaknya dulu beberapa artikel pernah membahasnya, dan aku takut pria itu telah terpengaruh oleh artikel lama.”

__ADS_1


            “Sepertinya ia masih memiliki perasaan untukmu. Kau lihat bagaimana gelagatnya? Setelah aku menyudutkanmu di toilet, tatapannya padaku menjadi lebih tajam. Sepanjang pesta berlangsung, ia terus menatapku dengan sorot mata tajam yang menusuk, seolah-olah ia sedang marah padaku.”


            Luciana tersenyum getir menanggapi ucapan Joey dan memilih untuk tidak membahasnya lebih lanjut. Benar atau tidak, tapi ia juga merasakan hal itu. Ia merasa Rein masih memiliki rasa untuknya. Tapi ia tidak mau menjadi seorang pengganggu di tengah-tengah kehidupan pria itu karena ia tidak ingin kesalahan yang sama terulang kembali. Sudah cukup hanya dirinya yang tersakiti di masa lalu. Ia tidak ingin ada wanita lain yang juga merasakan apa yang pernah ia rasakan di masa lalu. Karena sejujurnya hal itu memang sangat menyakitkan.


-00-


            Di dalam ruangan yang gelap itu Joey termenung sendiri sambil menatap kosong pada jendela besar di kamarnya yang sunyi. Lagi-lagi ia merasakan kesunyian yang sama. Semenjak Jihyun memulai perdebatan dengannya dan memutuskan untuk berkarir, ia sering merasa terabaikan. Perasaanya seolah-olah seperti mengejeknya. Mencacinya dengan kata-kata kasar yang mengatakan jika ia adalah pria tolol yang hanya bisa dimanfaatkan oleh istrinya. Ia selalu merasa begitu lemah dan tak berdaya bila Jihyun telah berkhendak untuk dirinya sendiri.


Takk


            Joey meletakan kasar gelas winenya dan segera bangkit berdiri sambil menyambar mantel yang tersampir di sofa ruang kerjanya. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak boleh hanya diam dan bertopang dagu hingga keadaan tiba-tiba berubah dengan sendirinya. Ia yang harus melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan itu.


            “Halo?”


            Joey menghubungi nomor ponsel Jihyun sambil mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumahnya yang luas. Pria itu samar-samar mendengar suara berisik teriakan orang-orang dan suara musik menghentak yang hampir menulikan telinganya. Namun, saat ia hampir menutup sambungan teleponnya untuk menghubungi Jihyun lagi nanti, suara bass seorang pria tiba-tiba menghentikan pergerakan ibu jarinya untuk menekan tombol merah pada layar ponselnya.


            “Halo?”


            “Bukankah ini ponsel milik Jihyun?” tanya Joey mengernyitkan dahinya. Pria di seberang sana tampak berdeham sejenak lalu mulai menjawab pertanyaan yang dilontarkan Joey.


            “Benar, ini ponsel milik Jihyun. Saat ini Jihyun sedang berpesta bersama teman-temannya di lantai dansa.”


            “Lalu kau siapa?”


            “Aku? Aku hanya kenalannya.” jawab pria itu singkat. Joey langsung mematikan sambungan teleponnya dan melempar asal ponsel putihnya kebelakang dengan geraman tertahan di tenggorokannya. Niat awal menghubungi Jihyun malam ini untuk meyakinkan hatinya jika ia tidak benar-benar merasa ditinggalkan oleh


Jihyun. Ia hanya ingin membuktikan jika itu hanya ketakutannya belaka. Tapi setelah apa yang ia dengar beberapa menit yang lalu, semuanya menjadi jelas. Ia sebenarnya mulai ditinggalkan oleh Jihyun perlahan-lahan. Wanita itu semakin lama akan semakin bergerak menjauh dari hidupnya, dan kemudian membuatnya hanya berdiri sendiri di tengah kesendirian hidupnya yang sunyi.


-00-


Ting Tong! Ting Tong!


            Joey


menekan bel pintu rumah itu dengan tidak sabar sambil mengusap wajahnya kasar. Ia sepertinya sedikit mabuk malam ini setelah meneguk beberapa gelas wine. Tapi ia masih bisa menyadari dimana keberadaanya sekarang dan apa tujuannya datang ke tempat ini. Ia ingin mengobati perasaan kesepiannya yang mengerikan ini, lalu menggantinya dengan perasaan tenang yang menentramkan.


            “Joey? Apa kau gila! Ini pukul dua belas malam, dan kau....”


Grep


            Joey langsung memeluk tubuh konselornya yang mungil hingga menyebabkan Luciana hampir terjengkang ke belakang. Beruntung wanita itu sempat berpegangan pada pinggiran pintu, sehingga ia mampu menahan beban tubuh Joey yang cukup berat di depannya.


            “Kau mabuk?” tanya Luciana bingung sambil mencoba mendorong tubuh Joey menjauh darinya. Namun Joey terus mengeratkan pelukannya hingga akhirnya Luciana memilih menyerah dan membiarkan Joey tetap berada dalam posisi seperti itu untuk beberapa saat.


            “Luciana, aku tidak mau ditinggalkan. Aku takut merasa kesepian dan sendiri.”


            “Ada apa denganmu? Bagaimana jika kita membicarakannya di dalam, tidak enak jika ada orang lain yang melihatnya.” Ucap Luciana mencoba bersabar sambil membawa tubuh Joey masuk ke dalam rumahnya. Dengan langkah gontai Joey mengikuti arah langkah Luciana, dan ia baru benar-benar sadar jika ia telah mengganggu waktu istirahat konselornya.


            “Tidak masalah, ini lebih baik daripada kau melampiaskan emosimu dengan membuat kekacaun di bar. Tunggu sebentar, aku akan mengganti pakainku dengan pakaian yang lebih layak.”


            Luciana langsung berjalan cepat menuju kamarnya untuk mengganti gaun tidur tipis yang


sebelumnya ia kenakan. Jika dipikir-pikir tindakan Luciana membukakan pintu rumahnya dengan gaun tidur setipis itu memang sangat beresiko dan terkesan ceroboh. Namun ia tak memiliki pilihan lain karena ia sangat terkejut ketika tiba-tiba serentetan bunyi bel ditekan dengan begitu kasar oleh seseorang di depan pintu rumahnya. Ia takut suara bel itu membangunkan tidur pulas Aleyna dan juga tetangganya yang lain karena pria itu menekan bel di tengah malam yang sunyi dan senyap.


            “Minumlah, coklat panas dapat membuat tubuhmu sedikit rileks.”


            Luciana meletakan secangkir coklat panas yang masih mengepulkan uang tipis di atas meja kaca di depan Joey. Melihat Luciana yang datang dengan secangkir coklat panas membuat Joey sedikit menaikan alisnya karena ternyata wanita itu tidak meninggalkannya untuk tidur seperti dugaanya.


            “Kupikir kau tertidur karena kau sangat lama.”


            “Aku membuatkan coklat panas untukmu. Malam ini kau terlihat kacau lagi, ada apa?”


            “Entahlah, aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Tapi aku merasa kesepian. Dan baru saja aku menghubungi Jihyun, ia sedang berpesta dengan teman-temannya di New York.” cerita Joey datar. Luciana dapat melihat adanya gurat-gurat kekecewaan dan juga kesedihan di wajah Joey. Namun ia tak


mengerti mengapa Joey terus merasakan hal itu di hatinya. Pria itu pasti belum benar-benar menceritakan sisi lain kehidupannya selama ini. Masih ada hal-hal khusus yang disembunyikan Joey darinya hingga ia tidak bisa menjangkau pria itu lebih jauh untuk sekedar memberikan saran atau mencarikan jalan keluar untuk masalah pria itu.


            “Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kau masih memiliki banyak hal yang tidak kuketahui bukan?”


            “Menurutmu? Aku tidak bisa membagi rahasiaku begitu saja padamu bukan? Kau dan aku, kita adalah dua orang asing. Tapi perlahan-lahan mungkin aku akan mempercayaimu dan membagi semua rahasiaku padamu. Sekarang katakan padaku bagaimana caranya agar aku tidak merasakan kehampaan ini lagi.”


            Luciana mendengus sebal dengan gaya angkuh Joey yang lagi-lagi dimunculkan oleh pria itu di depannya. Mungkin pria itu memang memiliki gangguan kepribadian seperti dugaanya dulu karena pria itu sering sekali terlihat berubah-ubah di depannya. Di satu sisi pria itu akan terlihat seperti pria rapuh, namun di sisi lain pria itu akan menunjukan kearogannya yang menyebalkan dan memuakan.


            “Kau terlalu banyak memakai topeng untuk menutupi semua masalah yang menimpamu. Jika kau benar-benar ingin masalahmu selesai, kau harus mempercayaiku sebagai konselormu.” omel Luciana kesal. Joey tiba-tiba menarik tangannya. Memaksa Luciana untuk mendekat kearahnya, lalu menatap wanita itu tajam hingga membuat Luciana seketika berdebar-debar karena perilaku Joey yang tiba-tiba itu.


            “Jika kau seorang konselor yang hebat, sekarang lihat mataku dan cari tahu apa yang terjadi padaku.”


            Luciana menatap manik kelam Joey ragu dan mulai menyelami kehidupan pria itu dari sorot matanya. Sejujurnya posisi mereka saat ini membuat Luciana tidak nyaman, karena Joey tengah menahan pinggangnya dan mendudukannya di atas pangkuannya. Tapi ia juga tidak bisa menghindar karena pria itu memaksanya untuk mencari tahu sendiri keadaan hidupnya yang penuh misteri.


            “Kau pria yang rapuh.” ucap Luciana sambil menatap tajam manik kelam Joey. Kemudian satu persatu hipotesis Luciana mulai muncul dan membuat Joey sedikit puas karena ternyata Luciana benar-benar hebat, seperti apa yang tertulis di dalam brosur yang pernah ia baca.


            “Kau takut ditinggalkan karena kau tidak suka kesendirian. Kau mempunya trauma di masa lalu yang menyebabkan kau menjadi seperti ini. Dugaanku itu karena kau kehilangan kedua orangtuamu diwaktu yang bersamaan. Lalu....”


            “Cukup.


Itu sudah cukup Luciana. Aku tahu kau bisa membaca semua masa-masa kelamku melalui kedua mataku. Tapi untuk saat ini itu cukup. Dan sekarang kau bisa memberiku saran agar aku tidak merasakan hal itu lagi karena sejujurnya aku bosan hidup dengan keadaan seperti ini.”


            Luciana kemudian segera turun dari pangkuan Joey setelah pria itu dengan sendirinya melepaskan tangan kirinya dari pinggangnya. Dengan gerakan kaku, Luciana mulai berjalan menjauh dan mengambil posisi duduk yang jaraknya lebih jauh dari posisi duduk Joey sekarang. Ia tidak mau dibuat canggung lagi oleh Joey karena pria itu memiliki jalan pikiran yang terkadang diluar pikiran manusia normal.


            “Kau takut aku akan memakanmu?”

__ADS_1


            “Hanya mempertahankan keprofesionalitasan. Sikapmu tadi sungguh tidak etis, tapi aku berusaha memahaminya karena kupikir dengan cara itu kau bisa sedikit terbuka padaku.” ucap Luciana beralasan. Mereka kemudian dilanda keheningan cukup panjang hingga Luciana akhirnya berinisiatif untuk berbicara.


            “Jika kau takut merasa sendiri, kau harus mencari seseorang yang bisa membuatmu merasa nyaman. Selain Jihyun, apa kau memiliki sahabat? Untuk tahap awal, keberadaan pihak ke tiga di sekitarmu akan membantu untuk mengurangi perasaan mengganggu yang sering kau rasakan setiap Jihyun meninggalkanmu untuk berkarir.”


            “Aku tidak terlalu dekat pada siapapun sejauh ini. Sulit mencari seorang teman yang


benar-benar bisa memposisikan dirinya sebagai teman disaat aku memiliki kekayaan dan jabatan penting di kantor. Orang-orang yang mendekatiku, mereka tidak murni. Mereka hanya ingin memanfaatkanku untuk keuntuntungan mereka sendiri. Dan sebenarnya aku memiliki seorang sahabat, Spencer namanya. Tapi aku tidak mungkin terus menerus mengganggu kehidupannya, karena ia sudah memiliki keluarga yang harus ia jaga.”


            “Tapi kau bisa menggangguku, kenapa kau tak bisa mengganggu Spencer?” Tanya Luciana tiba-tiba dengan raut wajah gusar.


            “Aku membayarmu untuk menjadi kosenlorku Luciana.” ucap Joey penuh peringatan. Luciana mendecih kesal dalam hati, lalu ia meminta Joey untuk melanjutkan ceritanya mengenai Spencer yang belum sepenuhnya disampaikan oleh pria itu.


            “Spencer memiliki keluarga. Sebuah keluarga yang sempurna, padahal dulu Spencer adalah seorang bad boy dan player. Tapi pada akhirnya ia bisa menemukan seorang istri yang pas untuknya dan mampu memberikan kebahagiaan untuknya. Spencer juga telah memiliki seorang putra yang sangat lucu bernama Mark. Melihat mereka, terkadang membuatku iri pada Spencer. Aku tak menyangka jika pria seliar Spencer dapat menemukan seorang istri yang tepat untuknya. Sementara aku, aku selama ini tidak pernah mempermaikan wanita. Aku selalu menghormati mereka dan berusaha bersikap baik pada mereka. Tapi entah kenapa aku justru selalu dikecewakan oleh mereka. Sejak senior high school aku tidak pernah benar-benar mendapatkan wanita yang tepat untukku.”


            Luciana mendengarkan cerita yang dilontarkan Joey dengan seksama sambil berusaha menggali lebih dalam apa yang sebenarnya Joey rasakan selama ini. Dan ia telah menemukan beberapa hal yang menjadi sumber masalah untuk Joey, yaitu kesibukan istrinya, masa lalunya bersama orangtuanya, dan rasa iri pada sahabatnya, Spencer.


            “Untuk saat ini aku menyarankanmu untuk melakukan hal-hal yang bisa membuatmu melupakan rasa kesepianmu. Kau mungkin bisa menyibukan diri di kantor dan mulai menata jadwalmu untuk melakukan kegiatan sosial. Kegiatan sosial bukankah bagus untuk pengusaha sepertimu?”


            “Tapi aku menginginkan sebuah solusi yang akan menyembuhkanku secara permanen, bukan secara temporer.”


            “Itu tergantung pada dirimu sendiri Joey ssi. Dan aku sebenarnya masih bingung, apakah kesepianmu itu hanya ketika Jihyun meninggalkanmu dengan kesibukannya atau itu terjadi terus menerus meskipun Jihyun berada di sampingmu?”


            “Kurasa semakin lama hal itu semakin parah. Dulu aku merasakannya ketika Jihyun sibuk dengan dunianya karena dengan begitu aku merasa terabaikan. Dan sekarang,


meskipun Jihyun berada di sampingku aku tetap merasakan hal itu. Apa menurutmu aku telah berubah menjadi orang gila?” Tanya Joey dengan gelak tawa hambar. Luciana mengernyitkan dahinya heran dan merasa semakin pusing dengan gangguan psikis yang dialami Joey. Mungkin sebenarnya semua itu akan hilang jika Jihyun tidak


pergi untuk karir keartisannya dan wanita itu bersedia memberikan keturunan untuk Joey. Ya, sekarang ia tahu apa jawabannya. Tapi ini tidak semudah itu karena Lee Jihyun telah bertekad untuk menjadi seorang super model yang sukses. Dan bahkan Joey sendiri tidak bisa menghentikan ambisi istrinya. Lalu apa yang harus ia lakukan untuk kliennya yang malang ini? Menggantikan posisi Jihyun? Hah, Luciana rasanya ingin tertawa keras memikirkan hal itu. Pikirannya yang konyol itu jelas sangat mengerikan. Bagaimana mungkin ia bisa memikirkan ide gila yang sama saja akan melanggar kode etik profesinya. Bahkan kegiatannya saat ini bersama Joeypun telah melanggar beberapa pasal dalam kode etiknya. Ia seharusnya tidak boleh membawa kliennya ke rumah, apapun kondisinya karena hubungan mereka hanya sebatas klien dan konselor, tidak lebih!


            “Apa lagi yang kau pikirkan? Kau tidak memiliki solusi untukku?” tanya Joey menginterupsi pemikiran konyol Luciana. Wanita itu menggeleng pelan dan mulai mengeluarkan jawaban briliannya.


            “Kurasa solusi satu-satunya untukmu adalah membawa Jihyun kembali padamu dan membuatnya bersedia mengandung anak untukmu. Bukankah itu masalah sebenarnya yang kau hadapi. Tapi kemudian semua itu menjadi menjalar ke berbagai hal, seperti kematian orangtuamu dan rasa irimu pada Spencer.”


            “Jadi, inti dari jawabanmu adalah aku tidak bisa mendapatkan solusi dari masalahku karena Jihyun jelas-jelas tidak akan mau melakukannya hingga setidaknya dua tahun lagi. Jika aku terus bertahan dengan keadaan seperti ini, tidak menutup kemungkinan kau akan mendapatkan heading di koran jika CEO perusahaan penerbangan, Joey Lee, mengalami depresi berat karena ditinggalkan oleh istrinya.” ucap Joey berlebihan. Luciana tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Joey sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena benar-benar merasa geli dengan cara bicara Joey yang menjadi lebih hiper bola.


            “Kau berlebihan. Aku pasti akan menolongmu sebelum kau benar-benar menjadi topik pembicaraan masyarakat Korea.”


            “Oya? Bagaimana caranya? Kau ingin menggantikan posisi Jihyun untuk mengandung anakku?”


            Seketika Luciana langsung menghentikan tawanya sambil menatap tajam Joey.


            “Itu tidak lucu tuan Lee. Ingat, hubungan kita hanya sebatas rekan kerja. Kau harus profesional.”


            “Ck, kenapa kau menanggapinya terlalu serius? Tapi kurasa kita benar-benar cocok dalam hal itu. Bukankah kau ingin mengandung darah dagingmu sendiri, dan aku juga ingin memiliki keturunan. Jadi kurasa kita bisa saling melengkapi.”


Bughh


            Luciana melemparkan bantal sofa yang bisa dijangkaunya kearah Joey dan tepat mengenai kepala pria itu yang semakin lama semakin tidak waras.


            “Jangan harap aku mau melakukannya karena aku hanya akan mengandung anak dari seorang pria yang kucintai.” ucap Luciana sinis. Wanita itu terlihat sangat kesal pada Joey karena pria itu semakin lama semakin menjengkelkan dengan pikiran liarnya.


            “Oh ya? Jangan salahkan aku jika tiba-tiba kau berbalik menyukaiku.” ucap Joey penuh percaya diri. Pria itu tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berjalan penuh seringaian kearah Luciana.


            “Hey, ada apa dengan wajahmu?” tanya Luciana was-was. Wanita itu beringsut mundur, menempelkan tubuhnya semakin rapat pada sandaran kursinya ketika tiba-tiba Joey mencondongkan tubuhnya sedikit rendah di depannya dengan kedua tangan yang bertumpu pada kedua lengan sofa yang diduduki oleh Luciana.


            “Menurutmu apa?” tanya Joey dengan seringaian mengerikan.


            “Jangan main-main Joey atau aku akan berteriak!” Ancam Luciana mulai ketakutan. Saat ini ia hanya sendiri di rumah itu. Tidak menutup kemungkinan jika Joey akan melakukan perbuatan nekat padanya karena bagaimanapun mereka berdua adalah dua orang manusia dewasa dengan jenis kelamin berbeda dan juga tidak memiliki hubungan darah apapun.


            “Kau tahu Luciana....”


            Joey menggantungkan kalimatnya dengan gaya sensual yang sangat menyebalkan, dan semakin mencondongkan tubuhnya kearah Luciana hingga Luciana mau tak mau harus merasakan hembusan napas Joey yang panas di wajahnya. Sedetik kemudian pria itu berbisik pelan di telinganya sambil mendaratkan sebuah kecupan ringan yang berhasil membuat Luciana berteriak-teriak marah hingga hampir menendang pria itu jauh-jauh darinya.


            “Aku sebenarnya ingin pulang.”


            “Sialan kau Joey Lee! Pergi dari rumahku sekarang!”


            Joey tertawa terbahak-bahak menatap wajah konselornya yang berubah menjadi merah padam di depannya. Menggoda Luciana ternyata sangat mengasyikan dan bisa membuat rasa kesepiannya menghilang.


            “Sshhhhh... kau akan membangunkan Aleyna dan tetangga-tetanggamu.” bisik Joey sambil membekap mulut Luciana rapat-rapat. Wanita itu lantas meronta-ronta brutal di depan Joey sambil menendang-nendang pria itu tak tentu arah, namun gagal.


            “Lepaskan hmmpphh... Per.... Hmmppff..”


            “Aku akan melepaskanmu, tapi jangan berteriak.”


            Joey kemudian mundur tiga langkah dari tempatnya berdiri sambil menatap puas Luciana yang terlihat terengah-engah dengan wajah merah padam karena marah. Rasanya ia senang sekali melihat wanita itu berubah beringas karena ulah jahilnya.


            “Sekali lagi kau bersikap kurang ajar padaku, aku tidak mau lagi menjadi konselormu. Pergi dari rumahku sekarang.”


            “Kenapa kau berlebihan seperti itu? Aku hanya mencium pipimu, bukan mencium bibirmu. Bukankah itu hal biasa? Jangan terlalu norak Luciana.” ucap Joey mengejek. Luciana menggeram kesal di kursinya sambil menggenggam buku-buku tangannya hingga memutih. Pria itu bisa dengan santainya mengatakan hal itu, tapi ia tidak demikian. Sampai saat ini ia masih berdebar karena perilaku pria itu yang tiba-tiba menciumnya. Sejak ia bercerai, ia belum pernah melakukan hal seintim itu pada seorang pria karena selama ini ia selalu menutup diri. Ia belum siap kembali menjalin hubungan dengan seorang pria dan masih ingin menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya bersama Aleyna.


            “Tetap saja itu tidak bisa dilakukan pada sembarangan orang. Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja, aku tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti..”


            “Seperti apa?” tantang Joey. Luciana terdiam kaku dan terlihat tak bisa menjawab pertanyaan Joey yang seolah-olah seperti sedang memojokannya dan pikiran nistanya.


            “Ssse seperti... ahh, terserah! Sekarang cepatlah pulang, ini sudah terlalu larut untuk bertamu. Aku lelah, aku perlu istirahat untuk menyiapkan hariku yang melelahkan nanti.”


            Joey tersenyum simpul melihat reaksi Luciana yang sangat lucu di depannya. Pria itu lalu melirik jam tangannya sekilas dan memutuskan untuk benar-benar pulang setelah ini. Kasihan Luciana jika ia terus mengganggu wanita itu di jam dua dini hari seperti ini. Apalagi wanita itu nanti masih memiliki banyak pekerjaan


untuk diselesaikan di kantornya sebagai seorang konselor dan juga sebagai seorang ibu yang menakjubkan untuk Aleyna. Jadi, sekarang ia benar-benar akan pulang. Ia tidak akan membuat masalah lagi dengan Luciana yang akan berujung pada perdebatan kecil yang sangat lucu ini menurutnya.

__ADS_1


            “Baiklah, aku pulang. Terimakasih untuk waktumu malam ini. Dua hari kedepan mungkin aku tidak akan datang karena aku memiliki perjalanan bisnis ke Itali, jadi jangan merindukanku.” kekeh Joey percaya diri. Luciana mendengus kesal di hadapan pria itu dan segera mengambil bantal sofa untuk memukul lengan kiri pria itu pelan.


            “Aku tidak akan merindukanmu. Justru kau yang mungkin akan merindukanku.” Ucap Luciana acuh tak acuh. Joey mengedikan bahunya sekilas. Namun kemudian ia mengiyakan ucapan wanita itu dalam hati karena mungkin ia memang akan meridukan suara berisik Luciana dan kata-kata bijak Luciana yang menenangkan dua hari kedepan.


__ADS_2