
Suho turun dari pesawat sambil menggendong tas ransel berukuran sedang di pundaknya. Kali ini ia tidak membawa banyak barang seperti dulu, karena ia memang tidak memiliki banyak barang untuk dibawa. Satu-satunya alasan ia datang ke sini karena seminggu ini ia akan menghabiskan waktunya dengan anak dan ibu dari anakny, oleh karena ia tidak sempat memikirkan untuk membawa banyak barang karena ia bisa membelinya langsung di sini jika ia membutuhkannya.
Dibukanya ponsel hitamnya untuk melihat pesan dari Irene karena beberapa saat lalu wanita itu mengatakan jika ia akan dijemput oleh Kim Soohyun. Sebenarnya jika ia bisa memilih, maka ia lebih memilih untuk menggunakan taksi daripada harus satu mobil bersama Kim Soohyun karena pria itu sejak awal terus menunjukan sikap tidak sukanya pada dirinya. Namun karena Irene begitu antusias untuk menyuruhnya pulang bersama Kim Soohyun, akhirnya ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan wanita itu. Lagipula hal itu juga akan bagus untuk memperbaiki hubungannya yang tidak baik selama ini.
“Lee Suho ssi.”
Suho menolehkan kepalanya kearah sumber suara dan ia langsung menemukan Kim Soohyun sedang berdiri dengan stelan jas yang terlihat sudah berantakan. Pria itu menatapnya datar dan langsung memberinya isyarat untuk mengikutinya.
“Kupikir kau tidak akan datang.”
Suho mencoba memecah keheningan diantara mereka dengan percakapan kecil yang dirasa tidak terlalu aneh untuk diucapkan. Namun rupanya Kim Soohyun tidak terlalu responsif dengan ucapannya karena pria itu hanya membalasnya dengan gumaman kecil.
“Bagaimana kabar Irene sekarang, kapan kalian akan menikah?” tanya Suho lagi. Kim Soohyun menoleh malas pada Suho sambil membuka pintu mobilnya pelan. Ia pikir malam ini Suho benar-benar cerewet dan sok akrab padanya. Padahal jelas-jelas jika mereka sedang berdiri di dua sisi yang berbeda dan sedang bersiap untuk saling menyerang.
“Irene baik, dan mengenai rencana pernikahan kami, mungkin akan secepatnya dilakukan karena kami juga sudah lama bertunangan.”
Suho menganggukan kepalanya mengerti dan langsung mendudukan dirinya dengan nyaman di dalam mobil milik Kim Soohyun.
Selama perjalanan, baik Suho maupun Kim Soohyun tidak saling melakukan percakapan. Mereka berdua benar-benar membungkam bibir mereka rapat-rapat dan terlihat seperti sepasang rival yang akan sedang bersiap untuk menyerang. Namun sebenarnya hal itu hanya dirasakan oleh Kim Soohyun karena Suho tampak biasa-biasa saja dan lebih sibuk menatap pemandangan kota New York di malam hari yang begitu ramai.
“Kudengar kau menjadi CEO di perusahaan yang bergerak di bidang properti, apa itu benar?”
Lagi-lagi Suho mengajak Kim Soohyun untuk berbicara setelah ia puas memandangi keramaian kota New York yang begitu padat.
__ADS_1
“Ya seperti itulah, dan kudengar kau memiliki perusahaan di bidang konstruksi dan sering menangani tender besar di Amerika dan juga Korea. Bagaimana rasanya berada di puncak kejayaan seperti itu?”
Lee Suho terkekeh pelan dengan kalimat pertanyaan yang bernada sinis itu. Ia tahu sampai kapanpun Kim Soohyun tidak akan pernah mau kalah darinya.
“Aku merasa sangat lelah. Sebenarnya keberhasilanku mendapatkan tender tidak semenyenangkan yang dibayangkan oleh orang lain. Memang setelah mendapatkan tender, aku akan meraup keuntungan berkali-kali lipat, tapi apa gunanya itu semua jika aku tidak memiliki seseorang yang selalu ada untukku dan mendukungku? Rasanya memiliki banyak uangpun akan terasa hambar.”
Kim Soohyun kembali membungkam bibirnya rapat-rapat dan tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut, karena yang dimaksudkan oleh Suho tentu saja Irene dan anaknya, dan ia sangat malas untuk membahas masalah Irene sekarang bersama Suho. Menurutnya topik itu terlalu sentimentil untuk dibicarakan bersama seorang rival yang tangguh seperti Suho.
-00-
“Ini kamarmu selama berada di sini.”
Irene mempersilahkan Suho untuk masuk ke dalam kamar tamu yang telah ia siapkan. Sejak jauh-jauh hari ia telah membersihkan kamar itu agar terasa nyaman untuk Suho salama pria itu berada di New York.
“Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa memanggilku, kamarku berada di bawah.” ucap Irene dari ambang pintu. Suho menolehkan kepalanya pada Irene dan mengangguk mengerti pada wanita itu. Rasanya sekarang begitu aneh saat ia dan Irene saling berbicara satu sama lain dengan suasana yang kikuk dan kaku. Padahal dulu mereka pernah sama-sama terlihat akrab satu sama lain dan juga bermusuhan.
“Kalau begitu selamat malam.” balas Irene pelan sambil berjalan pergi meninggalkan kamar Suho.
Setelah Irene keluar dari kamarnya, Suho berniat untuk melihat putrinya yang sedang tertidur di kamarnya. Sebagai seorang ayah ia sangat merindukan putri semata wayangnya itu, apalagi mereka sudah tidak bertemu selama dua bulan. Ia merasa tidak sabar untuk melihat perkembangan putrinya selama dua bulan ini. Dan ia sangat berharap jika putrinya sedang membuka matanya disaat saat ini karena ia sangat ingin menemui putrinya.
“Apa dia sudah tidur?”
Suho menghentikan langkahnya di undakan tangga ketika ia mendengar suara Kim Soohyun yang begitu ketus. Irene yang berada di dekat pintu utama tampak menghela nafas pelan ketika Kim Soohyun menyerangnya dengan serangkaian pertanyaan bernada sinis barusan.
__ADS_1
“Dia baru saja masuk ke kamarnya, dan aku tidak tahu apakah ia sudah tidur atau belum. Memangnya aku babysitternya.” jawab Irene mencibir. Sekilas Suho ingin tertawa geli mendengar jawaban Irene yang ketus itu. Ia yakin jika Irene sedang menahan kesabarannya untuk menghadapi sikap menyebalkan Kim Soohyun yang menjengkelkan.
“Kuharap kau tidak berbuat macam-macam dengannya malam ini karena abeoji sedang tidak berada di rumah.” peringat Kim Soohyun penuh ancaman. Irene memutar bola matanya jengah sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia pikir tingkat kecemburuan Kim Soohyun sudah benar-benar tak tertolong. Dalam hati Irene ingin menghujani Kim Soohyun dengan berbagai umpatan karena pria itu telah berburuk sangka padanya. Memangnya apa yang akan ia lakukan bersama Lee Suho di rumah ini? Tidur bersama? Oh yang benar saja, ia pasti sudah gila jika memikirkan hal itu.
“Ayolah oppa, bersihkan kepalamu dari pikiran-pikiran negatifmu yang tidak masuk akal itu, karena jika kau tetap memikirkannya, aku jamin kau tidak akan bisa tidur malam ini.”
“Bahkan setiap hari aku selalu tidak bisa tidur karena memikirkanmu, jadi tidak bisa tidur lagi untuk malam ini, rasanya bukan masalah.” jawab Kim Soohyun santai. Irene memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan konyol mereka dan justru mendorong-dorong tubuh Kim Soohyun pelan agar pria itu segera pergi dari rumahnya, karena ia ingin segera beristirahat di kamarnya yang nyaman.
“Cepat pulanglah, aku ingin tidur dengan nyaman di kamarku.”
“Kau mengusirku? Kau memang tega, sayang. Kalau begitu berikan kecupan selamat malam untukku terlebihdahulu.” ucap Kim Soohyun dengan wajah mesum yang menggoda. Irene berdecak malas pada Kim Soohyun, tapi pada akhirnya ia tetap maju dan memberikan sebuah kecupan ringan di pipi Kim Soohyun.
“Tunggu, aku belum mengijinkanmu pergi.”
Kim Soohyun memerangkap tubuh Irene setelah Irene selesai mengecup pipi pria itu. Meskipun sedikit tidak nyaman, tapi Irene tetap bergeming di tempatnya sambil menatap manik mata pria itu lekat.
“Apa lagi? Aku sudah memberikanmu kecupan selamat malam.”
“Aku ingin kecupan yang berbeda, Rene, aku ingin kecupan lembut di bibir.” bisik Kim Soohyun menggoda. Irene memukul dada itu pelan sambil terkekeh geli dengan sikap Kim Soohyun yang semakin manja setelah kedatangan Suho. Padahal sebelumnya pria itu selalu biasa-biasa saja dan tidak terlalu banyak menuntut. Tapi kali ini, ia benar-benar bersikap sangat agresif!
“Dasar mesum! Siapa yang mengajarimu mengatakan hal itu? Apa Jessica yang telah meracuni otak sucimu?”
“Hmm, terkadang sepupuku itu memang kurangajar dengan memamerkan kemesraannya dengan Jemy di depanku, jadi salahkan dia jika aku menjadi seperti ini.”
__ADS_1
Irene mengalungkan tangannya di leher Kim Soohyun dan bersiap untuk memberikan kecupan bibir pada pria itu. Lagipula selama ini mereka memang tidak pernah melakukannya, padahal mereka sudah bertunangan. Rasanya memberikan ciuman itu untuk malam ini tidak ada salahnya. Dan mungkin dengan ciuman itu bisa menambah keyakinannya untuk mencintai Kim Soohyun lebih dalam.
“Good girl, kujamin kau tidak akan pernah menyesal setelah merasakan bagaimana manisnya bibirku.” goda Kim Soohyun nakal sebelum ia ******* bibir Irene lembut dengan penuh perasaan. Kedua manusia itu saling berbagi kehangatan tanpa menyadari kehadiran Suho yang sejak tadi melihat adegan intim itu di ujung tangga. Sebagian hatinya terasa seperti dicubit ketika ia melihat Irene sedang mencium mesra tunangannya. Namun sebisa mungkin ia meyakinkan dirinya jika hal itu wajar, mengingat sebentar lagi mereka akan menikah. Dan tentu saja setelah mereka menikah, mereka akan lebih sering melewatkan malam-malam panas berdua dengan intim di kamar mereka. Jadi ia memang harus menanamkan fakta itu di dalam otaknya. Ia tidak boleh merasa cemburu melihat kedekatan Irene dan calon suaminya!