
Yuri terlihat begitu rileks dengan paket treatmen yang disediakan pihak hotel untuknya. Ia pikir melakukan treatmen sebelum melakukan malam pertama yang menegangkan sangat bagus untuk mengurangi rasa gugupnya. Lagipula ia juga berencana untuk memberikan Suho kejutan setelah pria itu kembali dari urusan kantornya yang entah apa. Malam ini ia ingin membuat Suho terkesan padanya dan membuat pria itu tidak akan pernah melupakan malam pertama mereka yang menakjubkan.
“Nona bisakah kau pijat bagian pundakku, sepertinya daerah itu sedikit pegal.”
“Tentu nyonya, tapi agar anda merasa lebih rileks ada baiknya anda meminum teh herbal hasil racikan kami. Teh ini akan meningkatkan perasaan rileks dan membuat aura positif anda lebih terpancar.”
“Benarkah?”
Yuri segera bangkit dan menerima secangkir teh yang masih mengepulkan asap tipis di atasnya. Teh itu terlihat begitu menggiurkan dan terasa begitu menenangkan ketika ia menghirup aromanya. Tanpa pikir panjang Yuri segera menyeruput teh itu dan langsung menghabiskannya hingga tandas ketika ia merasakan betapa nikmatnya teh itu di dalam mulutnya.
“Hahhh, aku merasa lebih segar setelah meminum teh itu. Apa kita bisa melanjutkan sesi treatmen kita? Hoaamm..” Tanya Yuri sambil menguap. Pelayan wanita itu mempersilahkan Yuri untuk kembali berbaring di atas ranjang sebelum ia kembali memijit tubuh Yuri dengan minyak aroma terapi.
“Tenanglah nyonya, dan nikmati setiap ketenangan yang merayapi pikiran anda.”
Yuri pun mulai memejamkan matanya perlahan setelah ia merasa kedua matanya sudah tidak kuat lagi untuk terjaga. Dan pada akhirnya Yuri benar-benar jatuh tertidur dengan wajah damai yang terlihat rileks.
-00-
Suho memasuki kamarnya dalam diam setelah ia menekan beberapa angka kombinasi yang terpasang di pintu kamarnya. Baru saja ia mendapatkan panggilan dari sekretarisnya jika proyek mereka sedikit menuai masalah dan sang sekretaris membutuhkan kehadirannya untuk menentukan keputusan apa yang akan diambil pihaknya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Setelah selama satu jam ia berkutat dengan sekretarisnya dan jajaran direksi yang lain, akhirnya ia menemukan titik terang untuk perusahaanya. Tapi ia sekarang merasa bersalah pada Yuri karena telah meninggalkan wanita itu terlalu lama. Apalagi hari ini adalah hari pernikahan mereka, seharusnya ia tidak membiarkan Yuri kesepian di dalam kamar hotel mewah mereka yang besar sambil menunggunya pulang dari kantor. Tapi mau bagaimana lagi, masalah kantornya begitu mendadak dan menuntutnya untuk segera turun tangan.
“Yuri...”
Suho memanggil nama Yuri sedikit keras ketika ia mendapati kamarnya begitu sunyi dan senyap. Ia kemudian masuk ke dalam kamar pengantinnya dan tidak mendapati Yuri di sana. Padahal satu jam yang lalu wanita itu mengatakan akan menunggunya di kamar hingga ia kembali. Suho pun memutuskan untuk menghubungi Yuri, tapi sayangnya wanita itu meninggalkan ponselnya di atas nakas ranjang.
“Kemana perginya wanita itu?” gumam Suho pada dirinya sendiri.
Tok tok tok
Ditengah-tengah pikirannya yang kalut mencari Yuri, tiba-tiba ia mendengar suara pintu kamarnya yang diketuk cukup keras. Tanpa pikir panjang Suho segera membukakan pintu kamarnya untuk seseorang yang ia pikir adalah Yuri.
“Yuri, darimana saja...”
“Selamat sore Lee Suho ssi.”
Suho mematung di tempat dengan kehadiran Irene di depan kamarnya. Pria itu langsung mengubah eksperesi wajah sumringahnya menjadi ekspresi wajah dingin yang tidak bersahabat.
“Untuk apa kau datang ke sini, kurasa kau tidak memiliki keperluan apapun denganku atau Yuri?”
Irene menyunggingkan senyum tipisnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Aku memang tidak memiliki urusan dengan Yuri, tapi aku memiliki urusan denganmu. Apa aku boleh masuk ke dalam?” tanya Irene sopan namun tersirat nada menjengkelkan di dalam suaranya. Mendengar hal itu Suho tetap bergeming di tempatnya dan ia sepertinya tidak mengijinkan Irene untuk masuk ke dalam kamarnya dan Yuri.
“Seorang pria yang sudah menikah tidak pantas membiarkan wanita yang bukan keluarganya untuk masuk ke dalam kamarnya, jadi kau tidak bisa masuk ke dalam kamarku Shin Irene.”
“Ya Tuhan, itu sangat menohok sekali. Apa kau takut pada istrimu? Kau takut istrimu tahu jika aku adalah kekasihmu dan wanita yang pernah mengisi hatimu dulu, hm?” tanya Irene menantang. Suho menggeram kesal dengan sikap Irene yang semakin berani. Padahal jelas-jelas ia sudah mengusir wanita itu secara halus, tapi sikap keras kepalanya yang menyebalkan itu membuatnya terpaksa harus bersikap kasar untuk mengusir wanita masa lalunya.
__ADS_1
“Takut? Aku sama sekali tidak takut, bahkan aku berencana untuk menceritakan semua masa laluku padanya malam ini, jadi lebih baik kau pergi karena hari ini adalah malam pertama kami.”
Setelah mengucapkan hal itu Suho hendak menutup pintu kamarnya agar terhindar dari Irene, namun dengan sigap wanita itu menyelipkan kakinya diantara celah pintu yang hampir menutup.
“Kalau begitu berikan aku kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan kita. Sebotol wine dan sedikit percakapan kurasa sudah cukup.” bujuk Irene gigih. Suho tampak berpikir sejenak untuk menerima tawaran Irene. Wanita yang sedang berdiri di hadapannya saat ini bukanlah wanita yang sama dengan wanita cantik yang dulu pernah dicintainya. Wanita yang saat ini sedang berdiri memohon padanya adalah wanita licik dengan seribu topeng yang hendak menghancurkan rumah tangganya yang baru saja ia bangun.
“Hanya sebentar dan kau harus segera pergi sebelum Yuri datang.”
Suho pun membukakan pintu kamarnya untuk Irene dan mempersilahkan Irene duduk di atas sofa ruang tamunya.
“Kau akan berdiri seperti itu?” tanya Irene sangsi ketika ia melihat Suho yang tidak mau duduk di sebelahnya, dan justru menghindarinya seperti sebuah wabah.
“Bicaralah, jangan pedulikan aku.”
“Hmm baiklah, aku...”
Tok tok tok
Irene menghentikan kalimatnya di udara ketika ia mendengar suara ketukan pintu yang cukup nyaring dari luar.
“Sepertinya minuman pesananku sudah datang, apa kau ingin membukakan pintu agar pelayan itu dapat meletakan minuman kita di dalam kamar?”
Suho mendengus kesal dengan sikap Irene yang terkesan bertele-tele dan mengulur-ulur waktu. Padahal waktunya tidak banyak dan ia harus segera mencari Yuri yang tiba-tiba menghilang dari kamarnya.
“Ya masuklah, dia di dalam.” ucap Suho dingin. Pelayan itu menganggukan kepalanya pelan dan segera mendorong trolinya ke dalam kamar Suho dengan sebotol anggur merah dan sebucket es batu yang terlihat menguarkan asap dingin di atasnya.
“Letakan saja di sini, dan ini tip untukmu.”
Irene menyelipkan beberapa lembar won pada pelayan itu sambil tersenyum manis penuh makna. Setelah itu si pelayan laki-laki itu segera pergi dari kamar Suho dengan sebuah senyum yang ia sunggingkan pada Suho yang sedang menatapnya dengan penuh kecurigaan.
“Selamat sore tuan, selamat beristirahat.”
Suho mendengus kesal pada pelayan aneh itu dan segera menghempaskan pintu kamarnya dengan kasar. Ia tahu saat ini Irene pasti sedang memiliki rencana jahat di dalam kepalanya. Tapi sayangnya ia tidak memiliki bukti untuk memperkuat dugaan itu, sehingga ia tidak bisa mengusir Irene dengan cepat dari kamarnya, dan hanya menunggu wanita itu untuk keluar dengan sendirinya nanti.
“Jadi kita bisa bicara sekarang?”
Irene menuangkan cairan wine ke dalam gelas tinggi dan memberikannya pada Suho. Sebelum menerima minuman itu dari Irene, Suho sempat merasa ragu dan ingin menolaknya. Tapi pada akhirnya ia memilih untuk menerimanya agar Irene tidak bertingkah semakin menyebalkan di depannya.
“Sekarang bicaralah, aku akan mendengarkannya.”
“Kalau begitu apa yang ingin kau dengar dariku?” tanya Irene tenang. Wanita itu menyesap sedikit winenya sambil menyilangkan salah satu kakinya dengan angkuh.
“Apapun yang ingin kau ceritakan padaku, aku akan mendengarkannya.”
“Baiklah, aku akan mulai dengan perasaanku yang hancur setelah melihat kartu undangan pernikahanmu yang kutemukan di atas meja kerja ayahku. Padahal sebelum aku kembali, aku selalu membayangkan wajahmu dan membayangkan masa depan kita yang indah dengan banyak anak di sekeliling kita. Dan sebenarnya aku berencana untuk memberimu kejutan atas kepulanganku satu minggu yang lalu, tapi aku sendiri yang justru dikejutkan dengan berita pernikahanmu. Kenapa kau tega menyakitiku, Suho oppa?” tanya Irene lemah. Suho
__ADS_1
menatap Irene datar tanpa memberikan komentar apapun. Ia tahu jika saat ini Irene sedang berakting di depannya. Tapi ia sadar jika apa yang dikatakan oleh Irene adalah hal yang benar-benar dialami oleh wanita itu. Dan Suho dapat melihat adanya sorot kesakitan itu dari mata bulatnya.
“Kupikir hubungan kita sudah berakhir sejak tiga tahun yang lalu saat kau memutuskan meninggalkanku demi ambisimu untuk menjadi seorang pebisnis yang sukses di Amerika. Jadi jangan salahkan aku jika aku memutuskan untuk menikah dengan wanita lain dan tidak memikirkanmu karena namamu sudah lama terhapus dari hatiku.”
Irene menatap manik mata Suho penuh kebencian sambil menyesap winenya lagi. Apa yang dikatakan pria itu padanya benar-benar menyakitinya. Dengan kejamnya pria itu mengatakan jika namanya sudah lama terhapus dari hatinya. Padahal selama ini ia selalu memikirkan Suho dan segala impiannya yang ingin diwujudkannya bersama pria itu.
“Begitukah? Kurasa kau memang egois. Selama ini aku tidak pernah melarangmu untuk melakukan semua kegiatan yang kau suka, lalu saat aku memintamu untuk sebentar saja menungguku, kau langsung berpaling begitu saja dengan mudah. Kenapa semua pria selalu egois dan hanya memikirkan kebahagiaanya sendiri?” ucap Irene nanar. Suho memandang Irene dalam diam dan tampak tak berminat untuk berkomentar. Pria itu lebih memilih untuk menyesap winenya dan pada akhirnya ia menegak wine itu langsung dalam sekali tegukan.
“Apa kau mencintai Yuri?”
Suasana diantara mereka tiba-tiba berubah mencekam ketika Irene mulai melontarkan pertanyaan seputar perasaan pria itu pada istrinya. Namun sebenarnya dalam hati Irene masih menyimpan sebuah keyakinan jika Suho sama sekali tidak mencintai istrinya. Ia yakin jika kekasihnya itu masih mencintainya. Hanya saja mungkin Suho sedang mencoba untuk mengubur cinta itu dalam-dalam di hatinya.
“Aku mencintainya.”
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Suho memilih untuk buka suara terkait perasaanya pada Yuri. Lagipula mereka sudah resmi menikah di hadapan Tuhan. Ia yakin perasaan itu akan segera tumbuh seiring berjalannya waktu, meskipun saat ini perasaan itu belum muncul. Dan ia sekarang sedikit takut jika perasaan itu nantinya tidak akan muncul pada Yuri karena kehadiran Irene yang merusak segalanya. Segala rencana manis yang telah ia siapkan semenjak ia memutuskan untuk meninggalkan masa lalu dan melangkah ke depan bersama Yuri.
“Huh, kurasa kau mengucapkannya dengan sedikit tidak berperasaan. Kau terlalu datar ketika mengucapkannya. Berbeda ketika dulu kau menyatakannya padaku di sebuah bukit berbintang yang....”
“Cukup!” sela Suho tiba-tiba sambil mendorong tubuh Irene ke belakang hingga membentur sandaran sofa putih yang sedang didudukinya. Irene menatap manik mata Suho dalam-dalam sambil menyunggingkan senyum separuhnya yang sinis. Ia tahu jika kata-katanya telah mengusik Suho dan berhasil memprovokasi pria itu.
“Dulu dan sekarang tidaklah sama. Dulu aku memang menyatakan perasaanku dengan suasana yang romantis dan penuh dengan cinta. Tapi apa kau tidak lihat, sekarang Yuri justru mendapatkan yang lebih baik darimu, karena aku menyatakan semua perasaanku di depan Tuhan dan di depan seluruh keluargaku. Jadi kau jangan terlalu percaya diri dengan perasaanku padamu, karena kenyataanya apa yang kau dapat dulu tidak lebih baik dari apa yang didapatkan Yuri. Bahkan saat itu keluargamu atau keluargaku tidak ada yang mengetahui hubungan kita. Kau tak ubahnya seperti wanita simpanan untukku, Shin Irene.”
Plakk
Irene menampar pipi Suho keras-keras sambil menahan air matanya yang telah menggenang di pelupuk matanya. Tapi ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Suho. Apalagi pria itu baru saja menghinanya dan mengatakannya sebagai wanita simpanan. Dulu ia memang tidak ingin memberitahukan hubungannya pada keluarganya karena ia tidak ingin ayahnya kecewa. Sejak dulu ia hanya ingin membuktikan pada ayahnya jika ia adalah anak yang pintar dan bisa diandalkan, oleh karena itu ia sudah bertekad untuk tidak menjalin hubungan dengan pria manapun hingga ia lulus dari senior high school. Tapi sayangnya saat itu ia terpikat pada seniornya yang tampan dan merupakan cassanova di sekolahnya. Dan perasaan itu semakin tidak bisa ia abaikan setelah Suho juga menyatakan perasaanya di sebuah bukit berbintang yang indah.
“Jangan pernah menghinaku seperti itu karena kau adalah pria brengsek yang telah membuatku menjadi seperti ini. Kau yang membuatku terjerat ke dalam pesonamu dan membuatku melanggar seluruh mpphhhfff......”
Tiba-tiba Suho mencium bibir Irene dan menekan tengkuk Irene dengan kuat. Pria itu ******* bibir Irene rakus hingga Irene merasa kalap untuk mengimbangi permainan bibir pria itu yang sangat ahli.
“Apa yang telah kau masukan ke dalam minumanku, Shin Irene?” tanya Suho dengan suara tertahan. Terlihat jelas jika Suho sedang menahan gairahnya yang benar-benar tak bisa ia kendalikan. Sedangkan Irene justru semakin memperparah siksaan gairah Suho dengan memainkan jari-jari lentiknya di atas dada Suho yang bidang.
“Ternyata kau cukup cepat untuk menyadarinya jika aku telah memasukan obat perangsang di dalam minumanmu. Dan aku telah memasukan obat itu dalam dosis tinggi, malam ini kau jelas tidak akan bisa tidur jika kau tidak menyalurkannya. Ahh.. tapi sayangnya istrimu sedang tidak ada di sini untuk melayanimu, jadi bagaimana jika kita sedikit bermain-main malam ini, hmm?”
Irene mendekap kepala Suho dan menghembuskan napasnya di atas telinga Suho yang telah berubah menjadi sangat sensitif. Pria itu menggeram kesal dengan rencana Irene yang tidak ia sadari. Seharusnya sejak awal ia mengusir Irene dan tidak sedikitpun memberikan Irene kesempatan untuk masuk ke dalam kamarnya. Sekarang ia benar-benar merasa tersiksa dengan tubuhnya yang tiba-tiba berubah menjadi sangat sensitif. Bahkan helaan napas Irene yang jatuh di atas telinganya berhasil membut dirinya semakin terangsang dan tidak bisa menahan diri.
Sekarang satu-satunya wanita yang bisa menolongnya adalah Irene. Jika ia menunggu Yuri datang, ia tidak yakin ia bisa menahan semua siksaan itu lebih lama lagi. Apalagi pandangannya kini sudah semakin kabur karena dipenuhi kabut gairah yang hampir membutakan matanya. Mau tidak mau ia harus melakukannya dengan Irene.
“Sialan! Kau sengaja menjebakku agar hubunganku dengan Yuri hancur, kau memang licik, Irene! Kau wanita murahan.”
“Uhumm... katakan saja apapun sesukamu, tapi satu-satunya wanita yang bisa menolongmu sekarang adalah aku, jadi lebih baik bersikap baiklah padaku, atau kau akan menyesal karena telah menyia-nyiakan kehadiranku di sini.”
Irene mengakhiri kalimatnya sambil meniupkan hembusan-hembusan udara panas yang semakin membakar tubuh Suho. Pria itu akhirnya mendorong tubuh Irene semakin berbaring di atas sofa dan menindih tubuh itu dengan penuh kuasa. Persetan dengan statusnya yang telah resmi menjadi suami wanita lain, yang jelas ia harus segera menyalurkan hasrat itu sekarang, sebelum ia semakin tersiksa dengan semua kelicikan Irene.
“Datanglah padaku oppa, dan aku tidak akan menolakmu.” bisik Irene parau di telinga Suho sebelum pria itu ******* bibir merahnya dengan brutal dan tenggelam dalam pusaran gairah yang diciptakan oleh Irene.
__ADS_1