Kontratransferensi

Kontratransferensi
Episode 21


__ADS_3

            Pria itu menyeringai licik, menatap tajam pada rumah minimalis bercat putih di depannya sambil mengusap ujung bibirnya yang masih terasa basah setelah mencium bibir dan pipi Luciana. Malam ini ia berhasil memainkan perannya dengan baik untuk memancing Luciana masuk kedalam hidupnya. Mungkin ia gila karena telah bermain api di belakang Jihyun, tapi ia ingin melakukannya untuk memberikan pembalasan pada wanita itu karena sikap acuh tak acuhnya selama ini. Dengan adanya Luciana, ia bisa melupakan perasaan hampanya dan juga membuat Jihyun cemburu nantinya setelah wanita itu kembali dari New York. Ah, itu benar-benar rencana yang sempurna. Ia baru mendapatkannya beberapa jam yang lalu ketika bermain-main bersama Aleyna di kamar Luciana. Mulai sekarang ia harus lebih giat mendekati Luciana agar wanita itu dapat dengan mudah ia kendalikan. Lagipula malam ini ia cukup kesal pada Luciana yang telah menempatkannya pada suasana tidak menyenangkan selama sesi bermain kartu berlangsung. Ia sadar wanita itu perlahan-lahan sedang membuka masa lalunya dengan kartu-kartu itu. Namun untuk satu kartu yang menggambarkan seorang pria sedang menangis sambil berdiri membelakangi seorang wanita yang tengah tertidur di belakangnya itu, ia menceritakannya dengan sungguh-sungguh.


Ia sungguh-sungguh tidak bergairah pada Jihyun akhir-akhir ini. Setiap Jihyun pulang dan bergelung manja di dadanya, ia hanya membiarkan saja wanita itu bergerak-gerak sesukanya tanpa tergoda sedikitpun untuk menyentuhnya. Sedangkan Luciana, ia merasa wanita itu cukup misterius sehingga ia tertarik untuk mengetahui diri Luciana lebih jauh, bahkan ia merasakan gairahnya sedikit tersulut ketika menunduk terlalu dekat dengan wanita itu atau ketika ia mencium bibir tipisnya yang manis. Tapi ia merasa hal itu wajar terjadi pada seorang pria kesepian sepertinya. Ia saat ini hanya sedang membutuhkan pelampiasan, sehingga ia merasakan hal itu pada Luciana.


Drtt drtt


Joey melirik ponselnya sekilas, lalu mengangkat ponsel putih itu dengan malas sambil menempelkannya pada telinga kirinya yang bebas.


            “Halo, ada apa sayang?” tanya Joey tanpa perasaan. Pria itu terlihat sangat datar dan sama sekali tidak terlihat senang ketika Jihyun menghubunginya.


            “Sayang, bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu sayang.” ucap Jihyun manja. Joey terkekeh hambar di dalam mobilnya, lalu ia mulai menjalankan mobilnya pergi dari komplek rumah Luciana yang sepi.


            “Aku baik-baik saja sayang. Bagaimana dengan kabarmu di sana? Besok perusahaan akan


mengadakan pesta ulangtahun yang sangat mewah seperti biasa. Aku akan terlihat menyedihkan tanpamu.” ucap Joey berpura-pura sedih. Jihyun menghembuskan napasnya kecil di ujung teleponnya sambil menggigit-gigit kecil bibirnya karena merasa bersalah.


            “Maafkan aku, seharusnya aku berada di sana untuk menemanimu.”


            “Tidak apa-apa, fokuslah pada karirmu.”


            Joey sengaja mengucapkan hal itu untuk menyindir Jihyun atas ketidakpeduliaanya selama ini pada hubungan rumah tangga mereka. Namun ia tidak yakin Jihyun akan tersindir dengan kalimatnya yang seolah-olah mendukung karinya itu, karena Jihyun bukanlah tipe wanita yang peka seperti Luciana.


Luciana...


Lagi-lagi ia membandingkan Jihyun dan Luciana di dalam benaknya. Ia benar-benar telah melakukan hal itu puluhan kali tiap Jihyun menghubunginya atau setiap ia sedang termenung sendiri di rumah. Tiada hari tanpa membanding Jihyun dan Luciana. Mungkin karena akhir-akhir ini ia terlalu bergantung pada Luciana, sehingga


semua isi kepalanya selalu berkaitan dengan Luciana. Bahkan saat ia berada di Italipun, orang yang hadir di dalam setiap ingatannya adalah Luciana. Jadi ia sempat membelikan sebuah oleh-oleh untuk Luciana dan Aleyna, yaitu sepasang jam tangan pasangan untuk ibu dan anak. Tapi kemudian ia juga tergoda untuk membelinya untuk dirinya sendiri, jadi sekarang ia menggunakan jam tangan dengan model yang sama seperti milik Luciana dan Aleyna. Sayangnya jam itu tertinggal di dalam kopornya yang telah dibawa pulang oleh supirnya, sehingga malam ini ia tidak bisa memberikan jam tangan itu sebagai hadiah untuk Luciana dan Aleyna.


            “Sayang, tiga hari lagi aku akan pulang ke Seoul, apa yang kau inginkan sebagai oleh-oleh dari New York?”


            “Hmm, aku ingin kau pulang dengan selamat, itu saja. Tidak ada hal yang paling membahagiakan bagiku selain melihatmu selalu bahagia dan sehat.” ucap Joey mencoba romantis. Entah karena alasan apa ia bersikap romantis pada Jihyun malam ini. Mungkin itu semua sebagai bentuk permintaan maafnya karena telah menyulut api di belakang wanita itu. Malam ini dengan lancangnya ia telah mencium Luciana dan mencecap bagaimana rasa manis bibir mungil yang selama ini selalu memberinya nasihat mengenai pelajaran-pelajaran kehidupan. Dan setelah ia merasakan bagaimana nikmatnya bibir merah muda nan lembut itu, Joey merasa


tidak bisa berhenti untuk memikirkannya. Bayang-bayang bibir Luciana yang basah itu terus menerus terngiang di dalam kepalanya hingga ia ingin sekali memutar setir kemudinya untuk kembali ke rumah Luciana yang berjarak dua kilo meter di belakangnya.


            “Terimakasih, kau telah memberiku kesempatan untuk mengejar karirku. Aku janji tidak akan mengecewakanmu.”


            “Ya, jangan pernah mengecewakanku.”


            Tapi jangan menyesal jika aku mungkin mengecewakanmu.


            Batin Joey sebelum ia mematikan sambungan teleponnya dengan Jihyun. Pria itu lantas melemparkan asal ponselnya ke jok belakang dan kembali berkutat dengan jalanan Seoul yang sepi di pukul dua belas malam seperti ini. Ia akui, sesi konseling hari ini sebenarnya cukup menarik karena ia tidak pernah menyangka jika permainan kartu-kartu yang acak seperti itu dapat mengungkap sisi kelam masa lalunya, atau dapat mengungkap bagaimana perasaan yang tengah ia rasakan selama ini. Namun ia tidak suka kala Luciana bersikap seolah-olah itu hanya permainan kartu biasa tanpa memberikan efek samping yang tidak menyenangkan pada dirinya.


            “Aku benci mengenang masa lalu yang menyedihkan!”


-00-


            Pesta ulangtahun perusahaan maskapai penerbangan milik Joey digelar dengan begitu meriah di sebuah lapangan uji coba pesawat milik Lee Corp yang kini telah disulap sedemikian rupa menjadi tempat pesta outdoor yang sangat indah. Kerlap kerlip lampu dan hiasan khas pesta mewah terpasang disetiap sudut lapangan hingga membuat lapangan itu sangat indah dan berkilau. Sayangnya suasana pesta yang meriah itu belumlah lengkap tanpa kehadiran yang pemilik pesta yang saat ini masih terjebak di dalam mobil bersama Luciana yang tiba-tiba tidak mau turun karena gugup. Wanita itu sejak tadi terus meremas kedua tangannya yang dingin dan gemetar sambil mensugesti dirinya sendiri jika semuanya akan baik-baik saja. Sayangnya seluruh sugesti-sugesti itu tidak bisa menghilangkan kegugupannya yang menggila akibat ulah Joey yang memaksanya untuk menjadi pasangannya malam ini.


            “Ayolah, ini hanya pesta biasa. Kau tidak perlu segugup itu.”


            “Aku tidak akan segugup ini jika bukan karena kau. Apa yang akan orang-orang katakan di luar sana jika tiba-tiba aku berjalan keluar bersamamu. Semua orang pasti akan menghujatku lagi seperti dulu.” ucap Luciana kesal sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Joey bedecak kesal di sebelah Luciana sambil memandang gusar pemadangan ramai di depan mobilnya. Hari ini sudah tak terhitung berapa kali ia berdebat dengan Luciana. Mulai dari saat ia memaksa wanita itu untuk pergi ke butik bersamanya. Lalu dilanjutkan dengan insiden kemarahan Luciana karena wanita itu tidak mau menggunakan gaun yang ia pilihkan untuknya. Untung saja pada akhirnya wanita itu menurut dan bersedia untuk menggunakan gaun putih pilihannya yang tampas pas membalut tubuh Luciana. Namun semua itu tak lepas dari berbagai perdebatan kecil yang membuat suasana butik tempat ia membeli gaun menjadi heboh. Bahkan beberapa kali ia melihat para pelayan butik itu tertawa kearahnya karena terlihat konyol dengan pertengkaran kecil yang ia lakukan bersama Luciana. Dan lagi-lagi, sekarang ia harus melakukan hal yang sama untuk memaksa Luciana turun dari mobilnya. Ia harus berdebat lagi dengan Luciana hanya untuk menyeret Luciana keluar dari mobilnya. Jika ia tak segera turun sekarang, maka ia akan terlambat untuk memberikan sambutan di acara ulangtahun perusahaannya malam ini.


            “Ayo kita turun sekarang, aku harus segera memberikan kata sambutan di podium. Spencer telah menghubungiku sejak tadi.” bujuk Joey halus. Luciana menggeleng kecil di sebelah Joey sambil memberikan isyarat pada Joey untuk turun sendiri karena ia hanya akan menunggu di dalam mobil sepanjang acara berlangsung.


            “Aku tidak bisa, aku tidak seberani itu untuk turun bersamamu dan menciptakan skandal baru. Aku takut.” ucap Luciana lirih. Joey melihat adanya setitik kristal bening yang menggenang di sudut mata Luciana. Hal itu membuat hati Joey tiba-tiba merasa sakit karena ia tidak suka melihat konselornya bersedih. Lebih baik Luciana terlihat cerewet dan menyebalkan daripada bersikap menyedihkan seperti ini.


            “Tidak apa-apa. Turunlah bersamaku, mereka hanya akan mengenalmu sebagai salah satu investor di perusahaanku.”


            “Apa kau pikir mereka akan percaya? Aku pernah memiliki catatan buruk di masa lalu karena perceraianku dengan Rein. Aku takut.”


            Luciana membuang wajahnya ke samping dan menatap nanar pada kumpulan tamu undangan yang


mulai memadati area pesta yang sangat luas itu. Joey yang melihat Luciana terlihat rapuh, mencoba menguatkan Luciana dengan menggenggam telapak tangan dingin wanita itu dan meremasnya pelan.


            “Percayalah padaku, tidak akan ada apapun yang terjadi. Kau adalah tanggungjawabku sekarang, karena aku yang telah memintamu untuk menjadi pasanganku di acara ini. Jika seseorang berani mengeluarkan berita buruk tentangmu, kupastikan karir mereka akan tamat detik itu juga.” ucap Joey bersungguh-sungguh sambil mengecup punggung tangan Luciana. Wanita itu terlihat mematung di tempat sambil merasakan setiap getaran kecil yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Perlakuan Joey yang lembut itu menghipnotisnya perlahan-lahan dan membuatnya seketika bersedia untuk turun dari mobil bersama Joey.


            Saat mereka akhirnya turun, kilatan blitzpun langsung membanjiri mereka dengan heboh hingga Luciana rasanya sebentar lagi akan buta karena semua cahaya yang menusuk tepat di manik matanya.


            “Kau harus bertanggungjawab atas semua ini Joey Lee.” bisik Luciana geram sambil


mencengkeram erat lengan Joey. Wanita itu tak berani menatap kilatan blitz

__ADS_1


kamera yang tengah membidiknya dan hanya fokus pada sepatu kacanya yang terlihat begitu kontras dengan warna karpet merah yang dipijaknya. Luciana merasa tak habis pikir dengan jalan pikirannya sendiri akhir-akhir ini, mengapa ia begitu mudah dikendalikan oleh Joey. Setiap pria itu memintanya untuk melakukan sesuatu atau setiap pria itu menghubunginya di pagi-pagi buta hanya untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting, ia pasti akan melakukannya. Ia seperti sedang dihopnotis oleh Joey dengan segala kekuasaan yang dimiliki oleh pria itu. Bahkan ketika Joey menciumnya semalam, ia sama sekali tak berontak dan justru mengikuti irama bibir pria itu yang sangat memabukan. Ia sadar perbuatannya akhir-akhir ini telah melewati batas. Namun ia tak kuasa untuk mendorongnya menjauh dari kehidupannya atau hanya sekedar menolak pesona Joey yang sialnya sangat mematikan. Pria itu telah berhasil menyentuh titik terdalam


perasaannya hingga ia tak kuasa untuk menolak setiap pesona yang dipancarkan


oleh pria itu di depannya.


            “Rileks, aku hanya akan mengucapkan sedikit sambutan sekarang.”


            Luciana menatap Joey dalam diam sambil mencoba memberanikan diri untuk menatap seluruh tamu undangan yang kini sedang menatapnya dengan berbagai macam ekspresi. Sebagian diantara mereka pasti tidak asing dengan wajahnya yang dulu pernah menghiasi layar kaca dan media-media cetak dengan berita buruk mengenai perselingkuhan suaminya. Dan sekarang mereka pasti berpikir jika ia sedang


berselingkuh dengan Joey karena pria itu bukannya datang bersama istrinya, melainkan bersama dirinya yang notabenenya tidak memiliki hubungan apapun selain hubungan kerja antara konselor dan klien.


            “Selamat malam, perkenalkan wanita ini adalah salah satu rekan bisnisku. Malam ini ia datang bersamaku sebagai tamu kehormatan Lee Corp karena jasa-jasanya untuk Lee Corp yang tidak bisa kukatakan pada kalian semua. Kuharap kalian tidak berpikiran buruk mengenai kedatangannya malam ini denganku, karena Luciana Im adalah tamu kehormatan Lee Corp yang sangat spesial.”


            Seluruh tamu undangan yang hadir disanapun langsung memberikan tepuk tangan meriah yang begitu riuh untuk Luciana dan Joey. Wanita itu kemudian mulai berani untuk mengangkat wajahnya dan menatap satu persatu kamera milik paparazzi dengan penuh percaya diri. Malam ini Joey benar-benar menepati janjinya untuk tidak


menempatkannya pada posisi yang sulit. Malam ini pria itu telah membuatnya memiliki citra baik di masyarakat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


            “Terimakasih.”


            Luciana berbisik pelan di samping Joey sambil menatap penuh haru pada pria tampan di depannya yang juga sedang menatapnya dengan tatapan teduhnya yang menenangkan. Pria itu merasa senang ketika Luciana mendapatkan kepercayaan dirinya kembali setelah selama ini wanita itu selalu dilingkupi perasaan takut akibat berita perceraiannya di masa lalu. Dan mulai detik ini ia bersumpah pada dirinya  sendiri jika ia akan membuat Luciana kembali mendapatkan kepercayaan dirinya seperti dulu. Ia akan membantu Luciana untuk keluar dari masa lalunya yang kelam seperti Luciana yang selalu menenangkan hatinya yang dilanda kekosongan.


-00-


            Acara pesta ulangtahun itu masih berjalan heboh dan meriah. Berbagai macam hiburan dan makanan terbaik telah disediakan oleh Joey khusus untuk merayakan malam yang sangat berharga untuk perusahaanya. Malam dimana perusahaan kecil milik ayahnya yang dulu belum berkembang pesat, kini telah berkembang pesat berkat jerih payahnya selama ini.


        Sejak tadi ia tidak pernah sedikitpun menjauh dari Luciana. Ia selalu menggenggam tangan Luciana kemanapun ia pergi dan mengenalkan Luciana sebagai relasi bisnisnya yang sangat spesial pada semua rekan-rekan kerjanya.


            “Perkenalkan, ini adalah Spencer. Sahabat sekaligus manajer keuangan di perusahaanku.”


            Setelah berputar-putar mengelilingi lapangan luas itu kesana kemari, Joey membawa Luciana pada Spencer yang saat ini sedang menikmati segelas anggur bersama istrinya, Alice.


            “Selamat malam Spencer ssi, senang bertemu denganmu.”


            Spencer menyambut hangat uluran tangan Luciana dan balas memperkenalkan istrinya yang berdiri di sebelahnya dengan senyuman manis yang terpatri di wajahnya.


            “Halo, namaku Alice. Aku istri Spencer.”


            Kedua wanita itu saling berjabar tangan dan melemparkan senyum manis masing-masing sambil memulai sebuah percakapan khas wanita.


            Spencer yang melihat istrinya sedang asik mengobrol bersama Luciana, langsung menggunakan kesempatan itu untuk menarik lengan Joey menjauh, dan memaksa pria itu untuk menjelaskan semua kejutan yang pria itu berikan malam ini padanya.


            “Jelaskan padaku.”


            “Apa? Apa yang perlu kujelaskan padamu Spenc?”


            “Tentu saja mengenai Luciana. Kenapa tiba-tiba kau mengajak Luciana datang ke acara pesta perusahaan sementara istrimu sedang pergi ke New York untuk urusan pekerjaan. Kau sengaja ingin membuat skandal dengannya?” Serang Spencer bertubi-tubi. Joey mengedikan bahu acuh tak acuh pada Spencer sambil menatap siluet tubuh Luciana yang tampak indah dari samping. Malam ini Luciana benar-benar sangat cantik. Ia terlihat begitu bersinar dengan gaun putih panjang pilihannya, dan rambut coklat panjang yang menggantung di sepanjang punggungnya. Ah, ia merasa ingin meraba punggung mulus itu dengan telapak tangannya yang besar. Sudah lama ia tidak menyentuh kelembutan kulit wanita semejak Jihyun pergi ke New York untuk urusan pekerjaan sialannya.


            “Aku hanya butuh pasangan, itu saja. Berhubung hanya Luciana wanita yang dekat denganku saat ini, jadi aku memutuskan untuk membawanya sebagai pasanganku.”


            “Lalu bagaimana dengan Jihyun? Bagaimana jika kedekatanmu dengan Luciana akan menimbulkan konflik baru diantara kau dan Jihyun? Atau jangan-jangan kau ingin menggunakan Luciana sebagai objek pelampiasanmu pada Jihyun.” Selidik Spencer dengan mata menyipit. Joey terkekeh pelan pada temannya yang cerdas itu, lalu menjentikan jarinya keras di depan mata Spencer yang masih menatapnya dengan pandangan menelisik.


            “Bingo! Kau memang cerdas Spenc. Aku memang ingin membuat skandal dengan Luciana agar Jihyun cemburu. Tapi kau tenang saja, aku tidak akan melakukan hal-hal yang lebih jauh dari ini. Hubunganku dan Luciana hanya akan sebatas klien dan konselor, tidak lebih.” Tegas Joey memberitahu. Pria itu kemudian berjalan pergi menghampiri Luciana dan merangkul pinggang wanita itu tiba-tiba.


            “Eh, ada apa?” tanya Luciana kaget. Ia yang sebelumnya sedang asik mengobrol bersama Alice membicarakan masalah kehidupan mereka tidak menyadari kehadiran Joey yang


tiba-tiba muncul di sampingnya.


            “Ayo kita berdansa.” ajak Joey setengah memaksa. Pria itu menarik pinggang Luciana ke tengah kerumunan orang orang yang sedang berdansa tanpa mempedulikan rontaan Luciana yang menahannya untuk berhenti.


            “Aku tidak bisa berdansa, lepaskan tanganku!”


            “Ck, bohong. Kau pasti bisa. Aku akan menuntunmu jika kau tidak bisa.”


            Joey menarik tangan Luciana paksa, lalu mengalungkan tangan mulus itu di lehernya. Ia kemudian memegang pinggan Luciana erat dan mulai melangkah mengikuti alunan musik klasik yang sedang dimainkan oleh sekelompok tim orkestra terkenal Korea.


           “Kenapa kau selalu memaksaku sesuka hatimu?” Dengus Luciana kesal. Wanita itu dengan terpaksa mengikuti langkah kaki Joey kesana kemari, mengikuti alunan musik klasik yang indah meskipun ia cukup terseok-seok untuk mengimbangi kemampuan Joey dalam berdansa.


            “Karena kau memang harus dipaksa. Lagipula bukankah ini menyenangkan, kau akan memiliki pengalaman berdansa dengan seorang CEO terkenal sepertiku. Setelah kau tidak menjadi konselorku lagi, kau pasti akan merindukan saat-saat seperti ini.”


            “Cih, percaya diri sekali kau tuan Lee. Jika aku tidak menjadi konselormu lagi, maka aku akan hidup lebih damai dan lebih tenang. Apa kau sadar jika selama ini kau menyusahkanku? Kau sering mengusikku di luar jam kantor dan menggangguku di tengah malam untuk mendengarkan serangkaian cerita kegiatan sehari-harimu.” ucap Luciana panjang lebar dengan ekspresi wajah kesal yang kentara di wajahnya. Joey tiba-tiba tertarik untuk mengamati gerakan bibir Luciana yang terlihat cukup menggoda di depannya. Entah karena lipstik yang dipakai Luciana atau karena bibir Luciana yang memang terlampau seksi, ia merasa ingin sekali meraup bibir tipis itu. Melumatnya dan mengulumnya bersama lidahnya yang basah.

__ADS_1


            “Sayangnya kau tidak akan mendapatkan ketenangan itu dalam waktu dekat ini, karena aku masih ingin menjadi klienmu. Dan kau juga belum memberikan hasil dari permainan kartumu yang bodoh kemarin.” balas Joey menyebalkan. Seketika wajah Luciana memerah ketika ia mengingat kejadian kemarin malam ketika Joey menciumnya. Pria itu benar-benar sangat gegabah dengan melakukan hal nekat itu padanya, karena efek yang ditimbulkan dari ciuman itu tidak bisa hilang begitu saja. Hingga saat ini Luciana masih merasakan getaran-getaran itu di bibirnya setiap kali mengingat ciuman basah yang diberikan Joey di bibir dan juga pipinya.


            “Aku sudah memproses hasil tes kartu kemarin.”


            “Apa hasilnya? Katakan saja, aku ingin mendengarnya.”


            “Dari apa yang kusimpulkan, kau pernah mengalami saat-saat sulit di masa lalu yang menyebabkan kau ingin bunuh diri tapi kau mengurungkan niatmu karena kau sadar jika kau akan mengecewakan banyak orang jika melakukannya.”


            “Lalu?” sembari menggerakan langkah kakinya mengikuti irama musik klasik yang menenangkan, Joey mencondongkan wajahnya mendekati bibir Luciana dan berbisik mesra tepat di


depan bibir Luciana yang bergetar karena gugup.


            “La lalu kau berjuang. Sebenarnya dulu kau bisa mencari jalan keluar sendiri untuk masalahmu, tapi kenapa sekarang kau justru tidak bisa? Kulihat kau berpotensi untuk melakukannya, kau adalah pemimpin yang kuat.”


            “Begitukah?” tanya Joey menggantung. Ia belum pernah mendapatkan pujian seperti itu. Selama


ini ia selalu merasa menjadi seorang pemimpin yang lemah dan tidak bisa melakukan apapun. Namun Luciana justru menganggapnya sebaliknya. Bahkan Jihyunpun tidak pernah memujinya sebagai seseorang yang hebat dan tangguh.


            “Kau bisa sebenarnya, tapi kau hanya ragu karena kau merasa sendiri dan tidak ada yang mendukungmu.”


            “Kalau begitu dukung aku.”


            “Aku sudah melakukannya. Aku mendukungmu.” Jawab Luciana apa adanya sambil tersenyum tulus. Joey menghentikan gerakan dansanya tiba-tiba. Ia kemudian mengangkat dagu Luciana sedikit mendongak kearahnya dan menatap manik itu tajam.


            “Dukung aku apapun yang terjadi. Berjanjilah padaku.”


            “Aku berjanji. Jika kau bahagia, aku juga akan ikut bahagia.”


            “Aku juga akan bahagia jika kau bahagia. Bagaimana jika kita menciptakan kebahagiaan itu sendiri.”


            “Bagaimana caranya?”


            Joey tersenyum misterius. Sejujurnya ia juga tidak tahu bagaimana menciptakan kebahagiaan itu. Ia hanya asal bicara. Hanya mengeluarkan apa yang menari-nari di dalam otaknya, lalu memberitahukannya pada Luciana.


            “Kita akan menemukan caranya nanti. Ini sudah malam, ayo kita pulang. Bukankah kita harus menjemput Aleyna di rumah Karen?”


            Luciana mengangguk setuju dan sedikit melirik jam tangannya yang telah menunjukan pukul setengah sebelas malam. Aleyna pasti sudah tidur di rumah Karen. Namun ia tidak bisa membiarkan Aleyna menginap di rumah Karen karena gadis itu besok harus masuk sekolah.


            “Apa tidak apa-apa kita pulang sebelum acara ini selesai?”


            “Tenanglah, acara ini milikku. Jadi semuanya terserah padaku.”


            Joey menyampirkan jas hitamnya di atas pundak Luciana, lalu menggandeng tangan Luciana keluar dari tempat pesta yang terlihat semakin sesak menjelang tengah malam. Pukul dua belas nanti memang akan diadakan pesta kembang api. Sayangnya Luciana tidak bisa melihatnya karena ia harus menjemput Aleyna di rumah Karen sebelum malam semakin pekat dan larut.


            “Terimakasih telah mengajakku ke acara ulangtahun perusahaanmu, hari ini sangat menyenangkan.” ucap Luciana tulus ketika mobil Joey mulai keluar dari area pesta perusahaanya.


            “Aku juga ingin berterimakasih padamu karena malam ini kau bersedia menjadi pasanganku. Yahh.. walaupun dengan banyak kebohongan di dalamnya. Maafkan aku, aku tidak bisa memberikan sesuatu yang indah malam ini untukmu.”


            “Tidak tidak, hari ini sangat luar biasa. Terimakasih atas semuanya. Gaun ini sangat indah, aku menyukainya.”


            Setelah itu tidak ada lagi yang memulai percakapan. Luciana memilih untuk diam sambil menatap jalanan sepi di sampingnya. Ia tiba-tiba merasa canggung bersama Joey, entah karena apa. Padahal seharusnya ia bisa menyikapi semua peristiwa hari ini dengan santai. Namun saat mengingatnya, ia justru dibuat gugup dan juga aneh.


Ia merasa hari ini telah melakukan kesalahan besar dengan pergi bersama Joey dan menjadi pasangan untuk pria itu. Ia seperti telah menjadi seorang wanita pengganggu yang akan merusak hubungan rumah tangga Joey dengan istrinya. Namun hati sebagian hatinya justru mendukung semua bentuk kedekatannya dengan Joey hari ini. Sebagian hatinya saat ini sedang bersorak senang karena malam ini Joey telah menjadi seorang pria yang gentle untuknya.


            “Ngomong-ngomong, kapan istrimu kembali dari New York?”


            “Kenapa tiba-tiba kau menanyakan istriku? Kau takut?” Tanya Joey tanpa mengalihkan pandagannya dari jalanan lenggang di depannya.


            “Kenapa aku harus takut? Aku hanya khawatir jika ia akan salah paham saat ia kembali nanti.” jelas Luciana berusaha tenang. Padahal apa yang dikatakan Joey benar adanya. Ia takut!


            “Tiga hari lagi dia akan kembali.”


            “Wah itu bagus, kau tidak akan kesepian lagi dan mengganggu kehidupanku yang tenang. Setidaknya setiap malam kau tidak perlu menghubungiku atau datang ke rumahku untuk mengurangi rasa hampa yang kau rasakan selama ini.”


            “Sebegitu mengganggukah aku di matamu?” Tanya Joey dingin. Luciana langsung mengunci bibirnya rapat-rapat saat sadar jika ia telah salah bicara.


            “Bukan begitu. Kenapa sejak tadi kau sensitif sekali?” Sungut Luciana kesal.


            “Aku bukannya tidak suka, aku hanya mengkhawatirkan kesehatanmu. Bagaimana jika kau sakit karena tidur terlalu larut? Aku tahu pekerjaanmu sangat padat di siang hari, kemudian ditambah masalahmu dengan Jihyun dan pola tidurmu yang tidak teratur dapat membuatmu collapse karena kelelahan.” Lanjut Luciana mengelak.


            “Semoga saja Jihyun memang dapat mengatasi semua kekosongan ini. Dan kuharap aku tidak ketergantungan padamu.”

__ADS_1


             Luciana menoleh cepat ke samping ketika ia mendengar Joey mengatakan sesuatu mengenai ketergantungan. Wanita itu terus menatap Joey dalam untuk meminta penjelasan pada pria itu, namun pria itu justru tidak menjawab dan mengabaikan Luciana begitu saja yang masih memasang ekspresi menuntut jawaban di sampingnya. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, akhirnya Luciana memilih membuang wajahnya ke samping kanan sambil meremas jari-jarinya kuat. Ia sekarang juga takut jika Joey akan ketergantungan padanya karena seorang klien yang sudah terlalu bergantung pada konselornya akan sangat sulit untuk melepaskan diri dari konselornya.


__ADS_2