
Suho pov
Tak pernah kubayangkan jika kehidupanku setelah bercerai dengan Yuri dan kepergian Irene akan sangat menyedihkan seperti ini. Setiap hari aku merasa kosong dan hampa. Sebagian jiwaku pergi ke belahan bumi lain sambil membawa beban di pundaknya. Mengingat hal itu aku merasa benar-benar bersalah dan sangat ingin menebusnya. Tapi aku merasa tak punya keberanian untuk melakukan hal itu. Apalagi selama ini aku selalu berlaku kasar padanya. Aku selalu menyakitinya dan membuatnya menangis di malam-malam sunyinya yang dingin. Kira-kira bagaimana kabarnya sekarang? Apa ia sudah menikah dan hidup bahagia dengan suaminya, seperti yang ia katakan dulu?
Dulu aku berencana untuk kembali pulang ke hatinya dan memperbaiki semuanya. Tapi setelah aku merenung selama tiga hari, aku tiba-tiba menjadi sadar. Irene, ia mengatakan padaku jika ia akan menikah dengan pria pilihan ayahnya. Jika aku datang, aku mungkin akan merusak semuanya dan membuatnya kembali tersakiti.
Oleh karena itu aku membatalkan niatku untuk pergi menemuinya dan memilih untuk menjalankan kehidupan hampaku di sini. Tapi hingga tiga bulan berlalu setelah kepergiannya, aku tetap tidak bisa melupakannya. Aku selalu mengingatnya, bahkan saat malam percintaan panas kami yang tak terduga itu, aku selalu membayangkannya. Aku bergairah padanya, dan aku tidak bisa bergairah dengan wanita lain selain dirinya.
Shin Irene, dia memang cinta sejatiku. Kepulangannya membuatku kembali mencintainya karena dia bisa membuktikan padaku jika ia bisa membuatku mencintainya. Meskipun sikap keras kepalanya dam liciknya sempat membuatku geram, tapi tanpa sadar aku menikmatinya. Aku menikmati semua permainan yang telah dilakukan Irene. Wanita itu dalam sekejap mampu menjungkirbalikan hidupku lagi seperti dulu. Bahkan ia membuatku tidak bisa merasakan kasih sayang dari istriku sendiri. Seharusnya saat ia muncul pada acara pernikahanku, aku langsung membatalkan pernikahanku dengan Yuri, karena pada saat itu pun jantungku terus bergetar dengan brutal tatkala wajah cantiknya meyunggingkan senyum padaku, dan tangan halusnya terulur untuk menjabat tanganku.
Ia benar-benar wanita yang menganggumkan dan wanita yang paling kuinginkan. Tapi sekali lagi, aku memang bodoh. Aku dengan naifnya menolak Irene datang ke dalam kehidupanku dan menganggap jika semuanya akan baik-baik saja karena aku bisa mengendalikan perasaanku padanya. Huh, tapi ternyata aku tidak bisa. Pertahananku bahkan langsung runtuh hanya karena sebuah obat perangsang. Padahal saat itu aku bisa
saja menghindarinya dengan pergi ke kamar mandi dan berendam di sana hingga semuanya kembali normal. Tapi sejak awal, sejak Irene muncul di depan pintu kamarku dengan wajah cantik dan lipstik merah menyala yang seksi, aku sudah mendambakannya. Aku menginginkannya dan semua hal yang kulakukan padanya bukan semata-mata karena obat perangsang, tapi karena diriku sendiri. Aku benar-benar ingin memilikinya saat itu!
Saat aku terjaga di tengah malam dengan peluh yang membanjiri wajahku setelah bercinta, aku sempat membisikan kata cinta dan ucapan terimakasihku padanya karena ia adalah wanita pertama untukku. Tapi setelah itu aku kembali bersikap dingin padanya. Bahkan aku sempat melemparnya di depan ruanganku saat ia tengah mengandung. Betapa brengseknya aku karena telah memperlakukan wanita yang sedang mengandung anakku dengan sangat kasar seperti itu. Lalu aku merasa bersalah dan memutuskan untuk datang ke apartementnya untuk melihat keadaanya. Tapi lagi-lagi aku bersikap kasar dengan menggedor-gedor pintu apartementnya dengan keras dan kasar. Lalu ia membukakan pintu untukku dengan wajah pucat yang sangat menyedihkan. Ia sedang mengalami morning sickness. Ia mengalami hal itu karena aku! Kemudian aku melihatnya merosot di bawah wastafel dengan keadaan yang sangat tidak berdaya. Dan saat itu aku bersumpah aku ingin selalu melindunginya dan berada di sisinya.
Tapi setelah itu aku justru membuat kesepakatan yang membuatnya marah dan merasa terluka. Aku menawarkan diri untuk mengakui anaknya sebagai anakku, namun aku mengancamnya untuk menjauhiku. Ia pun dengan wajah terluka membalasku dengan kata-kata kasarnya dan langsung pergi begitu saja untuk pulang. Betapa saat itu aku merasa menyesal karena telah mengatakan hal itu padanya. Tapi kemudian ia kembali bersikap licik dengan mengganggu kehidupanku dan Yuri yang tenang.
Ia terus menerorku dengan berbagai ancaman yang selalu membuatku was-was. Saat itu aku hanya takut
akan menyakiti Yuri, karena keputusan untuk menikahi Yuri adalah keputusan yang kubuat sendiri. Bagaimana jadinya jika keputusan itu justru kulanggar sendiri? Aku tidak siap dengan hal itu. Oleh karena itu aku berbalik mengancam Irene dan memperlakukannya dengan semena-mena. Aku berbuat kasar padanya dan aku sering
menggedor pintu apartementnya untuk marah-marah padanya, untuk menumpahkan semua ketakutan hatiku akan perbuatannya yang akan menghancurkan kehidupan rumah tanggaku dengan Yuri.
Padahal seharusnya aku tidak perlu bersikap seperti itu padanya. Dengan aku bersikap seperti itu padanya, ia akan semakin senang dan menganggap usahanya berhasil karena aku telah termakan oleh provokasinya. Tapi lagi-lagi aku memang tidak bisa menahan diri. Semua itu terjadi karena aku memiliki maksud lain. Aku ingin melihat wajahnya dan aku ingin melihat keadaanya.
Saat usia kandungannya menginjak lima bulan, untuk pertama kalinya aku merasakan pergerakan bayiku di perutnya. Saat itu di tengah-tengah aura kemarahan yang melingkupi kami, ia tiba-tiba menempelkan tanganku di atas permukaan perutnya yang membuncit. Ia menyuruhku untuk merasakan pergerakan anak kami yang begitu aktif. Saat itu rasanya benar-benar tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku sangat bahagia dan aku merasa seperti seorang ayah sungguhan yang sedang menanti kelihiran anaknya.
Namun dibalik sikap manisnya itu, ternyata ia sedang merencanakan sesuatu. Ia sengaja membuatku
terlihat seperti itu agar Yuri melihatnya dan kami berpisah. Dan apa yang diinginkannya benar-benar terjadi. Tak lama setelah hal itu terjadi, Yuri memintaku untuk bercerai. Tapi kemudian ia justru meninggalkanku. Ia pergi
__ADS_1
meninggalkanku dengan segala kesalahpahaman yang mungkin bersarang di kepalanya. Meskipun ia tahu jika selama ini aku masih mencintainya dan menginginkannya, tapi ia tidak tahu jika aku telah bercerai dengan Yuri karena ia kembali ke New York. Ia tidak tahu jika usahanya untuk membawaku kembali padanya berhasil. Dan ia tidak tahu jika kehidupanku sekarang sangat menyedihkan setelah kepergiaannya.
“Permisi, apakah kau Jung Hana, wanita yang mengirmiku pesan beberapa menit yang lalu?”
Aku bertanya pada seorang wanita muda yang sedang duduk sendiri di dalam sebuah kafe sambil memandangi pemandangan jalanan Seoul yang mendung. Seketika wanita itu menoleh padaku sambil menyunggingkan senyum yang menghangatkan hati, tapi entah kenapa menurutku hanya senyum Irene yang benar-benar dapat menghangatkan hatiku.
Aku menarik kursi kayu yang berada di depannya dan mulai menyapanya dengan sapaan basa-basi yang membosankan. Sebenarnya ini semua kulakukan demi Chan. Berkali-kali pria itu datang ke kantorku atau ke rumahku untuk melihat bagaimana keadaanku setelah aku berpisah dengan Yuri dan kehilangan Irene. Selama ini dia adalah satu-satunya sahabatku yang mengetahui semua masalahku. Bahkan orangtuaku pun tidak tahu mengapa aku dan Yuri tiba-tiba bercerai. Mereka hanya tahu jika kami berdua bercerai karena kami ternyata tidak cocok satu sama lain, bukan karena masalah wanita yang tiba-tiba datang di tengah-tengah kehidupan kami. Untung saja orangtuaku cukup memahamiku dan tidak ingin ikut campur terlalu jauh, sehingga mereka akhirnya menerima keputusanku, meskipun dengan perasaan sedikit kecewa karena mereka menyukai Yuri.
“Jadi Lee Suho ssi, sebelum ini kau sudah pernah menikah?”
Aku tersenyum sekilas dan menganggukan kepalaku santai. Sudah banyak wanita-wanita di luar sana yang menanyakan statusku yang pernah menikah sebelumnya, dan aku tidak malu dengan hal itu. Aku justru merasa senang karena setelah aku bercerai dengan Yuri, aku dapat memahami apa itu artinya cinta dan pengorbanan.
“Aku sudah pernah menikah dan kami bercerai karena seorang wanita yang muncul di tengah-tengah hubungan kami, karena aku menghamili wanita itu.”
Jung Hana tersenyum kecil di depanku dan membuatku tertegun sejenak. Biasanya wanita-wanita yang dikenalkan Chan padaku akan terbelalak kaget dan memandangku sinis setelah aku mengucapkan hal yang sejujurnya pada mereka. Namun wanita yang sedang duduk di depanku ini justru tersenyum kecil dan sama sekali tidak melemparkan tatapan jijik atau memusuhi padaku. Sebenarnya siapa dia?
“Wow, aku benar-benar kagum dengan pengakuanmu yang jujur itu. Dan aku sangat menyukainya. Menurutku pria yang jujur dan tidak menutup-nutupi masa lalunya itu sangat sulit untuk dicari.”
“Jadi kau menganggap pria brengsek sepertiku ini seperti itu? Hmm, aku sangat kagum dengan kemampuan toleransimu pada masa lalu seseorang. Tapi jika kau tertarik padaku dan menginginkanku untuk tertarik padamu juga, maaf aku tidak bisa. Aku ke sini hanya karena aku tidak ingin mengecewakan Chanyeol. Lebih baik aku pergi sekarang dan lebih baik kau cari saja pria lain yang jauh lebih baik dariku karena kau pantas mendapatkan yang terbaik, bukan pria yang sudah rusak sepertiku.”
Pengalaman saat aku masih berstatus sebagai suami Yuri, aku membiarkan saja Irene masuk ke dalam hidupku dan berharap semakin lama ia akan semakin tersakiti dengan hubunganku dan Yuri. Namun dugaanku salah, Irene adalah wanita kuat yang memiliki pola pikir yang berbeda dari kebanyakan wanita pada umumnya. Sehingga membiarkannya masuk ke dalam kehidupanku dan Yuri justru membuatnya semakin memiliki kesempatan untuk mengambil hatiku, dan pada akhirnya ia berhasil. Ia berhasil membuatku kembali bertekuk lutut padanya dengan segala kelicikannya yang memabukan.
“Tunggu, kau salah Lee Suho ssi. Aku memang tertarik denganmu, tapi aku tidak ingin menjalin hubungan denganmu. Aku hanya ingin mengenalmu dan berbagi pengalaman denganmu karena aku juga pernah mengalami hal yang sama denganmu, aku pernah menikah dan sekarang aku telah bercerai dengan suamiku, tapi bukan karena seorang wanita, karena sebab lain. Jadi maukah kau duduk dan berbagi cerita denganku?”
Aku terhenyak sejenak oleh ucapan wanita itu. Penawarannya benar-benar mengusik hatiku untuk kembali duduk dan mengucapkan berbagai keluh kesah yang selama ini mengganjal di hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali duduk di tempatku sambil menatap manik mata Jung Hana dalam. Kuharap ia benar-benar membuktikan ucapannya dan tidak menganggap hal ini sebagai tahap pendekatan ke hubungan yang lebih serius.
“Baik, aku akan tinggal dan berbagi cerita denganmu.”
Aku kembali mendudukan diriku di depannya sambil menunggunya untuk mengucapkan sesuatu padaku. Lagipula aku cukup penasaran dengan masa lalunya yang membuatnya harus ditinggalkan. Padahal menurutku dia adalah wanita yang menarik dan akan digilai banyak pria.
“Pertama-tama aku ingin mengetahui alasanmu bercerai dengan istrimu dan mengapa kau bisa terlibat dengan wanita lain?”
__ADS_1
“Alasan kami bercerai tentu saja karena kehadiran orang ketiga di dalam kehidupan rumah tangga kami. Dan kenapa aku bisa terlibat dengan wanita itu karena dia adalah mantan kekasihku yang pergi lima tahun lalu karena ingin melanjutkan studinya di Amerika. Tapi karena ia jarang memberiku kabar, aku berpikir ia telah melupakanku dan membuatku patah hati di sini.”
“Tanpa kutahu ternyata ia sedang berjuang keras di sana untuk membahagiakan ayahnya, satu-satunya keluarga yang ia miliki agar ia bisa menjadi seorang pebisnis yang sukses. Lalu sepuluh bulan yang lalu ia tiba-tiba muncul di acara pernikahanku dan menebarkan teror di dalam kehidupan rumah tanggaku. Ia mencoba untuk menarikku ke dalam pelukannya kembali, dan membuatku tidak bisa menikmati kehidupan rumah tanggaku karena aku sebenarnya masih mencintainya.” ceritaku dengan mimik sedih. Kurasa wanita ini adalah satu-satunya yang berhasil mendapatkan kepercayaanku untuk berkeluh kesah.
“Yah.. dalam hal ini akulah yang salah. Disaat hatiku belum siap untuk menerima wanita lain, aku mengambil keputusan yang gegabah untuk menikahinya dan berharap jika suatu saat luka hatiku akan sembuh karena kehadiran wanita itu. Tapi siapa sangka jika ternyata mantan kekasihku itu datang dan memporak-porandakan hatiku. Dalam sekejap ia telah membuatku goyah dengan janji suci yang telah kubuat di atas altar. Ia berhasil menjungkirbalikan dan membawaku ke dalam pelukannya. Bahkan ia merencanakan banyak rencana gila yang selama ini tidak pernah kupikirkan.” Aku bercerita dengan penuh ironi, sedangkan wanita bernama Jung Hana itu masih setia mendengarkan ceritaku dengan wajah serius. Hebat! Ia adalah wanita yang penuh rasa simpati yang bagus.
“Seperti apa? Apa yang telah ia lakukan padamu?”
“Seperti menghancurkan dirinya sendiri agar mengandung darah dagingku. Itu semua ia rencanakan dengan sangat matang dan halus. Ia pertama-tama membuat istriku tertidur di dalam ruang spa, kemudian ia datang ke kamarku dengan dalih ingin menyelesaikan semua permasalahn kami di masa lalu. Tapi ternyata ia justru memperumit masalah diantara kami dengan memasukan obat perangsang ke dalam wine yang kuminum, lalu semuanya terjadi. Malam pertama yang seharusnya kulakukan dengan istriku justru kulakukan dengannya. Dan setelah malam percintaan kami, aku sama sekali tidak bisa menyentuh istriku. Setiap kali aku ingin melakukannya, justru bayangan percintaanku dan mantan kekasihku yang muncul dan membuatku tidak sanggup untuk menyentuh istriku karena aku tidak ingin menyakitinya terlalu jauh. Ia adalah wanita yang baik, dan ia seharusnya mendapatkan pria yang lebih baik dariku untuk hidup bersamanya. Jadi ketika semuanya telah terbongkar dan ia mengirimkan surat cerai padaku, aku langsung menandatanganinya tanpa perlawanan. Keesokan harinya aku membawa surat itu ke pengadilan dan kami langsung dinyatakan bercerai saat itu juga.”
Jung Hana menatapku dengan tatapan prihatin yang sulit diartikan. Di satu sisi ia sepertinya merasa iba padaku, namun di sisi lain aku juga melihat adanya kilatan tidak suka di sudut matanya. Tapi menurutku itu wajar. Semua wanita yang mengetahui masa laluku memang harus membenciku dan menjauhiku agar mereka tidak mendapatkan apa yang didapatkan Yuri dan Irene dariku.
“Wow, itu benar-benar cerita yang rumit Lee Suho ssi, dan juga menyedihkan. Lalu dimana kekasihmu itu setelah kau bercerai dengan istrimu, kenapa kau tidak menikah dengannya jika kau memiliki anak darinya?”
“Huh, dia pergi. Setelah dia menghancurkan segalanya, dia pergi meninggalkanku ke Amerika dan hendak dijodohkan oleh ayahnya. Mungkin ia juga sama frustrasinya denganku, sehingga ia langsung menerima penawaran ayahnya begitu saja, dan pergi meninggalkanku yang sedang hancur di sini. Tapi menurutku ia tidak tahu tentang perceraianku dengan istriku, sehingga ia memutuskan untuk pergi setelah ia pikir semua usahanya tidak membuahkan hasil. Padahal apa yang ia lakukan selama ini untuk membawaku kembali padanya benar-benar berhasil. Ia berhasil membuatku kembali bertekuk lutut padanya.”
“Lalu kenapa kau tidak berusaha untuk menyusulnya ke Amerika dan menjelaskan semuanya? Kurasa jika saat itu kau langsung pergi menyusulnya, semua belum terlambat. Tapi jika kau sekarang ingin memperjuangkannya, aku tidak yakin ia masih sendiri. Bagaimanapun ayahnya pasti tidak ingin anaknya terpuruk terlalu lama, jadi mungkin saja sekarang ia telah menikah dengan pria yang dijodohkan dengannya. Dan yang paling penting mungkin anakmu sudah lahir ke dunia dan akan memanggil pria itu dengan sebut ayah. Apa kau tidak ingin mendengarkan anakmu memanggilmu ayah?”
Aku menyipitkan mataku tak suka pada Jung Hana. Jelas-jelas wanita itu saat ini sedang memprovokasiku agar aku terbakar amarah dan melakukan hal gila dengan pergi ke Amerika dan mencari Irene, serta merebut Irene beserta anakku dari pria Amerika yang sudah berstatus sebagai suaminya. Lalu apa bedanya aku dengan Irene? Aku tidak ingin menjadi Irene dengan merusak rumah tangganya dengan pria lain. Dan aku juga tidak ingin mengenal anakku dengan cara licik seperti itu, meskipun aku sangat ingin melakukannya.
“Kau sedang memprovokasiku? Maaf saja, aku tidak akan terpengaruh oleh provokasimu. Lagipula aku hanya ingin memberi kesempatan padanya untuk hidup lebih baik bersama suminya dan juga anakku. Jadi jangan harap aku akan memenuhi keinginanmu untuk pergi ke Amerika dan menghancurkan rumah tangganya, seperti ia menghancurkan rumah tanggaku.”
“Tapi Lee Suho ssi, bukankan cinta itu egois? Jika kau mencintainya dan anakmu, seharusnya kau memperjuangkan cintamu untuknya. Bagaimana jika selama ini ia justru tidak hidup dengan baik karena selalu memikirkanmu? Bukankah ia juga sangat mencintaimu?”
Rasanya pembicaraan ini mulai membuatku emosi dan berbalik membenci Jung Hana. Padahal kupikir ia akan memberiku masukan-masukan yang membangun agar aku terbebas dari perasaan sakit yang menyiksa ini. Tapi ia justru semakin menyulut bara api di dalam diriku agar semakin berkobar dan menghanguskan apapun yang berada di depannya. Ck, sebaiknya aku memang harus pergi dari sini sekarang juga.
“Jung Hana ssi, sepertinya aku harus pergi sekarang karena jam makan siangku sudah habis. Aku harus kembali bekerja dan menenggelamkan diriku bersama tumpukan berkas yang harus kutandatangani hari ini. Sampai jumpa, dan kau tidak perlu menghubungiku lagi.”
Aku langsung berjalan pergi tanpa menunggu persetujuan darinya. Tapi ia sepertinya tidak menunjukan reaksi apa-apa dengan kata-kataku yang sedikit kasar itu. Semoga saja ini acara kencan yang terakhir. Aku tidak akan mau menerima ajakan kencan dari wanita manapun lagi karena semua terasa sama. Mereka hambar dan tak menggairahkan!
Suho pov end
__ADS_1
Jung Hana tersenyum tipis mendapati kemarahan Suho yang begitu meluap-luap setelah ia memancing sedikit konfrontasi dengannya. Padahal ia hanya ingin menyadarkan Suho dari sikap bodohnya yang seakan baik-baik saja dengan kehidupan cintanya yang hancur, padahal pria itu sedang menahan sakit hati yang dalam karena ditinggalkan untuk yang kedua kalinya oleh wanita yang sangat dicintainya. Tapi menyadarkan seorang pria yang keras kepala seperti Suho memang sulit. Perlu banyak lecutan-lecutan emosi yang dikeluarkan agar Suho mau bertindak dan memperjuangkan cintanya untuk Irene yang saat ini sama-sama sedang bertahan di atas kerapuhan hatinya yang akan hancur.
“Halo, bersabarlah Shin Irene, aku akan membawakan pria itu untukmu.” ucap Hana pada ponselnya sambil memandang tubuh tegap Suho yang telah menghilang dibalik pintu kaca kafe.