Kontratransferensi

Kontratransferensi
Crazy Guy (Seven)


__ADS_3

           “Lee Jihyun!”


            Suara keras seorang wanita membuat Jihyun refleks menoleh ke belakang dan langsung melambaikan tangannya heboh. Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu lantas berbalik dan berjalan tergesa-gesa menghampiri sahabat lamanya yang beberapa tahun ini sempat menghilang dari dunia hiburan yang sama-sama telah melambungkan nama mereka.


            “Lee Yeon Ju! Ya Tuhan, aku tidak percaya kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama kau memutuskan untuk vakum dari dunia hiburan. Bagaimana kabarmu?” sapa Jihyun heboh. Wanita itu memeluk erar sahabatnya dan segera menyeretnya menuju kursi terdekat untuk menyalurkan seluruh rasa rindunya yang sudah lama terpendam.


            “Aku baik, bagaimana denganmu? Kau sekarang telah berubah, kau lebih bersinar setelah pria tampan dan kaya itu menikahimu empat tahun yang lalu.” goda Yeon Ju jenaka. Jihyun tersipu malu di depan sahabatnya dan mengibas-ngibaskan tangannya ke udara untuk menyangkal itu semua. Menurutnya ia masih tetap sama


setelah Joey menikahinya karena ia tidak pernah berpikir jika pernikahanya dengan Joey membawa banyak perubahan pada hidupnya.


            “Kau terlalu berlebihan. Aku masih sama seperti dulu. Kau sendiri, bagaimana kehidupanmu sekarang? Aku sempat terkejut ketika mendengar keputusanmu yang memilih vakum setelah Rein menikahimu.”


            “Aku


ingin menjadi ibu rumah tangga. Kau tahu sendiri jika Jinri sangat aktif di usianya yang sudah menginjak empat tahun. Sebagai ibunya aku merasa harus terus mengawasi tumbuh kembangnya. Nah, itu putraku.”


            Yeon Ju menunjuk seorang bocah kecil yang tengah berlari-lari bersama ayahnya. Pria kecil itu memang terlihat sangat aktif dengan sebuah mobil mainan kecil di tangan kanannya dan robot ninja di tangan kirinya.


            “Halo pria tampan, siapa namamu?” tanya Jihyun lembut pada Jinri yang langsung bergelayut di pangkuan ibunya. Bocah kecil itu melirik wajah Jihyun sekilas, kemudian ia menyembunyikan wajahnya malu-malu tanpa menyambut uluran tangan Jihyun.


            “Jihyun ssi, apa kabar? Lama tidak berjumpa.”


            Rein menyapa Jihyun ramah ketika pria itu telah duduk di samping isterinya sambil mengangkat tubuh Jinri agar duduk di pangkuannya.


            “Aku baik. Putramu ternyata cukup pemalu, seperti ibunya.” tambah Jihyun berkelakar. Kedua wanita muda itu lantas tertawa bersama-sama sambil mencoba berinteraksi dengan Jinri yang belum terbiasa dengan kehadiran Jihyun.


            “Jinri-ah, ayo berikan salam pada imo.” pinta Yeon Ju. Ibu muda itu kemudian sedikit menarik tangan Jinri agar mau melambaikan tangannya kearah Jihyun, meskipun ia masih malu-malu dan terlihat enggan untuk melakukannya.


            “Wahh... putramu sangat lucu dan menggemaskan, jika suamiku melihatnya ia pasti akan menyukainya. Suamiku sangat menginginkan kehadiran seorang anak sebenarnya.” Cerita Jihyun tiba-tiba.


            “Lalu?” tanya Yeon Ju ingin tahu. Sebenarnya ia cukup penasaran, mengapa wanita sempurna seperti Jihyun belum memiliki seorang anak di usia pernikahannya yang telah menginjak empat tahun. Padahal wanita itu jelas telah memiliki segalanya. Harta, suami tampan, karier, dan hal-hal lain yang selama ini selalu diinginkan oleh wanita-wanita di luar sana. Memutuskan untuk megandung jelas bukan sesuatu yang sulit menurutnya untuk dilakukan oleh seorang Lee Jihyun yang sempurna.


            “Aku hanya belum menginginkannya. Aku masih terikat kontrak dengan Victoria Secret hingga tahun depan, itu paling cepat. Tapi bisa saja hingga dua tahun yang akan datang aku masih terikat kontrak dengan Victoria Secret. Itu tergantung dari kinerjaku saat ini. Dari dulu aku sangat menginginkan tawaran pekerjaan ini, jadi ketika manajerku memberitahukan kabar gembira itu, aku tidak perlu berpikir dua kali untuk mengiyakannya. Saat itu juga aku langsung menerima tawaran dari salah satu perwakilan Victoria Secret yang berkantor di Korea.”

__ADS_1


            “Tapi untuk apa kau masih memikirkan pekerjaan? Bukankah suamimu sudah memiliki segalanya? Kau seharusnya mulai fokus pada keluargamu.”


            “Kenapa sih semua orang selalu berpikiran seperti itu.” ucap Jihyun sedikit kesal. Yeon Ju sebenarnya bukanlah orang pertama yang mengatakan hal itu. Ada puluhan orang yang menasehatinya supaya ia lepas dari dunia hiburan dan mulai berfokus pada hubungan rumah tangganya. Tapi semua itu tidak semata-mata karena materi. Apa yang ia lakukan saat ini nilainya lebih dari materi dan ia merasa kesempatan ini tidak akan datang padanya dua kali.


            “Sebenarnya ini bukan karena materi semata. Aku memutuskan untuk tetap berkarir karena aku merasa ini adalah kesempatan langka yang tidak akan datang dua kali. Semakin hari usiaku semakin bertambah. Nanti akan muncul banyak pendatang baru yang kepopulerannya pasti akan melejit melebihi kepopuleranku saat ini. Jadi aku merasa harus mengambil kesempatan itu sekarang sebelum aku tidak bisa lagi meraihnya. Lagipula memiliki anak bukanlah sesuatu yang sulit. Aku bisa menundanya hingga dua atau tiga tahun lagi setelah kontraku selesai. Selain itu, Joey juga tidak keberatan. Ia sangat mencintaiku, dan ia tidak akan keberatan jika harus menunggu sedikit lebih lama lagi untuk memiliki anak yang sangat diinginkannya.” ucap Jihyun panjang lebar. Sejujurnya Yeon Ju tidak


terlalu setuju dengan pernyataan yang dilontarkan oleh sahabatnya itu, tapi ia memilih untuk tidak terlalu ikut campur karena ia yakin Jihyun sudah lebih dari dewasa untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Lagipula untuk apa ia memikirkan kehidupan orang lain disaat kehidupannya sendiri belum sepenuhnya lurus. Dulu ia dan suaminya menikah karena kekhilafan sesaat yang mereka lakukan. Hamil di luar ikatan suci pernikahan membuatnya harus memaksa Rein untuk menikahinya. Ia tidak mau membesarkan janin itu sendirian dan mendapatkan cap buruk dari keluarganya yang masih berpegang teguh pada pemikiran masyarakat timur yang kolot. Dengan berbagai alasan dan drama, akhirnya ia berhasil memenangkan Rein untuk mendampinginya membesarkan anak yang telah ia kandung. Tapi meskipun begitu, hingga detik ini ia belum juga mendapatkan cinta dari Rein. Pria itu masih menyimpan cinta untuk mantan isterinya yang sudah lama tidak ia dengar bagaimana kabarnya. Terakhir ia mendapatkan kabar jika wanita itu telah menikah lagi dan hidup bahagia bersama suaminya yang merupakan teknisi hebat di bidang nuklir. Namun, tetap saja suaminya itu tidak bisa melepaskan bayang-bayang mantan isterinya begitu saja dari benaknya. Berbagai cara telah ia lakukan agar pria itu mau melihat kearahnya dan tidak terus menerus menoleh ke belakang untuk sesuatu yang tidak akan pernah ia dapatkan lagi. Tapi semua usaha yang telah ia lakukan hingga sejauh ini tetap tidak membuahkan hasil. Rein tetap tidak bisa memberikan cinta padanya dan hanya sekedar menjalankan perannya sebagai seorang ayah bagi Lee Jinri. Sedih memang jika melihat hubungan rumah tangganya yang fake, penuh kepalsuan belaka. Di hadapan kamera ia saling merangkul dan mengumbar senyum, sedangkan di belakang kamera mereka tak ubahnya hanya seperti sepasang sahabat yang sedang mengasuh seorang anak kecil.


            “Eomma... susu.” rengek Jinri manja dan membuat Yeon Ju segera meraih tas bayi Jinri yang berisi semua perlengkapan Jinri.


            “Anakmu sangat pintar, berbeda dengan putra dari sahabat Joey yang merepotkan. Beberapa hari yang lalu aku dibuat sial karena kedatangan bocah nakal itu bersama kedua orangtuanya di rumahku. Anak itu mencoret-coret tembok rumahku. Dan orangtuanya sama sekali tidak melakukan apapun setelahnya. Aku benar-benar kesal dengan mereka. Tapi Joey justru membela mereka dan mengatakan jika hal itu biasa dilakukan oleh anak-anak.” Cerita Jihyun berapi-api. Yeon Ju terkekeh pelan sambil mengelus puncak kepala Jinri lembut. Baginya Jinri dan bocah laki-laki yang diceritakan oleh Jihyun sama saja. Bahkan seluruh tembok di rumahnya sudah penuh dengan berbagai macam gambaran abstrak hasil karya Jinri.


            “Jinri juga sama saja, tapi ia memang sedikit pemalu dengan orang asing yang baru dikenalnya.”


            “Ngomong-ngomong minggu depan adalah ulang tahun Jinri.”


            Rein tiba-tiba ikut bergabung kedalam pembicaraan isterinya dan juga sahabatnya dengan maksud untuk mengundang wanita itu ke acara pesta ulang tahun anaknya yang akan dilaksanakan tanggal empat minggu depan.


            “Tentu. Tentu saja aku bisa. Pasti di sana akan ada banyak anak-anak yang menggemaskan. Tapi kuharap mereka memang benar-benar menggemaskan dan tidak akan berubah menjadi monster kecil yang mengerikan.” kekeh Jihyun. Rein ikut tertawa menimpali ucapan Jihyun sambil menggelengkan kepalanya tidak setuju karena ia


yakin semua anak kecil itu sama. Mereka mengerikan dan dapat berubah menjadi sesosok monster kecil kapanpun mereka mau.


-00-


Brakk


            Setelah menutup pintu mobilnya, Luciana berjalan dengan kalem ke dalam rumahnya sambil menenteng sebuah paper bag yang berisi dua porsi burger daging kesukaan Aleyna. Malam ini, lagi-lagi ia pulang terlambat. Padahal sebelumnya ia telah merencanakan banyak hal untuk dilakukan bersama Aleyna sepulang dari kantor, tapi sialnya semua rencana itu berakhir kacau. Joey Lee menahannya cukup lama di restoran country tempat mereka makan sebelumnya dengan cerita-cerita menyedihkan yang ia sendiri tidak tahu, apakah itu asli atau hanya sebatas karangan pria itu. Pasalnya ia tidak melihat adanya tanda-tanda kesedihan di wajahnya, ia justru melihat wajah kesepian yang tercetak jelas di wajah pria itu..


            “Darimana saja kau?”


            “Oh hai, dimana Aleyna?” Tanya Luciana tidak bersemangat. Tenaganya hari ini terkuras cukup banyak karena beberapa klien bermasalah yang ia tangani hari ini. Ingin rasanya segera berlari ke dalam kamarnya lalu terjun ke atas ranjang empuknya yang nyaman, dan tertidur di sana hingga keesokan paginya tanpa gangguan. Tapi, hal itu jelas tidak bisa ia lakukan. Aleyna masih membutuhkannya, ia harus mendampingi Aleyna setelah Jihoo pulang dari rumahnya.


            “Di belakang, memberi makan ikan.”

__ADS_1


            “Ikan? Sejak kapan ia memiliki ikan?” Tanya Luciana tidak percaya. Ia sebenarnya tidak suka memiliki hewan peliharaan di rumahnya, tapi Aleyna menyukainya. Gadis kecil itu selalu merengek-rengek padanya untuk memiliki hewan peliharaan. Dan karena rengekan dari putri kecilnya itulah, akhirnya tahun lalu ia membelikan seekor anak kucing yang sangat lucu di hari ulang tahun putrinya. Tapi untung saja kucing itu pergi. Ia benar-benar bersyukur ketika satu bulan kemudian kucing itu tidak bisa ditemukan dimanapun. Tiba-tiba saja kucing itu menghilang dari rumahnya dan membuat Aleyna menangis histeris sepanjang hari. Namun masalah itu bisa diatasi dengan mudah karena Aaron langsung menenangkan Aleyna dengan berbagai macam rayuan yang sangat ampuh untuk meredakan tangisan Aleyna yang sangat kencang.


            “Aku yang membelikannya, ia terus menunjuk-nunjuk ikan kecil itu ketika aku mengajaknya membeli ikan di pasar. Aku sudah memasak untuk makan malam, Aleyna juga sudah makan.” beritahu Jihoo. Luciana mengangguk pasrah dan hanya memberikan ibu jarinya sebagai tanggapan karena ia sedang malas berbicara. Ia lelah, dan ia sangat ingin berlari ke kemarnya untuk merebahkan dirinya dengan nyaman di atas ranjang empuknya yang sangat.... menggoda.


            “Kalau begitu bawa pulang ini, aku membelikannya untukmu tadinya. Tapi jika kalian sudah makan, lebih baik kau membawanya pulang. Aku juga sudah makan bersama klienku.”


            “Tumben?” tanya Jihoo menghentikan langkahnya. Luciana berbalik sebentar kearah Jihoo, lalu mengedikan bahunya acuh sambil berjalan pergi menuju kamarnya di lantai dua.


            “Klien mana yang bisa membawamu pergi di luar jam konseling?”


            “Klien menyebalkan yang benar-benar tidak bisa kuhindari hingga aku terpaksa mengikuti keinginannya.”


            “Siapa? Seorang pria?” tanya Jihoo lagi menghentikan langkahnya. Luciana mendelik tajam kearah Jihoo dan memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan dari pria cerewet itu. Lagipula jika ia nekat menjawabnya, pria itu akan semakin mencecarnya dengan berbagai pertanyaan tak berujung nantinya. Dan itu sangat merepotkan dirinya!


            “Ingatlah dengan kode etik profesimu, kau masih mengingatnya bukan?”


            “Hmm, pulanglah. Aku lelah.” balas Luciana dari lantai dua. Wanita itu dengan langkah gontai segera berjalan menuju kamarnya sambil memikirkan kata-kata yang diucapkan Jihoo sebelumnya. Ia memang harus berhati-hati pada pria itu. Bukan karena pria itu jahat atau yang lainnya, tapi bisa saja ia melakukan kesalahan seperti beberapa kasus yang pernah menimpa rekan-rekan sesama profesinya.


            “Eomma..”


            Entah darimana Aleyna tiba-tiba datang dan menubruk tubuhnya. Dengan sikap manjanya, gadis kecil itu memeluk perut rata ibunya sambil menyandarkan kepalanya dengan nyaman di sana.


            “Eomma,


Aleyna punya ikan.” pamer Aleyna bangga. Luciana mengelus rambut panjang Aleyna lembut dan menganggukan kepalanya mengerti. Asalkan putrinya bahagia, ia akan mengabulkan apapun keinginan Aleyna. Termasuk memelihara hewan peliharaan yang sangat tidak disukainya. Ia benci mengurus makhluk lemah yang pada akhirnya akan mati sia-sia di tangannya bila ia nekat mengurusnya. Tapi mau bagaimana lagi, ini demi putrinya. Jadi ia harus melakukannya.


            “Sayang, kau boleh memelihara ikan, tapi ingat, jangan lupa untuk memberi makan ikanmu agar tidak mati.”


            “Siap eomma! Aleyna pasti akan merawat ikan Aleyna dengan baik. Eomma, Aleyna mau susu.” rengek Aleyna manja.


            “Tunggu sebentar, eomma akan membuatkanmu susu setelah eomma mengganti pakaian eomma.”


            Aleyna segera melepaskan tautan tangannya di pinggang Luciana dan berlari menuju kamarnya di lantai dua. Gadis itu berlari-lari dengan langkah kecilnya yang lucu, lalu membuka tasnya untuk mengambil satu set buku gambar yang diberikan oleh Aaron. Saat membuka tasnya, tak sengaja sebuah kertas ikut terjatuh keluar dari selipan buku gambarnya. Sambil mengernyit bingung, ia memungut kertas putih yang terlipat itu lalu meletakannya di atas meja belajarnya, bersama dengan beberapa tumpukan buku yang sengaja ia susun rapi di sana agar ia tidak mendapatkan omelan dari eommanya karena telah membuat kamarnya kotor berantakan.

__ADS_1


__ADS_2