
Malam hari Irene mengundang Kim Soohyun, Jessica, dan tunangannya untuk makan malam di rumahnaya bersama sang ayah. Hari ini setelah ia menumpahkan seluruh air matanya di dada bidang Kim Soohyun, ia memutuskan ingin melupakan semuanya dengan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang telah memberikan limpahan kasih sayang untuknya beberapa bulan terakhir. Maka segera saja ia mengundang Jessica dan tunangannya agar mereka datang ke rumah dan menyebarkan kebahagiaan padanya. Karena menurut pikiran konyolnya kebahagiaan orang lain dapat menular padanya jika ia berada disekitar orang-orang itu. Dan satu-satunya orang yang sedang berbahagia adalah Jessica dan juga tunangannya. Oleh karena itu ia sangat berharap dapat merasakan kebahagiaan yang sama seperti pasangan kasmaran itu.
“Rene, aku tidak tahu jika kau bisa memasak makanan seenak ini.” puji Jessica sambil memotong daging steaknya semangat. Jemy yang merupakan tunangan Jessica mengangguk setuju sambil meneguk winenya. Kim Soohyun yang berada di sebelah Irene refleks merangkul bahu Irene dengan bangga.
“Tentu saja, calon istriku harus bisa memasak dengan lezat agar aku selalu merindukan masakannya dimanapun aku berada.”
“Ck, lepaskan tanganmu oppa, tanganmu berat.” ucap Irene bercanda. Semua orang yang berada di ruangan tersebut langsung menertawakan wajah lucu Soohyun yang cemberut karena mendapat penolakan dari Irene.
“Jadi kapan kalian akan menikah? Ayah sudah mencarikan beberapa gedung pernikahan untuk kalian menikah nanti.”
Tiba-tiba tuan Shin menanyakan hal itu pada Irene dan membuat Irene sedikit bingung untuk menjawabnya. Meskipun ia sudah memutuskan akan menikah dengan Kim Soohyun setelah melahirkan bayinya, tapi ia belum siap untuk bicara serius dengan ayahnya mengenai rencana pernikahannya karena ia tidak tahu apakah keputusannya itu tepat atau hanya karena emosinya.
“Abeoji, Jeesica, Jemy, hari ini dihadapan kalian semua aku akan melamar Irene secara resmi. Dan kami sudah menetukan jika kami akan menikah setelah Irene melahirkan.”
Semua orang yang berada di dalam ruang makan bertepuk riuh merayakan berita bahagia yang dibawa oleh Kim Soohyun. Sedangkan Irene hanya tersenyum tipis sambil membalas pelukan Jessica yang begitu erat di tubuhnya. Lalu tanpa diduga Kim Soohyun berlutut di sebelah Irene sambil menyodorkan sebuah cincin putih dengan berlian indah di atasnya.
“Shin Irene, menikahlah denganku.” ucap Kim Soohyun bersungguh-sungguh. Irene menatap semua orang yang berada di seluruh meja makan untuk meminta persetujuan sebelum ia mengiyakan permintaan Kim Soohyun. Dan saat ayahnya menganggukan kepala, Irene dengan pelan menjawab ya.
“Ya, aku akan menikah denganmu.”
Kim Soohyun mendongakan kepalanya penuh kelegaan dan langsung memasang cincin itu di jari manis Irene. Kemudian ia memeluk Irene dan mengecup kening Irene lembut di depan ayah Irene dan sepupunya, Jessica serta tunangan Jessica.
“Terimakasih Irene atas kesempatan yang kau berikan padaku, aku janji aku akan selalu membahagiakanmu dan akan menjadi sandaranmu kapanpun kau membutuhkanku.”
Irene menganggukan kepalanya kecil dan menyuruh Kim Soohyun untuk kembali melanjutkan acara makannya yang tertunda.
Malam itu semua orang yang berada di kediaman tuan Shin tengah bersuka cita atas rencana pernikahan Irene dan Kim Soohyun yang akan segera dilaksanakan setelah Irene melahirkan. Namun Irene tampak tak begitu senang dengan keputusan itu karena ia belum sepenuhnya memberikan hatinya untuk Kim Soohyun. Hatinya hingga saat ini masih dimiliki oleh Lee Suho. Tapi meski begitu Irene mencoba untuk menerima pernikahan itu karena pada akhirnya ia tidak akan pernah bersanding dengan Lee Suho. Pria itu sudah bahagia dengan wanita pilihannya dan ia juga akan bahagia dengan pria pilihan ayahnya.
Ting Tong
Tiba-tiba bunyi bel di pintu depan menghentikan tawa semua orang yang berada di ruang makan. Irene yang sejak tadi ingin meninggalkan ruang makan langsung beranjak berdiri dengan alasan ingin membukakan pintu bagi siapapun yang saat ini sedang berdiri di depan rumahnya.
“Apa kau perlu kutemani ke depan?”
“Ya ampun, apa kau pikir aku selemah itu hingga perlu kau temani seperti anak TK?” gerutu Irene pada Kim Soohyun. Wanita itupun segera berjalan pelan menuju pintu depan sambil menyangga pinggangnya yang terasa semakin pegal karena selalu membawa beban berat selama hampir sembilan bulan ini.
Cklek
__ADS_1
Irene membuka pintu itu pelan dan ia langsung mematung di tempat ketika ia menemukan Suho sedang berdiri di depannya dengan senyum teduh yang selama ini ia rindukan. Pria itu menyapanya pelan sambil mengamati perubahan tubuhnya yang sudah pasti lebih buncit dari yang terakhir kali pria itu lihat.
“Darimana kau tahu alamatku?”
Pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Irene untuk Suho adalah pertanyaan bernada sinis yang sarat akan ketidaksenangan akan kehadiran pria itu. Padahal dalam hati Irene sedang menangis bahagia karena akhirnya ia dapat melihat wajah pria itu lagi.
“Aku menyewa seorang detektif untuk mencari tahu dimana alamatmu. Tapi itu tidak penting, aku ke sini hanya ingin menjelaskan semuanya padamu. Aku hanya ingin jujur padamu.”
Suho menggenggam jari-jari Irene lembut dan hendak mencium punggung tangan Irene yang saat ini sedang bergetar. Namun ketika ia menemukan sebuah cincin di jari manis Irene, Suho segera mengurungkan niat itu dan hanya menahan tangan Irenedi udara.
“Jadi kau sudah benar-benar menikah?” tanya Suho nanar. Ia pikir Irene tidak akan menikah secepat itu setelah pergi meninggalkannya. Tapi nyatanya saat ini Irene telah menikah dengan pria yang dijodohkan dengannya. Dan mungkin pria itu setelah ini juga akan menjadi ayah dari anaknya, seperti yang pernah dikatakan Jung Hana padanya.
Tiba-tiba sekelebat bayangan mengenai keluarga bahagia yang akan dimiliki Irene muncul di kepalanya, membuatnya merasa sakit dan tidak suka disaat yang bersamaan. Bagaimana mungkin Irene akan bahagia bersama keluarganya, sedangkan ia terbuang begitu saja tanpa orang-orang yang mencintainya dan juga dicintainya. Apakah ia harus merebut Irene dan anaknya? Tapi ia tahu jika hal itu adalah tindakan paling egois yang pernah dipikirkannya, mengingat ia dulu pernah menyakiti Irene dan berniat untuk tidak mengakui anaknya yang saat ini sedang tumbuh dan berkembang di rahim Irene. Oh Ya Tuhan, ia sungguh menyesal pernah melakukan
hal itu pada Irene. Ia menyesal telah menyakiti hati Irene dan membuat wanita itu menangis karenanya.
“Itu tidak penting Lee Suho ssi, sekarang apa yang kau inginkan dengan datang ke sini?” tanya Irene ketus dan tidak bersahabat. Sesekali Irene menoleh ke dalam untuk memastikan jika salah satu orang-orang yang sedang makan di meja makan tidak datang dan memergokinya sedang bersama Suho. Terutama ayahnya, karena ayahnya sangat membenci Suho atas perbuatan tidak bertanggungjawab pria itu padanya.
“Berikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya padamu, aku.. aku minta maaf atas perbuatanku selama ini padamu, dan aku sangat menyesal telah melakukan hal itu padamu. Kumohon maafkan aku, sayang.”
“Hhhuh, setelah berbulan-bulan aku memberikanmu kesempatan untuk meminta maaf padaku, kau baru melakukannya sekarang? Kemana saja kau selama ini? Apa kau terlalu dibutakan oleh cintamu pada Yuri, sehingga kau tidak sempat mengucapkan hanya sekedar kata maaf padaku?” tanya Irene dengan wajah angkuh. Suho mengusap wajahnya gusar dan tampak frustrasi. Pria itu tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan pada Irene jika ia telah lama bercerai dengan Yuri. Dan satu-satunya alasan mengapa ia tidak pernah mengucapkan hal itu pada Irene karena ia terlalu takut untuk menghadapi kemarahan Irene yang akan berujung dengan menyakiti hati wanita itu lagi, seperti saat ini.
Irene membelalakan matanya tak percaya sambil memandangi cincin pertunangannya dengan Kim Soohyun. Kenapa pria itu tidak pernah mengatakan padanya jika pria itu bercerai? Andai saja pria itu mengatakannya sejak dulu, mungkin ia tidak akan mengambil keputusan gegabah dengan meminta Kim Soohyun menikahinya. Tapi jika sekarang ia membatalkan pernikahannya dengan Kim Soohyun, ia pasti akan melukai
pria itu. Bagaimanapun pria itu telah banyak berkorban untuknya selama ini. Bahkan pria itu rela menjadi ayah dari anak yang dikandungnya. Sedangkan ayah dari bayi itu yang sebenarnya tak pernah menampakan batang hidungnya hanya untuk sekedar meminta maaf padanya.
“Baguslah jika kau sudah bercerai dengan Yuri, wanita sebaik dirinya tidak pantas mendapatkan pria brengsek sepertimu.”
Suho memejamkan matanya pedih saat mendengar kata-kata kasar Irene tentang dirinya. Namun hati kecilnya terus berteriak jika ia pantas mendapatkan hal itu karena selama ini ia telah menyakiti wanita itu dan Yuri.
“Aku memang brengsek, ********, keparat, dan pria yang paling buruk diantara ********-******** di luar sana, tapi aku mohon tolong maafkan aku. Berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku.”
“Pergi dari sini!”
Irene mengumpat keras dan mendorong Suho dari rumahnya. Ia tidak suka melihat pria itu memohon-mohon untuk diberikan kesempatan setelah selama ini ia selalu memberikan kesempatan untuk pria itu agar mempertanggungjawabkan seluruh kesalahannya.
“Irene, tolong berikan.....”
__ADS_1
“Pergi dari rumahku sekarang juga dan jangan pernah datang kembali!”
Blarrr
Irene membanting pintu rumahnya keras dan langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya. Saat ia melewati ruang makan, seluruh keluarganya menatapnya dengan tatapan tanda tanya, namun hal itu langsung dicuhkan Irene begitu saja karena saat ini pikirannya sedang kacau.
“Irene, ada apa?”
Kim Soohyun berlari mengejarnya menaiki anak tangga. Namun Irene segera mengusir pria itu menjauh karena saat ini ia sedang ingin mendinginkan kepalanya yang panas akibat ulah Suho.
“Tolong berikan aku waktu, aku butuh waktu untuk sendiri.”
Kim Soohyun mundur beberapa langkah dan membiarkan Irene berlalu pergi menuju kamarnya. Pria itu memandang Irene sedih dan segera turun dengan perasaan sedih karena lagi-lagi ia ditolak oleh Irene ketika wanita itu memiliki masalah.
“Ada apa dengan Irene?” tanya tuan Shin khawatir ketika Kim Soohyun kembali ke meja makan tanpa membawa Irene bersamanya. Pria itu tersenyum kecil dan menggeleng pelan sambil menuangkan sedikit wine ke dalam gelasnya.
“Tidak apa-apa. Ia hanya sedang kesal karena seseorang yang salah alamat.”
“Benarkah? Tapi ia terlihat sangat kacau.” ucap Jessica tidak yakin.
“Hormon wanita hamil benar-benar tidak stabil. Dan Irene sedang mengalami hal itu.” bantah Kim Soohyun santai sambil mengendikan bahunya ringan. Jessica menganggukan kepalanya mengerti dan tak bertanya macam-macam lagi mengenai perubahan sikap Irene yang drastis itu. Ia pikir penjelasan sepupunya itu memang masuk akal, dan ia sudah membuktikannya sendiri selama menjadi teman dekat Irene selama beberapa bulan terakhir ini.
Kim Soohyun tiba-tiba meletakan gelas winenya dan meminta ijin pada semua orang yang sedang berkumpul di meja makan untuk pergi ke kamar mandi. Tapi saat ia hendak berbelok ke arah kamar mandi, ia justru berbelok ke arah lain yang akan membawanya ke pintu depan. Tiba-tiba ia merasa penasaran dengan apa yang membuat Irene semarah dan sekacau itu. Padahal Irene sebelumnya hanya berpamitan untuk membukakan pintu untuk seseorang yang menekan bel rumahnya.
Setelah tiba di pintu depan, Kim Soohyun membuka pintu itu pelan dan mengamati seluruh halaman luas milik keluarga Im. Sekilas ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Tapi tanpa sengaja ekor matanya melihat sebuah taksi yang berhenti di depan rumah Irene. Lalu seorang pria muda dengan stelan jas masuk ke dalam taksi tersebut dan segera menghilang bersama dengan taksi kuning yang membawanya.
“Lee Suho...”
Tanpa sadar Kim Soohyun mengepalkan tangannya marah ketika akhirnya ia tahu apa yang menjadi penyebab perubahan sikap Irene beberapa saat yang lalu. Dalam hati ia bersumpah akan melakukan berbagai macam cara untuk memisahkan Irene dan Suho agar pria itu tidak terus menerus menebarkan kesedihan di dalam hidup Irene.
-00-
Suho menyesap segelas wine sambil memandangi pemandangan kota New York melalui balkon kamarnya. Semalam setelah ia pergi dari rumah Irene ia telah bertekad untuk melakukan berbagai macam cara agar Irene memaafkannya. Meskipun rasanya hal itu hampir mustahil mengingat Irene sangat membencinya dan tak ingin
melihatnya lagi, tapi ia benar-benar ingin meminta maaf pada Irene. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Irene agar hidupnya tidak terus menerus dihantui perasaan bersalah karena ia pernah menyakiti Irene.
“Hari ini aku harus kembali ke rumah itu. Aku harus menemui Irene.” gumam Suho penuh tekad. Pria itu menggenggema gelas winenya erat-erat sambil menggeram marah ketika ia mengingat cincin emas putih yang melingkar di jari manis Irene. Meskipun ia memang tidak pantas berharap lebih untuk bersanding dengan Irene,
__ADS_1
tapi entah mengapa ia merasa tidak suka ketika melihat Irene mengenakan cincin pernikahannya. Hatinya terasa tercubit mengetahui fakta jika saat ini Irene sedang bersanding dengan pria lain dan bukan dirinya. Dan hal itu mau tidak mau mengingatkannya pada kejadian sepuluh bulan yang lalu saat Irene datang di tengah-tengah kehidupan rumah tangganya.
“Jadi seperti inikah perasaanmu saat itu, Irene?” gumam Suho nanar sambil menatap pemandangan jalanan kota New York yang padat.