
Sore itu langit begitu kelabu dan mendung. Rintik-rintik hujan mulai jatuh perlahan-lahan membasahi tanah Seoul yang dingin. Luciana, wanita itu menatap rintikan hujan yang mulai membasahi pekarangan rumahnya dengan wajah mendung karena sore ini ia tidak bisa pergi jalan-jalan bersama Aleyna sesuai dengan rencananya siang tadi. Padahal ini adalah kesempatan bagus, dimana ia kebetulan tidak sedang mendapatkan banyak klien dan ia juga terbebas dari si pembuat onar Joey Lee yang menyebalkan. Tapi mungkin Tuhan belum mengijinkannya untuk pergi bersenang-senang, sehingga sore ini ia hanya bisa menghabiskan waktu di rumah bersama Aleyna sambil memasak sup jamur hingga membuat dapur indahnya kotor karena ulah Aleyna.
“Eomma, ayo kita bermain hujan di luar.”
Tiba-tiba Aleyna muncul di sampingnya dengan setelan jas hujan bergambar kodok yang membungkus seluruh tubuh mungilnya. Luciana yang melihat itu hanya mampu berkacak pinggang sambil bersiap untuk memarahi Aleyna agar segera melepaskan jas hujannya. Namun sebelum ibunya itu mengamuk dan mengeluarkan serangkaian kata-kata berisiknya, Aleyna segera berlari keluar rumah sambil mengeluarkan tawa kerasnya yang terkesan mengejek.
“Aleyna! Cepat masuk, jangan bermain hujan di luar.” teriak Luciana spontan ketika Aleyna mulai menari-nari dengan gerakan acak di depan teras rumahnya sambil menikmati guyuran hujan yang mulai deras. Lucianapun segera menyambar payung birunya dan menyusul Aleyna ke teras rumah untuk menyeret gadis kecil itu masuk ke dalam rumah. Ia tidak mau mengambil resiko Aleyna terkena demam keesokan paginya karena terlalu asik bermain hujan seperti dulu. Meskipun Aleyna telah menggunakan jas hujan sekalipun, hal itu tidak menjamin bahwa tubuh Aleyna akan tetap kering dan hangat.
“Ayo masuk, jangan bermain-main hujan seperti itu Aleyna Jung.” geram Luciana kesal sambil mencoba menarik tangan Aleyna masuk.
“Eomma, aku ingin bermain hujan. Sudah lama aku tidak bermain hujan seperti dulu
bersama Aaron appa.” protes Aleyna kesal. Ia dengan keras kepala tetap bertahan di tempatnya untuk menikmati guyuran hujan yang semakin deras. Sementara itu, Luciana terlihat sudah jengkel di sebelahnya dan berniat untuk menggendong tubuh mungil Aleyna dan memaksa gadis itu masuk kedalam rumah. Namun sebelum ia benar-benar mengangkat tubuh Aleyna untuk masuk kedalam rumah, sebuah suara menginterupsi gerakannya dan membuatnya terdiam kaku di tempat dengan berbagai macam pikiran yang menari-nari di kepalanya.
“Luciana...”
Tiga orang itu secara bersamaan memanggil nama Luciana dan menoleh satu sama lain ketika tanpa diduga bibir mereka sedang meneriakan nama Luciana bersama-sama.
“Luciana, apa yang kau lakukan di tengah hujan seperti ini?”
Menyadari adanya kecanggungan diantara mereka, Aaron mulai berinisiatif untuk menyapa Luciana terlebihdahulu. Setidaknya ia perlu membuat Luciana tidak merasa canggung dengan kedatangan mereka yang tanpa sengaja bisa datang diwaktu yang bersamaan.
“Aku sedang memaksa Aleyna untuk masuk ke dalam rumah. Apa yang kalian lakukan di sini, Aaron, Joey, dan Rein?” tanya Luciana heran. Hari ini ia benar-benar tak menyangka jika ketiga pria itu akan datang secara bersamaan di rumahnya. Dan parahnya, mereka bertiga datang disaat yang tidak tepat, dimana ia sedang dalam mode sebagai ibu rumah tangga yang lusuh, yang hanya menggunakan kaus kebesaran dan juga celana pendek di atas lutut.
“Kami kebetulan bertemu di depan. Aku baru saja tiba dari Itali.”
“Aku baru saja tiba dari Daegu.”
“Dan aku baru saja selesai syuting drama.”
Ketiga pria itu tanpa diminta menyebutkan agenda mereka masing-masing yang sebenarnya sama sekali tidak penting untuk Luciana. Lagipula untuk apa ia mengetahui jadwal mereka bertiga? Itu semua tidak akan membantunya agar cepat kaya. Justru ia sekarang dibuat pusing dengan kecanggungan yang terasa seperti mencekiknya. Mereka bertiga masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda. Aaron yang datang karena mungkin merindukan Aleyna, lalu Joey yang datang karena ingin melakukan sesi konseling seperti biasa, dan Rein yang mungkin datang karena ingin mengorek masa lalu Aleyna. Dengan adanya tiga kepentingan yang berbeda seperti itu, apa yang harus ia lakukan sekarang? Bahkan setelah sepuluh menit pria-pria itu datang ke rumahnya, ia sama sekali belum mempersilahkan mereka masuk dan justru membiarkan mereka terkena sedikit cipratan air hujan yang mengalir dari atap rumahnya.
“Aaron appa, ayo kita bermain hujan.” ajak Aleyna bersamangat sambil menarik tangan Aaron untuk ikut bersamanya berlarian di sekitar halaman rumahnya yang tak beratap. Gadis kecil itu kemudian juga menarik tangan Joey yang kebetulan sedang berdiri di sebelah Aaron.
“Paman Joey juga harus ikut bermain hujan denganku.” ucap Aleyna sedikit memaksa. Kedua pria itu lantas memberikan tatapan penuh keteduhan pada Aleyna sambil memberikan pengertian pada gadis kecil itu agar tidak bermain-main hujan karena sejak tadi Luciana sudah memberikan tatapan penuh peringatan pada mereka berdua.
“Sayang, sebaiknya kita masuk kedalam dan meminum coklat panas buatan eomma yang lezat. Luci, bukankah kau membuat kue?”
Dengan gelagapan Luciana langsung menganggukan kepalanya kaku pada Aaron agar Aleyna bersedia untuk masuk ke dalam rumah. Padahal ia sebenarnya tidak sedang membuat kue apapun. Tapi ia bisa saja membuat kue secara kilat jika Aleyna memang menghendakinya.
“Kue? Aleyna suka kue. Ayo mom kita makan kue.”
Gadis kecil itu dengan girang langsung menarik tangan Luciana untuk masuk kedalam rumah dan meninggalkan appa serta kedua pamannya begitu saja di luar rumah. Aaron yang merasa lebih memiliki kuasa di rumah itu dengan inisiatif sendiri langsung mengajak dua tamu Luciana untuk masuk ke dalam rumah. Meskipun ia sebenarnya tidak menyukai keberadaan Rein di sana. Sejak tadi ia meras Rein terus memberikan tatapan kelaparan pada Luciana dan Aleyna dengan gelagat yang sedikit mencurigakan. Sedangkan Joey, ia tidak memiliki masalah apapun pada pria itu. Ia justru senang dan ingin melihat interaksi langsung diantara keduanya dan ingin mencari tahu, hubungan jenis apa yang sedang dikembangkan oleh mereka berdua saat ini. Meskipun Luciana telah menyangkal dan memberikan bukti konkret jika mereka tidak memiliki hubungan apapun, tapi ia tetap tidak mempercayai ucapan Luciana. Baginya kedekatan Luciana dan Joey yang tidak biasa itu telah menyiratkan sebuah kecurigaan di benak Aaron.
__ADS_1
“Rein ssi, apa yang membawamu datang ke sini? Kenapa kebetulan sekali.” tanya Aaron mencoba berbasa basi. Joey yang tidak paham dengan jenis kedekatan antara Aaron dan Rein memilih untuk diam sambil memperhatikan dua pria itu memberikan tatapan tajam satu sama lain. Namun meskipun ia tidak tahu hubungan apa yang terjalin diantara keduanya, setidaknya ia tahu bagaimana latar belakang mereka selama ini. Jadi sedikit banyak Joey dapat menyimpulkan jika kedua pria itu saat ini sedang berebut perhatian dari Luciana.
“Hanya sedikit masalah di masa lalu yang belum terselesaikan. Lalu bagaimana denganmu Joey ssi?”
Joey yang namanya tiba-tiba disebut menjadi tidak suka pada Rein. Padahal sejak tadi ia tidak mencampuri urusan mereka berdua, tapi pria itu dengan menyebalkannya ikut menyeretnya kedalam pusara masalah mereka yang sama sekali tidak ia ketahui.
“Aku adalah salah satu klien Luciana, dan aku ke sini untuk mendiskusikan sesuatu dengan Luciana.”
“Ya, Joey adalah salah satu klien yang sedang ditangani oleh Luciana, wajar jika ia datang ke sini. Sedangkan kau, aku tidak yakin kau pernah mendiskusikan masalahmu pada Luciana, jadi seharusnya kau tidak memiliki kepentingan apapun di sini.” Ucap Aaron sakarstik. Entah mengapa Joey merasa jika Aaron saat ini sedang berada di pihaknya. Dan ia sangat bersyukur atas hal itu.
“Aku memiliki sebuah urusan penting dengan Luciana, jadi aku membutuhkan Luciana sekarang.” ucap Rein mulai terpancing emosi. Mereka bertigapun akhirnya bersama-sama masuk kedalam ruang tamu rumah Luciana dengan berbagai perasaan tidak suka yang
berkecamuk di dalam hati mereka. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Rein dan Aaron. Sedangkan Joey, ia tidak merasakannya. Ia justru merasa gusar dengan kedua pria dewasa di depannya yang bertingkah seperti seorang anak-anak yang sama sekali tidak mencerminkan pribadi pria dewasa. Seharusnya saat ini Luciana bersikap tegas dengan mengusir dua orang itu karena suasana disekitarnya mulai tidak kondusif karena adanya aura peperangan yang menguar dari tubuh Aaron maupun Rein. Ia kemudian berinisiatif untuk pergi meninggalkan mereka berdua
untuk menyusul Luciana ke dapur. Rasanya benar-benar tidak enak menjadi satu-satunya pria waras diantara dua pria sakit jiwa yang sedang berebut perhatian dari Luciana.
“Maaf, sepertinya aku harus ke kamar kecil.”
“Oh silahkan, kamar kecil ada di sisi kiri setelah pintu itu.” ucap Aaron mengarahkan. Joey berdecih kesal dalam hati dan hanya memberikan anggukan kecil pada Aaron. Padahal ia sebenarnya sudah sangat hafal semua seluk beluk rumah Luciana karena ia pernah menginap sekali di sini. Hanya saja ia tidak mau menambah keributan dengan dua pria sakit jiwa itu jika ia mengatakan pada mereka jika sebenarnya ia pernah menginap di rumah Luciana sekali.
“Luciana, kenapa kau tidak menemui mereka?”
Joey tiba-tiba mencekal lengan Luciana yang sedang sibuk membuat adonan kue di dapur bersama Aleyna. Wanita itu sepertinya memang sengaja berlama-lama di dapur karena ia sangat tahu apa yang akan terjadi pada kedua pria masa lalunya jika dipertemukan dalam satu ruangan.
“Aku malas. Rein pasti ingin membahas masalah Aleyna, sedangkan Aaron sangat tidak menyukai Rein. Jadi bisa kau bayangkan sendiri bagaimana ini akan berakhir.” ucap Luciana dengan nada sedikit frustrasi. Setelah itu ia kembali berkutat dengan adonan kuenya yang hendak ia masukan kedalam oven.
“Kau yakin ingin melakukan sesi konseling saat ini? Kau tidak lelah? Bahkan kau baru saja kembali dari Itali.” tanya Luciana tak habis pikir. Joey menggeleng tegas dan mengatakan pada Luciana jika ia baik-baik saja. Justru saat ini ia sebenarnya sedang dalam keadaan dilema karena beberapa hari kemarin Jihyun terus menghubunginya untuk meminta maaf karena saat itu ia tidak menjawab telepon darinya dan justru pria lain yang harus mengangkat panggilan darinya. Tapi setelah mendapatkan telepon dari Jihyun ia justru merasa aneh. Ia yang seharusnya merasa marah pada Jihyun karena telah bersenang-senang bersama pria lain di belakangnya, justru sekarang merasa biasa-biasa saja ketika Jihyun menghubunginya untuk melakukan klarifikasi. Ia terkesan masa bodoh terhadap keadaan Jihyun saat ini dan tidak terlalu ambil pusing dengan kejadian beberapa hari yang lalu.
“Aku meras aneh dengan perasaanku saat ini. Aku sepertinya telah kehilangan perasaanku untuk Jihyun.”
“Apa? Kau tidak mencintai Jihyun lagi?”
“Entahlah, aku tidak bisa mengatakan aku tidak mencintai Jihyun. Tapi aku juga tidak bisa mengatakan jika saat ini aku memikirkan Jihyun. Jadi aku seperti sedang berada di ambang kebingungan, apakah aku masih peduli pada Jihyun atau tidak.”
“Ya ampun, kenapa kau rumit sekali. Kau ini seorang pria, tapi kenapa kau justru memiliki perasaan seperti wanita.” Cibir Luciana kesal. Ia sekarang menjadi bingung dengan kliennya yang semakin hari semakin aneh. Ada saja masalah-masalah baru yang Joey keluhkan padanya. Ia sepertinya telah memecahkan rekor sebagai klien terumit sepanjang ia menjadi seorang kosenlor selama ini.
“Jadi seperti itukah cara seorang konselor menilai kliennya? Kau benar-benar tidak netral.”
“Ck, aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya. Lagipula saat ini kita sedang tidak dalam sesi konseling. Di sini aku hanya seorang wanita biasa.” kilah Luciana penuh kemenangan. Joey mencibir kesal pada Luciana dan memilih untuk ikut bermain-main adonan bersama Aleyna. Melihat Aleyna yang begitu sibuk memasukan
adonan kedalam loyang cup cake kecil dan memberikan hiasan di atasnya membuat Joey gemas. Ia ingin sedikit menggoda Aleyna dan meramaikan suasana memasak kue antara ibu dan anak itu.
“Apa yang sedang kau lakukan Aleyna?”
__ADS_1
“Akhhh paman!”
Aleyna berteriak kesal ketika Joey dengan jahilnya mencolek hidungnya dengan telunjuk yang penuh dengan adonan coklat, sehingga saat ini ujung hidung Aleyna menjadi kotor terkena adonan.
“Kau terlihat serius sekali, paman gemas padamu.” ucap Joey terbahak-bahak. Aleyna lalu mengusap ujung hidungnya dengan kaus putih yang ia gunakan dan membuat Luciana langsung berteriak panik karena gadis kecil itu telah berlaku jorok.
“Astaga kalian!” ucap Luciana geram. Ia segera meraih tisu di dekatnya untuk membersihkan sisa adonan coklat di lengan kaus Aleyna. Tapi percuma saja hal itu ia lakukan karena noda coklat itu terlanjur menempel di sana dan tidak mungkin akan hilang.
“Ini hanya sekedar baju, kenapa kau marah seperti itu?”
“Hanya sekedar baju kau bilang? Aku yang mencucinya. Noda ini akan sangat sulit untuk dihilangkan.” geram Luciana kesal. Joey yang melihat itu hanya tertawa-tawa kecil sambil mengambil alih tisu yang digunakan Luciana untuk mengelap noda coklat dari ujung lengan Aleyna. Pria itu dengan telaten mencoba membersihkan sisa-sisa adonan yang masih menempel di sana lalu berjanji pada ibu muda itu jika ia akan membelikan kaos putih yang baru.
“Kita bisa membelinya lagi lain waktu. Sayang, kau mau membeli baju baru bersama paman?” Tanya Joey penuh provokasi. Aleyna yang sangat menyukai baju baru langsung mengangguk setuju dan berteriak girang. Gadis kecil itu refleks memeluk tubuh Joey dan membuat sebagian kemeja biru muda itu kotor terkena adonan coklat yang menempel dari jari-jari Aleyna.
“Hahahaa.... Rasakan!”
Luciana tertawa puas melihat raut kesal Joey karena kemejanya sekarang terlihat kotor. Pria itu lalu berdecak kesal dan segera menarik tisu sebanyak-banyaknya dari kotak tisu di samping Luciana untuk menghilangkan noda coklat yang tidak mungkin akan hilang itu.
“Bukankah kau masih bisa membeli kemeja itu lagi? Jadi tidak perlu dibersihkan. Orang kaya sepertimu bahkan bisa membeli butik dan desainernya sekaligus.” ejek Luciana terdengar menyebalkan.
“Diamlah! Aku tidak membawa pakaian, asistenku telah membawa koporku pulang. Sekarang bagaimana aku bisa bertahan dengan pakaian kotor seperti ini?”
“Ck, dasar berlebihan. Bukankah kau masih memiliki kemeja di sini? Kau ingat saat kau mabuk kemarin, aku sudah mencucinya.” Ucap Luciana santai.
“Kalau begitu ambilkan kemejaku sekarang, aku tidak suka melihat kemejaku kotor seperti ini.” perintah Joey menyebalkan. Luciana kemudian beranjak untuk mencuci tangannya sambil menggerutu sebal dengan sikap Joey yang terlihat semena-mena itu.
“Rupanya kau di sini, aku mencarimu di toilet.”
Tiba-tiba Aaron muncul diantara mereka dan memergoki Joey sedang berdiri di samping Luciana yang sedang membersihkan sisa noda coklat di kemejanya.
“Aku kebetulan melihat mereka membuat kue, jadi aku memutuskan untuk menyusul mereka karena aku gemas melihat keseriusan Aleyna menghias kue-kuenya.” ucap Joey beralasan. Padahal alasannya berada di sana karena ia ingin menyusul Luciana. Ia muak berada di tengah-tengah dua pria tidak waras yang sejak tadi tampak seperti sedang berebut perhatian dari Luciana.
“Luc, cepatlah kau temui Rein agar ia segera pergi dari sini, aku muak melihatnya.”
Aaron tiba-tiba berucap ketus dan menarik tangan Luciana mendekat kearahnya agar segera mengikutinya menemui Rein. Namun wanita itu tampak berhenti sebentar sambil memberikan kode pada Joey untuk mengambil kemejanya sendiri di lemari
pakaian di kamarnya.
“Suruh Aleyna untuk menemanimu mengambil kemejamu di kamarku, aku meletakannya di sana.”
“Ada apa dengan kemejanya?” Tanya Aaron heran yang sejak tadi tidak menyadari jika kemeja Joey sangat kotor terkena adonan coklat.
“Aleyna memeluknya dengan tangan penuh dengan adonan coklat. Sekarang kemejanya menjadi kotor.” tunjuk Luciana pada setengah kemeja Joey yang telah dipenuhi oleh noda coklat. Pria bermarga Jung itu hanya mengangguk mengerti dan segera menarik tangan Luciana untuk pergi ke ruang tamu. Meskipun sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin ditanyakan Aaron terkait kemeja milik Joey yang bisa berada di lemari pakaian milik Luciana. Namun ia memilih untuk menundanya karena saat ini yang ia inginkan adalah mengusir Rein sejauh-jauhnya dari rumah Luciana, sebelum ia semakin muak pada pria itu dan bersikap di luar batas.
__ADS_1