
“Pagi bibi Jang, biar aku saja yang membawanya ke meja makan.” Luciana melihat bibi Jang tampak kesulitan dengan mangkuk besar berisi sup di tangannya. Namun ketika melihat Luciana hendak membantunya, wanita paruh baya itu langsung melengos dan meninggalkan Luciana begitu saja. Luciana kemudian menghela napas kecil dan segera berjalan ke dapur untuk membuatkan Joey kopi. Suami tercintanya itu mengatakan jika kopi buatannya lebih enak dari kopi buatan para maidnya, sehingga tugas wajibnya setiap pagi adalah membuatkan kopi hitam kesukaan Joey. Tapi terkadang ia melihat bibi Jang juga sudah membuatkan kopi untuk Joy, jadi ia terkadang merasa tidak enak pada wanita itu karena kopi buatannya tidak akan disentuh oleh Joey.
“Pagi Minah, apa yang sedang kau masak?”
Luciana melongok sedikit dari balik tubuh maidnya yang lebih pendek darinya. Ia melihat gadis itu sedang menata beberapa potong ayam goreng di dalam piring. Namun gadis itu sama sekali tidak menanggapi pertanyaannya. Ia hanya diam, dan setelah itu segera pergi sambil membawa piring besar itu menuju meja makan. Lagi-lagi Luciana menghela napas kecil sambil berusaha menyemangati dirinya yang perlahan-lahan mulai merasa frustrasi. Ia tidak tahu sampai kapan semua penghuni rumah ini akan membencinya. Padahal dulu ia begitu antusias saat menghapal nama mereka satu per satu agar mereka semua menjadi lebih akrab. Ia ingin membuat seluruh penghuni di mansion ini menganggapnya sebagai keluarga, bukan sebagai majikan yang harus mereka hormati. Tapi nyatanya, mereka justru bersikap acuh tak acuh padanya. Menganggapnya sebagai seorang penyusup yang tiba-tiba masuk kedalam kehidupan tuannya dan menyingkirkan ratu terdahulu yang sebelumnya berkuasa, Lee Jihyun.
“Ah Sora...”
Luciana tiba-tiba berseru lantang pada Sora dan segera berjalan menghampiri gadis itu. Dengan senyum cantiknya yang begitu tulus, Luciana menghampiri gadis muda itu untuk menanyakan perihal hubungannya dengan Jimin, tukang kebun baru yang baru satu bulan yang lalu bekerja di mansionnya untuk menggantikan tukang kebun lama yang sudah sangat tua.
“Ii iya nyonya.”
Sora membungkuk kikuk di depan Luciana dan tampak ingin mengacuhkan Luciana seperti yang lainnya. Namun sedikit hati kecilnya tidak bisa melakukannya karena ia merasa jika Luciana tidak seburuk apa yang dikatakan oleh bibi Jang padanya. Luciana justru memiliki sikap yang lebih baik dari Lee Jihyun yang selalu bersikap kasar pada seluruh pelayannya. Namun semua rekannya terlanjur menilai buruk Luciana karena bibi Jang beberapa kali menceritakan bagaimana kisah perselingkuhan tuannya yang pastinya telah ditambahi dengan sedikit bumbu-bumbu kebohongan ala bibi Jang.
“Bagaimana hubunganmu dan Jimin sekarang?”
“Hu hubungan saya?” tanya Sora gelagapan. Ia tidak menyangka jika nyonya barunya itu sangat memperhatikan gerak geriknya selama ini yang selalu mencuri-curi kesempatan untuk menggoda Jimin. Ia takut nyonya mudanya akan mengadukan hal itu pada Joey dan membuatnya dipecat.
“Tidak apa-apa, tidak usah takut. Aku tahu kau menyukai Jimin, kejarlah pria itu.” bisik Luciana menggoda. Seketika wajah Sora menjadi bersemu merah dan salah tingkah. Gadis muda berusia dua puluh tahun itu terlihat malu-malu sekaligus berseri-seri karena nyonya mudanya ternyata mendukungnya. Ia pikir ia akan diadukan pada Joey karena karena telah memiliki perasaan itu untuk Jimin.
“Nyonya... tolong jangan adukan saya pada tuan Joey.”
Luciana mengernyit heran, namun sedetik kemudian ia menggeleng sambil memberikan senyuman lembut pada Sora.
“Aku tidak akan mengatakannya pada Joey oppa. Tapi apa di mansion ini ada peraturan untuk tidak boleh saling mencintai antar pekerja?”
“Se sebenarnya saya juga tidak tahu. Tapi menurut beberapa pekerja senior, tuan Joey sangat menyukai keprofesionalitasan dalam bekerja. Jadi saya takut jika perasaan saya itu akan membuat saya dipecat.” ucap Sora dengan jujur. Pengakuan yang dilontarkan oleh seorang gadis polos seperti Sora membuat hatinya tiba-tiba menjerit. Dulu hubungannya dengan Joey juga hanya sebatas klien dan konselor. Kemudian perlahan lahan cinta itu mulai muncul dan membuat sikap profesional mereka tenggelam ke dalam pusara cinta mereka yang begitu menggairahkan.
“Tenang saja, aku tidak akan...”
“Luciana!”
Suara tegas itu tiba-tiba menginterupsi pembicaraanya dan membuat wajah Sora berubah tegang dan menjadi pucat pasi. Dengan wajah takut-takut gadis itu segera membungkukan tubuhnya pada Luciana dan berjalan pergi dengan langkah terburu-buru menuju halaman belakang.
Sementara itu Luciana langsung membalikan tubuhnya ke belakang sambil menatap Joey penuh tanda tanya. Ia heran saat melihat wajah Joey yang tampak tidak bersahabat di depannya. Wanita itu sedikit bertanya-tanya dalam hati, apakah ia telah berbuat salah pada pria itu. Tapi sedetik kemudian ia memutuskan untuk menanyakannya langsung pada Joey karena ia merasa belum melakukan kesalahan apapun pagi ini. “Ada apa? Kau membuat Sora ketakutan saat melihatmu.” tegur Luciana lembut dengan senyum manisnya. Namun Joey tetap saja memasang wajah datarnya yang garang meskipun Luciana telah menunjukan sikap lembutnya di depan pria bermarga Lee itu.
“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”
“Mengatakan apa?” tanya Luciana bingung. Ia benar-benar belum membuat kesalahan apapun pagi ini. Ia juga tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari pria itu. Jadi topik apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh pria ini?
“Kenapa selama ini kau diam saja jika ternyata kau mendapatkan perlakuan buruk dari seluruh penghuni rumah ini. Sudah berapa lama mereka mengacuhkanmu? Katakan padaku.” ucap Joey emosi. Luciana langsung memberi isyarat Joey untuk mengecilkan suaranya karena ia merasa tidak enak dengan seluruh pelayan di
rumah Joey.
“Oppa, kecilkan suaramu. Kau tidak perlu memperpanjang masalah kecil seperti ini.”
__ADS_1
“Tidak bisa Luci, mereka semua seharusnya menghormatimu sebagai istriku. Aku akan memecat mereka semua jika mereka berbuat acuh tak acuh padamu lagi.”
“Termasuk bibi Jang? Kau akan memecatnya juga?” tanya Luciana tegas. Luciana menatap manik Joey tajam sambil sedikit mengangkat dagunya menantang. “Apa kau akan memecat bibi Jang karena ia juga bersikap acuh tak acuh padaku. Sudahlah oppa, jangan membuat masalah kecil seperti ini menjadi rumit. Mereka semua tidak salah, aku yang salah.” ucap Luciana lesu dengan wajah frustrasi. Joey tampak mematung di tempat sambil menatap Luciana tanpa ekspresi. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu setelah mengetahui semua kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh Luciana. Yang pasti ia benar-benar terkejut karena istrinya ternyata tidak mendapatkan perlakuan yang semestinya di rumahnya sendiri. Dan ia yakin, semua ini pasti karena masa lalu Luciana yang pernah menjadi selingkuhannya.
“Sudah berapa lama kau mendapatkan perlakuan buruk seperti ini?”
“Sejak aku menjadi istrimu dan tinggal di sini.” jawab Luciana apa adanya. Percuma juga jika ia tetap berbohong jika pada kenyataanya Joey telah mengetahui semuanya. Mungkin memang sudah saatnya bagi Joey untuk mengetahui sedikit kebohongan kecilnya selama ini.
“Kau tidak pernah menceritakannya padaku.”
“Karena bagiku ini bukan sesuatu yang penting untuk diceritakan. Mereka hanya memerlukan sedikit waktu untuk menerima kehadiranku di sini, jadi jangan salahkan mereka atas semua sikap acuh tak acuh yang mereka tunjukan padaku. Seharusnya aku memang sadar diri karena posisiku di sini hanyalah sebagai perusak dalam hubungan rumah tanggamu dan Jihyun.”
“Luciana hentikan!” Joey terlihat sangat murka ketika Luciana kembali mengungkit masalah itu setelah sekian lama mereka tidak pernah membahasnya. Ia pikir Luciana tidak akan membahas wanita itu lagi di depannya karena mereka berdua telah sepakat untuk melupakan kejadian tidak menyenangkan itu selama-lamanya.
“Sudahlah oppa, terima saja kenyataan itu. Sampai kapanpun semua orang tetap akan memandangku sebagai ****** yang hina dan buruk.” ucap Luciana getir sambil menyeka setitik kristal bening yang menetes di sudut matanya. Perlahan-lahan Luciana segera melangkah pergi meninggalkan Joey yang masih setia berdiri di
tempatnya sambil mengetatkan rahangnya marah. Ingin rasanya pria itu berteriak pada Luciana dan menyadarkan wanita itu jika ia bukanlah wanita rendahan yang sangat hina, seperti apa yang wanita itu katakan. Namun luapan emosinya yang membuncah justru membuatnya kehilangan kata-kata hingga ia hanya mampu menggeram sambil menatap nyalang punggung Luciana yang perlahan-lahan menghilang, tertelan tangga spiral di rumahnya.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, segerombolan pelayan sedang berdiri di balik tembok sambil berbisik-bisik heboh. Mereka semua mulai membicarakan nyonya baru mereka yang tampak menyedihkan di depan tuan besarnya yang sedang murka. Dan diantara para pelayan itu, bibi Jang tampak tertegun sendiri sambil meremas jari-jarinya gugup penuh rasa bersalah karena selama ini ia lah yang membuat seluruh pelayan muda itu bersikap acuh tak acuh terhadap Luciana.
“Nyonya Jang, kasihan sekali nyonya Luciana. Ia... mendapat amukan dari tuan Joey karena berusaha melindungi kita.” ucap Sora lirih di sebelah bibi Jang. Namun wanita paruh baya itu hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hatinya juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan oleh Sora, ia merasa bersalah pada Luciana dan ingin meminta maaf pada wanita baik hati itu. Tapi, apakah permintaan maafnya akan diterima?
“Sora, kembalilah bekerja dan jangan menggunjing seperti yang lain.”
Luciana terduduk sendiri di depan teras mansion milik Joey sambil memandang kosong kearah halaman mansion milik suaminya yang luas. Ia merasa sendiri dan tidak berdaya di sini. Saat Joey meninggalkannya, ia merasa harus berjuang sendiri. Dan sekarang semua itu semakin parah dengan adanya pertengkaran mereka pagi ini karena Joey langsung mendiaminya tanpa mau memahami bagaimana posisinya.
“Aku merindukan Jihoo, Aaron, eomma, dan appa.” lirih Luciana pelan. Bertahun-tahun menjadi seorang kosenlor, Luciana tidak pernah merasa sangat tak berdaya seperti ini. Biasanya ia selalu berhasil mengatasinya dengan baik. Tapi ini, sungguh di luar kemampuannya. Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat Joey paham jika semua sikap diamnya itu bukan berarti ia lemah dan ingin diperlakukan semena-mena oleh seluruh pelayannya, tapi karena ia ingin membuat mereka sadar bahwa ia bukanlah wanita jahat seperti yang mereka pikirkan selama ini.
Bruummm
Suara gesekan aspal dan mesin mobil yang menyala cukup nyaring membuat perhatian Luciana teralihkan pada sebuah mobil sedan berwarna kuning yang baru saja berhenti di depannya. Sambil menyipitkan matanya intens, Luciana mulai menerka-nerka sang pengemudi mobil yang wajahnya tak begitu terlihat karena terhalangi oleh kaca hitam tebal yang terpasang sempurna di bagian depan
mobilnya.
“Jihyun...”
Luciana bergumam pelan ketika akhirnya sang pengemudi mobil menurunkan kaki jenjangnya keluar dari mobil sedan kuning itu.
“Luciana... Bagaimana kabarmu ******?”
Plakk
Satu tamparan lolos begitu saja dari tangan Jihyun dan membuat Luciana sedikit terhuyung ke belakang karena perlakuan yang tiba-tiba itu.
“Apa kau hanya datang untuk menamparku?” tanya Luciana datar sambil menahan rasa panas dan juga perih yang menjalar di pipi kanannya. Ia benar-benar tidak menyangka jika siang ini ia akan mendapatkan kejutan yang sangat luar biasa dari Lee Jihyun, oh.... mungkin sekarang namanya bukan Lee Jihyun, tapi Kim Jihyun.
__ADS_1
“Kau ingin masuk? Aku akan membuatkanmu secangkir teh.” tawar Luciana masih dengan nada datar sambil melenggang masuk ke dalam rumahnya. Wanita itu terlihat acuh tak acuh tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun ke belakang. Namun dari ekor mata kirinya ia tahu jika Jihyun saat ini sedang mengikutinya masuk ke dalam bekas mansionnya.
“Aku sudah lama mencarimu, kemana saja kau selama dua bulan ini?” tanya Luciana santai seperti tidak pernah terjadi apapun diantara mereka. Padahal baru saja Jihyun menamparnya dengan keras, dan hal itu disaksikan oleh sebagian besar pelayannya. Namun Luciana masih bisa bersikap tenang sambil menyajikan secangkir teh hangat, lengkap dengan berbagai kudapan yang ia miliki di dapur.
“Silahkan diminum dan dimakan, semua itu bebas dari racun.”
Luciana mendudukan dirinya di kursi di seberang milik Jihyun dan mulai mengamati wanita cantik itu dalam diam. Sedangkan Jihyun, wanita itu justru sekarang terlihat seperti patung sambil meremas-remas kedua tangannya gelisah. Sejak tadi ekor matanyapun juga tak henti-hentinya berputar untuk mengamati seluruh sudut ruang tamu mansion Joey yang sebagian besar telah berubah sejak Luciana tinggal di rumah megah itu.
“Aku akan menunggu. Apa kau datang ke sini untuk bertemu dengan Joey oppa? Kalau begitu aku akan menghubunginya agar ia segera pulang.”
“Tunggu.”
Luciana mengentikan langkahnya seketika dan segera berbalik kearah Jihyun. Ia kemudian kembali mendudukan dirinya di atas single sofa yang sebelumnya ia duduki.
“Katakan
saja, aku akan mendengarkannya.”
“Aku telah bertemu Joey oppa sebelum datang ke sini.”
“Lalu?” tanya Luciana tanpa ekspresi. Dari apa yang ia lihat dari raut wajah Jihyun, kedatangan wanita itu ke kantor Joey pasti telah mendapatkan penolakan keras. Tapi saat ini ia berada di sini bukan untuk menertawakan keadaan Kim Jihyun yang tiba-tiba berubah menjadi buruk setelah menamparnya. Ia tahu saat ini Kim Jihyun sedang mengalami depresi karena banyaknya masalah yang datang bertubi-tubi menghampirinya. Akhir-akhir ini wanita itu juga banyak dibicarakan oleh media, namun hal itu bukan karena perselingkuhan mantan suaminya, melainkan karena banyaknya pembatalan kontrak yang ia dapatkan setelah ia bercerai dari Joey.
“Ia mengusirku...”
“Akhir-akhir ini Joey oppa sedang memiliki banyak masalah. Bisa dikatakan kehidupan kami belum stabil dan kami masih harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan kebahagiaan. Bagaimana dengan dirimu, apa yang kau lakukan selama ini?”
Luciana perlahan-lahan mulai merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut. Ketika ia melihat tak ada lagi sikap arogansi yang penuh kuasa dari Kim Jihyun, ia pun mulai memperlakukan wanita itu layaknya teman akrab yang terlihat seperti tidak pernah memiliki masalah sedikitpun sebelumnya.
“Beberapa minggu terakhir aku memilih untuk menyendiri di apartemenku. Aku mengabaikan seluruh kontrak kerjaku dan benar-benar hanya berdiam diri di apartemen tanpa melakukan apapun hingga manajerku geram. Lalu mereka semua dengan seenaknya membatalkan seluruh kontrak kerjaku dan menilaiku sebagai wanita malas. Mereka semua, tidak pernah mengerti bagaimana perasaanku.”
“Tapi hari ini kau hebat, kau sudah berani untuk keluar dari apartemenmu dan menemui Joey oppa, juga aku. Bagaimana perasaanmu selama ini?”
Jiwa konselornya tanpa sadar tiba-tiba muncul begitu saja tanpa bisa dicegah. Lagipula sikap buruk Jihyun tidak bisa dibalas dengan sikap buruk juga. Wanita itu saat ini sedang terpuruk karena masalahnya, dan ia tidak mau memperparahnya dengan memberikan sikap jahat juga pada wanita itu.
“Aku merasa gugup dan juga lega. Maaf karena telah menamparmu.” bisik Jihyun lirih di akhir kalimatnya. Sambil menundukan kepalanya, ia sesekali mencoba mencuri-curi pandang kearah Luciana, menelisik kearah wanita itu dan mulai menilai wanita itu perlahan-lahan. Pantas saja Joey memilih untuk meninggalkannya demi wanita cantik itu, ternyata Luciana memang seorang wanita berharga yang patut untuk diperjuangkan. Bodoh jika saat itu Joey memilih untuk mempertahankannya karena pria itu tidak akan pernah mendapatkann apapun
darinya. Bahkan seorang anakpun tidak akan pernah didapat oleh Joey darinya karena ternyata ia sudah tidak memiliki rahim saat ini. Dulu ia pernah menjalani operasi pengangkatan rahim ketika masih duduk di bangku senior high school karena rahimnya rusak pasca kecelakaan. Dan hal itu benar-benar baru diketahuinya dua minggu yang lalu saat ia bertemu dengan ibunya dan menceritakan semua permasalahan peliknya. Jadi Joey memang tidak salah saat memutuskan untuk menceraikannya, dan sekarang ia benar-benar sangat bersyukur atas keputusan itu. Namun ia tetap saja tidak bisa menerima kondisinya saat ini yang seakan-akan seperti wanita terbuang. Tidak ada yang memperhatikan dirinya sedikitpun. Mereka semua menjauhinya dan menganggapnya seperti sesosok hantu yang tak kasat mata. Ia benar-benar hancur saat ini.
“Sebenarnya sejak kapan kalian menjalin hubungan?” tanya Jihyun ingin tahu. Luciana langsung menatap Jihyun penuh rasa bersalah sambil menggigit bibirnya bimbang.
“Aku... juga tidak tahu. Semuanya berjalan tanpa rencana dan mengalir seperti air. Tapi semuanya berawal dari kedatangannya ke biro konsultasi milik negara. Saat itu ia datang dengan sikap menyebalkan yang berhasil membuatku ingin sekali mengusirnya dari kantorku. Bahkan aku sempat melakukan hal-hal konyol untuk menghindarinya, tapi itu tidak berhasil. Aku tertangkap basah saat sedang bersembunyi darinya, dan sejak saat itu ia seperti mengikatku untuk menjadi penasihat kejiwaannya. Kau tahu, Joey oppa memiliki banyak masalah pelik yang ia sembunyikan. Jadi ia tidak suka ditinggalkan sendiri oleh orang-orang terdekatnya.”
“Hmm... Selama ini aku selalu meninggalkannya dan selalu bersikap semena-mena di depannya. Pantas jika pada akhirnya ia berpaling dariku karena aku tidak pernah memberikan apa yang ia inginkan. Justru aku yang selalu memaksanya untuk mengabulkan seluruh keinginanku. Berapa kali kalian pergi berkencan di belakangku?”
Luciana lagi-lagi langsung terlihat kikuk sambil mengalihkan tatapan matanya kearah lain. Ia tidak menyangka jika keputusannya untuk membawa Jihyun masuk ke dalam rumahnya justru akan berakhir dengan kegiatan introgasi yang sangat menyebalkan. Lagipula siapa juga yang mau jika masa lalunya diungkit ungkit oleh mantan istri suaminya. Hell, itu benar-benar mengganggu. Tapi Luciana jadi teringat pada sebuah kejadian dimana ia dan Joey benar-benar nekat untuk bertemu di belakang Jihyun. Literly, mereka benar-benar bertemu di belakang Jihyun saat wanita itu sedang mengobrol bersama rekan sesama artisnya di sebuah acara amal yang diselenggarakan oleh perusahaan asuransi swasta.
__ADS_1