Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Two: Body Lips and Eyes (Fifty)


__ADS_3

          Di dalam kamar yang sunyi dan gelap itu, Yunho menatap kearah jendela sambil menghela napas berkali-kali atas kesialan hidupnya yang tak berujung ini. Padahal ia telah berencana untuk mengakhiri hidupnya dengan mengiris nadinya, tapi sialnya Irenne justru menemukannya dan berakhir membawanya ke rumah sakit disaat ia berada di ambang batas kesadaran.


            “Wanita sialan itu.... sampai kapan ia akan mengacaukan hidupku.” geram Yunho tertahan. Ia mengepalkan tangannya kuat di atas selimutnya sambil memikirkan rencana untuk menyingkirkan Irenne dari hidupnya. Ia muak hidup bersama Irenne setahun ini karena wanita itu benar-benar cerewet dan menyusahkan. Jika bukan karena terpaksa, ia tidak akan pernah mau menjalin hubungan dengan wanita sialan itu. Semua ini ia lakukan demi menghilangkan rasa traumanya pada kejadian yang sangat buruk di masa lalu. Ia ingin menghilangkan bayang bayang gadis kecil di dalam kepalanya yang telah ia sakiti dengan sangat dalam, hingga membuatnya tak pernah bisa melupakan bagaimana suara teriakannya ketika merontan, bagaimana tatapan matanya yang memohon untuk dilepaskan, dan bagaimana bibir merah mudanya yang nikmat itu terus bergerak liar untuk menghindari ciumannya yang brutal. Ya, ia pernah melakukan perbuatan buruk pada seorang anak kecil. Ia pernah memperkosa seorang anak kecil berusia sepuluh tahun ketika ia berusia tujuh belas tahun.


Krieettt...


            Yunho menoleh cepat kearah pintu kamarnya dan langsung terdiam kaku di tempat. Di sana, di ambang pintu, ia melihat anak kecil itu sedang melihat kearahnya dengan air mata penuh kesedihan yang terus mengalir di sepanjang pipi pucatnya. Gadis kecil itu perlahan-lahan berjalan kearah Yunho sambil menyeret kaki-kaki kecilnya yang tampak kotor oleh lumpur. Yunho dapat melihat jejak-jejak tanah basah mulai mengotori lantai kamar rawatnya seiring dengan langkah gadis itu yang mulai mendekat kearahnya.


            “Kkau... apa yang kau lakukan di sini?”


            Tolong lepaskan aku..... Ibuku akan mencariku. Tolong...


            Yunho menutup telinganya rapat-rapat sambil berteriak-teriak keras untuk mengusir gadis kecil itu keluar dari kamarnya. Ia muak mendengar suara rengekan dan tangisan itu terus menerus di telinganya. Ia ingin hidup normal lagi seperti dulu, sebelum gadis kecil itu datang dan mulai menghantuinya.


            “PERGI! KAU GADIS SIALAN!”


            Yunho bergerak-gerak brutal dan semakin liar ketika ia merasa tangan gadis itu mulai menggapai kakinya. Gadis kecil itu menarik kakinya perlahan hingga kaki kananya kini telah menggantung di ranjang. Kemudian setelah kakinya, gadis kecil itu mulai menggapai tangannya dan menggenggamnya erat dengan tangannya yang dingin hingga membuat Yunho harus mengerahkan tenaga ekstra untuk mendorong gadis kecil itu pergi dari hadapannya.


            “Jangan ganggu aku! Pergi!”


            “Tuan Kim Yunho.. Yunho!”


            Yunho terdiam seketika dengan napas memburu sambil menatap bingung kearah Yuna yang saat ini sedang menahan kedua tangannya di udara. Wanita itu menatap kedua matanya intens sambil menyelami keadaanya yang tampak kacau itu.


            “Kau baik-baik saja?”


            Yunho diam. Ia tidak menjawab apapun dan hanya menatap manik coklat Yuna sambil mencoba menormalkan orientasinya yang masih terasa kabur. Ia takut apa yang ia lihat saat ini hanyalah sebuah khayalan yang tidak nyata. Namun ketika Yuna mengulurkan salah satu tangannya untuk memegang pipinya, barulah ia sadar jika Yuna yang berdiri di hadapannya adalah Yuna yang nyata. Wanita itu bukanlah ilusinya seperti gadis kecil menyeramkan yang selalu menghantuinya selama ini.


            “Tenanglah tuan Kim, kau tidak sedang berhalusinasi saat ini. Minumlah.”


            Yuna menyodorkan segelas air putih kearah Yunho untuk membantu pria itu menormalkan deru napasnya yang masih memburu. Dengan tangan gemetar Yunho menerima gelas itu dan mulai meminumnya perlahan. Namun karena kedua tangannya masih terasa lemas, gelas itu hampir tergelincir jatuh ke atas lantai jika Yuna tidak menggenggam tangannya untuk meredakan sensai gemetar yang masih dirasakannya.


            “Aku terus mendengarmu berteriak-teriak sambil menyebut gadis sialan, sebenarnya siapa gadis yang kau maksud itu?” tanya Yuna perlahan setelah dirasa Yunho cukup tenang. Malam ini secara kebetulan ia melewati kamar rawat Yunho untuk kembali ke ruangannya setelah ia melakukan visit malam. Namun tanpa diduga ia justru mendengar suara teriakan nyaring dari dalam kamar rawat Yunho yang sebelumnya terlihat sunyi. Ia kemudian memutuskan untuk melihat apa yang terjadi pada Yunho dan menemukan pria itu sedang berteriak-teriak sambil menendang udara kosong. Gerakannya terlihat seperti sedang mengsir seseorang untuk pergi, namun pria itu sebenarnya sedang mengusir sesuatu yang tak kasat mata.


            “Sejak kapan kau berada di dalam kamarku?” Yunho menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yuna dengan sebuah pertanyaan lain. Pria itu melepaskan tangan Yuna dari pipinya dan mencoba membetulkan letak duduknya yang terlihat hampir merosot ke atas lantai.


            “Belum begitu lama. Aku masuk ke dalam kamarmu setelah mendengar suara teriakanmu yang nyaring. Aku awalnya ingin menegurmu karena suaramu dapat mengganggu pasien lain. Tapi tanpa diduga, kau justru terlihat sedang menendang-nendang udara kosong sambil berteriak-teriak mengenai gadis sialan. Siapan gadis itu?”


            Yuna menghilangkan aksen formalnya di depan Yunho dan memilih untuk menggunakan bahasa informal agar mereka terlihat lebih akrab. Saat ini ia ingin memposisikan dirinya sebagai seorang teman, jadi ia harus bersikap sesantai mungkin layaknya seorang teman yang mampu memahami bagaimana kondisi temannya.


            “Aku... gila bukan? Aku mengalami gangguan jiwa karena aku bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.”


            “Itu adalah ilusimu, kau hanya melihat bayangan yang kau ciptakan sendiri.” ucap Yuna lembut. Namun Yunho sepertinya belum puas dengan jawaban Yuna. Raut wajahnya terlihat semakin mendung seiring dengan ingatannya yang memutar banyak kejadian-kejadian abnormal yang sering dialaminya beberapa tahun terakhi ini.


            “Aku merasa gadis kecil itu nyata. Menangis meraung-raung di depanku dan memohon padaku untuk dilepaskan. Bagaimana cara menyingkirkan ia dari hidupku? Awalnya aku berpikir untuk mati, karena dengan begitu ia pasti akan hilang bersama dengan jiwaku yang lenyap. Tapi wanita sialan itu justru menyelamatkanku sebelum Tuhan berhasil mencabut nyawa dari dalam ragaku. Apa yang harus kulakukan untuk mengakhiri semua penderitaan ini, dokter Kim?” tanya Yunho datar penuh rasa frustrasi.


            Melihat Yunho yang menyedihkan membuat Yuna begitu iba pada pria itu. Banyaknya permasalahan yang disembunyikan oleh pria itu membuatnya mengalami depresi hingga pada akhirnya semua kenangan-kenangan paling buruk yang berusaha ia tekan di dalam otaknya muncul dalam bentuk sebuah ilusi yang menyerupai sesosok gadis kecil.


            “Siapa gadis kecil yang sering muncul di dalam kepalamu itu?”


            “Korbanku.”


            “Korban? Kau pernah melakukan kejahatan sebelumnya?”


            “Ia adalah gadis berusia sepuluh tahun yang pernah kuperkosa saat aku berusia tujuh belas tahun.”


            Yuna terlihat syok, dan untuk beberapa saat hingga ia hanya dapat mematung di tempat tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bibirnya terlalu kelu untuk hanya sekedar mengucapkan sebuah kata karena ia tidak pernah menyangka jika pria yang terlihat baik seperti Yunho ternyata pernah melakukan sebuah tindakan asusila yang mengerikan pada seorang gadis di bawah umur.

__ADS_1


            “Kenapa, kau terkejut?”


            Yunho menolehkan kepalanya kearah Yuna dan memberikan wanita itu sebuah seringaian yang tampak mengerikan. Namun anehnya Yuna tidak takut dengan hal itu, ia justru membalasnya dengan senyuman lembut miliknya yang mungkin dapat membuat Yunho lebih tenang.


            “Aku hanya terkejut. Aku tidak menyangka kau pernah melakukan hal itu. Apa kau ingin menceritakan sesuatu padaku, terkait masa lalumu? Di sini aku akan menjadi temanmu, jadi kau tidak perlu sungkan untuk menceritakan apapun masalah yang sedang kau hadapi.”


            “Terimakasih, kau baik sekali dokter Kim. Tapi mungkin cerita ini akan terlalu panjang untuk kau dengarkan dan mengganggu waktu tidurmu, apa kau tidak keberatan?”


            Yuna menggeleng cepat dan segera mengambil kursi hitam untuk duduk di sebelah Yunho. Mengetahui masa kelam pria itu adalah keinginannya sejak berhari-hari yang lalu. Jadi sedikit mengabaikan waktu tidurnya rasanya tidak masalah demi mendapatkan apa yang ingin ia ketahui.


            “Sekarang aku siap untuk mendengarkan ceritamu.”


-00-


            Satu minggu berlalu dengan cepat untuk Yuna. Sejak ia mendengarkan semua cerita Yunho mengenai masa lalunya, kini hubungannya dengan Yunho menjadi lebih dekat. Sejak empat hari yang lalupun pria itu sebenarnya sudah diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit karena kondisinya sudah stabil. Hanya saja Yuna harus terus menerus memantau kondisi psikis Yunho yang bisa saja mengalami lonjakan drastis karena berbagai masalah yang tiba-tiba muncul. Namun sebelum hal-hal buruk terjadi pada Yunho, ia telah memberikan obat untuk menstabilkan moodnya agar pria itu tidak cepat mengalami euforia atau kesedihan setiap kali mendapatkan tekanan dari lingkungan di sekitarnya.


            Hingga detik ini Yuna belum pernah bertemu dengan kekasih Yunho yang bernama Bae Irenne itu. Yunho sendiri juga tidak pernah menceritakannya dengan detail. Ia hanya sebatas membahas Irenne sebagai kekasihnya yang berisik dan juga menyusahkan karena kerap merengek-rengek di depannya setiap permintaanya tidak dipenuhi. Dan mengenai masa lalunya yang pernah memperkosa seorang gadis di bawah umur, ia akui jika itu adalah pengalaman yang mengerikan. Bahkan dirinyapun langsung merinding saat Yunho menceritakan detail kejadiannya malam itu padanya. Mungkin jika gadis kecil itu saat ini ada, ia bisa memintanya untuk membantu Yunho menyembuhkan ketakutannya. Tapi mungkin gadis kecil itu ini telah beranjak dewasa dan tidak ingin lagi masa lalunya yang buruk diungkit kembali. Terlalu menyakitkan untuk mengingat hal-hal yang sangat mengerikan dimana ia belum mengerti apapun mengenai dunia orang dewasa.


Tok tok tok


            “Masuk...”


            Yuna menjawab ketukan pintu di ruangannya tanpa sedikitpun mengalihkan tatapan matanya pada beberapa kertas rekam medik milik pasiennya yang berserakan di atas meja. Namun setelah cukup lama tak ada respon dari sang pengetuk, barulah Yuna mendongakan kepala dan ia langsung menemukan Yunho sedang berdiri di ambang pintu sambil menjinjing tas kameranya.


            “Selamat siang dokter Kim, maaf mengganggumu.”


            “Oh tidak, sama sekali tidak. Aku baru saja memikirkanmu. Bagaimana kondisimu tuan Kim?”


            “Panggil aku Yunho, kurasa itu terlalu formal.”


            “Baiklah, bagaimana kondisimu, Yunho? Apa kau masih mendengar suara-suara gadis kecil itu lagi?” tanya Yuna sambil menaikan alisnya. Ia mempersilahkan Yunho duduk di depannya, lalu kembali menyimak jawaban Yunho yang sedikit berbelit-belit.


            “Syukurlah kalau begitu. Jangan pernah berpikir untuk bunuh diri lagi karena itu tidak baik. Kau masih memiliki masa depan yang cerah. Ooya, hari ini kita akan melakukan terapi relaksasi agar kau bisa mengontrol emosimu saat kau mulai mendapatkan tekanan-tekanan yang mengganggu. Sebenarnya cara untuk menghilangkan gangguan itu mudah, yaitu kau harus selalu terhindar dari rasa stress dan depresi. Akhir-akhir ini kau mengalami tekanan karena kekasihmu terus memintamu untuk menikahinya bukan? Itu yang menyebabkan kau kembali mendengar suara-suara itu setelah sekian lama kau tidak mendengarnya.”


            “Begitukah? Hampir setiap hari aku mengalami stress, dokter Kim. Tapi kurasa bukan itu yang menyebabkanku tiba-tiba mendapatkan gangguan itu lagi.”


            Yuna mengernyit heran dan dengan isyarat wajahnya ia meminta Yunho menjelaskan maksud dari ucapannya yang ambigu itu.


            “Rasa bersalahku pada gadis itu sangat besar, begitu juga rasa cintaku padanya juga sangat besar. Aku memperkosanya saat itu bukan hanya dipenuhi napsu semata, tapi karena aku juga menyukainya. Ia adalah seorang gadis kecil yang sering kutemui saat aku kembali dari sekolah. Ia adalah anak dari tetangga pamanku. Dulu karena orangtuaku sering bertengkar, aku memutuskan untuk tinggal di rumah pamanku untuk sementara waktu. Disanalah aku bertemu dengan gadis itu. Gadis kecil polos dengan mata bulat, bibir merah tipis, dan tubuh mungil yang sangat cantik. Setiap sore ia selalu bermain bersama teman-temannya di taman di dekat rumahnya


dengan penuh suka cita dan tanpa beban. Melihatnya yang begitu indah diantara teman-temannya membuatku selalu ingin melihatnya lagi dan lagi. Hingga pada suatu malam aku melihatnya sedang berjalan sendiri ketika ia hendak pulang ke rumahnya setelah seharian ia bermain di rumah salah satu temannya.”           


            “Lalu kau menyergapnya di jalan dan memperkosanya di dalam box telepon.... di tengah badai yang tiba-tiba menerjang Seoul malam itu.” ucap Yuna melanjutkan cerita Yunho. Pria itu mengangguk. Menyeringai penuh misteri dan tiba-tiba menarik pergelangan tangan Yuna kuat hingga wanita itu tertarik maju dengan posisinya sedikit condong kearahnya.


            “Kim Yuna... bukankah itu kau, gadis kecil yang kuperkosa di dalam box telepon umum?” bisik Yunho seringan kapas, namun berhasil membuat wajah Yuna pucat pasi dan bergidik takut sambil menatap manik coklat Yunho tajam.


            “Dokter Kim, apa itu benar?” Luciana susah payah menelan ludahnya saat tenggorokannya terasa kelu setelah mendengarkan cerita masa lalu Yuna yang sungguh di luar dugaan. “Kau korban pemerkosaan, dokter Kim?” ucap Luciana setengah berbisik. Ia lalu menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seperti seorang pencuri karena terlalu takut jika kata-katanya didengar oleh orang lain yang mengenal mereka di sini.


            “Begitulah. Kau tidak perlu setegang itu dokter Lucine, itu bukan rahasia lagi di sini.”


            Luciana sungguh tak habis pikir melihat wajah santai Yuna yang seakan-akan tidak terganggu dengan masa lalunya. Wanita itu dengan santai justru memasukan suapan terakhir makanannya ke dalam mulutnya, lalu segera membilas mulutnya dengan jus mangga yang masih tersisa separuh dari gelasnya.


            “Kau harus terbiasa dengan sisi lain dari dokter-dokter di sini, Lucine.” ucap Sehun santai.


            “Tapi dia sungguh luar biasa.” balas Luciana sambil menunjuk Yuna gemas dengan jari telunjuknya yang lentik. “Kau tahu sendiri bagaimana perbedaan Yuna dan Yeri. Ah maaf jika itu mengganggumu, dokter Oh.” ucap Luciana lagi setelah ia melihat Sehun mengerutkan kening kearahnya ketika nama Yeri mulai mengudara dari bibirnya.


            “Yah... setiap orang tentu memiliki mekanisme pertahanan diri yang berbeda.  Mungkin aku sekarang bisa bercerita dengan lancar di depanmu, Lucine. Tapi percayalah jika itu tidak mudah. Aku melewati hari-hari yang buruk di masa lalu sebelum aku menemukan kebahagiaanku saat ini.”

__ADS_1


            “Bagaimana? Ceritakan padaku, Yuna. Aku ingin mendengarnya.”


            “Semuanya dimulai saat aku berusia sepuluh tahun.” ucap Yuna tenang sambil menerawang jauh ke masa lalunya.


            Siang itu keadaan taman begitu riuh. Beberapa anak kecil tengah bermain kejar-kejaran di tengah siang yang terik sambil berteriak ketika salah satu teman mereka berhasil mengejar atau menangkap salah satu diantara mereka yang sedang berlari.


            Yunho menatap datar sekumpulan anak-anak itu sambil menegak minuman kalengnya di bawah pohon yang rindang. Setiap siang ia selalu berada di sana untuk mengamati anak-anak itu bermain. Entah kenapa ia begitu suka melihat para tetangga pamannya itu berlari-lari di depan matanya dengan ekspresi wajah ceria yang begitu lepas. Diantara segerombolan anak-anak itu, ia paling suka melihat senyum manis milik seorang anak kecil yang ia ketahui bernama Kim Yuna. Yuna adalah gadis kecil berusia sepuluh tahun yang tinggal di samping rumah pamannya. Lebih tepatnya di rumah nomor dua belas, yang letaknya di samping kanan rumah pamannya.


            Pertama kali ia melihat Yuna adalah satu bulan yang lalu, saat ia kabur dari rumah dan memutuskan untuk menginap di rumah pamannya karena ia bosan dengan pertengkaran kedua orangtuanya di rumah. Setiap hari mereka selalu bertengkar, merusak apapun yang bisa dirusak sambil mengeluarkan suara-suara teriakan berisik yang begitu memuakan untuk didengar. Untung saja ibunya masih memiliki saudara sepupu yang tinggal di pinggir kota Seoul, sehingga ia dapat mengalihkan kesesakan pikirannya dengan pergi ke rumah pamannya agar ia tidak perlu melihat orangtuanya bertengkar di rumah.


            “Yunho, appa memintaku untuk memanggilmu. Saatnya makan siang.”


            Hyukjae tiba-tiba datang. Saudara


sepupunya itu menepuk pundaknya pelan sambil mengikuti arah pandang Yunho yang sedang fokus menatap kumpulan anak-anak di sekitar kompleksnya yang sedang


bermain dengan riuh, tak jauh dari tempak Yunho duduk.


            “Aku akan menyusul nanti.” jawab Yunho acuh tak acuh. Ia masih ingin melihat gadis manisnya tertawa bersama teman-temannya yang lain. Gadis itu benar-benar terlihat paling menonjol diantara yang lainnya karena ia begitu cantik dan memiliki wajah yang paling bersinar.


            “Bukankah mereka begitu ceria, begitu lepas dan seolah-olah tidak memiliki beban apapun.” celetuk Hyukjae berkomentar. Pria bergusi pink itu tiba-tiba juga tertarik untuk mengamati mereka sambil tersenyum simpul, membayangkan bagaimana indahnya kehidupan mereka yang bebas tanpa beban. Berbeda dengannya maupun Yunho yang sudah memiliki banyak masalah dan juga tanggungjawab yang harus dipikul. Terkadang ia ingin kembali ke masa-masa indah itu, dimana setiap hari pikirannya hanya diisi dengan rencana untuk bermain, bermain, dan bermain tanpa harus memikirkan masa depan.


            “Hmm, andai aku bisa seperti mereka, tertawa lepas tanpa memiliki beban apapun yang mengganggu. Aku terkadang bosan dengan semua kehidupan ini, jika aku bisa meminta pada Tuhan, aku ingin diberikan kematian saat ini juga agar aku tidak perlu merasakan kejamnya dunia yang perlahan-lahan akan menyakitiku.”


            “Jangan berbicara seperti itu! Banyak orang yang menginginkan hidup sepertimu. Kaya, memiliki wajah tampan, dan juga cerdas. Lihatlah sisi positif dari kedudukanmu saat ini, jangan hanya melihatnya dari sudut tergelap hidupmu.” nasihat Hyukjae bijak. Yunho hanya tersenyum sinis menertawakan nasihat konyol Hyukjae tanpa mau menimpalinya sedikitpun. Baginya Hyukjae tidak pernah tahu bagaimana perasaanya yang selalu diabaikan oleh keluarganya, sehingga pria itu dapat mengeluarkan nasihat sampahnya dengan mudah. Semua harta atau kelebihan yang ia miliki saat ini sama sekali tidak berguna. Mereka semua sampah! Sampah yang tidak bisa menolong hidupnya menjadi lebih baik dan justru membuatnya semakin terpuruk. Lihatlah! karena semua kekayaan itu, orangtuanya justru bertengkar. Orangtuanya sering berteriak-teriak di rumah dan menghancurkan barang-barang di rumahnya tanpa pernah berpikir jika barang itu dibeli menggunakan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Andai saja sepupu bodohnya itu merasakan apa yang ia rasakan, ia pasti tidak akan pernah bisa memberikan nasihat bijak seperti itu.


            “Masuklah ke dalam terlebihdahulu, aku masih ingin di sini. Katakan pada paman aku akan memakan makanannya nanti.”


            “Baiklah, cepatlah masuk jika kau sudah selesai melihat mereka berteriak-teriak.” Ucap Hyukjae akhirnya sambil berjalan menjauh untuk masuk ke dalam rumahnya.


            Sepeninggal Hyukjae, Yunho kembali mengamati kumpulan anak-anak itu sambil menyeringai misterius kearah Yuna. Entah kenapa daya tarik gadis itu padanya begitu kuat. Sejak pertama kali ia melihatnya, seluruh rasa sukanya pada gadis-gadis seusianya menjadi hilang. Ia tidak lagi merasa bernafsu pada kekasihnya, Jessica. Dan sejak sebulan yang lalu ia juga tidak pernah memikirkan Jessica. Selalu hanya Yuna yang menari-nari di dalam kepalanya hingga ia merasa pening. Terkadang ia juga bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah ia normal? Apakah normal jika ia merasa tertarik dengan seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun yang masih begitu polos?


            ‘Ya, aku normal!’


            Yunho tiba-tiba berdiri dari duduknya. Berjalan lebih mendekat kearah gadisnya sambil memberikan senyuman manis pada anak-anak kecil yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung.


            “Halo...” sapa Yunho lembut pada Yuna sambil mengelus puncak kepala gadis itu pelan. Melihat Yunho yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya, Yuna langsung mendongakan wajahnya dan menatap Yunho bingung dengan mata bulatnya yang terlihat menggemaskan.


            “Apa yang oppa lakukan di sini?” tanya Yuna polos. Gadis kecil itu terlihat begitu murni dengan wajah polos yang menentramkan. Melihat wajah Yuna yang begitu polos membuat hati Yunho merasa damai seketika. Ia merasa gadis kecil itu mampu mendinginkan hatinya yang panas, yang selalu dipenuhi oleh rasa marah akibat kedua orangtuanya yang tak pernah memberikan perhatian apapun padanya.


            “Oppa ingin menyapamu.”


            Yuna menatap bingung kearah Yunho, lalu ia beringsut ke kiri untuk lebih merapat pada gadis kecil di sebelahnya yang bernama Kwon Yuri.


            “Siapa namamu gadis manis?”


            “Yuna...” jawab Yuna ragu-ragu. Sekilas ia dapat merasakan adanya aura yang tidak beres yang menguar dari dalam diri Yunho, namun ia tidak yakin jika apa yang ia rasakan itu adalah nyata. Lagipula apa yang bisa dilakukan oleh seorang gadis kecil sepertinya pada seorang pemuda dewasa seperti Yunho? Selama pria itu tidak melakukan apapun padanya atau pada teman-temannya, maka ia tidak perlu merasa takut. Ia hanya perlu membalas uluran tangan pria itu dan berlari pulang bersama Yuri.


            “Yuri-ah, ayo kita pulang. Ini sudah siang, eomma pasti akan mencariku.”


            Yunho tersenyum miring mendengar percakapan yang terjadi antara Yuna dan temannya. Gadis kecil itu rupanya lebih sulit untuk didekati dari apa yang ia duga. Lihatlah bagaimana ekspresi wajahnya yang terlihat polos, namun sebenarnya ia memiliki kewaspadaan diri yang baik. Ia tidak serta merta bersedia untuk berkenalan terlalu lama dengan orang asing. Ia memilih untuk menggunakan alasan klise agar bisa segera terbebas dari cengkeraman Yunho yang berbahaya.


            “Kau mau pulang?”


            “Ini sudah jam makan siang, aku harus berada di rumah sebelum eomma mencariku.”


            Tanpa mengucapkan apapun lagi Yuna kecil segera berlari menuju rumahnya bersama Yuri. Sedangkan beberapa temannya masih berada di tengah-tengah taman itu bersama Yunho yang sedang tersenyum kecil menatap kepergian Yuna.

__ADS_1


            “Kita pasti akan bertemu lagi gadis manis.”


__ADS_2