Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Two: Body Lips and Eyes (Fifty One)


__ADS_3

            Yuna menarik tangan Yuri cepat sambil sesekali menoleh ke belakang untuk mengintip sosok Yunho yang masih menatapnya dari kejauhan. Dengan kening yang dipenuhi keringat, Yuna segera menarik Yuri untuk masuk ke dalam rumahnya dan segera mengunci pagar rumahnya rapat-rapat agar Yunho tidak bisa lagi mengawasinya dari kejauhan.


            “Yuna, kenapa kita harus buru-buru pulang? Bukankah eommamu sedang pergi bersama appamu ke luar kota?” tanya Yuri kesal. Gadis kecil itu masih mencoba menormalkan degup jantungnya sambil menyentak tangan Yuna dari pergelangan tangannya.


            “Yuri, aku takut. Pria itu, ia sejak tadi terus mengawasiku. Aku mulai menyadarinya sejak dua hari yang lalu. Ia selalu berada di bawah pohon sambil terus mengawasiku. Menurutmu apa ia akan melakukan hal buruk padaku?”


            Yuna terlihat takut. Ia menyeka butir-butir keringat yang mengalir dari keningnya, lalu sedikit mengintip dari


celah pagar rumahnya untuk memastikan keberadaan Yunho. Tapi syukurlah, Yunho sudah pergi dari taman tempatnya bermain. Pria itu sudah tidak ada di sana dan hanya menyisakan teman-temannya yang masih melanjutkan permainan mereka.


            “Benarkah? Aku tidak pernah tahu jika oppa tampan itu sering mengawasi kita. Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Lebih baik kita masuk dan makan masakan bibi Anna, aku lapar.” ringis Yuri kecil.


            Kedua gadis itu lantas berjalan beriringan masuk ke dalam rumah Yuna yang besar dan sepi. Sejak satu minggu yang lalu kedua orangtua Yuna pergi Busan untuk menjenguk neneknya yang sakit. Kemarin ibunya sempat menelponnya jika kemungkinan mereka akan pulang lusa karena saat ini neneknya masih sakit.


            Selama orangtuanya pergi, Yuna hanya tinggal bersama bibi Anna, asisten rumah tangganya yang telah bekerja di rumahnya sejak ia baru berusia satu tahun. Namun keberadaan Yunho disekitarnya membuat perasaanya menjadi was-was. Ia takut jika pria itu ternyata memiliki niat jahat padanya karena kedua orangtuanya sedang pergi. Dan parahnya semakin lama pria itu mulai menunjukan keberaniannya. Bahkan hari ini ia dengan berani mendekatinya untuk mengajak berkenalan. Bukankah itu sangat menakutkan? Ia ingin ayah ibunya segera kembali dari Busan agar mereka bisa melindunginya dari pria misterius yang sangat mengerikan itu.


            “Bibi Anna...”


            Yuna memanggil bibi Anna pelan yang sedang menyiapkan sup ayam di atas meja. Wanita berusia empat puluhan itu menolehkan kepalanya cepat dan langsung tersenyum manis kearah Yuna.


            “Ada apa Yuna, kau terlihat sangat serius.” komentar bibi Anna sambil tetap menata piring di atas meja. Yuna menatap bibi Anna lama dan terlihat ragu untuk mengungkapkan kegundahan hatinya. Namun pada akhirnya ia berusaha memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan.


            “Bibi, apa bibi mengenal laki-laki dewasa yang tinggal di sebelah rumah?”


            “Siapa Yuna? Apa yang kau maksud pama Lee Jinri?”


            “Emm.. bukan, ia adalah laki-laki muda. Mungkin usianya sama seperti Hyukjae oppa.” ucap Yuna memberitahu. Bibi Anna sedikit mengerutkan dahinya untuk berpikir. Ia lalu menjentikan jarinya keras ketika ia mendapatkan jawaban untuk pertanyaan Yuna.


            “Apakah yang kau maksud Kim Yunho?”


            “Kim Yunho? Siapa itu Kim Yunho?” tanya Yuna tak mengerti. Mata bulatnya mulai bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri untuk memikirkan siapa itu Kim Yunho.


            “Ia adalah sepupu Lee Hyukjae, keponakan paman Jinri. Akhir-akhir ini bibi sering bertemu dengannya di depan rumah. Kata paman Jinri keponakannya itu sedang memiliki masalah, sehingga ia memutuskan untuk tinggal sementara di rumah paman Jinri. Kenapa tiba-tiba kau menanyakannya, Yuna?”


            “Ee... aku hanya ingin bertanya karena aku juga sering melihatnya sedang duduk di taman.” ucap Yuna beralasan. Mengetahui jika Yunho merupakan keponakan dari paman Jinri, membuat Yuna seketika merasa lega. Selama ini paman Jinri adalah orang yang baik dan pria itu juga sering membantu keluarganya jika keluarganya sedang kesusahan. Jadi sekarang tidak ada alasan lagi untuk mencurigai Yunho sebagai pria jahat karena pria itu adalah keponakan paman Jinri. Sekarang Yuna benar-benar bisa bernapas lega sambil menyantap makan siangnya dengan lahap. Pikiran-pikiran buruk yang sebelumnya menghantuinya, kini perlahan-lahan mulai lenyap. Dan besok ia dapat bermain bersama teman-temannya dengan santai karena ia tidak perlu takut lagi dengan pria bernama Kim Yunho.


-00-


            Yunho lagi-lagi berada di taman untuk mengawasi Yuna dari kejauhan yang sedang bermain bersama teman-temannya. Hari ini gadis itu terlihat menggemaskan dengan stelan rok mini di atas lutut dan kaus merah yang tampak kontras dengan kulit putihnya yang bersih. Wajahnya yang selalu berbinar-binar itu juga terlihat menakjubkan saat tertimpa cahaya matahari. Dari hari ke hari Yuna semakin terlihat mengagumkan bagi Yunho. Gadis kecil itu tidak terlihat seperti teman-temannya yang lain. Yuna terlihat lebih menonjol dengan kecantikan alaminya dan gadis kecil itu juga terlihat lebih cerdas dari yang lainnya.


Dugg


Glatak glatak glatak


            Yunho melihat sebuah bola tiba-tiba melayang kearahnya, kemudian jatuh dan memantul tepat di kakinya. Dengan alis terangkat, Yunho mengambil bola itu dan melihat kearah segerombolan anak kecil yang sedang berteriak-teriak, meminta bola mereka dikembalikan.


            “Oppa, tolong lemparkan bola kami!”


            Segerombolan anak-anak berteriak-teriak, meminta Yunho untuk melemparkan bola mereka. Namun Yunho tidak ingin melakukannya, ia akan menyerahkan bola itu pada mereka, asalkan Yuna yang mengambilnya sendiri.           


            “Suruh Yuna untuk mengambilnya ke sini.”balas Yunho dengan suara bass nyaringnya. Tak berapa lama segerombolan anak-anak itu mulai meminta Yuna untuk mengambil bola mereka pada Yunho. Dan dengan langkah berat, Yuna segera berlari-lari kecil kearah Yunho sambil mengulurkan tangannya untuk meminta Yunho mengembalikan bola milk teman-temannya.


            “Oppa, tolong kembalikan bola kami.”


            “Kau ingin bola ini? Hmm, lalu apa yang akan kudapatkan sebagai imbalan karena telah mengembalikan bola ini?” tanya Yunho dengan seringaian licik. Yuna menatap Yunho kebingungan dan terlihat ingin berjalan mundur untuk kembali bersama teman-temannya. Namun Yunho segera menarik tangannya dan memberikan satu kecupan lembut di pipi kanan Yuna.


            “Ini bolamu, bermainlah lagi bersama teman-temanmu.”

__ADS_1


            Yunho langsung memberikan bola itu kepada Yuna dan meninggalkan Yuna sendiri yang masih syok dengan apa yang baru saja dilakukan Yunho padanya. Dan ketakutannya kemarin kembali menyusup masuk ke dalam hatinya hingga membuat wajahnya pucat pasi. Pria itu seharusnya tidak menciumnya, eommanya selalu mengatakan padanya untuk menjauhi orang asing. Apalagi orang asing yang dengan terang-terangan menyentuh anggota tubuhnya. Meskipun Yunho adalah keponakan dari paman Jinri, tapi tetap saja hal itu tidak boleh dilakukan. Pria dewasa itu tidak seharusnya mencium seorang gadis kecil yang belum mengetahui apa itu cinta.


                                                                                    -00-


           “Kau benar-benar akan pulang sekarang? Cuaca terlihat mendung, sebentar lagi pasti akan turun hujan.”


            Yuri menengadahkan kepalanya ke atas sambil merasakan hawa dingin yang mulai berhembus menerpa kulitnya. Langit di atasnya terlihat sangat kelabu dan gelap, ia yakin setelah ini Seoul pasti akan dilanda hujan lebat dengan angin yang bergemuruh. Namun gadis kecil di depannya terus bersikukuh untuk pulang karena ia telah berjanji pada bibi Anna untuk segera pulang dan tidak menginap di rumah Yuri.


            “Bibi Anna sudah menungguku, lagipula besok orangtuaku akan pulang, jadi besok aku akan memasak menu sarapan spesial bersama bibi Anna.” ucap Yuna berasalan. Gadis kecil itu lantas melambaikan tangannya ke arah Yuri dan segera berjalan menuju rumahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh, hanya dua blok. Jadi tidak masalah jika malam ini ia harus berjalan sendiri untuk mencapai rumahnya yang jaraknya hanya sekitar empat ratus meter dari rumah Yuri.


            “Ughhh.. kenapa dingin sekali?”


            Yuna menggosok-gosokan kedua telapak tangannya intens dengan tubuh menggigil karena udara dingin yang menerpa tubuhnya. Malam ini ia sama sekali tidak menggunakan jaket, dan itu benar-benar sangat menyiksanya. Seharusnya ia memang tidak terlalu asik bermain di rumah Yuri agar ia tidak perlu pulang selarut ini dengan kondisi jalan gelap dan hawa dingin. Tapi tadi memang sangat menyenangkan, ia hari ini membantu ibu Yuri membuat puding dan bermain game baru milik Yuri yang baru saja dibelikan oleh ayahnya.


Srakk srakk


            Yuna menoleh cepat ke belakang sambil memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan. Gadis itu mengedikan bahunya acuh tak acuh ketika dilihatnya tak ada apapun yang terlihat mencurigakan di belakangnya. Hanya ada beberapa ranting dan juga daun yang baru saja jatuh di atas aspal hingga menimbulkan suara gesekan yang cukup nyaring. Sambil tetap memeluk tubuhnya, Yuna terus berjalan menyusuri jalanan gelap di depannya dan mulai menghitung nomor demi nomor yang terpasang di depan pagar rumah tetangganya. Sebentar lagi ia akan segera tiba di rumahnya. Bahkan sekarang ia sudah bisa melihat pagar rumahnya yang berwarna biru terang di ujung blok. Ia pun semakin mempercepat langkah kakinya supaya ia bisa segera masuk kedalam rumah dan menghangatnya tubunya di depan perapian. Sungguh ia sudah tidak tahan dengan hawa dingin menusuk yang semakin lama semakin ekstrem.


            “Yuna...”


            Yuna terkesiap kaget ketika tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang. Seorang pria muda yang sangat


dikenalnya tiba-tiba berdiri di sebelahnya sambil menunjukan seringaian mengerikan yang tampak menakutkan. Yuna lantas melirik ke kiri dan ke kanan dengan was-was ketika menyadari adanya sesuatu yang janggal dari diri pria yang saat ini sedang berdiri di sebelahnya. Pria itu terlihat tenang, namun tangan kanannya masih setia berada di pundaknya dan terasa seperti sedang mencengkeramnya dengan erat.


            “Oppa.. apa yang oppa lakukan di sini?”


            Dengan wajah tenang, Yuna bertanya pada Yunho sambil meringis kecil karena hawa dingin yang semakin menjadi-jadi. Melihat Yuna yang kedinginan, Yunho segera melepas jaketnya dan menyampirkan jaket itu di sekitar tubuh Yuna agar hangat.


            “Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?”


 


Tess tess tess


            Tiba-tiba rintik-rintik hujan mulai turun dan berubah menjadi hujan deras yang disertai angin kencang. Melihat itu, Yunho segera menarik tangan Yuna untuk masuk kedalam box telepon agar mereka berdua bisa berteduh sementara di sana sambil menunggu hujan reda.


            “Oppa bajumu basah.”


            Yuna menyentuh lengan kemeja Yunho yang basah sambil menatap pria itu meminta maaf. Karena ia menggunakan jaketnya, maka kemeja Yunho menjadi basah terkena air hujan yang tiba-tiba turun dengan lebat.


            “Tidak masalah, aku bisa melepasnya.” ucap Yunho sambil melepaskan kemejanya dan mengibaskannya cepat di depan Yuna.


            “Kau masih kedinginan?”


            “Tidak terlalu, jaket ini hangat. Terimakasih oppa.”


            Yunho seketika merasa terpana dengan senyum manis Yuna yang sangat meneduhkan di depannya. Di tambah lagi dengan ucapan terimakasih yang terdengar begitu tulus dari seorang gadis berusia sepuluh tahun yang sangat polos di depannya. Ia benar-benar merasa sangat dihargai sebagai seorang manusia untuk pertama kalinya.


            “Apapun akan kulakukan agar kau merasa hangat Yuna.” bisik Yunho lembut sambil mencondongkan tubuhnya kearah Yuna. Pria itu menatap wajah Yuna lekat dan sedikit menarik tangan mungil Yuna agar merapat kearahnya. Hembusan napasnya yang hangat berhembus pelan disekitar wajah Yuna dan membuat Yuna merasa semakin hangat berada di dekat pria dewasa itu.


            “Kau hangat oppa.”


            “Aku akan semakin menghangatkanmu.”


            Yunho memeluk Yuna erat dan melingkupi tubuh mungil itu dengan tubuh besarnya yang cukup atletis. Perasaan nyaman dan tenang itu perlahan-lahan menyusup ke dalam hati Yunho ketika ia merasakan aroma tubuh Yuna yang begitu menggoda. Aroma khas anak-anak yang sangat unik dan berbeda dari aroma wanita dewasa yang membosankan. Ia benar-benar menyukainya dan ia ingin memiliki gadis kecil itu sendiri untuk dirinya.


            “Oppa... bisa kau lepaskan tubuhku? Aku tidak bisa bernapas.”

__ADS_1


            Yuna meronta-ronta kecil di dalam dekapan Yunho sambil menatap panik suasana disekitarnya yang sangat sepi. Saat ini ia benar-benar ingin pulang. Berlari sejauh-jauhnya dari Yunho karena ia takut dengan aura kelam yang menguar dari tubuh Yunho.


            “Ada apa Yuna? Bukankah kau merasa kedinginan?”


            “Tapi aku tidak bisa bernapas, ini terlalu sesak.”     


            Yunho segera melonggarkan pelukannya dari tubuh Yuna dan menatap wajah gadis kecil di depannya intens. Saat ini bibir tipis Yuna terlihat pucat dan sedikit menggigil. Ia yakin jaket hitamnya tidak bisa sepenuhnya menghangatkan tubuh Yuna. Gadis kecil itu memerlukan kehangat lebih dari dirinya.


            “Bibirmu menggigil dan pucat Yuna...”


            “Benarkah op...


            Yunho tiba-tiba mencium bibir Yuna dan ********** lembut penuh perasaan. Yuna yang tahu jika itu salah, langsung mendorong tubuh Yunho dan semakin meronta-ronta di dalam kungkungan Yunho. Apa yang ia takutkan sejak tadi akhirnya benar-benar terjadi. Dan sialnya saat ini ia sedang berada di dalam box telepon yang sempit dengan suasana sepi yang sangat mencekam di luar sana.


            “Oppa... hmmpphh... hmmppfffhh...”


            “Ssshhh... tenang Yuna... tenang, rileks. Aku sedang menghangatkan bibirmu yang membeku.”


            Yunho menatap wajah Yuna dengan mata berkabut dan ia semakin merasa bergairah saat melihat bibir pucat Yuna kini telah berubah menjadi pink dengan kilatan-kilatan menggoda yang tercipta dari salivanya. Ia ingin mencicipi bibir mungil itu lagi dan lagi, karena rasanya ia tidak akan pernah puas hanya dengan satu kecupan singkat yang tadi ia lakukan.


            “Aku ingin pulang... hikss.”


            Yuna mulai menangis dan terlihat tidak nyaman dengan keberadaan mereka di dalam box telepon. Gadis kecil itu melihat keluar sebentar dan berniat untuk menerobos hujan lebat yang sedang terjadi karena ia sudah tidak tahan berada di dalam box telepon itu bersama Yunho. Terlebih pria dewasa itu baru saja menciumnya dengan ciuman yang sangat berbeda dari ciuman yang sering diberikan oleh ayahnya atau ibunya. Ia takut.. Ia merasa benar-benar takut pada Yunho...


            “Di luar sedang hujan Yuna, tinggalan di sini bersamaku hingga hujan di luar mereda. Aku janji akan terus menemanimu di sini.”


            “Aku ingin pulang. Aku ingin bibi Anna...”


            Yuna menangis sesenggukan di depan Yunho dan hal itu membuat Yunho merasa geram. Ia tidak suka jika gadis kecil itu justru takut padanya. Ia ingin Yuna juga bisa merasakan perasaan yang saat ini ia rasakan. Perasaan penuh gairah yang sedang meletup-letup di dalam dirinya.


            “Ssshh... jangan menangis, lihat mataku.”


            Yunho menarik dagu Yuna dan mendongakan paksa kepala gadis kecil itu kearahnya. Perlahan-lahan jari-jari Yunho mengelus sisi wajah Yuna yang basah sambil memberikan senyuman manis yang hangat. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Sedetik kemudian Yunho langsung mencium bibir Yuna dan ********** dengan kasar hingga Yuna merasa telah kehilangan seluruh pasokan oksigennya karena gadis sekecil Yuna sama sekali tidak berpengalaman dalam hal itu.


            Sementara itu Yunho justru terlihat semakin rakus dan semakin gila akan rasa unik yang ditawarkan Yuna. Gadis polos itu memberikan sensasi luar biasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya hingga ia menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Ia menginginkan tubuh gadis kecil itu! Dengan penuh nafsu, Yunho kemudian segera melucuti pakaian Yuna dan menyetubuhi gadis kecil itu di dalam box telepon. Tak peduli seberapa keras teriakan


Yuna agar dilepaskan dan bagaimana tangisan pilu Yuna mengiringi setiap desahan yang ia keluarkan. Yang jelas ia sangat menginginkan tubuh Yuna dan tidak akan melepaskannya hingga ia merasa puas.


-00-


            Malam itu Yuna kembali ke rumahnya dengan wajah sembab dan pakaian kacau yang terlihat koyak di beberapa sisinya. Dengan langkah terseok-seok, Yuna mencoba berjalan menuju rumahnya yang hanya berjarak beberapa langkah lagi di depannya. Namun langkahnya yang begitu berat dan kedua matanya yang kabur karena dipenuhi oleh air mata membuat posisi rumahnya terasa sangat jauh untuk dijangkau.


            “Hikss... eomma..”


            Yuna bergumam lirih sambil terus berjalan dengan perasaan hancur. Entah apa yang akan ia lakukan setelah ini. Ia begitu takut dengan monster kejam yang saat ini masih berdiri jauh di belakangnya, mengawasinya yang tengah berjalan menuju ke rumahnya. Pria itu sebelumnya telah mengancamnya untuk merahasiakan semua perbuatan bejat yang ia lakukan padanya dan mengancam akan semakin menghancurkan hidupnya jika ia berani buka suara pada orangtuanya. Namun tanpa diancampun, Yuna jelas tidak akan memberitahu hal buruk itu pada orangtuanya karena mereka pasti akan sangat malu dengan apa yang menimpa putri semata wayang mereka. Putri mereka telah kotor oleh seorang pemuda brengsek yang tidak bertanggungjawab!


            “Yuna!”


            Bibi Anna memekik terkejut saat menemukan Yuna dalam keadaan kacau di balik pintu. Wanita berusia empat puluhan tahun itu lantas menarik Yuna masuk dan menyuruh Yuna untuk segera mengganti pakaiannya karena gadis kecil itu terlihat basah kuyup dengan bibir membiru karena kedinginan. Namun Yuna justru semakin menangis sesenggukan di tempatnya berdiri tanpa sedikitpun mengindahkan perintah bibinya untuk berganti baju.


            “Ada apa? Kenapa bajumu basah dan sobek? Apa kau jatuh?” tanya bibi Anna khawatir. Wanita itu terlihat semakin cemas ketika melihat adanya luka lebam di pergelangan tangan Yuna dan di sekitar wajah Yuna. Bekas-bekas kemerahan itu terlihat begitu jelas di permukaan kulit Yuna yang putih hingga bibi Anna yang melihatnya terlihat semakin panik. Besok kedua orangtua Yuna akan kembali dari Busan, jika melihat kondisi putri mereka seperti ini, ia pasti akan dimarahi habis-habisan oleh orangtua Yuna karena dianggap tidak bisa mengurus Yuna dengan baik.


            “Bibi... aku bertemu monster.”


            “Apa kau diganggu oleh anak-anak nakal? Katakan pada bibi Yuna, bibi akan melaporkannya pada polisi!” ucap bibi Anna menggebu-gebu. Namun Yuna justru tetap menangis tersedu-sedu di depan bibinya tanpa mau memberikan jawaban yang jelas atas pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Karena dari balik jendela hitam yang berada di ruang keluarga miliknya, Yuna dapat melihat kilatan mata coklat Yunho yang sedang mengintainya dari balik kegelapan malam dengan mengerikan. 


            “Monster jahat.... ia memakanku bibi, monster itu memakanku dan melukaiku....”

__ADS_1


__ADS_2